PEMANFAATAN MODAL SOSIAL MASYARAKAT PADA
PROGRAM PEMBANGUNAN GAMPONG (PPG)
KECAMATAN BAKTIYA BARAT
KABUPATEN ACEH UTARA
T E S I S
Oleh
FATWA MAULANA
077003017/PWD
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
S
E K O L
A
H
P A
S C
A S A R JA N
PEMANFAATAN MODAL SOSIAL MASYARAKAT PADA
PROGRAM PEMBANGUNAN GAMPONG (PPG)
KECAMATAN BAKTIYA BARAT
KABUPATEN ACEH UTARA
T E S I S
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan
pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
FATWA MAULANA
077003017/PWD
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : PEMANFAATAN MODAL SOSIAL MASYARAKAT PADA PROGRAM PEMBANGUNAN GAMPONG
(PPG) KECAMATAN BAKTIYA BARAT
KABUPATEN ACEH UTARA Nama Mahasiswa : Fatwa Maulana
Nomor Pokok : 077003017
Program Studi : Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan
(PWD)
Menyetujui, Komisi Pembimbing
(Prof. H. Bachtiar Hassan Miraza, SE) Ketua
(Prof. Dr. Iic rer reg. Sirojuzilam, SE) Anggota
(Kasyful Mahalli, SE, M.Si) Anggota
Ketua Program Studi,
(Prof. H. Bachtiar Hassan Miraza, SE)
Direktur,
(Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B,M.Sc)
Telah diuji pada
Tanggal: 19 Agustus 2009
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. H. Bachtiar Hassan Miraza, SE
Anggota : 1. Prof. Dr. Iic. rer. reg. Sirojuzilam, SE
2. Kasyful Mahalli, SE, M.Si
3. Prof. Aldwin Surya, SE, M.Pd, Ph.D
4. Agus Suriadi, S.Sos, M.Si
ABSTRAK
cukup kuat untuk menciptakan suasana kondusif pada masyarakat Kecamatan Baktiya Barat.
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur Penulis haturkan Kehadirat Allah SWT atas Berkah dan
HidayahNya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan TESIS dengan judul
Pemanfaatan Modal Sosial Masyarakat Pada Program Pembangunan Gampong
(PPG) Kecamatan Baktiya Barat, Kabupaten Aceh Utara. Tulisan ini membahas
tentang manfaat dari modal sosial yang diberikan oleh Kabupaten Aceh Utara kepada
Kecamatan Baktiya Barat dalam bentuk Program Pembangunan Gampong (PPG)
dengan mengupayakan adanya proses pemberdayaan masyarakat Gampong melalui
berbagai kegiatan (misalnya pembangunan balai pengajian, pembangunan saluran
irigasi/leaning, parit jalan, gorong-gorong, bantuan hewan ternak dan lain-lain).
Adapun partisipasi warga diikut sertakan dalam suatu wadah forum diskusi yang
dikenal dengan FGD (Focuss Group Disscussion) yang berkenaan dengan tanggapan
dari perwakilan tokoh masyarakat mengenai pelaksanaan Program Pembangunan
Gampong (PPG) terhadap Pengembangan Wilayah di Kecamatan Baktiya Barat
Kabupaten Aceh Utara. Dalam menyelesaikan Tesis ini, tentu saja penulis banyak
mendapat masukkan dan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga pada akhirnya
Penulis dapat menyelesaikannya. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, tulus dan
ikhlas, Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, DTM&H, Sp.A.(K), selaku Rektor Universitas
Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada Penulis
untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan di Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa, B, M.Sc, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara, yang senantiasa dengan sabar dan secara
berkesinambungan meningkatkan layanan pendidikan di Sekolah Pascasarjana
3. Prof. H. Bachtiar Hassan Miraza, SE, selaku Ketua Program Studi Perencanaan
Pembangunan Wilayah dan Pedesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera
Utara, serta sekaligus sebagai Ketua Komisi Pembimbing, yang telah menyetujui
judul dan meluangkan waktunya untuk membimbing Penulis selama mengikuti
pendidikan Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara dan bimbingan terhadap tesis
ini dimulai sejak awal hingga selesainya tesis ini.
4. Prof. Dr. Lic. rer. reg. Sirojuzilam, SE, selaku Komisi Pembimbing yang telah
dengan sabar meluangkan waktunya untuk membimbing Penulis selama
mengikuti pendidikan Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan
Pedesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, serta memberikan
saran yang konstruktif dalam membimbing Penulis dari sejak awal hingga
berakhirnya Tesis ini.
5. Bapak Kasyful Mahalli, SE.M.Si, selaku Komisi Pembimbing yang telah dengan
sabar meluangkan waktunya untuk membimbing Penulis selama mengikuti
pendidikan Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, serta memberikan saran yang
konstruktif dalam membimbing Penulis dari sejak awal hingga berakhirnya tesis
ini.
6. Prof. Aldwin Surya, SE. M.Pd. Ph.D, selaku Komisi Dosen Pembanding yang
memberikan saran untuk masukkan dan arahan yang bermanfaat bagi Penulis dari
sejak awal hingga berakhirnya tesis ini.
7. Agus Suriadi, S.Sos, M.Si, selaku Komisi Dosen Pembanding yang memberikan
saran untuk masukkan dan arahan yang bermanfaat bagi Penulis dari sejak awal
hingga berakhirnya tesis ini.
8. Drs. Rujiman, MA, selaku Komisi Dosen Pembanding yang memberikan saran
untuk masukkan dan arahan yang bermanfaat bagi Penulis dari sejak awal hingga
9. Bapak Camat/Staff Kecamatan Baktiya Barat yang telah memberikan izin kuliah,
serta pengertian dan kemudahan bagi Penulis dalam menyelesaikan pendidikan
di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
10. Kedua Orang Tua yang saya hormati dan saya sayangi, Mahyuddin Ibrahim
(Ayahanda) dan Nur Farida Hanum, S.Pd (Ibunda), yang senantiasa memberikan
dukungan, bantuan, nasihat, bimbingan dan motivasi yang diberikan kepada
Penulis.
