• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: SEPUTAR KUALITAS HADIS

C. Kegiatan Penelitian Hadis

2. Penelitian Matan Hadis

Kritik matan hadis termasuk kajian yang jarang dilakukan oleh muhaddiṡ in jika dibandingkan dengan kegiatan mereka terhadap kritik sanad hadis. Tindakan tersebut bukan tanpa alasan, menurut mereka bagaimana mungkin dapat dikatakan hadis Nabi saw. kalau tidak ada silsilah yang menghubungkan kita sampai kepada sumber hadis (Nabi Muhammad saw). Kalimat yang baik susunan katanya dan kandungannya sejalan dengan ajaran Islam, belum dapat dikatakan sebagai hadis apabila tidak ditemukan rangkaian periwayat yang sampai kepada Rasulullah saw. Sebaliknya, tidaklah bernilai sanad hadis yang baik kalau matannya tidak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.103

a. Asbāb al-Wurūd al-Ḥ adīṡ

Untuk memahami sebuah hadis, tidak cukup hanya mendalami maknanya secara tekstual, akan tetapi harus pula memahami apa yang menjadi latar belakang hadis tersebut keluar dari lisan mulia Rasulallah saw.

Asbāb al-Wurūddipahami sebagai :

Ilmu yang menerangkan sebab-sebab datangnya hadis dan munasabah-munasabahnya.104

103Bustamin dan M. Isa H. A. Salam,Metodologi Kritik Hadis(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 59-60

104 M. Hasbi ash-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis (Jakarta: Bulan Bintang, 1981), Cet ke-5, Jilid.2, h. 296.

Dapat disimpulkan bahwa asbāb al-wurūd ini menjelaskan kronologis kejadian yang melatarbelakangi sebuah hadis. Faidah dari mengetahui asbāb al-wurūd sebuah hadis adalah untuk membantu dalam menjelaskan maksud kandungan hadis tersebut.105

Ibn Taimiyah berkata: “Mengetahui sebab itu menolong dalammemahami hadis dan ayat al-Qur’an, sebab mengetahui sebab itu dapat mengetahui musabbab (akibat).”106

Setelah dilakukan pencarian, akhirnya dapat diketahui bahwa hal yang melatarbelakangi munculnya hadis tentang kepemimpinan perempuan ini adalah sebagai berikut :

Dari Abī Bakrah, ia berkata bahwa Nabi saw. mengucapkan hadis ini ketika mengetahui bahwa orang-orang Persia telah menunjuk seorang perempuan untuk memimpin mereka setelah raja Kisra meninggal. Kemudian Nabi saw. bertanya:“Siapa yang menggantikan kepemimpinannya? Jawabnya: “Mereka telah mempercayakan kekuasaan kepada putrinya.” Saat itulah Nabi saw bersabda: “Tidak akan beruntung suatu kaum jika dipimpin oleh seorang perempuan.”107

105Said Agil Munawwar dan Abdul Mustaqim,Asbab al-Wurud Studi Kritis Hadis Nabi:

Pendekatan Sosio Historis Kontekstual(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), Cet ke-1, h.14. Lihat KitabAsb b Wur d al- ad skarya Jal l al-D n al-Suy (Beirut: Daar al-Kutub al- Alamiyyah), h.10 106Fatchur Rahman,Ikhtisar Musthalahul Hadis(Bandung: PT. al-Ma arif, 1987), Cet ke-5, h. 286. Lihat juga dalam kitabMajmu Fatawa Syaikh al-Islam ibn Taimiyyahyang disusun oleh Syaikh Abdurrahman ibn Muhammad ibn Qasim (Riyadh: Daar Alam al-Kutub), v.1, h.111.

107Ibn Hamzah al-Husaini al-Hanafi al-Damsyiqi,Asbabul Wurud; Latar Belakang Historis

b. Perbandingan Dengan al-Qur’an

Salah satu kriteria keshahihan matan hadis ialah tidak bertentangan dengan al-Qur’an. Penelitian dengan pendekatan ini biasanya yang diteliti adalah kesesuaian antara matan hadis dengan al-Qur’an. Apabila matan suatu hadis bertentangan dengan ayat al-Qur’an dan kedudukannya tidak mungkin dikompromosikan, maka hadis tersebut tidak dapat diterima dan dinyatakan sebagai hadis a’īf.108

Penulis menemukan ayat al-Qur’an yang secara langsung mendukung hadis yang penulis teliti, yaitu pada surat an-Nisa [4]: 34:

...

