• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Penelitian Terdahulu

2.2.1. Penelitian Terdahulu Mengenai Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) TPT merupakan salah satu komoditi industri yang memiliki prospek yang sangat menjanjikan, oleh karena itu berbagai penelitian telah banyak dilaksanakan baik dari lembaga akademis maupun lembaga penelitian lainnya. Maryadi (2007) meneliti mengenai analisis pertumbuhan investasi sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) terhadap perekonomian Indonesia dengan menggunakan analisis input-output. Industri TPT pada penelitian ini terdiri dari industri pemintalan dan industri tekstil, pakaian dan kulit. Sumber data yang digunakan adalah tabel input-output Indonesia tahun 2003 berdasarkan transaksi total atas dasar harga produsen dengan klasifikasi 11 sektor.

Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa industri TPT merupakan industri yang penting dalam mendorong sektor hulunya, hal tersebut dapat dilihat dari nilai keterkaitan ke depan dan nilai kepekaan penyebarannya yang lebih dari satu. Disamping itu juga, industri TPT mampu mendorong sektor lainnya dari penyediaan output, pendapatan dan tenaga kerja yang dilihat dari efek multiplier dan analisis investasi khususnya bagi industri TPT sendiri.

Penelitian tentang komoditi tekstil juga dilakukan oleh Junaedi (2007). Penelitian ini berbeda dengan penelitian Maryadi. Junaedi meneliti mengenai dampak peningkatan ekspor di sektor industri tekstil dan produk tekstil terhadap perekonomian Indonesia dengan menggunakan model analisis input-output sisi permintaan. Pada penelitian dilakukan simulasi berupa shock pada bagian ekspor sektor industri tekstil sebesar Rp 5,6 trilyun atau 77 persen dari total ekspor industri tekstil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor industri tekstil dan

produk tekstil sangat bergantung pada sektor industri pengolahan lainnya, sektor tanaman perkebunan, dan sektor listrik, gas dan air bersih. Berdasarkan analisis multiplier diperoleh bahwa sektor industri TPT memiliki kemampuan yang sangat kuat untuk mempengaruhi pembentukan output, pendapatan dan tenaga kerja di seluruh sektor perekonomian.

Propinsi Jawa Barat merupakan sentral pabrik tekstil dan penghasil tekstil terbesar di Indonesia. Oleh karena itu, berbagai penelitian tentang komoditi tekstil telah banyak dilaksanakan. Beberapa penelitian tekstil yang dilakukan di Jawa Barat dijelaskan pada uraian berikut.

Penelitian Mulyani (2007) mengenai dampak restrukturisasi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) terhadap kinerja perekonomian Jawa Barat. Hasil analisis menunjukkan bahwa pembentukan output untuk sektor industri TPT adalah sebesar Rp 41,05 milyar atau sebesar 13,08 persen dari total output Jawa Barat tahun 1999. Permintaan akhir untuk sektor industri TPT sebesar Rp 24,61 milyar atau 10,36 persen dari total permintaan akhir yang digunakan untuk memenuhi permintaan barang dan jasa untuk keperluan konsumsi langsung. Industri TPT mempunyai koefisien penyebaran paling tinggi yaitu sebesar Rp 1,34 milyar. Nilai koefisien yang lebih dari satu menunjukkan bahwa sektor industri TPT memiliki kemampuan untuk meningkatkan pertumbuhan sektor hulunya atau meningkatkan output sektor lain yang digunakan sebagai input sektor industri TPT. Jumlah tersebut mengindikasikan bahwa industri TPT mampu meningkatkan pertumbuhan sektor lain.

Agustineu (2004) melakukan penelitian mengenai analisis faktor-faktor yang mempengaruhi output industri tekstil di Jawa Barat dengan menggunakan

metode regresi berganda atau ordinary least square (OLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh positif terhadap peningkatan output industri tekstil di Jawa Barat adalah faktor produksi modal, bahan baku, dan bahan bakar, sedangkan faktor yang berpengaruh negatif dan tidak nyata terhadap peningkatan output adalah tenaga kerja. Dari sisi elastisitas, modal mempunyai nilai elastisitas sebesar 0,369 artinya jika modal ditingkatkan satu persen maka akan meningkatkan output sebesar 0,369 persen. Bahan baku memiliki nilai elastisitas sebesar 0,841 artinya peningkatan bahan baku sebesar sebesar 1 persen akan meningkatkan output sebesar 0,841 persen. Bahan bakar mempunyai nilai elastisitas 0,182 artinya peningkatan bahan bakar satu persen akan meningkatkan output sebesar 0,182 persen. Tenaga kerja mempunyai nilai elastisitas yang negatif yaitu sebesar -0,124 artinya penambahan jumlah tenaga kerja sebanyak 1 persen maka akan menurunkan output sebesar 0,124 persen. Pada penelitian ini, industri tekstil di Jawa Barat berada pada kondisi increasing return to scale yang artinya laju pertumbuhan output lebih besar daripada laju pertumbuhan input.