11. Istriku Tercinta, Agustia, Am.Keb, yang senantiasa memberikan bantuan,
semangat dan dorongan yang diberikan kepada Penulis dalam menyelesaikan
pendidikan di Sekolah Pascasarjana Uinversitas Sumatera Utara.
12. Keluarga Tercinta, Farah Mayana (Kakak Penulis), Muliya Fika (Adik Penulis),
Royanna Sakura (Adik Penulis) dan Muhammad Muzammil (Adik Penulis), yang
senantiasa memberikan dukungan dan motivasi yang diberikan kepada Penulis.
13. Staff Biro Administrasi Program PWD Sekolah Pascasarjana USU, Bapak
M. Yusuf, SH, yang telah membantu dan memperlancar kegiatan selama
perkuliahan di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
14. Pegawai Biro Administrasi Program PWD Sekolah Pascasarjana USU, khususnya
Kak Leli, Putra, Maya dan Uci, yang telah memperlancar administrasi selama
Penulis menempuh pendidikan di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera
Utara.
15. Rekan-rekan Mahasiswa Program Perencanaan Pembangunan Wilayah dan
Pedesaan, khususnya Rekan Mahasiswa di Jurusan Perkotaan, Bapak Razi, Bapak
Mulatua Sinaga, Abang Mussawir, Abang Saifuddin, Musa, Razki, Erwin dan
rekan-rekan mahasiswa lainnya yang tidak mungkin Penulis sebutkan namanya
satu per satu, yang senantiasa memberikan saran untuk masukkan dan arahan
yang bermanfaat bagi Penulis dari sejak awal hingga berakhirnya Tesis ini
maupun dalam masa perkuliahan.
16. Para peserta undangan forum diskusi FGD (Focuss Group Disscussion) yang
partsipasi melalui tanggapan tentang pemanfaatan modal sosial yang diberikan
oleh Pemerintahan Kabupaten Aceh Utara kepada Kecamatan Baktiya Barat
dalam bentuk Program Pembangunan Gampong (PPG).
Akhir kata, Penulis mengucapkan Semoga Tesis ini bermanfaat bagi para
pembaca, khususnya untuk kalangan Mahasiswa.
Medan, Agustus 2009
Penulis
RIWAYAT HIDUP
I. DATA PRIBADI
N ama : Fatwa Maulana
Tempat/Tgl. Lahir : Lhokseumawe/17 Oktober 1979
Jenis Kelamin : Laki-Laki
2009-2007 : S-2 Sekolah Pascasarjana, Magister Perencanaan
Pembangunan Wilayah dan Pedesaan Universitas Sumatera Utara, Medan.
2004-2006 : S-1 Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu
Sosial dan Politik, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe.
2. Staff pada Bagian Pemerintahan Setdakab, Kabupaten Aceh Utara Tahun 2003.
3. Kasi Pemerintahan Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara,
Tahun 2003.
4. Sekretaris Lurah Kota Lhokseumawe, Kecamatan Lhoksukun, Kabupaten Aceh Utara Tahun 2004.
DAFTAR ISI
2.2. Pengertian Program Pembangunan Gampong (PPG) ... 24
2.3. Program Pengembangan Wilayah ... 27
2.4. Konsep tentang Pemberdayaan Masyarakat ... 30
2.5. Konsep Pembangunan... 34
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 53
4.1.4. Pembagian Wilayah Berdasarkan Administrasi Pemerintahan... 61
4.2. Program PPG yang Telah dilaksanakan... 67
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
1.1. Nama-nama Gampong dalam Kecamatan Baktiya Barat dan Jenis-jenis Kegiatan yang diusulkan dalam PPG
Tahun Anggaran 2005... 3
4.1. Batas Wilayah Kabupaten Aceh Utara... 53
4.2. Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kabupaten Aceh Utara
dalam Angka Tahun 2007 ... 54
4.3. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk
di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007... 55
4.4. Batas Wilayah Kecamatan Baktiya Barat ... 56
4.5. Luas Wilayah Menurut Gampong Kecamatan Baktiya Barat
di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2006... 57
4.6. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk
Menurut Kecamatan Baktiya Barat Tahun 2006... 58
4.7. Jumlah Kepala Keluarga dan Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007 ... 59
4.8. Jumlah Kepala Keluarga dan Jumlah Penduduk Kecamatan Baktiya Barat Tahun 2006... 60
4.9. Distribusi Persentase PDRB (dengan Migas) Kabupaten Aceh Utara Menurut Lapangan Usaha Tahun 2002 hingga 2007 Berdasarkan
Harga Berlaku Tahun 2000 ... 62
4.10. Distribusi Persentase PDRB (tanpa Migas) Kabupaten Aceh Utara Menurut Lapangan Usaha Tahun 2002 hingga 2007 berdasarkan
Harga Berlaku Tahun 2000 ... 64
4.11. Jumlah Pesantren dan Balai Pengajian Menurut Desa Kecamatan
4.12. Jenis dan Panjang Jalan Utama Menurut Desa Kecamatan Baktiya
Barat Tahun 2006 ... 66
4.13. Nama-nama Gampong dalam Kecamatan Baktiya Barat Dan Jenis-jenis Kegiatan yang dilaksanakan dalam PPG Tahun Anggaran 2005... 68
4.14. Nama-nama Gampong dalam Kecamatan Baktiya Barat Dan Jenis-jenis Hewan Ternak yang diberikan dalam PPG Tahun Anggaran 2005... 70
4.15. Manfaat dan Bentuk Wujud dari Program Pembangunan Gampong... 70
4.16. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Kejujuran ... 73
4.17. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Kewajaran... 74
4.18. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Egaliter... 75
4.19. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Toleransi... 76
4.20. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Kemurahan Hati ... 78
4.21. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Partisipasi ... 79
4.22. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Pertukaran Timbal Balik . 80 4.23. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Solidaritas ... 82
4.24. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Kerja Sama ... 83
4.25. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Keadilan ... 84
4.26. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Nilai yang Dimiliki Bersama... 86
4.27. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Norma dan Sanksi ... 87
4.28. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Moralitas... 88
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
1. Undangan Forum Diskusi FGD ... 100
2. Pertanyaan dalam Forum Diskusi GFD ... 102
3. Denah Lokasi Penelitian ... 146
4. Program PPG yang Telah dilaksanakan... 147
5. Dokumentasi Penelitian ... 152
6 A. Peta Lokasi Penelitian Kabupaten Aceh Utara ... 155
6 B. Peta Lokasi Penelitian Kecamatan Baktiya Barat... 156
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pembangunan adalah sebagai sebuah proses multidimensional yang mencakup
berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan
institusi-institusi nasional, di samping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan
ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengentasan kemiskinan
(Todaro, 2000). Pembangunan juga diartikan sebagai suatu proses perubahan sosial
dengan partisipatori yang luas dalam suatu masyarakat yang dimaksudkan untuk
mencapai kemajuan sosial dan material (termasuk bertambah besarnya keadilan,
kebebasan dan kualitas lainnya yang dihargai) untuk mayoritas rakyat melalui kontrol
yang lebih besar yang mereka peroleh terhadap lingkungan mereka (Rogers, 1983).
