METODE PENELITIAN
B. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan dari bulan Juni sampai dengan bulan November tahun 2011. Waktu penelitian dapat dirinci kedalam tabel berikut.
Tabel 11. Waktu Penelitian
Kegiatan Penelitian Waktu Penelitan
Juni Juli Agsts Sept. Okt. Nov.
commit to user C. Metode Penelitian
Metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang mengarah ke pengungkapan masalah sebagaimana adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada meskipun terkadang juga memasukkan interpretasi dan analisis sederhana (Tika,2005).
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati (moleong,2001) Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan risiko kebakaran permukiman Kecamatan Pasar Kliwon disertai dengan analisis sederhana berdasarkan sudut pandang keruangan. Hasil dari penelitian adalah deskripsi risiko kebakaran permukiman Kecamatan Pasar Kliwon yang dipresentasikan dalam bentuk peta.
D. Variabel dan Data Penelitian 1. Variabel Penelitian.
Variabel penelitian meliputi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap risiko kebakaran permukiman. Faktor-faktor risiko kebakaran permukiman dikelompokkan menjadi dua yaitu potensi kebakaran permukiman serta kerentanan kebakaran permukiman. Potensi kebakaran diperoleh berdasarkan penilaian kualitas permukiman berdasarkan parameter tertentu. Kerentanan kebakaran permukiman diperoleh dari penilaian ketercukupan fasilitas permukiman yang berhubungan dengan kebakaran. Parameter-parameter untuk menilai potensi kebakaran maupun kerentanan kebakaran permukiman dikelompokan menjadi sub variabel untuk kepentingan analisis data. Faktor-faktor risiko kebakaran yang digunakan sebagai variabel penelitian dapat dituliskan pada tabel sebagai berikut.
commit to user Tabel 12. Variabel Penelitian
No Variabel Penelitian Sub Variabel Parameter 1 Potensi Kebakaran
Data yang digunakan sebagai bahan penilaian masing-masing variabel penelitian meliputi data yang diambil langsung di lapangan (data primer) serta data yang tidak diambil langsung di lapangan (data sekunder). Pengelompokan data penelitian dapat dituliskan dalam tabel berikut.
commit to user
Tabel 13. Parameter Variabel Penelitian, Data Penelitian, Jenis Data, dan Sumber Data.
No Variabel Parameter Data penelitian Jenis data Sumber data
permukiman Primer Observasi Lapangan Kondisi
jaringan listrik
Peta kondisi
jaringan listrik Sekunder Interpretasi citra PJ Kepadatan
bangunan Peta kepadatan
rumah Sekunder Interpretasi citra PJ
mobil pemadam Sekunder Interpretasi citra PJ
Sekunder Data lokasi hidran Kantor Pemadam Kebakaran
Sumber: Analisis data
commit to user
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi.
Observasi adalah pengamatan yang dilakukan terhadap objek di tempat kejadian atau tempat berlangsungnya peristiwa sehingga observer (orang yang melakukan observasi) berada bersama objek yang diteliti (Tika, 2005: 44).
Observasi dilakukan untuk memperoleh data daya tahan api bangunan dan fungsi permukiman. Observasi juga digunakan untuk cek kesesuaian interpretasi citra dengan kondisi asli. Alat bantu yang digunakan dalam observasi yaitu peta sementara (tentatif) hasil interpretasi citra penginderaan jauh dan kamera digital untuk dokumentasi foto lokasi penelitian.
2. Analisis dokumen
Analisis dokumen adalah teknik pengumpulan data dari sumber-sumber resmi yang ada seperti dari peta serta catatan-catatan resmi. Analisis dokumen dilakukan untuk memperoleh data mengenai ketersediaan hidran.
3. Interpretasi citra PJ
Interpretasi citra penginderaan jauh adalah kegiatan untuk mengkaji foto udara atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi obyek dan menilai arti penting obyek tersebut. Citra adalah gambaran visual tenaga yang direkam dengan menggunakan piranti penginderaan jauh. Penginderaan jauh adalah ilmu untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah, atau gejala yang dikaji (Sutanto,1986:7).
