BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Wawancara Observasi Dokumentasi
Faktor Penyebab
Informan TS menyebutkan bahwa faktor penyebab kecemasan menghadapi kematian adalah usia, ia mengatakan bahwa setiap manusia akan mengalami kematian dan merasa di usinya yang sudah tua berarti sudah saatnya kematian itu tiba. Ia merasa tujuan hidupnya masih belum terpenuhi, yaitu ingin melihat kedua anaknya memiliki pasangan dan bisa hidup dengan pasangannya masing-masing.
Pengalaman informan TS terhadap kematian orang tuanya juga menjadi faktor penyebab kecemasan menghadapi kematian yang ia alami. TS merasa bahwa ketika orang mengalami kematian tidak ada harta maupun benda yang bisa dibawa mati kecuali hanya amal sholeh.
TS tidak ingin ketika ia mengalami kematian tempat yang menjadi peristirahatan terakhirnya terasa gelap. Hal itu kemudian yang membuat TS merasa cemas ketika memikirkan sebuah kematian.
Ketidakmampuan TS dalam melakukan kontrol diri menjadi salah satu faktor penyebab TS mengalami kecemasan menghadapi kematian. TS merasa bahwa kecemasan yang ia alami bersumber dari dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan ketakutanya terhadap kematian.
Faktor penyebab kecemasan informan TS adalah: usia, integritas ego, pengalaman dengan kematian, dan kontrol diri.
Bentuk Coping Religious
Informan TS menyebutkan bahwa bentuk coping religious yang dilakukan oleh informan TS untuk mengatasi kecemasan menghadapi kematian, seperti menyerahkan diri kepada Allah, sholat lima waktu, sholat tahajud, dzikir, dan berdo‟a kepada Allah.
Berdasarkan wawancara terhadap significant others, yaitu MK dan S keduanya mengatakan bahwa informan TS adalah individu yang aktif dalam kegiatan masjid, seperti sholat berjama‟ah dan pengajian. Hal tersebut menunjukan bahwa informan TS adalah individu yang aktif dalam beribadah.
Informan TS adalah
individu yang rajin
beribadah dimasjid. Ia menjalanakan sholat
jama‟ah dimasjid dan ikut serta dalam pengajian yang
dilaksanakan dimasjid.
Informan TS menjalankan ibadah sholat
Informan TS mengikuti pengajian rutin.
Bentuk Coping Religious yang digunakan informan TS adalah:
deferring dengan menyerahkan diri kepada Allah.
Collaborative dengan dzikir, berdo‟a, dan Sholat.
2. Informan M
a. Karakteristik Informan
Informan M adalah individu yang ramah dan perhatian. Hal tersebut ditunjukan dengan perilakunya ketika peneliti berkunjung kerumahnya. Usianya yang sudah tua dan tinggal sendirian ia tidak keberatan untuk membuatkan secangkir teh. M merupakan lansia, perempuan yang berusia 64 tahun. M sudah tidak bekerja dan mengisi waktu luangnya dengan menonton TV dan untuk kegiatan masjid.
“Ohh usinya 64 sekarang mbak uwisan, namanya ibu M”. (IU.2 M.6)
“Gaweane ya mung ngaji di mesjid mulih nonton TV wes”. (IU.2 M.8)
Informan M tinggal seorang diri dirumahnya. Hal tersebut karena suaminya yang sudah meninggal. M memiliki tiga anak dan ketiganya sudah menikah dan tinggal bersama pasangannya. Anak pertama M tinggal bersama suaminya di Banyuanyar. Anak kedua M tinggal bersama keluarganya dipacitan. Anak kedua informan M melanjutkan usaha suaminya yang sudah meninggal. Anak M yang ketiga tinggal bersama istri dan anaknya di Klaten.