Jadi, pada hakikatnya pembangunan harus mencerminkan perubahan total
suatu masyarakat atau penyesuaian sistem sosial secara keseluruhan, tanpa
mengabaikan keragaman kebutuhan dasar dan keinginan individual, maupun
kelompok-kelompok sosial yang ada di dalamnya untuk bergerak maju menuju suatu
kondisi kehidupan yang lebih baik, secara material maupun spritual. Pembangunan
Gampong sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dan mempunyai arti
yang sangat strategis, karena Gampong merupakan basis dari pembangunan nasional,
rakyat dan untuk rakyat dengan bantuan pemerintah, maka terdapat adanya kewajiban
yang harus dilaksanakan bersama oleh pemerintah dan masyarakat secara seimbang.
Berdasarkan pemikiran tersebut di atas Pemerintah Kabupaten Aceh Utara pada
tahun 2002 meluncurkan sistem perencanaan pembangunan daerah yang aspiratif dan
partisipatif melalui program pembangunan Gampong dengan tujuan umum untuk
perkembangan Aceh Utara ke arah yang lebih baik melalui upaya-upaya
pembangunan Gampong. Adapun sumber hukum pelaksanaan program ini adalah
Qanun Kabupaten Aceh Utara Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Rencana strategis
(RENSTRA) pembangunan daerah kabupaten Aceh Utara Tahun 2001-2005, Qanun
Kabupaten Aceh Utara Nomor 1 Tahun 2003 Tentang Anggaran pendapatan dan
Belanja daerah Kabupaten Aceh utara dan Surat Bupati Aceh Utara Nomor
648.2/2078/2002 Tanggal 5 Januari 2002, Tentang Pedoman Umum Program
Pembangunan Gampong Kabupaten Aceh Utara.
Program Pembangunan Gampong merupakan suatu bentuk pemberdayaan
terhadap masyarakat miskin Gampong. Gampong yang dimaksud dalam hal ini
adalah wilayah pedesaan atau biasa istilah umum juga dikenal dengan sebutan
perkampungan. Rumusan pengertian pembangunan desa menurut Chambers (1998)
adalah suatu strategi yang memungkinkan kelompok masyarakat tertentu, baik
laki-laki maupun wanita miskin di desa, memperoleh apa yang mereka inginkan dan
perlukan bagi dirinya maupun anak-anaknya. Hal ini dapat tercapai jika diikut
Pemberdayaan sesungguhnya adalah usaha-usaha mengembangkan potensi
yang ada dan dalam keadaan lemah menjadi kuat dan mampu untuk menghadapi
setiap tantangan dalam usaha mencapai tujuan yang diharapkan. Pemberdayaan
dalam pengertian ini jelas menunjukkan adanya suatu usaha yang di latar belakangi
oleh kemauan yang keras dalam merubah sesuatu yang lemah menjadi kuat dan dapat
digunakan untuk kemajuan sesuai dengan diharapkan. Sebagai salah satu program
pemberdayan, PPG mengupayakan adanya proses pemberdayaan masyarakat
Gampong melalui berbagai kegiatan, misalnya ekonomi produktif, rehabilitasi fisik,
perbaikan jalan, saluran air dan lain-lain.
Tabel 1.1. Nama-nama Gampong dalam Kecamatan Baktiya Barat Dan Jenis- jenis Kegiatan yang diusulkan dalam PPG Tahun Anggaran 2005
No. Nama Gampong Jenis Kegiatan
1. Cot Kupok Saluran Irigasi dan Jembatan Kayu
2. Mtg. Raya Blang Sialet Jembatan Plat Beton dan Leaning Irigasi
3. Pucok Aloe Buket Saluran Irigasi dan Jembatan Kayu
4. Cot Paya Penimbunan Jalan Desa dan Gorong-gorong
5. Matang Teungoh Pembangunan Balai Pengajian dan Pengerasan
Jalan.
13. Matang Sijeuk Teungoh Pengerasan Jalan Usaha Tani dan
Pembangunan Jembatan Plat Beton
14. Matang Sijeuk Timur Pembangunan Jalan dan Jembatan
15. Keude Sampoiniet Pengerasan Jalan dan Modal Usaha
Lanjutan Tabel 1.1.
