Perbedaan utama antara Indonesia dan Argentina adalah bahwa di Argentina beberapa bentuk protes dimungkinkan semasa rezim militer. Mulai April 1977, misalnya, sekelompok para ibu dari anak-anak yang hilang dengan berani mulai berkumpul berjaga dalam diam di tengah alun-alun Buenos Aires, Plaza de Mayo, setiap hari Kamis. Para Ibu dari Plaza de Mayo terus membuat diri mereka tampak di jalanan, membawa plakat berhiaskan foto dan nama anak-anak mereka, menuntut informasi, dan kadang menghadapi penolakan.35
Dalam aktivisme tersebut, mereka menekankan hilangnya anak-anak mereka, dan dalam beberapa kasus cucu mereka, dengan kata lain para korban represi.36 Diana Taylor telah menggarisbawahi aspek performatif dari aktivisme mereka di mana para wanita, mengenakan tudung putih berbaris di depan umum membawa foto-foto anak-anak mereka di tengah ruang publik, berusaha mensosialisasikan ingatan traumatis mereka.37 Di samping aktivisme, alasan penting lainnya bagi kejatuhan rezim adalah karena golongan militer Argentina gagal dalam perang melawan Inggris untuk memperebutkan Kepulauan Falkland pada tahun 1982.38 Dalam posisi mereka yang melemah, para pemimpin militer bergegas untuk menerbitkan suatu dokumen yang membenarkan tindakan patriotik mereka dalam menyelamatkan negara dari teroris dan para pemberontak, sehingga menjustifikasi amnesti bagi diri mereka sendiri.39
Warga Argentina memilih Raúl Alfonsin sebagai presiden pada tahun 1983 karena sikap tegasnya dalam hal perlunya pertanggungjawaban atas kejahatan hak asasi manusia dan pendirian teguhnya dalam menentang militer. Ia menanggapi tuntutan masyarakat akan penegakan keadilan dengan mengajukan undang-undang untuk membatalkan dekrit tentang amnesti dan membentuk Komisi Nasional terkait Penghilangan Orang (National Commission on the Disappearance of Persons/CONADEP) yang diawasi oleh warga negara terpilih. Komisioner mengumpulkan kesaksian para korban penahanan dan keluarga dari orang-orang yang hilang. Kerja komisi ini dihadiri oleh banyak orang dan diliput oleh media, sehingga mensosialisasikan pemahaman baru terkait represi sudah sejak awal dari periode transisi. Laporan terkait hal tersebut dirilis pada tahun 1984 bertajuk “Never Again” (Nunca Más) yang merinci dasar doktrin di balik represi, kelompok orang yang telah menjadi korban, bentuk penculikan dan penyiksaan, sifat terkoordinir dari tindakan represi dan juga lokasi-lokasi penahanan rahasia.40 Ini adalah komisi kebenaran pertama di dunia. Namun, laporan itu memiliki beberapa batasan. Pertama, laporan itu didasarkan pada penyelidikan yang terbatas hanya 180 hari untuk memuaskan pihak militer. Kedua, laporan tersebut memberikan perkiraan awal bahwa 8.960 orang telah hilang.41 Namun, para penyintas dan organisasi hak asasi manusia berpendapat bahwa jumlah korban sesungguhnya jauh lebih besar.
