• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

D. Pendukung Efektivitas Penggunaan Media Audio Visual dalam

Pembelajaran Menyimak Drama

Berdasarkan hasil uji efektivitas berupa pengamatan dan latihan soal yang dilakukan kepada peserta didik, serta wawancara yang dilakukan dengan peserta didik dan guru di sekolah, diperoleh hal-hal yang mendukung efektivitas penggunaan media audio visual sebagai berikut:

1. Terpenuhinya Komponen Pembelajaran Secara Maksimal a. Tujuan

Dalam kriteria memilih media pembelajaran, salah satu yang menjadi kriterianya adalah kesesuaian media dengan tujuan pembelajaran. Guru harus mampu menerjemahkan tujuan pembelajaran yang ada dalam silabus untuk kemudian disusun menjadi RPP. Setelah guru mengetahui kompetensi yang ingin dicapai dalam pembelajarannya, kemudian guru baru bisa menentukan jenis media yang sesuai dengan tujuan pembelajarannya.

Dalam pembelajaran drama ini, tujuan pembelajaran yang hendak dicapai adalah peserta didik mampu menentukan serta menanggapi unsur-unsur pementasan drama. Drama merupakan bentuk sastra yang mempertunjukkan tingkah laku manusia, mulai dari cara manusia tertawa, marah, bersedih, bahkan bahagia. Berdasarkan tujuan pembelajaran dan bentuk sastra yang akan dipelajari, video drama dipilih sebagai media pembelajaran yang dapat memberikan gambaran atau contoh mengenai kondisi dan situasi peanggung pertunjukan drama.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan informan dari peserta didik, dua dari tiga informan mengatakan bahwa drama merupakan materi pelajaran yang sulit.

Sulit. (Informan III)

Agak sulit awalnya, tapi lama-lama ngerti. ... dengan melihat video, materi menjadi lebih jelas. (Informan I)

Namun, mereka menyebutkan bahwa video memang membantu mereka dalam memahami materi drama. Artinya, tujuan digunakannya media untuk membantu peserta didik dalam memahami materi tercapai.

Selain itu, ketercapaian tujuan pembelajaran juga tercermin ketika peserta didik mampu menjelaskan kembali materi yang diajarkan. Seperti mampu menyebutkan unsur-unsur pertunjukan drama, mampu menyertakan contoh, serta mampu menyanggah maupun menambahkan ketika mendiskusikan unsur-unsur pertunjukan drama.

Dengan demikian, guru dianggap berhasil dalam menginterpretasikan tujuan pembelajarannya yang digambarkan dalam sebuah kegiatan belajar mengajar. Ini membuktikan bahwa peran media audio visual dalam materi pelajaran ini efektif sebegai sumber belajar. b. Metode

Berkaitan dengan penggunaan media dalam pembelajaran, kelengkapan fasilitas belajar yang ada di SMP Al-Hasra pada umumnya dapat mengubah persepsi peserta didik terhadap penggunaan media audio visual dalam pembelajaran. Di sekolah ini, media audio visual sering digunakan untuk mengisi waktu luang setelah materi pelajaran selesai, atau lebih tepatnya sering digunakan sebagai sarana untuk rileksasi dari setumpuk rutinitas belajar yang dilakukan.

Manfaatnya, peserta didik jadi terbiasa mengkondisikan diri jika dalam pembelajaran dilibatkan media audio visual. Peserta didik jadi lebih mudah menciptakan suasana kelas yang kondusif. Sementara, dampak negatifnya adalah peserta didik sering malas mencatat hal-hal penting dari video yang ditayangkan. Peserta didik justru ketagihan menonton video tersebut dalam pembelajaran-pembelajaran selanjutnya, sehingga menganggap pembelajaran tidak lebih menarik tanpa media tersebut.

Berdasarkan hasil observasi tersebut maka dipilihlah metode belajar diskusi kelompok dengan problem solving menggunakan media stik. Karakter peserta didik di sini juga sangat suka berkompetisi. Jadi, metode diskusi untuk memecahkan suatu masalah sangat efektif digunakan supaya peserta didik bisa fokus pada video untuk menyelesaikan masalah yang diberikan oleh guru. Hal ini terbukti ketika stik yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab secara kelompok dibagikan, peserta didik menyimak video dengan penuh perhatian.