“Suamiku sudah meninggal lama sekali” (IU.2 M.10)
“Kalau anak itu anakku ada 3 yang pertama itu tinggal ikut suaminya di Banyuanyar situ tok, kalau yang kedua sama suaminya tinggal di Pacitan kan disana ada toko peninggalan suami jadi yang ngurusin sekarang anak kedua itu. Yen anak sing terakhir ini juga udah omah-omah dewe di daerah mana itu mbak emm Klaten sana”. (IU.2 M.12)
b. Faktor Penyebab Kecemasan Menghadapi Kematian
Menurut informan M faktor yang menyebabkan ia mengalami kecemasan menghadapi kematian adalah diagnosis penyakit dan pengalaman dengan kematian. Suami informan M meninggal dunia karena penyakit gula, tidak lama kemudian informan juga terdiagnosis sakit gula. Ketika ia mengingat penyakitnya dan memikirkan sebuah kemtian maka ia akan merasa cemas:
” Tapi setelah seminggunan itu saya trus sakit dirumah sakit 4 hari waktu itu ya sama mbak saya kena gula juga. Laaa itu saya kan jadi takut apa kalau nyusul suami gitu soalnya kan baru aja ya suami meninggalnya dan sakit gula juga” (IU.2 M.22)
Faktor usia juga menjadi faktor penyebab kecemasan menghadapi kematian yang dialami M. Menurut informan M merasa bahwa diusianya yang sudah lanjut yang ada dipikiran hanyalah kematian yang sudah saatnya:
“jenenge orang sudah tua pikirannya ya udah wancine mati itu. Udah tua ditambah lagi ada sakit ya cemas itu tadi mbak” (IU.2 M.26)
Selain faktor diagnosis penyakit, pengalaman dengan kematin dan faktor usia diatas kehidupan setelah kematian juga menjadi faktor penyebab kecemasan menghadapi kematian pada informan M.
Kecemasan ini muncul berkaitan dengan hal terjadi setelah kematian itu, seperti siksaan atau azab setelah kematian:
“Sing ditakutkan kui lak azab ya mbak, dadi yo perbanyak melakukan memohon pada Allah mbak. Njaluk supoyone apa itu namanya khusnul khatimah” (IU.2 M.28)
c. Bentuk Coping Religious
Aspek coping religious yang terjadi pada informan M adalah religious for giving (agama untuk memberi). Pada aspek ini informan M berusaha mencari pertolongan Allah untuk mengatasi perasaan cemasnya dengan memohon kepada Alah:
“dadi yo perbanyak melakukan memohon pada Allah mbak. Njaluk supoyone apa itu namanya khusnul khatimah.” (IU.2 M.28)
Aspek selanjutnya yang muncul adalah sekking support from clergy or members (mencari dukungan dari pemimpin agama atau para anggotanya). Informan M menceritakan kecemasan yang dialaminya kepada ustadz ketika mengikuti pengajian dan meminta saran kepada ustadz tersebut:
” Pernah pas pengajian saya takon sama pak ustadz, saya bilang ko saya ii yen malem-malem itu takut mati ya ustadz trus ustadznya genti takon mbak la yang ditakuti nopo bu gitu ustadnya trus bilang kalau yang ditakuti adalah azabnya ya diperbanyak amal itu nya” (IU.2 M.36)
Aspek coping religious yang selanjutnya adalah religious purification (pemurnian agama). Pada aspek ini informan M mengatasi kecemasan menghadapi kematian dengan memperbanyak amal ibadah, seperti dzikir, sholat wajib, sholat hajat, sholat tahajut, membaca Al-Quran berjam‟ah setiap setelah maghrib dan subuh serta menghadiri pengajian:
“Yaa tak perbanyak amal ibadah saya mbak, ya dzikir itu, sholat, sholat tahajut, sholat hajat sholat-sholat sunah saya kerjakan kalau habis maghrib sama subuh gitu saya ngaji bersama jama‟ah dimasjid ya gitu-gitu mbak. Saya juga rutin mengikuti pengajian” (IU.2 M.38)
Aspek coping religious lain yang muncul adalah religious helping (bantuan agama). Informan M merasa bahwa kecemasan yang ia alami dapat teratasi karena mendapatkan doa dari temannya:
“Alhamdulillah sekarang ini sudah tidak pernah mungkin ya berkat orang-orang yang juga mendoakan saya ya mbak.” (IU.2 M.40)
Aspek terakhir yang muncul adalah spiritual connection (hubungan rohani). Informan M merasa bahwa kecemasan yang dialaminya merupakan kehendak Allah:
” Wahh yo ora mbak, semuanya kehendak Allah” (IU.2 M.42)
Dari beberapa aspek yang muncul kemudian diketahui bentuk coping religious yang dilakukan informan M untuk mengatasi kecemasan menghadapi kematian adalah coping religious collaborative. Informan M berusaha meminta pertolongan Allah melalui dzikir, sholat wajib, sholat tahajut, sholat hajat, berdo‟a, membaca Al-Quran bersama jam‟ah lain setiap setelah sholat maghrib dan sholat subuh serta rutin ikut pengajian:
“Ya berdo‟a, sholat ya ngaji juga mbak” (IU.2 M.30)
“Yaa tak perbanyak amal ibadah saya mbak, ya itu, sholat, sholat tahajut, sholat hajat sholat-sholat sunah saya kerjakan kalau habis maghrib sama subuh gitu saya ngaji bersama jama‟ah dimasjid ya gitu-gitu mbak. Saya juga rutin mengikuti pengajian.” (IU.2 M.38)
Selain itu bentuk coping religious yang dilakukan informan M untuk mengatasi kecemasan menghadapi kematian adalah coping religious deferring. Ketika mengalami kecemasan menghadapi kematian informan M akan mengingat Allah.
“Paling yen kepikiran meneh gitu ya mengingat Allah gitu aja wes”
(IU.2 M.40)
Menurut hasil wawancara terhadap significant others MK mengatakan bahwa informan M adalah individu yang taat dalam beribadah. MK mengatakan informan M pernah belajar mengaji kepada MK. Informan M sangat aktif dilingkungan masjid, seperti sholat jama‟ah, ngaji jama‟ah, rutin datang dan membantu pengajian dimasjid.
“Dulunya ibu M dan TS itu juga pernah ikut ngaji saya yang membantu ngajar pernah” (SO.1 MK.16)
“Yaa insyaAllah insyaAllah sepengetahuan saya taat dalam beribadah” (SO.1 MK.20)
Menurut significant others S mengatakan bahwa informan M ikut serta membantu memakmurkan masjid. Informan M bersama significant others S membaca Al-Quran bersama-sama dimasjid. Selain itu informan M juga rutin mengikuti pengajian serta ikut serta dalam memberikan hidangan kepada jam‟ah pengajian.
“paling ya kalau ibu M ibu TS ngaji habis maghrib sama habis subuh sama saya, sholat jama‟ah gitu-gitu aja mbak” (SO.2 S.12)
“Ohh iyaa mbak kalau pengajian gitu suka bantu ngurus konsumsinya juga, kalau ibu M itu kamis kedua” (SO.2 S.14)
Tabel 4 Display Data Informan M Display Data Informan M
Temuan Sumber Data Kesimpulan
Wawancara Observasi Dokumentasi
Faktor Penyebab
Menurut informan M faktor yang menyebabkan ia mengalami kecemasan menghadapi kematian adalah diagnosis penyakit dan pengalaman dengan
kematian. Suami informan M meninggal dunia karena penyakit gula, tidak lama kemudian informan juga terdiagnosis sakit gula. Ketika ia mengingat penyakitnya dan memikirkan sebuah kemtian maka ia akan merasa cemas. Faktor usia juga menjadi faktor penyebab kecemasan menghadapi kematian yang dialami M. Menurut informan M merasa bahwa diusianya yang sudah lanjut yang ada dipikiran hanyalah kematian yang sudah saatnya. Selain faktor diagnosis penyakit, pengalaman dengan kematin dan faktor usia diatas kehidupan setelah kematian juga menjadi faktor penyebab kecemasan menghadapi kematian pada informan M. Kecemasan ini muncul berkaitan dengan hal terjadi setelah kematian itu, seperti siksaan atau azab setelah kematian
Faktor penyebab
kecemasan menghadapi kematian informan M adalah: usia, diagnosis penyakit, pengalaman dengan kematian, dan kehidupan setelah kematian.