Pemerintahan yang baru juga mendukung persidangan para pemimpin militer tetapi menghadapi perlawanan dalam prosesnya. Sejak awal, ruang lingkup dan target persidangan dibatasi.42 Golongan militer terus menekan dan mengintimidasi para aktivis juga politisi.43
Atas dasar inilah maka Presiden Alfonsín membatasi penuntutan hanya terhadap mereka yang paling bertanggung jawab atas penindasan. Pengadilan sembilan jenderal yang pernah bertugas selama represi menghasilkan lima dakwaan pada tahun 1985, termasuk Jenderal Videla dan Laksamana Massera. Faksi sayap kanan-jauh dari militer terdiri dari mantan pasukan komando, intelijen dan perwira tim operasi khusus, yang dikenal sebagai carapintadas, melakukan perlawanan dengan memberontak. Meskipun pasukan loyalis menghentikan pemberontakan, pemerintahan Alfonsin tunduk pada tekanan militer dan mengeluarkan undang-undang baru yang membatasi penuntutan di masa depan.44 Inilah Full Stop Law tahun 1986 yang menetapkan tanggal berakhirnya periode di mana semua persidangan dilakukan, dan Due Obedience Law tahun 1987, yang membatasi setiap penuntutan hanya untuk para perwira bukan bawahan mereka.
Golongan militer Argentina terus mempertahankan pengaruh atas pemerintah sipil atas dasar dugaan hadirnya ancaman baru terhadap keamanan nasional.45 Dalam suasana seperti ini, pada tahun 1990 presiden terpilih yang baru, Carlos Menem, memberikan grasi kepada para pemimpin militer yang dihukum pada tahun 1985 atas dasar “rekonsiliasi.” Organisasi hak asasi manusia dan para korban merespons dengan kebingungan, berpendapat bahwa rekonsiliasi tidak dapat dilakukan secara sepihak dan bahwa negara tidak memiliki hak untuk memaafkan kejahatan yang dilakukan oleh negara.46
Peringatan sepuluh tahun pengadilan pertama dan laporan
Nunca Más juga peringatan dua puluh tahun kudeta menyebabkan
perhatian baru pada represi yang terjadi, termasuk hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni militer yang mengakui kesalahan dan aktivisme yang bersemangat kembali. Pada 1995, mantan perwira angkatan laut Letnan Komandan Adolfo Scilingo, yang bertugas di Sekolah Mekanik Angkatan Laut yang terkenal kejam (ESMA), menuturkan pengakuan pada pengacara dari CELS (Centro de Estudios Legales y Sosial /Pusat Studi Sosial dan Hukum) terkait
praktik yang tersebar luas, yaitu melempar tahanan yang dibius dan telanjang dari pesawat ke laut sampai mati.47 Pengakuan tersebut mengarah pada tuntutan-tuntutan dari CELS dan keluarga dari orang-orang yang hilang agar muncul upaya baru dalam “proses pengungkapan kebenaran dalam persidangan,” di mana para korban dapat menuntut atas dasar informasi yang diberikan oleh pelaku dalam persidangan terkait nasib-nasib dari orang-orang yang hilang.48
Pengakuan militer paling terkenal datang dari Kepala Staf Umum Angkatan Darat, Martín Balza, yang secara terbuka mengakui bahwa angkatan bersenjata telah menyiksa dan membunuh mereka yang diculik serta mencuri harta benda para korban selama represi terjadi.49
Pengakuan-pengakuan ini diikuti oleh gelombang penyangkalan dari golongan militer dan penegasan kembali peran mereka dalam “perang yang adil dan perlu.”50 Meskipun demikian, mereka secara signifikan mengakhiri periode posisi militer yang seragam dan dikombinasikan dengan hari jadi yang mereka adakan untuk membangkitkan kembali tuntutan dari para aktivis akan kebenaran dan keadilan. Dalam konteks inilah H.I.J.O.S. mulai menambah momentum kelompok-kelompok aktivis seperti ibu-ibu dan nenek-nenek dari Plaza de Mayo juga CELS.51
