a. Pelanggaran adalah sikap, perilaku, perkataan dan perbuatan yang menyimpang dari Kode Etik BPJS Kesehatan.
2. Pelaporan Dugaan Pelanggaran
Ketentuan Pelaporan Dugaan Pelanggaran Kode Etik adalah sebagai berikut:
a. Organ, kelengkapan Organ dan Pegawai BPJS Kesehatan yang mengetahui dugaan terjadinya suatu pelanggaran Kode Etik segera menyampaikan laporan secara lisan atau tertulis kepada atasan dan/atau Komite Etika BPJS Kesehatan.
b. Laporan memuat kronologis dugaan pelanggaran, pihak yang diduga terlibat dengan dilengkapi bukti awal pelanggaran.
c. Laporan sedapat mungkin dilengkapi dengan identitas pelapor untuk memudahkan komunikasi dan tindak lanjut
d. BPJS Kesehatan berkomitmen untuk menindaklanjuti dan menyelesaikan setiap laporan dugaan pelanggaran dalam waktu sesegera mungkin.
e. Untuk menyelesaikan laporan dugaan pelanggaran, BPJS Kesehatan menetapkan prosedur tertulis yang mengatur tata cara atau proses penerimaan laporan pelanggaran, penanganan dan penyelesaian laporan pelanggaran, perlindungan pelapor, dan pemantauan penanganan dan penyelesaian pelaporan pelanggaran. Proses secara umum dalam penerimaan laporan dan tindak lanjutnya dapat dilihat pada Lampiran 5
f. Laporan dugaan pelanggaran Kode Etik yang dilakukan oleh Pegawai BPJS Kesehatan ditindaklanjuti oleh Komite Etika dan/atau Tim Pemeriksa
1) Komite Etika dapat membentuk atau mengusulkan pembentukan Tim Pemeriksa untuk melakukan pemeriksaan terhadap laporan dugaan pelanggaran kode etik.
2) Tim Pemeriksa adalah tim yang dibentuk dengan penetapan Surat Keputusan Direksi untuk menindaklanjuti dugaan pelanggaran sesuai dengan yang diatur dalam Peraturan Kepegawaian
3) Komite Etika dan/atau Tim Pemeriksa menentukan pembagian tugas dalam menindaklanjuti pelaporan atas dugaan pelanggaran terhadap Kode Etik g. Laporan dugaan pelanggaran Kode Etik yang dilakukan oleh Direksi BPJS
Kesehatan ditindaklanjuti oleh Komite Etika sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.
3. Media Pelaporan Dugaan Pelanggaran
Media yang digunakan sebagai pelaporan dugaan pelanggaran adalah:
a. Menyampaikan secara langsung (tatap muka) kepada atasan atau Komite Etika b. Menyampaikan melalui media telepon, surat, layanan pesan singkat, dan/
atau surat elektronik (email) kepada Atasan atau Komite Etika
c. Menyampaikan melalui kotak pengaduan atau aplikasi Whistle Blowing System (WBS)
d. Bentuk lainnya, dengan prinsip sedapat mungkin tidak menyampaikan kepada publik atau media eksternal, tetapi mengedepankan penyelesaian
4. Pemeriksaan atas Dugaan Pelanggaran
a. Organ, kelengkapan Organ dan Pegawai BPJS Kesehatan harus bekerja sama sepenuhnya dengan segala bentuk penyelidikan internal maupun eksternal yang berwenang secara wajar, termasuk namun tidak terbatas pada pemeriksaan-pemeriksaan yang terkait dengan Kode Etik
b. Organ, kelengkapan Organ dan Pegawai BPJS Kesehatan dilarang menahan, mengubah, maupun menolak untuk menyampaikan informasi terkait pemeriksaan, misalnya dengan membuat pernyataan palsu atau menyesatkan pemeriksa internal maupun eksternal. Pelaksanaan atas pelanggaran ini akan dikenakan sanksi berat.
c. BPJS Kesehatan akan melindungi setiap Organ, kelengkapan Organ dan Pegawai BPJS Kesehatan yang menyampaikan kekhawatiran dengan jujur, tetapi merupakan pelanggaran atas Pedoman Kode Etik jika dengan sengaja melontarkan tuduhan palsu dan membohongi pemeriksa.
