Hasil analisis keragaman karakter sekunder yang diamati disajikan pada Lampiran 2 hingga Lampiran 10 . Berdasarkan hasil analisis keragaman tersebut diduga besaran ragam aditif dan dominan seperti pada data bobot biji. Penduga ragam aditif dan dominan karakter sekunder disajikan pada Tabel 9.
Hasil analisis menunjukkan bahwa ragam aditif semua karakter sekunder nyata, kecuali untuk karakter jumlah biji tiap tongkol.
Tabel 9 Ragam aditif dan dominan karakter sekunder pada lingkungan seleksi pemupukan rendah, sedang dan normal
Lingkungan seleksi pemupukan
Rendah Sedang Normal Karakter Ragam
Ragam SE Ragam SE Ragam SE aditif 1.3411* 0.2618 0.6714* 0.1498 0.6091* 0.1346 ASI (hari) dominan 0.1649 0.2699 0.1755 0.1739 0.1119 0.1561 aditif 5.8221* 2.6856 10.1475* 3.4402 9.1041* 3.0075 Bobot 200 butir (g) dominan 2.9111 4.5025 3.9833 5.1777 1.0242 4.5388 aditif 4.4416* 1.8288 3.2179* 1.5940 3.9128* 1.6346 Klorofil dominan 0 3.0244 0.3475 2.7611 1.5644 2.6669 aditif 0.1493* 0.0417 0.0478* 0.0284 0.0795* 0.0310 Jumlah daun tiap tanaman saat berbunga dominan 0.0418 0.0571 0.0079 0.0511 0.0473 0.0491 aditif 0.0258* 0.0124 0.0335* 0.0114 0.0343* 0.0112 LAI saat berbunga dominan 0.0276 0.0206 0.0021 0.0175 0 0.0169 aditif 0.1116 0.1132 0.1516+ 0.0840 0.1149 0.1137 Jumlah daun tiap tanaman saat panen dominan 0.8851* 0.2022 0.5568* 0.1382 0.9266* 0.2022 aditif 0.0254* 0.0107 0.0364* 0.0139 0.0413* 0.0255 LAI saat panen dominan 0.0510* 0.0167 0.0688* 0.0209 0.1454* 0.0431 aditif 0.0021 0.0012 0.0018+ 0.0009 0.0041* 0.0019 Porsi daun menua dominan 0.0079* 0.0020 0.0051* 0.0016 0.0084* 0.0032 aditif 380.85 290.22 324.69 232.33 397.74 268.29 dominan 0 547.91 0 435.70 0 497.33 Jumlah biji tiap tongkol
*nyata taraf 5%, +nyata taraf 10%. ASI=anthesis silking inteval. LAI=leafarea index
Untuk ragam dominan yang nyata yaitu karakter jumlah daun dan LAI saat panen serta porsi daun menua. Di samping itu, diperoleh ragam aditif yang lebih besar daripada ragam dominan untuk ASI, bobot 200 butir, klorofil dan jumlah daun saat pembungaan. Jumlah daun dan LAI saat panen serta porsi daun menua memiliki ragam dominan yang
lebih besar daripada ragam aditif. Hasil pengujian selanjutnya menunjukkan bahwa ragam aditif semua karakter tidak berbeda nyata antar taraf pemupukan.
Karakter sekunder yang relatif besar heritabilitasnya dibandingkan dengan karakter sekunder lainnya adalah ASI. Heritabilitas ASI pada pemupukan rendah, sedang dan normal berturut-turut 0,7364, 0.6323 dan 0,6589 (Tabel 10).
Heritabilitas ASI yang diperoleh lebih tinggi daripada heritabilitas bobot biji yang memiliki heritabilitas h2 < 0,35 baik pada lingkungan pemupukan rendah, sedang maupun normal. Heritabilitas karakter sekunder semua nyata, kecuali pada jumlah daun saat panen pada pemupukan rendah dan normal.
Hasil pengujian heritabiltas antar taraf pemupukan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Apabila karakter sekunder memiliki korelasi genetik tinggi dengan karakter primer dan memiliki heritabilitas lebih tinggi daripada karakter primer maka seleksi berdasarkan karakter sekunder tersebut akan lebih efisien. Dengan demikian karakter ASI dapat dipertimbangkan sebagai karakter sekunder dalam proses seleksi baik pada kondisi pemupukan rendah, sedang maupun normal. Namun perlu dipertimbangkan besaran korelasi genetik karakter sekunder tersebut dengan bobot biji.
