Perkembangan PDRBRiil Jawa Barat (1994-2006)
6.2. Analisis Pengaruh Nilai Upah Minimum Propinsi (UMP) terhadap Investasi Industri TPT di Jawa Barat Investasi Industri TPT di Jawa Barat
6.2.2. Estimasi Model 1. PMDN Industri TPT
6.2.2.2. PMA Industri TPT
Berdasarkan hasil estimasi pada Tabel 19, persamaan PMA industri TPT memiliki nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,6192. Nilai R2 mengindikasikan bahwa 61,92 persen keragaman yang terjadi pada PMA dapat dijelaskan oleh variabel-variabel eksogen di dalam model, sedangkan sisanya sebesar 38,08 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar model PMA.
Tabel 19. Hasil Estimasi Model PMA
Variabel Dependen: LOG(PMA)
Variabel Koefisien t-Statistik Probabilitas
Konstanta 21,06432 1,30836 0,2271 LOG(Upah Minimum
Propinsi) -1,314485 -0,919053 0,3849 Suku Bunga -0,033053 -2,517443 0,036* LOG(PDRB per kapita) 0,289927 0,788381 0,4532 Laju Nilai Tukar 0,004109 1,139366 0,2875
R-squared 0,61924 F-statistik 3,252651
Durbin-Watson stat 2,322353 Prob(F-statistik) 0,073081 Keterangan : *signifikan pada taraf nyata 10 persen.
Selanjutnya, pada persamaan investasi asing (PMA) nilai F-hitung sebesar 3,25 dengan probabilitas sebesar 0,073081 yang nyata pada taraf 10 persen. Selain itu, nilai F-hitung yang diperoleh juga lebih besar dari F-tabel yaitu 2,81. Hal ini menunjukkan bahwa variabel eksogen dalam model secara bersama-sama memiliki pengaruh yang nyata terhadap variabel PMA industri TPT Jawa Barat.
Berdasarkan hasil estimasi di atas (Tabel 19), dapat disusun persamaan regresi berganda untuk model PMA industri TPT Jawa Barat adalah sebagai berikut :
LOG(PMA) = 21,06432 - 1,314485LOG(UMP) - 0,033053(SB) +
0,289927LOG(PDRBKAPITA) + 0,004109(LER) + ε (6.2) Pada hasil estimasi juga dapat dilihat bahwa pada taraf nyata 10 persen, hanya variabel suku bunga yang berpengaruh nyata terhadap PMA industri TPT Jawa Barat. Berikut merupakan penjelasan masing-masing variabel eksogen hasil regresi model PMA industri TPT Jawa Barat :
a. UMP
Nilai UMP mempunyai pengaruh negatif tidak signifikan terhadap PMA industri TPT Jawa Barat. Pengaruh nilai UMP tidak signifikan terhadap PMA industri TPT Jawa Barat dikarenakan para investor asing bersedia membayar upah di atas equilibrium, karena di Indonesia termasuk Jawa Barat memiliki turnover labour yang rendah. Artinya, para pekerja di sektor TPT cenderung tetap atau tidak sering berpindah-pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Kondisi tersebut berbeda dengan kebiasaan para pekerja di negara ASEAN,
khususnya Vietnam, yang selalu mengalami frekuensi perputaran tenaga kerja6. Nilai UMP Jawa Barat yang tinggi akan mengurangi frekuensi perputaran pekerja industri TPT sehingga pengeluaran perusahaan untuk merekrut dan melatih pekerja-pekerja baru akan berkurang.
Potensi Jawa Barat sebagai kawasan industri tekstil yang didukung oleh kemampuan di bidang ekonomi, pendidikan maupun SDM serta daya saing Jawa Barat yang lebih baik dibandingkan propinsi lain menjadi prioritas utama bagi para investor asing dalam menanamkan modalnya pada industri TPT. Potensi Jawa Barat tersebut juga terkait dengan pertimbangan faktor mobilitas dan kemudahan prosedur perijinan investasi. Dilihat dari faktor mobilitas, para investor lebih baik membayar tingkat upah yang tinggi daripada membayar biaya produksi yang lebih tinggi ketika melanjutkan produksi di wilayah lain. Selanjutnya dari sisi kemudahan prosedur perijinan investasi, adanya kebijakan penyelenggaran pelayanan terpadu satu pintu/PPTSP (One Stop Service) dan Tim Task Force penanganan permasalahan penanaman modal yang merupakan wujud pelayanan publik dalam tata pemerintahan telah meningkatkan kepercayaan para investor dalam menanamkan modal di Jawa Barat. Kedua kebijakan tersebut menyediakan fasilitas dan mediasi dalam rangka membantu permasalahan teknis maupun non teknis yang dihadapi oleh para investor. Jadi, investor asing lebih baik membayar tingkat upah yang lebih tinggi daripada menghadapi in-efisiensi birokrasi serta adanya resiko ketidakpastian hukum.
6
http://www.inilah.com/berita.php?id=20517. Ahluwalia. Investasi Mulai ke Luar Jabodetabek. Diakses : 16 Juni 2008.
