commit to user i
ANALISIS RISIKO KEBAKARAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN PASAR KLIWON
TAHUN 2011
SKRIPSI
Oleh :
NOVA ARI DARSONO K5407004
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012
commit to user ii
ANALISIS RISIKO KEBAKARAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN PASAR KLIWON
TAHUN 2011
SKRIPSI
diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Geografi
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Oleh :
NOVA ARI DARSONO K5407004
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012
commit to user iii
PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
Persetujuan Pembimbing
Pembimbing I
Dr. Ch. Muryani ,M.Si.
NIP.19561223 198303 2 005
Pembimbing II
Rita Noviani ,S.Si.,M.Sc.
NIP.19761106 200501 2 001
commit to user iv
PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Hari : Senin Tanggal : 7 Mei 2012
Tim Penguji Skripsi
Nama Terang Tanda Tangan
Ketua : Dra. Inna Prihartini, M.S. --- Sekretaris : Drs. Ahmad, M.Si. --- Anggota I : Dr. Ch.Muryani, M.Si. --- Anggota II : Rita Noviani, S.Si.,M.Sc. ---
Disahkan oleh
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Dekan,
Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd.
NIP.19600727 198702 1 001
commit to user v
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, hidayah, inayah serta nikmat-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ANALISIS RISIKO KEBAKARAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN PASAR KLIWON TAHUN 2011”.
Skripsi ini ditulis guna memenuhi salah satu syarat dalam menempuh program Strata I Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof.Dr.Ravik Karsidi,M.Pd selaku Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta;
2. Bapak Prof.Dr.Muhammad Furqon Hidayatullah,M.Pd selaku Dekan FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta;
3. Bapak Drs.Saiful Bachri,M.Pd. selaku Ketua Jurusan P.IPS FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta;
4. Bapak Dr. Moh. Gamal Rindarjono,M.Si. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta;
5. Ibu Dra. Inna Prihartini,M.Si. selaku Sekretaris Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta;
6. Bapak Wakino,M.S. selaku Pembimbing Akademik (PA);
7. Ibu Dr.Ch. Muryani,M.Si. selaku Pembimbing I;
8. Ibu Rita Noviani ,S.Si.,M.Sc. selaku Pembimbing II;
9. Semua pihak yang turut membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
Akhir kata penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.
Surakarta, Maret 2012
Penulis
commit to user vi ABSTRACT
Nova Ari Darsono. Analyzing of Settlement Fire Risk on Kecamatan Pasar Kliwon in 2011. Skripsi, Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, 2012.
The objectives of the research are : (1) To find out the Kecamatan Pasar Kliwon’s settlement fire potency in 2011. (2) To find out the Kecamatan Pasar Kliwon’s settlement fire vurnerability in 2011. (3) To find out the Kecamatan Pasar Kliwon’s settlement fire risk in 2011.
The research’s method is qualitative description. The research’s variable are many factors that affected to the settlement fire potency, vurnerability, and risk. That factors are : settlement buildings density, settlement buildings uniformity, settlement buildings fire resistance, electrical wiring system, internal activity, accessibility of fire fighter department, accessibility of fire fighter engine, and hydrant availability. The research’s data acquiring method are : remote sensing imagery intepretation, field observation, and document analisys. The research’s data analyzing method is map overlay with unweighted scoring.
The result of this research are: (1) Kecamatan Pasar Kliwon has 172,27 Ha (56,32%) low fire potency settlement, 132,77 Ha (43,41%) moderate fire potency settlement, and 0,81 Ha (0,26 %) high fire potency settlement. (2) Kecamatan Pasar Kliwon has 48,76 Ha (15,94%) low fire vurnerability settlement, 213,54 Ha (69,81%) moderate fire vurnerability settlement, and 43,54 Ha (14,24%) high fire vurnerability settlement. (3) Kecamatan Pasar Kliwon has 84,11 Ha (27,50%) low fire risk settlement, 213,67 Ha (69,8%) moderate fire risk settlement, and 8,07 Ha (2,69 %) high fire risk settlement.
The conclusion of the research are: (1) The most of settlement on Kecamatan Pasar Kliwon in 2011 included to a low fire potency settlement.
(2)The most of settlement on Kecamatan Pasar Kliwon in 2011 included to a moderate fire vurnerability settlement. (3)The most of settlement on Kecamatan Pasar Kliwon in 2011 included to a moderate fire risk settlement.
commit to user vii ABSTRAK
Nova Ari Darsono. Analisis Risiko Kebakaran Permukiman Kecamatan Pasar Kliwon Tahun 2011. Skripsi, Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, 2012.
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui potensi kebakaran permukiman Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011. (2) Mengetahui kerentanan kebakaran permukiman Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011. (3) Mengetahui risiko kebakaran permukiman Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011.
Metode yang digunakan adalah deskripsi kualitatif. Variabel penelitian adalah faktor-faktor yang mempengaruhi potensi, kerentanan, serta risiko kebakaran permukiman, yang meliputi: kepadatan bangunan permukiman, keteraturan bangunan permukiman, daya tahan api bangunan permukiman, kondisi jaringan listrik, fungsi permukiman, keterjangkauan pos pemadam, keterjangkauan mobil pemadam, ketersediaan hidran. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: intepretasi citra penginderaan jauh, observasi lapangan, dan analisis dokumen. Teknik analisis data yang digunakan adalah tumpangsusun (overlay) peta dengan pengharkatan tidak terbobot.
Hasil penelitian yang didapatkan yaitu: (1) Permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon terdiri atas permukiman berpotensi kebakaran rendah seluas 172,27 Ha (56,32%); permukiman berpotensi kebakaran sedang seluas 132,77 Ha (43,41%); permukiman berpotensi kebakaran tinggi seluas 0,81 Ha (0,26 %).
(2)Permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon terdiri atas permukiman dengan kerentanan kebakaran rendah seluas 48,76 Ha (15,94%) permukiman dengan kerentanan kebakaran sedang seluas 213,54 Ha (69,81%); permukiman dengan kerentanan kebakaran tinggi seluas 43,54 Ha (14,24%). (3) Permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon terdiri atas permukiman berisiko kebakaran rendah seluas 84,11 Ha (27,50%); permukiman berisiko kebakaran sedang seluas 213,67 Ha (69,8%); permukiman berisiko kebakaran tinggi seluas 8,07 Ha (2,69 %).
Kesimpulan yang diperoleh yaitu: (1) Sebagian besar (56%) permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011 merupakan permukiman berpotensi kebakaran rendah. (2) Sebagian besar (69%) permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011 merupakan permukiman yang memiliki kerentanan kebakaran sedang. (3) Sebagian besar (69%) permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011 merupakan permukiman yang memiliki risiko kebakaran sedang.