Di Indonesia, upaya untuk menangani pelanggaran hak asasi manusia dari kasus 1965 hadir jauh setelah kekerasan terjadi, karena pemerintahan Presiden Suharto yang berlangsung selama tiga puluh dua tahun. Keseluruhan rezim Suharto, berlabel “Orde Baru,” didasarkan pada premis militer bersama dengan masyarakat menyelamatkan bangsa dari kaum “komunis.” Narasi bahwa kekerasan dibenarkan berulang kali disebarkan oleh rezim melalui media, buku pelajaran sejarah, monumen dan film propaganda yang disponsori negara.52 Akan tetapi, tentara menyembunyikan peran mereka yang sebenarnya dalam kekerasan, dan mirip dengan militer Argentina, berusaha membuat diterimanya keyakinan bahwa kekerasan terjadi di tengah konteks dua pihak yang bertikai dalam “perang saudara.”53 Akan tetapi, berbeda dengan kasus Argentina, kebanyakan orang Indonesia dan khususnya mereka yang secara langsung terkena dampak kekerasan terlalu takut untuk melakukan protes secara terbuka terhadap kekerasan ketika hal itu terjadi, karena takut dicap sebagai komunis dan kemudian dipenjara atau bahkan lebih buruk. Selain itu, ada bagian-bagian masyarakat seperti
organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) yang terkooptasi untuk berpartisipasi dalam kekerasan yang memiliki suatu kepentingan bersama dengan tentara dalam pembelaan tentang perlunya pembunuhan.54
Rezim Suharto berakhir pada 1998 setelah meningkatnya tuntutan akan reformasi dan berbagai huru-hara di kota-kota besar. Akhir dari rezim yang berkuasa dalam waktu lama ini menghasilkan harapan besar akan adanya perubahan politik. Orang-orang yang selamat dari kekerasan pertama-tama berfokus pada orang yang telah dihilangkan dengan cara mendokumentasikan kuburan massal di seluruh Indonesia guna mengumpulkan bukti yang tak terbantahkan atas pembantaian massal.55 Di bawah kepemimpinan presiden dari golongan sipil, Habibie dan Abdurrahman Wahid, militer secara resmi undur diri dari politik dan undang-undang baru untuk menangani pelanggaran hak asasi manusia diperkenalkan.
Pada tahun 2000, pemerintah Indonesia mengesahkan Undang-undang No. 26, yang memungkinkan pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc untuk menangani secara retroaktif pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia. Undang-undang tersebut memungkinkan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnasham), yang didirikan pada tahun 1993, untuk melakukan penyelidikan kejahatan tersebut dan setelahnya Jaksa Agung dapat memutuskan apakah pengadilan dan tuntutan khusus akan diadakan.56 Namun, sebagaimana dikemukakan oleh Ken Setiawan, terus saja ada masalah dalam hal dengan kualitas investigasi yang dilakukan oleh Komnasham dalam hal mengidentifikasi pelaku secara jelas, karena adanya tekanan yang datang dari militer.57 Jaksa Agung juga telah menolak banyak investigasi berdasarkan alasan politik. Lebih jauh lagi, hanya dua kasus yang diajukan ke Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc: kekerasan setelah referendum di Timor Timur (1999) dan penembakan para pengunjuk rasa muslim di Tanjung Priok (1984). Di setiap kasus, hanya perwira berpangkat rendah yang dijatuhi hukuman dan pada akhirnya semua hukuman mereka dibatalkan. Terkait kasus Timor Timur, dua belas terdakwa dibebaskan dan enam anggota militer junior lainnya dihukum, dengan putusan yang kemudian dibatalkan saat banding. Komandan tentara Indonesia saat itu, Jenderal Wiranto, yang didakwa oleh PBB pada tahun 2003 untuk kejahatan perang
terkait hal yang sama tidak menjadi sasaran bagi persidangan.58
Meskipun tentara dituntut mundur dari politik, masih terdapat resistensi yang kuat terhadap identifikasi publik apalagi hukuman bagi figur-figur tentara senior yang terkait dengan kasus-kasus HAM.
