• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENEBARAN

Dalam dokumen Buku dan Materi Budidaya Ikan sidat (Halaman 38-52)

Tabel 4. Padat tebar pada pendederan ke dua dan ke tiga serta dosis pakan. Kegiatan Berat benih (g) Padat tebar

(ekor/m3)

Dosis pakan per 1000 ekor (g)

Pendederan 2 0,6 – 0,8 200 100 – 200

Pendederan 3 1,5 – 1,75 100 200 - 400

Cara menghitung benih secara volumetrik:

Keterangan:

A = Jumlah total benih (ekor)

B = Jumlah benih dalam satu gelas (ekor) C = Volume benih keseluruhan (liter)

Pendederan tahap kedua harus dilakukan pengaturan padat tebar agar menghasilkan kualitas sidat yang baik. Pemberantasan penyakit : rendam kolam dengan larutan kaporit dengan dosis 30-50 gram/m3 selama dua hari, kemudian dibilas hingga sisa-sisa dan bau kaporit hilang, dijemur.

Pemasukan air dilakukan dua hari setelah pemberantasan penyakit

32 3.4.4 Perawatan pemeliharaan

Perawatan pemeliharaan meliputi pemberian pakan, pengontrolan kualitas air, monitoring pertumbuhan, monitoring kesehatan, panen parsial dan panen total. Pakan yang diberikan adalah pasta dengan protein >50%, dengan dosis 8-10% dan frekuensi pemberian 4 kali setiap hari. Perlu diperhatikan : Pertama, penyiapan dan pemberian pakan harus dikontrol agar sesedikit mungkin pakan yang tesuspensi ke dalam air tanpa termakan, karena kolam akan cepat kotor dan menurunkan kualitas airnya. Ke dua, bila perlu dilakukan penyesuaian jumlah pakan dengan kondisi, bila kondisi kurang menunjang, guna menekan pemborosan karena banyaknya pakan yang tidak dimakan.

Monitoring kualitas air baik melalui pengukuran parameter-parameter kualitas air utama maupun secara visual. Bila ada nilai parameter kualitas air yang tidak sesuai, periksa penyebabnya dan lakukan tindakan perbaikan. Rekam dalam jurnal budidaya yang telah disiapkan.

Cermati setiap kondisi benih utamanya bila ada kelainan tingkah laku termasuk nafsu makannya, karena bila ada hal demikian bisa mengindikasikan adanya serangan penyakit. Keterlambatan pengenalan gejala serangan penyakit akan dapat berakibat fatal, karena bila sudah cukup luas serangannya maka penanggulangannya akan lebih sulit dan merugikan.

Monitoring pertumbuhan paling tidak dilakukan setiap dua minggu dengan mengambil sejumlah contoh dan mengukur panjang total dan beratnya (satu persatu). Bandingkan hasilnya dengan laju pertumbuhan standar yang telah dibuat (seperti pada Tabel 5). Evaluasi laju pertumbuhan dan keseragaman ukurannya. Bila kurang memuaskan, analisis faktor-faktor yang diduga berpengaruh dan lakukan tindakan perbaikan.

Tabel 5. Pertumbuhan benih hasil pendederan ke satu, pendederan kedua, dan pendederan ketiga setiap dua minggu.

Umur (minggu) Panjang (cm) Berat (g)

0 4,5 5,5 0,15 – 0,2 2 6 – 6,5 0,4 – 0,5 4 7 – 7,5 0,6 – 0,8 6 8 – 8,5 1,0 – 1,25 8 9 – 9,5 1,5 – 1,75 10 10 – 10,5 2 – 2,5 12 11 – 11,5 3 - 7

33

3.4.5 Sekilas tentang budidaya sistim resirkulasi

Budidaya sistim resirkulasi adalah suatu sistim budidaya dimana air buang ditreatmen kemudian dipergunakan kembali sebagai media budidaya di unit/kolam tersebut. Sistim ini mampu ditebar dengan kepadatan tinggi, denghan produktivitasnya tinggi. Pemlihaan air yang memadai kalau bisa – sempurna menjadi prasyarat mutlak keberhasilan sistim ini. Filter minimal yang harus ada adalah filter fisik untuk membuang kotoran dan filter biologi untuk merombak amonia menjadi nitrat yang relatif tidak toksik. Peralatan pemiliaan air lain sangat baik bila juga diinstal, seperti hidroklon, skimmer, lampu ultra violet, dan sarana agar suhu lebih stabil. Penjagaan sistim pemuliaan agar selalu berfungsi optimal mutlak dilakukan.