Bentuk Coping Religious
Bentuk coping religious yang dilakukan informan M untuk mengatasi kecemasan menghadapi kematian adalah mengingat Allah dzikir, sholat wajib, sholat tahajut, sholat hajat, berdo‟a, membaca Al-Quran dan pengajian.
Menurut hasil wawancara terhadap significant others MK dan S, mereka mengatakan bahwa informan M adalah individu yang taat dalam beribadah. MK mengatakan informan M pernah belajar mengaji kepada MK. Informan M sangat aktif dilingkungan masjid, seperti sholat jama‟ah, ngaji jama‟ah, rutin datang dan membantu pengajian dimasjid. S
mengatakan bahwa informan M ikut serta membantu memakmurkan masjid.
Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan menunjukan bahwa informan M adalah individu yang aktif dalam kegiatan masjid.
Informan M juga berperan dalam
memakmurkan masjid.
Ketika ada kegiatan pengajian informan M juga ikut serta dalam memberikan konsumsi kepada jama‟ah.
Informan M juga sholat berjama‟ah dimasjid dan mengajdi rutin setiap setelah subuh dan maghrib di masjid.
Informan M membaca Quran bersama jama‟ah lain.
Informan M menjalankan ibadah sholat.
Bentuk coping religious yang dilakukan oleh informan M adalah:
deferring dengan mengingat Allah.
Collaborative dengan dzikir, sholat, berdo‟a, membaca Al-Quran, dan pengajian.
Informan M mengikuti pengajian rutin.
3. Informan S
a. Karakteristik Informan
Informan S adalah individu yang ramah dan tegas. Hal tersebut ditunjukan dengan cara S menjawab pertanyaan dari peneliti. Pertemuan pertama dengan S bertujuan untuk melakukan pendekatan. S banyak menceritakan tentang kesehariannya. S adalah aktivis masjid menjabat sebagai takmir masjid. Untuk mengisi kesibukannya dan mendapatkan penghasilan S berjualan bensin. Informan S merupakan lansia, laki-laki berusia 71 tahun.
“Nama saya S tapi biasanya saya dipanggil W 71 tahun usianya”.
(IU.3 S.8)
“Kesibukannya ya jual bensin sama warung ini, sedikit-sedikit daripada cuman duduk terus ya bosen”. (IU.3 S.10)
Informan S memiliki 3 anak, laki-laki dan kembar perempuan.
Ketiga anak informan S sudah menikah dan tinggal bersama pasangannya masing-masing. S tinggal seorang diri dirumahnya semenjak isterinya meninggal dunia.
“Istri sudah tidak ada lama anak-anak saya dirumahnya sendiri semua.
