• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE KERJA METODE KERJA

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Penelitian Secara In Vivo

4.2. Penelitian Secara In Vivo

Penelitian secara in vivo dilakukan di rumah kaca. Sawi sendok ditumbuhkan pada media tumbuh berupa tanah dan pupuk kandang kemudian diberikan penambahan isolat bakteri secara tunggal maupun kombinasi serta variasi dosis pupuk SP-36 kemudian dilihat pertumbuhannya sesuai dengan peubah yang diamati yaitu jumlah daun, tinggi tanaman dan lebar daun setiap minggu selama 5 minggu. Hasil pengamatan yang ditampilkan selanjutnya berdasarkan minggu ke-5 setelah tanam yang dianggap mewakili seluruh perlakuan penelitian.

Gambar 18. Pengujian Antagonis dari 2, 3 dan 4 Isolat Bakteri Pada Cawan Petri Keterangan:

(a)Burkholderia sp. PS4 (b) Bacillus subtilis J2;

(c) Pseudomonas aeruginosa P2; (d) Burkholderia sp. T9;

(e) Antagonis 2 dan 3 jenis isolat bakteri; (f) Antagonis 2 dan 4 jenis isolat bakteri

a b c d

a. Jumlah Daun Tanaman Sawi sendok

Hasil pengamatan jumlah daun tanaman sawi sendok pada minggu ke-5 ditunjukkan pada Tabel 6 di bawah ini :

Tabel 6. Pengaruh pemberian isolat bakteri dan variasi dosis pupuk terhadap jumlah daun (helai/tanaman) pada minggu ke-5 setelah tanam (MST)

Kombinasi Bakteri

Dosis Pemupukan Fosfat (kg/ha)

Rata-rata 50 75 100 Kontrol 6,6 6,0 6,6 6,4 Bacillus subtilis J2 6,3 7,0 6,3 6,5 Pseudomonas aeruginosa P2 7,3 6,6 6,6 6,8 Burkholderia sp. PS4 7,6 6,3 7,6 7,2 Burkholderia sp. T9 7,3 6,3 6,6 6,7 J2+P2 4,3 5,6 8,3 6,1 J2+PS4 7,0 6,3 6,0 6,4 J2+T9 6,3 5,3 6,3 6,0 P2+PS4 8,0 8,0 6,6 7,5 P2+T9 5,5 6,6 5,5 5,5 PS4+T9 7,3 7,3 6,6 6,4 J2+P2+PS4 8,0 7,0 7,0 7,3 J2+P2+T9 6,3 8,0 6,0 6,7 P2+PS4+T9 6,0 7,6 5,6 7,1 J2+PS4+T9 6,0 6,0 7,0 6,3 P2+J2+PS4+T9 6,0 5,6 7,0 6,2 Rata-rata 6,6 6,5 6,6

Pada minggu ke-5 kombinasi bakteri P2+PS4 meningkatkan rata-rata jumlah daun pada tanaman sawi sendok paling besar dibandingkan kontrol yaitu sebesar 17,18% dari rata-rata 6,4 helai/tanaman menjadi 7,5 helai/tanaman. Sedangkan Gambar 19. Pertumbuhan Tanaman Sawi sendok Pada 3 Minggu Setelah Tanam

rata-rata jumlah daun paling kecil ditunjukkan oleh kombinasi bakteri P2+T9 yaitu sebesar 5,5 helai/tanaman. Efektivitas BPF dalam melarutkan unsur P yang terikat sangat berkaitan erat dengan cara beradaptasi dari BPF dengan lingkungannya. Dikemukakan oleh Subba Rao (1982), bahwa lingkungan yang baik dan cocok untuk jenis BPF tertentu akan meningkatkan aktivitasnya dalam mengeluarkan asam-asam organik, enzim dan hormon-hormon tumbuh untuk melarutkan unsur P tanah. Pada tahap perlakuan pupuk SP-36 minggu ke-5 semua perlakuan pupuk memberikan hasil yang relatif sama terhadap rata-rata jumlah daun yaitu antara 6,5 – 6,6 helai/tanaman.

b. Tinggi Tanaman Sawi Sendok

Hasil pengamatan tinggi tanaman sawi sendok pada minggu ke-5 ditunjukkan pada Tabel 7 di bawah ini :

Tabel 7. Pengaruh pemberian isolat bakteri dan variasi dosis pupuk terhadap tinggi tanaman (cm/tanaman) pada minggu ke 5 setelah tanam (MST).

*angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu baris menunjukkan perbedaan yang tidak nyata menurut DMRT 5%

Hasil pengamatan pada minggu 5 menunjukkan bahwa rata-rata tinggi tanaman sawi sendok paling besar diperlihatkan oleh kontrol sebesar 27,7 cm/tanaman. Sedangkan pada minggu ke-5 perlakuan pupuk 100% dapat memberikan pengaruh yang lebih baik sebesar 7,23% terhadap rata-rata tinggi tanaman dibandingkan

Kombinasi Bakteri

Pemupukan Fosfat (kg/ha)

Rata-rata 50 75 100 Kontrol 29,0 28,0 26,2 27,7 Bacillus subtilis J2 23,5 23,6 23,3 23,5 Pseudomonas aeruginosa P2 28,3 22,0 25,0 25,1 Burkholderia sp. PS4 30,6 21,3 23,4 25,1 Burkholderia sp. T9 27,5 22,6 26,7 25,6 J2+P2 18,6 28,3 30,3 24,2 J2+PS4 27,5 18,1 25,8 23,8 J2+T9 21,9 21,5 25,8 23,0 P2+PS4 28,0 22,6 24,3 25,0 P2+T9 25,1 16,8 19,0 20,3 PS4+T9 16,5 25,3 24,6 22,1 J2+P2+PS4 24,8 19,1 29,1 24,3 J2+P2+T9 23,5 18,0 22,5 21,3 P2+PS4+T9 28,3 23,1 20,6 24,0 J2+PS4+T9 22,7 17,6 27,6 22,6 P2+J2+PS4+T9 21,0 20,1 29,0 23,3 Rata-rata 21,8B 23,5B 25,2A

dengan perlakuan pupuk 75% dan sebesar 15,59% dibandingkan dengan perlakuan pupuk 50% . Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan diantaranya untuk pertumbuhan sel, pembentukan akar halus dan rambut akar, dan memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah.

c. Lebar Daun Tanaman Sawi Sendok

Hasil pengamatan lebar daun sawi sendok pada minggu ke-5 ditunjukkan pada Tabel 8 di bawah ini :

Tabel 8. Pengaruh pemberian isolat bakteri dan variasi dosis pupuk terhadap lebar daun (cm/tanaman) pada minggu ke-5 setelah tanam (MST).

Kombinasi Bakteri

Pemupukan Fosfat (kg/ha)

Rata-rata

50 75 100

Kontrol 7,0 abcB 5,7 abcB 6,0 abcA 6,2

Bacillus subtilis J2 5,8 abcB 6,4 abcB 5.,5 abcA 5,9

Pseudomonas aeruginosa P2

4,8 abcB 6,5 abcB 5,1 abcA 5,4

Burkholderia sp. PS4 5,9 aB 7,0 aB 6,7 aA 6,5

Burkholderia sp. T9 5,4 abcB 6,4 abcB 6,1 abcA 5,9 J2+P2 4,9 abcB 3,3 abcB 8,0 abcA 5,4 J2+PS4 3,6 abcB 6,7 abcB 6,3 abcA 5,5 J2+T9 4,9 abcB 4,3 abcB 5,9 abcA 5,0 P2+PS4 4,6 abcB 6,7 abcB 5,4 abcA 5,5 P2+T9 4,3 cB 5,2 cB 4,3 cA 4,6 PS4+T9 5,9 cB 3,4 cB 4,8 cA 4,7 J2+P2+PS4 4,8 abcB 5,5 abcB 7,2 abcA 5,8 J2+P2+T9 4,0 abcB 5,4 abcB 5,8 abcA 5,1 P2+PS4+T9 6,2 abB 6,6 abB 6,4abA 6,4 J2+PS4+T9 3,9 bcB 4,2 bcB 6,2bcA 4,8 P2+J2+PS4+T9 4,6 abcB 4,6 abcB 6,7 abcA 5,6

Rata-rata 5,0 5,5 6,1

*angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama dalam satu kolom dan huruf besar yang sama dalam satu baris menunjukkan perbedaan yang tidak nyata menurut DMRT 5%

Hasil interaksi perlakuan bakteri dan dosis pemupukan paling baik pada minggu 5 dalam mempengaruhi lebar daun tanaman sawi sendok diperlihatkan oleh perlakuan Burkholderia sp. PS4 dengan dosis pemupukan 75 kg/ha yaitu sebesar 7,0 cm/tanaman atau lebih baik dari perlakuan kontrol sebesar 0,22%.

Menurut Wijaya (2008) pada tanaman yang kekurangan P pertumbuhan luas daun akan terhambat, karena terjadi penurunan tekanan hidrolik akar,

menghambat pembelahan sel dan pembesaran sel. Terhambatnya pertumbuhan disebabkan oleh sintesis karbohidrat yang tidak berjalan secara optimal. P juga berperan dalam pelebaran daun sehingga dengan daun yang lebar, maka akan semakin banyak cahaya yang diserap, dengan begitu akan mempengaruhi kelangsungan proses fotosintesis.