Keunggulan sistim ini adalah produktivitas tinggi meski ukuran kolam kecil dan dan air terbatas, dan kondisi budidaya dapat lebih terkontrol, tidak terpengaruh oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Kelemahannya adalah biaya relatif tinggi, sehingga harus diperhitungkan benar-benar kelayakannya untuk suatu komoditas

3.4.6 Pemanenan

Panen dapat berupa panen parsial dan panen total, sebagaimana dijelaskan pada Pendedern 1.

Untuk mengetahui hasil panen, benih yang ditangkap harus dihitung. Perhitungan dapat dilakukan setelah seleksi maupun sebelum penebaran kembali ke bak pendederan selanjutnya.

1

•siapkan dua buah ember besar, sebuah sekup net, dan sebuah gelas air mineral

2

•tangkap benih dengan sekup net dan biarkan beberapa saat agar airnya turun

3

•masukkan benih ke dalam gelas sampai penuh.

•bila sudah penuh, kembalikan sisa benih ke tempat semula

4 •

masukkan benih yang sudah ditakar ke dalam sekup net dan hitung jumlahnya

5 •

takar seluruh benih dengan gelas tersebut dan tampung di dalam ember besar

6

•untuk mengetahui jumlahnya, dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

34 3.4.7 Seleksi ukuran (Grading)

Pentingnya dan cara grading sebagaimana halnya telah dijelaskan pada Pendederan 1.

Latihan

1. Apa yang dimaksud dengan pendederan sidat?

2. Apa beda teknik budidaya pada Pendederan 1 dan Pendederan Lanjutan? 3. Apa saja yang perlu dilakukan dalam tahap pengontrolan?

4. Apa tujuan dilakukannya seleksi terhadap benih sidat? 5. Apa yang dimaksud dengan sistim progfresif ?

Rangkuman

1. Pendederan sidat adalah kegiatan memelihara benih sidat atau elver sampai ukuran fingerling (panjang 10 cm).

2. Tahapan pekerjaan dalam melakukan pendederan sidat dimulai dari persiapan kolam, penebaran benih, pemberian pakan tambahan, pengontrolan, pemanenan, dan seleksi. Pendederan berlangsung selama tiga bulan dan dalam tiga tahap. 3. Pengontrolan dilakukan dengan memeriksa kebocoran kolam, kualitas air, debit

air, dan ancaman penyakit terhadap elver dan dilakukan minimal empat kali sehari.

4. Seleksi dilakukan agar dapat memisahkan sidat berdasarkan ukuran. Jika sidat yang berbeda ukuran dimasukkan dalam satu tempat dapat terjadi kanibalisme terhadap sidat yang berukuran lebih kecil.

5. Pendederan dengan sistem resirkulasi adalah bahwa air buangan ditreatmen dan dipergunakan kembali sebagai media budidaya. Keunggulan aiatim ini adalah produktivitas tinggi dengan lahan dan air terbatas, dan lebih terkontrol. Kelemahannya adalah biaya lebih tinggi.

35 Evaluasi

1. Mengapa pada pendederan lanjutan diperlukan pentahapan atau sistim progfresif (tidak satu batch)?

2. Apa saja pakan yang diperlukan dalam tahapan Pendederan 1?

3. Ada berapakah jumlah tahapan dalam Pendederan Lanjutan ? Ukuran bagaimanakah yang dihasilkan dari Pendederan Lanjutan?

4. Untuk kolam yang bagian dalamnya halus, apakah masih perlu didesinfeksi? Mengapa demikian?

5. Apakah untuk Pendederan 2-3 pada umumnya diperlukan penumbuhan plankton? Bila mana penumbuhan plankton tidak diperlukan?

MATERI POKOK 4. PEMBESARAN 4.1 UMUM

Kunci sukses pembesaran sidat:

Kolam yang dipergunakan adalah kolam tanah, dengan ukuran 300-1000 m2. Kolam ukuran besar mempunyai keunggulan tersendiri, khususnya bahwa suhu cenderung lebih stabil baik suhu maupun planktonnya dibandingkan dengan kolam ukuran kecil

1 •kualitas air baik 2 •kualitas benih baik

3 •kualitas pakan tambahan baik 4 •teknik pemeliharaan baik 5 •manajemen yang baik

Dari hasil pendederan, ukuran sidat belum bisa dikatakan sidat konsumsi karena masih terlalu kecil. Ukuran sidat konsumsi antara 120 – 200 g (5-8 ekor/kg) dan 500g ke atas. Agar mencapai ukuran tersebut diperlukan kegiatan pembesaran.