17. Matang Paya Pembuatan Jalan Lingkungan dan Gorong-
Gorong
18. Lhok Iboh Jalan, Paret dan Leaning Irigasi
19. Cot Laba Pengerasan Jalan Usaha Tani dan Lumbung
Desa
20. Meunasah Pante Paret, Jalan Beton dan Gorong-gorong
21. Cot Murong Jalan Setapak dan Usaha Kerajinan
22. Meurandeh Paya Saluran Beton, Ternak Sapi dan Kambing
23. Meunasah Hagu Pembukaan Jalan Baru dan Ternak Sapi
24. Blang Rheue Saluran Pembuang, Ternak dan Kambing
25. Lhok Euncien Penimbunan Jalan Dan Balai Pengajian
26. Paya Bateung Pengerasan Jalan dan Ternak Sapi
Sumber: Dokumentasi Kabupaten Aceh Utara April 2005
Di dalam melakukan pemberdayaan keterlibatan masyarakat yang akan
diberdayakan sangatlah penting, sehingga tujuan dari pemberdayaan dapat tercapai
secara maksimal. Program yang mengikutsertakan masyarakat, memiliki beberapa
tujuan, yaitu agar bantuan tersebut efektif, karena sesuai dengan kehendak dan
mengenali kemampuan serta kebutuhan mereka, serta meningkatkan keberdayaan
(empowering) masyarakat dengan pengalaman merancang, melaksanakan dan
mempertanggung jawabkan upaya peningkatan diri dan ekonomi (Kartasasmita,
1996:249). Dalam perjalanan proses dan program-program pemberdayaan yang
pernah ada di Indonesia, secara umum masih sering ditemui berbagai
hambatan-hambatan dan kegagalan-kegagalan dalam hal implementasi.
Pengalaman masa lalu telah memberikan pelajaran berharga bagi bangsa
Indonesia, bahwa proses pemberdayaan dan pembangunan yang dilaksanakan dengan
maupun politik, meskipun di bidang ekonomi cukup menggembirakan. Implementasi
pendekatan dan sistem pembangunan tersebut mengakibatkan keikutsertaan
masyarakat dalam pembangunan, bukan dalam pengertian partisipasi, tetapi lebih
pada di mobilisasi. Karena itu, kegiatan pembangunan makin menjadikan masyarakat
bergantung terhadap input-input dari pemerintah. Masyarakat menjadi kurang
percaya diri, tidak kreatif dan tidak inovatif. Secara politik, dengan pendekatan
top-down dan sistem sentralistis tersebut hak-hak masyarakat terserap ke dalam
kepentingan pemerintah, sehingga tidak muncul pemikiran kritis dari masyarakat
sebagai kontrol terhadap kebijakan pemerintah.
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan memudar diakibatkan oleh
memudarnya sejumlah lembaga tradisional yang dahulu hidup di pedesaan, sebagai
akibat intervensi pemerintah yang terlalu jauh terhadap berbagai aspek kehidupan
masyarakat. Faktor lainnya yang menjadi akar permasalahan dari kegagalan dalam
praktek pemberdayaan selama ini salah satunya adalah tidak adanya pemanfaatan
modal sosial dalam pelaksanaaan program-program pembangunan dan pemberdayaan
yang dilaksanakan. Modal sosial bisa dikatakan sebagai sumber daya sosial yang
dimiliki oleh masyarakat. Sebagai sumber daya tentunya modal sosial ini
memberikan kekuatan atau daya dalam beberapa kondisi-kondisi sosial dalam
masyarakat. Menurut Fukuyama (1995) justru semakin bertambah bobotnya apabila
semakin intensif di daya gunakan modal sosial itu. Putnam (dalam Badaruddin, 2003)
menyebutkan bahwa modal sosial tersebut mengacu pada aspek-aspek utama dari
jaringan-jaringan (networks) yang dapat meningkatkan efisiensi dalam suatu masyarakat
melalui fasilitas bagi tindakan-tindakan yang terkoordinasi.
Modal Sosial merupakan norma-norma dan hubungan-hubungan sosial yang
mengakar dalam struktur masyarakat, sehingga orang-orang dapat mengkoordinir
tindakan untuk mencapai tujuan. Secara sederhana Modal Sosial merupakan
kemampuan masyarakat untuk mengkoordinir diri sendiri dalam memperjuangkan
tujuan-tujuan mereka. Melihat hakikat dan pengertian dari modal sosial tersebut
di atas dapat dicermati apabila memberi ruang dan peluang yang cukup baik dalam
optimalisasi program pembangunan dan pemberdayaan yang akan dilakukan.
Dengan adanya upaya mensinergiskan suatu program dengan modal sosial yang ada
pada masyarakat penerima program tentunya akan memberi suatu pencapaian yang
lebih baik dan maksimal. Berdasarkan fenomena tersebut, Penulis tertarik untuk
melakukan penelitian mengenai “Pemanfaatan Modal Sosial Masyarakat Pada
Program Pembangunan Gampong (PPG) Kecamatan Baktiya Barat, Kabupaten
Aceh Utara”.
1.2. Perumusan Masalah
Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pemanfaatan Modal Sosial dalam pelaksanaan Program Pembangunan
2. Bagaimana tanggapan masyarakat tentang pelaksanaan Program Pembangunan
Gampong (PPG) terhadap Pengembangan Wilayah di Kecamatan Baktiya Barat
Kabupaten Aceh Utara.
1.3. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui dan menganalisis manfaat dari Modal Sosial dalam
pelaksanaan Program Pembangunan Gampong (PPG) di Kecamatan Baktiya
Barat Kabupaten Aceh Utara.
2. Untuk mengetahui dan menjelaskan tanggapan masyarakat tentang pelaksanaan
Program Pembangunan Gampong (PPG) terhadap Pengembangan Wilayah
di Kecamatan Baktiya Barat Kabupaten Aceh Utara.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pemerintah, sebagai bahan pertimbangan atau masukan dalam menentukan
kebijakan yang tepat untuk menentukan pengalokasian modal sosial dalam
pelaksanaan Program Pembangunan Gampong (PPG) di Kecamatan Baktiya
Barat Kabupaten Aceh Utara.
2. Bagi masyarakat Kecamatan Baktiya Barat, untuk mengetahui dan menambah
informasi tentang Program Pembangunan Gampong yang dilaksanakan terhadap
3. Bagi Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah Universitas Sumatera
Utara, akan melengkapi ragam penelitian yang telah dibuat oleh para mahasiswa
dan dapat menambah bahan bacaan dan referensi bahan bacaan dan referensi dari
satu karya ilmiah.
