Laporan Kierja Tahun 2019 Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Kalimantan Barat
JUMLAH BELANJA LANGSUNG CORE
2. Penelitian Evaluasi Program Upaya khusus Sapi Induk Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) tahun 2017 di Provinsi Kalimantan Barat
Kegiatan Penelitian dilaksanakan dengan besaran Pagu anggaran sejumlah Rp. 103.132.000,00 Realisasi Anggaran sebesar Rp.62,186.000,00 atau sebesar 60,30 %. Output Penelitian ini adalah Dokumen penelitian yang memuat informasi dukungan kebijakan-kebijakan Pemerintah Daerah terkait dengan Upaya khusus Sapi Induk wajib bunting Outcome dari penelitian ini adalah Tersedianya hasil penelitian yang memuat informasi tentang implementasi dan dukungan kebijakan Upaya khusus sapi induk wajib bunting. Penelitian ini merupakan bagian dalam rangkaian kegiatan penelitian untuk
Laporan Kierja Tahun 2019
Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Kalimantan Barat
49 | H a l a m a n Efektivitas kebijakan fiskal (baca : anggaran belanja), antara lain ditentukan oleh efektivitas pelaksanaan program pembangunan, termasuk di dalamnya adalah program pembangunan pertanian. Upsus Siwab merupakan salah satu program pembangunan pertanian subsektor peternakan sebagai upaya khusus percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau. Sebagai program Nasional dari Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI, Upsus Siwab merupakan kegiatan yang terintegrasi, menggunakan pendekatan peran aktif masyarakat, peran aktif institusi terkait baik di provinsi maupun kabupaten/ kota, dengan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh sumberdaya peternakan.
Program Upsus Siwab sebagai pemacu titik tumbuh di ranah on-farm (populasi ternak) diharapkan akan menstimulasi titik-titik tumbuh yang lain pada ranah downstream agribusiness, upstream agribusiness maupun supporting institution. Sehingga diharapkan akan menggeliatkan jejaring korporasi/ industri peternakan yang kuat dan memiliki efek multiplier, antara lain : 1) dengan meningkatnya populasi ternak akan meningkatkan ketersediaan bahan organik yang berasal dari limbah ternak. Maka akan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG’s/ Sustainable Development Goals), yang antara lain sistem produksi pertanian mengarah ke sistem produksi pertanian organik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. 2) memenuhi ketersediaan pangan berupa protein hewani yang sangat menentukan dalam mencerdaskan manusia karena kandungan asam aminonya tidak dapat tergantikan (irreversible) oleh bahan makanan lainnya. 3) usaha peternakan yang dipadukan dengan cabang-cabang usaha pertanian lainnya (integrated farming) akan saling memberikan input sehingga meningkatkan efisiensi usaha pertanian (mengurangi biaya input), misalnya : pada integrasi padi-sapi, jerami diolah (amoniasi jerami) menjadi pakan sapi, limbah dari sapi diolah sebagai bahan pupuk organik (bokashi, fine compos dsb) untuk memupuk padi. 4) pembangunan dan pengembangan komoditas peternakan di Prov. Kalimantan Barat, diharapkan juga mempunyai kontribusi cukup nyata dalam perekonomiannya, yaitu sebagai penghasil devisa, sumber pendapatan peternak, penghasil bahan baku industri, penciptaan lapangan kerja dan pengembangan wilayah
Laporan Kierja Tahun 2019
Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Kalimantan Barat
50 | H a l a m a n pedesaan (mengingat pada umumnya desa ditopang oleh ekonomi komoditas).