36

(dengan kedalaman air sama). Beberapa contoh kolam pembesaran disajikan pda Gambar 13.

Keterangan:

Gambar 15. Kolam pembesaran. Atas: beberapa contoh kolam pembesaran. Bawah: contoh desain kolam pembesaran.

4.2 PERSIAPAN KOLAM DAN MEDIA PEMELIHARAAN

Persiapan kolam dan media pemeliharaan pada dasarnya sama dengan pada Pendederan 2 ataupun 3.

37

Persiapan kolam dan media pemeliharaan sbb:

Dibawah ini adalah Tabel 7 dosis pemberian kapur.

Tabel 7. Dosis pemberian kapur pertanian pada beberapa jenis tanah (kg/ha).

Jenis tanah 5 – 5,5 Nilai pH

5,6 - 6 6,1 – 6,5

Lempung (liat) 5.400 3.600 1.800

Lempung berpasir 3.600 1.800 900

pasir 1.800 900 0

Pengapuran bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanah, terutama pH dan alkalinitasnya. Untuk kolam yang pH nya sudah 7 tidak perlu dilakukan pengapuran. Pemupukan dimaksudkan untuk meningkatkan perkembangan plankton. Meski sidat ukuran besar sudah tidak memakan plantkon (hewani), namun pupulasi plankton akan dapat meningkatkan kadungan oksigen air kolam, serta menciptakan suasana teduh yang nyaman bagi sidat. Dosis pupuk adalah : pupuk kandang 200-500 g/m2; urea dan TSP 5-10 g/m2. Pupuk kandang mempunyain keunggulan baik menyuburkan tanah kolam maupun pelepasan unsur haranya yang secara bertahap, namun perlu hati-hati dengan kemungkinan adanya bibit penyakit. Umumnya pupuk kandang diaplikasikan bila sudah benar-benar kering, atau bila masih basah perlu treatment khusus.

38

Pemupukan dilakukan dengan cara menebar pupuk ke seluruh dasar kolam. Untuk pupuk kandang bisa dengan memasukkannya dalam karung agar pelepasan hara bisa bertahap.

4.3 PENEBARAN

Benih ang ditebar adalah hasil dari Pendedsern 3, dengan ukuran 3-7 gram/ekor. Sudah barang tentu ukuran yang kurang seragam ini digrading terlebih dahulu untuk ditebar pada kolam yang berbeda. Besaran padat tebar untuk tahapan pembesaran bergantung pada ukuran benih. Untuk tahap Pembesaran 1, ukuran benih 3-7 gram/ekor, padat tebarnya +/- 50 ekor/m2 ), dan untuk Pembesaran tahap ke dua padat tebar 30 ekor/m2. Pembesaran tahap ukuran benih +/- 50 g/ekor adalah 10-15 ekor/m2.

4.4 PERAWATAN PEMELIHARAAN

Perawatan pemeliharaan meliputi pemberian pakan, kontrol kualitas air, monitoring pertumbuhan dan kondisi sidat, grading, dan pemanenan pada dasarnya sama dengan pada tahap Pendederan lanjut (Pendederan 2 dan 3). 4.4.1 Pemberian pakan

Pakan untuk pembesaran adalah pasta, rucah, dan pelet. Kandungan protein harus cukup tinggi (45-50%) dan sesuai untuk sidat. Contoh pasta dan pelet disajikan pada Gambar 16. Sebagai pakan tahapan pembesaran, pelet sangat baik, karena pakan dalam bentuk pelet lebih efektif dibandingkan dengan pasta. Beberapa keunggulannya antara lain adalah yang terbuang relatif lebih sedikit, dan lebih mudah penanganannya. Dosis pakan antara 2-6% dari berat biomas per hari, dengan frekuensi 2-3 kali sehari. Untuk kontrol pakan bisa dipergunakan anco; habis tidaknya pakan dan lamanya pakan dihabiskan merupakan salah satu dasar untuk penyesuaian pemberian pakan. Kontrol pakan yang baik akan menurunkan resiko pemborosan dan menekan konversi pakan, suatu faktor utama yang berpengaruh pada tingkat keuntungan usaha.

Penebaran benih dilakukan pada pagi hari saat suhu masih rendah, yaitu pukul 07.00 – 09.00. tujuannya agar benih tidak stress pada suhu tinggi.

