• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : LANDASAN TEORI

B. Tinjauan Teoritik

2. Pendidikan

a. Pengertian pendidikan

Dalam perkembangannya, istilah pendidikan berarti “bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa”.14 Menurut Marimba, pendidikan adalah “bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang

11

Tanfidz Keputusan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah (Yogyakarta: PP Muhammadiyah, 2010), hlm. 130-131.

12

Adi Nugroho, KH. Ahmad Dahlan: Biografi Singkat (1869-1923) (Jogjakarta: Garasi, 2010), hlm. 122.

13

Musthafa Kamal Pasha dan Ahmad Adaby Darban, Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam (Yogyakarta: LPPI, 2000), hlm. 90.

14

12

utama”.15 Pengertian lain, pendidikan adalah “usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan, baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan”.16

Dari beberapa pendapat di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai kedewasaan dan tingkat hidup yang lebih tinggi sehingga cakap dalam melaksanakan tugas hidupnya.

Sedangkan pendidikan masyarakat adalah pendidikan yang ditujukan kepada orang dewasa, termasuk pemuda di luar batas umur tertinggi kewajiban belajar, dan dilakukan di luar lingkungan dan system persekolahan resmi.17 Pendidikan masyarakat merupakan wahana bagi perkembangan individu dan masyarakat dalam usaha mencerdaskan bangsa. Pendidikan ini dapat diselenggarakan oleh pemerintah, lembaga keagamaan, maupun organisasi yang ada di masyarakat.

b. Tujuan dan fungsi pendidikan

Tujuan merupakan unsur yang penting dalam pendidikan, karena dapat memberikan arah bagi pendidikan itu sendiri. Secara tradisional, “tujuan umum pendidikan adalah transmisi pengetahuan atau proses membangun manusia menjadi berpendidikan”.18 Secara akademik, pendidikan memiliki beberapa tujuan:

15

Sebagaimana dikutip dalam Ibid., hlm. 3. 16

Djumransjah, Filsafat Pendidikan (Malang: Bayumedia, 2006), hlm. 22. 17

Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 57. 18

1) Mengoptimalkan potensi kognitif, afektif, dan psikomotor siswa, 2) Mewariskan nilai-nilai budaya dari generasi ke generasi,

3) Mengembangkan daya adaptabilitas siswa,

4) Meningkatkan dan mengembangkan tanggung jawab moral siswa,

5) Mendorong siswa mengembangkan sikap bertanggungjawab, 6) Mendorong dan membantu siswa memahami hubungan yang

seimbang antara hukum dan kebebasan pribadi dan sosial.

7) Mendorong dan mengembangkan rasa harga diri, kemandirian hidup, kejujuran dalam bekerja, dan integritas,

8) Mendorong dan mengembangkan kemampuan siswa untuk melanjutkan studi,

9) Mendorong dan mengembangkan dimensi fisik, mental, dan disiplin bagi siswa,

10)Mengembangkan proses berpikir secara teratur pada diri siswa, 11)Mengembangkan kapasitas diri sebagai makhluk Tuhan yang

akan menjadi pengemban amanah di bumi.19

Adapun fungsi pendidikan dalam arti sempit ialah “membantu (secara sadar) perkembangan jasmani dan rohani peserta didik. Fungsi pendidikan secara luas ialah sebagai alat pengembangan pribadi, warga negara, kebudayaan, dan bangsa”.20 Sedangkan fungsi utama pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, serta peradaban yang bermartabat dalam kehidupan atau dengan kata lain pendidikan berfungsi memanusiakan manusia agar menjadi manusia yang benar sesuai norma yang dijadikan landasannya.21 Dengan demikian, secara garis besar, fungsi pendidikan yaitu mengubah pola pikir manusia untuk menuju kehidupan yang lebih berkembang.

19

Ibid., hlm. 41-42. 20

Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 11. 21

Abdul Kadir, et al., Dasar-dasar Pendidikan (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2009), hlm. 4-11.