2.2.2. Penelitian Terdahulu Mengenai Investasi

Penelitian tentang analisis pengaruh otonomi daerah terhadap pertumbuhan investasi di Propinsi Jawa Barat dilaksanakan oleh Ferdiyan (2006). Metode yang digunakan adalah metode shift share dan OLS dengan data tahunan periode sebelum otonomi daerah (1995-2000) dan periode masa otonomi daerah (2001-2004).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum otonomi daerah pada umumnya terjadi pertumbuhan investasi yang negatif pada sektor-sektor

perekonomian di Jawa Barat, sedangkan pada saat otonomi daerah terjadi pertumbuhan yang positif hampir di seluruh perekonomian di Jawa Barat. Berdasarkan hasil analisis regresi, otonomi daerah, dan PMDN Jawa Barat tahun sebelumnya berpengaruh positif secara signifikan terhadap PMDN di Jawa Barat, sedangkan tingkat inflasi Jawa Barat secara signifikan berpengaruh negatif. Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan secara positif terhadap investasi PMA Jawa Barat adalah otonomi daerah dan PDRB.

2.2.3. Penelitian Terdahulu Mengenai Upah Minimum

Octivaningsih (2006) meneliti mengenai analisis pengaruh nilai upah minimum kabupaten terhadap investasi, penyerapan tenaga kerja, dan PDRB di Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan model analisis Y = f(K,L). Model yang dirumuskan tersebut merupakan model ekonometrika dalam bentuk persamaan simultan. Penelitian ini menggunakan batasan pada nilai investasi yang masuk ke daerah dan penyerapan tenaga kerja sebagai indikator yang mempengaruhi PDRB secara langsung. Hal ini dikarenakan nilai UMK tidak akan berpengaruh langsung terhadap PDRB.

Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai UMK secara signifikan berpengaruh negatif terhadap tingkat investasi asing namun tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai investasi dalam negeri. Selanjutnya, nilai UMK berpengaruh negatif secara signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor manufaktur di Kabupaten Bogor. Tetapi, nilai UMK tidak berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor nonmanufaktur di Kabupaten Bogor. Hubungan nilai UMK terhadap pertumbuhan ekonomi (PDRB) di Kabupaten Bogor dapat dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi PDRB secara langsung,

yaitu investasi asing, dalam negeri, penyerapan tenaga kerja sektor manufaktur dan nonmanufaktur. Pada penelitian Octivaningsih dapat disimpulkan bahwa pengaruh dari nilai UMK terhadap investasi, penyerapan tenaga kerja, dan PDRB di Kabupaten Bogor adalah negatif.

Sandra (2004) meneliti mengenai dampak kebijakan upah minimum terhadap upah dan pengangguran di Pulau Jawa dengan menggunakan model persamaan simultan. Model tersebut terdiri dari empat persamaan identitas yaitu persamaan tenaga kerja, penawaran tenaga kerja, upah riil dan pengangguran. Simulasi kebijakan pada variabel UMP riil dengan perubahan sebesar 5 persen dilakukan untuk mengetahui dampak kebijakan upah minimum terhadap tingkat upah dan pengangguran di Pulau Jawa. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kenaikan UMP riil sebesar 5 persen mengakibatkan terjadinya penurunan jumlah permintaan tenaga kerja di tiap propinsi dengan penurunan rata-rata sebesar 0,74 persen dalam rentang waktu 1988 sampai tahun 2002. Upah riil dan pengangguran juga mengalami penurunan, masing-masing sebesar 2,71 dan 11,29 persen. Penurunan UMP sebesar 5 persen akan menyebabkan upah riil pekerja mengalami kenaikan sebesar 3,03 persen. Penyerapan tenaga kerja akibat penurunan tersebut mengalami kenaikan sebesar 0,82 persen dan jumlah pengangguran mengalami kenaikan sebesar 12,49 persen.

Berdasarkan uraian penelitian-penelitian terdahulu, penelitian tentang upah minimum dan TPT telah banyak dilakukan. Namun, pengaruh upah minimum terhadap investasi suatu sektor belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah ruang lingkup investasi di Jawa Barat yaitu investasi pada sektor industri TPT.

Dokumen terkait