39

1 •timbang ikan rucah sebanyak ndiperlukan 2

•cincang daging tersebut hingga lebih kecil dari bukaan mulut sidat

3 •letakkan daging ikan tersebut pada baki-baki

Gambar 16. Contoh pakan ikan buatan. Atas: pasta dan pelet. Pemberian pakan pasta adalah sebagai berikut:

Pemberian pakan dengan ikan rucah sebagai berikut:

1 •timbang pakan sebanyak diperlukan, rebus 2

•campur dengan air secukupnya, kalau perlu + bahan pelengket (semacam kanji), dan suplemen lain yang diperlukan (minyak ikan)

3 •aduk dengan pengaduk khusus hingga adonan pulen 4 •bagi-bagi adonan tersebut sesuai kebutuhan setiap kolam 5

•letakkan adonan tersebut pada keranjang pakan

•letakkan keranjang pakandi bawah peneduh 10 cm di bawah permukaan air.

40

Selain cara pemberian, tak kalah penting adalah kontrol pakan khususnya pengamatan habisnya pakan. Bila waktu habisnya pakan terlalu lama, perlu diketahui penyebabnya; bila perlu dilakukan penyesuaian dosis pemberiannya. Gambar 17 contoh kontrol pakan.

Gambar 17. Kontrol pakan dan pemberian pakan pasta.

4.4.2 Pengontrolan

Pengontrolan budidaya meliputi monitoring kualitas air, laju pertumbuhan dan kondisi/kesehatan ikan yang dibudidayakan.

Monitoring kualitas air baik melalui pengukuran parameter-parameter kualitas air utama maupun secara visual. Bila ada nilai parameter kualitas air yang tidak sesuai, periksa penyebabnya dan lakukan tindakan perbaikan. Rekam dalam jurnal budidaya yang telah disiapkan.

Cermati setiap kondisi benih utamanya bila ada kelainan tingkah laku termasuk nafsu makannya, karena bila ada hal demikian bisa mengindikasikan adanya serangan penyakit. Keterlambatan pengenalan gejala serangan penyakit akan dapat berakibat fatal, karena bila sudah cukup luas serangannya maka penanggulangannya akan lebih sulit dan merugikan.

Monitoring pertumbuhan paling tidak dilakukan setiap dua minggu dengan mengambil sejumlah contoh dan mengukur panjang total dan beratnya (satu persatu). Bandingkan hasilnya dengan laju pertumbuhan standar yang telah dibuat (seperti pada Tabel 4). Evaluasi laju pertumbuhan dan keseragaman ukurannya.

Pengontrolan dilakukan setiap hari untuk melihat keadaan kolam dan benih. Waktunya bisa bersamaan dengan pemberian pakan tambahan. Saat pengontrolan, keadaannya harus diamati dengan cermat.

41

Bila kurang memuaskan, analisis faktor-faktor yang diduga berpengaruh dan lakukan tindakan perbaikan.

Monitoring kondisi sidat yang dibudidayakan sangat mutlak iperlukan, agart dapat diketahui secara dini adanya gelaja kelainan khususnya karena adanya serangan penyakit. Lebih rinci mengenai hal ini diuraikan pada Materi Pokok 4.

4.4.3 Pemanenan

Tahapan pekerjaan dalam panen parsial, bisa dilihat pada Gambar 18, sedang untuk panen total dijelaskan pada prosedur berikutnya.

Gambar 18. Cara panen parsial Tahap pekerjaan dalam panen total :

1 •pasang saringan di depan pintu pengeluaran (monik)

2

•cabut papan monik yang paling atas dan biarkan airnya terbuang hingga mencapai ketinggian papan di bawahnya. •cabut papan kedua biarkan air terbuang

3

•sambil menunggu air surut, tangkap sidat demi sedikit dengan waring, lalu masukkan ke ember.

4

•bila airnya sudah surut lagi, cabut papan ketiga agar airnya lebih surut. tangkap sidat sampai habis dan masukkan ke dalam hapa.

Pemanenan bisa berupa panen sebagian (parsial) dan panen total

42 4.4.4 Seleksi ukuran

Untuk jumlah yang tidak terlelu banyak, grading dilakukan secara manual

sebagaimana dijelasakan pada tahapan Pendederan 1; sedang untuk sidat yang banyak, diperlukan waktu yang cepat, sehingga bisa dengan alat bantu grading. Prosedur seleksi ukuran disajikan pada Gambar 19.

