• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efektifitas Produktif

5.1. Respon Pemerintah

5.1.2. Penegakan Aturan Administratif

Berdasarkan peraturan pemerintah no. 34/2002, di luar ketentuan pidana sebagaimana diatur dalam UU. 41/1999, terdapat sejumlah 21 perbuatan yang dapat

dikenakan sanksi administratif. Sanksi administratif tersebut terdiri dari : (1) penghentian sementara pelayanan administrasi, (2) penghentian sementara kegiatan di lapangan, (3) denda administrasi, (4) pengurangan areal kerja, dan (5) pencabutan ijin. Adapun jenis-jenis perbuatan dan sanksi dapat dilihat pada Table 28.

Tabel. 28. Perbuatan dan Sanksi Administratif yang Dapat Dikenakan kepada Pemilik IUPHHK

No Jenis Pelanggaran Sanksi

a b c d E

1 Tidak membuat laporan * *

2 Tidak melakukan penataan batas * *

3 Menggunakan peralatan kerja yang jumlah dan jenisnya tidak

sesuai dengan ijinnya *

4 Tidak memiliki tenaga profesional dibidang kehutanan dan tenaga lain sesuai kebutuhan

*

5 Volume tebangan melebihi RKT/ijin *

6 Menebang sebelum RKT disahkan *

7 Menebang Koridor tanpa ijin *

8 Menebang di bawah limit diameter *

9 Menebang di luar blok *

10 Menebang di jalan angkutan diluar RKT *

11 Mengontrakkan atau menyerahkan seluruh kegiatan usahanya

kepada pihak lain *

12 Tidak menanam sesuai rencana kerja yang ditetapkan *

13 Tidak melaksanakan Standar Akuntasi Kehutanan *

14 Tidak melaksanakan kerjasama dengan koperasi masyarakat *

15 Tidak melakukan usaha secara nyata selama 180 hari sejak ijin diberikan

*

16 Tidak membayar pungutan kehutanan *

17 Meninggalkan areal kerja sebelum ijin berakhir *

18 Dikenakan hukuman pidana pasal 78 UU No. 41/1999 *

19 Tidak melaksanakan sistem silvikultur yang ditetapkan oleh Menteri

*

20 Tidak membayar DR *

21 Tidak menyerahkan RKT, RKL, RKU dalam waktu yang telah ditentukan

*

Keterangan, (a) : penghentian sementara pelayanan administrasi, (b) : Penghentian sementara kegiatan di lapangan, (c) : denda administrasi,

Selama periode antara tahun 2004 sampai dengan 2009, pemerintah telah mencabut sebanyak 59 IUPHHK, karena berbagai alasan. Tabel 29 menyajikan data pencabutan IUPHHK yang diklasifikasikan menurut alasan pencabutan dan kelompok umur kepemilikan ijin tersebut oleh peusahaan.

Tabel 29. Pencabutan IUPHHK Berdasarkan Klasifikai Alasan dan Umur Ijin Tahun 2004 -2009

No Alasan Pencabutan Kelas Umur ijin (Tahun) Jumlah 0-5 6-10 11-15 16-20

1 Diserahkan Kembali oleh Pemilik

1 8 4 4 17

2 Meninggalkan Areal Kerja 0 1 3 4 8 3 Tidak Mengajukan Ijin

Penggunaan Alat

1 1 0 2 4

4 Tidak Mengajukan URKT (3 tahun)

0 3 9 8 20

5 Tidak Menyusun RKU-PHHK 10 tahun

0 0 2 0 2

6 Tidak Membayar PSDH/DR 0 0 0 3 3 7 Tidak melaksanakan sistem

silvikultur

0 0 1 0 1

8 Melakukan Kontrak dengan Pihak lain tidak sesuai ketentuan

0 0 1 0 1

9 Tidak melaksanakan pengalihan saham 20% kepada masyarakat

0 0 0 1 1

10 Menjual Saham tanpa persetujuan Menteri

0 0 1 0 1

11 Alasan lain 0 0 0 1 1

Jumlah 2 13 21 23 59

Pada periode 2004 sampai 2009 jumlah rata-rata ijin usaha yang beroperasi adalah 305 unit, jumlah yang dicabut mencapai 59 unit adalah hampir setara dengan 20 %, merupakan porsi jumlah yang besar. Pencabutan ini sebagian besar (76%) dilakukan terhadap perusahaan yang telah beroperasi selama lebih dari 10 tahun. Sebanyak 20 ijin dicabut karena perusahaan tidak mendapatkan rencana produksi tahunan selama

