• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI JAMUR TIRAM PUTIH 48 6.1 Identifikasi Sumber-Sumber Risiko Produksi

2.3 Penelitian Terdahulu Mengenai Risiko

Penelitian mengenai risiko di suatu usaha telah banyak dilakukan sebelumnya oleh beberapa peneliti. Hal tersebut memberikan maksud bahwa risiko merupakan hal yang sangat penting untuk dikaji lebih lanjut, terlebih dikaji dengan maksud untuk melindungi suatu usaha dari suatu kerugian. Tentunya yang berkaitan dengan dampak dan strategi penanganan risiko tersebut. Permasalahan produksi dalam hal ini produktivitas ditemui juga pada budidaya jamur tiram yang dimiliki oleh Yayasan Paguyuban Ikhlas. Dimana produktivitas jamur tiram mengalami fluktuasi bahkan terlihat pada musim panen pada bulan tertentu fluktuasinya cukup signifikan, dengan

16 demikian perlu dikaji lebih lanjut pada aspek produksinya. Untuk alat analisis dasar yang digunakan oleh kebanyakan para peneliti sebelumnya juga akan menjadi alat analisis dasar untuk mengetahui kemungkinan atau probabilitas terjadinya risiko produksi pada usaha budidaya jamur tiram putih di Yayasan Paguyuban Ikhlas ini. Selain dari alat analisis dasar yang digunakan yaitu variance, standard deviation, dan coefficient variance. Ada beberapa alat analisis lain yang sering juga digunakan untuk menganalisis risiko dan mengetahui probabilitas dampak dari suatu risiko, hal tersebut dapat terlihat dari beberapa penelitian-penelitian yang telah dilakukan.

Wisdya (2009) melakukan penelitian mengenai faktor-faktor penyebab risiko produksi pada produksi anggrek phalaeonopsis. Ditemukkan bahwa anggrek yang tidak layak jual (reject) terdiri dari kontaminasi dalam pembibitan dengan teknik kultur jaringan, serangan hama penyakit, virus, mutan, stagnan dan kerusakkan mekanis pada tanaman yang sulit diprediksi.Peluang untuk kondisi tertinggi, normal dan terendah diukur dari proporsi frekuensi atau berapa kali perusahaan mencapai presentase keberhasilan produksi dan pendapatan tertinggi, normal dan terendah selama periode siklus berlangsung, selain itu Wisdya (2009) juga mengemukakan bahwa strategi penanganan risiko produksi anggrek phalaeonopsis pada PT. EGF dapat dilakukan dengan pengembangan diversifikasi pada lahan yang ada. Alat analisis yang digunakan z-score dan VaR (Value at Risk) utnuk menganalisis dampak dari terjadinya risiko pada usaha yang sedang diteliti. VaR adalah kerugian terbesar dalam rentang waktu atau periode yang diprediksi dengan tingkat kepercayaan tertentu. Pengukuran dampak dilakukan untuk mengukur dampak dari risiko pada kegiatan produksi dan penerimaan. Penggunaan alat analisis ini tentunya bertujuan untuk memperkaya kajian dari penelitian yang akan dilakukan sehingga nantinya hasil dari penelitian yang dilakukan ini, tidak hanya sekedar menghitung besarnya probabilitas terjadinya risiko pada suatu usaha, tetapi juga mengukur dampak yang ditimbulkan risiko tersebut bagi perusahaan. Jika dihubungkan dengan penelitian yang akan dilakukan, alat analisis ini juga akan digunakan untuk menilai dampak dan besarnya sumber risiko terhadap perkembangan Yayasan Paguyuban Ikhlas.