Gambar 19. Prosedur seleksi ukuran (grading) untuk sidat dalam jumlah banyak. Keterangan: e: Saringan grading; c,d,f,g: bak penampungan sidat; a: sidat kecil

masuk melewati saringan; b: sidat lebih besar tidak masuk. Seleksi sidat konsumsi dilakukan keesokan harinya. Sidat yang mati harus dibuang agar tidak mengotori air dalam wadah penampungan. Seleksii dilakukan dengan memisahkan sidat Seleksi sidat konsumsi dilakukan keesokan harinya. Sidat yang mati harus dibuang agar tidak mengotori air dalam wadah

43 4.4.5 Pengemasan

Tahapannya adalah penimbangan, dan pengemasan.

Perhitungan sidat dilakukan secara manual dengan cara sampling. Cara ini cukup efektif. Sidat juga harus ditimbang agar diketahui beratnya. Setelah diketahui jumlah dan beratnya, sidat siap untuk dijual. Gambar 18 menunjukkan sebagian kegiatn penghitungan sidat.

Gambar 20. Penghitungan dan penimbangan sidat konsumsi Pengemasan

5

Pengemasan dalah sistim tertutup. Tahap pengemasan yaitu ikan sidat yang telah dipuasakan diambil untuk ditimbang sebanyak 100 kg, kemudian dipingsankan di wadah yang telah diberi es batu sampai suhu mecapai 7 – 10 c0, setelah ikan sidat pingsan, dikemas dengan plastik yg sudah diisi air sebanyak 2/3 dari volume. Tahap selanjutnya kantong tersebut diberi oksigen murni dan kantong diikat dengan menggunakan karet. Selanjutnya ikan sidat dikemas kantong plastik kemudian dimasukan ke dalam styrofoam, dan di sela-selanya diberi diberi batu es yang sudah dibungkus dalam plastik.

Tahap terakhir dari proses kegiatan budidaya adalah penanganan pasca panen. Dengan penanganan pasca panen yang benar diharapkan nilai jual tidak turun. Ikan sidat mempunyai nilai jual tinggi pada saat diperdagangkan dalam kondisi hidup dan segar (dan berkualitas baik). Untuk itu diperlukan cara pengemasan ikan sidat ukuran konsumsi akan menjamin kelangsungan hidupnya dari mulai penanganan panen di tambak sampai ke lokasi pasar.

44

Gambar 21. Pengemasan Sidat.

Latihan

1. Apa yang dimaksud dengan tahapan pebesaran sidat? 2. Apa jenis pakan dan bagaimana pemberiannya?

3. Apa saja yang perlu dilakukan dalam tahap pengontrolan? 4. Apa saja parameter kualitas air yang perlu dipantau? 5. Apa saja keunggulan kolam berukuran lebih besar? Rangkuman

1. Tahapan pebesaran sidat adalah kegiatan memelihara sidat dari fingerling sampai ukuran konsumsi (125-500 g).

2. Tahapan pekerjaan dalam melakukan pembesaran sidat dimulai dari persiapan kolam, penebaran benih, pemberian pakan tambahan, pengontrolan, pemanenan, seleksi, pemberokan dan pengemasan.

3. Pengontrolan dilakukan dengan memeriksa kebocoran bak, kualitas air, debit air, dan ancaman penyakit terhadap sidat dan dilakukan secara rutin, bahkan beberapa setiap hari.

4. Seleksi ukuran dilakukan guna menekan resiko kanibalisme, menghindarkan sidat lebih kecil kalah bersaing, dan guna dapat diperoleh laju pertumbuhan yang lebih tinggi.

5. Pengemasan sidat hidup dengan sistim tertutup. Pemberokan dan pemuasaan sangat penting sebagai penyiapan sidat yang akan dipack dan dikirim, sehingga menekan tingkat mortalitas dalam transportasi.

Evaluasi

1. Bagaimanakah sebaiknya kolam untuk pembesaran sidat?

2. Apa saja pakan yang baik untuk diberikan? Apakah bila pakan hanya pelet atau pasta saja sudah baik? Mengapa?

45

4. Ada dua alternatif cara seleksi ukuran. Apa saja itu? Mengapa kadang diperlukan alat khusus ?

5. Berapa perbandingan air dan oksigen dalam pengemasan sidat hidup? MATERI POKOK 5. MENJAGA KESEHATAN IKAN

Dalam dokumen Buku dan Materi Budidaya Ikan sidat (Halaman 38-52)

Dokumen terkait