• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

2. Model Altman Revisi

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu merupakan hasil-hasil penelitian terdahulu yang memberikan informasi terkait dengan metode penelitian, hasil, pembahasan

yang digunakan sebagai dasar perbandingan dengan penelitian yang dilakukan, penelitian terdahulu dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Yuliana, dalam artikel yang berjudul “Analisis kebangkrutan pada perusahaan Batubara di Bursa Efek Indonesia” terbit dijurnal e-Jurnal Katalogis, Vol. 3 No. 5 Tahun 2015, menghasilkan kesimpulan bahwa dalam penelitian ini Variabel independen , yaitu Working Capital to

Total Asset (X1), Retained Earning to Total Assets (X2), Earning Before Interest and Taxes to Total Assets (X3), Market Value of Equity to Book Value of Debt (X4), dan Sales to Total Assets (X5), memiliki nilai sig <

0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang memiliki nilai diatas rata-rata di industry berada pada kategori tidak bangkrut, dan nilai yang berada dibawah rata-rata industry berada pada kategori prediksi bangkrut.

2. Inggi Rovita Dewi, Siti Ragil Handayani, Nila Firdausi Nuzula, dalam artikel yang berjudul “Pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan (Studi pada sektor pertambangan yang terdaftar di BEI periode 2009-2012)” terbit di jurnal Administrasi Bisnis (JAB), Vol. 17 No. 1 tahun 2014, menghasilkan kesimpulan Nilai dari variabel bebas yaitu variabel DAR dan DER adalah sebesar 4,902. Nilai F tersebut memiliki nilai sebesar 3.18. Nilai segnifikasinya lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0.011 sehingga variabel DAR dan DER secara simultan memiliki pengaruh terhadap rasio Tobin’s Q pada perusahaan pertambangan yang

terdaftar di BEI periode 2009-2012. Variabel DAR merupakan variabel satu-satunya yang secara parsial memiliki pengaruh terhadap Tobin’s Q pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI periode 2009-2012 Karena t ya sebesar 2,731, bernilai lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai signifikan yang lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,009.

3. Muhammad Taufiq Abadi, Nunung Ghoniyah, dalam artikel yang berjudul “ Studi potensi kebangkrutan pada perusahaan industry property yang Go Public di Bursa Efek Indonesia “ terbit dijurnal Riset Bisnis Indonesia, Vol. 13 No. 1 Tahun 2016, menghasilkan kesimpulan terdapat pengaruh kebangkrutan model Altman, Springate dan Zwijewski terhadap harga saham perusahaan industry property.

4. M. Noor Salim, dalam artikel yang berjudul “Potensi kebangkrutan perusahaan batubara terdaftar di BEI dengan pendekatan model altman, springate, zmijewski periode 2011-2014” terbit dijurnal Ekonomi, Vol. 18 No. 3 tahun 2016, menghasilkan kesimpulan terdapat potensi kebangkrutan perusahaan pertambangan batubara terdaftar di BEI periode 2011-2014 dengan mengimplementasikan analisi Altman model

(z-score), model springate model (s-score) dan the zmijewski model (x-score). Terdapat perbedaan antara model altman z-score , model

springate, dan model zmijeski dalam memprediksi kebangkrutan pada perusahaan pertambangan Batubara yang terdaftar di BEI periode tahun 2011-2014. Dari tiga model analisis kebangkrutan dalam penelitian ini model zmijewski merupakan model prediksi yang paling akurat yang

dapat diterapkan pada perusahaan pertambangan batubara terdaftar di BEI. Karena model ini memiliki tingkat keakuratan yang paling tinggi dibandingkan dengan model prediksi lainya yaitu sebesar 78,95%, diikuti oleh model springate yang memiliki tingkat akurasi sebesar 47,37%, dan yang terakhir model altman hanya 5, 26%.