17 Jamilah (2010) meneliti tentang analisis risiko produksi wortel dan bawang daun. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis tingkat risiko produksi wortel dan bawang daun, serta menganalisis alternatif penanganan risiko produksi dari kedua jenis komoditas tersebut. Penelitian ini difokuskan pada analisis risiko produksi. Alat analisis yang digunakan untuk mengukur tingkat risiko menggunakan analisis dasar yang sering digunakan untuk mengukur risiko yaitu variance, standard deviation, dan coefficient variation. Alat analisis dasar tersebut juga akan digunakan penulis untuk menghitung risiko produksi jamur tiram putih.

Berbeda dengan Jamilah (2010) penelitian yang dilakukan Lubis (2009) meneliti tentang manajemen risiko produksi padi. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi yang terdapat pada usaha padi semi organik, serta menganalisis dampak risiko yang disebabkan oleh sumber-sumber risiko produksi. Dari konsep tujuan penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang akan dilakukan penulis, dimana identifikasi sumber-sumber risiko menjadi tolak ukur awal dalam menjawab kemungkinan-kemungkinan risiko yang bisa saja terjadi pada usaha manajemen risiko padi semi organik. Alat analisis yang digunakan untuk menghitung terjadinya risiko yaitu menggunakan analisis dasar variance, standard deviation, coefficient variation, dan expected return. Lubis (2009) juga menambahkan analisisnya yaitu menghitung dampak risiko juga dengan menggunakan nilai z–score dan VaR (Value at Risk). Alat analisis ini juga dipergunakan oleh Wisdya (2009) untuk mengetahui dampak dari risiko pada kegiatan produksi dan penerimaan.

Penambahan analisis ini dapat juga diterapkan dan menjadi bahan referensi pada penelitian yang akan dilakukan. Kemudian Sembiring (2010) meneliti tentang analisis risiko produksi sayuran organik, penelitian ini meneliti tentang perusahaan yang bergerak dalam bidang pertanian organik. Menurut penelitian yang telah dilakukan risiko produksi dapat disebabkan oleh kondisi cuaca yaitu curah hujan yang terlalu tinggi, serangan hama, penyakit. Selain itu teknologi yang digunakan juga menjadi hal yang dapat mempengaruhi hasil produksi. Risiko produksi tersebut juga memiliki hubungan dengan penelitian yang akan dilakukan, dimana

18 sumber-sumber risiko tersebut dapat mempengaruhi produktivitas dari jamur tiram. Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan Sembiring yaitu menganalisis risiko produksi sayur organik yang dihadapi perusahaan dan strategi penanganan apa yang dapat diterapkanuntuk menangani risiko produksi tersebut. Tujuan dari penelitian ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Jamilah dan Siregar. Sedangkan alat analisis yang digunakan masih sama dengan penelitian risiko sebelumnya tetap menggunakan analisis dasar risiko yaitu meggunakan variance, standard deviation, coefficient variation, dan expected return. Dimana alat analisis dasar ini memang selalu menjadi alat analisis untuk mengetahui nilai risiko suatu usaha.

Purwanti (2011) meneliti tentang analisis risiko produksi sayuran hidroponik. Pada penelitian ini difokuskan pada analisis risiko produksi dan hubungannya dengan pendapatan yang diharapkan. Komoditas yang diteliti adalah lollorossa (selada keriting merah) yang menjadi komoditas unggulan di perusahaan tersebut, tujuan dari penelitian ini hampir sama dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Jamilah, Siregar dan Sembiring yaitu menganalisis sumber-sumber risiko produksi, mengetahui besarnya risiko produksi dan menganalisis alternatif strategi untuk mengatasi risiko produksi tersebut.

Dari analisis yang dilakukan sumber-sumber risiko yang ada yaitu kondisi cuaca, iklim, ketrampilan SDM, hama dan penyakit, kerusakan sistem pengairan. Jika dilihat dari sumber-sumber risiko tersebut memang usaha di bidang agribisnis tidak jauh berbeda antara risiko yang dihadapi, beberapa sumber-sumber risiko tersebut juga terdapat pada usaha budidaya jamur tiram. Alat analisis yang digunakan untuk menilai risiko pun masih tetap sama menggunakan analisis dasar variance, standard deviation, coefficient variation. Analisis risiko produksi ini dilakukan sebagai akibat dari hasil produktivitas lollorosa yang berfluktuasi di setiap bulannya yang mungkin akan berdampak pada pendapatan perusahaan. Dari penelitian yang dilakukan Purwanti (2011) cukup berkaitan dengan apa yang akan diteliti yaitu analisis produksi jamur tiram putih.