Si kembar itu pada ikut suaminya, kalau mase udah punya rumah sendiri juga” (IU.3 S.12)
b. Faktor Penyebab Kecemasan Menghadapi Kematian
Informan S menyebutkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan ia mengalami kecemasan menghadapi kematian. Faktor penyebab yng pertama adalah faktor usia. Informan S mengatakan bahwa
diusianya yang sudah tua kecemasan terhadapkematian adalah hal yang wajar:
“udah tua kan udah saatnya meninggal ya mbak, jadine ya merasa takut mati wes biasa kalau cemas itu” (IU.3 S.28)
Faktor kedua yang menyebabkan kecemasan menghadapi kematian pada informan S adalah kehidupan setelah kematian. Informan S mengatakan yang dicemaskan dari kehidupan setelah kematian adalah siksaan didalam kubur dan apa yang terjadi setelah kematian:
“Yaa paling azabnya, siksaan dikubur, terus nanti kalau sudah itu kehidupan selanjutntya bagaimana, pengennya masuk surga. Ya itu yang dicemaskan” (IU.3 S.22)
c. Bentuk Coping Religious
Aspek coping religious yang muncul pada informan S adalah religious purification (pemurnian agama). Pada aspek ini nforman S mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan amal ibadah, seperti dzikir, sholat, ngaji, dan mengikuti pengajian:
“Mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa, dzikir, sholat, ngaji, sering-sering ikut pengajian” (IU.2 S.34)
Aspek selanjutnya yang muncul adalah religious for giving atau agama untuk memberi. Informan S meminta bantuan Allah dengan berdo‟a supaya diberi kesabaran dan keikhlasan:
“Iya, meminta bantuan Allah, berdo‟a supaya diberi kesabaran, keikhlasan eeee biar tenang gitu aja” (IU.3 S.44)
Dari aspek-aspek di atas kemudian dapat diketahui bentuk coping religious. Bentuk coping religious yang dilakukan oleh informan S untuk mengatasi kecemasan menghadapi kematian adalah collaborative dengan sholat, dzikir, berdo‟a dan pengajian. Dengan mengikuti pengajian dapat menmbah ilmu pengetahuan terlebih jika pada saat pengajian membahas mengenai kematian sehingga dapat memahami kematian sesungguhnya:
“Mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa, dzikir, sholat, ngaji, sering-sering ikut pengajian saja banyak ilmunya banyak manfaat.
InsyaAllah perasaan cemas seperti itu pasti wes tidak ada lagi. Adanya cuman menyerahkan diri kepada Allah” (IU.2 S.34)
“Iya, meminta bantuan Allah, berdo‟a supaya diberi kesabaran, keikhlasan eeee biar tenang gitu aja” (IU.3 S.44)
Selain itu bentuk coping religious yang dilakukan oleh informan S untuk mengatasi kecemasan menghadapi kematian adalah deferring.
Informan S menyerahkan dirinya kepada Allah.
“Adanya cuman menyerahkan diri kepada Allah” (IU.3 S.344)
Menurut significat others MK informan S adalah takmir masjid, informan S adalah contoh yang baik bagi jama‟ah yang lain. MK juga menyebutkan bahwa S adalah orang yang taat beribadah. Setiap kegiatan masjid informan S ikut berperan aktif. Informan S juga sholat berjama‟ah dimasjid dan rutin mengikuti pengajian. Setiap malem jum‟at yang ke empat informan S juga ngisi kajian dimasjid An-Nur menafsir Al-Quran:
“Kalau bapak S itu untuk masalah keagamaan beliau sebagai takmir memang sebagai contoh dan ibadahnya memang bagus sebagai contoh untuk jama‟ah yang lain. Untuk sholat lima waktu juga beliau setiap pekan setiap malem jum‟at yang ke empat itu juga ngisi kajian dimasjid An-Nur menafsir Al-Quran.” (SO.1 MK.18)
Significant others S juga sepakat dengan hal itu, menurutnya informan S adalah orang yang taat dalam beribadah. Informan S selalu aktif dalam kegiatan masjid sebagai pengarah. Significant others S mengatakan bahwa meskipun informan S adalah individu yang usianya sudah lanjut ia tetap mengutamakan ibadahnya. Informan S menjalankan ibadah sholat lima waktu sebagai panutan untuk jama‟ah muda:
“Kalau pak S kan takmir juga sebagai sesepuh mbak ya sudah pasti setiap kegiatan yang ada dimasjid beliau pasti ikut. Kalau ada kurang apa-apa gitu beliau yang ngurus mbak. Walaupun sudah sepuh gitu tapi masyaAllah kalau urusan di masjid nomor satu” (SO.2 S.16)
“Betulll wah itu lima waktu sholatnya panutan untuk jama‟ah-jama‟ah muda seperti kita ini mbak” (SO.2 S.18)
Tabel 5 Display Data Informan S Display Data Informan S
Temuan Sumber Data Kesimpulan
Wawancara Observasi Dokumentasi
Faktor Penyebab
Informan S menyebutkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan ia mengalami kecemasan
menghadapi kematian. Faktor penyebab yng pertama adalah faktor usia. Informan S mengatakan bahwa diusianya yang sudah tua kecemasan
terhadapkematian adalah hal yang wajar. Faktor kedua yang menyebabkan kecemasan menghadapi kematian pada informan S adalah kehidupan setelah kematian. Informan S mengatakan yang dicemaskan dari kehidupan setelah kematian adalah siksaan didalam kubur dan apa yang terjadi setelah kematian.