Penggabungan beberapa jenis bakteri dengan dosis yang sama, diasumsikan juga akan mengakibatkan terjadi persaingan antar bakteri dalam memenuhi kebutuhan energinya. Bakteri yang digabungkan terkadang dapat bersifat patogen terhadap bakteri lain, sehingga bakteri yang lemah akan mati dan total populasinya akan semakin menurun. Husen (2004) melaporkan bahwa, interaksi beberapa bakteri yang hidup pada wadah yang sama terkadang ada yang bersifat patogen, yang dapat menurunkan populasi bakteri yang lain. Hal ini akan sangat mempengaruhi kemampuan bakteri tersebut dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman. Bakteri dengan total populasi yang lebih besar akan lebih dominan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman.

d. Berat Basah Tanaman Sawi Sendok

Hasil perlakuan bakteri yang paling baik dalam mempengaruhi rata-rata berat basah tanaman sawi sendok diperlihatkan oleh perlakuan Burkholderia sp. PS4 sebesar 18,3 gram/tanaman. Pada perlakuan variasi dosis pupuk 50% dan 75% menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Tetapi perlakuan pupuk 100% lebih tinggi dalam mempengaruhi berat basah tanaman sawi sendok dibandingkan dengan perlakuan pupuk 50% dan 75%. Sehingga dapat dikatakan bahwa perlakuan pupuk 100% berpengaruh paling baik pada berat basah tanaman sawi sendok.

Hasil pengamatan berat basah tanaman sawi sendok pada minggu ke-5 ditunjukkan pada Tabel 9 di bawah ini :

Tabel 9. Pengaruh pemberian isolat bakteri dan variasi dosis pupuk terhadap berat basah (gram/tanaman) pada minggu ke-5 setelah tanam (MST).

Kombinasi Bakteri

Pemupukan Fosfat (kg/ha)

Rata-rata 50 75 100 Kontrol 11,3 12,5 14,7 12,8 ab Bacillus subtilis J2 8,0 8,9 15,6 10,8 bcd Pseudomonas aeruginosa P2 4,9 15,3 10,3 10,2 bcd Burkholderia sp. PS4 9,7 20,4 25,0 18,3 a Burkholderia sp. T9 6,0 10,2 10,6 8,9 bcd J2+P2 7,3 5,2 25,1 12,5 ab J2+PS4 4,9 5,8 15,0 8,6 bcd J2+T9 16,9 2,3 11,3 10,2 bcd P2+PS4 8,7 10,4 12,1 10,4 bcd P2+T9 5,3 1,7 5,4 4,1 d PS4+T9 4,8 6,2 3,5 4,8 cd J2+P2+PS4 4,3 12,3 20,2 12,3 ab J2+P2+T9 6,6 5,9 8,3 6,9 bcd P2+PS4+T9 16,4 12,0 10,2 12,8 ab J2+PS4+T9 6,7 5,1 10,9 7,6 bcd P2+J2+PS4+T9 9,3 9,9 16,7 11,9 abc Rata-rata 9,0B 8,2B 13,4A

*angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama dalam satu kolom dan huruf besar yang sama dalam satu baris menunjukkan perbedaan yang tidak nyata menurut DMRT 5%

Pada penelitian Widawati, 2006 pemberian inokulan BPF akan memperbaiki struktur tanah dan stabilitas agregat naik sehingga memudahkan penetrasi akar ke dalam tanah guna menyerap nutrisi yang tersedia. Selanjutnya proses fotosintesis senyawa penting lainnya untuk pertumbuhan akan meningkat sehingga menghasilkan asimilat yang tinggi dan dampaknya akan tampak pada kenaikan bobot daun segar sawi sendok bila dibandingkan dengan kontrol. Meningkatnya hasil tanaman akibat perlakuan bakteri pelarut P diperkirakan selain menghasilkan asam-asam organik yang dapat meningkatkan ketersedian P juga karena bakteri tersebut dapat menghasilkan phytohormon (Arshad dan Frankenberger, 1993). BPF juga menghasilkan enzim fosfatase yang berperan dalam meningkatkan mineralisasi P organik (Subba Rao, et al 1982 b) dari pupuk kandang, sehingga P tersedia menjadi lebih tinggi dan P yang diserap oleh tanaman menjadi lebih banyak.

*angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama dalam satu kolom dan huruf besar yang sama dalam satu baris menunjukkan perbedaan yang tidak nyata menurut DMRT 5%

e. Serapan P Tanaman Sawi Sendok

Hasil pengamatan serapan P tanaman sawi sendok pada minggu ke-5 ditunjukkan pada Tabel 10 di bawah ini :

Tabel 10. Pengaruh pemberian isolat bakteri dan variasi dosis pupuk terhadap serapan P (gram/tanaman) pada minggu ke-5 setelah tanam (MST).

Kombinasi Bakteri

Pemupukan Fosfat (kg/ha)

Rata-rata

50 75 100

Kontrol 0,72 aB 0,81 aAB 0,81 aA 0,78

Bacillus subtilis J2 0,45 abB 0,63 abAB 0,72 abA 0,60

Pseudomonas aeruginosa P2

0,27 abB 0,99 abAB 0,54 abA 0,60

Burkholderia sp. PS4 0,63 aB 1,17 aAB 0,99 aA 0,93

Burkholderia sp. T9 0,45 abB 0,45 abAB 0,72 abA 0,54 J2+P2 0,27 abB 0,36 abAB 0,27 abA 0,30 J2+PS4 0,27 abB 0,72 abAB 0,54 abA 0,51 J2+T9 0,72 abB 0,09 abAB 0,63 abA 0,48 P2+PS4 0,45 abB 0,90 abAB 0,63 abA 0,66 P2+T9 0,27 bB 0,36 bAB 0,27 bA 0,30 PS4+T9 0,72 abB 0,18 abAB 0,45 abA 0,45 J2+P2+PS4 0,18 aB 0,72 aAB 0,72 aA 0,54 J2+P2+T9 0,18 abB 0,63 abAB 0,45 abA 0,42 P2+PS4+T9 0,63 abB 0,81 abAB 0,36 abA 0,39 J2+PS4+T9 0,27 abB 0,63 abAB 0,63 abA 0,51 P2+J2+PS4+T9 0,27 abB 0,54 abAB 0,99 abA 0,60

Rata-rata 0,42 0,61 0,61

Hasil interaksi perlakuan bakteri dan dosis pemupukan paling baik dalam mempengaruhi serapan P tanaman sawi sendok diperlihatkan oleh perlakuan Burkholderia sp. PS4 dengan dosis 75 kg/ha yaitu sebesar 1,17 gram/tanaman. Hal ini dimungkinkan akibat terjadinya kompetisi dari beberapa bakteri yang dikombinasikan ketika diaplikasikan pada tanaman sawi sendok. Kompetisi atau persaingan antara mikroorganisme dapat terjadi apabila berada dalam ruang yang terbatas dengan kandungan nutrisi yang tidak tersedia dalam jumlah yang cukup (Wei et al., 1995). Isolat BPF tunggal seperti jenis Bacillus megaterium dan B. pantothenticus mampu menghasilkan bobot kering daun kumis kucing tertinggi (113,90 gram/pot) dibandingkan dengan perlakuan lainnya (Widawati dkk., 2002).

Wahyuningsih dkk. (1995) juga mengemukakan, bahwa isolat tunggal dapat meningkatkan secara Burkholderia sp. PS4 menunjukkan hasil paling tinggi terhadap serapan P dibandingkan dengan kontrol.

*angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama dalam satu kolom dan huruf besar yang sama dalam satu baris menunjukkan perbedaan yang tidak nyata menurut DMRT 5% Bakteri yang berasal dari tanah yaitu Burkholderia sp. T9 pada penelitian secara in vitro menunjukkan hasil paling baik dalam pelarutan fosfat dibandingkan dengan tiga isolat bakteri koleksi. Tetapi pada penelitian secara in vivo kemampuan Burkholderia sp. T9 dalam melarutkan fosfat yang terikat menjadi menurun. Hal ini disebabkan adanya mikrob indigenus yang berasal dari media tanam yang tidak dapat hidup bersinergis Burkholderia sp. T9 sehingga kemampuannya dalam melarutkan fosfat menurun. Sedangkan tiga isolat bakteri koleksi memiliki keunggulan dalam pengaplikasiannya pada media tanam yaitu diisolasi sebagai antagonis terhadap penyakit sehingga lebih mampu mengatasi mikrob indigenus.

f. Analisis P Dalam Jaringan Tanaman

Hasil pengamatan P dalam jaringan tanaman sawi sendok pada minggu ke-5 ditunjukkan pada Tabel 11 di bawah ini :

Tabel 11. Pengaruh pemberian isolat bakteri dan variasi dosis pupuk terhadap P dalam jaringan (%) pada minggu ke-5 setelah tanam (MST).