Salah seorang informan juga menyampaikan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media audio visual yang dikombinasikan dengan

metode diskusi membuat mereka lebih mudah memahami materi pelajaran.

Metode diskusi lebih cocok. Sebab, bisa membuat peserta didik saling bertukar pikiran tentang materi yang mungkin hanya disimak sekali jalan. Itu akan menjadi baik karena peserta didik akan belajar sigap dan disiplin dalam menangkap materi, sehingga tidak ada waktu yang terbuang-buang dalam belajar. (Wawancara dengan guru Bahasa Indonesia)

Video yang tampilnya hanya sekali jalan membuat peserta didik harus memperhatikan dengan baik pesan yang disampaikan oleh video tersebut. Sementara diskusi membuat mereka saling bertukar pendapat dan pemikiran mengenai pesan yang termuat di dalam tayangan tersebut. Ini membuat mereka merasa tidak ada waktu untuk bermalas-malasan karena ada banyak kegiatan berantai yang terjadi di kelas.

Berdasarkan kutipan wawancara tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media audio visual bisa efektif jika guru bisa menyajikan media tersebut kepada peserta didik sesuai dengan porsinya (kesesuaian waktu dan pesan). Guru juga harus bisa mengoptimalkan penggunaan media audio visual dengan metode belajar yang sesuai. Semua itu perlu dilakukan agar peserta didik bisa tetap fokus pada tujuan utama penggunaan media, yaitu sebagai media belajar.

c. Isi/materi

Menyusun materi dan memilih metode belajar yang menjadikan peserta didik sebagai pusat pembelajaran memang bukan hal mudah. Tapi dengan memperbanyak komunikasi dengan peserta didik, peneliti jadi mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami peserta didik dalam memahami materi pelajaran.

Sebagian besar peserta didik merasa bahwa belajar dengan menggunakan media audio visual membantu mereka mengatasi kejenuhan dalam memahami materi yang ada dalam buku teks. Wacana yang berparagraf-paragraf, halaman yang berlembar-lembar, serta penjelasan yang dianggap membosankan membuat peserta didik

cenderung menjadi malas memahami materi secara mandiri karena menghindari membaca.

Video yang ditayangkan padahal berisi seputar materi yang ada dalam buku teks. Hanya saja materi tersebut dikemas oleh guru dengan metode belajar yang beragam sehingga peserta didik tidak merasa belajar adalah aktivitas yang membebani. Saat diajak untuk melihat kembali ke buku teks, peserta didik pun menyadari bahwa materi drama yang mereka pelajari hari itu dari media audio visual ternyata tertera di buku teks mereka. Berikut adalah tanggapan salah seorang informan yang diminta peneliti untuk membuka materi yang ada dalam buku teks.

“Menurut saya, materi yang disampaikan dalam media

audio visual sama dengan materi yang ada di buku paket, tetapi lebih banyak yang dari video dan diskusi. Sebagiannya lagi ada di buku paket.” (Wawancara dengan Informan I)

Jadi, berdasarkan pernyataan dari informan I tersebut menunjukkan bahwa media audio visual pada dasarnya memberikan pesan (materi) sesuai dengan yang ada dalam buku teks. Hanya saja dalam penyajiannya dikemas sedemikian rupa dengan tujuan membuat peserta didik lebih tertarik dan aktif, sehingga membuat peserta didik lebih kerasan dalam belajar.

Lebih dari itu, media audio visual bahkan dihadirkan ke dalam kelas untuk memberikan wawasan yang lebih luas mengenai suatu konsep. Contohnya, dalam materi drama, peserta didik dapat mengetahui panggung pementasan drama dan aktivitas yang terjadi di atas panggung drama dengan menontonya melalui video. Itu artinya video dapat memberikan materi lebih dari yang ada di buku tapi tetap tidak keluar dari konteks materi.

Salah satu informan juga memaparkan bahwa penggunaan video dalam pembelajaran membantu ia dalam memahami materi-materi yang

dianggap sukar jika hanya dilakukan dengan cara ceramah atau membaca dari buku.