4. Bagi ilmu pengetahuan, sebagai bahan masukan bagi penelitian lain yang lebih
lanjut, terutama yang menyangkut Modal Sosial dan Program Pembangunan
Gampong, maupun program pembangunan lainnya.
1.5. Batasan Penelitian
Adapun yang menjadi batasan dalam penelitian ini adalah:
1. Penelitian ini hanya bersifat kualitatif, yaitu untuk mengetahui manfaat dari
Modal Sosial yang dialokasikan dalam pelaksanaan Program Pembangunan
Gampong (PPG) di Kecamatan Baktiya Barat Kabupaten Aceh Utara.
2. Hasil Penelitian ini diperoleh melalui Forum Diskusi, yaitu untuk mengetahui dan
menjelaskan persepsi masyarakat tentang pelaksanaan Program Pembangunan
Gampong (PPG) terhadap Pengembangan Wilayah di Kecamatan Baktiya Barat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Modal Sosial
Konsep modal sosial (sosial capital) diperkenalkan Putnam (1993) sewaktu
meneliti Italia pada 1985. Masyarakatnya, terutama di Italia Utara, memiliki
kesadaran politik yang sangat tinggi, karena tiap indvidu punya minat besar untuk
terlibat dalam masalah publik. Hubungan antar masyarakat lebih bersifat horizontal,
karena semua masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Sementara itu,
Putnam prihatin atas kecenderungan runtuhnya jalinan sosial masyarakat Amerika.
Adanya televisi memberikan kontribusi bagi terciptanya "couch potato syndrome"
atau disebut juga cerminan hidup yang individual. Jadi kebiasaan orang Amerika
"nongkrong" di depan layar televisi berjam-jam sebagai cerminan hidup yang sangat
individualistik.
Konsep modal sosial juga muncul dari pemikiran bahwa anggota masyarakat
tidak mungkin dapat secara individu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.
Diperlukan adanya kebersamaan dan kerja sama yang baik dari segenap anggota
masyarakat yang berkepentingan untuk mengatasi masalah tersebut. Pemikiran
seperti inilah yang pada awal abad ke 20 mengilhami seorang pendidik di Amerika
Serikat bernama Lyda Judson Hanifan untuk memperkenalkan konsep modal sosial
(social capital) pertama kalinya. Dalam tulisannya berjudul The Rural School
biasa seperti harta kekayaan atau uang, tetapi lebih mengandung arti kiasan, namun
merupakan aset atau modal nyata yang penting dalam hidup bermasyarakat. Menurut
Hanifan, dalam modal sosial termasuk kemauan baik, rasa bersahabat, saling simpati,
serta hubungan sosial dan kerjasama yang erat antara individu dan keluarga yang
membentuk suatu kelompok sosial (Syabra, 2003). Sekalipun Hanifan telah
menggunakan istilah modal sosial hampir seabad yang lalu, istilah tersebut baru
mulai dikenal di dunia akademis sejak akhir tahun 1980-an. Pierre Bourdieu, seorang
sosiolog Perancis kenamaan, dalam sebuah tulisan yang berjudul "The Forms of
Capital" tahun 1986 (Syabra, 2003) mengemukakan bahwa untuk dapat memahami
struktur dan cara berfungsinya dunia sosial, perlu dibahas modal dalam segala
bentuknya, tidak cukup hanya membahas modal seperti yang dikenal dalam teori
ekonomi. Penting juga diketahui bentuk transaksi yang dalam teori ekonomi dianggap
sebagai non-ekonomi, karena tidak dapat secara langsung memaksimalkan
keuntungan material. Padahal sebenarnya dalam setiap transaksi modal ekonomi
selalu disertai oleh modal immaterial berbentuk modal budaya dan modal sosial .
Bourdieu dalam Syabra (2003) menjelaskan perbedaan antara modal
ekonomi, modal budaya dan modal sosial, dan menggambarkan bagaimana ketiganya
dapat dibedakan antara satu sama lain dilihat dari tingkat kemudahannya untuk
dikonversikan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa modal sosial (social capital)
merupakan fasilitator penting dalam pembangunan ekonomi. Modal sosial yang
dibentuk berdasarkan kegiatan ekonomi dan sosial di masa lalu dipandang sebagai
efektivitas pembangunan (Suharto dan Yuliani, 2005). Tjondronegoro (2005)
menjelaskan bahwa modal sosial dapat menjadi unsur pendukung keberhasilan
pembangunan, termasuk pula dinamika pembangunan pedesaan dan pertanian
di Indonesia. Sehingga dalam menjalankan program pembangunan, khususnya
pertanian dan pedesaan bentuk-bentuk modal sosial tersebut sebaiknya di perhatikan
dan dimanfaatkan.
Brehm dan Rahn (dalam Ibrahim, 1997) menjelaskan bahwa modal sosial
adalah jaringan kerjasama di antara warga masyarakat yang memfasilitasi pencarian
solusi dari permasalahan yang dihadapi. Definisi lain dikemukakan oleh Pennar
(dalam Prusak, 2001) menjelaskan bahwa modal sosial adalah kumpulan dari
hubungan yang aktif di antara manusia: rasa percaya, saling pengertian dan kesamaan
nilai dan perilaku yang mengikat anggota dalam sebuah jaringan kerja dan komunitas
yang memungkinkan adanya kerja sama. Di dalam masyarakat kita, modal sosial ini
menjadi suatu alternatif pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Mengingat
sebenarnya masyarakat kita sangatlah komunal dan mereka mempunyai banyak sekali
nilai-nilai yang sebenarnya sangat mendukung pengembangan dan penguatan modal
sosial itu sendiri. Pasalnya modal sosial memberikan pencerahan tentang makna
kepercayaan, kebersamaan, toleransi dan partisipasi sebagai pilar penting
pembangunan masyarakat sekaligus pilar bagi demokrasi dan good governance (tata
pemerintahan yang baik) yang sedang marak dipromosikan.
Fukuyama (1997) menjelaskan bahwa”Social capital can be defined simply as
group that permit cooperation among them”. (Modal sosial adalah serangkaian
nilai-nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama diantara para anggota suatu
kelompok masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerja sama di antara mereka).