commit to user viii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAKSI ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR PETA ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A.Latar Belakang Masalah ... 1
B.Identifikasi Masalah ... 6
C.Pembatasan Masalah ... 7
D.Perumusan Masalah ... 7
E.Tujuan Penelitian ... 7
F. Manfaat Penelitian ... 8
BAB II LANDASAN TEORI ... 9
A.Tinjauan Pustaka ... 9
1. Analisis Risiko Bencana ... 9
2. Permukiman dan Permasalahan Permukiman ... 13
3. Kebakaran Permukiman ... 14
4. Analisis Risiko Kebakaran Permukiman ... 16
5. Teknik Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi ... 18
. a. Teknik Penginderaan Jauh... 18
b. Sistem Informasi Geografis ... 20
5. Analisis Risiko Kebakaran Permukiman dengan Teknik PJ dan SIG ... 21
B. Penelitian Relevan ... 37
C. Kerangka Pikiran ... 40
commit to user ix
BAB III METODE PENELITIAN... 42
A.Lokasi Penelitian ... 42
B.Waktu Penelitian ... 42
C.Pendekatan Penelitian ... 43
D.Variabel dan data Penelitian ... 43
1. Variabel Penelitian ... 43
2. Data Penelitian ... 44
E.Teknik Pengumpulan Data ... 46
1.Observasi ... 46
2.Analisis Dokumen ... 46
3.Intepretasi Citra PJ ... 46
F. Teknik Analisis Data ... 48
1. Potensi Kebakaran Permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon ... 48
2. Kerentanan Kebakaran Permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon ... 52
3. Risiko Kebakaran Permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon ... 54
G. Alur Penelitian ... 55
1. Input Data ... 55
2. Analisis Data ... 56
3. Pelaporan Hasil ... 57
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 59
A. Deskripsi Daerah Penelitian ... 59
1. Letak, Batas, dan Luas ... 59
2. Kondisi Fisik ... 60
3. Kondisi Sosial Ekonomi ... 61
B. Hasil Penelitian ... 76
1. Deskripsi Faktor Risiko Kebakaran Permukiman Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011 ... 76
2. Deskripsi Potensi Kebakaran Permukiman Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011 ... 99
3. Deskripsi Kerentanan Kebakaran Permukiman Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011 ... 108
commit to user x 4. Deskripsi Risiko Kebakaran Permukiman
Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011 ... 116
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN ... 121
A. Kesimpulan ... 121
B. Implikasi ... 121
C. Saran ... 122
DAFTAR PUSTAKA ... xv
LAMPIRAN ... xvi
commit to user xi
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Klasifikasi Fungsi Permukiman ... 25
Tabel 2. Hubungan Antara Kondisi Jaringan Listrik Dengan Kepadatan Dan Keteraturan Bangunan ... 26
Tabel 3. Klasifikasi Kepadatan Bangunan Rumah Permukiman ... 27
Tabel 4. Klasifikasi Keteraturan Bangunan Rumah Permukiman ... 29
Tabel 5. Klasifikasi Dayatahan Api Bangunan ... 31
Tabel 6. Klasifikasi Dayatahan Api Permukiman ... 32
Tabel 7. Klasifikasi Keterjangkauan Mobil Pemadam tehadap Permukiman... 34
Tabel 8. Klasifikasi Keterjangkauan Pos Pemadam tehadap Permukiman... 35
Tabel 9. Klasifikasi Ketersediaan Hidran Permukiman ... 36
Tabel 10. Perbandingan Penelitian ... 39
Tabel 11. Perincian Waktu Penelitian ... 42
Tabel 12 Variabel Penelitian ... 44
Tabel 13. Variabel Penelitian, Data Penelitian, Jenis Data, dan Sumber Data. ... 45
Tabel 14. Harkat Aktivitas Internal Bangunan Rumah ... 49
Tabel 15. Harkat Kondisi Jaringan Listrik ... 49
Tabel 16. Klasifikasi Tingkat Pemicu Kebakaran... 49
Tabel 17. Pengharkatan Kepadatan Bangunan... 50
Tabel 18. Pengharkatan Keteraturan Bangunan ... 50
Tabel 19. Pengharkatan Daya Tahan Api Bangunan ... 50
Tabel 20. Klasifikasi Tingkat Kecepatan Perambatan Kebakaran ... 51
Tabel 21. Klasifikasi Harkat Tingkat Potensi Kebakaran ... 51
Tabel 22. Pengharkatan Keterjangkauan Mobil ... 52
Tabel 23. Pengharkatan Akses dari kantor Pemadam Kebakaran... 53
Tabel 24. Klasifikasi Aksesibilitas ... 53
Tabel 25. Pengharkatan Ketersediaan Hidran ... 53
Tabel 26. Klasifikasi Tingkat Ketersediaan Sumber Air Pemadam Kebakaran .... 56
Tabel 27. Klasifikasi Tingkat Kerentanan Kebakaran Permukiman ... 56
Tabel 28 . Klasifikasi Tingkat Risiko Kebakaran Permukiman ... 55
commit to user xii
Tabel 29. Pembagian dan Luas Administrasi Kelurahan ... 59
Tabel 30. Luas Penggunaan Tanah Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2010 ... 62
Tabel 31. Jumlah Penduduk Kecamatan pasar Kliwon tahun 2010. ... 64
Tabel 32. Kepadatan Penduduk Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2010 ... 66
Tabel 33. Dinamika Penduduk tahun 2010 ... 68
Tabel 34. Kondisi Rumah di Kecamatan Pasar Kliwon Tahun 2010 ... 70
Tabel 32. Jumlah Keluarga Miskin Kecamatan Pasar Kliwon Tahun 2010 ... 72
Tabel 33. Sumber Air Penduduk Kecamatan Pasar Kliwon Tahun 2010. ... 74
commit to user xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Hubungan Potensi, Kerentanan, dan Risiko Kebakaran ... 15
Gambar 2. Kerangka Pemikiran ... 43
Gambar 3. Alur Penelitian... 60
Gambar 4. Potongan Citra ... 79
Gambar 5. Potongan Citra ... 85
Gambar 6. Potongan Citra ... 88
commit to user xiv
DAFTAR PETA
Peta 1. Pembagian Administrasi Kecamatan Pasar Kliwon ... 60
Peta 2. Perbandingan Penggunaan Tanah Kecamatan Pasar Kliwon ... 63
Peta 3. Persebaran Penduduk Kecamatan Pasar Kliwon ... 65
Peta 4. Kepadatan Penduduk Kecamatan Pasar Kliwon ... 67
Peta 5. Dinamika Penduduk Kecamatan Pasar Kliwon ... 69
Peta 6. Perbandingan Konstruksi Rumah Kecamatan Pasar Kliwon ... 71
Peta 7. Perbandingan Penduduk Miskin Kecamatan Pasar Kliwon ... 73
Peta 8. Perbandingan Sumber Air Penduduk Kecamatan Pasar Kliwon ... 75
Peta 9. Fungsi Permukiman Kecamatan Pasar Kliwon ... 78
Peta 10. Kondisi Jaringan Listrik Kecamatan Pasar Kliwon ... 82
Peta 11. Kepadatan Bangunan Permukiman Kecamatan Pasar Kliwon ... 85
Peta 12. Keteraturan Bangunan Permukiman Kecamatan Pasar Kliwon ... 88
Peta 13. Daya Tahan Api Bangunan Kecamatan Pasar Kliwon... 90
Peta 14. Keterlintasan Jalan Mobil Pemadam Kebakaran Kec.Pasar Kliwon ... 91
Peta 15. Keterjangkauan Mobil Pemadam Kebakaran Kec. Pasar Kliwon ... 94
Peta 16. Keterjangkauan Pos Pemadam Kebakaran Kecamatan Pasar Kliwon ... 96
Peta 17. Ketersediaan Hidran Kecamatan Pasar Kliwon ... 98
Peta 18. Tingkat Pemicu Kebakaran Permukiman Kecamatan Pasar Kliwon ... 100
Peta 19. Tingkat Kecepatan Perambatan Kebakaran Kec. Pasar Kliwon ... 102
Peta 20. Potensi Kebakaran Permukiman Kecamatan Pasar Kliwon ... 105
Peta 21. Aksesibilitas Pemadam Kebakaran Kecamatan Pasar Kliwon ... 109
Peta 22. Ketersediaan Sumber Air Pemadam Kecamatan Pasar Kliwon ... 112
Peta 23. Kerentanan Kebakaran Permukiman Kecamatan Pasar Kliwon ... 114
Peta 24. Risiko Kebakaran Permukiman Kecamatan Pasar Kliwon ... 117
commit to user 1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.
Sebagian besar kota-kota di Indonesia mengalami permasalahan yang serius dalam memenuhi kebutuhan akan ruang yang terus meningkat, sementara itu ketersediaan ruang terbuka yang masih memungkinkan untuk mengakomodasikan penduduk kota semakin terbatas dan semakin berkurang.
Perpindahan penduduk ke kota dan bertambahnya penduduk karena proses alami ini telah berlangsung dalam periode yang lama sehingga menyebabkan terjadinya proses pertambahan kepadatan penduduk, permukiman, maupun bangunan non permukiman di kota yang berjalan tidak terkendali. Penanganan densifikasi yang tidak tuntas akan menyebabkan penurunan kualitas permukiman (Yunus,2005).
Kecenderungan pertambahan penduduk sebuah kota yang seiring dengan densifikasi serta penurunan kualitas permukiman menyebabkan berbagai masalah dalam kehidupan masyarakat kota. Salah satu permasalahan kota yang dapat muncul sebagai akibat dari proses tersebut adalah bencana kebakaran permukiman.
Pengaruh penurunan kualitas permukiman terhadap bencana kebakaran permukiman sesuai dengan temuan dari Marwasta dan Achmadi (2009) bahwa kualitas fisik permukiman merupakan komponen penting dari potensi kebakaran permukiman terutama tingkat kepadatan permukiman. Kualitas permukiman yang berpengaruh terhadap potensi kebakaran menurut Marwasta (2009) ditunjukkan dengan beberapa parameter yang meliputi: aktivitas internal, kondisi jaringan listrik, kepadatan bangunan, tata letak (keteraturan) bangunan, dan bahan bangunan. Kualitas permukiman tersebut berpengaruh terhadap kemudahan permukiman dalam memicu dan merambatkan api kebakaran.