tiga tahun berturut-turut, dari jumlah ini sebanyak 17 perusahaan (85 %) adalah perusahaan yang telah bekerja lebih dari 10 tahun. Perusahaan-perusahaan yang telah berpengalaman tentu tidak mengalami kesulitan untuk menyusun RKT, pasti ada alasan lain mengapa tidak mangajukan RKT. Sebanyak 17 ijin dicabut karena diserahkan kembali oleh pemilik ijin kepada pemerintah, penyerahan tersebut dilakukan oleh perusahaan baru maupun perusahaan lama. Terdapat 8 perusahaan yang telah menerima IUPHHK selama lebih dari lima tahun dicabut ijinnya karena meninggalkan areal kerjanya. Sementara itu terdapat perusahaan yang dicabut ijinnya karena tidak mengajukan ijin penggunaan alat, terdapat hal yang menarik disini adalah bahwa terdapat 2 perusahaan yang pencabutannya dilakukan setelah menerima IUPHHK lebih dari 15 tahun. Dua perusahaan dicabut karena tidak membuat RKU- 10 tahun, selebihnya masing-masing satu perusahaan dicabut ijinnya karena alasan tidak melaksanakan sistem silvikultur dan alasan-alasan yang lainnya.

Berdasarkan daftar nama IUPHHK yang telah mendapatkan peringatan dari Direktorat Bina Pengembangan Hutan Alam periode 2008-2009, diketahui bahwa terdapat 4 jenis pelanggaran yang dimonitor perkembangannya dan dinamika perkembangan peringatan I, II , III dan eksekusi atas sanksi terkait. Data tentang penerapan sanksi atas pelanggaran tersebut disajikan pada Tabel 30.

Yang menarik dari data Tabel 30 adalah bahwa perubahan dari setiap tingkatan proses pemberian sanksi dari peringatan I ke peringatan II, III dan sampai dengan eksekusi, hampir sebanyak 40 % tidak dapat dilanjutkan ke tingkat berikutnya setelah tanggapan dari pihak perusahaan dianggap mempunyai alasan yang dapat diterima oleh pemerintah. Melalui proses “pembinaan” yang dipraktekkan oleh Departemen

Kehutanan, pelanggaran yang mendapatkan sanksi hingga tingkat eksekusi adalah 20% dari jumlah yang mendapat peringatan I.

Tabel 30. Penerapan Sanksi Administrasi atas Pelanggaran Kontrak IUPHHK Tahun 2008-2009

No Jenis Pelanggaran Sanksi Frek wensi Peringatan Batal Ekse kusi(1) I II III 1 Tidak Menyusun RKU-10th Cabut ijin 19 19 10 2 0 2 2 Ijin Penggunaan Alat Berat Cabut ijin 26 26 19 15 1 7 3 Meninggalkan Areal Kerja Cabut ijin 6 6 4 2 0 2 4 Tidak mempekerjakan tenaga profesional kehutanan Cabut ijin 3 3 0 0 0 0 Jumlah 54 54 33 19 1 11

Sumber : Departemen Kehutanan (2010). b

Catatan : (1)

Tindakan pencabutan terhadap 20 % IUPHHK meskipun merupakan porsi yang besar tidak mencerminkan konsistensi kemampuan pemerintah dalam menegakkan

, Termasuk yang sedang diajukan penetapannya ke Menteri Kehutanan

Jika dibandingkan dengan respon pemilik IUPHHK terhadap verifier yang mempunyai implikasi pada pengenaan sanksi yaitu verifier (142) TEK, yaitu penggunaan silvikultur yang ditentukan dan verifyer (153), SDM yaitu penggunaan tenaga profesional pada Tabel 41, perusahaan yang mempunyai nilai baik tidak lebih dari 5 %, artinya bahwa sekitar 95 % perusahaan tidak menaati aturan tentang silvikultur dan penggunaan tenaga profesional. Tabel 28 menunjukkan kondisi yang sebaliknya yaitu hanya sekitar 5 % perusahaan yang mendapat peringatan karena tidak menggunakan tenaga kerja profesional, sebagian besar perusahaan yang tidak memenuhi persyaratan tidak termonitor dan tidak mendapat sanksi pelanggaran.

aturan. Jika diperhatikan bahasan bab VI, perusahaan yang mempunyai nilai verifier baik hanya berada pada kisaran 10 %, sedangkan sisanya 90 % dapat digolongkan tidak melaksanakan peraturan dengan baik. Sementara itu perusahaan yang terpantau oleh pemerintah sekitar 20 % dari total populasi. Hal ini dapat menjadi salah satu penjelasan tentang terjadinya kondisi yang berbalikan seperti tersebut diatas.

Kapasitas pemerintah yang lemah dalam menegakkan aturan selain di jelaskan oleh data tersebut diatas, juga terjadi karena pemerintah pusat terlibat dalam urusan mikro sehingga rentang kendali yang dimiliki tidak mampu menjangkau persoalan tingkat individual, disamping itu keterbatasan penguasaan informasi menyebabkan pemerintah pusat tidak dapat memperoleh gambaran riil atas kondisi di lapangan.