• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN

C. Penelitian Siklus II

Pada tahap perencanaan peneliti menentukan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator yang akan dicapai pada siklus II dan menyusunnya menjadi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Selain itu untuk menunjang pembelajaran disusun pula lembar permasalahan atau lembar kerja siswa, dan instrumen tes siklus II. Dengan guru kolaborator peneliti mendiskusikan RPP, dan merencanakan pelaksanaan yang menjadi perbaikan-perbaikan tindakan untuk siklus II berdasarkan hasil refleksi siklus I.

b. Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan pada siklus II ini terdiri dari 5 pertemuan (pertemuan ke-6 sampai ke-10). Pada pertemuan ke-6 sampai pertemuan ke-9 peneliti memberikan pembelajaran dengan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dan memberikan tes formatif siklus II dipertemuan ke-10. Model pembelajaran yang diterapkan terhadap subjek penelitian/siswa pada pelaksanaan tindakan siklus II ini dilaksanakan perbaikan-perbaikan berdasarkan hasil refleksi siklus I yaitu dengan merubah anggota kelompok yang tetap heterogen tetapi merubah anggota kelompok disesuaikan dengan kedekatan anggota kelompok.

Siklus II ini terdiri dari 4 kali intervensi tindakan pembelajaran dan 1 kali tes diakhir siklus II, pelaksanan tindakan ini dimulai tanggal 2 Mei 2013 sampai dengan 30 Mei 2013, dengan alokasi waktu masing-masing tindakan dan tes adalah 2 x 35 menit (2 jam pembelajaran).

Berikut ini adalah deskripsi data hasil intervensi tindakan siklus II pada setiap pertemuan:

1. Pertemuan ke-6 (Kamis, 2 Mei 2013)

Pertemuan ke-6 yang merupakan pertemuan pertama di siklus II membahas mengenai materi menentukan unsur-unsur dan membuat jaring-jaring prisma. Siswa yang hadir dalam pertemuan ini adalah 27 orang 1 orang siswa berhalangan hadir dikarenakan sakit.

Peneliti memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai pengetahuan siswa terhadap materi bangun prisma. Dari beberapa jawaban siswa terlihat bahwa sebagian besar siswa tidak ingat terhadap materi yang pernah dibahas pada jenjang SD. Kemudian peneliti memberikan beberapa contoh mengenai bangun prisma dan memberikan pertanyaan mengenai kesimpulan yang didapat berdasarkan beberapa contoh yang diberikan.

Gambar 4.7

Siswa terlihat antusias ketika mengerjakan lembar kerja kelompok Kemudian peneliti memberikan topik dan lembar permasalahan kepada siswa unuk dibahas dan dikerjakan secara kelompok. Pada pertemuan ini, siswa berkemampuan rendah menunjukkan keaktifan dengan lebih sering memperhatikan dan mengerjakan tugas yang diberikan. Pada saat berdiskusi siswa pun menunjukkan keaktifan lebih. Hal ini dikarenakan posisi duduk mereka yang berada di depan kelas sehingga fokus mereka terhadap pembelajaran lebih baik. Sebaliknya, dua kelompok yang berada di paling belakang kelas cenderung kurang fokus. Walaupun demikian mereka tetap mencatat dan mengerjakan tugas yang diberikan. Pada pembelajaran ini beberapa kelompok melaksanakan diskusi dengan baik. Namun ada pula kelompok yang tidak memaksimalkan kegiatan diskusi, mereka cenderung mendiskusikannya terlebih dahulu dibanding menyelesaikan soal secara individu.

2. Pertemuan ke-7 (Senin, 4 Mei 2013)

Pertemuan ke-7 membahas mengenai materi memecahkan masalah yang berkaitan dengan luas permukaan dan volume prisma. Siswa yang hadir 27 orang dan 1 lainnya absen. Pembelajaran diawali dengan siswa diberikan LKS untuk didiskusikan dan diselesaikan. Kemudian siswa mendiskusikannya secara berkelompok.