Api yang muncul dan merambat pada saat kebakaran dapat dipadamkan untuk mengurangi dampak kebakaran. Api dengan proporsi yang besar dan merambat dengan cepat pada saat kebakaran dapat lebih menyebabkan kerusakan sehingga apabila tidak dipadamkan dengan cepat akan menambah kerugian.
commit to user
Pemadaman kebakaran permukiman dapat berjalan baik apabila terdapat fasilitas- fasilitas pemadaman api yang meliputi unit pemadam kebakaran, alat pemadam api, maupun sumber air untuk memadamkan kebakaran. Ketersediaan fasilitas- fasilitas pemadaman kebakaran berpengaruh terhadap kemampuan permukiman untuk menghadapi bahaya kebakaran. Kemampuan permukiman untuk menghadapi bahaya kebakaran menunjukkan kerentanan permukiman terhadap bahaya kebakaran. Kerentanan permukiman terhadap kebakaran akan semakin tinggi apabila tidak terdapat fasilitas untuk mencegah bahaya kebakaran yang dapat terjadi (Suharyadi,2001).
Kebakaran permukiman memiliki karakteristik khusus dibandingkan dengan bencana lain. Kebakaran permukiman tidak menyebabkan korban jiwa yang lebih banyak dibandingkan dengan gempabumi, badai, banjir, dan bencana lain tetapi kerugian material yang ditimbulkan kebakaran permukiman cukup besar. Penanggulangan kebakaran perlu dilakukan untuk mengurangi kerugian terutama kerugian material yang ditimbulkan. Salah satu upaya penanggulangan kebakaran adalah dengan melakukan analisis risiko kebakaran. Analisis risiko kebakaran permukiman dapat menghasilkan informasi-informasi yang berguna bagi kepentingan penanggulangan kebakaran.
Geografi merupakan ilmu yang melakukan kajian terhadap fenomena, potensi, permasalahan di permukaan bumi dari sudut pandang keruangan.
Bencana dapat dikaji dengan sudut pandang keruangan geografi karena merupakan permasalahan yang terdapat di mukabumi. Kebakaran permukiman merupakan salah satu bencana yang dapat dikaji dengan geografi. Analisis risiko kebakaran permukiman dapat dikaji dengan pendekatan keruangan geografi.
Analisis risiko kebakaran permukiman dengan pendekatan keruangan geografi dapat menjelaskan apa, mengapa, dan bagaimana permasalahan kebakaran permukiman dalam sudut pandang keruangan. Penggunaan pendekatan keruangan geografi dalam analisis risiko kebakaran permukiman dapat menghasilkan informasi keruangan yang berguna bagi kepentingan penanggulangan bencana kebakaran permukiman.
commit to user
Analisis risiko kebakaran permukiman dengan pendekatan geografi dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efisien dengan menggunakan alat bantu geografi. Alat bantu geografi yang dapat digunakan untuk keperluan analisis risiko kebakaran permukiman yaitu teknik penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Penggunaan teknik penginderaan jauh dan SIG dapat membantu penghematan waktu dan biaya. Teknik penginderaan jauh digunakan untuk melengkapi kerja lapangan dalam pengambilan data. Sistem Informasi geografis digunakan untuk melakukan pengolahan data.
Teknik penginderaan jauh yang digunakan untuk analisis risiko kebakaran permukiman bertujuan untuk menyadap informasi kualitas permukiman. Kualitas permukiman berpengaruh terhadap potensi kebakaran yang merupakan komponen penting untuk menganalisis risiko kebakaran permukiman.
Informasi kualitas permukiman yang disadap untuk analisis risiko kebakaran permukiman terbatas pada informasi yang hanya berkaitan dengan potensi kebakaran.
Sistem Informasi Geografis untuk analisis risiko kebakaran permukiman berguna untuk melakukan pengolahan data. Data yang diolah dapat berasal dari hasil teknik penginderaan jauh maupun data lain yang bersifat keruangan.
Keterbatasan SIG yang hanya mampu mengolah data keruangan menyebabkan data-data lain harus diolah terlebih dahulu. Data yang dapat diolah dengan bantuan SIG pada analisis risiko kebakaran permukiman adalah data-data ketersediaan fasilitas permukiman.
Kota Surakarta merupakan kota yang telah berkembang dengan pesat.
Perkembangan Kota Surakarta meliputi beberapa aspek. Perkembangan Kota Surakarta dicirikan dengan adanya pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk Kota Surakarta menyebabkan terjadinya meningkatnya permintaan lahan untuk permukiman. Ketersediaan lahan Kota Surakarta untuk permukiman bersifat tetap sehingga lahan permukiman semakin bertambah padat akibat pertumbuhan penduduk Kota Surakarta. Pemadatan permukiman menyebabkan penurunan kualitas permukiman di Kota Surakarta. Penurunan kualitas
commit to user
permukiman berpengaruh terhadap potensi kebakaran permukiman yang terjadi di Kota Surakarta.
Kota Surakarta hanya memiliki 12 mobil pemadam kebakaran. Jumlah itu terdiri dari tiga tangki pemadam dan penyuplai air, yang mana dua di antaranya sudah berumur. Serta sebuah mobil tangga rescue dan delapan mobil pemadam. Jumlah tersebut dirasakan sangat kurang mengingat pada tahun 2009 terjadi sebanyak 96 kali musibah kebakaran, yang 80 di antaranya ada di dalam kota. Dengan jumlah itu jika dirata-rata maka ada sekitar delapan kejadian kebakaran per bulannya. Dari kasus kebakaran yang terjadi, tidak semua bangunan bisa diselamatkan (JogloSemar,11/02/2010).
Data yang dimiliki oleh Kantor Pemadam Kota Surakarta menunjukkan pada tahun 2010 terdapat 30 kejadian kebakaran. Kejadian kebakaran di Kota Surakarta cenderung meningkat di tahun 2011 yakni sejumlah 24 kejadian kebakaran pada semester pertama tahun 2011. Kerugian yang ditimbulkan oleh kejadian kebakaran pada tahun 2010 senilai Rp 771.500.000,00. Kerugian yang ditimbulkan oleh kejadian kebakaran pada semester pertama tahun 2011 senilai Rp 441.500.000,00. Kejadian kebakaran di Kota Surakarta pada tiga tahun terakhir menunjukkan kebakaran permukiman di Kota Surakarta merupakan permasalahan serius yang harus ditangani.
Kecamatan Pasar Kliwon adalah salah satu bagian administratif Kota Surakarta. Kecamatan Pasar Kliwon merupakan salah satu kecamatan dengan kepadatan penduduk yang cenderung mengalami penurunan kualitas permukiman akibat pertumbuhan penduduk. Pada tahun 2010, jumlah penduduk Kecamatan Pasar Kliwon adalah 89.024 jiwa, dengan luas wilayah 4,8 Km2 maka kepadatan penduduk Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2010 mencapai 18.547 jiwa/Km2. Pada tahun 2009, jumlah penduduk Pasar Kliwon mencapai 88.044 jiwa dan naik sebesar 980 jiwa (1,1%). Pertumbuhan penduduk memacu pertumbuhan jumlah rumah mukim Kecamatan Pasar Kliwon. Jumlah rumah mukim yang terdapat di Pasar Kliwon pada tahun 2009 mencapai 19.241 rumah dan pada tahun 2010 mencapai 19.462 rumah. Peningkatan jumlah rumah mukim berpengaruh terhadap kualitas permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon.
commit to user
Pengamatan langsung dilapangan menunjukkan bahwa permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon merupakan permukiman padat karena memiliki bangunan rumah yang saling berhimpitan. Beberapa bangunan rumah di Kecamatan Pasar Kliwon memiliki bahan bangunan yang mudah terbakar seperti papan dan anyaman bambu sehingga daya tahan api bangunan permukimannya rendah. Beberapa lokasi permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon juga ditemui rumah-rumah yang terletak di belakang rumah-rumah lain sehingga tidak dapat memperoleh akses langsung dari jalan permukiman. Kondisi permukiman berdasarkan pengamatan langsung tersebut menunjukkan terjadinya penurunan kualitas permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon. Berdasarkan pendapat Marwasta tahun (2009) maka terjadinya penurunan kualitas permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon akan berdampak pada potensi kebakaran permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon.
Pelayanan pemadaman kebakaran di Kecamatan Pasar Kliwon ditangani oleh satu pos pemadam kebakaran. Lokasi relatif pos pemadam kebakaran di Kecamatan Pasar Kliwon berada di selatan Alun-alun Kraton Surakarta. Lokasi pos pemadam kebakaran di Kecamatan Pasar Kliwon relatif jauh terjangkau terutama dari permukiman Kecamatan Pasar Kliwon bagian timur. Fasilitas lain yang membantu pemadaman api di Kecamatan Pasar Kliwon yaitu adanya 17 unit hidran. Lokasi-lokasi hidran di Kecamatan Pasar Kliwon sebagian besar berada di dekat dengan bangunan penting seperti pasar, kantor pemerintahan, dan rumah sakit sehingga relatif kurang mencukupi kebutuhan hidran di permukiman Kecamatan pasar Kliwon. Berdasarkan pendapat Suharyadi (2001) maka ketersediaan fasilitas pemadaman kebakaran di Kecamatan Pasar Kliwon akan berpengaruh terhadap kerentanan kebakaran permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon.