Hasil tinjauan penelitian-penelitian terdahulu mengenai risiko, dapat ditarik satu pengertian bahwa seluruh usaha yang berbasis agribisnis secara umum tidak

19 terlepas dari risiko bisnis. Metode analisis dasar yang digunakan tidak hanya untuk mengukur besaran risiko saja tetapi juga harus diukur peluang terjadinya risiko dan dampak yang ditimbulkannya bagi usaha agribisnis yang dijalankan. Penelitian ini secara umum juga akan menggunakan alat-alat analisis yang tersedia yang sebelumnya sudah dilakukan, dengan jamur tiram putih sebagai komoditas yang akan diteliti. Pada Tabel 5 dapat dilihat beberapa penelitian-penelitian terdahulu mengenai Analisis risiko produksi.

Tabel 5. Penelitian Terdahulu Mengenai Analisis Risiko

No Nama Topik (Analisis Risiko) Metode

1. Wisdya (2009) Analisis Risiko Anggrek

Phalaenopsis Pada PT. Ekakarya Graha Flora di Cikampek, Jawa Barat Variance, standard deviation, coefficient variation, Z-score, VaR

2. Jamilah (2010) Analisis Risiko Produksi Wortel dan Bawang Daun di Kawasan Agropolitan Cianjur Jawa Barat

Variance, standard deviation,

coefficient variation 3. Lubis (2009) Analisis Manajemen Produksi dan

Penerimaan Padi Semi Organik di Desa Ciburuy Kecamatan

Cigombong, Kabupaten Bogor

Variance, standard deviation,

coefficient

variation, Z-score, VaR

4. Sembiring (2010) Analisis Risiko Produksi Sayuran Organik pada The Pinewood

Organik Farm di Kabupaten Bogor

Variance, standard deviation,

coefficient variation 5 Purwanti (2010) Analisis Risiko Produksi Sayuran

Hidroponik pada PT. Momenta Agrikultura (amazing farm) Lembang Kabupaten Bandung

Variance, standard deviation,

coefficient variation

20 2.4 Penelitian Terdahulu Mengenai Jamur Tiram Putih

Penelitian terdahulu mengenai jamur tiram putih, khususnya yang membahas tentang aspek produksi dan produktivitas jamur tiram putih sudah cukup banyak dilakukan. Tinjauan Pustaka mengenai hasil-hasil penelitian tersebut diperlukan untuk dapat memberikan pengetahuan baru, masukan, dan hipotesa (dugaan) awal dalam melakukan kegiatan penelitian mengenai risiko produksi jamur tiram yang tentunya disesuaikan dengan keadaan di lokasi penelitian.

Penelitian yang dilakukan Ginting (2009) yaitu menganalisis risiko produksi jamur tiram putih. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengelolaan budidaya jamur tiram putih, serta risiko produksinya. Karena jamur mudah sekali rusak maka perlu penanganan khusus dalam proses produksinya, dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa pertama jamur sangat terpengaruh oleh perubahan cuaca terutama cuaca saat ini yang sulit diprediksi. Kedua adalah serangan hama dan penyakit yang sulit dikendalikan karena karakteristik jamur tiram rentan terhadap hama dan penyakit seperti ulat, Ketiga kurangnya ketersediaan tenaga kerja terampil yang memadai dan selanjutnya adalah teknologi yang digunakan masih kurang baik. Dari risiko yang dihadapi diatas cuaca merupakan faktor dominan yang mempengaruhi produksi jamur tiram putih, karena jamur tiram sangat sensitif terhadap perubahan suhu yang ekstrem akibat perubahan cuaca yang tiba-tiba.