Analisis modal sosial salah satunya dapat digunakan untuk mencermati:
1. Hubungan sosial, merupakan bentuk komunikasi bersama melalui hidup
berdampingan sebagai interaksi antar individu;
2. Adat dan nilai budaya lokal yang menjunjung tinggi kebersamaan, kerja sama,
dan hubungan sosial dalam masyarakat;
3. Toleransi merupakan salah satu kewajiban moral yang harus dilakukan setiap
orang ketika berada/hidup bersama orang lain;
4. Kesediaan untuk mendengar berupa sikap menghormati pendapat orang lain;
5. Kejujuran menjadi salah satu hal pokok dari keterbukaan/transparansi untuk
kehidupan lebih demokratis;
6. Kearifan lokal dan pengetahuan lokal sebagai pendukung nilai-nilai yang ada
dalam masyarakat;
7. Jaringan sosial dan kepemimpinan sosial yang terbentuk berdasar
kepentingan/ketertarikan individu secara prinsip/pemkiran di mana
kepemimpinan sosial terbentuk dari kesamaan visi, hubungan personal atau
keagamaan;
8. Kepercayaan merupakan hubungan sosial yang di bangun atas dasar rasa percaya
9. Kebersamaan dan kesetiaan berupa perasaan ikut memiliki dan perasaaan menjadi
bagian dari sebuah komunitas;
10. Tanggung jawab sosial merupakan rasa empati masyarakat terhadap upaya
perkembangan lingkungan masyarakat;
11. Partisipasi masyarakat berupa kesadaran diri seseorang untuk ikut terlibat dalam
berbagai hal berkaitan dengan diri dan lingkungan dan
12. Kemandirian berupa keikut sertaan masyarakat dalam pengambilan keputusan.
2.1.1. Hakikat Sikap Saling Percaya (Trust)
Menurut Shaw (1997), kata “trust” berasal dari bahasa German “trost” yang
berarti kenyamanan (comfort). Dalam sebagian besar kasus, seseorang percaya
kepada orang yang menunjukkan bahwa dia layak untuk mendapat kepercayaan.
Sekalipun begitu kepercayaan tidak selalu berasal dari pengalaman masa lalu dengan
orang lain. Dan kepercayaan berbeda dari percaya diri. Percaya diri berasal dari hasil
pengetahuan yang dibangun dari alasan dan fakta. Sebaliknya, kepercayaan
merupakan bagian dari keyakinan (faith). Kepercayaan lebih mudah retak atau rapuh
daripada keyakinan. Dalam suatu hubungan diperlukan adanya kepercayaan.
Kepercayaan menjadi dasar sebagai jaminan awal dari suatu hubungan dua orang atau
lebih dalam bekerjasama. Sikap saling percaya (trust) sebagai salah satu elemen dari
modal sosial adalah merupakan sikap salah satu dasar bagi lahirnya sikap saling
percaya yang terbangun antar beberapa golongan komunitas dan merupakan dasar
akhirnya di mapankan dalam wujud pranata (institution). Dari beberapa definisi
di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kepercayaan merupakan salah satu kunci
terpenting untuk menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat. Hubungan
tersebut dapat berlanjut, jika penyelenggara pemerintah yang dipercaya mampu
memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat. Karena itu sikap saling percaya
(trust) meliputi adanya unsur kejujuran (honesty), kewajaran (fainerss), sikap egaliter
(egali-tarianism), toleransi (tolerance) dan kemurahan hati (generosity)
(Badaruddin, 2005).
Salah satu elemen-elemen pokok modal sosial tersebut bukanlah sesuatu yang
tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, melainkan harus dikreasikan dan
di transmisikan melalui mekanisme-mekanisme sosial budaya di dalam sebuah unit
sosial seperti keluarga, komunitas, asosiasi sukarela, negara, dan sebagainya.
Menurut Robbins (2005), kejujuran (honesty) adalah sebuah unsur dari kepercayaan
yang berhubungan dengan ketulusan dan keadaan yang sebenarnya, unsur ini juga
merupakan unsur yang paling kritis ketika seseorang menilai kepercayaan orang lain.
Sedangkan sikap egaliter merupakan salah satu ciri menyolok dari pemimpin massa
yang karismatik dan populer adalah sikapnya yang egaliter atau merakyat dan
accesible (mudah dihubungi) (Mario Gagho, 2004). Maksudnya merakyat di sini
adalah sikap yang sama, walaupun kadang-kadang bersifat emosional, bertujuan
untuk mencapai kesatuan atau paling sedikit untuk mencapai suatu integrasi dalam
organisasi, fikiran dan tindakan (Soekanto, 1982:74). “Toleransi berasal dari bahasa
kesabaran” (Halim, 2008). Secara umum, istilah ini mengacu pada sikap terbuka,
lapang dada, sukarela, dan kelembutan. United Nations Educational, Scientific and
Cultural Organization (UNESCO) mengartikan toleransi sebagai sikap “saling
menghormati, saling menerima, dan saling menghargai di tengah keragaman budaya,
kebebasan berekspresi, dan karakter manusia”. Untuk itu, toleransi harus didukung
oleh cakrawala pengetahuan yang luas, bersikap terbuka, dialog, kebebasan berfikir
dan beragama. Singkatnya toleransi setara dengan bersikap positif dan menghargai
orang lain dalam rangka menggunakan kebebasan azasi sebagai manusia. Untuk itu,
toleransi harus didukung oleh cakrawala pengetahuan yang luas, bersikap terbuka,
dialog, kebebasan berfikir dan beragama. Singkatnya toleransi setara dengan bersikap
positif dan menghargai orang lain dalam rangka menggunakan kebebasan azasi
sebagai manusia. Toleransi didefinisikan sebagai perwujudan dari sifat dan sikap
untuk menghargai dan membiarkan atau membolehkan (tenggang rasa) pendapat,
pandangan kepercayaan, kebiasaan, kelakuan (pendirian) yang menunjukkan adanya
pertentangan, atau berlawanan (Poerwadarminta, 1985).