Kualitas permukiman dan ketersediaan fasilitas pemadam kebakaran di Kecamatan Pasar Kliwon yang berpengaruh terhadap potensi serta kerentanan kebakaran permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon menjadi alasan perlunya penelitian analisis risiko kebakaran permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon.
commit to user
Analisis risiko kebakaran di Kecamatan Pasar Kliwon berguna untuk keperluan penanggulangan kebakaran permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon.
Beberapa bangunan penting Kota Surakarta terdapat di Kecamatan Pasar Kliwon. Bangunan penting Kota Surakarta yang berada di Kecamatan Pasar Kliwon antara lain meliputi Balai Kota Surakarta, Kraton Surakarta, Pasar Klewer, Pasar Klithikan Semanggi, Bank Indonesia, dan sebagainya. Bangunan- bangunan tersebut harus diselamatkan dari berbagai macam kemungkinan bencana yang dapat merusaknya termasuk bencana kebakaran. Penanggulangan bencana kebakaran dengan melakukan analisis risiko bencana kebakaran akan membantu upaya-upaya penyelamatan bangunan penting tersebut dari ancaman kebakaran permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon. Upaya penyelamatan bangunan penting Kota Surakarta di Kecamatan Pasar Kliwon dari bahaya kebakaran memperkuat alasan perlunya analisis risiko kebakaran permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan judul “Analisis Risiko Kebakaran Permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011”.
B. Identifikasi Masalah
Penelitian memiliki permasalahan yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut.
1. Terdapat penurunan kualitas permukiman akibat proses pertumbuhan penduduk Kecamatan Pasar Kliwon. Penurunan kualitas permukiman ditunjukkan dengan adanya rumah-rumah yang saling berhimpitan, rumah- rumah yang tidak menhadap langsung ke jalan permukiman, dan rumah-rumah yang memiliki bahan bangunan tidak tahan api. Penurunan kualitas permukiman tersebut berpengaruh terhadap potensi kebakaran permukiman Kecamatan Pasar Kliwon.
2. Ketersediaan fasilitas permukiman Kecamatan Pasar Kliwon terutama fasilitas pemadam kebakaran terutama hidran dan mobil pemadam kebakaran yang
commit to user
terbatas berpengaruh terhadap kerentanan kebakaran permukiman Kecamatan pasar Kliwon.
3. Analisis risiko kebakaran dapat membantu penanggulangan kebakaran permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon. Kebutuhan data dalam analisis risiko kebakaran yang cepat dan mudah dapat dilakukan dengan penggunaan teknik penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis.
C. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah penelitian yang dilakukan adalah menilai potensi, kerentanan, dan risiko kebakaran permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon berdasarkan kualitas permukiman dan ketersediaan fasilitas permukiman Kecamatan Pasar Kliwon dengan bantuan teknik penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis.
D. Perumusan Masalah Permasalahan penelitian dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana potensi kebakaran permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011?
2. Bagaimana kerentanan kebakaran permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011?
3. Bagaimana risiko kebakaran permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011?
E. Tujuan Penelitian.
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui potensi kebakaran permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011.
2. Mengetahui kerentanan kebakaran permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011.
3. Mengetahui risiko kebakaran permukiman di Kecamatan Pasar Kliwon tahun 2011.
commit to user
F. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini dikategorikan menjadi dua, yaitu:
1. Manfaat teoritis.
a. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan ilmu bagi geografi terutama yang berhubungan dengan pemanfaatan Penginderaan Jauh dalam kajian kekotaan.
b. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan ilmu bagi geografi terutama yang berhubungan dengan pemanfaatan Sistem Informasi Geografis.
2. Manfaat praktis.
a. Hasil penelitian diharapkan mampu memberikan informasi spasial risiko kebakaran permukiman Kecamatan Pasar Kliwon bagi pemerintah dan masyarakat.
b. Hasil penelitian diharapkan mampu menjadi media pembelajaran untuk menerangkan Kompetensi Dasar Penginderaan Jauh pada mata pelajaran Geografi SMA/MA.
commit to user 9 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Analisis Risiko Bencana.
a. Pengertian Bencana.
Undang-Undang No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana dapat merupakan konsekuensi gejala alami maupun konsekuensi akibat aktivitas manusia. Gejala alamiah dapat dikatakan sebagai bencana apabila menimbulkan kerugian bagi manusia. Proses alami tersebut dikategorikan sebagai bencana dengan catatan apabila proses alami tersebut mengganggu kehidupan manusia.
Hasil dari aktivitas manusia yang mengganggu kehidupan manusia juga dapat dikategorikan sebagai bencana.
Undang-Undang No.24 Tahun 2007 juga membagi bencana menjadi tiga kategori yaitu: bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial. Bencana alam adalah bencana yang disebabkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, seperti: gempabumi, erupsi gunungapi, angin topan, dan sebagainya. Bencana nonalam adalah bencana yang disebabkan oleh peristiwa yang meliputi kegagalan teknologi,kegagalan modernisasi, dan wabah penyakit.
Bencana sosial adalah bencana yang disebabkan oleh peristiwa yang disebabkan manusia yang meliputi konflik sosial dan teror.
Bencana dapat menimbulkan dampak bagi kehidupan manusia secara langsung maupun tidak langsung dalam waktu singkat maupun waktu yang sangat lama. Menurut Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2007, penanggulangan bencana dilakukan untuk perlindungan masyarakat dari dampak bencana. Bencana yang dapat ditanggulangi dengan baik akan mengurangi dampak yang ditimbulkan.
commit to user b. Konsepsi penanggulangan bencana.
Menurut BAKORNAS PB (2010,5) konsep penanggulangan bencana mengalami pergeseran dari paradigma konvensional menuju ke paradigma holistik. Pandangan konvensional menganggap bencana sebagai suatu peristiwa atau kejadian tak terelakan dan korban harus segera mendapatkan pertolongan, sehingga fokus dari penanggulangan bencana lebih bersifat bantuan (relief) dan kedaruratan (emergency). Oleh karena itu, pandangan semacam ini disebut dengan paradigma konvensional atau paradigma bantuan darurat. Paradigma bantuan darurat beorientasi pada pemenuhan kebutuhan darurat berupa pangan, penampungan darurat, kesehatan, dan pengatasan krisis. Tujuan penanggulangan bencana berdasarkan pandangan bantuan darurat adalah menekankan tingkat kerugian, kerusakan, dan cepat memulihkan keadaan.
Paradigma bantuan darurat selanjutnya berkembang menjadi paradigma mitigasi. Paradigma mitigasi memiliki tujuan untuk diarahkan pada identifikasi daerah-daerah rawan bencana, mengenali pola-pola yang dapat menimbulkan kerawanan, dan melakukan kegiatan mitigasi yang bersifat struktural maupun nonstruktural. Kegiatan mitigasi struktural dapat diwujudkan dalam bentuk pembangunan konstruksi. Kegiatan mitigasi nonstruktural dapat diwujudkan dalam bentuk penataan ruang, buiding code, dan sebagainya.
Penduduk Indonesia masih banyak yang menganggap bahwa bencana merupakan takdir. Anggapan tersebut meruapakan gambaran bahwa paradigma konvensional masih berakar kuat di masyarakat. Masyarakat masih percaya bahwa bencana merupakan kutukan atas perbuatan yang telah dilakukan sehingga tidak perlu lagi mengambil langkah-langkah pencegahan atau penanggulangannya.
Paradigma ini telah berkembang menjadi paradigma mitigasi yang memerlukan upaya masyarakat dalam melakukan tindakan-tindakan pencegahan (preventif) terhadap suatu bencana.
c. Mitigasi bencana.
Menurut Peraturan Pemerintah No.21 Tahun 2008, Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi dampak bencana baik melalui
commit to user
pembangunan fisik maupun peningkatan kemampuan menghadapi bencana.
Mitigasi bencana terbagi menjadi tiga yang meliputi tahap prabencana, tanggapdarurat, dan pasca bencana. Pada tahap prabencana, kegiatan yang dilakukan antara lain meliputi: perencanaan penanggulangan bencana, analisis risiko bencana, pengurangan risiko bencana, kesiapsiagaan, maupun peringatan dini. Pada tahap tanggapdarurat, kegiatan yang dilakukan antara lain meliputi:
Pengkajian secara cepat dan tepat terhadap dampak bencana, penentuan status bencana, evakuasi penduduk, pemenuhan kebutuhan dasar, dan pemulihan fasilitas vital. Pada tahap pascabencana meliputi kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penaganan Pengungsi dalam Arahan Kebijakan Mitigasi Bencana Perkotaan di Indonesia tahun 2002 menyebutkan bahwa mitigasi bencana perkotaan merupakan langkah yang sangat perlu dilakukan sebagai suatu titik tolak utama dari manajemen bencana. Sesuai dengan tujuan utamanya yaitu mengurangi dan/atau meniadakan korban dan kerugian yang mungkin timbul, maka titik berat perlu diberikan pada tahap sebelum terjadinya bencana, yaitu terutama kegiatan penjinakan/peredaman atau dikenal dengan istilah Mitigasi. Mitigasi dilakukan untuk memperkecil, mengurangi dan memperlunak dampak yang ditimbulkan bencana. Mitigasi pada prinsipnya harus dilakukan untuk segala jenis bencana, baik yang termasuk ke dalam bencana alam maupun bencana sebagai akibat dari perbuatan manusia.