Dalam interpretasi citra, penafsir citra mengkaji citra dan berupaya melalui proses penalaran untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan menilai arti penting obyek yang tergambar pada citra. Dengan kata lain, maka penafsir citra berupaya untuk mengenali obyek yang tergambar pada citra dan menerjemahkannya kedalam disiplin ilmu tertentu. (Sutanto,1986:7).
commit to user
Pada penelitian ini, citra penginderaan jauh yang digunakan adalah citra pankromatik warna. Citra penelitian diambil dari Google Earth. Google earth merupakan aplikasi Web-GIS yang menampilkan permukaan bumi berdasarkan kompilasi dari berbagai citra satelit. Citra satelit yang digunakan Google Earth antara lain, yaitu: citra IKONOS, Quickbird, SPOT, dan sebagainya.
Citra yang digunakan dalam penelitian tidak disebutkan dengan jelas sumbernya tetapi berdasarkan karakteristik citra maka jenis citra dapat diketahui.
Pengamatan terhadap citra dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan, citra penelitian menggambarkan objek dengan warna natural. Penggunaan warna natural menyebabkan kenampakan objek pada citra seperti kenampakan objek apabila dilihat dengan mata normal secara langsung. Citra penelitian memiliki karakteristik yang sama dengan citra pankromatik warna, sehingga dapat disimpulkan bahwa citra yang digunakan dalam penelitian adalah citra pankromatik warna. Waktu perekaman citra penelitian yaitu tanggal 8 Juli 2011.
Citra penelitian memililiki kenampakan natural sehingga meskipun memiliki format digital, interpretasi dapat dilakukan secara manual. Secara umum, langkah-langkah interpretasi citra untuk analisis risiko kebakaran permukiman adalah sebagai berikut:
a. Deliniasi terhadap objek yang memiliki persamaan karakteristik.
b. Melakukan analisis terhadap masing-masing satuan deliniasi.
c. Mengklasifikasikan hasil analisis maupun pengukuran sesuai dengan kriteria yang ditentukan.
d. Menggambarkan hasil deliniasi dan klasifikasi ke dalam peta kerja lapangan maupun peta hasil interpretasi.
Interpretasi citra pada penelitian ini digunakan untuk memperoleh data kepadatan bangunan, keteraturan bangunan, penggunaan bangunan, dan jaringan jalan.
commit to user F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah analisis pengharkatan tidak terbobot. Pengharkatan dilakukan untuk menilai tingkat potensi, kerentanan, dan risiko kebakaran permukiman. Pengharkatan tidak terbobot dilakukan terhadap satuan-satuan permukiman yang terbentuk dari hasil tumpangsusun data penelitian yang berupa peta. Hasil dari analisis pengharkatan tidak terbobot selanjutnya direpresentasikan dalam bentuk peta. Hasil dari analisis kemudian dijabarkan untuk menghasilkan kesimpulan yang sesuai dengan tujuan penelitian. Analisis data yang dilakukan berdasarkan tujuan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Potensi Kebakaran Permukiman Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011.
Potensi kebakaran permukiman diperoleh dengan cara menumpang-susunkan antara subvariabel tingkat pemicu kebakaran dan kecepatan perambatan kebakaran permukiman serta menjumlahkan harkat dari seluruh parameter yang digunakan. Subvariabel pemicu kebakaran diperoleh berdasarkan tumpangsusun dan pengharkatan antara parameter fungsi permukiman serta kondisi jaringan listrik permukiman. Subvariabel kecepatan perambatan kebakaran diperoleh berdasarkan tumpangsusun antara daya tahan api bangunan, kepadatan rumah permukiman, dan keteraturan rumah permukiman.
Penilaian tingkat pemicu kebakaran dilakukan dengan menjumlahkan harkat dari tiap parameter pemicu kebakaran permukiman yang meliputi aktivitas internal dan kondisi jaringan listrik. Pengharkatan parameter aktivitas internal dilakukan dengan memberi nilai semakin tinggi pada aktivitas internal yang semakin mempertinggi pemicu kebakaran permukiman. Pengharkatan parameter kondisi jaringan listrik permukiman dilakukan dengan memberi nilai semakin tinggi pada kondisi jaringan listrik permukiman yang semakin mempertinggi pemicu kebakaran permukiman. Pengharkatan untuk tiap parameter tingkat pemicu kebakaran permukiman adalah sebagai berikut.
commit to user
Tabel 14. Harkat Fungsi permukiman.