2.1.2. Hakikat Jaringan Sosial (Networks)
Dalam sistem Jaringan sosial aspek vital dari modal sosial adalah keterkaitan
(connectedness), jaringan (networks) dan kelompok (groups). Keterkaitan terwujud
di dalam beragam tipe kelompok pada tingkat lokal, maupun di tingkat yang lebih
tinggi. Adanya jaringan hubungan antar individu, norma-norma dan kepercayaan,
kerja sama kolektif dalam menghadapi dan memecahkan persoalan bersama
komunitas masyarakat kecil secara kolektif yang akan memperkuat posisi tawar
mereka terhadap kekuatan-kekuatan struktural, seperti pasar dan nelayan pemilik
yang senantiasa berupaya mengeksploitasikan mereka melalui penentuan harga secara
sepihak dan system bagi hasil yang tidak setara dan adil. Menurut Badaruddin (2005),
jaringan (networks) meliputi adanya unsur partisipasi (participations), pertukaran
timbal balik (reciprocity), solidaritas (solidarity), kerja sama (cooperation), dan
keadilan (equity).
Faturrochman (2002) mengatakan Keadilan digambarkan sebagai situasi
sosial ketika norma-norma tentang hak dan kelayakan dipenuhi. Situasi sosial
berkeadilan ini bisa tercapai jika empat jenis keadilan yang ada berlaku, yaitu
keadilan distributif, keadilan prosedur, keadilan interaksional, dan keadilan sistem.
Keadilan digambarkan sebagai situasi sosial ketika norma-norma tentang hak dan
kelayakan dipenuhi. Keadilan adalah sesuatu yang sulit sekali untuk dijelaskan,
karena keadilan memiliki banyak definisi dan hampir setiap orang yang saya tanyai
memiliki pandangan yang berbeda tentang apa itu keadilan. Akibatnya, apa yang saya
anggap adil belum tentu dianggap orang lain sebagai sesuatu yang adil. Karena itu
saya bisa simpulkan bahwa keadilan adalah sesuatu yang subjektif, bukan objektif.
Namun satu hal yang pasti adalah agar suatu konsep bisa dianggap sebagai adil,
konsep itu harus disetujui oleh semua pihak yang berkepentingan.
Blanchard (2001:6) mendefinisikan pemberdayaan sebagai upaya untuk
pengetahuan, pengalaman, motivasinya. “The real essence of empowerment comes
from releasing the knowledge, experience, and motivarional power that is already in
people but is being severely underutilized”. Memberdayakan masyarakat adalah
upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat, di mana kondisi
sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan
keterbelakangan. Dengan kata lain, ”memberdayakan adalah meningkatkan
kemampuan dan meningkatkan kemandirian masyarakat”. Konsep partisipasi yang
aktif dan kreatif atau seperti yang dikemukakan oleh Paul dalam Cohen sebagai
berikut: “Participation refers to an active process whereby beneficiaries influence
the direction and excution of development projects rather than merely receive a share
of project benefits”. Definisi tersebut memandang keterlibatan masyarakat mulai dari
tahap pembuatan keputusan, penerapan keputusan, penikmatan hasil evaluasi (Cohen
& Uphoff, 1980: 215-223). Partisipasi mendukung masyarakat untuk mulai sadar
akan situasi dan masalah yang dihadapinya, serta berupaya untuk mencari jalan
keluar yang dapat dipakai demi mengatasi masalahnya. Partisipasi juga membantu
masyarakat miskin untuk melihat realitas sosial ekonomi dan proses desentralisasi
yang dilakukan dengan memperkuat “Delivery System” (sistem distribusi) di tingkat
bawah.
Soetrisno (1995: 74) menyatakan bahwa ada dua definisi partisipasi yang
beredar di masyarakat yaitu: Definisi Pertama, partisipasi rakyat dalam pembangunan
sebagai dukungan rakyat terhadap rencana proyek pembangunan yang dirancang dan
dalam definisi inipun disamakan dengan kemauan rakyat untuk ikut menanggung
biaya pembangunan, baik berupa uang maupun tenaga dalam melaksanakan proyek
pembangunan pemerintah. Dipandang dari sudut sosiologis, definisi ini tidak dapat
dikatakan sebagai partisipasi rakyat dalam pembangunan melainkan mobilisasi rakyat
dalam pembangunan. Definisi Kedua, partisipasi dalam pembangunan merupakan
kerja sama yang erat antara perencana dan rakyat dalam merencanakan,
melaksanakan, melestarikan dan mengembangkan hasil pembangunan yang telah
dicapai. Ukuran tinggi rendahnya partisipasi rakyat dalam pembangunan tidak hanya
diukur dengan kemauan rakyat untuk menanggung biaya pembangunan, tetapi juga
dengan ada tidaknya hak rakyat untuk ikut menentukan arah dan tujuan proyek yang
dibangun di wilayah mereka, serta ada tidaknya kemauan rakyat untuk secara mandiri
melestarikan hasil proyek itu. Dengan demikian, partisipasi merupakan aspek
terpenting dalam upaya memberdayakan masyarakat, baik secara individu maupun
kelompok. Kemampuan masyarakat untuk “mewujudkan” dan “mempengaruhi”
arah, serta pelaksanaan suatu program ditentukan dengan mengandalkan power yang
dimilikinya, sehingga pemberdayaan (empowerment) merupakan tema sentral atau
jiwa partisipasi yang sifatnya aktif dan kreatif. Pemberdayaan merupakan the missin
ingredient (unsur tersembunyi) dalam mewujudkan partisipasi masyarakat yang aktif
dan kreatif. Secara sederhana, pemberdayaan mengacu pada kemampuan masyarakat
untuk mendapatkan dan memanfaatkan akses ke dan kontrol atas sumber-sumber
Menurut Massofa (2008), Interaksi sosial dapat diartikan sebagai
hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa
hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang
satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu. Interaksi
sosial dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan
komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya hubungan sosial
Komunikasi merupakan penyampaian suatu informasi dan pemberian tafsiran dan
reaksi terhadap informasi yang disampaikan. Interaksi sosial adalah keadaan di mana
seseorang melakukan hubungan saling berbalas respon dengan orang lain, balas
respon antara minimal 2 (dua) orang di dalamnya.
