BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN
B. Penelitian Siklus I
Pada tahap perencanaan peneliti menyusun indikator kemudian membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Untuk menunjang pembelajaran peneliti membuat bahan ajar yang akan digunakan pada saat tindakan berlangsung. Selain itu, peneliti juga menyusun berbagai instrumen penelitian berupa LKS dan tes akhir siklus.
Bersama guru kolabolator, peneliti mendiskusikan RPP yang akan dilaksanakan, mendiskusikan penentuan siswa berkemampuan akademik tinggi, sedang, rendah, serta pembagian kelompok untuk pembelajaran siklus I.
b. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan tindakan bersamaan dengan tahap pengamatan/observasi. Pengamatan/observasi dilakukan oleh guru kolabolator. Pada tahap pelaksanaaan tindakan, peneliti melaksanakan RPP yang telah direncanakan dalam pembelajaran. Siklus I terdiri dari empat kali intervensi tindakan pembelajaran dan satu kali tes formatif akhir siklus I. Pelaksanaan tindakan siklus I dimulai tanggal 6 April sampai dengan tanggal 20 April 2013
dengan alokasi waktu masing-masing tindakan dan tes adalah 2 x 35 menit (2 jam pembelajaran).
Model pembelajaran yang digunakan dalam pelaksanaan tindakan siklus I adalah model pembelajaran CIRC. Dalam pembelajaran peneliti tidak memberikan rumus kepada siswa, namun memberikan pengantar melalui permasalahan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya peneliti membagikan topik/lembar permasalahan kepada siswa untuk didiskusikan serta dikerjakan secara berkelompok. Sebelumnya peneliti sudah membentuk kelompok belajar siswa yang terdiri dari 3-4 orang. Peran peneliti selama siswa mendiskusikan materi yang dipelajari adalah sebagai fasilitator. Selama pembelajaran di siklus I, kelompok yang telah terbentuk tidak mengalami perubahan.
Berikut ini adalah deskripsi data hasil intervensi tindakan siklus I pada setiap pertemuan:
1. Pertemuan ke-1 (Sabtu, 6 April 2013)
Materi pembelajaran yang disampaikan pada pertemuan ke-1 adalah mengenal bangun ruang sisi datar. Terdapat 28 siswa yang mengikuti pembelajaran yang tersebar dalam 7 kelompok yang beranggotakan 4 orang. Pertemuan pertama berlangsung selama 2 x 35 menit (2 jam pelajaran). Peneliti membuka kegiatan pembelajaran dengan memberi salam dan memeriksa absensi/kehadiran siswa. Guru mata pelajaran matematika hadir sebagai observer untuk mengamati aktivitas siswa satu persatu di dalam tiap kelompok dan melakukan penilaian pada peneliti ketika proses pembelajaran berlangsung kemudian dicatat pada lembar observasi. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi bagi perbaikan pengajaran pada pertemuan selanjutnya.
Kegiatan pembelajaran selanjutnya peneliti memberikan informasi kepada siswa mengenai manfaat mengenal Bangun Ruang Sisi Datar. Kemudian peneliti bercerita mengenai keberadaan Bangun Ruang Sisi Datar yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian peneliti memberikan LKS yang berisi topik dan lembar masalah untuk dikerjakan secara berkelompok. Kemudian siswa diminta mendiskusikan dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan terkait
materi pembelajaran yang tersedia dalam lembar masalah secara berkelompok. Dalam LKS siswa dituntut untuk mengembangkan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematik siswa. Hasil diskusi siswa dituangkan di dalam lembar kerja kelompok mereka, yang nantinya setiap kelompok harus mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Kemudian dari hasil persentasi tersebut siswa dibantu guru untuk menyimpulkan jawaban yang tepat.
Berdasarkan pengamatan, masih banyak siswa yang merasa kesulitan dalam menjawab LKS. Adapun sebagian siswa terlihat bingung memahami soal cerita yang diberikan sehingga siswa cenderung lebih sering bertanya atau menyalin jawaban kepada teman sekelompoknya dan sesekali pula bertanya kepada guru.