Tabel 10 Hertabilitas karakter sekunder pada lingkungan seleksi pemupukan rendah, sedang dan normal
Karakter sekunder Pupuk rendah Pupuk sedang Pupuk normal h2 se- h2 h2 se- h2 h2 se- h2 ASI 0.7364* 0.1068 0.6327* 0.1005 0.6589* 0.1011 Bobot 200 butir 0.3630* 0.0876 0.4605* 0.0909 0.5154* 0.0919 Klorofil 0.4609* 0.0895 0.3813* 0.0876 0.3992* 0.0886 Jumlah daun saat
berbunga 0.5435* 0.0944 0.3258* 0.0864 0.3959* 0.0889 LAI saat berbunga 0.3097* 0.0866 0.5133* 0.0915 0.5517* 0.0924 Jumlah daun saat
panen 0.0983 0.0801 0.1871* 0.0829 0.0980 0.0799 LAI saat panen 0.2743* 0.0860 0.2944* 0.0869 0.1821* 0.0829 Porsi daun menua 0.1845* 0.0829 0.2184* 0.0841 0.2555* 0.0853 Jumlah biji tiap
tongkol 0.2783* 0.0855 0.3005* 0.0859 0.3094* 0.0861
Korelasi genetik bobot biji dengan karakter sekunder
Karakter sekunder dapat digunakan sebagai kriteria seleksi untuk meningkatkan kemajuan seleksi bobot biji, jika memiliki korelasi genetik dengan bobot biji tinggi dan memiliki heritabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan bobot biji. Besaran korelasi genetik antara karakter sekunder dengan bobot biji pada lingkungan pemupukan yang sama dapat digunakan untuk menduga respon terkorelasi karakter sekunder pada lingkungan pemupukan yang sama. Korelasi genetik bobot biji pada lingkungan pemupukan tertentu dengan karakter sekunder pada lingkungan pemupukan yang lain dapat digunakan untuk menduga respon terkorelasi karakter sekunder akibat seleksi bobot biji pada lingkungan pemupukan tertentu. Besaran korelasi genetik bobot biji dengan karakter sekunder pada lingkungan pemupukan yang sama atau berbeda disajikan pada Tabel 11.
Korelasi genetik bobot biji pada lingkungan pemupukan rendah dengan semua karakter sekunder yang diamati pada pemupukan rendah (rR-R) nyata, kecuali jumlah daun saat panen. Korelasi genetik bobot biji pada lingkungan pemupukan rendah dengan semua karakter sekunder pada lingkungan pemupukan sedang (rR-S) nyata, kecuali jumlah daun saat pembungaan.
Selanjutnya, korelasi genetik bobot biji pada lingkungan pemupukan rendah dengan semua karakter sekunder yang diamati pada lingkungan pemupukan normal (rR-N) nyata, kecuali jumlah daun dan LAI saat panen serta porsi daun menua. Berdasarkan koefisien korelasi yang diperoleh, terdapat perbedaan arah korelasi dari karakter ASI dan klorofil. Korelasi genetik bobot biji dengan ASI diperoleh rR-R dan rR-S negatif, tetapi korelasi rR-N diperoleh positif. Korelasi genetik bobot biji dengan klorofil diperoleh rR-R dan rR-S posittif, tetapi korelasi rR-N diperoleh negatif.
Korelasi genetik bobot biji pada lingkungan pemupukan sedang dengan karakter sekunder pada lingkungan pemupukan rendah, sedang dan normal umumnya memberikan arah yang sama. Korelasi genetik jumlah daun saat pembungaan pada pemupukan rendah dan normal dengan bobot biji pada pemupukan sedang (rS-R dan rS-N) tidak nyata. Korelasi genetik LAI saat pembungaan dan jumlah daun saat panen pada pemupukan rendah dengan bobot biji pada pemupukan sedang tidak nyata.