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita…”109

Dalam fikih politik (siyasah) maupun fikih pernikahan (munakahah), kaum perempuan acap dipandang tak berhak menjadi pemimpin sebagai kepala pemerintahan maupun kepala keluarga.110

Imam al-Qurthubi,111 mengataka bahwa para lelaki (suami) didahulukan diberi hak kepemimpinan karena lelaki berkewajiban memberi nafkah kepada wanita dan membela mereka, lelaki juga yang hanya menjadi penguasa hakim, dan ikut bertempur. Sedangkan semua itu tidak terdapa dalam perempuan.

108Nawir Yuslem,Ulum al-Hadis(ttp: PT. Mutiara Sumber Widya, 2001), h. 365.

109 Kementerian Agama Republik Indonesia, al-Qur an dan Terjemahnya (Jakarta: PT. Sinergi Pustaka, 2012), h. 108

110Nasaruddin Umar,Fikih Wanita Untuk Semua(Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2010), h. 169.

Selain itu, al-Zamakhsyari menyatakan bahwa tugas laki-laki memimpin perempuan sebagaimana pemimpin memimpin rakyat dalam bentuk perintah, larangan, dan yang semacamnya.112Meskipun ayat di atas berbicara mengenai kepemimpinan laki-laki dalam sektor rumah tangga, namun ayat tersebut kerap kali digunakan sebagai senjata untuk melarang perempuan terjun dalam dunia kepemimpinan, khususnya kepemimpinan Negara.

c. Perbandingan Dengan Hadis Lain

Ulama hadis sepakat bahwa tidak diterima suatu hadis yang bertentangan dengan hadis yang telah mempunyai status yang tetap dan jelas.113

Berikut adalah perbandingan matan hadis-hadis kepemimpian perempuan

Tabel. 8. Perbandingan Matan Hadis Kepemimpinan Perempuan

112Nasaruddin Umar, Fikih Wanita Untuk Semua,, h. 174. 113Nawir Yuslem,Ulum al-Hadis, h. 368.

No Mukharrij Matan Hadis

1

خ

2 3

ت

.... 4

ن

5

ﻢ ﺣ

6 7

Berdasarkan redaksi hadis yang diriwayatkan oleh Imām al-Bukhārī sebanyak dua kali, Imām al-Tirmidż ī sebanyak satu kali, Imām al-Nasā‘ī sebanyak satu kali, dan Imām Aḥ mad ibn Ḥ anbal sebanyak tiga kali, terlihat terdapat beberapa perbedaan dalam menuliskan redaksinya.114 Berikut adalah perbedaan redaksinya :

No Mukharrij Redaksi Matan Yang Digunakan

1

خ

2

ت

3

ن

4

ﻢ ﺣ

Tabel. 9. Perbedaan Redaksi Matan Yang Digunakan

Dari ketiga matan hadis di atas, perbedaan terlihat dari segi penggunaan katanya, yaitu wallaw amrahum, asnadū amrahum, dan tamlikuhum yang mempunyai arti menyerahkan, menyandarkan, dan menguasakan urusan.

Meskipun terdapat perbedaan redaksi matan, namun tidak terdapat pertentangan dari segi maknanya. Secara umum, hadis di atas menyampaikan