Gambar 4.1
Siswa masih terlihat menyalin jawaban siswa lain
Kemudian setelah siswa berdiskusi secara kelompok untuk membahas jawaban LKS tersebut siswa terlihat lebih mengerti. Hanya 3 kelompok yang terlihat aktif berdiskusi, mereka mampu menyelesaikan soal dengan baik secara bersama-sama dan aktif saat berdiskusi dengan kelompok lain. Kelompok lainnya cenderung pasif karena beberapa siswa hanya diam dan malu saat presentasi hasil jawaban mereka.
Setelah proses diskusi kelas selesai, peneliti merumuskan jawaban yang benar dan menjelaskan dengan kata-kata dan mengaitkan masalah sehari-hari yang berhubungan dengan bangun ruang sisi datar. Kemudian peneliti memberikan satu soal kuis untuk mengecek pemahaman siswa secara individu yang kemudian
ditutup dengan memberikan pekerjaan rumah (PR) oleh peneliti. Dari hasil kuis tersebut terlihat bahwa siswa sebagian besar masih bingung untuk menyelesaikan soal cerita yang berkenaan dengan unsur kubus dan balok.
2. Pertemuan ke-2 (Kamis, 11 April 2013)
Pada pertemuan ke-2 materi yang dipelajari adalah mengenai membuat jaring-jaring kubus dan balok. Siswa diharapkan dapat membuat dan mengenal jaring-jaring kubus dan balok serta menghitung panjang rusuk kerangka kubus dan balok. Jumlah siswa yang hadir mengikuti pembelajaran sebanyak 28 orang.
Pembelajaran diawali dengan mengingat kembali pelajaran sebelumnya dan menceritakan kepada siswa mengenai sifat bangun kubus dan balok. Kemudian peneliti bertanya kepada siswa mengenai contoh penggunaan bangun kubus dan balok yang terdapat pada kehidupan sehari-hari, salah satu siswa menjawab Siswa: contohnya pak, sebuah kardus bentuk kubus atau balok, kita dapat membungkus barang dengan mengetahui ukuran panjang dan lebar barang tersebut. Peneliti membenarkan pernyataan siswa tersebut dan menyarankan kepada siswa lain untuk membaca buku terlebih dahulu sebelum pembelajaran dimulai.
Kegiatan pembelajaran selanjutnya peneliti memberikan lembar kerja siswa (LKS) untuk dikerjakan secara berkelompok. Kegiatan awal ini peneliti memberikan kesempatan untuk siswa memahami soal yang diberikan dan mendiskusikannya di dalam kelompok. Kemudian peneliti berkeliling kelas untuk memastikan bahwa siswa mengerjakan lembar masalah yang diberikan. Setelah perintah dalam topik 2 telah dikerjakan oleh semua siswa, peneliti bertanya kepada siswa untuk mengetahui berapa jumlah siswa yang tidak dapat membuat jaring-jaring kubus dan balok dari topik tersebut dan menghitung panjang kerangka kubus dan balok pada lembar masalah yang diberikan. Terdapat setengah dari jumlah siswa yang tidak dapat mengerjakannya. Pada saat mengerjakan lembar masalah siswa terlihat masih bertanya atau berdiskusi dengan teman sekelompoknya. Berikut adalah perbandingan jawaban siswa soal nomor 1.
Gambar (i)
Soal no.1: Sukma memiliki kawat sepanjang 156 cm. Ia ingin menggunakan kawat tersebut untuk membuat kerangka kubus. Berapa panjang rusuk kubus agar kawat tidak bersisa?