Kombinasi Bakteri

Pemupukan Fosfat (kg/ha)

Rata-rata

50 75 100

Kontrol 1,5 abcdB 1,4 abcdB 1,2 abcdA 1,4

Bacillus subtilis J2 0,8 bcdB 0,8 bcdB 1,3 bcdA 1,0

Pseudomonas aeruginosa P2

0,5 bcdB 1,8 bcdB 1,0 bcdA 1,1

Burkholderia sp. PS4 1,3 abcB 1,9abcB 1,5 abcA 1,5

Burkholderia sp. T9 1,1 bcdB 1,1 bcdB 1,4 bcdA 1,2 J2+P2 0,8 abB 0,6 abB 3,5 abA 1,6 J2+PS4 0,6 bcdB 1,4 bcdB 1,3 bcdA 1,1

J2+T9 1,5 bcdB 0,2 bcdB 1,3 bcdA 1,0

P2+PS4 1,0 abcdB 1,7 abcdB 1,4 abcdA 1,3 P2+T9 0,5 dB 0,7 dB 0,6 dA 0,6 PS4+T9 0,7 dB 0,4 dB 0,8 dA 0,7 J2+P2+PS4 1,0 abcdB 0,7 abcdB 2,1 abcdA 1,3 J2+P2+T9 0,4 bcdB 1,3 bcdB 0,9 bcdA 0,9 P2+PS4+T9 1,3 aB 1,5 aB 3,3 aA 2,0 J2+PS4+T9 0,5 bcdB 0,5 bcdB 1,3 bcdA 0,8 P2+J2+PS4+T9 0,6 bcdB 0,6 bcdB 1,8 bcdA 1,0

Hasil interaksi perlakuan bakteri dan dosis pemupukan paling baik dalam mempengaruhi P dalam jaringan tanaman sawi sendok diperlihatkan oleh perlakuan kombinasi bakteri bakteri P2+PS4+T9 dengan dosis 100 kg/ha yaitu sebesar 3,3%. Han dan Lee (2005) melaporkan bahwa mikrob tanah seperti bakteri Pseudomonas sp. dan Bacillus sp. dapat mengeluarkan asam-asam organik seperti asam formiat, asetat, dan laktat yang bersifat dapat melarutkan bentuk-bentuk sukar larut. Asam-asam organik yang dikeluarkan oleh bakteri ini dapat membentuk khelat (kompleks stabil) dengan kation-kation pengikat P di alam tanah seperti Al3+ dan Fe3+. Khelat tersebut dapat menurunkan reaktivitas ion-ion tersebut sehingga menyebabkan pelarutan fosfat yang efektif sehingga dapat diserap oleh tanaman.

g. Analisis P Dalam Tanah

Hasil pengamatan P tanah pada minggu ke-5 ditunjukkan pada Tabel 12 di bawah ini :

Tabel 12. Pengaruh pemberian isolat bakteri dan variasi dosis pupuk terhadap P dalam tanah (ppm) pada minggu ke-5 setelah tanam (MST).

Kombinasi Bakteri

Pemupukan Fosfat (kg/ha)

Rata-rata

50 75 100

Kontrol 6,0 ghC 7,5 ghB 6,8 ghA 6,8

Bacillus subtilis J2 10,4 cdefC 8,9 cdefB 11,6 cdefA 10,3

Pseudomonas aeruginosa P2

6,8 ghC 7,7 ghB 7,8 ghA 7,4

Burkholderia sp. PS4 7,2 fghC 9,8 fghB 8,1 fghA 8,4

Burkholderia sp. T9 4,6 hC 5,7 hB 8,4 hA 6,2 J2+P2 6,9 defC 15,1 defB 8,6 defA 10,2 J2+PS4 8,8 cdefC 14,9 cdefB 7,5 cdefA 10,4 J2+T9 6,8 abcC 5,5 abcB 26,7 abcA 13,0 P2+PS4 6,7 efghC 9,1 efghB 10,3 efghA 8,7 P2+T9 12,3 aC 13,0 aB 20,7 aA 15,3 PS4+T9 5,9 efgC 10,5 efgB 10,6 efgA 9,0 J2+P2+PS4 13,2 bcdeC 8,1 bcdeB 12,6 bcdeA 11,3 J2+P2+T9 13,7 abC 12,6 abB 14,0 abA 13,4 P2+PS4+T9 5,9 efghC 9,6 efghB 10,4 efghA 8,6 J2+PS4+T9 8,1 abcdC 12,0 abcdB 18,3 abcdA 12,8 P2+J2+PS4+T9 10,1 bcdC 15,8 bcdB 11,3 bcdA 12,4