Sama halnya dengan PMDN, kebijakan upah minimum selalu dikaitkan dengan penyerapan tenaga kerja pada PMA. Berdasarkan Gambar 15 terlihat bahwa pada kenyataannya penyerapan tenaga kerja pada PMA industri TPT cenderung mengalami peningkatan. Hal ini mengindikasikan bahwa nilai UMP yang cenderung meningkat setiap tahunnya tidak mempengaruhi penyerapan tenaga kerja. Penyerapan tenaga kerja yang justru semakin meningkat akan meningkatkan produksi perusahaan dan selanjutnya meningkatkan investasi, karena keuntungan yang diperoleh perusahaan juga bertambah.
Pe nye r apan Te naga Ke rja pada PM A Indus tr i TPT Propins i Jaw a Bar at
0 5000 10000 15000 20000 25000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Or a n g
Sumber : BPPMD Jawa Barat, 2007.
Gambar 15. Perkembangan Penyerapan Tenaga Kerja pada PMA Industri TPT Jawa Barat, Tahun 2001 - 2006
b. Suku Bunga
Berdasarkan hasil estimasi, diperoleh bahwa suku bunga berpengaruh negatif secara signifikan terhadap PMA. Nilai koefisien untuk suku bunga adalah 0,03305, artinya peningkatan suku bunga 1 persen akan menurunkan PMA industri TPT Jawa Barat sebesar 0,03305 persen (cateris paribus). Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa investasi sangat ditentukan oleh suku bunga secara negatif, dimana tingkat suku bunga yang tinggi akan menurunkan nilai
investasi. Tingkat suku bunga yang tinggi akan menyebabkan para investor asing menurunkan investasi karena adanya penambahan biaya pengembalian hutang. Suku bunga berpengaruh negatif terhadap PMA dan sesuai dengan motif para investor asing dalam menanamkan modalnya yaitu mencari keuntungan melalui biaya yang rendah.
c. PDRB per kapita
Berdasarkan hasil pendugaan parameter, PDRB per kapita tidak berpengaruh secara signifikan terhadap investasi asing (PMA). PDRB per kapita dapat menentukan besarnya potensi pasar, yang berarti juga besarnya keuntungan bagi seorang investor. Namun, perusahaan PMA tidak hanya melayani pasar TPT di Jawa Barat saja, tetapi juga pasar domestik (Indonesia) dan pasar luar negeri, seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. Selain itu, para investor tersebut sedang berupaya meningkatkan pemasaran dan promosi produk TPT Jawa Barat secara langsung ke Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Hal ini menunjukkan bahwa PDRB per kapita tidak menjadi pertimbangan utama bagi para investor asing untuk menanamkan modalnya pada industri TPT Jawa Barat. d. Laju Nilai Tukar
Hasil estimasi menunjukkan bahwa variabel laju nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing (US Dollar) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap PMA industri TPT Jawa Barat. Sejak sistem nilai tukar mengambang bebas di Indonesia diterapkan, secara umum pergerakan nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika sangat fluktuatif. Fluktuasi nilai tukar memiliki pengaruh yang besar bagi kelangsungan perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, investor asing berusaha untuk mengurangi keterlibatan dalam valuta asing karena
dapat meningkatkan resiko yaitu cash flow perusahaan terpengaruh oleh fluktuasi nilai tukar.
Depresiasi rupiah setelah krisis disatu sisi berhasil meningkatkan daya saing industri TPT. Hal ini dikarenakan ketika mata uang Indonesia melemah maka harga TPT yang ditawarkan Indonesia lebih murah dibandingkan harga TPT yang ditawarkan dunia, sehingga volume ekspor akan mengalami peningkatan. Ketika harga TPT Indonesia lebih kompetitif dan volume ekspor mengalami peningkatan, para investor akan semakin meningkatkan investasinya pada industri TPT. Pengaruh depresiasi rupiah terhadap US Dollar ini tidak signifikan karena pada saat rupiah mengalami depresiasi berarti terjadi fenomena ekonomi di Indonesia yang akan berpengaruh kecil terhadap fenomena ekonomi dunia, dimana mata uang negara-negara lain juga mengalami depresiasi terhadap US Dollar sehingga harga TPT yang ditawarkan dunia juga relatif rendah.
Berdasarkan penjelasan umum UU No.1 Tahun 1967 tentang PMA, pasal 19 dan 20 menyatakan bahwa pemerintah memberikan hak transfer dan repartiasi modal dalam valuta asing bagi investor asing. Adanya repartiasi modal ini memberi peluang bagi para investor asing agar dapat menyesuaikan aliran modalnya sesuai dengan laju nilai tukar rupiah yang terjadi. Penjelasan di atas menunjukkan bahwa laju nilai tukar bukan menjadi pertimbangan utama bagi para investor asing dalam menanamkan modalnya pada industri TPT. Adapun pertimbangan utama para investor asing dalam menanamkan modalnya pada industri TPT adalah tingkat suku bunga yang tinggi, prosedur perijinan yang masih berliku dan relatif mahal, kurangnya insentif yang diberikan pada para calon investor (lemahnya insentif investasi), masih rendahnya kepastian hukum
karena berlarutnya RUU Penanaman Modal, tingginya kasus korupsi, terjadinya masalah keamanan serta sistem pajak/bea masuk/retribusi dan pungutan-pungutan lainnya.