Gambar 4.2 (i) dan (ii)
Perbandingan jawaban siswa soal nomor 1
Dari kedua jawaban tersebut terlihat bahwa kedua siswa masih memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengerjakan soal berbentuk soal cerita. Untuk jawaban yang pertama, pemahaman untuk menerjemahkan kalimat dalam soal menjadi bentuk lain sudah cukup baik. Siswa tersebut sudah memiliki pemahaman dalam mengidentifikasikan soal cukup baik. Siswa mampu menerjemahkan kalimat dalam soal cerita ke dalam bentuk lain. Sedangkan untuk gambar yang kedua, siswa dalam pengerjaannya masih terlihat belum dapat menerjemahkan
kalimat dalam soal ke bentuk lain. Sehingga terlihat masih belum menunjukkan kemampuan penyelesaian soal cerita secara operasional.
Kemudian siswa diminta mendiskusikan dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan terkait materi pembelajaran yang tersedia dalam LKS secara berkelompok. Hasil diskusi siswa dituangkan di dalam lembar kerja kelompok, yang nantinya setiap kelompok harus mempersentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Beberapa kelompok masih tidak berani untuk mengeluarkan pendapatnya di depan kelas. Padahal siswa dalam kelompok tersebut telah mampu mengerjakannya di lembar keja siswa. Kemudian masing-masing kelompok menuliskan jawaban yang mereka dapatkan di lembar kerja yang telah diberikan dan mempresentasikan di depan kelas. Menurut pengamatan peneliti bahwa sebagian besar siswa terlibat dalam aktivitas pembelajaran. Hal ini mungkin disebabkan karena siswa sudah mulai membiasakan melakukan diskusi dan mulai menyesuaikan diri dengan teman-teman sekelompoknya. Terdapat berbagai pertanyaan saat diskusi berlangsung, diantaranya Siswa bertanya: pak, kok gambar jaring-jaring yang saya buat beda ya untuk nomor 2, apakah gambar yang saya buat salah?. Peneliti: coba gambarkan jawabanmu di papan tulis. Kemudian dari hasil presentasi tersebut siswa dibantu guru untuk menyimpulkan jawaban yang tepat.
Setelah proses diskusi kelas selesai, peneliti merumuskan jawaban yang benar mengenai soal yang diberikan dalam lembar masalah. Kemudian peneliti memberikan satu soal kuis untuk mengecek pemahaman siswa secara individu yang kemudian ditutup dengan memberikan pekerjaan rumah (PR) oleh peneliti.
Pada saat mengerjakan kuis terlihat siswa antusias mengerjakan soal yang diberikan, hal ini terlihat dari sedikitnya siswa yang berdiskusi atau bertanya kepada temannya.
3. Pertemuan ke-3 (Sabtu, 13 April 2013)
Pada pertemuan ke-3 materi yang disampaikan adalah merumuskan luas permukaan kubus dan balok. Siswa yang hadir mengikuti pembelajaran sebanyak 28 orang siswa dengan tidak ada yang berhalangan hadir.
Pembelajaran diawali dengan mengingat kembali pelajaran sebelumnya mengenai unsur-unsur serta karakteristik kubus dan balok. Kemudian peneliti bertanya kepada siswa mengenai bagaimana rumusan luas permukaan kubus dan balok, salah satu siswa menjawab Siswa: rumusan luas permukaan kubus itu enam kali kuadrat sisi. Kemudian siswa yang lainnya menambahkan Siswa: luas permukaan itu jumlah dari semua luas sisi yang ada. Peneliti: iya kalian semua benar. Peneliti membenarkan pernyataan siswa tersebut dan mempersilahkan siswa untuk membaca buku terlebih dahulu.
Kegiatan pembelajaran selanjutnya peneliti memberikan lembar topik pembelajaran untuk dikerjakan secara kelompok untuk menemukan merumuskan luas permukaan kubus dan balok. Kegiatan awal ini peneliti memberikan kesempatan untuk siswa memahami soal yang diberikan. Kemudian peneliti berkeliling kelas untuk memastikan bahwa siswa mengerjakan lembar permasalahan yang diberikan. Setelah soal nomor 1 telah dikerjakan oleh semua siswa, peneliti bertanya kepada siswa untuk mengetahui berapa jumlah siswa yang tidak dapat menentukan rumusan luas permukaan kubus tersebut dari soal nomor 1 dan menentukan rumusan luas permukaan balok pada nomor 2. Terdapat beberapa dari jumlah siswa yang tidak dapat mengerjakannya.