Faktor penyebab kecmasan menghadapi kematian informan S adalah: usia dan kehidupan setelah kematian.
Bentuk Coping Religious
Bentuk coping religious yang dilakukan oleh
informan S untuk mengatasi kecemasan menghadapi kematian, seperti menyerahkan diri kepada Allah, sholat, dzikir, berdo‟a dan pengajian.
Menurut significat others MK informan S adalah takmir masjid, MK juga menyebutkan bahwa S adalah orang yang taat beribadah. Setiap kegiatan masjid
Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan menemukan bahwa informan S adalah takmir masjid. Ia rajin dalam beribadah,
Informan S saat memberikan kajian tafsir.
Bentuk coping religious yang dilakukan informan S adalah:
deferring dengan menyerahkan
informan S ikut berperan aktif. Informan S juga sholat berjama‟ah dimasjid dan rutin mengikuti pengajian.
Significant others S juga sepakat dengan hal itu, menurutnya informan S adalah orang yang taat dalam beribadah. Informan S selalu aktif dalam kegiatan masjid sebagai pengarah. Informan S juga sebagai panutan untuk jama‟ah muda.
hamper semua kegiatan masjid ia ikuti termasuk sholat
berjama‟ah, pengajian
maupun kegiatan masjid besar lainnya.
Informaan S juga sebagai imam sholat, mu‟azzin, juga pengisi pengajian.
Informan S saat menjadi imam jama‟ah sholat ashar.
Informan S saat mengikuti sholat berjama‟ah subuh yang dilanjutkan dengan tauziyah.
diri kepada Allah.
Collaborative dengan dzikir, sholat, membaca Al-Quran, dan pengajian.
Hasil analisis data informan dibagi menjadi dua bagian guna untuk menjawab pertanyaan dari rumusan masalah. Pembagian tersebut yaitu faktor penyebab kecemasan menghadapi kematian dan bentuk coping religious untuk mengatasi kecemasan menghadapi kematian.
1. Faktor Penyebab Kecemasan Menghadapi Kematian Lansia
Menurut Henderson dalam Ghufron (2021), menyebutkan ada lima faktor yang menjadi penyebab kecemasan menghadapi kematian pada lansia, yaitu usia, integritas ego, kontrol diri, personal sense of fulfilment (pemenuhan pribadi) dan religiusitas. Sedangkan menurut Lehto & Stein (2009) menyebutkan ada tiga faktor yang menjadi penyebab, yaitu stressful environment (lingkungan stress), diagnosis penyakit yang parah atau mematikan, dan pengalaman dengan kematian. Ketiga informan mengungkapkan pengalaman mereka mengenai faktor-faktor yang menyebabkan ketiga informan mengalami kecemasan menghadapi kematian. Informan TS, M, S mengungkapkan bahwa kecemasan menghadapi kematian yang ia alami disebabkan oleh faktor usia. Semakin bertambahnya usia seseorang maka semakin dekat pula orang tersebut dengan kematian (Henderson dalam Ghufron, 2021). Informan TS mengatakan bahwa setiap manusia akan mengalami kematian dan merasa di usinya yang sudah tua berarti sudah saatnya kematian itu tiba (IU1.TS.16). Informan M merasa bahwa diusianya yang sudah lanjut yang ada dipikiran hanyalah kematian yang sudah
saatnya (IU.2 M.26). Sedangkan menurut informan S mengatakan bahwa diusianya yang sudah tua kecemasan terhadapkematian adalah hal yang wajar (IU.3 S.28).