Aktivis hak asasi manusia pada awalnya berhasil melobi agar dibentuk sebuah Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Pada tahun 2001 mereka telah menyiapkan rancangan undang-undang, dan UU No. 27 tahun 2004 disahkan untuk membantu mendirikan KKR. Meskipun demikian, Suparman Marzuki telah mengamati dengan seksama bahwa anggota angkatan bersenjata mengajukan keberatan atas adanya penekanan di dalam undang-undang terkait pengungkapan kebenaran, dan sebaliknya berargumentasi untuk menekankan pada proses rekonsiliasi, berbasis secara sempit pada prinsip Indonesia sebagai bangsa utuh, di mana komunisme tetaplah dilarang.59
Sementara itu, para pembela hak asasi manusia menolak usulan amnesti bagi para pelaku dalam undang. Ketika undang-undang tersebut diajukan ke Mahkamah Konstitusi untuk ditinjau, pengadilan membatalkan seluruh undang-undang pada tahun 2006, alih-alih merevisi beberapa bagian spesifik darinya.60 Berlainan dengan Argentina, maka, dalam masa transisi awal yang kritis ini kedua upaya untuk mengadili pejabat militer Indonesia dan pembuatan komisi kebenaran sama-sama gagal. Apa yang dapat direfleksikan ialah adanya “pakta impunitas” yang tidak resmi, suatu pemahaman antara pejabat pemerintah dengan kelompok militer bahwa golongan militer di Indonesia, terutama para mantan jenderal, akan tetap berada di atas hukum dan tidak dimintai pertanggungjawaban atas pelanggaran di masa lalu.61
Pada Januari 2008, mantan presiden Suharto meninggal tanpa harus mempertanggungjawabkan peran sentralnya dalam pembunuhan 1965. Karena ada beberapa elemen pembaharu dalam pemerintahan, seperti mantan aktivis HAM dan mahasiswa, masih ada beberapa dukungan dari pihak pemerintah guna melakukan investigasi terhadap kasus 1965. Hal ini menjelaskan mengapa nanti di tahun yang sama Komnasham dapat mulai menyelidiki kasus 1965. Komisaris Komnasham menghadapi ancaman langsung dan kurang didukung oleh militer selama investigasi. Pada 2012, Komnasham mengumumkan temuannya atas pelanggaran HAM berat termasuk di dalamnya pembunuhan, pembantaian, perbudakan, pemindahan paksa
dari suatu wilayah, pembatasan kebebasan fisik, penyiksaan, pemerkosaan dan bentuk-bentuk lain dari kekerasan seksual, dan juga penghilangan paksa.62 Komisi ini mengaitkan tanggung jawab atas kekerasan yang terjadi kepada Suharto sebagai mantan Pangkopkamtib dan kepada komandan militer lokal dan regional.63
Komisi ini kemudian merekomendasikan baik investigasi lebih jauh oleh Jaksa Agung ataupun resolusi non-yudisial. Keputusan ini bisa mengantarkan pada pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc atau penyelesaian non-yudisial jika disetujui oleh para penyintas.64
Namun, Jaksaan Agung berikutnya berulang kali menyatakan bahwa bukti dalam laporan tidak memadai dan menolak untuk meneruskan proses dengan penyelidikan lebih lanjut.
Pada tahun yang sama ketika Komnasham mulai mengerjakan laporannya, aktivis Hak Asasi Manusia Indonesia membentuk KKPK berdasarkan konsensus bersama oleh anggota-anggota lintas organisasi yang melihat bahwa semua upaya penegakan keadilan terhenti, dan mungkin juga karena harapan yang terbatas akan seberapa jauh investigasi yang didorong komisi ini akan dapat berkembang lebih jauh mengingat pengalaman yang sebelumnya.
Di bagian ini saya akan membandingkan pelbagai pendekatan dan hasil dari aktivisme H.I.J.O.S. dan KKPK, mencermati perbedaan fokus terhadap impunitas seperti apa yang terjadi. Saya akan memeriksa bagaimana aktivis di kedua organisasi telah mengkonseptualisasikan apa yang mereka lakukan dan seperti apa tanggapan terhadap aktivisme mereka tersebut.