Kemudian siswa diminta mendiskusikan dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan terkait materi pembelajaran yang tersedia dalam lembar masalah secara berkelompok. Hasil diskusi siswa dituangkan di dalam lembar kerja kelompok, yang nantinya setiap kelompok harus mempersentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Hampir semua kelompok terlihat antusias saat diskusi berlangsung, hanya tiga kelompok yang terlihat tidak percaya diri pada jawaban mereka. Menurut pengamatan peneliti bahwa sebagian besar siswa terlibat dalam aktivitas pembelajaran. Berikut adalah gambar perwakilan kelompok yang sedang mempresentasikan hasil lembar kerja kelompok mereka dari tiga kelompok yang berbeda.
Gambar 4.3
Kegiatan siswa mempresentasikan jawaban kelompok
Dari jawaban ketiga kelompok di atas adalah bahwa antara ketiga kelompok tersebut sudah sama-sama memahami soal. Hanya saja didapat bahwa kelompok pertama dan ketiga sudah mampu menginterpretasikan soal ke dalam bentuk lain atau sudah mampu menginterpretasikan soal cerita. Sedangkan untuk kelompok kedua siswa belum mampu menginterpretasikan soal dengan baik.
Setelah proses diskusi kelas selesai, peneliti merumuskan jawaban yang benar serta bersama dengan siswa peneliti menyimpulkan jawaban yang tepat mengenai materi luas permukaan kubus dan balok. Kemudian peneliti memberikan satu soal kuis mengenai luas permukaan kubus atau balok untuk mengecek pemahaman siswa secara individu yang kemudian ditutup dengan memberikan pekerjaan rumah (PR) oleh peneliti. Pada saat mengerjakan kuis terlihat siswa antusias mengerjakan soal yang diberikan, hal ini terlihat dari tidak ada siswa yang berdiskusi atau bertanya kepada temannya. Siswa hanya sedikit yang terlihat bingung menentukan luas permukaan kubus dan balok.
4. Pertemuan ke-4 (Kamis, 18 April 2013)
Pada pertemuan ke-4 materi yang disampaikan adalah menghitung volume kubus dan balok. Siswa yang hadir mengikuti pembelajaran sebanyak 28 orang.
Pembelajaran diawali dengan mengingat kembali pelajaran sebelumnya mengenai luas permukaan kubus dan balok. Kegiatan pembelajaran selanjutnya peneliti memberikan lembar topik untuk dipahami dan dikerjakan secara kelompok dalam menghitung volume kubus dan balok serta masalah yang berkaitan. Kegiatan awal ini peneliti memberikan kesempatan untuk siswa memahami topik yang diberikan. Kemudian peneliti berkeliling kelas untuk memastikan bahwa siswa mendiskusikan topik yang diberikan. Ternyata hampir seluruh siswa mampu mengerjakannya.
Kemudian siswa diminta mendiskusikan dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan terkait materi pembelajaran yang tersedia dalam lembar masalah secara berkelompok. Hasil diskusi siswa dituangkan di dalam lembar kerja, yang nantinya setiap kelompok harus mempersentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Kemudian masing-masing kelompok menuliskan jawaban yang mereka dapatkan di lembar kerja yang telah disediakan dan mempresentasikan di depan kelas. Semua kelompok terlihat antusias saat berdiskusi. Menurut pengamatan peneliti bahwa sebagian besar siswa terlibat dalam aktivitas pembelajaran. Kemudian dari hasil persentasi tersebut siswa dibantu guru untuk menyimpulkan jawaban yang tepat.