d. Komite Etika dan/atau Tim Pemeriksa bekerja dengan menerapkan asas praduga tak bersalah (presumption of innocence)
5. Sanksi atas Pelanggaran Kode Etik
Ketentuan pemberian sanksi atas pelanggaran Kode Etik adalah sebagai berikut:
a. Komite Etika dan Tim Pemeriksa merekomendasikan sanksi kepada Direktur Utama, bila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pelanggaran Kode Etik b. Jika pelanggaran Kode Etik dilakukan oleh Pegawai BPJS Kesehatan,
maka Direksi berwenang menetapkan sanksi mengikuti ketentuan sanksi yang diatur dalam Peraturan Kepegawaian.
c. Mekanisme pemberian sanksi bagi Pegawai BPJS yang melanggar Kode Etik mengikuti ketentuan yang diatur dalam Pedoman Kepegawaian.
d. Jika pelanggaran Kode Etik dilakukan oleh Komite Etika, maka Direksi berwenang menetapkan sanksi berdasarkan peraturan terkait.
e. Jika pelanggaran dilakukan oleh Anggota Dewan Pengawas atau Anggota Direksi, maka:
1) Anggota Dewan Pengawas atau anggota Direksi yang melanggar dapat dikenakan sanksi administratif berupa peringatan tertulis, pemberhentian sementara; dan/atau pemberhentian tetap.
2) Sanksi administratif berupa peringatan tertulis dikenai oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.
3) Sanksi administratif berupa pemberhentian sementara dan/atau pemberhentian tetap dikenai oleh Presiden dengan memperhatikan pertimbangan dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan
6. Kebijakan Perlindungan Pelapor Pelanggaran Kode Etik
Fasilitas dan perlindungan bagi pelapor atas pelanggaran kode etik adalah sebagai berikut:
a. Fasilitas pelaporan yang independen, bebas dan rahasia, seperti telepon, surat, pesan singkat, email dan aplikasi Whistle Blowing System
b. Pelapor atas Pelanggaran Kode Etik berhak mendapatkan perlindungan hukum sebagai berikut:
1) Perlindungan dari tindakan balasan atau perlakuan yang bersifat administratif kepegawaian yang tidak objektif dan merugikan Pelapor, namun tidak terbatas pada penurunan peringkat jabatan, penurunan penilaian kinerja, usulan pemindahan/mutasi atau hambatan karir lainnya.
2) Pemindahtugasan/mutasi bagi Pelapor dalam hal timbul initmidasi atau ancaman fisik, dan
3) Bantuan hukum dan kerahasiaan identitas sesuai dengan ketentuan yang berlaku di lingkungan BPJS Kesehatan
c. Pejabat BPJS Kesehatan dilarang memberikan perilaku diskriminatif atau tindakan yang merugikan Pelapor yang menyampaikan laporan pelangggaran kode etik
d. Dalam hal terdapat ancaman fisik dan/atau psikis kepada Pelapor, Pelapor dapat meminta perlindungan kepada instansi yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku
e. Prinsip perlindungan terhadap Pelapor wajib dipenuhi dalam rangka untuk mendorong Pelapor untuk tidak ragu-ragu menyampaikan tindakan pelanggaran yang diketahuinya.
7. Penghargaan dan Sanksi terhadap Pelaporan Pelanggaran Kode Etik
Pelaporan pelanggaran kode etik didasarkan atas itikad baik untuk kepentingan organisasi. BPJS Kesehatan akan memberikan penghargaan kepada Pelapor apabila kasus yang dilaporkan mengandung kebenaran dan BPJS Kesehatan mendapat dampak positif dari adanya laporan tersebut sesuai dengan Peraturan Kepegawaian atau kebijakan Direksi. Pemberian penghargaan juga diberikan sebagai bentuk apresiasi atas keberanian dan kepedulian untuk melaporkan tindak pelanggaran, serta memotivasi bagi Organ, kelengkapan Organ dan Pegawai BPJS Kesehatan yang lainnya untuk melakukan keberanian dan kepedulian yang sama.
Sebaliknya, Pelapor pun dapat dikenakan sanksi, apabila Pelapor telah terbukti menyampaikan laporan pelanggaran yang bersifat palsu atau fitnah, dimana ketentuan sanksi diatur sebagai berikut:
a. Sanksi terhadap kepalsuan pelaporan pelanggaran Kode Etik yang dilakukan Pegawai mengikuti ketentuan sanksi yang diatur dalam Peraturan
b. Sanksi terhadap kepalsuan pelaporan pelanggaran Kode Etik yang dilakukan Direksi mengikuti ketentuan sanksi yang diatur dalam Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
8. Pemulihan Nama baik
BPJS Kesehatan berkewajiban mengembalikan nama baik atau rehabilitasi terhadap Terlapor yang tidak terbukti melakukan pelanggaran