“Belajar dengan menggunaan media audio visual membantu saya untuk lebih memahami materi kerena dengan melihat video, materi menjadi lebih jelas daripada hanya

membaca dari buku ... .“ (Wawancara dengan Informan I)

Teori yang pada awalnya membosankan dan cenderung formal, dengan penggunaan media audio visual, belajar tentang teori atau suatu konsep membuat pengetahuan dan pemahaman peserta didik menjadi lebih luas. Mereka jadi lebih banyak memiliki contoh-contoh konkrit, serta memiliki pendapat yang beragam mengenai suatu teori atau konsep.

Jadi, media audio visual dalam pembelajaran menyimak drama ini memang sengaja dihadirkan kepada peserta didik untuk memberikan pengetahuan yang lebih luas. Membuat peserta didik memahami materi pelajaran secara mandiri. Serta menjadikan materi yang dipelajari dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

d. Evaluasi

Selain melakukan evaluasi pengajaran, guru juga perlu melakukan evaluasi terhadap media yang digunakan dalam pembelajaran. Hal ini dilakukan supaya pembelajaran dengan menggunakan media bisa lebih efektif dan terkontrol.

Setelah melalui tahap pemilihan media, lalu penggunaan media, kemudian masuk pada tahap evaluasi media dalam pembelajaran. Untuk memastikan hal tersebut, penulis melakukan pengamatan ketika peserta didik menyimak, berdiskusi, serta melakukan aktivitas lainnya selama pelajaran berlangsung. Hal tersebut dilakukan supaya evaluasi yang nanti diberikan di akhir pelajaran bisa diberikan dengan tepat. Dengan demikian, peserta didik betul-betul mampu mencapai indikator yang telah ditentukan.

Indikator yang digunakan untuk mengetahui suatu pembelajaran efektif atau tidak, yaitu peserta didik aktif dalam dinamika pembelajaran

di kelas. Setelah itu nilai akhir yang diperoleh peserta didik mencapai KKM yang telah ditentukan.

“Kalau kompetensi dasar dan indikator sudah tercapai berarti penggunaan media audio visual dalam suatu pembelajaran sudah efektif. Namun, ketercapaian tersebut bukan hanya dilihat dari nilai secara tertulis. Tetapi dari pemantauan guru terhadap kemampuan anak dalam pembelajara tersebut

secara kualitas sudah tercapai atau belum.” (Wawancara dengan Wakil Bidang Kurikulum)

Berdasarkan kutipan wawancara tersebut, dijelaskan bahwa evaluasi penggunaan media audio visual dilakukan dengan mempertimbangkan proses penggunaan sampai pada perolehan nilai dari tes akhir. Dengan begitu, hasil evaluasi yang diperoleh berasal dari pengamatan yang menyeluruh.

Selain itu, evaluasi tersendiri juga dilakukan terhadap media audio visual. Berdasarkan hasil pengamatan penggunaan video drama ketika kegiatan belajar mengajar menggunakan video berlangsung, hasil evaluasi menunjukkan bahwa video drama yang ditayangkan tampilannya baik, serta keterkaitan isi video dengan materi pelajaran juga baik.

Media audio visual tepat digunakan untuk materi drama karena dalam drama memuat unsur dialog (audio) dan akting (visual). Jadi, dalam pembelajaran drama, video membantu guru dalam mendemosntrasikan drama itu sendiri. Selain itu, media audio visua digunakan dalam pembelajaran karena memuat nilai afektif yang lebih banyak. Lalu, disusul dengan muatan nilai psikomotorik dan kognitif.

Jadi, seefektif apapun pembelajaran yang menggunakan media audio visual, tetap akan ada hal-hal yang perlu dievaluasi terkait dengan dinamika peserta didik sebagai penggunanya. Guru sebagai penyaji sekaligus evaluator harus jeli melihat perubahan itu. Dengan demikian, hasil evaluasi pada akhirnya bisa menjadi barometer keberhasilan

penggunaan media maupun keberhasilan pembelajaran peserta didik yang valid.

2. Kondisi Belajar

Salah satu yang menyebabkan efektifnya pembelajaran adalah kondisi belajar. Kondisi belajar secara internal terkait dengan keadaan peserta didik, seperti kesiapan peserta didik menerima pembelajaran, waktu yang telah diluangkan sebelumnya untuk mengulang pelajaran di rumah, dan keadaan perasaan si pembelajar. Ini tentu akan mempengaruhi penerimaan pesan yang disampaikan guru kepada peserta didik.