Gambar 4.4
Kegiatan siswa saat presentasi di depan kelas
Terdapat 5 kelompok yaang sangat antusias ketika berdiskusi. Mereka yakin dengan jawaban mereka yang mereka presentasikan. Saat berdiskusi bukan
hanya siswa berkemampuan tinggi saja yang aktif, tetapi siswa berkemampuan rendah dan sedang juga terlihat antusias saat berdiskusi.
Setelah proses diskusi kelas selesai, peneliti merumuskan jawaban yang benar mengenai menghitung volume kubus dan balok serta masalah yang berkaitan. Kemudian peneliti memberikan satu soal kuis untuk mengecek pemahaman siswa secara individu yang kemudian ditutup dengan memberikan pekerjaan rumah (PR) oleh peneliti. Pada saat mengerjakan kuis terlihat siswa antusias mengerjakan soal yang diberikan, hal ini terlihat dari tidak ada siswa yang berdiskusi atau bertanya kepada temannya.
5. Pertemuan ke-5 (Sabtu, 20 April 2013)
Pada pertemuan kelima ini akan dilakukan tes siklus I yaitu tes kemampuan menyelesaikan soal cerita matematik siswa bahasan kubus dan balok yang terdiri dari 6 soal uraian. Tes berlangsung selama 2 jam pelajaran. Tes ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menerjemahkan kalimat dalam soal cerita menjadi bentuk lain, menentukan konsep-konsep yang tepat dalam menyelesaikan soal cerita dan menggunakan konsep yang telah diketahui dan merapkannya dalam perhitungan matematis untuk menyelesaikan soal.
Pada saat memasuki kelas, siswa sudah terlihat siap untuk mengikuti tes yang akan diberikan. Pelaksanaan tes siklus I ini berjalan lancar. meskipun masih banyak siswa yang sering menanyakan untuk memastikan jawaban mereka tetapi peneliti selalu mencoba membimbing siswa untuk mandiri dalam menemukan hasil jawaban yang benar.
Setelah pelaksanaan tes siklus I, kemudian peneliti meminta waktu kepada siswa untuk mengisikan angket atau melakukan wawancara dengan siswa untuk mengungkap pendapat mereka tentang pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Serta mengumpulkan dan mendiskusikan hasil lembar observasi yang telah diisi oleh observer (guru kelas) yang berisi catatan proses pembelajaran.
Gambar 4.5
Kondisi siswa saat mengerjakan tes akhir siklus I
c. Tahap Observasi dan Analisis
Tahap ini dimulai pada saat bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Pengamatan yang dilakukan oleh peneliti selaku pelaksana tindakan dan guru bidang studi matematika selaku observer untuk mengamati respon serta aktivitas siswa dalam pembelajaran di kelas. Pengamatan terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran dilakukan dengan penilaian langsung melihat dari kegiatan siswa selama mengisi LKS dan saat berdiskusi dengan mengacu pada lembar observasi belajar siswa.
Hasil pengamatan pada lembar observasi dapat dilihat pada Tabel 4.3. Dari data Tabel 4.3 tersebut diketahui bahwa persentase aktivitas belajar matematika siswa siklus I sebesar 61,89%. Terlihat aktivitas siswa mengerjakan lembar masalah atau LKS di kelas memperoleh rata-rata paling tinggi diantara aktivitas yang lain. Aktivitas siswa masih rendah dalam aktivitas memberikan tanggapan atas jawaban kelompok lain. Keterlibatan siswa dalam hal pengerjaan lembar permasalahan atau LKS di kelas memperoleh rata-rata lebih tinggi dibanding aktivitas lain, hal ini dikarenakan menurut mereka mengerjakan lembar masalah atau LKS membuat mereka nantinya terbantu belajar ketika ulangan karena ditulis dengan tangan mereka sendiri dan mengerjakannya dengan berdiskusi kepada teman kelompok, sedangkan untuk memberikan kesimpulan mereka merasa masih
tampak ragu-ragu atau malu untuk menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan, dan hanya beberapa siswa yang terlihat berani.