5. Pasaman Silaban, dalam artikel yang berjudul “Analisis kebangkrutan dengan menggunakan model altman z-score Studi kasus di perusahaan telekomunikasi” terbit dijurnal Akuntansi, Vol. 18 No. 3 tahun 2014, menghasilkan kesimpulan bahwa kinerja PT Telkom Tbk, dan PT indosat Tbk, secara garis besar dalam keadaan sehat atau tidak berpotensi bangkrut hal ini ditunjukkan dari hasil pengujian menggunakan model z-score altman. Sedangkan kinerja keuangan PT XL Axiata, Tbk cenderung menurun dan berpotensi bangkrut menurut metode z-score altman. Oleh karena itu perlu dilakukan peningkatan kinerja keuangan dimasa yang akan dating agar perusahaan tersebut berada pada kondisi sehat. Dilihat dari laporan keuangan keuangan tahunan perusahaan yang sering mengalami penurunan pada rasio daya laba maka secara umum dapat ditawarkan bahwa: Masalah efektivitas dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan harus diperhatikan baik dari kegiatan penjualan, pembelian dan kegiatan lainnya. Sehingga mengurangi terjadinya penurunan laba perusahaan dan setiap tahunya perusahaan dihadapkan dengan peningkatan beban-beban perusahaan seperti gaji karyawan, harga pokok penjualan. Sehingga perusahaan harus mencari alternative

agar penjualan terus meningkat sehingga tidak ada masalah untuk likuiditas perusahaan.

6. Endang Purwanti, dalam artikel yang berjudul “Analisis perbedaan model altman z-score dan springate dalam memprediksi kebangkrutan pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI (Studi empiris pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI tahun 2010-2014)” , terbit dijurnal Stie semarang, Vol. 8 No. 2 tahun 2016, menghasilkan kesimpulan dengan menggunakan model altman dari empat perusahaan ada satu perusahaan yang di prediksi bangkrut yaitu PT Antam Tbk, sedangkan yang tiga perusahaan diprediksi tidak bangkrut yaitu PT Adaro Ebergy Tbk, Pt Vale Indonesia Tbk, PT Timah (persero) Tbk, kondisi ini dapat disimpulkan bahwa dengan metode altman tiga perusahaan mempunyai kinerja keuangan yang baik, sedangkan satu perusahaan yaitu PT Antam Tbk harus dapat meningkatkan kinerja keuangan untuk dapat terlepas dari kebangkrutan. Kinerja keuangan dapat ditingkatan dengan mengurangi hutang sehingga beban bunga berkurang yang dapat berdampak pada kenaikan laba, atau adanya efisiensi dala biaya-biaya yang dikeluarkan. Hasil penelitian dengan menggunakan model springate dari empat perusahaan ada dua perusahaan yang diprediksi bangkrut yaitu PT Antam Tbk dan PT Vale Indonesia Tbk , sendagkan yang duan perusahaan diprediksi tidak bangkrut yaitu PT Adaro Energy Tbk, PT Timah (persero) Tbk. Dengan model springate diperoleh prediksi bangkrut ada dua perusahaan artinya

ada dua perusahaan yaitu PT Atman Tbk, dan PT Vale Indonesia Tbk mempunyai kinerja keuangan tidak baik.

7. Edi Parsodjo, Santun R.P, Sitorus, Setyo Pertiwi, Eka I.K Putri, dalam artikel yang berjudul “Analisis status keberlanjutan kegiatan pertambangan batubara di kota samarinda provinsi kalimatan timur”, terbit dijurnal Teknologi Mineral dan Batubara, Vol. 11 No. 1 tahun 2015, menghasilkan kesimpulan pengelolaan pertambangan dikota samarinda pada saat dilakukan penelitian yang ditinjau dari lima dimensi yaitu, dimensi linkungan, dan teknologi, tergolong belum berkelanjutan dengan nilai IK multidimensi sebesar 47-57. Pemerintah perlu memiliki focus yang jelas untuk merubah menjadi lebih berkelanjutan seperti: pengendalian tingkat gangguan pertambangan terhadap ekosistem.

8. Rafles W. Tambunan, Dwiatmanto, M.G. Wi Endang N.P, dalam artikel yang berjudul “Analisis prediksi kebangkrutan perusahaan dengan menggunakanmetode altman z-score (Studi pada subcektor rokok yang

listing dan perusahaan delisting di BEI tahun 2009-2013)”, terbit dijurnal

Administrasi Bisnis (JAB), Vol. 2 No. 1 tahun 2015, menghasilakn kesimpulan pada subsector yang listing di Bursa Efek Indonesia terdapat 1 perusahaan yang termasuk dala kategori rawan dan bangkrut perusahaan tersebut adalah PT Bentoel Internasional Investama, Tbk. Masuk dalam kategori sehat pada tahun 2009, 2010, dan 2011, sedangkan 2012 perusahaan masuk dalam kategori rawan. Kemudian 2013 perusahaan semakin terpuruk dengan menurunya z-score membuat