No Fungsi permukiman Harkat
1 Fungsi permukiman tinggi 3
2 Fungsi permukiman sedang 2
3 Fungsi permukiman rendah 1
Sumber: Analisis data.
Tabel 15. Harkat Kondisi Jaringan Listrik Permukiman.
No Kondisi Jaringan Listrik Permukiman Harkat 1 Kondisi jaringan listrik permukiman buruk 3 2 Kondisi jaringan listrik permukiman sedang 2 3 Kondisi jaringan listrik permukiman baik 1
Sumber: Analisis data.
Penilaian tingkat pemicu kebakaran dilakukan dengan menjumlahkan harkat dari parameter aktivitas internal permukiman dan kondisi jaringan listrik permukiman. Hasil dari penjumlahan harkat parameter aktivitas internal permukiman dan kondisi jaringan listrik permukiman selanjutnya diklasifikasikan untuk menentukan tingkat pemicu kebakaran permukiman. Semakin besar jumlah harkat maka semakin tinggi tingkat pemicu kebakaran permukiman. Klasifikasi harkat tingkat pemicu kebakaran permukiman adalah sebagai berikut.
Tabel 16. Harkat Tingkat Pemicu Kebakaran Permukiman.
No Tingkat Pemicu Kebakaran Permukiman Jumlah harkat 1 Tingkat pemicu kebakaran permukiman kecil 2-3 2 Tingkat pemicu kebakaran permukiman sedang 4-5 3 Tingkat pemicu kebakaran permukiman besar 6
Sumber: Analisis data.
Penilaian tingkat kecepatan perambatan kebakaran permukiman dilakukan dengan menjumlahkan harkat dari tiap parameter kecepatan perambatan kebakaran permukiman yang meliputi kepadatan bangunan rumah permukiman, keteraturan bangunan rumah permukiman, dan daya tahan api bangunan permukiman. Pengharkatan parameter kepadatan bangunan rumah permukiman dilakukan dengan memberi nilai semakin tinggi pada kepadatan bangunan rumah permukiman yang semakin mempercepat kecepatan perambatan kebakaran.
commit to user
Pengharkatan parameter keteraturan bangunan rumah permukiman dilakukan dengan memberi nilai semakin tinggi pada keteraturan bangunan rumah permukiman yang semakin mempercepat kecepatan perambatan kebakaran.
Pengharkatan parameter dayatahan api bangunan permukiman dilakukan dengan memberi nilai semakin tinggi pada daya tahan api bangunan rumah permukiman yang semakin mempercepat kecepatan perambatan kebakaran. Pengharkatan untuk tiap parameter tingkat kecepatan perambatan kebakaran permukiman adalah sebagai berikut.
Tabel 17. Harkat Kepadatan Bangunan Rumah Permukiman.
No Kepadatan Bangunan Rumah Harkat
1 Kepadatan bangunan rumah padat 3
2 Kepadatan bangunan rumah sedang 2
3 Kepadatan bangunan rumah jarang 1
Sumber: Analisis data.
Tabel 18. Harkat Keteraturan Bangunan Rumah Permukiman.
No Keteraturan Bangunan Rumah Harkat
1 Keteraturan bangunan rumah tidak teratur 3 2 Keteraturan bangunan rumah agak teratur 2
3 Keteraturan bangunan rumah teratur 1
Sumber: Analisis data.
Tabel 19. Harkat Daya Tahan Api Bangunan Rumah Permukiman.
No Daya Tahan Api Bangunan Rumah Harkat
1 Daya tahan api bangunan rumah buruk 3
2 Daya tahan api bangunan rumah sedang 2
3 Daya tahan api bangunan rumah baik 1
Sumber: Analisis data.
Penilaian tingkat kecepatan perambatan kebakaran dilakukan dengan menjumlahkan harkat dari parameter kepadatan bangunan rumah permukiman, keteraturan bangunan rumah permukiman, dan daya tahan api bangunan permukiman. Hasil dari penjumlahan harkat parameter kepadatan bangunan rumah permukiman, keteraturan bangunan rumah permukiman, dan daya tahan api bangunan permukiman selanjutnya diklasifikasikan untuk menentukan tingkat
commit to user
kecepatan perambatan kebakaran permukiman. Semakin besar jumlah harkat maka semakin cepat tingkat kecepatan perambatan kebakaran permukiman.