Tabel 4.3
Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Pada Siklus I
No Aspek yang diamati
Presentase(%) Pertemuan Rata-rata (%)
1 2 3 4
1 Siswa tertib dan disiplin selama proses pembelajaran
61.9 66.67 66.67 80.95 69.05
2 Siswa memperhatikan apa yang sedang dijelaskan guru
66.67 61.9 71.43 66.67 66.67
3 Siswa terlihat aktif dalam diskusi kelompok selama proses
pembelajaran berlangsung
47.62 71.43 66.67 76.19
65.45
4
Siswa memperhatikan penjelasan dari siswa lain yang
mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya
47.62 57.14 57.14 57.14
54.76 5 Siswa memberikan tanggapan
atas jawaban kelompok lain
23.81 52.38 66.67 66.67
52.38 6 Siswa memperhatikan tanggapan
atau penjelasan guru mengenai hasil diskusi kelompok siswa
52.38 66.67 61.9 71.43
63.01 7 Siswa terlibat dalam hal
pengerjaan lembar permasalahan atau LKS di kelas
71.43 66.67 71.43 71.43
70.24 8 Siswa dapat mempresentasikan jawabannya dengan baik di
dalam pembelajaran
42.86 66.67 66.67 66.67
60.72 9 Siswa dapat memberikan
kesimpulan atas pembelajaran yang telah dilakukan
28.57 57.14 66.67 66.67
54.76
Rata-rata 61.89
Pada setiap pertemuan juga terlihat adanya peningkatan rata-rata aktivitas siswa. Meskipun mengalami peningkatan, namun belum mengalami peningkatan secara keseluruhan, sehingga peneliti menganggap masih ada beberapa kekurangan yang dapat terlihat dari setiap pertemuan. Serta presentase yang diharapkan belum mencapai indikator keberhasilan kinerja yaitu aktivitas siswa
dalam pembelajaran matematika pada tiap siklus mencapai ≥ 70%. Hal ini mungkin dikarenakan masih banyaknya siswa yang belum bisa beradaptasi dengan penerapan model pembelajaran CIRC yang mengarahkan siswa menemukan sendiri konsep serta berdiskusi dengan teman sekelompoknya atas pemahamannya terhadap materi.
Selain menggunakan lembar observasi, peneliti juga melakukan wawancara kepada siswa untuk memperkuat data observasi. Hasil wawancara yang dilakukan pada siklus I adalah sebagai berikut:
1) Siswa mulai menyukai pembelajaran matematika dengan model pembelajaran CIRC.
2) Sebagian dari siswa antusias dalam mengerjakan LKS dengan kemampuan mereka sendiri, namun sebagian yang lain masih perlu berdiskusi dengan teman-temannya.
3) Dengan pembelajaran CIRC dapat membantu siswa dalam memahami materi yang diberikan.
4) Dengan pembelajaran CIRC, siswa jadi dapat melatih kemampuan berfikirnya secara individu maupun secara kooperatif, serta dapat melatih kemampuan menyelesaikan soal cerita dengan berdiskusi bersama.
5) Siswa memberi saran agar penjelasan dan bimbingan yang diberikan peneliti harus lebih jelas dan tidak terlalu cepat.
6) Dalam pembelajaran dengan model CIRC ini guru memberikan saran bahwa peneliti harus dapat lebih memperhatikan siswa yang tertinggal dalam memahami materi.