Salah satu bagian dari mitigasi bencana adalah pendugaan / analisis risiko bencana. Pada penjelasan Undang-Undang No.24 Tahun 2007 disebutkan bahwa analisis risiko bencana memegang perananan penting dalam penanggulangan bencana.
d. Analisis Risiko Bencana.
Pengertian dari analisis risiko bencana dapat dilakukan berdasarkan tinjauan terminologis yaitu dengan mengartikan kata “analisis”, “risiko”, dan
commit to user
“bencana”. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) menyebutkan salah satu pengertian dari analisis yaitu penjabaran sesudah dikaji sebaik-baiknya. Risiko adalah bahaya,akibat, atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang. (wikipedia.com).
Undang-Undang No.24 tahun 2007 menyebutkan pengertian bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Tinjauan terminoligis tersebut memiliki makna yang sesuai dengan pengertian analisis risiko bencana dalam Penjelasan Undang-Undang No.24 Tahun 2007. Undang-Undang No.24 Tahun 2007 tersebut menyebutkan bahwa analisis risiko bencana adalah kegiatan penelitian atau studi tentang kegiatan yang memungkinkan terjadinya bencana. Peraturan Pemerintah No.21 Tahun 2008 menyebutkan bahwa analisis risiko bencana dapat digunakan sebagai dasar dalam penyusunan analisis dampak lingkungan, penataan ruang, dan mitigasi bencana.
Subdirektorat Kawasan Rawan Bencana Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional menyebutkan bahwa resiko bencana adalah interaksi antara tingkat kerentanan daerah dengan ancaman bahaya yang ada. Kerentanan merupakan suatu kondisi dari suatu komunitas atau masyarakat yang mengarah atau menyebabkan ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman bahaya. Bahaya adalah suatu fenomena alam atau buatan yang mempunyai potensi mengancam kehidupan manusia, kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan.
Analisis risiko bencana merupakan penelitian untuk menjabarkan kondisi yang dapat menimbulkan bencana. Analisis risiko bencana dapat dilakukan dengan menilai interaksi antara kerentanan dan bahaya bencana. Bahaya bencana dapat di definisikan ulang sebagai potensi apabila bencana tersebut belum terjadi.
Analisis risiko bencana dapat dilakukan dengan menilai kerentanan dan potensi bencana.
commit to user
2. Permukiman dan Permasalahan Permukiman.
Permukiman, yaitu: bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan (Undang-undang No.4 Tahun 1992). Sekalipun dalam pengertian yang sangat sederhana dan dalam waktu tertentu, setiap manusia di manapun di dunia membutuhkan tempat tinggal, baik di daerah bersuhu udara dingin maupun daerah bersuhu udara panas; di daerah yang paling banyak turun hujan maupun durun pasir, manusia selalu membutuhkan dan membangun termpat berlindung atau tempat tinggal yang merupakan tempat kediaman sehari-hari. Tempat tinggal atau kediaman secara umum disebut permukiman, dan secara khusus disebut bangunan rumah (Hudson,1974 dalam Ritohardoyo,2000). Bangunan rumah adalah tempat perlindungan yang mempunyai dinding dan atap, baik tetap maupun sementara, dipergunakan untuk tempat tinggal atau bukan (BPS,1980 dalam Ritohardoyo,2000).
Permukiman memiliki kedudukan penting dalam memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia, disamping kebutuhan pangan, pakaian atau sandang, dan kebutuhan dasar lainnya. Dalam pemenuhan kebutuhan permukiman secara tersirat terkandung banyak permasalahan yang terkait dengan keragaman wilayah maupun keragaman dinamika penghuninya. Betapa kompleksnya masalah permukiman telah disusul oleh masalah permukiman yang lain. Oleh karenanya sangat wajar jika pemerintah baik dinegara maju maupun negara berkembang memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah permukiman (Yunus,1989 dalam Ritohardoyo,2000).
Dalam banyak hal, permukiman secara umum merupakan bagian penting dari semua cabang geografi manusia. Hal ini karena melalui perkembangan permukiman dapat dikaji tentang aspek adaptasi manusia terhadap lingkungan untuk menyesuaikan kebutuhan hidupnya. Permukiman merupakan gejala yang paling menyolok, dimana budaya manusia telah memaksakan kehendaknya
commit to user
kepada lingkungan alami. Atas dasar ini, para pakar geografi telah lama tertarik pada kajian permukiman, baik terhadap bentuk, lokasi, pola, agihan, maupun tertarik pada perubahannya. Segi-segi tersebut dapat dikaji dalam konteks global, regional, maupun lokal, dikaitkan unsur-unsur geografis lainnya seperti relief,geologi, tanah, iklim, dan cuaca, interaksi sosial, dan kondisi ekonomi, politik, dan keamanan (Ritohardoyo,2000). Salah satu permasalahan permukiman yang dapat dikaji dalam geografi manusia khusunya dalam kajian permukiman adalah kebakaran permukiman.
3. Kebakaran Permukiman.
Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 10/KPTS/2010 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, mendefinisikan bahaya kebakaran adalah bahaya yang diakibatkan oleh adanya ancaman potensial dan derajat terkena pancaran api sejak dari awal terjadi kebakaran hingga penjalaran api, asap, dan gas yang ditimbulkan.
Kebakaran sebagai sebuah bencana apabila peristiwa kebakaran dapat mengganggu kehidupan manusia. Kebakaran sebagai bencana dapat disebabkan oleh proses alamiah maupun aktivitas manusia. Bentuk gangguan aktivitas manusia akibat kebakaran antara lain meliputi: gangguan penerbangan karena asap kebakaran hutan, kerusakan bangunan rumah akibat api kebakaran permukiman, kematian akibat kebakaran permukiman, dan sebagainya. Kebakaran hutan akibat kekeringan maupun aktivitas kegunungapian adalah contoh kebakaran yang disebabkan oleh proses alamiah. Kebakaran rumah akibat ledakan kompor adalah contoh kebakaran yang disebabkan oleh manusia.
Kebakaran permukiman adalah bahaya akibat pancaran api pada bangunan permukiman terutama bangunan rumah yang mengganggu kehidupan manusia. Dampak kebakaran permukiman dapat berupa timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Konteks kebakaran permukiman secara umum yaitu kebakaran yang melanda seluruh bangunan permukiman. Konteks kebakaran permukiman secara khusus yaitu kebakaran yang terjadi pada bangunan rumah mukim.
commit to user
Setiyawan dam Napu (2005) mengemukakan bahwa temperatur pada saat kebakaran dapat naik mencapai 260oC dan terbentuk gas-gas beracun mudah terbakar, sementara itu perabot rumah dapat menyala dengan sendirinya walaupun belum dicapai api karena dampak panas yang amat tinggi. Hal tersebut ditunjukkan oleh penelitian oleh Katijah Katamso dengan sebuah rumah yang dibakar dengan menuangkan bensin pada ruang tamu, dalam waktu kurang dari tiga menit alarm dari alat pendeteksi asap berbunyi dan temperatur mencapai 260 C. Gulungan asap pekat mengandung gas CO telah memenuhi seluruh ruangan dan mulai menjalar ke bagian lain. Semua peralatan yang mudah terbakar telah habis terbakar. Satu menit kemudian seluruh ruangan bawah dan atas rumah sudah tidak mungkin dilewati manusia karena tertutup asap tebal dan kobaran api.
beberapa detik kemudian setiap makhluk hidup yang tidak terlindungi topeng zat asam akan mati keracunan gas CO atau terbakar hangus, sehingga total waktu yang tersedia hanya sekitar enam menit dari saat terbentuknya terowongan inferno, yaitu keadaan dimana tak ada lagi makhluk hidup di dalam rumah yang dapat diselamatkan.
Kebakaran permukiman disebabkan oleh beberapa hal akibat ulah manusia. Secara umum,penyebab kebakaran permukiman menurut Priambodo (2009) adalah sebagai berikut:
1) Hubungan arus pendek (konsleting) listrik.
