Tahapan pekerjaan dan perawatan budiaya pada Pendederan Lanjutan (Pendederan 2 maupun Pendederan 3) pada dasarnya sama dengan pada tahapan Pendederan 1, kecuali bahwa pada tahapan ini kita sudah tidak mengajari benih untuk makan. Pendederan 2 dimulai dari penyiapan kolam dan media budidaya.
Kolam Penderan 1 yang digunakan bisa kolam tanah dengan ukuran 50-100 m2 dan kedalaman 80 cm, sedang untuk kolam Pendederan 2 bisa 100-300 m2 dengan kedalaman 90-100 cm.
3.4.2 Persiapan kolam dan media budidaya
Benih berukuran besar adalah benih berkualitas lebih baik, sedangkan benih berukuran kecil disebut benih kualitas kedua atau dengan kualitas dibawah kualitas benih besar.
Kegiatan persiapan terdiri dari perbaikan pematang dan bagian-bagian kolam yang bocor, pembersihan, pengeringan, pemberantasan penyakit, pembilasan, dan pengisian air.
Pengeringan dilakukan dengan cara membiarkan bak terjemur matahari
31
Gambar 14. Tahapan pekerjaan penyiapan kolam dan air media budidaya.
3.4.3 Penebaran benih
Tabel 4. Padat tebar pada pendederan ke dua dan ke tiga serta dosis pakan. Kegiatan Berat benih (g) Padat tebar
(ekor/m3)
Dosis pakan per 1000 ekor (g)
Pendederan 2 0,6 – 0,8 200 100 – 200
Pendederan 3 1,5 – 1,75 100 200 - 400
Cara menghitung benih secara volumetrik:
Keterangan:
A = Jumlah total benih (ekor)
B = Jumlah benih dalam satu gelas (ekor) C = Volume benih keseluruhan (liter)
Pendederan tahap kedua harus dilakukan pengaturan padat tebar agar menghasilkan kualitas sidat yang baik. Pemberantasan penyakit : rendam kolam dengan larutan kaporit dengan dosis 30-50 gram/m3 selama dua hari, kemudian dibilas hingga sisa-sisa dan bau kaporit hilang, dijemur.
Pemasukan air dilakukan dua hari setelah pemberantasan penyakit
32 3.4.4 Perawatan pemeliharaan
Perawatan pemeliharaan meliputi pemberian pakan, pengontrolan kualitas air, monitoring pertumbuhan, monitoring kesehatan, panen parsial dan panen total. Pakan yang diberikan adalah pasta dengan protein >50%, dengan dosis 8-10% dan frekuensi pemberian 4 kali setiap hari. Perlu diperhatikan : Pertama, penyiapan dan pemberian pakan harus dikontrol agar sesedikit mungkin pakan yang tesuspensi ke dalam air tanpa termakan, karena kolam akan cepat kotor dan menurunkan kualitas airnya. Ke dua, bila perlu dilakukan penyesuaian jumlah pakan dengan kondisi, bila kondisi kurang menunjang, guna menekan pemborosan karena banyaknya pakan yang tidak dimakan.
Monitoring kualitas air baik melalui pengukuran parameter-parameter kualitas air utama maupun secara visual. Bila ada nilai parameter kualitas air yang tidak sesuai, periksa penyebabnya dan lakukan tindakan perbaikan. Rekam dalam jurnal budidaya yang telah disiapkan.
Cermati setiap kondisi benih utamanya bila ada kelainan tingkah laku termasuk nafsu makannya, karena bila ada hal demikian bisa mengindikasikan adanya serangan penyakit. Keterlambatan pengenalan gejala serangan penyakit akan dapat berakibat fatal, karena bila sudah cukup luas serangannya maka penanggulangannya akan lebih sulit dan merugikan.
Monitoring pertumbuhan paling tidak dilakukan setiap dua minggu dengan mengambil sejumlah contoh dan mengukur panjang total dan beratnya (satu persatu). Bandingkan hasilnya dengan laju pertumbuhan standar yang telah dibuat (seperti pada Tabel 5). Evaluasi laju pertumbuhan dan keseragaman ukurannya. Bila kurang memuaskan, analisis faktor-faktor yang diduga berpengaruh dan lakukan tindakan perbaikan.
Tabel 5. Pertumbuhan benih hasil pendederan ke satu, pendederan kedua, dan pendederan ketiga setiap dua minggu.
Umur (minggu) Panjang (cm) Berat (g)
0 4,5 5,5 0,15 – 0,2 2 6 – 6,5 0,4 – 0,5 4 7 – 7,5 0,6 – 0,8 6 8 – 8,5 1,0 – 1,25 8 9 – 9,5 1,5 – 1,75 10 10 – 10,5 2 – 2,5 12 11 – 11,5 3 - 7
33
3.4.5 Sekilas tentang budidaya sistim resirkulasi
Budidaya sistim resirkulasi adalah suatu sistim budidaya dimana air buang ditreatmen kemudian dipergunakan kembali sebagai media budidaya di unit/kolam tersebut. Sistim ini mampu ditebar dengan kepadatan tinggi, denghan produktivitasnya tinggi. Pemlihaan air yang memadai kalau bisa – sempurna menjadi prasyarat mutlak keberhasilan sistim ini. Filter minimal yang harus ada adalah filter fisik untuk membuang kotoran dan filter biologi untuk merombak amonia menjadi nitrat yang relatif tidak toksik. Peralatan pemiliaan air lain sangat baik bila juga diinstal, seperti hidroklon, skimmer, lampu ultra violet, dan sarana agar suhu lebih stabil. Penjagaan sistim pemuliaan agar selalu berfungsi optimal mutlak dilakukan.
