• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.6. Penelitian Terdahulu

Adapun penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan berkenaan dengan Tesis ini adalah:

Sukardi (2002) dengan judul penelitian “Modal Sosial dan Reorientasi

Kebijakan Publik (Studi Utilisasi Modal Sosial dalam Proses Reorientasi Kebijakan Agraria Lokal pada Kasus Sengketa Properti Tanah Petani melawan PTPN XII di Kawasan Malang Selatan)” menjelaskan telah terjadi persengketaan tanah antara

para petani yang desanya menjadi milik areal penanaman tanaman perkebunan milik PTPN XII. Di mana ditemukan asal mula timbulnya modal sosial dari interaksi dalam sebuah komunitas dalam suatu wilayah. Di mana rasa interaksi diantara sesama warga desa timbul, karena adanya tingginya tingkat saling berinteraksi dan berkomunikasi yang membuat hubungan antar warga di desa semakin erat. Selain itu juga,

ditemukannya pihak yang mengetahui asal muasalnya tentang kepemilikkan dari tanah perkebunan yang dilakukan oleh kaum petani. Kaum petani juga berusaha mencari jalan keluar dari masalah ini dengan media keagamaan dan kelembagaan lain yang berkaitan dengan perkebunan melalui berbagai upaya pengalaman dan pergaulan dengan pihak PTPN sendiri melalui proses utilisasi tentang modal sosial. Proses ini menunjukkan gambaran tentang aktivitas dari kaum petani untuk menggunakan berbagai area wilayah perkebunan yang pada awalnya area tersebut dijadikan tempat menjalin solidaritas, pertukaran tenaga kerja maupun uang. Modal sosial yang mengakar dalam struktur masyarakat, sehingga orang-orang dapat mengkoordinir tindakan untuk mencapai tujuan. Secara sederhana Modal Sosial merupakan kemampuan masyarakat untuk mengkoordinir diri sendiri dalam memperjuangkan tujuan-tujuan mereka. Proses utilisasi ini dijadikan sebagai media kaum petani untuk menyampaikan keinginan mereka dalam mempertahankan tanah yang mereka anggap adalah milik mereka bukan milik PTPN tersebut dengan cara forum sebuah diskusi mengenai pandangan para kaum petani tentang keberadaan dan peranan dari modal sosial yang mendorong mereka dalam satu pandangan untuk memperjuangkan tujuan mereka, yaitu untuk mempertahankan tanah perkebunan. Media ini dilakukan dengan pengadaan suatu pertemuan di sebuah tempat dengan melibatkan kaum petani dari tiap desa yang bertujuan untuk merebut tanah yang sudah diambil oleh pihak PTPN. Hasil dari pertemuan tersebut mendapat kesepakatan dengan cara damai di mana kaum petani berhasil mendapatkan tanah perkebunan mereka yang sebelumnya sudah diambil-alih oleh pihak PTPN.

Razali (2006) dengan judul penelitian “Pemberdayaan Masyarakat Melalui

Usaha Ekonomi Produktif dalam Program Pembangunan Gampong” menjelaskan

jenis dana usaha ekonomi produktif dalam Program Pembangunan Gampong (PPG) dibekukan oleh pemerintah Kabupaten Aceh Utara, karena dan kondisi daerah yang belum sempurna kondusif, khususnya di Kecamatan Baktiya Barat dan umumnya Kabupaten Aceh Utara, mengingat pada waktu itu masih terjadi di sana-sini intimidasi terhadap masyarakat, perampokan dan penodongan masih terjadi di mana- mana, maka apabila dalam kondisi seperti ini pemerintah memaksakan kehendaknya untuk meluncurkan jenis dana usaha ekonomi produktif ini, sangat diragukan terjadi penyimpangan dari sasaran yang diharapkan dan akhirnya tidak akan sampai ke tangan si penerima. Dampak bagi masyarakat gampong dalam Kecamatan Baktiya Barat setelah jenis usaha ekonomi produktif ini dibekukan, masyarakat menjadi kecewa, karena usulan kegiatan yang telah dituangkan lewat Musyawarah Gampong (Duek Pakat) yang diharapkan dari jenis usaha ekonomi produktif dalam Program Pembangunan Gampong (PPG) ini menjadi sirna, padahal harapan masyarakat berharap dari kegiatan usulan mereka dapat tertampung melalui jenis dana tersebut, sekaligus bisa mengembangkan usahanya ke arah yang lebih maju dan dapat meningkatkan penghasilan sebagaimana yang diharapkan.

Abdullah (2007) dengan judul penelitian “Pemberdayaan Masyarakat

Gampong Melalui Program Usaha Ekonomi Desa” menjelaskan pengembangan

dengan cara lebih memberdayakan masyarakat sebagai modal utama dalam berusaha untuk memberdayakan masyarakat ke arah peningkatan kemampuan di segala bidang dan aspek kehidupan kegiatan ini dilakukan oleh pemerintah bersama-sama dengan masyarakat setempat. Begitu juga harapan masyarakat supaya Pemerintah Kabupaten Aceh Utara berusaha sekuat tenaga agar masyarakat di gampong-gampong memberi dan mengarahkan ke arah yang lebih baik dalam menjalankan usaha untuk meningkatkan ke arah yang lebih maju, di samping arahan dan bimbingan dari pemerintah juga pemerintah mengupayakan dengan menyediakan dalam bentuk dana untuk menunjang modal usaha mereka sehingga masyarakat gampong bisa lebih maju dalam memacu meningkatkan ekonominya. Mauludi (2008), menulis penelitian dengan judul ” Pemanfaaatan Modal Sosial dalam Rekonstruksi Sosial Ekonomi Melalui Credit Union bagi Korban Bencana Tsunami”, beliau menyebutkan bahwa

Kabupaten Aceh Utara merupakan daerah yang turut tertimpa musibah akibat gempa bumi dan gelombang Tsunami tersebut. Dari 27 kecamatan di Kabupaten Aceh Utara terdapat 7 (tujuh) Kecamatan yang terkena langsung gelombang tsunami tersebut. Untuk pemulihan kondisi hasil dari dampak musibah tersebut di Kabupaten Aceh Utara terutama terhadap kerusakan infrastruktur dan sufrastruktur yang begitu dasyhat, maka perlu di cari solusi alternatif agar masyarakat Aceh, khususnya Aceh Utara dapat kembali melangsungkan tatanan kehidupan yang normal seperti sebelum terjadinya musibah tersebut. Melihat kondisi masyarakat yang terkena musibah tersebut perlu adanya satu persiapan sosial dan pemanfatan potensi modal sosial yang di dasari kepada kemampuan masyarakat untuk dapat menemukan kembali jati

dirinya. Adapun hasil yang diinginkan dari pemanfaatan potensi modal sosial tersebut adalah untuk membangun dan memulihkan kondisi yang lama ke kondisi yang baru, sehingga terbentuk program pembangunan yang di dasari kepada norma-norma dan hubungan sosial yang mengakar dalam struktur masyarakat, sehingga orang-orang dapat mengkoordinir tindakan untuk mencapai tujuan. Intinya adalah kemampuan masyarakat untuk mengorganisir diri sendiri tujuan-tujuan mereka. Dengan menggali kembali modal sosial tersebut, masyarakat kembali tumbuh kepercayaan dan jati dirinya untuk menata kembali kehidupan dan mengharapkan masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan tersebut.

Dokumen terkait