Konsleting listrik seringkali menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran permukiman. Kebanyakan konsleting listrik disebabkan oleh kesalahan pemasangan instalasi listrik yang menyebabkan adanya kelebihan beban arus yang berubah menjadi percikan api.
2) Kelalaian yang berhubungan dengan bahan mudah terbakar.
Kelalaian yang menyebabkan kebakaran tidak terbatas pada kelalaian yang dilakukan anak-anak tetapi juga orang dewasa. Kasus kompor meledak yang menyebabkan kebakaran permukiman merupakan salah satu contoh akibat kelalaian orang dewasa dalam pengecekan kondisi dan perawatan kompor.
3) Faktor kesengajaan.
commit to user
Kesengajaan yang menyebabkan kebakaran misalnya adalah kebakaran akibat kerusuhan massa dan teror bom.
Priambodo (2009) menyebutkan kebakaran permukiman terbagi menjadi empat tipe, yaitu:
1) Tipe A.
Kebakaran permukiman yang disebabkan oleh terbakarnya benda padat, antara lain: sampah kering, kertas, kayu, plastik, kain, dan sebagainya.
2) Tipe B.
Kebakaran permukiman yang disebabkan oleh terbakarnya benda cair atau gas, antara lain: BBM, LPG, dan sebagainya.
3) Tipe C.
Kebakaran permukiman yang disebabkan oleh alat listrik dan hubungan arus pendek (konsleting) listrik.
4) Tipe D.
Kebakaran permukiman yang disebabkan oleh benda yang terbuat dari logam.
4. Analisis Risiko Kebakaran Permukiman.
Analisis risiko kebakaran permukiman merupakan penelitian untuk menjabarkan kondisi yang dapat menimbulkan kebakaran permukiman. Analisis risiko kebakaran menilai interaksi antara potensi kebakaran dan kerentanan kebakaran. Risiko kebakaran permukiman merupakan hubungan antara potensi bahaya dan kerentanan kebakaran permukiman. Potensi kebakaran permukiman menunjukkan kemudahan permukiman dalam menimbulkan bahaya kebakaran.
Kerentanan kebakaran permukiman menunjukkan tingkat ketidakmampuan permukiman terhadap bahaya. Hubungan antara risiko kebakaran permukiman, potensi kebakaran permukiman, serta kerentanan kebakaran permukiman dapat dituliskan pada grafik sebagai berikut.
commit to user
Gambar 1. Hubungan potensi, kerentanan, dan risiko kebakaran permukiman.
Hubungan potensi kebakaran permukiman dan kerentanan kebakaran permukiman berbanding lurus. Semakin tinggi potensi kebakaran permukiman dan semakin tinggi kerentanan permukiman terhadap kebakaran, maka semakin tinggi tingkat risiko kebakaran permukiman. Semakin rendah potensi kebakaran dan semakin rendah kerentanan permukiman terhadap kebakaran, maka semakin rendah tingkat risiko kebakaran permukiman.
Risiko kebakaran permukiman merupakan interaksi antara potensi kebakaran permukiman dan kerentanan kebakaran permukiman. Marwasta (2009) mengemukakan bahwa kualitas fisik permukiman merupakan komponen penting dari potensi kebakaran permukiman. Penilaian terhadap kualitas permukiman dapat dilakukan untuk mengetahui potensi kebakaran permukiman. Kualitas permukiman memiliki beberapa parameter yang dapat dinilai untuk menentukan potensi kebakaran permukiman.
Kerentanan kebakaran permukiman menunjukkan tingkat kemampuan permukiman dalam menghadapi bahaya kebakaran. Permukiman yang memiliki kerentanan baik terhadap bahaya kebakaran adalah permukiman yang mampu melakukan penanggulangan kebakaran yang cepat. Penanggulangan kebakaran berjalan baik dan cepat apabila dalam permukiman terdapat fasilitas pemadam kebakaran. Ketersediaan fasilitas pemadam kebakaran yang mencukupi kebutuhan akan menyebabkan permukiman tidak rentan terhadap kebakaran. Ketercukupan fasilitas permukiman berpengaruh terhadap kerentanan kebakaran permukiman.
Kerentanan permukiman terhadap kebakaran akan semakin tinggi apabila tidak
commit to user
tidak terdapat fasilitas untuk mencegah bahaya kebakaran yang dapat terjadi (Suharyadi,2001)
Analisis risiko kebakaran permukiman dalam sudut pandang geografi menjabarkan risiko kebakaran dengan telaah keruangan. Analisis risiko kebakaran permukiman dapat dilakukan dengan baik dengan bantuan alat bantu geografi yakni teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografis. Alat bantu tersebut digunakan untuk memperoleh, mengolah, maupun menampilkan data keruangan. Hasil dari analisis risiko kebakaran dengan sudut pandang geografi adalah informasi keruangan risiko kebakaran permukiman.
5. Teknik Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis.
a. Teknik Penginderaan Jauh.
Lillesand & Kiefer (1979) mengemukakan bahwa penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah, atau fenomena yang dikaji.
Sutanto (1986) menjelaskan bahwa alat untuk mendapatkan data permukaan bumi tanpa kontak langsung adalah sensor. Sensor dibawa oleh wahana yang berupa pesawat terbang, satelit, pesawat ulang-alik, atau wahana lainnya. Wahana tersebut mengindera permukaan bumi dari jarak jauh tanpa kontak langsung dengan permukaan bumi. Sensor yang tidak berkontak langsung dengan permukaan bumi bekerja dengan merekam tenaga-tenaga yang berinteraksi dengan permukaan bumi. Perekaman hasil interaksi tersebut merupakan data penginderaan jauh. Data yang dihasilkan dari penginderaan jauh disebut sebagai citra penginderaan jauh.
Sutanto (1986) mengemukakan alasan penggunaan penginderaan jauh adalah karena citra penginderaan jauh menggambarkan obyek, daerah, dan gejala dipermukaan bumi dengan wujud dan letak objek yang mirip dengan objek dipermukaan bumi, relatif lengkap, meliputi daerah luas, permanen. Sutanto (1986) juga menambahkan bahwa citra merupakan alat yang baik untuk pembuatan peta, baik sebagai sumber data maupun kerangka letak.
commit to user
Penginderaan jauh merupakan sumber data yang baik untuk penelitian geografi. Data penginderaan jauh yang berupa citra dapat digunakan sebagai sumber data geografi apabila telah di interpretasi. Interpretasi citra penginderaan jauh adalah perbuatan mengkaji citra penginderaan jauh dengan maksud untuk mengidentifikasi objek dan menilai arti penting objek tersebut (Estes &
Simonnet,1975 dalam Sutanto, 1986).
Sutanto (1986) mengemukakan urutan langkah interpretasi citra penginderaan jauh. Urutan interpretasi dimulai dengan menguraikan atau memisahkan objek yang warna/ronanya berbeda, diikuti dengan deliniasi atau penarikan garis batas bagi objek yang warna/ronanya sama. Tiap objek yang diperlukan dikenali berdasarkan karakteristik spasial maupun unsur temporalnya.
Objek yang telah dikenali selanjutnya diklasifikasikan sesuai dengan tujuan interpretasinya dan digambarkan ke peta kerja atau peta sementara. Ketelitian hasil interpretasi dapat dijaga dengan melakukan pekerjaan medan. Pekerjaan medan berguna untuk menambah data yang tidak dapat disadap dari citra di samping untuk meyakinkan kebenaran dan pembetulan hasil interpretasi.
b. Sistem Informasi Geografis.
Aronoff (1989) dalam Prahasta (2002) mengemukakan Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu sistem yang berbasis komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi informasi-informasi geografis. Sistem Informasi Geografis dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis objek-objek dan fenomena dimana lokasi geografis merupakan karakteristik yang penting untuk dianalisis. Sistem Informasi Geografis merupakan sistem komputer yang mempunyai empat kemampuan berikut dalam menangangi data yang bereferensi geografi. Empat kemampuan SIG yaitu masukan, manajemen data, analisis dan manipulasi data, serta keluaran.
Sistem Informasi Geografis memiliki beberapa fungsi analisis. Prahasta (2002) menyebutkan fungsi analisis data spasial dalam SIG sebagai berikut:
1) Klasifikasi.
commit to user
Klasifikasi merupakan analisis untuk mengelompokkan atau mengelompokkan kembali suatu data spasial menjadi data spasial yang baru dengan atribut tertentu.
2) Analisis jaringan.
Analisis jaringan merupakan analisis-analisis yang merujuk pada data titik dan garis sebagai suatu jaringan yang tidak terpisahkan.
3) Overlay atau tumpangsusun.
Tumpangsusun merupakan analisis terhadap beberapa data spasial untuk menghasilkan data baru.
4) Buffer.
Buffer merupakan analisis untuk membuat zone berdasarkan jarak tertentu dari suatu data.
5) Analisis 3D.
