• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penduduk Desa Blitar Selatan: Para korban di Pinggiran

Dalam dokumen Lanskap Memori Peristiwa 1965 di Semarang (Halaman 120-124)

Basis pertahanan di Blitar selatan didirikan sekitar akhir 1966 ketika para pemimpin dan aktivis PKI mundur ke pedesaan untuk menghindari persekusi di kota-kota Jawa. Bentang daerah Blitar

selatan yang cukup terisolasi menarik bagi para buron untuk bersembunyi di situ. Mereka mengandalkan bantuan penduduk desa di Blitar selatan yang rumahnya mereka tinggali selama beberapa bulan, hingga satu tahun. Dalam wawancara saya, beberapa mantan buron menceritakan cara mereka mencoba mengorganisir diri kembali dengan mencari sumber dukungan dari kota sekitarnya.25 Mereka juga mulai membawa perlengkapan senjata untuk persiapan melawan rezim Orde Baru dari basis pertahanan ini.26Namun, setelah adanya laporan tentang serangan terhadap aparat sipil negara dan pemimpin agama di daerah sekitar Blitar selatan ini, dan para buron ini dituduh sebagai pelakunya, Angkatan Darat dipimpin Mayor Jenderal Muhammad Jasin, komandan Divisi Brawijaya Jawa Timur, melancarkan operasi Trisula pada akhir Mei 1968. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya membahas bagaimana pemerintah menampilkan betapa basis pertahanan para buron penuh senjata dan berbahaya, serta bagaimana pelebih-lebihan ini berefek jangka panjang dalam penyangkalan status korban dari para pemimpin dan aktivis PKI berlindung di sana.27 Pada akhir operasi, tentara Angkatan Darat menemukan hanya sedikit senjata.28 Yang menjadi perhatian artikel ini adalah tentang status korban para penduduk desa di Blitar selatan.

Di bawah ini saya akan menujukkan bagaimana kelompok penduduk desa ini kesulitan mengidentifikasi diri dan diakui sebagai korban kekerasan anti-komunis dibandingkan dengan para mantan tahanan politik dan mereka yang anggota keluarganya dibunuh atau dihilangkan. Saya kemudian mencari alasan mengapa mereka terpinggirkan dari kategori korban kekerasan anti-komunis. Beberapa di antara alasan tersebut adalah kurangjelasnya kaitan mereka dengan kekerasan anti-komunis – mereka mengalami dampak tidak langsung pada tahun 1965-66, namun baru setelahnya – serta keterlibatan beberapa penduduk desa dalam upaya untuk menentang rezim Orde Baru. Akibatnya, mereka terlibat dalam proses keadilan transisional lewat cara yang sangat terbatas. Artikel ini membahas pengalaman penduduk desa selama operasi Trisula 1968, kemudian menganalisis bagaimana perlakuan militer dan pemerintah terhadap penduduk desa menumbuhkan rasa kebersamaan sebagai korban. Namun, sebelum itu, saya membahas literatur teoretis tentang korban dan hakekat korban (victimhood) atau status sebagai korban yang saya gunakan.

Dalam artikel ini, saya mengeksplorasi konsep agensi korban dengan menggunakan karya Meyers yang dirujuk sebelumnya, serta Kirsten McConnachie dan Kieran McEvoy yang menunjukkan bahwa dalam wacana hak-hak asasi manusia dan keadilan transisional, para korban diharapkan tidak bersalah (innocent) dan tidak terlibat dalam aksi politik, khususnya dalam kasus-kasus yang melibatkan kekerasan.29 Hal ini menimbulkan beberapa kesulitan dalam kasus penduduk desa Blitar selatan, karena ada beberapa bukti atas strategi perlawanan bersenjata di daerah itu terhadap rezim baru di bawah kepemimpinan Suharto. Strategi ini dilaksanakan oleh para buron politik yang bersembunyi di daerah tersebut dan didukung oleh beberapa penduduk desa yang menjadi anggota atau simpatisan PKI. Dukungan politik terhadap PKI sangat tinggi di Blitar selatan sebelum Oktober 1965, menurut komandan pasukan Brawijaya Jasin.30Setelah itu, saya mencermati bagaimana jatuhnya rezim Orde Baru pada Mei 1998 mempengaruhi konsep korban dan status korban di Blitar selatan, merujuk pada pandangan Steffen Jensen dan Henrik Rønsbo tentang pencerminan status korban sebagai suatu “penataan”, atau berbagai cara para korban menampilkan diri dan berbicara tentang diri (self) dari waktu ke waktu. Untuk memahami bagaimana penataan ini bergeser dan berubah dalam perjalanan waktu, Jensen dan Rønsbo berpendapat bahwa perlu untuk mempelajari “sejarah khusus tentang hakekat korban (victimhood), yaitu para korban dalam bentuk mereka yang tidak memiliki hakekat yang tetap (nonessentialized) dan selalu berubah.”31 Menurut Jensen dan Rønsbo, dalam menduduki posisi sebagai korban, para korban “terjebak dalam transaksi, penerjemahan, dan pertukaran yang terus berlangsung.”32 Dalam artikel ini, saya menganalisis bagaimana jatuhnya rezim mempengaruhi identifikasi diri para korban di Blitar selatan dan kapasitas mereka untuk mengarungi medan sosial dan politik yang baru.