Contoh dari kondisi belajar yang tidak baik ditemukan peneliti pada peserta didik yang juga sebagai informan III. Ketika mengikuti pembelajaran, informan III sedang dalam keadaan tidak mood belajar sehingga ia mengakui tidak fokus dalam menyimak pelajaran.

Menyimak, tapi tidak terlalu ingat karena saya kemarin sedang tidak fokus menyimak pelajaran. Mungkin akan bagus dan menarik kalau saya sedang mood belajar. (Wawancara dengan informan III)

Pernyataan tersebut menunjukkan bawa peserta didik sedang dalam kondisi psikologis, tidak mau membuka dirinya untuk menerima pelajaran. Ciri-ciri psikologis seperti ini mengidentifikasikan adanya sesuatu yang sedang membebani diri seseorang sehingga membuat pikirannya tidak bisa fokus. Sebab itu, materi yang disampaikan juga tidak sepenuhnya bisa diterima dengan baik. Ini menunjukkan bahwa faktor internal si pembelajar juga sangat mempengaruhi penerimaan pesan (materi) yang disampaikan.

Selain itu, diakui juga bahwa sebelum belajar di kelas, informan III tidak pernah meluangkan waktu untuk mengulang pelajaran di rumah. Sebab itu, ketika materi disampaikan, ia tidak bisa berpartisipasi secara maksimal seperti kawan-kawannya yang lain terutama ketika berdiskusi. Ini juga yang kemudian ia akui sebagai alasan nilai ujian tertulisnya mendapat nilai paling kecil.

Berbeda dengan informan III, informan I yang sudah meluangkan waktu belajar di rumah sebelumnya, ketika mengikuti pelajaran pun ia merasa gembira. Dengan begitu ia merasa nyaman dalam belajar sehingga ia mengikuti pelajaran dengan pikiran dan hati terbuka.

“Saya jadi semangat belajarnya sebab cara belajarnya berbeda.” (Wawancara dengan informan I)

Kutipan wawancara tersebut menjelaskan bahwa faktor internal pembelajar, seperti keadaan hati yang baik dan persiapan menerima materi, mempengaruhi penerimaan materi. Ini bisa dilihat dari keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran. Nilai tes yang diperoleh pun sangat memuaskan.

Selain itu, belajar juga dipengaruhi oleh kondisi eksternal, yaitu hal di luar diri si pembelajar, seperti keadaan kelas yang rapih dan bersih, serta ketersediaan fasilitas belajar. Keadaan kelas yang kotor dan posisi duduk peserta didik tidak teratur akan membuat mereka tidak konsentrasi dalam belajar.

Hal yang biasanya terjadi akibat posisi duduk yang tidak ideal adalah peserta didik akan sering berpindah-pindah tempat duduk. Saat ia menyimak ia duduk di belakang, kemudian saat ia harus mencatat tulisan dari papan tulis ia pindah duduk ke depan. Ini biasanya terjadi karena letak papan tulis tidak sesuai dengan posisi duduk peserta didik atau pun ukuran papan tulis tidak sesuai dengan jumlah peserta didik dalam satu kelas.

Selain itu, keadaan kelas yang kotor juga turut mempengaruhi keefektifan kelas. Guru dan peserta didik pun akan tidak nyaman. Hal ini biasanya terjadi di awal pembelajaran. Ketika guru membuka pembelajaran, guru biasanya meminta peserta didik untuk memungut sampah-sampah yang ada di sekitar mereka, dan peserta didik cenderung akan merasa terbebani karena malas memungutnya. Selain guru akan kehilangan beberapa menitnya karena digunakan untuk operasi semut, peserta didik juga biasanya kehilangan motivasi belajar karena menganggap mereka mendapat hukuman di awal pembelajaran.

Pada akhirnya, semua kejadian itu berpotensi menimbulkan kegaduhan kelas. Ini tentu akan mengganggu sebagian peserta didik yang sudah siap menerima pelajaran. Itu artinya, kondisi belajar eksternal yang tidak nyaman turut mempengaruhi kondisi internal peserta didik secara individu.