Klasifikasi harkat tingkat kecepatan perambatan kebakaran permukiman adalah sebagai berikut.
Tabel 20. Harkat Tingkat Kecepatan Perambatan Kebakaran Permukiman.
No Tingkat Kecepatan Perambatan Kebakaran Permukiman Jumlah harkat
1 Kecepatan perambatan kebakaran lambat 3-4
2 Kecepatan perambatan kebakaran sedang 5-7
3 Kecepatan perambatan kebakaran cepat 8-9
Sumber: Analisis data.
Penilaian potensi kebakaran permukiman dilakukan dengan menjumlahkan harkat tingkat pemicu kebakaran dan kecepatan perambatan kebakaran permukiman. Jumlah harkat dari kedua subvariabel dari potensi kebakaran tersebut selanjutnya diklasifikasikan untuk menentukan tingkat potensi kebakaran permukiman. Jumlah harkat tertinggi menunjukkan semakin tinggi potensi kebakaran permukiman. Klasifikasi dari jumlah harkat tingkat potensi kebakaran permukiman adalah sebagai berikut.
Tabel 21. Harkat Tingkat Potensi Kebakaran Permukiman.
No Potensi Kebakaran Permukiman Jumlah harkat
1 Potensi kebakaran permukiman rendah 5-8
2 Potensi kebakaran permukiman sedang 9-12
3 Potensi kebakaran permukiman tinggi 13-15
Sumber: Analisis data.
Hasil pengharkatan selanjutnya direpresentasikan dalam Peta Potensi Kebakaran Permukiman Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011.
commit to user
2. Kerentanan kebakaran permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011.
Kerentanan kebakaran permukiman diperoleh dengan cara menumpang-susunkan antara subvariabel tingkat aksesibilitas pemadam kebakaran dan ketersediaan sumber air pemadam kebakaran permukiman serta menjumlahkan harkat dari seluruh parameter yang digunakan. Subvariabel aksesibilitas pemadam kebakaran diperoleh berdasarkan tumpangsusun dan pengharkatan antara parameter keterjangkauan pos pemadam kebakaran serta keterjangkauan mobil pemadam kebakaran. Subvariabel ketersediaan sumber air pemadam kebakaran diperoleh berdasarkan ketersediaan hidran.
Penilaian tingkat aksesibilitas pemadam kebakaran dilakukan dengan menjumlahkan harkat dari tiap parameter aksesibilitas pemadam kebakaran yang meliputi keterjangkauan pos pemadam kebakaran serta keterjangkauan mobil pemadam kebakaran. Pengharkatan parameter keterjangkauan pos pemadam kebakaran dilakukan dengan memberi nilai semakin rendah pada keterjangkauan pos pemadam kebakaran yang semakin mempermudah aksesibilitas pemadam kebakaran. Pengharkatan parameter keterjangkauan mobil pemadam kebakaran dilakukan dengan memberi nilai semakin rendah pada keterjangkauan mobil pemadam kebakaran yang semakin mempermudah aksesibilitas pemdam kebakaran. Pengharkatan untuk tiap parameter tingkat pemicu kebakaran permukiman adalah sebagai berikut.
Tabel 22. Harkat Keterjangkauan Mobil Pemadam Kebakaran.
No Keterjangkauan Mobil Pemadam Kebakaran Harkat
1 Terjangkau secara efektif 1
2 Terjangkau tidak efektif 2
3 Tidak terjangkau 3
Sumber: Analisis data.
commit to user
Tabel 23. Harkat Keterjangkauan Pos Pemadam Kebakaran.
No Keterjangkauan Pos Pemadam Kebakaran Harkat
1 Pos pemadam kebakaran dekat 1
2 Pos pemadam kebakaran sedang 2
3 Pos pemadam kebakaran jauh 3
Sumber: Analisis data.
Penilaian tingkat aksesibilitas pemadam kebakaran dilakukan dengan menjumlahkan harkat dari parameter keterjangkauan mobil pemadam kebakaran dan keterjangkauan pos pemadam kebakaran. Hasil dari penjumlahan harkat parameter keterjangkauan mobil pemadam kebakaran dan keterjangkauan pos pemadam kebakaran selanjutnya diklasifikasikan untuk menentukan tingkat aksesibilitas pemadam kebakaran. Semakin kecil jumlah harkat maka semakin baik aksesibilitas pemadam kebakaran permukiman. Klasifikasi harkat tingkat aksesibilitas pemadam kebakaran adalah sebagai berikut.