Menggaungkan pandangan bahwa status korban (victimhood) dibentuk dan ditentukan oleh waktu, sejarah dan ruang, sejarawan Vincent Druliolle berpendapat bahwa status korban dibangun secara historis dan sosial, dan status korban dalam masyarakat tidak selalu secara langsung sesuai dengan derita yang mereka tanggung.33 Dengan mendefinisikan status korban (victimhood) sebagai identitas, makna, dan posisi dalam masyarakat, Druliolle berpendapat bahwa status korban bukanlah pemberian, melainkan hasil perjuangan. Status

relatif berbagai kategori korban bergantung pada kondisi sosial dan politik pada waktu yang berbeda dan kekuatan masing-masing kelompok korban untuk mengajukan tuntutannya. Dia mengutip contoh korban rezim otoriter Jenderal Franco yang kurang mendapat perhatian di Spanyol saat ini jika dibandingkan dengan mereka yang terkena serangan teror pro-kemerdekaan Basque. Perbedaan ini dapat dikaitkan dengan pakta diam (pact of silence) yang disepakati oleh partai-partai politik Spanyol setelah kematian Franco dan euforia kemenangan negara Spanyol mengalahkan kampanye pro-kemerdekaan Basque dalam waktu yang lebih belakangan.34 Korban Franco tenggelam dan menghilang dari pandangan sebagai akibat dari pakta diam tersebut, sementara status para korban teror dari gerakan kemerdekaan Basque telah meningkat menjadi “korban yang ideal.” Kasus Spanyol ini tidaklah unik. Status korban dalam masyarakat pascakonflik lainnya, termasuk Indonesia, juga merupakan hasil dari pertempuran rumit guna memperebutkan makna dan sumber daya yang berubah seiring berjalannya waktu. Seperti telah dibahas sebelumnya tentang posisi kaum kiri di Indonesia sebagai para korban, kelemahan relatif dari kategori korban tersebut dalam memenangkan klaim mereka atas pemulihan dan rehabilitasi, juga menghasilkan manfaat yang sama terbatasnya bagi para korban operasi Trisula.

Penduduk desa pada awalnya tampak terpinggirkan dalam hal terkait status sebagai korban kekerasan anti-komunis, namun pengalaman mereka atas kekerasan pada tahun 1968, dan pemantauan dan pengawasan pihak berwenang sesudahnya, menciptakan perasaan kebersamaan sebagai korban (collective victimhood) yang melampaui generasi yang secara langsung mengalami kekerasan tersebut. Karena itu, saya menggunakan literatur teoretis tentang memori kolektif dan pasca-memori (postmemory) untuk menganalisis bagaimana beberapa penduduk desa Blitar selatan dan keturunan mereka mengingat dan memandang operasi militer 1968 dan sesudahnya. Maurice Halbwachs menunjukkan bahwa proses mengingat terjadi dalam konteks sosial, dalam hal ini di daerah pedesaan di Blitar selatan, tempat operasi dilakukan.35 Pasca-memori (postmemory), menurut Marianne Hirsch dalam kaitannya dengan Holocaust, “menggambarkan hubungan generasi kedua dengan pengalaman yang kuat, seringkali traumatis, yang mendahului kelahiran mereka, tetapi yang bagaimanapun disampaikan kepada mereka sedemikian dalam sehingga tampaknya

turut membentuk ingatan dalam diri mereka sendiri.”36 Saya berpendapat bahwa ada bukti tentang kehadiran pasca-memori dalam cara generasi-generasi selanjutnya membahas operasi militer dan pengaruhnya terhadap generasi orang tua mereka. Kenangan telah ditransmisikan ke generasi yang tidak secara langsung mengalami operasi di Blitar selatan, hingga memunculkan perasaan bersama sebagai suatu kelompok yang telah bersama-sama menderita dan menjadi korban, termasuk di antara mereka yang tidak secara langsung mengalami kekerasan tersebut.

Pengalaman Trisula para Penduduk: Propaganda Militer

Dalam dokumen Lanskap Memori Peristiwa 1965 di Semarang (Halaman 120-124)