Penelitian yang dilakukan oleh Rosmayanti (2010) yaitu analisis usaha tani jamur tiram putih. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui budidaya jamur tiram putih di kelompok tani tersebut. Untuk menghindari risiko produksi dalam usaha budidaya jamur tiram, menurut peneliti terdapat beberapa tahapan yang harus diperhatikan, yaitu : 1) Pemilihan lokasi, dalam hal ini lokasi yang tepat adalah pada ketinggian 600 sampai 1200 meter dibawah permukaan laut, suhu udara sekitar 20 sampai 30 derajat celcius, lahan produksi dekat dengan sumber bahan baku media tanam, dan terdapat sumber air bersih, 2) Rumah pemeliharaan jamur atau rumah kumbung sebaiknya terbuat dari bilik bambu agar bilik bambu memiliki pori-pori agar ruangan kumbung lebih sejuk, selain itu kuat dan dapat menghemat biaya (cost).

21 Media tanam jamur tiram adalah log yang umumnya berisi serbuk kayu gergaji, berikut adalah tahapan membuat log : 1) pengayakan, pencampuran, proses fermentasi, pengisian media ke dalam kantung plastik, proses sterilisasi log, pendinginan, inokulasi bibit, inkubasi, produksi, penyiraman, pengaturan suhu ruangan, dan panen. Masing-masing tahap tersebut memiliki risiko produksi, jika salah satu proses tersebut mengalami masalah maka akan mempengaruhi hasil panen jamur tiram, baik itu dari segi kualitas dan kuantitasnya.

Penelitian mengenai jamur tiram putih juga pernah dilakukan oleh Vivandri (2010) yang meneliti tentang pengembangan usaha jamur tiram putih, dari penelitian yang dilakukan tidak jauh berbeda yaitu melihat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembudidayaan jamur tiram putih. Faktor-faktor tersebut antara lain : 1) media tanam atau tumbuh, pengaturan proporsi air yang tepat perlu diperhatikan karena apabila kadar air terlalu rendah atau terlalu tinggi, dapat menghambat pertumbuhan jamur, 2) kondisi lingkungan, dari kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban, cahaya dan sirkulasi udara. Dari penelitian ini dapat diperoleh informasi adalah bahwa faktor lingkungan menjadi faktor yang sangat berpengaruh cukup besar karena jamur sangat rentan terhadap perubahan suhu yang ekstrim, pengaturan suhu ruangan tempat pemeliharaan jamur dapat disiasati dengan melakukan penyemprotan air bersih yang cukup atau proses pengkabutan, kegiatan ini dilakukan untuk menjaga suhu ruangan kumbung tetap sejuk dan dilakukan apabila suhu didalam kumbung diatas 30 derajat celcius.

Penelitian tentang jamur tiram juga dilakukan oleh Halim (2011), yang meneliti tentang strategi pengembangan usaha jamur tiram putih. Usaha budidaya jamur tiram ini dalam sehari memproduksi 500 sampai 600 log, dan alat sterilisasi log masih menggunakan dua drum besar dengan kapasitas yang tidak besar, penggunaan teknologi sterilisasi log sangat pentingan untuk diperhatikan karena jika proses ini tidak dilakukan dengan baik maka kemungkinan tumbuhnya jamur lain yang tidak diharapkan bisa saja terjadi, indikasi tumbuhnya jamur lain dapat dilihat secara kasat mata yaitu munculnya warna hitam atau hijau di dalam log, jamur tersebut menghambat pertumbuhan miselium atau bakal jamur tiram. Log yang

22 terkontaminasi harus langsung dipisahkan lalu dimusnahkan agar tidak menular ke log yang lain. Alat sterilisasi sebaiknya menggunakan autoklaf, alat ini mampu melakukan proses sterilisasi dengan baik dan jumlah kerusakan log pun dapat diminimalisir.