Tabel 24. Harkat Tingkat Aksesibilitas Pemadam Kebakaran . No Tingkat Aksesibilitas Pemadam Kebakaran Jumlah harkat
1 Aksesibilitas pemadam kebakaran baik 2-3
2 Aksesibilitas pemadam kebakaran sedang 4-5
3 Aksesibilitas pemadam kebakaran buruk 6
Sumber: Analisis data.
Penilaian tingkat ketersediaan sumber air pemadam ditentukan berdasarkan ketersediaan hidran. Pengharkatan parameter ketersediaan hidran dilakukan dengan memberi nilai semakin rendah yang menunjukkan ketersediaan sumber air pemadam semakin baik. Pengharkatan untuk parameter ketersediaan hidran tingkat adalah sebagai berikut.
Tabel 25. Harkat Ketersediaan Hidran.
No Ketersediaan Hidran Harkat
1 Ketersediaan hidran tercukupi 1
2 Ketersediaan hidran agak tercukupi 2
3 Ketersediaan hidran tidak tercukupi 3
Sumber: Analisis data.
commit to user
Penilaian tingkat ketersediaan sumber air pemadam kebakaran dilakukan dengan berdasarkan ketersediaan hidran. Klasifikasi harkat ketersediaan sumber air pemadam kebakaran permukiman adalah sebagai berikut.
Tabel 26. Harkat Tingkat Ketersediaan Sumber Air Pemadam Kebakaran.
No Ketersediaan Sumber Air Pemadam Kebakaran Jumlah harkat 1 Ketersediaan sumber air pemadam kebakaran baik 1 2 Ketersediaan sumber air pemadam kebakaran sedang 2 3 Ketersediaan sumber air pemadam kebakaran buruk 3
Sumber: Analisis data.
Penilaian kerentanan kebakaran permukiman dilakukan dengan menjumlahkan harkat tingkat aksesibilitas pemadam kebakaran dan ketersediaan sumber air pemadam kebakaran. Jumlah harkat dari kedua subvariabel dari kerentanan kebakaran tersebut selanjutnya diklasifikasikan untuk menentukan tingkat kerentanan kebakaran permukiman. Jumlah harkat tertinggi menunjukkan semakin tinggi kerentanan kebakaran permukiman. Klasifikasi dari jumlah harkat tingkat kerentanan kebakaran permukiman adalah sebagai berikut.
Tabel 27. Harkat Tingkat Kerentanan Kebakaran Permukiman.
No Kerentanan Kebakaran Permukiman Jumlah harkat 1 Kerentanan kebakaran permukiman rendah 3-4 2 Kerentanan kebakaran permukiman sedang 5-7 3 Kerentanan kebakaran permukiman tinggi 8-9
Sumber: Analisis data.
Hasil pengharkatan selanjutnya direpresentasikan dalam Peta Kerentanan Kebakaran Permukiman Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011.
3. Analisis risiko kebakaran permukiman Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011.
Risiko kebakaran permukiman dinilai dengan menumpangsusunkan variabel potensi kebakaran dan kerentanan kebakaran permukiman serta menjumlahkan seluruh harkat dari parameter variabel tersebut. Jumlah harkat yang besar menunjukkan semakin tingginya risiko kebakaran permukiman.
Jumlah harkat yang diperoleh dari penjumlahan harkat potensi dan kerentanan
commit to user
kebakaran permukiman selanjutnya diklasifikasi untuk menentukan tingkat risiko kebakaran permukiman. Klasifikasi harkat tingkat risiko kebakaran permukiman adalah sebagai berikut.
Tabel 28. Harkat Tingkat Risiko Kebakaran Permukiman.
No Risiko Kebakaran Permukiman Jumlah harkat
1 Risiko kebakaran permukiman rendah 8-13
2 Risiko kebakaran permukiman sedang 14-19
3 Risiko kebakaran permukiman tinggi 20-24
Sumber: Analisis data.
Hasil pengharkatan selanjutnya direpresentasikan dalam Peta Risiko Kebakaran Permukiman Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011.