Faktor selanjutnya yang menjadi penyebab kecemasan menghadapi kematian pada lansia adalah integritas ego. Menurut Henderson Faktor integritas ego terjadi ketika individu belum dapat mencapai tujuan hidupnya (Ghufron, 2021). TS merasa tujuan hidupnya masih belum terpenuhi, yaitu ingin melihat kedua anaknya memiliki pasangan dan bisa hidup dengan pasangannya masing-masing (IU.1 TS.18). informan TS juga menyebutkan bahwa dirinya tidak dapat melakukan kontrol diri sehingga menimbulkan perasaan cemas menghadapi kematian. TS merasa bahwa kecemasan yang ia alami bersumber dari dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan ketakutanya terhadap kematian (IU.1 TS. 26).
Pada informan M penyakit yang ia derita juga menjadi faktor penyebab kecemasannya. Informan M mengatakan suami informan M meninggal dunia karena penyakit gula, tidak lama kemudian informan juga terdiagnosis sakit gula. Ketika ia mengingat penyakitnya dan memikirkan sebuah kemtian maka ia akan merasa cemas (IU.2 M.22).
Tidak hanya itu, pengalaman terhadap kematian juga dapat menimbulkan kecemasan menghadapi kematian. Hal tersebut diungkapkan oleh informan TS, Pengalaman informan TS terhadap kematian orang tuanya juga menjadi faktor penyebab kecemasan
menghadapi kematian yang ia alami. TS merasa bahwa ketika orang mengalami kematian tidak ada harta maupun benda yang bisa dibawa mati kecuali hanya amal sholeh. TS tidak ingin ketika ia mengalami kematian tempat yang menjadi peristirahatan terakhirnya terasa gelap.
Hal itu kemudian yang membuat TS merasa cemas ketika memikirkan sebuah kematian. (IU.1 TS.22). Faktor lain yang menjadi penyebab kecemasan menghadapi kematian adalah kehidupan setelah kematian.
Informan M mengatakan bahwa Kecemasan ini muncul berkaitan dengan hal terjadi setelah kematian itu, seperti siksaan atau azab setelah kematian (IU.2 M.28). informan S juga mengatakan hal yang sama bahwa yang dicemaskan adalah kehidupan setelah kematian yaitu siksaan didalam kubur dan apa yang terjadi setelah kematian (IU.3 S.22).
Ketiga informan telah memahami faktor apa saja yang menyebabkan mereka mengalami kecemasan menghadapi kematian.
Faktor-faktor yang ketiga informan ungkapkan selaras dengan teori Henderson maupun Lehto & Stein. Akan tetapi terdapat faktor tambahan yang mereka ungkapkan, yaitu kehidupan setelah kematian juga dapat menjadi penyebab kecemasan menghadapi kematian.
2. Bentuk Coping Religious
Untuk mengatasi kecemasan menghadapi kematian dibutuhkan strategi coping yang tepat, salah satuya adalah coping religious
Menurut Pargament (1997), bentuk coping religious ada tiga, yaitu self-directing, defering, dan collaborative. Bentuk coping religious deferring yang digunakan oleh ketiga informan TS, M, dan S adalah menyerahkan diri kepada Allah dan mengingat Allah. Informan TS dan S mengatakan bahwa dengan menyerahkan diri kepada Allah dapat mengatasi kecemasan yang mereka alami (IU.1 TS.16) (IU.3 S.344).
Sedangkan informan S mengatakan bahwa ketika ia mengalami kecemasan menghadapi kematian ia akan mengingat Allah untuk mengatasinya (IU.2 M.40).