Rata-rata 8,3 10,4 12,1

*angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama dalam satu kolom dan huruf besar yang

Hasil interaksi perlakuan bakteri dan dosis pemupukan paling baik dalam mempengaruhi P dalam tanah diperlihatkan oleh perlakuan kombinasi bakteri P2+T9 dengan dosis 100 kg/ha yaitu sebesar 20,7 ppm. Aktivitas pelarut fosfat oleh bakteri tetap tergantung pada lingkungannya, seperti jenis vegetasi, kelembaban, suhu, aerasi, dan reaksi tanah (Supriyo et al., 1992). Taha (1969) mengemukakan bahwa faktor kimia dan fisik tanah, serta vegetasi, rotasi tanaman dan kondisi lingkungan sangat mempengaruhi keberadaan bakteri. Terjadinya hal tersebut memang tidak terlepas dari fungsi timbal balik antara tanaman dan mikrob tanah indigenus dan yang terkandung dalam inokulan yang diinokulasikan pada tanaman. Menurut Hakim et al., (1986) unsur fosfor sangat penting karena terlibat langsung hampir pada seluruh proses kehidupan, oleh karena itu unsur P diperlukan dalam peningkatan produksi pertanian.

1. Isolat bakteri koleksi CV. Meori Agro yaitu 3 isolat bakteri koleksi CV. Meori Agro (Burkholderia sp. PS4, Bacillus subtilis J2 dan Pseudomonas aeruginosa P2) dan satu isolat asal tanah (Burkholderia sp. T9) merupakan Bakteri Pelarut Fosfat dan mampu melarutkan senyawa fosfat terikat. 2. Isolat bakteri koleksi CV. Meori Agro yaitu 3 isolat bakteri koleksi CV.

Meori Agro (Burkholderia sp. PS4, Bacillus subtilis J2 dan Pseudomonas aeruginosa P2) dan satu isolat asal tanah (Burkholderia sp. T9) dapat menghasilkan enzim fosfatase untuk melarutkan fosfat organik.

3. Isolat bakteri Burkholderia sp.T9 memiliki kemampuan paling baik dalam melarutkan fosfat terikat secara in vitro sedangkan isolat bakteri Burkholderia sp. PS4 memiliki kemampuan paling baik dalam melarutkan fosfat terikat secara in vivo sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman sawi sendok.

4. Isolat bakteri yang diaplikasikan secara tunggal memberikan hasil pelarutan fosfat terikat yang lebih baik dibandingkan kombinasi sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman sawi sendok. 5. Perlakuan bakteri dan variasi dosis pupuk SP-36 mampu mengurangi

penggunaan pupuk fosfat anorganik sebesar 25 kg/ha pada parameter lebar daun dan serapan p tanaman sawi sendok.

5.2. SARAN

Dilakukan penelitian lebih lanjut menggunakan empat isolat bakteri yang diujikan pada skala lapang dan pembuatan formula biofertilizer dari bakteri terpilih agar dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat luas.

Alexander, M. 1977. Introduction to Soil Mycrobiology. 2nd Ed. John Wiley and Sons. New York. 467 p.

Anonim. 2008. Marker Molekuler. http://www.fp.unud.ac.id [diakses tanggal 2 Desember 2012].

Arshad, M. and W.T. Frankenberger. 1993. Microbial Production of Plant Growth Regulator. p: 307-347. In. F.B. Metting. 1993. Soil Microbial Ecology. Marcel Dekker, Inc. Newyork-Basel-Hongkong.

Asea, P.E.A., R.M.N. Kucey, and J.W.B. Stewart. 1988. Inorganic phosphate solubilization by two Penicillium species in solution culture and soil. Soil Biol. Biochem. 20: 459-464.

Banik, S. and B.K Dey. 1982. Available phosphate content of on alluvial soil as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing micro-organism. Plant Soil. 69:353-364.

Beauchamp, E.G. and D.J. Hume. 1997. Agricultural soil manipulation: The use of bacteris, manuring, and plowing. p. 643-664. In J.D. van Elsas, J.T. Trevors, and E.M.H. Wellington (Eds.). Modern Soil Microbiology. Marcel Dekker, New York.

Biantary, Maya P. 2011. Pengaruh Pupuk (Urea Dan Sp-36) Dan Plant Activator Terhadap Pertumbuhan Anakan Rotan Pulut Merah (Calamus

Flabelloides). Fakultas Pertanian Universitas 17 Agustus 1945,

Samarinda.

Bray R.H., and L.T. Kurtz. 1945. Determination of total, organic and available forms of phosphorus in soils. Soil Sci. 59:39-45.

Buntan, A. 1992. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor.