Penelitian ini juga menggunakan angket siswa untuk mengetahui respon siswa terhadap model pembelajaran CIRC pada siklus I. Berdasarkan hasil perhitungan, rata-rata persentase siswa yang memberi respon positif selama 4 kali pertemuan sebesar 64,29%, sedangkan siswa yang dianggap memberikan respon negatif sebesar 35,71%. Rekapitulasi persentase respon siswa terhadap pembelajaran selama siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut:
Tabel 4.4
Hasil Angket Respon Siswa pada Siklus I
No Kategori Frekuensi Rata-rata (%)
1 Positif 18 64,29
2 Negatif 10 35,71
Jumlah 28 100
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa respon positif siswa selama pembelajaran sisklus I lebih besar dibandingkan dengan respon yang negatif. Hal ini berarti sebagian besar siswa menyatakan respon yang positif terhadap model pembelajaran CIRC. Pendapat-pendapat siswa tersebut baik yang positif maupun negatif akan dijadikan bahan refleksi untuk tindakan pembelajaran selanjutnya. Hampir seluruh siswa yang menunjukkan respon negatif ialah siswa yang selama pembelajaran masih terlihat belum aktif serta memiliki nilai harian yang masih rendah. Hal inilah yang akan dijadikan bahan acuan refleksi untuk tindakan pembelajaran selanjutnya.
Tabel 4.5
Hasil Tes Soal Cerita Matematika Siklus I Nilai Frekuensi Frekuensi
kumulatif Frekuensi kumulatif (%) 37 – 45 3 3 10,71 46 – 54 2 5 17,86 55 – 63 5 10 35,71 64 – 72 4 14 50,00 73 – 81 8 22 78,57 82 – 90 4 26 92,86 91 – 99 1 27 96,43 100 – 108 1 28 100,00 Jumlah 28 Rata-rata 70,06
10 8 2 4 6 Frekuensi 36,5 45,5 54,5 63,5 72,5 81,5 90,5 Nilai 99,5 108,5
Adapun hasil kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika siklus I dalam penelitian ini akan terlihat melalui hasil tes kemampuan menyelesaikan soal cerita siswa dalam siklus I. Sebagaimana yang tersaji dalam Tabel 4.5 di atas yang menunjukkan hasil tes kemampuan menyelesaikan soal cerita siswa pada siklus I.
Tabel 4.6
Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I
Siswa yang tuntas 18
Siswa yang tidak tuntas 10
Persentase siswa yang tuntas 64,29%
Berdasarkan Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa terdapat sekitar 35,71% yang belum tuntas indeks keberhasilan siswa dan 64,29% yang telah tuntas. Hal ini mengalami kenaikan dari saat sebelum diberikan tindakan/pra penelitian. Dari hasil nilai kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita, diperoleh nilai terendah 40 dan nilai tertinggi 100, rata-rata 70,06. Hasil tes kemampuan menyelesaikan soal cerita siswa pada siklus I ini disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut :
Gambar 4.6
Grafik Histogram dan Polygon Distribusi Frekuensi Hasil Tes Akhir Siklus I
Berdasarkan Gambar 4.6 dapat dilihat bahwa kemampuan menyelesaikan soal cerita matematik siswa pada siklus I menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh nilai diatas rata-rata lebih banyak dibandingkan dengan siswa yang memperoleh nilai dibawah rata-rata. Pada siklus I persentase siswa yang mencapai indeks keberhasilan mengalami peningkatan yaitu sebesar 64,29%, sedangkan siswa yang belum mencapai indiks keberhasilan sebesar 35,71% dari 28 siswa. Jika dilihat dari nilai rata-rata 70,06 sudah mencapai indikator keberhasilan kinerja yang telah ditentukan oleh peneliti yaitu ≥ 70. Meskipun pencapaiannya belum optimal.
Sedangkan masing-masing indikator kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa dapat dilihat berdasarkan hasil persentase skor yang diperoleh pada siklus I, sebagai berikut:
Tabel 4.7
Persentase Skor Tiap Indikator Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Siklus I
Indikator Kemampuan
Menyelesaikan Soal Cerita Persentase Kategori
Memahami soal 69,05% Cukup
Membuat model matematika 66,82% Cukup
Menyelesaikan model matematika 75,20% Baik
Menafsirkan model matematika 69,64% Cukup
Rata-rata 70,18% Baik
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa dari keempat indikator kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa hanya ada satu indikator yang mencapai kategori baik yaitu kemampuan menyelesaikan model matematika. Untuk tahap memahami soal, membuat model dan menafsirkan model