Tabel 11 Korelasi genetik bobot biji dengan karakter sekunder pada lingkungan pemupukan yang sama atau berbeda
Bobot biji pada lingkungan seleksi
pemupukan
Karakter sekunder pada lingkungan seleksi pemupukan Rendah Sedang Normal r se-r r se-r r se-r
Rendah ASI -0.2186* 0.0743 -0.0640* 0.0257 0.4970* 0.1608 Bobot 200 butir 0.4233* 0.1690 0.3068* 0.1084 0.3600* 0.1301 Klorofil 0.1470* 0.0421 0.4137* 0.1518 -0.2365* 0.1019 Jumlah daun saat berbunga 0.1485* 0.0567 0.0697 0.0555 0.4000* 0.1685 LAI saat berbunga 0.4307* 0.1662 0.3635* 0.1395 0.2385* 0.0891 Jumlah daun saat panen 0.2329 0.1663 0.1627* 0.0698 0.1148 0.0710 LAI saat panen 0.3879* 0.1456 0.2573* 0.1001 0.0515 0.0470 Porsi daun
menua -0.3113* 0.1457 -0.1581* 0.0687 0.0300 0.0271 Jumlah biji tiap
tongkol 0.5114* 0.2287 0.1741+ 0.0959 0.3257+ 0.1891 Sedang ASI -0.2073* 0.0710 -0.2491* 0.0888 -0.1401* 0.0413 Bobot 200 butir 0.3727* 0.1281 0.3618* 0.1135 0.4166* 0.1366 Klorofil -0.2660* 0.1318 -0.0683 0.0947 -0.1073* 0.0490 Jumlah daun saat berbunga -0.0540 0.0352 0.1929* 0.0876 0.0559 0.0396 LAI saat berbunga 0.0206 0.0191 0.1878* 0.0606 0.2082* 0.0731 Jumlah daun saat panen 0.0290 0.0378 0.1422* 0.0518 -0.0205 0.0433 LAI saat panen 0.2516* 0.0798 0.2200* 0.0742 0.3480* 0.1629 Porsi daun
menua -0.5954* 0.2813 -0.1765* 0.0669 -0.2603* 0.1120 Jumlah biji tiap
tongkol 0.1285* 0.0331 0.6433* 0.3312 0.0837 0.0571 Normal ASI 0.1610* 0.0561 -0.4865* 0.1915 -0.1312* 0.0487 Bobot 200 butir 0.2506* 0.1086 0.6329* 0.2517 0.2994+ 0.1794 Klorofil 0.0222 0.0731 0.3244* 0.1362 0.2528* 0.1013 Jumlah daun saat berbunga -0.2481* 0.1000 -0.4156* 0.1728 0.0055 0.0293 LAI saat berbunga -0.2068 0.0961 0.9657* 0.4013 0.1844* 0.0756 Jumlah daun saat panen 0.1700 0.1324 0.4521+ 0.2572 0.1611 0.1241 LAI saat panen 0.1046 0.0757 0.8740* 0.3966 0.1636* 0.0678 Porsi daun
menua -0.3884 0.2418 -0.7257+ 0.3735 -0.0463 0.0305 Jumlah biji tiap
tongkol -0.9592+ 0.5174 0.5079+ 0.2634 0.4283 0.2648 * nyata taraf 5%, + nyata taraf 10%. ASI=anthesis silking inteval. LAI=leafarea index
Korelasi bobot biji pada lingkungan pemupukan normal dengan semua karakter sekunder yang diamati pada lingkungan pemupukan yang sama (normal) nyata, kecuali jumlah daun saat pembungaan dan saat panen serta jumlah biji tiap tongkol. Seperti pada korelasi bobot biji pada lingkungan pemupukan rendah dengan karakter ASI pada pemupukan normal, diperoleh perbedaan arah korelasi. Korelasi genetik bobot biji dengan ASI diperoleh rN-R positif dan rN-S dan rN-N negatif.
Korelasi bobot biji pada pemupukan normal nyata dengan klorofil pada lingkungan pemupukan sedang dan normal, tetapi tidak nyata pada pemupukan rendah. Di samping itu, korelasi bobot biji pada lingkungan pemupukan normal berkorelasi negatif dengan jumlah biji tiap tongkol pada lingkungan pemupukan rendah.