Analisis 3D adalah analisis yang berhubungan dengan representasi data spasial dalam ruang tiga dimensi.
6) Digital image proccessing.
Digital image proccessing adalah analisis yang berhubungan dengan citra atau gambar berformat digital.
Sistem Informasi Geografis bermanfaat bagi berbagai penelitian geografi.
Penggunaan SIG dalam penelitian geografi dapat menghemat waktu, biaya, dan tempat. Sistem Informasi geografis dapat mengolah, menyimpan, dan melaporkan data-data spasial dengan baik.
6. Analisis Risiko Kebakaran Permukiman dengan PJ dan SIG.
Analisis risiko kebakaran permukiman dapat dilakukan dengan menghubungkan antara potensi dan kerentanan kebakaran permukiman. Penilaian tingkat risiko kebakaran permukiman dapat dilakukan berdasarkan penilaian kualitas permukiman dan ketersediaan fasilitas pemadam kebakaran. Penilaian beberapa parameter kualitas permukiman dapat digunakan untuk mengetahui tingkat potensi kebakaran permukiman. Penilaian ketersediaan fasilitas pemadam
commit to user
kebakaran dapat digunakan untuk mengentahui tingkat kerentanan kebakaran permukiman.
Penggunaan teknik penginderaan jauh dalam analisis risiko kebakaran permukiman adalah sebagai alat perolehan data. Data yang dapat disadap dari teknik penginderaan jauh adalah data tentang kualitas permukiman. Interpretasi dilakukan untuk memperoleh permukiman-permukiman yang telah dibatasi berdasarkan klasifikasi kualitas permukiman. Teknik penginderaan jauh juga berguna bagi pembuatan peta kerja yang merupakan acuan bagi pengambilan data kualitas permukiman di lapangan. Hasil dari teknik penginderaan jauh dalam analisis risiko kebakaran permukiman adalah peta-peta dengan tema parameter kualitas permukiman. Peta-peta tersebut akan diolah dengan bantuan sistem informasi geografis.
Sistem Informasi Geografis dapat membantu pengelolaan data serta pelaporan hasil analisis risiko kebakaran permukiman. Fungsi analisis yang terdapat dalam SIG dapat membantu analisis terhadap data-data spasial yang digunakan. Analisis SIG dapat digunakan terutama untuk menilai keterseiadaan fasilitas permukiman. Sistem Informasi Geografis juga membantu pembuatan peta maupun tabel yang merupakan hasil akhir analisis risiko kebakaran permukiman.
Penelitian-penelitian yang berhubungan dengan pemanfaatan PJ dan SIG dalam studi yang berhubungan dengan kebakaran permukiman memiliki berbagai macam teknik analisis dan faktor-faktor kebakaran permukiman yang berbeda- beda. Shounnalat (2000) mengemukakan penilaian tingkat risiko kebakaran permukiman dapat dilakukan dengan metode scoring (pengharkatan).
Pengharkatan dengan menggunakan faktor pembobot sesuai dengan sumbangan tiap parameter terhadap risiko kebakaran. Parameter dari risiko kebakaran menurut Shounnalat (2000), yaitu:
1. Jenis bahan bangunan.
2. Ketersediaan sumber api.
3. Pemadaman kebakaran.
4. Jaringan listrik.
5. Sejarah kebakaran.
commit to user 6. Kepadatan bangunan.
7. Aksesibilitas.
Budi Listyarini (2005) mengemukakan istilah kerawanan kebakaran yang mirip dengan makna istilah risiko kebakaran. Budi Listyarini (2005) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi kerawanan kebakaran permukiman, yaitu:
1. Faktor internal.
a. Kepadatan bangunan.
b. Ukuran bangunan.
c. Tata letak bangunan.
2. Faktor kecepatan perambatan api.
a. Kualitas bahan bangunan.
3. Faktor pencetus kebakaran.
a. Aktivitas internal.
b. Listrik.
4. Faktor kecepatan penanggulangan kebakaran.
a. Lebar jalan masuk.
b. Lokasi permukiman.
c. Sungai.
d. Ketinggian bangunan.
e. Hidran.
f. Alat pemadam portabel.
Beberapa penelitian lain juga memberikan istilah risiko kebakaran permukiman yang berbeda serta faktor dan variabel kebakaran permukiman yang berbeda. Penelitian tersebut antara lain penelitian yang dilakukan oleh: Sony Setiawan (2001), Mansyur Rusfandi Napu (2005), Suharyadi (2000), Djaka Marwasta (2000), Shounnalat et al (2000), dan Raza et al (2007) . Penelitian- penelitian tersebut memiliki kajian yang hampir sama yaitu mengkaji risiko kebakaran permukiman berdasarkan kualitas permukiman dan ketersediaan fasilitas pemadam kebakaran. Dari penelitian-penelitian risiko kebakaran permukiman yang telah disebutkan maka penilaian tingkat risiko kebakaran yang digunakan dalam penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut.
commit to user a. Potensi kebakaran permukiman.
Potensi kebakaran permukiman menunjukkan ancaman bahaya kebakaran yang dapat timbul pada bangunan rumah permukiman. Potensi kebakaran permukiman memiliki faktor sebagai berikut:
1) Faktor Pemicu Kebakaran.
Faktor pemicu kebakaran menunjukkan kemudahan munculnya api penyebab kebakaran permukiman. Faktor pemicu kebakaran terdiri dari parameter sebagai berikut.
a) Fungsi permukiman.
Fungsi permukiman merupakan pemanfaatan dari rumah yang dihuni oleh penduduk dalam satu unit permukiman (Listyarini,2005). Fungsi permukiman menunjukkan aktivitas manusia yang dominan pada suatu bangunan rumah permukiman. Fungsi permukiman merupakan salah satu faktor yang dapat memicu kebakaran permukiman. Aktivitas manusia yang menggunakan api dan berhubungan dengan bahan mudah terbakar berpotensi menimbulkan api pemicu kebakaran bangunan. Semakin banyak aktivitas manusia yang menggunakan api dan berhubungan dengan bahan mudah terbakar menyebabkan semakin tinggi faktor pemicu kebakaran permukiman. Semakin sedikit aktivitas manusia yang menggunakan api dan berhubungan dengan bahan mudah terbakar menyebabkan semakin rendah faktor pemicu kebakaran permukiman.
Rumah dapat digunakan oleh manusia untuk berbagai keperluan. Rumah dapat digunakan untuk tempat tinggal maupun tempat untuk menjalankan aktivitas ekonomi guna memenuhi semua kebutuhan hidup manusia. Rumah difungsikan sebagai tempat tinggal apabila rumah digunakan untuk aktivitas pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti berlindung dari binatang buas, tidur, makan, dan sebagainya. Rumah difungsikan sebagai tempat untuk menjalankan aktivitas ekonomi apabila rumah digunakan untuk berdagang, pelayanan jasa, industri dan sebagainya.
commit to user
Apabila dihubungkan dengan pemicu kebakaran permukiman, rumah dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsinya sebagai berikut.
(1) Rumah mukim fungsi tunggal.
Rumah mukim dengan fungsi tunggal adalah rumah yang hanya digunakan sebagai tempat hunian. Rumah dengan fungsi tunggal secara relatif memiliki intensitas penggunaan api yang lebih kecil. Rumah dengan fungsi tunggal juga relatif memiliki timbunan bahan terbakar yang lebih sedikit.
(2) Rumah mukim dengan fungsi ganda.
Rumah dengan fungsi ganda adalah rumah yang digunakan sebagai tempat hunian dan kegiatan lain terutama kegiatan perdagangan barang maupun jasa. Contoh kegiatan lain dalam rumah dengan fungsi ganda, yaitu: pengelasan, toko, restoran, dan sebagainya. Rumah dengan fungsi ganda secara relatif memiliki intensitas penggunaan api yang lebih besar daripada rumah dengan fungsi tunggal. Rumah dengan fungsi ganda secara relatif memiliki timbunan bahan mudah terbakar yang lebih banyak daripada rumah dengan fungsi tunggal.
(3) Rumah nonmukim.
Rumah nonmukim adalah rumah yang hanya digunakan untuk kegiatan tertentu. Rumah nonmukim tidak dimasukkan sebagai permukiman. Rumah nonmukim juga memiliki kriteria tersendiri dalam penilaian risiko kebakaran.
Tingkat fungsi permukiman dalam hubungannya dengan potensi kebakaran permukiman dapat diketahui berdasarkan perbandingan jumlah rumah berfungsi tunggal dengan jumlah rumah berfungsi ganda dalam satu permukiman.
Klasifikasi fungsi permukiman adalah dapat dituliskan dalam tabel 1 berikut.
Tabel 1. Klasifikasi Fungsi permukiman.