14

c. Faktor-faktor pendidikan

Pelaksanaan berbagai jenis pendidikan memerlukan faktor-faktor agar kegiatan pendidikan dapat terlaksana dengan baik. Faktor-faktor tersebut di antaranya:

1) Tujuan pendidikan

“Tujuan disebut juga cita-cita pendidikan yang berfungsi untuk memberikan arah terhadap semua kegiatan dalam proses pendidikan”.22

2) Pendidik

Pendidik adalah “orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaannya, mampu berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial, dan sebagai individu (pribadi) yang mandiri”.23 Seorang pendidik dituntut untuk bertanggung jawab terhadap anak didiknya dan juga terhadap diri sendiri.

3) Anak didik

Anak didik adalah “anak yang belum dewasa yang memerlukan bimbingan dari orang yang sudah dewasa, untuk dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Tuhan, warga Negara, anggota masyarakat, dan sebagai suatu pribadi yang mandiri”.24

22

Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 123. 23

B. Suryosubroto, Beberapa Aspek Dasar-Dasar Kependidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 18.

24

4) Sarana/alat pendidikan

Sarana pendidikan adalah “segala sesuatu yang dapat dipergunakan pendidik dalam usahanya untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah dirumuskan”.25

5) Lingkungan

Lingkungan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berada di sekitar peserta didik. “Ada tiga macam lingkungan menurut tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat”.26

Beberapa faktor di atas sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan serta dapat menunjang tujuan pendidikan yang akan dicapai. d. Jalur pendidikan

Dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 pasal 13 ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa ada tiga jalur pendidikan, yaitu pendidikan formal, nonformal, dan informal.

1) Pendidikan formal

Pendidikan formal ialah “jenis pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan (baik negeri atau swasta) untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan akademis yang memungkinkan untuk menjadi seorang ahli dan professional di bidangnya”.27 Kegiatan pendidikan formal

25 Ibid., hlm. 21. 26 Ibid., hlm. 24. 27

16

dilaksanakan secara sistematis, terstruktur dan berjenjang dari tingkat SD (Sekolah Dasar) sampai pendidikan tinggi atau Universitas. 2) Pendidikan nonformal

Pendidikan non formal ialah “jenis pendidikan yang membekali keterampilan-keterampilan praktis sehingga peserta didik dapat hidup mandiri, terampil dalam bidang tertentu yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan pekerjaan di masyarakat”.28 Pendidikan nonformal diselenggarakan di luar sistem persekolahan yang diperuntukkan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan.

3) Pendidikan informal

Pendidikan informal ialah “jenis pendidikan yang dilakukan oleh orang tua untuk mendidik anak-anak agar mereka menjadi pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab di masyarakat”.29 Pendidikan informal tidak ada perjenjangan dan tidak terorganisasi secara terstruktur.

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa jalur pendidikan merupakan wahana yang dapat dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri sesuai dengan tujuan pendidikan. Meskipun ketiga jalur pendidikan tersebut memiliki perbedaan, namun ketiganya saling melengkapi dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. 28 Ibid., hlm. 8. 29 Ibid.

e. Catur Pusat Pendidikan

Dalam Islam, pusat-pusat pendidikan dapat digolongkan dalam catur pusat pendidikan, yaitu keluarga, masjid, sekolah, dan masyarakat.30

Keluarga merupakan pusat pendidikan pertama dan utama karena anak lahir dalam pemeliharaan orang tua dan dibesarkan dalam keluarga. Di sanalah anak mulai mengenal norma-norma baik dan buruk serta orang tuanya yang lebih bertanggung jawab dalam mendidik anaknya.

Masjid, di samping memiliki fungsi keagamaan juga memiliki fungsi sosial. Sebagai fungsi keagamaan, masjid digunakan sebagai tempat ibadah dan syiar Islam. Sedangkan sebagai fungsi sosial, masjid dijadikan sebagai tempat musyawarah dan mempelajari agama Islam.31

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang memiliki perjenjangan. Dengan sekolah, anak didik akan menjadi seorang ahli yang sesuai dengan bidang dan bakatnya.

Masyarakat, yaitu lembaga pendidikan yang diselenggarakan langsung oleh masyarakat, antara lain dalam bentuk kursus, pelatihan, dan lain sebagainya.32

Keempat pusat pendidikan di atas diharapkan dapat bekerja sama dan saling mendukung untuk mencapai tujuan pendidikan.

30

Sudarno Shobron, Studi Islam 3 (Surakarta: LPID UMS, 2010), hlm. 271. 31

Ibid. 32

18

Dokumen terkait