Selanjutnya bentuk coping religious yang digunakan oleh ketiga informan adalah collaborative berupa sholat, berdzikir, berdo‟a, membaca Al-Quran, dan menghadiri pengajian. Sholat dapat mengurangi kecemasan, efek dari sholat bagi individu dapat menghasilkan peneguhan hati dan ketengan jiwa yang melandasi optimisme dalam menempuh kehidupan yang sulit. Ketiga informan TS, M, dan S menerapkan bentuk coping religious melalui sholat dalam mengatasi kecemasan yang mereka hadapi (IU.1 TS.22), (IU.2 M.38), (IU.2 S.34). Informan TS mengatakan selain melakukan sholat lima waktu, ia juga melaukan sholat sunah. “Sholat lima waktu meskipun telat tapi Alhamdulillah saya gak pernah absen kalau gak capek sholat tahajud” (IU.1 TS.22). Begitupun dengan informan M selain melakukan sholat wajib, ia juga melakukan sholat sunah: “Yaa tak perbanyak amal ibadah saya mbak, ya itu, sholat, sholat tahajut, sholat hajat
sholat-sholat sunah saya kerjakan kalau habis maghrib sama subuh gitu saya ngaji bersama jama‟ah dimasjid ya gitu-gitu mbak” (IU.2 M.38).
Bentuk coping religious melalui dzikir dilakukan dengan menyebut nama Allah dalam setiap kondisi. Ketiga informan TS, M, dan S juga menerapkan dzikir untuk mengatasi kecemasan menghadapi kematian.
Informan TS mengatakan bahwa ia berdzikir sambil tiduran ataupun sambil tiduran: “Yaaa saya setiap saat sambil tiduran itu dzikir sebisanyalah sambil duduk-duduk juga, apa itu baca ayat kursi sehari bisa sampai 700 800 kali per hari” (IU.1 TS.22). Begitupun dengan informan M dan S untuk mengatasi kecemasan yang mereka alami menggunakan coping religious melalui dzikir (IU.2 M.38) (IU.2 S.34).
Bentuk coping religious melalui berdo‟a, yang berarti meminta pertolongan Allah. Berdo‟a berkorelasi positif dengan pribadi akan kedekatan dengan Tuhan. Informan TS, M, dan S berusaha meminta pertolongan Allah dengan berdo‟a untuk membantu mengatasi kecemasan yang mereka alami. Untuk mengatasi kecemasan yang dialami informan TS berdo‟a meminta kepada Allah: “sering-sering berdoa meminta kepada Allah” (IU.1 TS.22). Informan M juga berdo‟a meminta kepada Allah agar tidak mengalami kecemasan: “Ya berdo‟a, sholat ya ngaji juga mbak” (IU.2 M.30). Informan S meminta bantuan Allah dengan berdo‟a supaya diberi kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi kecemasan: “Iya, meminta bantuan Allah, berdo‟a supaya diberi kesabaran, keikhlasan eeee biar tenang gitu aja” (IU.3 S.44)
Bentuk coping religious melalui membaca Quran. Membaca Al-Quran dapat menambah energy positif serta mengurangi energy negatif yang telah diambil oleh tubuh, jiwa, dan pikiran seseorang. Menurut informan M untuk mengatasi kecemasan menghadapi kematian selain berdo‟a dan sholat, membaca Al-Quran juga dilakukan (IU.2 M.30).
Selain dari beberapa bentuk coping religious yang sudah disebutkan informan M dan S menyebutkan bahwa mengikuti pengajian juga bisa membantu mengatasi kecemasan menghadapi kematian (IU.2 M.38) (IU.2 S.34).
Ketiga informan mengungkapkan bahwa ketika mengalami kecemasan menghadapi kematian bentuk coping religious yang mereka lakukan adalah menyerahkan diri kepada Allah, mengingat Allah, sholat, dzikir, berdo‟a, membaca Al-Quran, dan menghadiri pengajian.
Bentuk coping religious yang mereka lakukan sama seperti yang disebutkan oleh Pargament.