Pembelajaran pada pertemuan ini berjalan efektif dan aktivitas belajar matematika siswa sangat aktif. Hal ini dikarenakan adanya perubahan anggota

kelompok sehingga cocok dengan mereka. Setelah seluruh kelompok menyelesaikan jawabannya, kemudian peneliti mempersilahkan kelompok 3 dan kelompok 4 masing-masing mengerjakan soal nomor 1 dan 2. Kedua kelompok dapat menjawab dengan benar, namun terdapat kesalahan pada penjelasan mengenai konsep yang terbentuk pada soal nomor 1 yang diberikan oleh kelompok 3. Hal ini terlihat dari proses diskusi serta tanya jawab antara siswa. Beberapa kelompok siswa mempertanyakan penjelasan yang diberikan oleh salah satu kelompok, dimana jawaban tersebut salah. Kemudian beberapa siswa maju ke depan kelas untuk memberikan penjelasan yang benar mengenai pola yang terbentuk pada soal nomor 1.

Kemudian siswa diberikan kuis untuk melihat kemampuan menyelesaikan soal cerita mereka terhadap materi pada pertemuan ini. Adanya kuis dan sistem skoring kelompok memacu siswa lebih giat dalam belajar.

Berdasarkan kegiatan tersebut terlihat bahwa beberapa siswa telah dapat membuat suatu penyelesaian yang tepat. Terlihat dari setiap kelompok yang mengalami kemajuan dalam penyelesaian suatu masalah. Bahwa pada pembelajaran siklus yang pertama siswa terlihat masih belum dapat mengerjakan suatu masalah secara operasional. Tetapi pada siklus kedua, siswa mampu memahami maksud soal dan menyelesaikannya secara operasional serta mampu menginterpretasikannya dengan baik. Berikut adalah perbandingan pengerjaan jawaban lembar masalah salah satu kelompok :

Gambar 4.8 (i) siklus I dan (ii) siklus II

Perbandingan penyelesaian soal salah satu kelompok ( ii )

3. Pertemuan ke-8 (Kamis, 9 Mei 2013)

Menentukan unsur-unsur dan membuat jaring-jaring limas adalah materi yang disampaikan pada pembelajaran ke-8, pembelajaran ini dihadiri oleh 28 siswa.

Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Setelah itu siswa diberikan topik serta lembar permasalahan unuk dikerjakan dan kemudian mendiskusikannya secara berkelompok. Siswa-siswa dalam pertemuan ini sangat fokus perhatiannya terhadap pembelajaran. Namun pada aktivitas diskusi kelompok berjalan kurang maksimal hal ini dikarenakan alokasi waktu untuk berdiskusi kurang memadai sehingga siswa cenderung menyelesaikan soal-soal secara sendiri-sendiri. Tetapi ketika mempersentasikan hasil diskusinya di depan kelas, semua anggota kelompok cenderung ikut berpartisipasi dalam menjawab pertanyaan dari teman-temannya.

Gambar 4.9

Aktivitas siswa ketika berdiskusi

Pada pertemuan ini pemahaman konsep siswa sudah terlihat lebih baik. Dari kedua soal yang terdapat pada lembar permasalahan, terlihat siswa tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakannya. Kemudian perwakilan kelompok 5 dan kelompok 6 menyajikan jawaban mereka di depan kelas masing-masing mengerjakan soal nomor 1 dan 2. Dari hasil tanya jawab antara peneliti dan siswa terlihat ada dua cara berbeda yang ditemukan siswa dalam menyelesaikan permasalahan. Tetapi hasil akhir mereka sama dan secara konsep kedua kelompok tersebut benar. Selain itu, dari kuis yang diberikan nilai rata-rata hasil kuis adalah

8,45. Oleh karena itu pada pertemuan ini siswa sudah terlihat mampu menggunakan pemahaman konsepnya dalam menyelesaikan soal cerita matematik.

4. Pertemuan ke-9 (Sabtu, 11 Mei 2013)

Pertemuan ke-9 merupakan pertemuan terakhir di siklus II ini, pembelajaran ini membahas mengenai luas permukaan dan volume limas. Siswa yang hadir pada pertemuan ini adalah 28 orang.

Peneliti memberikan topik pembelajaran yang kemudian bersama siswa, guru menyimpulkan tentang pembahasan luas permukaan dan volume limas dari topik pembelajaran tersebut. Selanjutnya siswa mengerjakan lembar permasalahan yang ada dan kemudian mendiskusikannya. Pada saat berdiskusi semua kelompok terlihat aktif semua. Kemudian saat persentasi semua jawaban yang diberikan memiliki nilai akhir yang sama dan konsep yang tepat. Siswa terlihat sudah memahami model pembelajaran yang digunakan. Serta siswa sudah dapat mengerti konsep mengenai luas permukaan dan volume limas.