Program Upsus Siwab diharapkan dapat terus mendorong para peternak untuk meningkatkan semua produksi sumber daya ternak di daerahnya, sehingga usaha peternakan bukan hanya sebatas sambilan (side activity), tetapi kerja tetap (main activity) yang menghasilkan. Dengan demikian diharapkan Nilai Tukar Petani (NTP) terus mengalami kenaikan dan tentu akan meningkatkan kesejahteraan petani/ peternak. Selain itu, Program Upsus Siwab ini diharapkan akan terus mengikuti roadmap dalam mendukung upaya pemerintah untuk swasembada daging tahun 2026, menjadi lumbung pangan dunia tahun 2045 dan terus mendorong peningkatan ekspor. Berdasarkan data realisasi rekomendasi ekspor Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Ditjen PKH Kementan), volume ekspor sub sektor peternakan sejak Januari hingga November pada 2018 mencapai sebesar 229.180 ton dengan nilai 578.402.448 dolar AS. Terhitung volume ekspor naik sebesar 9,67%, sedangkan nilai ekspor meningkat sebesar 3,19 persen jika dibandingkan dengan volume dan nilai ekspor Januari-November 2017 yang sebesar 208.965 ton dan 569.230.610 dolar AS.
Penelitian ini berjudul : “EVALUASI PROGRAM UPAYA KHUSUS SAPI INDUK WAJIB BUNTING (UPSUS SIWAB) TAHUN 2017 DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan atau menggali data dan informasi mengenai faktor-faktor penghambat atau kendala pada hal-hal non teknis terutama yang berkaitan dengan aspek komunikasi dan harmonisasi pelaksanaan Program Upsus Siwab yang dilaksanakan di Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Sambas dan Kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2017.
Penelitian ini menggunakan Jenis Penelitian Survei Eksploratif, Paradigma Kualitatif dengan menggunakan Model Penelitian Evaluasi Program dan dengan Rancangan Pengumpulan Data menggunakan Model Evaluasi Terhadap Pelaksanaan Program. Lokus penelitian ditentukan secara porpusive dengan mengambil kasus di tiga Kabupaten yang telah
Laporan Kierja Tahun 2019
Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Kalimantan Barat
51 | H a l a m a n mengimplementasikan Program Upsus Siwab pada Tahun 2017, yaitu Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Sambas dan Kabupaten Mempawah. Selanjutnya persiapan penelitian, penelitian ke lapangan dan pelaporan hasil penelitian ini dilaksanakan selama 5 (lima) bulan yaitu mulai bulan April 2019 sampai dengan bulan Agustus 2019.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1). Di ketiga kabupaten lokus penelitian, dengan dilaksanakannya Program Upsus Siwab mulai Tahun 2017, terjadi penambahan populasi ternak sapi dari Tahun 2017 ke Tahun 2018. (2) Namun demikian, pada ke tiga lokus penelitian, masih terjadi beberapa kasus kurang berhasilnya IB yang ditunjukkan oleh jumlah kali kawin untuk menjadi bunting (S/C). Hal ini disebabkan oleh : a).adanya gangguan pada alat reproduksi induk sapi, b).petani terlambat mendeteksi saat berahi atau terlambat melaporkan birahi sapinya ke petugas IB (kurangnya pengetahuan peternak terhadap tanda-tanda sapi birahi), c).terbatasnya fasilitas pelayanan inseminasi, d).kurang lancarnya transportasi (jauh dan luasnya jangkauan wilayah). e).kurang terampilnya inseminator, terutama akibat seringkali tenaga inseminator yang sudah terampil harus dimutasi atau dipromosikan pada jabatan lain, sementara tenaga baru biasanya masih kurang pengalaman. (3) Selain itu, masih ada sejumlah kendala yang dihadapi ketiga kabupaten tersebut terhadap pelaksanaan atau implementasi kebijakan mencakup penyelenggaraan Komunikasi (sosialisasi tujuan kebijakan, manfaat kebijakan dan pelaporan), Dukungan Sumber Daya (dukungan aparatur, dukungan anggaran, dan dukungan fasilitas kebijakan), Struktur Birokrasi (fragmentasi, standar prosedur operasi, dan komitmen aparatur), dan Disposisi Pelaksana (disiplin aparatur, kejujuran aparatur, budaya kerja aparatur, dan sifat demokratis aparatur).