Keunggulan sistim ini adalah produktivitas tinggi meski ukuran kolam kecil dan dan air terbatas, dan kondisi budidaya dapat lebih terkontrol, tidak terpengaruh oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Kelemahannya adalah biaya relatif tinggi, sehingga harus diperhitungkan benar-benar kelayakannya untuk suatu komoditas
3.4.6 Pemanenan
Panen dapat berupa panen parsial dan panen total, sebagaimana dijelaskan pada Pendedern 1.
Untuk mengetahui hasil panen, benih yang ditangkap harus dihitung. Perhitungan dapat dilakukan setelah seleksi maupun sebelum penebaran kembali ke bak pendederan selanjutnya.
1
•siapkan dua buah ember besar, sebuah sekup net, dan sebuah gelas air mineral
2
•tangkap benih dengan sekup net dan biarkan beberapa saat agar airnya turun
3
•masukkan benih ke dalam gelas sampai penuh.
•bila sudah penuh, kembalikan sisa benih ke tempat semula
4 •
masukkan benih yang sudah ditakar ke dalam sekup net dan hitung jumlahnya
5 •
takar seluruh benih dengan gelas tersebut dan tampung di dalam ember besar
6
•untuk mengetahui jumlahnya, dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
34 3.4.7 Seleksi ukuran (Grading)
Pentingnya dan cara grading sebagaimana halnya telah dijelaskan pada Pendederan 1.
Latihan
1. Apa yang dimaksud dengan pendederan sidat?
2. Apa beda teknik budidaya pada Pendederan 1 dan Pendederan Lanjutan? 3. Apa saja yang perlu dilakukan dalam tahap pengontrolan?
4. Apa tujuan dilakukannya seleksi terhadap benih sidat? 5. Apa yang dimaksud dengan sistim progfresif ?
Rangkuman
1. Pendederan sidat adalah kegiatan memelihara benih sidat atau elver sampai ukuran fingerling (panjang 10 cm).
2. Tahapan pekerjaan dalam melakukan pendederan sidat dimulai dari persiapan kolam, penebaran benih, pemberian pakan tambahan, pengontrolan, pemanenan, dan seleksi. Pendederan berlangsung selama tiga bulan dan dalam tiga tahap. 3. Pengontrolan dilakukan dengan memeriksa kebocoran kolam, kualitas air, debit
air, dan ancaman penyakit terhadap elver dan dilakukan minimal empat kali sehari.
4. Seleksi dilakukan agar dapat memisahkan sidat berdasarkan ukuran. Jika sidat yang berbeda ukuran dimasukkan dalam satu tempat dapat terjadi kanibalisme terhadap sidat yang berukuran lebih kecil.
5. Pendederan dengan sistem resirkulasi adalah bahwa air buangan ditreatmen dan dipergunakan kembali sebagai media budidaya. Keunggulan aiatim ini adalah produktivitas tinggi dengan lahan dan air terbatas, dan lebih terkontrol. Kelemahannya adalah biaya lebih tinggi.
35 Evaluasi
1. Mengapa pada pendederan lanjutan diperlukan pentahapan atau sistim progfresif (tidak satu batch)?
2. Apa saja pakan yang diperlukan dalam tahapan Pendederan 1?
3. Ada berapakah jumlah tahapan dalam Pendederan Lanjutan ? Ukuran bagaimanakah yang dihasilkan dari Pendederan Lanjutan?
4. Untuk kolam yang bagian dalamnya halus, apakah masih perlu didesinfeksi? Mengapa demikian?
5. Apakah untuk Pendederan 2-3 pada umumnya diperlukan penumbuhan plankton? Bila mana penumbuhan plankton tidak diperlukan?
MATERI POKOK 4. PEMBESARAN 4.1 UMUM
Kunci sukses pembesaran sidat:
Kolam yang dipergunakan adalah kolam tanah, dengan ukuran 300-1000 m2. Kolam ukuran besar mempunyai keunggulan tersendiri, khususnya bahwa suhu cenderung lebih stabil baik suhu maupun planktonnya dibandingkan dengan kolam ukuran kecil
1 •kualitas air baik 2 •kualitas benih baik
3 •kualitas pakan tambahan baik 4 •teknik pemeliharaan baik 5 •manajemen yang baik
Dari hasil pendederan, ukuran sidat belum bisa dikatakan sidat konsumsi karena masih terlalu kecil. Ukuran sidat konsumsi antara 120 – 200 g (5-8 ekor/kg) dan 500g ke atas. Agar mencapai ukuran tersebut diperlukan kegiatan pembesaran.
36
(dengan kedalaman air sama). Beberapa contoh kolam pembesaran disajikan pda Gambar 13.
Keterangan:
Gambar 15. Kolam pembesaran. Atas: beberapa contoh kolam pembesaran. Bawah: contoh desain kolam pembesaran.