Berdasarkan hasil penelitian-penelitian mengenai jamur tiram putih, khusus nya proses produksi, dapat disimpulkan bahwa proses jamur tiram putih memerlukan perlakuan khusus dalam budidayanya dimana faktor lingkungan seperti kebersihan kumbung, suhu udara, cahaya yang cukup mempengaruhi tumbuhnya jamur secara optimal. Sedangkan untuk faktor cuaca yang merupakan faktor yang tidak dapat dikendalikan, terutama jika musim kemarau agar suhu didalam ruang pemeliharaan dijaga tetap sejuk dapat disiasati dengan proses pengabutan. Secara umum budidaya jamur tiram sangat rentan terhadap risiko kerusakan sebagai akibat dari beberapa faktor yang telah disebutkan sebelumnya. Penelitian yang akan dilakukan juga mengambil informasi dasar mengenai proses produksi jamur tiram putih dari penelitian-penelitian sebelumnya, sehingga dapat diketahui kaitan risiko dengan proses produksi jamur tiram putih. Tabel 6 menunjukkan penelitian-penelitian terdahulu mengenai jamur tiram putih.

Tabel 6. Penelitian Terdahulu Mengenai Analisis Jamur Tiram Putih

No Nama Topik (Analisis Risiko) Bahasan

1. Ginting (2009) Analisis Risiko Produksi Jamur Tiram Putih Pada Usaha Cempaka Baru, kab Bogor

Pengelolaan, dan risiko produksi jamur tiram putih 2. Rosmayanti (2010) Analisis Usaha Tani Jamur Tiram

Putih Kasus Kelompok Wanita Tani Hanjuang, Kecamatan Taman Sari

Budidaya jamur tiram putih 3. Vivandri (2010) Startegi Pengembangan Usaha Jamur

Tiram Putih Pada Trisno Insan Mandiri Mushroom (TIMMUSH)

Pengembangan budidaya jamur tiram putih 4. Halim (2011) Strategi Pengembangan Usaha Jamur

Tiram Putih (Pleurotus Ostreatus) Pada Perusahaan Agrojamur, Cianjur

Pengembangan budidaya jamur tiram putih

23 III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

Kerangka pemikiran teoritis merupakan suatu penalaran dari peneliti yang didasarkan atas pengetahuan, teori dan dalil dalam upaya menjawab tujuan penelitian. Pengetahuan diperoleh dari ilmu-ilmu yang dipelajari sebelumnya dari sumber bacaan-bacaan dari buku teks, jurnal, skripsi dan logika peneliti yang telah terbangun dari pengalaman penelitian sebelumnya.

3.1.1 Konsep Risiko

Robison dan Barry (1987), memberikan arti pada risiko (risk) adalah sebuah peluang terjadinya suatu kejadian yang dapat diukur oleh pengambil keputusan dan pada umumnya pengambil keputusan mengalami suatu kerugian, risiko erat kaitannya dengan ketidakpastian, tetapi kedua hal tersebut memiliki makna yang berbeda. Ketidakpastian (uncertainty) adalah suatu kejadian yang tidak dapat diukur oleh pengambil keputusan dengan demikian adanya ketidakpastian dapat menimbulkan risiko.

Risiko adalah akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perubahan atau tindakan, pada umumnya risiko didefinisikan dalam pengertian ketidakpastian (Redja, 2001). Menurut Ghozali (2007) risiko dapat didefinisikan sebagai volatilitas outcome, yang umumnya berapa nilai dari suatu aktiva atau hutang perusahaan dalam aktivitasnya menghadapi dua jenis risiko yaitu risiko usaha dan risiko non usaha. Risiko usaha adalah semua risiko yang berkaitan dengan usaha perusahaan untuk menciptakan keunggulan bersaing dan memberikan nilai bagi pemegang saham.