perusahaan masuk dalam kategori bangkrut. Berbada dengan 2 perusahaan lainya, yaitu PT Handjaya Mandala Sampoerna, Tbk dan PT Gudang Garam Tbk yang selalu masuk dalam kategori sehat. Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa kedua perusahaan mempunyai kinerja keuangan yang baik. Pada perusahaan delisting yang menjadi objek penelitian terlihat bahwa secara keuangan sehingga gejala-gejala yang mengarah pada kehancuran perusahaan rokok saat mensponsori konser, harus menjual rokok pada penonton sebagai pengganti tiket, sehingga perputaran produk pun dapat terlkasana dan perusahaan tidak merasa timpang sebelah. Bagi perusahaan delisting bisa melakukan merger dengan perusahaan lain atau mengganti jenis produknya. Sebaiknya para investor mengetahui kinerja perusahaan sebelum menginvestasikan uangnya, begitu juga dengan krediktur supaya melihat perkembangan perusahaan dan memeriksa terlebih dahulu keadaan keuangan perusahaan.

9. Yudhian Pratama Putra, Dr Norita,SE.,Msi.,AK, Anisah Firli SMB.,MM dalam artikel yang berjudul “Prediksi kebangkrutan dengan menggunakan model altman z-score dan Zavgren (Studi pada perusahaan subsector batubara yang terdaftar di BEI 2010-2014.)”, terbit dijurnal e-Proceeding of Management, Vol. 3 No. 3 tahun 2016. Menghasilkan kesimpulan hasil prediksi kebangkrutan pada model altman dan zavgren cenderung tidak stabil setiap tahunya. Secara keseluruhan pada model altman terdapat 34% yang berada pada zona nonbankruptcy, 37% yang

berda pada zona sehat.63% yang berada pada zona kritis dan 20% berada pada zona bangkrut. Terdapat perbedaan antara prediksi kebangkrutan model altman z-score dengan model zavgren. Pada penelitian ini model altman z-score memiliki tingkat kesesuaian sebesar 71,42%.

10. Asep Muslihat, Edi Suswardji, Ray Malkhia Hidajat dalam artikel yang berjudul “Analisis tingkat kebangkrutan perusahaan dengan menggunakan z-score pada perusahaan tambang batubara yang terdaftar di BEI periode 2011-2015”, terbit dijurnal management and

business,Vol. 2 No. 2 tahun 2018, menghasilkan kesimpulan berdasarkan

hasil z-score menunjukkan bahwa empat perusahaan diprediksi bangkrut yaitu: PT Adaro Energy, Tbk PT Perdana Karya Perkasa,Tbk, PT Atlas Resource, Tbk dan PT Byan Resource, Tbk dan empat perusahaan lainya diprediksi dalam keadaan non bangkrut yaitu: PT Resource Alma Indonesia, Tbk, PT Indo Tambngray Megah, Tbk, PT Bukit Asem Tbk, dan PT Harum Energy Tbk, variabel-variabel altman z-score dapat digunakan untuk memprediksi tingkat kebangkrutan pada perusahaan tambang namun demikian hal ini hanya sebatas prediksi dan tidak menjamin bahwa perusahaan akan benar-benar bangkrut atau tidak. 11. Anita Tri Widiyawati, Supri Wahyudi Utomo, dan Nik Amah dalam

artikel “Analisis rasio altman modifikasi pada prediksi kebangkrutan perusahaan property dan real estate yang terdaftar di BEI”, terbit dijurnal Akuntansi dan Pendidikan, Vol. 4 No. 2 tahun 2015, menghasilakn kesimpulan bahwa dalam penelitian ini variabel rasio Net Working

Capital to Total Assets (X1), Retained Earning to Total Assets (X2), Earning Before Interest and Tax to Total Assets (X3), dan Book Value of Equity to Total Liability (X4) berpengaruh signifikan terhadap variabel

prediksi kebangkrutan mempunyai tingkat validasi yang cukup tinggi yaitu 95%.

12. Maylani Wulandari, Abel Tasman, dalam artikel “Analisis komparatif dalam memprediksi kebangkrutan pada perusahaan Telekomunikasi yang listing di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2017”. Terbit dijurnal Kajian Manajemen dan Wirausaha, Vol.01 No. 01 tahun 2019, menghasilkan kesimpulan Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis data didapatkan tidak ada perbedaan score antara model kebangkrutan altman modifikasi, springate, dan zmijewski dalam memprediksi kebangkrutan pada perusahaan telekomunikasipada tahun 2008-2017. Meskipun tidak ada perbedaan score namun masing-masing model prediksi kebangkrutan memiliki tingkat akurasi yang berbeda-beda.

Dokumen terkait