No Fungsi Permukiman Keterangan
1 Fungsi permukiman tinggi Seluruh rumah merupakan rumah mukim fungsi ganda.
2 Fungsi permukiman sedang
Sebagian rumah merupakan rumah mukim fungsi ganda dan sebagian rumah merupakan rumah mukim fungsi tunggal.
3 Fungsi permukiman rendah Seluruh rumah merupakan rumah mukim fungsi tunggal.
commit to user
Sumber: Analisis data
Fungsi permukiman dapat diketahui dengan melakukan observasi lapangan dengan bantuan teknik penginderaan jauh. Penginderaan jauh digunakan untuk membatasi permukiman-permukiman yang memiliki fungsi permukiman secara tentatif untuk selanjutnya dibetulkan dengan observasi lapangan.
b) Kondisi jaringan listrik.
Kondisi jaringan listrik menunjukkan baik tidaknya instalasi listrik pada permukiman. Pemakaian listrik yang melebihi kapasitas dan tidak sesuai dengan prosedur akan menyebabkan potensi timbulnya api semakin besar (Listyarini,2005). Kondisi jaringan listrik menunjukkan potensi terjadinya hubungan pendek arus listrik. Hubungan arus pendek listrik merupakan pemicu utama kebakaran permukiman. Permukiman dengan kondisi jaringan listrik baik, memiliki sedikit potensi hubungan arus pendek. Permukiman dengan kondisi jaringan listrik buruk memiliki banyak potensi hubungan arus pendek, sehingga kondisi jaringan listrik permukiman yang buruk menyebabkan pemicu kebakaran yang lebih besar.
Data kondisi jaringan listrik diperoleh berdasarkan pendekatan terhadap kepadatan dan keteraturan bangunan rumah. Interpretasi citra penginderaan jauh dilakukan untuk menghasilkan permukiman yang terkelompokkan sesuai dengan tingkat kepadatan dan tingkat keteraturan bangunan permukiman. Satuan permukiman yang telah terklasifikasi berdasarkan kepadatan dan keteraturannya selanjutnya dianalisis guna memperoleh kondisi jaringan listrik permukiman.
Hubungan antara kondisi jaringan listrik dengan kepadatan dan keteraturan bangunan diasumsikan sesuai matrik berikut.
Tabel 2. Hubungan antara kondisi jaringan listrik dengan kepadatan bangunan dan keteraturan bangunan.
Kondisi Jaringan listrik Keteraturan Bangunan
Teratur Agak teratur Tidak teratur Kepadatan
Bangunan
Jarang Baik Baik Sedang
Sedang Baik Sedang Buruk
Padat Sedang Buruk Buruk
Sumber: Sony Setiawan (2000)
commit to user
Kondisi jaringan listrik permukiman yang baik dicirikan dengan setiap rumah permukiman terhubung langsung dengan tiang listrik. Kondisi listrik yang baik juga dicirikan dengan sedikitnya sambungan listrik dalam satu tiang listrik.
Kondisi jaringan listrik permukiman yang buruk dicirikan dengan sedikit rumah permukiman terhubung langsung dengan tiang listrik dan rumah yang tersambung langsung ketiang listrik juga menyambungkan jaringan listrik ke rumah-rumah lain yang tidak tersambung langsung dengan tiang listrik. Kondisi listrik yang buruk juga dicirikan dengan banyaknya sambungan listrik dalam satu tiang listrik sehingga menimbulkan kesan ruwet.
2) Faktor Kecepatan Perambatan Kebakaran.
Faktor kecepatan perambatan kebakaran menunjukkan tingkat kemudahan api untuk dapat menjalar dari satu bangunan ke bangunan lain saat terjadi kebakaran. Faktor kecepatan perambatan kebakaran permukiman memiliki parameter sebagai berikut.
a) Kepadatan bangunan rumah.
Kepadatan bangunan rumah merupakan perbandingan antara luas bangunan dengan luas blok permukiman/persil tanah (Setiawan,2011). Kepadatan bangunan rumah digunakan sebagai salah satu faktor perambatan kebakaran karena kepadatan bangunan rumah berhubungan dengan jarak rata-rata bangunan rumah. Kepadatan bangunan rumah yang tinggi menunjukkan jarak rata-rata bangunan yang pendek. Jarak rata-rata bangunan rumah mempengaruhi kemudahan api untuk dapat menjalar dari satu bangunan ke bangunan lain saat terjadi kebakaran. Api akan lebih mudah menjalar pada permukiman dengan jarak antar bangunan rumah yang pendek. Kepadatan bangunan rumah yang tinggi menyebabkan permukiman memiliki kecepatan perambatan kebakaran yang tinggi.
Kepadatan bangunan rumah permukiman dapat diukur dengan rumus berikut.
Sumber: Suharyadi (2001) dengan perubahan
commit to user
Untuk menentukan tingkat kepadatan bangunan yang berhubungan dengan tingkat kecepatan perambatan kebakaran permukiman maka klasifikasi kepadatan bangunan yang digunakan adalah sebagai berikut.
Tabel 3. Klasifikasi Kepadatan Bangunan Rumah Permukiman No Tingkat Kepadatan
Bangunan Keterangan
1 Jarang Kepadatan bangunan rumah 5%-40%
2 Sedang Kepadatan bangunan rumah 41%-60%
3 Padat Kepadatan bangunan rumah 61%-100%
Sumber: Suharyadi (2001) dengan perubahan.
Data kepadatan bangunan rumah permukiman diperoleh dengan cara interpretasi citra penginderaan jauh. Interpretasi dilakukan dengan cara membatasi permukiman berdasarkan persamaan karakteristik kepadatan bangunan rumah.
Hasil pembatasan yang berupa wilayah-wilayah permukiman dengan tingkat kepadatan yang sama selanjutnya disampel untuk dilakukan pengukuran guna membenarkan hasil interpretasi. Observasi dilapangan selanjunya digunakan untuk mengecek kembali hasil interpretasi.
b) Keteraturan bangunan rumah.
Keteraturan bangunan rumah merupakan perbandingan antara jumlah rumah teratur dengan jumlah seluruh rumah dalam satu permukiman. Keteraturan bangunan digunakan sebagai salah satu faktor perambatan kebakaran karena keteraturan bangunan berhubungan dengan perkembangan permukiman.
Permukiman yang berkembang dengan perencanaan dicirikan dengan bangunan yang teratur. Permukiman yang berkembang tanpa perencanaan dicirikan dengan bangunan yang tidak teratur. Permukiman dengan perkembangan yang terencana merupakan permukiman dengan konstruksi tahan api yang baik. Permukiman yang perkembangan yang terencana juga relatif lebih siap terhadap penanggulangan kebakaran. Keteraturan bangunan permukiman juga berhubungan dengan kerja petugas pemadam kebakaran dalam memadamkan api kebakaran.
Petugas pemadam kebakaran akan lebih cepat memadamkan api apabila rumah- rumah dalam kondisi teratur sehingga petugas pemadam kebakaran lebih leluasa
commit to user
bergerak dalam memadamkan api. Permukiman dengan bangunan rumah yang teratur akan memiliki kecepatan permabatan kebakaran yang rendah.
Penilaian terhadap keteraturan rumah ditentukan berdasarkan perbandingan antara jumlah rumah yang menghadap langsung ke jalan permukiman dengan jumlah seluruh rumah. Penilaian keteraturan rumah permukiman dilakukan dengan rumus berikut.
Sumber: Suharyadi (2001) dengan perubahan
Untuk menentukan tingkat keteraturan bangunan yang berhubungan dengan tingkat kecepatan perambatan kebakaran permukiman maka klasifikasi keteraturan bangunan yang digunakan adalah sebagai berikut.
Tabel 4 Klasifikasi Keteraturan Bangunan Rumah Permukiman No Tingkat Keteraturan
Bangunan Keterangan
1 Teratur >60% rumah menghadap jalan permukiman 2 Semi teratur 30-60% rumah menghadap jalan
permukiman
3 Tidak teratur <30% rumah menghadap jalan permukiman
Sumber: Suharyadi (2001) dengan perubahan.
Data keteraturanan bangunan rumah permukiman diperoleh dengan cara interpretasi citra penginderaan jauh. Interpretasi dilakukan dengan cara membatasi permukiman berdasarkan persamaan karakteristik keteraturan bangunan rumah.
Hasil pembatasan yang berupa wilayah-wilayah permukiman dengan tingkat keteraturan yang sama selanjutnya disampel untuk dilakukan pengukuran guna membenarkan hasil interpretasi. Observasi dilapangan selanjunya digunakan untuk mengecek kembali hasil interpretasi.
c) Daya tahan api bangunan.
Daya tahan api bangunan menunjukkan tingkat kemudahan bangunan untuk terbakar. Daya tahan api bangunan menunjukkan perbandingan antara bahan bangunan yang mudah terbakar dengan bahan bangunan yang sulit