Risiko dalam suatu usaha berhubungan dengan produk seperti inovasi teknologi, desain produk, dan pemasaran produk. Perluasan operasi yang berhubungan dengan besarnya tingkat biaya tetap dan biaya variabel juga merupakan bagian dari risiko usaha. Risiko usaha bagi perusahaan merupakan risiko yang dapat dikendalikan. Sedangkan risiko lainnya yang tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan dikategorikan sebagai risiko non usaha, salah satu dari risiko non usaha

24 adalah risiko strategik sebagai akibat dari perubahan lingkungan, ekonomi dan politik.

Tampubolon (2004) mendefinisikan risiko sebagai bentuk-bentuk peristiwa yang mempunyai pengaruh terhadap kemampuan seseorang atau sebuah intitusi untuk mencapai tujuannya. Djohanputro (2004) mengemukakan pengertian dasar risiko terkait dengan keadaan adanya ketidakpastian dan tingkat ketidakpastiannya yang telah diketahui tingkat probabilitasnya dan kejadiannya.

Menurut Darmawi (2005), risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan atau tidak terduga. Penggunaan kata “kemungkinan” tersebut sudah menunjukkan adanya ketidakpastian. Ketidakpastian tersebut merupakan kondisi yang menyebabkan tumbuhnya risiko, sedangkan kondisi yang tidak pasti timbul karena berbagai macam hal, antara lain : 1. Jarak waktu dimulai perencanaan atas kegiatan sampai kegiatan itu berakhir.

Makin panjang jarak waktu makin besar ketidakpastiannya. 2. Keterbatasan tersedianya informasi yang diperlukan.

3. Keterbatasan pengetahuan atau keterampilan mengambil keputusan, dan lain sebagainya.

Menurut Kountur (2008) terdapat tiga unsur penting dari suatu kejadian yang dianggap sebagai risiko, yaitu: (1) Merupakan suatu kejadian. (2) Kejadian tersebut masih merupakan kemungkinan, jadi bisa terjadi dan bisa tidak. (3) Jika sampai terjadi maka akan menimbulkan kerugian.

3.1.2 Klasifikasi Risiko

Menurut Harwood et al (1999), terdapat beberapa sumber risiko yang dapat dihadapi oleh petani, yaitu :

1. Risiko produksi

Sumber risiko yang berasal dari kegiatan produksi diantaranya adalah gagal panen, rendahnya produktivitas, kerusakan barang yang ditimbulkan oleh serangan hama dan penyakit, perbedaan iklim dan cuaca, kesalahan sumberdaya manusia, dan masih banyak lagi.

25 2. Risiko Pasar atau Harga

Risiko yang ditimbulkan oleh pasar diantaranya adalah barang tidak dapat dijual yang diakibatkan ketidakpastian mutu, permintaan rendah, ketidakpastian harga output, inflasi, daya beli masyarakat, persaingan, dan lain-lain. Sementara itu risiko yang ditimbulkan oleh harga antara lain harga dapat naik akibat dari inflasi.

3. Risiko Kelembagaan

Risiko yang ditimbulkan dari kelembagaan antara lain adanya aturan tertentu yang membuat anggota suatu organisasi menjadi kesulitan untuk memasarkan ataupun meningkatkan hasil produksinya.

4. Risiko Kebijakan

Risiko yang ditimbulkan oleh kebijakan-kebijakan antara lain adanya kebijakan-kebijakan tertentu yang keluar dari dalam hal ini sebagai pemegang kekuasaan pemerintah yang dapat menghambat kemajuan suatu usaha. Dalam artian kebijakan tersebut membatasi gerak dari usaha tersebut. Contohnya adalah kebijakan tarif ekspor.

5. Risiko Finansial

Risiko yang ditimbulkan oleh risiko finansial antara lain adalah adanya piutang tak tertagih, likuiditas yang rendah sehingga perputaran usaha terhambat, perputaran barang rendah, laba yang menurun akibat dari krisis ekonomi dan sebagainya.