Di SMP Al-Hasra belum lama ini telah dilakukan Gerakan Bersih yang digagas oleh Bpk. Andi Suhandi, S.Pd selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas. Kegiatan tersebut mempelopori terciptanya kondisi sadar kebersihan, baik yang dilakukan oleh peserta didik, dewan guru, maupun tenaga kependidikan. Semua personil sekolah turut terlibat dalam Gerakan Bersih tersebut.

Hal inilah yang mendukung keadaan sekolah yang bersih dan ruang belajar yang nyaman. Dari CCTV yang dipasang di area-area tertentu memungkinkan guru dapat memantau siapa saja peserta didik yang membuang sampah sembarangan. Dengan begitu, keadaan ruang kelas yang bersih dan rapih bisa dirasakan oleh peserta didik. Jadi, ketika pembelajaran dimulai, guru tidak kerepotan mengkondisikan ruang kelas agar bersih dan teratur, peserta didik pun otomatis menjadi nyaman belajar.

Berdasarkan pernyataan tersebut, disimpulkan bahwa guru harus sering memotivasi peserta didik guna membangun kondisi belajar internal yang baik. Hal ini perlu dilakukan untuk mengingatkan kepada peserta didik tentang cita-cita dan harapan-harapan yang mungkin baru mereka bangun sebatas di dalam hati saja. Jika peserta didik sudah semangat tentu mereka akan mengikuti semua aturan yang guru intruksikan, salah satunya meluangkan waktu untuk mengulang pelajaran di rumah dan menciptakan kelas yang bersih dan kondusif.

3. Skill dan Kreativitas Guru dalam Mengembangkan Media Pembelajaran

Di zaman yang serba pesat perkembangan teknologi seperti ini, tentu membuat sebagian besar orang mampu mengoperasikan sebuah perangkat teknologi. Begitu pun dengan pengoperasian perangkat audio visual berbasis komputer. Tapi nyatanya tidak semua orang mampu mengintegrasikan dan

mengembangkan penggunaan atau pemanfaatan audio visual sebagai media pembelajaran.

Guru bidang studi Bahasa Indonesia sendiri mengakui bahwa memang dibutuhkan keahlian khusus untuk bisa mengoperasikan media pembelajaran yang melibatkan beberapa alat pendukung, seperti speaker aktif dan DVD player ataupun laptop. Dengan begitu pembelajaran akan efektif dan efisien. Namun, jika penggunaan media pembelajaran tidak didukung dengan skill yang demikian, penggunaan media tersebut menjadi tidak efektif dan tidak efisien.

“Penggunaan media audio visual tidak sulit. Tapi cukup

menyulitkan. Sebab saya bukan orang yang ahli dalam hal

teknologi.“ (Wawancara dengan guru Bahasa Indonesia)

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, diperoleh fakta yang menunjukkan bahwa di SMP Al-Hasra sendiri terdapat terdapat sekitar 10% guru yang masih jarang atau bahkan tidak menggunakan media terutama audio visual dalam pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh kesibukan guru dalam memenuhi jam mengajar serta usia yang sudah tidak muda membuat beberapa guru mengalami keterbatasan dalam memanfaatkan media terutama media audio visual dalam mengajar. Tidak memiliki waktu luang untuk secara khusus mempelajari komputer beserta aplikasi yang ada di dalamnya, serta keterbatasan usia yang sudah tidak muda membuat pemanfaatan media audio visual sebagai media pembelajaran tidak dimanfaatkan secara optimal atau bahkan sama sekali tidak digunakan dalam pembelajaran karena dipandang akan merepotkan.

Setelah dilakukan penelitian, peneliti mendapati bahwa peserta didik di SMP Al-Hasra pada dasarnya memang merupakan siswa-siswi dengan prestasi akademis yang baik. Hal ini dibuktikan dengan catatan prestasi belajar yang baik dan kemampuan menerima pelajaran yang baik pula. Sehingga ketika dalam pembelajaran dilibatkan media pembelajaran atau tidak, peserta didik tetap bisa menerima materi dengan baik.

Namun, hal ini harusnya tidak membuat guru lantas berpuas diri. Dalam rangka menjawab segala tantangan perkembangan zaman, guru harus bisa menjadi contoh pengguna teknologi yang baik bagi peserta didiknya. Salah satunya dengan mengajarkan kepada peserta didik mengenai pemanfaatan teknologi sebagai media belajar, contohnya video drama yang dapat diunggah dari internet.