Dari beberapa informasi yang diperoleh tim peneliti menunjukkan bahwa
Komunikasi dan Harmonisasi (koordinasi) menjadi kata kunci keberhasilan
pelaksanaan Program UPSUS SIWAB. Untuk meningkatkan efektivitas Program Upsus Siwab di masa yang akan datang, penelitian ini merumuskan saran sebagai berikut : (1) Mengingat besarnya manfaat dari program Upsus
Laporan Kierja Tahun 2019
Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Kalimantan Barat
52 | H a l a m a n Siwab baik bagi Pemerintah (Provinsi, Kabupaten, Kota) dan juga bagi peternak, maka disarankan Program Upsus Siwab ini dilanjutkan. (2) Perlu dicarikan model untuk menentukan biaya operasional inseminator yang adil dan akuntabel. (3) Perlunya perbaikan SOP yang dapat menjamin ketersediaan N2 cair dan Straw (semen) (4) Perlu dilakukan penyuluhan kepada peternak terutama pengetahuan tentang jarak kelahiran dan tanda-tanda birahi. (5) Perlu sosialisasi dan tindakan hukum reward and punishment (sebagai efek jera) tentang pelarangan pemotongan hewan betina produktif khususnya sapi. (Kasus di Sambas). Tahap awal dimulai dari sosialisasi dan himbauan terus-menerus ke penjagal, pemasangan spanduk di rumah potong hewan (RPH), terakhir baru dilakukan pendekatan hukum dengan melibatkan Tim Yustisia antara lain dari Polres, Polsek dan Satpol-PP. (6) Tingginya frekuensi mutasi dan promosi khususnya bagi para petugas lapangan, membuat pekerjaan yang ditinggalkan diganti oleh orang yang masih kurang pengalaman, untuk itu perlu dipertimbangkan proses regenerasi yang baik agar tidak terjadi gap yang dapat mengurangi efektivitas pelaksanaan program.
Rekomendasi hasil penelitian kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat adalah sebagai berikut : (1) Perbaikan dan penguatan Program Upsus Siwab perlu terus dilakukan, baik secara vertikal maupun secara horizontal. Pemerintah daerah perlu melakukan replikasi dan mendorong pengembangan pola integrasi (integrated farming/ corporate farming) yang merupakan salah satu sistem pertanian ramah lingkungan berkelanjutan, antara lain untuk dapat mengatasi permasalahan skala produksi, risk and uncertainly, dan biaya input usahatani. Dengan mengintegrasikan ternak dan cabang-cabang pertanian lainnya (perkebunan, tanaman pangan, tanaman holtikultura, dsb) yang saling memberikan input, maka akan terbangun usaha peternakan yang lebih efisien, maju, mandiri dan berkelanjutan di wilayah Provinsi Kalimantan Barat. (2) Jika dilakukan bersama-sama dengan tanaman perkebunan, tanaman pangan, dan tanaman holtikultura, usaha peternakan bersifat diversifikasi komplementer (saling menunjang) dan saling menyediakan input (kemandirian input) sehingga usahatani rakyat akan lebih feasible dan profitable. Berdasarkan hal tersebut, maka desa-desa yang
Laporan Kierja Tahun 2019
Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Kalimantan Barat
53 | H a l a m a n memiliki wilayah agroekosistem tanaman pangan, wilayah agroekosistem perkebunan, dan wilayah agroekosistem hortikultura, seyogyanya dengan menggunakan dana desa yang diperolehnya, dapat mengembangkan BUMdes usaha peternakan dipadukan dengan potensi agroekosistemnya. BUMdes usaha peternakan ini, dengan dukungan Program Upsus Siwab diharapkan meningkat populasinya dan akhirnya menjadi usaha yang mensejahterakan. (3) Perlunya perhatian dari pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten) terhadap titik-titik tumbuh usaha peternakan dengan mengintegrasikan peran berbagai stake holder, untuk terus menumbuhkan jejaring usaha peternakan (industri peternakan), antara lain : pengolahan limbah ternak menjadi energi terbarukan (renewable) biogas dan berbagai olahan pupuk organik, agrowisata beserta kuliner berbagai olahan produk ternak, dsb. (4) Hasil penelitian ini yang antara lain berupa gambaran problematik faktual pada kondisi existing Program Upsus Siwab, dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk merumuskan naskah akademik, policy brief, dan permodelan operasional agar memperbaiki, memperkuat dan meningkatkan efektivitas program di tahun berikutnya.
3. Penelitian Dampak Program Pembangunan Pertanian Kawasan