Gambar 4.10

Kemudian di akhir pertemuan siswa diberikan kuis untuk lebih memahami konsep materi hari ini. Saat kuis, siswa terlihat tenang dan mengerjakan secara sendiri-sendiri. Hasil kuis juga menunjukkan bahwa siswa telah mampu menginterpretasikan soal cerita dengan cukup baik, terlihat dari rata-rata hasil kuis meningkat.

5. Pertemuan ke-10 (Kamis, 16 Mei 2013)

Pertemuan ke-10 merupakan tes siklus II, tes ini dihadiri oleh 28 siswa. Tujuan tes siklus II adalah untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep siswa. Pada hari ini semua siswa tampak hadir dengan posisi bangku yang sudah teratur. Peneliti langsung membagikan soal tes akhir siklus II yang berjumlah 7 soal berupa soal uraian. Berbeda dengan tes akhir siklus I yang lalu dimana, sudah tidak ada siswa yang bertanya lagi untuk memastikan jawaban mereka, semua siswa terlihat percaya diri mengerjakan soal-soal tes siklus II yang diberikan.

Setelah pelaksanaan tes siklus II, kemudian peneliti melakukan wawancara dengan siswa untuk mengungkap pendapat mereka tentang pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Serta mengumpulkan dan mendiskusikan hasil lembar observasi yang telah diisi oleh observer (guru kelas) yang berisi catatan proses pembelajaran pada siklus II ini.

c. Tahap Observasi dan Analisis

Selama kegiatan siklus II peneliti dibantu observer yang juga melakukan pengamatan pada saat pelaksanaan siklus I. Hasil pengamatan tersebut adalah hasil pengamatan pada lembar observasi dan dapat dilihat pada Tabel 4.8.

Berdasarkan hasil observasi tersebut yang tertera pada Tabel 4.8, terlihat bahwa rataan total aktivitas siswa pada proses pembelajaran mengalami peningkatan dari 61,89% menjadi 77,91% dan telah masuk dalam kategori aktivitas baik. Selain itu, dapat diketahui juga bahwa setiap pertemuan pada siklus II mengalami peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Berdasarkan keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa telah terbiasa

dalam menyelesaikan masalah dalam bentuk soal cerita matematika dalam proses penerapan model pembelajaran CIRC.

Tabel 4.8

Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Pada Siklus II

No Aspek yang diamati

Persentase(%) Pertemuan Rata-rata (%)

1 2 3 4

1 Siswa tertib dan disiplin selama proses

pembelajaran 66.67 80.95 71.43 80.95 75.00

2 Siswa memperhatikan apa yang sedang

dijelaskan guru 76.19 76.19 80.95 76.19 77.38

3 Siswa terlihat aktif dalam diskusi kelompok selama proses pembelajaran berlangsung

80.95 76.19 85.71 90.48

83.33

4 Siswa memperhatikan penjelasan dari siswa lain yang mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya

61.90 71.43 71.43 76.19

70.24

5 Siswa memberikan tanggapan atas

jawaban kelompok lain 80.95 85.71 76.19 80.95 80.95

6 Siswa memperhatikan tanggapan atau penjelasan guru mengenai hasil diskusi kelompok siswa

76.19 85.71 80.95 90.48

83.33

7 Siswa terlibat dalam hal pengerjaan

lembar permasalahan atau LKS di kelas 90.48 100 100 100 97.62

8 Siswa dapat mempresentasikan jawabannya dengan baik di dalam pembelajaran

66.67 66.67 66.67 66.67

66.67

9 Siswa dapat memberikan kesimpulan

atas pembelajaran yang telah dilakukan 66.67 66.67 66.67 66.67 66.67

Seperti pada siklus I, skor lembar observasi ini digunakan sebagai bahan refleksi terhadap proses pembelajaran yang berlangsung dan untuk mengetahui sejauh mana aktivitas siswa dalam meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal ceritanya. Selain menggunakan lembar observasi, peneliti juga melakukan wawancara kepada siswa untuk memperkuat data observasi. Hasil wawancara yang dilakukan pada siklus II adalah sebagai berikut:

1) Siswa menyukai pembelajaran matematika dengan model pembelajaran CIRC karena membiasakan siswa dalam melatih kemampuannya pada waktu mengerjakan soal dan juga membuat pelajaran matematika menjadi pelajaran yang lebih menarik dan tidak membosankan.

2) Siswa tidak kesulitan ketika menyelesaikan masalah yang diberikan, karena terbiasa berpikir sendiri mencari pola/aturan untuk menyelesaikan masalah. Sekalipun ada kesulitan siswa dapat mendiskusikan dengan kelompoknya.