Cattelan, A.J., P.G. Hartel, and J.J. Fuhrmann. 1999. Screening for plant growth-promoting rhizobacteria to promote early soybean growth. Soil Sci.Soc.Am.J. 63: 1.670-1.680.

Chen, X., J.J. Tang, Z.G. Fang, and S. Hu. 2002. Phosphate-solubilizing microbes in rhizosphere soils of 19 weeds in southeastern China. Journal of Zhejiang University Science. 3: 355-361

rhizobacteria enhance the growth and yield but not phosphorus uptake of canola (Brassica napus L.). Biol. Fertil. Soils. 24: 358-364.

Dev, G. 1996. Use rock phosphate in food grains production under irrigated and rainfed condition in India. In : Nutrient Management for Sistainable Food Production in Asia. International Conference in Asia, at December 9-12 1996, Bali, Indonesia. Agency for agricultural Research and Development (AARD). Ministry of Agriculture Republic of Indonesia. p.248-258. Earl, K.D., J.K. Syers, and J.R. Mc Laughlin. 1979. Origin of the effect of citrate,

tartarate, and acetate on phosphate sorption by soils and synthetic gels. Soil Sci. Am. J. 43: 476-678.

FAO. 1972. Nutrisi Tanaman Pangan. Food and Agricultural Organization of The United Nations, Roma. hlm 85.

Fatmarina S. 2000. Pengaruh Sinergisme Mikroorganisme Terhadap Pertumbuhan Tanaman hortikuHtura. Bandung: Fakultas Teknologi Industri Pertanian, UNPAD.

FNCA Biofertilizer Project Group. 2006. Biofertilizer Manual. Forum for Nuclear Cooperation in Asia (FNCA). Japan Atomic Industrial Forum, Tokyo. Gaur, A.C, R.S. Mathur, and K.V. Sadasivam. 1980. Effect of organic materials

and phosphate-dissolving culture on the yield of wheat and greengram. Indian. J. Agron. 25:501-503.

Gardner, F.P., Pearce R.B, dan Mitchell, R. L. diterjemahkan oleh Susilo, H dan Subiyanto., 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Penerbit Universitas Indonesia (UI Press), Jakarta.

Gazperz, V. 1991. Metode Perancangan Percobaan. Armico, Bandung. hlm 185. Glick BR, Karaturovic DM, P.C. Newell PC. 1995. A novel procedure for rapid

isolation of plant growth promoting pseudomonads. Can J Microbiol 41: 533-536.

Hakim, N., M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G. Nugroho, M.R. Saul, M.A. Diha, G.B. Hong, dan H.H. Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Unila, Lampung.

Han HS, Lee KD. 2005. Physiological responses of soybean-inoculation of Bradyrhizobium japonicum with PGPR in saline soil conditions. Res. J. Agric.Biol.Sci. 1(3): 216-221.

Handayanto, E dan Hairiyah,K.2007. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Edisi 3. Pustaka Adipura.

Havlin, J.L., J.P. Beaton, S.L. Tisdale, and W.L. Nelson. 1999. Soil Fertility and Fertilizers, an Introduction to Nutrient Management. 6th. Prentice Hall. New Jersey.

Hifnalisa. 1998. Populasi Mikroorganisme Pelarut Fosfat Pada Berbagai Tipe Penggunaan lahan dan Peranannya dalam Transformasi P anorganik Tanah. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Husen E. 2004. Screening Of Soil Bacteria For Plant Growth Promoting Activities in vitro. Short communication. Indonesian J Agric Sci. 4: 27-31. Jones, U.S. 1982. Fertilizer and Soil Fertility. 2nd

Virginia.

ed. Reston Publ. Co. Reston,

Joner, E.J., I.M. Aarle, and M. Vosatka. 2000. Phosphatase activity of extraradical arbuscular nycorrhiza hyphae: a review. Plant soil. 226:199-210.

Kasmita, R. 2010. Isolasi, Karakterisasi, Dan Identifikasimolekuler Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Dari Beberapa Sampel Tanah Di Bogor, Nusa Tenggara Barat (NTB), Dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Skripsi. Institut Pertanian Bogor.

Khan, J.A. and R.M Bhatnagar. 1977. Studies on Solubilization of insoluble phosphates by microorganism. I. Solubilization of Indian phosphate rocks by Aspergillus niger and Penicillium sp. Fert. Technol. 14:329-333.

Kloepper, J.W., & Schroth, M.N. 1978. Plant growth-promoting rhizobacteria on radish. 879-882. Dlm. Proc. 4th into Conf. Plant Pathogenic Bact. Gibert- Clarey,Tours, Franco.