Selain sudah memanfaatkannya dalam pembelajaran di kelas, guru juga bisa semakin menambah pengetahuannya mengenai teknologi komputer. Sebab, dewasa ini teknologi cepat sekali mengalami perkembangan, terutama aplikasi komputer.

Video sebagai media yang paling dekat dengan masyarakat, diharapkan bukan hanya menjadikan guru sebagai pengguna, melainkan juga sebagai pengembang pemanfaatan media audio visual. Hal tersebut dilakukan supaya penggunaan video dapat dimaksimalkan manfaat positifnya oleh masyarakat, terutama sebagai media pembelajaran.

Selain itu, tidak sedikit para orang tua murid yang rela merogoh kocek lebih dalam demi menyekolahkan anak mereka di tempat yang dianggap bisa memberikan fasilitas teknologi yang terbaik.

“Orang tua murid mana yang mau nyekolahkan anak -anaknya dengan biaya yang besar sementara guru yang mengajari anaknya hanya mengandalkan mengajar dengan cara yang tradisional? Selain guru akan ditinggalkan oleh peserta didiknya, sekolah juga akan dianggap tidak mengikuti

perkembangan zaman.” (Wawancara dengan Wakil Bidang Kurikulum)

Kutipan tersebut jelas menjelaskan bahwa kemajuan pola pikir masyarakat juga turut mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap pendidikan sebagai investasi masa depan. Mengeluarkan uang lebih banyak asal setimpal dengan fasilitas dan pelayanan yang diperoleh dari sebuah sekolah lebih utama daripada menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang memiliki

kualitas standar dengan biaya yang standar hanya supaya anak-anak mereka mendapat pengalaman menjadi pelajar.

Ini kemudian mengarah pada tuntutan guru untuk menjadi sosok yang profesional dan mengembangkan profesionalitasnya, di antaranya dengan selalu memperbaharui kemampuan teknologi dan mengembangkan kreativitasnya. Salah satunya yaitu mengintegrasikan media audio visual dalam pembelajaran dan menerapkan metode belajar dengan berpusat pada keaktifan peserta didik.

Bagi kebanyakan orang yang memang sudah menguasai penggunaan teknologi, mengintegrasikan media pandang dengar dengan perangkat keras lainnya bukanlah hal yang sulit atau memberatkan. Namun, bagi mereka yang tertinggal dalam hal penguasaan teknologi, ini memang merupakan pekerjaan yang cukup rumit. Tapi diharapkan semangat untuk terus belajar tetap ada.

Antusiasme yang baik juga ditunjukkan oleh guru Bahasa Indonesia lewat ungkapannya dalam wawancara yang peneliti lakukan,

Saya termasuk tipe guru yang mengajar dengan cara tradisional, tetapi saya tidak menutup diri untuk mengikuti perkembangan. (Wawancara dengan guru Bahasa Indonesia)

Artinya, perkembangan teknologi yang terjadi memang harus disikapi optimis oleh masyarakat dewasa ini, termasuk oleh guru profesional. Jadi, tidak menutup kemungkinan untuk belajar dan berlatih mengoperasikan sistem komputer dalam proses pengelolaan kelas maupun dalam memproses adminstrasi siswa.

Pada akhirnya, pengajaran dengan melibatkan media audio visual hanya akan menjadi efektif jika guru itu sendiri membekali dirinya dengan kemampuan dasar teknologi informasi. Dengan begitu, guru baru bisa mengkombinasikan berbagai media ke dalam kelas dengan efektif. Guru juga dituntut untuk selalu mengembangkan kemampuan tersebut supaya selalu dapat mengikuti perkembangan teknologi mutakhir sebagai upaya pengembangan profesionalitas profesi keguruan.

4. Pemilihan Media Pembelajaran yang Sesuai

Pada dasarnya, penggunaan media dalam pembelajaran sudah merupakan bentuk usaha kreatif dari seorang guru. Di tengah-tengah kewajibannya melaksanakan tugas mengajar dan administrasi, guru masih meluangkan waktu untuk memilih dan memilah cara atau pun jenis media yang menarik dan bisa disertakan dalam skenario mengajar di kelasnya. Salah

Dokumen terkait