3) Siswa jadi lebih percaya terhadap kemampuannya sendiri dalam menyelesaikan permasalahan/soal yang diberikan.

4) Pembelajaran matematika dengan model pembelajara CIRC juga membuat siswa lebih aktif dan semangat dalam belajar matematika.

Angket siswa digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap model pembelajaran CIRC pada siklus II. Berdasarkan hasil perhitungan, rata-rata persentase siswa yang memberi respon positif selama 4 kali pertemuan sebesar 82,14%, sedangkan siswa yang memberi respon negatif sebesar 17,86%. Rekapitulasi persentase respon siswa terhadap pembelajaran selama siklus II dapat dilihat pada Tabel 4.9.

Dari Tabel 4.9 menunjukkan bahwa respon positif siswa selama pembelajaran sisklus II lebih besar dibandingkan pada siklus I. Hal ini berarti sebagian besar siswa menyatakan respon yang positif terhadap model pembelajaran CIRC terus meningkat.

Tabel 4.9

Hasil Angket Respon Siswa pada Siklus II No Kategori Frekuensi Rata-rata (%)

1 Positif 23 82,15

2 Negatif 5 17,86

Jumlah 28 100

Di akhir siklus II (pertemuan ke-10) siswa diberikan tes formatif akhir siklus II untuk mengetahui kemampuan menyelesaikan soal cerita siswa dengan indikator keberhasilan kinerja siklus II adalah ≥ 70. Berikut data nilai tes formatif akhir siklus II dalam tabel distribusi frekuensi sebagai berikut:

Tabel 4.10

Tabel Distribusi Frekuensi Nilai Tes Formatif Akhir Siklus II Nilai Frekuensi Frekuensi

kumulatif Frekuensi kumulatif (%) 50 – 58 3 3 10,71 59 – 67 3 6 21,43 68 – 76 5 11 39,29 77 – 85 9 20 71,43 86 – 94 8 28 100,00 Jumlah 28 Rata-rata 77,19 Tabel 4.11

Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II

Siswa yang tuntas 21

Siswa yang tidak tuntas 7

Berdasarkan Tabel 4.11 dapat diketahui bahwa persentase siswa yang memiliki nilai dibawah 70 kurang lebih sebanyak 25,00% dan siswa yang memiliki nilai di atas 70 kurang lebih sebanyak 75,00%. Dari hasil tes tersebut didapat nilai tertinggi siswa 94,29, nilai terendah 54,29, dan rata-rata 77,19. Adapun hasil tes akhir kemampuan menyelesaikan soal cerita siklus II ini disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut:

Gambar 4.11

Grafik Histogram dan Polygon

Distribusi Frekuensi Hasil Tes Akhir Siklus II

Sedangkan kemampuan masing-masing indikator operasional kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa dapat dilihat berdasarkan hasil persentase skor yang diperoleh dari tiap soal. Berikut adalah tabel yang menunjukkan hasil skor siswa dalam menggunakan indikator operasional kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa:

2 4 6 8 10 39,5 58,5 67,5 76,5 85,5 94,5 Frekuensi Nilai

Tabel 4.12

Persentase Skor Tiap Indikator Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Siklus II

Indikator Kemampuan

Menyelesaikan Soal Cerita Persentase Kategori

Memahami soal 81,89% Sangat

Baik

Membuat model matematika 74,75% Baik

Menyelesaikan model matematika 75,51% Baik

Menafsirkan model matematika 82,65% Sangat Baik

Rata-rata 78,70% Baik

Berdasarkan Tabel 4.12 dapat dilihat bahwa kemampuan menyelesaikan soal cerita masing-masing indikator pada siklus II sudah mencapai kaegori baik, bahkan pada indikator memahami soal dan menafsirkan model matematika persentase kemampuan mencapai kategori sangat baik. Hal ini ditunjukkan setelah mampu memahami soal cerita matematik siswa menuliskan apa saja yang diketahui dan yang ditanyakan, kemudian siswa dapat membuat model matematikanya serta menyelesaikan perhitungannya dengan baik. Pada indikator menyelesaikan model dan menafsirkan model matematika memiliki persentase keduanya mencapai kategori baik. Pada tahap menafsirkan model matematika siswa mengalami peningkatan sebesar 13,01%. Hal ini dikarenakan siswa sudah terbiasa untuk menyampaikan kesimpulan dengan mengggunakan kalimat dari hasil proses penyelesaian hitung mereka.

Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa rata-rata kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa telah mencapai kriteria keberhasilan yang telah diinginkan yaitu mencapai rata-rata nilai tes sebesar 77,19. Sedangkan untuk keempat indikator kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa mengalami peningkatan sebesar 8,52% dengan rata-rata indikator 78,70%.

d. Tahap Refleksi

Tahap refleksi ini dilakukan oleh peneliti dan observer setelah melakukan analisis pada siklus II. Berdasarkan hasil analisis pada observasi, wawancara dan tes akhir siklus II yaitu tes kemampuan menyelesaikan soal cerita ditemukan berbagai peningkatan data, diantaranya sebagai berikut:

1) Siswa merasa pembelajaran berlangsung lebih menarik melalui model pembelajaran CIRC

Berdasarkan hasil wawancara siswa, hal ini dikarenakan karena siswa mulai terbiasa dengan pembelajaran yang diterapkan, dimana peneliti tidak memberikan materi secara langsung menggunakan rumus namun hanya memberikan bimbingan dan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep atau rumus. Sehingga siswa merasa harus menggunakan kemampuan pemahamannya sendiri dalam menyelesaikan masalah yang diberikan.

2) Siswa sudah tidak merasa kesulitan dalam menyelesaikan lembar permasalahan dan tes sub-sumatif yang diberikan

Hal ini terlihat pada saat mengerjakan tes sub-sumatif sudah tidak ada siswa yang terlihat bertanya ataupun menyalin jawaban temannya, karena siswa beranggapan bahwa setiap dari mereka akan memiliki proses jawaban yang berbeda-beda. Selain itu berdasarkan hasil rata-rata LKS dan tes sub sumatif siswa mengalami peningkatan.

3) Aktivitas siswa dalam pembelajaran sudah mencapai kategori baik

Selama pelaksanaan pembelajaran siklus II ini, aktivitas belajar siswa berjalan dengan lancar. Masing-masing kelompok terlihat berdiskusi dengan baik. Hal ini dikarenakan yang pertama karena proses pembelajaran dilakukan dengan pembelajaran kelompok heterogen, agar siswa yang merasa kesulitan dapat berdiskusi dengan teman kelompoknya yang mampu dalam menyelesaikan permasalahan kontekstual yang diberikan. Selain itu juga karena pemilihan anggota kelompok sesuai dengan kedekatan masing-masing siswa, sehingga timbul rasa saling peduli. Hasil pengerjaan setiap

anggota kelompok-pun dapat dipertanggungjawabkan oleh masing-masing anggota kelompok yang berdiskusi.

Pada saat persentasi tidak hanya di dominasi oleh siswa yang berkemampuan tinggi, tetapi siswa yang berkemampuan rendah dan sedang juga mampu mempreseentasikan hasil jawaban kelompok dengan baik. Semua siswa terlihat paham dan proses diskusi terlihat aktif. Selanjutnya, Berdasarkan hasil observasi diperoleh bahwa rataan total aktivitas siswa pada proses pembelajaran termasuk dalam kategori baik.

4) Hasil tes kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa mengalami peningkatan

Selajutnya perolehan rata-rata tes akhir kemampuan siswa menyelesaikan soal cerita sebesar 76,89 telah mencapai batas yang ditetapkan yaitu 70. Adapun persentase hasil skor tiap indikator kemampuan menyelesaikan soal cerita pada soal juga telah masuk pada kategori baik. Selain itu aktivitas siswa juga telah masuk dalam kategori baik.

5) Respon Siswa

Pada siklus II bahwa respon siswa selama pembelajaran sudah baik. Hal ini terlihat dari hasil respon siswa yang menunjukan bahwa respon positif selama pembelajaran lebih dan terus meningkat pada setiap pertemuan. Hal ini membuat peneliti membuat perbaikan selama proses pembelajaran di siklus II agar siswa merasa senang dan lebih memberikan respon positifnya. Hal ini menyatakan bahwa siswa sudah menyukai model pembelajaran CIRC.

Berdasarkan hasil refleksi siklus II dapat diketahui bahwa data-data yang dikumpulkan telah mengalami peningkatan. Sehingga menyebabkan indikator keberhasilan tercapai. Oleh karena itu, penelitian tindakan kelas ini dihentikan sampai dengan siklus II.

D. Interpretasi Hasil Analisis

Dokumen terkait