Kloepper J.W., W. Mahaffee, J.A. Mcinroy, and P.A. Backman. 1991. Comparative analysis of isolation methods for recovering root-colonizing bacteria from roots. P.252-255. The second international workshop in PGPR. Interlaken, Switzerland, October 14-19, 1990.

Kloepper JW. 1993. Plant growth promoting rhizobacteria as biological control agents. In: Meeting Jr FB (ed.) Soil Microbial Ecology, Applications in Agricultural and Environmental Management. Marcel Dekker, Inc. New York. p. 255-274

Lal.L. 2002. Phosphate Biofertilizer. Agrotech. Publ. Academy. Udalpur, India. Lazo, G.R., Roeffey R., and Gabriel, D.W. 1987. Conservation of plasmid DNA

sequences and pathovar identification of strains Xanthomonas camprestis. Phytopathol. 77: 448-453.

Muladno. 2002. Seputar Teknologi Rekayasa Genetika. Pustaka Wirausaha Muda, Bogor.

Nagarajah, S., A.M. Posneer, and J.P. Ouirk. 1970. Description of phosphate from kaolinite by citrate an bicarbonate. Soil Sci. Am. J. 32:507-510

Norris, J.R., R.C.W. Berkeley, N.A.Logan, And A.G.O’Donnell. 1981. The Genera Bacillus and Sporalactobacillus. In : The Prokaryotes, Vol 2. SpringerVerlag, New York : 1711-1742.

Paul, E.A. and F.E. Clark. 1989. Phosphorus transformation in soil. In soil microbiology and Biochemistry. Academic Press, Inc. Harcount Brace Jovanovich, Publ.n New York.

Premono, M.E. 1994. Jasad Renik Pelarut Fosfat : Pengaruhnya Terhadap P Tanah dan Efisiensi Pemupukan P tanaman Tebu. Disertasi. Pascasarjana. Insitut Pertanian Bogor.

Premono, dan R. Widyastuti. 1994. Stabilitas Pseudomonas putida dalam medium pembawa dan potensinya sebagai pupuk hayati. Hayati. 1(2):55-58.

Rachmiati, Y. 1995. Bakteri Pelarut Fosfat dari Rhizosfer tanaman dan kemampuannya dalam melarutkan fosfat. Prosiding kongres nasional VI HITI, Jakarta, 12-15 Desember 1995.

Rizqiani, N. F; Ambarwati E; Yuwono Widya N. 2007. Pengaruh Dosis dan Frekuensi Pemberian Pupuk cair Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman.

Rubatzky, V. E. dan M. Yamaguchi, 1998. Sayuran Dunia 2 Prinsip, Produksi, dan Gizi. ITB, Bandung.

Rukmana. 1994. Bertanam Pakchoy. Kanisius, Yogyakarta

Russel, E. W. 1988. Soil Conditions and Plant Growth. 1 th Ed. Longman, New York.

Saleh, H.M., A.I. Yahya., A.M. Abdul-Rahem, and H. Munam. 1989. Availability of phosphorus in a calcareous soil treated with rock phosphateor superphosphate as affected by phosphate dissolving fungi. Plant Soil. 120: 181-185.

Saputra, R., 2007. Pemanfaatan Zeolit Sintesis sebagai Alternatif Pengolahan Limbah Industri. Erlangga, Jakarta.

biofertilizer production in Indonesia. pp. 45-57. In S. Manuwoto, S. Sularso, and K. Syamsu (Eds.). Proc. Seminar on Biotechnology : Sustainable Agriculture and Alternative Solution for Food Crisis. PAU-Bioteknologi IPB, Bogor.

Saraswati R, dan Sumarno 2008. Pemanfaatan mikroba penyubur tanah sebagai komponen teknologi pertanian. Iptek Tanaman Pangan 3(1): 49 – 50. Salvin. M. C., H. Taylor, J.H. Gorres, J.A. Amador. 2000. Seasonal Variation in

acis phosphatase activity as a function of landscape position and nutrient inputs. Agron. 92:391.

Seshadri S, Ignacimuthu,dan Lakshminarsimhan C, 2002. Variations in Heterotrophic and Phosphatesolubilizing Bacteria from Chennai, Southeast Coast of India. IndianJ. Mar. Sci. 31: 69–72.

Setiawati, Tri Candra. 1998. Efektivitas Mikroba Pelarut P dalam meningkatkan ketrsediaan P dan Pertumbuhan Tembakau Besuki Na-Oogst (Nicotiana tabaccum L). Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor

Simanungkalit, R. Suriadikarta, Didi, dkk. 2006. Pupuk organik dan Pupuk

Dokumen terkait