Risiko dapat juga diklasifikasikan dari sudut pandang penyebab timbulnya risiko, akibat yang ditimbulkan, aktivitas yang dilakukan, dan sudut pandang kejadian yang terjadi (Kountur, 2008) :

1. Risiko dari Sudut Pandang Penyebab

Risiko jika diklasifikasikan dalam sudut pandang penyebab terjadinya risiko dapat dibedakan menjadi dua yaitu risiko keuangan dan risiko operasional. Risiko keuangan adalah risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor keuangan seperti harga, tingkat bunga, dan mata uang asing. Risiko operasional adalah risiko-risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor non keuangan. Faktor-faktor non keuangan tersebut yaitu manusia, teknologi, dan alam.

26 2. Risiko dari Sudut Pandang Akibat

Risiko dari sudut pandang akibat dapat dibagi menjadi dua kategori risiko yaitu risiko murni dan risiko spekulatif. Risiko murni adalah suatu kejadian yang dapat berakibat merugikan saja, atau dapat juga berakibat merugikan atau menguntungkan. Apabila suatu kejadian berakibat hanya merugikan saja dan tidak memungkinkan adanya keuntungan maka risiko tersebut disebut risiko murni. Risiko spekulatif adalah risiko yang tidak saja memungkinkan terjadinya kerugian tetapi juga memungkinkan terjadinya keuntungan.

3. Risiko dari Sudut Pandang Aktivitas

Risiko ini menyangkut dengan aktivitas yang dapat menimbulkan risiko, misalnya aktivitas pemberian kredit oleh bank risikonya disebut dengan risiko kredit. Banyaknya risiko dari sudut pandang aktivitas sebanyak jumlah aktivitas yang ada. 4. Risiko dari Sudut Pandang Kejadian

Risiko ini menyatakan bahwa suatu risiko berdasarkan kejadiannya, misalnya kejadian kebakaran maka disebut risiko kebakaran. Perlu diketahui bahwa dalam suatu aktivitas pada umumnya terdapat beberapa kejadian, sehingga kejadian adalah salah satu bagian dari aktivitas.

3.1.3 Manajemen Risiko

Manajemen risiko adalah bagian penting atau titik sentral manajemen strategis suatu organisasi. Manajemen risiko adalah suatu proses dengan metode-metode tertentu agar suatu organisasi atau perusahaan mempertimbangkan risiko yang dihadapi dari setiap kegiatan yang dilakukan organisasi dalam mencapai tujuannya. Fokus dari manajemen risiko adalah mengenal dengan tepat risiko dan mengambil keputusan atau tindakan yang tepat dan bersifat strategis terhadap risiko yang dihadapi, tujuannya adalah dengan secara kontinyu menciptakan atau menambah nilai maksimum kepada semua organisasi (Siahaan, 2009).

Manajemen risiko sebagai suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis serta mengendalikan risiko dalam setiap kerugian perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh efektifitas dan efisiensi perusahaan yang lebih tinggi (Darmawi, 2004).

27 Manajemen risiko juga dapat diartikan sebagai kemampuan seorang manajer untuk menata kemungkinan variabilitas pendapatan dengan menekan sekecil mungkin tingkat kerugian, yang diakibatkan oleh keputusan yang diambil dalam menyelesaikan suatu situasi yang tidak pasti (Sofyan, 2005).

Thornhill dalam Tampubolon (2004) mendefinisikan manajemen risiko sebagai sebuah disiplin pengelolaan yang tujuannya adalah memproteksi aset dan laba sebuah organisasi dengan mengurangi potensi kerugian sebelum hal tersebut terjadi dan pembiayaan melalui asuransi atau cara lain atas kemungkinan rugi besar karena bencana alam, kelalaian manusia atau karena keputusan pengadilan dalam

Dokumen terkait