114Lihat pada kitab karya Im m al-Bukh r ,Mat n Masyk l al-Bukh r (Beirut: Daar al-Fikr, 2006) Juz 3, h. 89 dan Juz 4, h.265. Kitab karya Mu ammad ibn s ibn Saurah,J mi al-a al-Tirmi (Beirut: Daar Ahyai al-Turasi al- Arabi, 1995) Juz 4, h.527. Kitab karya Jal l al-D n al-Suy ,Sunan al-Nas ` bi Syar al- fi Jal l al-D n al-Suy (Beirut: Daar al-Fikr, 1930), Juz 8, h.227. Kitab karya Ab Abdill h A mad ibn anbal, Musnad A mad ibn anbal (Beirut: Muassasah Risalah, 1995) kitab Musnad penduduk Bashrah, Bab Hadis Abi Bakrah Nafi ibn al-Haris ibn Kaldah, Juz. 24, h.43, h.120 dan h.149.

suatu berita bahwa tidak akan bahagia suatu kaum apabila dipimpim oleh seorang perempuan.115

d. Pendekatan Sejarah

Dalam pendekatan ini, penulis akan melihat kepada dua kejadian. Pertama, kejadian dimana Nabi saw. mengeluarkan hadis ini. Kedua, kejadian yang menyebabkan sahabat Abu Bakrah mengeluarkan kembali periwayatan hadis ini dari Nabi saw.

Kejadian pertama yang menyebabkan Nabi saw. mengeluarkan hadis ini adalah ketika Nabi saw. mendengar berita dari salah seorang sahabat tentang pengangkatan seorang perempuan bernama Buwaran binti Syairawaih bin Kisra yang diangkat menjadi pemimpin di Persia setelah raja Kisra meninggal. Kemudian Nabi saw. bersabda Tidak akan beruntung suatu kaum jika dipimpin oleh seorang perempuan.116

Kejadian kedua yang menyebabkan sahabat Abu Bakrah mengeluarkan kembali hadis ini yang diperkirakan telah dituturkan oleh Nabi saw. 25 tahun yang lalu adalah peristiwa Perang Jamāl (perang unta). Perang ini terjadi di Bashrah pada tahun 656 M. Perang ini adalah antara pasukan Alī dan ‘Aisyah yang dipicu karena karena pembunuhan Khalīfah Uṡ mān di Madinah. Ketika ‘Alī menjabat sebagai khalīfah, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh ‘Aisyah dengan alasan bahwa ‘Alī tidak mau menghukum para pembunuh 115Abdurrahman al-Baghdadi, Emansipasi, Adakah Dalam Islam (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), h. 176.

116Mu ammad ibn Abd al-Ra m n al-Mub rakf r ,Tu fat A w z bi Syar J mi

‘Uṡ mān.117 Disaat perang Jamāl ini akan berlangsung, sahabat Abu Bakrah merasakan kegelisahan yang luar biasa, haruskah ia mengangkat senjata terhadap ‘Alī, saudara sepupu Nabi saw. dan Khalīfah yang sah, ataukah ia harus mengangkat senjata terhadap ‘Aisyah, istri tercinta Nabi saw ?? Pada akhirnya, meskipun Abu Bakrah sependapat dengan ‘Aisyah, namun Abu Bakrah memutuskan untuk tidak ikut campur dalam perang Jamāl dengan alasan hadis tersebut.118

e. Pendekatan Bahasa

Lafadz amrahum dalam hadis di atas menunjukan makna menyerahkan kepemimpinan secara umum kepada kaum perempuan.119 Hal inilah yang mengisyaratkan bahwa hadis ini berisi larangan untuk menyerahkan urusan kepemimpinan umum kepada perempuan.

f. Kesimpulan Penelitian Matan Hadis

Bila dilihat dari redaksi matan-matan hadis di atas, dapat dikatakan bahwa redaksi matan tersebut berkualitasṣ aḥ īḥ .Hal ini disebabkan matan-matan hadis di atas tidak bertentangan dengan ayat al-Qur’an. Disamping itu pula, kandungan matan-matan hadis di atas tidak bertentangan antara satu dan lainnya, meskipun terdapat perbedaan pada sebagian teks hadisnya.

117A. Syalabi, Sejarah Peradaban Islam(Jakarta: PT. al-Husna Rizka, 1997), Cet ke- 1, h. 263.

118Ibnu Hajar al-Asqalani,Fat al-B r Syar a al-Bukh r (Beirut: Daar al-Ma rifat, 1379 H), Jilid 13, h.56.

Dokumen terkait