Khairulmaddy (2008) mengatakan interaksi sosial adalah hubungan timbal
balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan antara
kelompok dengan kelompok. Interaksi sosial merupakan proses komunikasi di antara
orang-orang untuk saling mempengaruhi perasaan, pikiran dan tindakan. Interaksi
sosial akan berlangsung apabila seorang individu melakukan tindakan dan dari
tindakan tersebut menimbulkan reaksi individu yang lain. Interaksi sosial terjadi jika
dua orang atau lebih saling berhadapan, bekerja sama, berbicara, berjabat tangan atau
bahkan terjadi pertikaian dan perselisihan sebelumnya. Interaksi sosial merupakan
hubungan tersusun dalam bentuk tindakan berdasarkan norma dan nilai sosial yang
berlaku dalam masyarakat. Dan di sinilah dapat kita amati atau rasakan bahwa
apabila sesuai dengan norma dan nilai dalam masyarakat, interaksi tersebut akan
dilakukan tidak sesuai dengan norma dan nilai dalam masyarakat, interaksi yang
terjadi kurang berlangsung dengan baik. Konsep solidaritas sosial merupakan konsep
sentral Durkheim (1858-1917) dalam mengembangkan teori sosiologi.
Durkheim dalam Lawang (1994:181) menyatakan bahwa solidaritas sosial
merupakan suatu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang
di dasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama dan diperkuat
oleh pengalaman emosional bersama. Solidaritas menekankan pada keadaan
hubungan antar individu dan kelompok dan mendasari keterikatan bersama dalam
kehidupan dengan didukung nilai-nilai moral dan kepercayaan yang hidup dalam
masyarakat. Wujud nyata dari hubungan bersama akan melahirkan pengalaman
emosional, sehingga memperkuat hubungan antar mereka. Menurut Durkheim,
berdasarkan hasilnya, solidaritas dapat dibedakan antara solidaritas positif dan
solidaritas negatif. Solidaritas negatif tidak menghasilkan integrasi apapun, dan
dengan demikian tidak memiliki kekhususan, sedangkan solidaritas positif dapat
dibedakan berdasarkan ciri-ciri: (1) yang satu mengikat individu pada masyarakat
secara langsung, tanpa perantara, (2) solidaritas positif yang kedua adalah suatu
sistem fungsi-fungsi yang berbeda dan khusus, yang menyatukan
hubungan-hubungan yang tetap, walaupun sebenarnya kedua masyarakat tersebut hanyalah satu
saja, (3) memberi ciri dan nama kepada kedua solidaritas itu. Ciri-ciri tipe kolektif
tersebut adalah individu merupakan bagian dari masyarakat yang tidak terpisahkan,
tetapi berbeda peranan dan fungsinya dalam masyarakat, namun masih tetap dalam
2.1.3. Hakikat Pranata Sosial (Social Institution)
Beberapa istilah yang dipergunakan oleh para ahli untuk menyebut pranata
sosial dan di antaranya Selo Soemardjan, Soelaeman Soemardi menggunakan istilah
Lembaga Kemasyarakatan "social institution", sedangkan Koentjaraningrat,
menggunakan istilah "pranat” sebagai padanan kata “institution”, dan pranata sosial
untuk “social institution”. Pranata diartikannya sebagai kelakuan berpola dari
manusia dalam kebudayaannya, sedangkan pranata sosial diartikannya sebagai suatu
sistem tata kelakuan dan hubungan-hubungan yang berpusat kepada
aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan
masyarakat (Koentjaraningrat, 1991). Sementara itu, Broom dan Nimkoff memberi
istilah "lembaga sosial" (Soekanto, 1990). Sedangkan Johnson (dalam Soekanto
(1990) mengemukakan institusi atau lembaga/pranata sebagai seperangkat aturan
yang terinstitusionalisasi (instituteonalized), yakni: (1) telah diterima sejumlah besar
anggota sistem sosial; (2) ditanggapi secara sungguh-sungguh (internalized); dan (3)
diwajibkan dan terhadap pelanggarnya dikenakan sanksi tertentu. Secara ringkas,
pranata sosial adalah sistem norma khusus yang menjadi wahana atau menata suatu
rangkaian tindakan yang memungkinkan warga masyarakat untuk berinteraksi
menurut pola-pola resmi. Pranata sosial merupakan salah satu merupakan elemen
penting dari modal sosial selain dari kepercayaan dan jaringan sosial. Pranata
(institutions), yang meliputi nilai-nilai yang dimiliki bersama (shared value),
(Badaruddin, 2005). Pranata muncul disebabkan adanya keperluan dan kebutuhan
manusia yang tidak dapat dipenuhi sendiri, dan lembaga ini muncul dengan
norma-norma masing-masing. Di dalam pranata, masyarakat dapat berinteraksi satu sama
lain, tetapi sudah diikat oleh aturan-aturan yang telah disepakati bersama. Jika tidak
ada aturan-aturan dan pola-pola yang resmi, maka belum disebut sebagai pranata
sosial, karena hal itu masih merupakan interaksi sosial biasa.
Koentjaraningrat (1990) mengatakan bahwa pranata sosial adalah suatu sistem
tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk
memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat dipahami bahwa dalam sebuah pranata sosial
terdapat dua hal yang utama, yakni aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan norma
yang mengatur aktivitas tersebut. Di dalam pranata sosial terdapat seperangkat aturan
yang berpedoman pada kebudayaan. Oleh karena itu, pranata sosial bersifat abstrak,
karena merupakan seperangkat aturan. Adapun wujud dari pranata sosial adalah
berupa lembaga (institute). Pranata dan lembaga memiliki makna yang berbeda.
Pranata sosial merupakan sistem norma atau aturan-aturan mengenai suatu aktivitas
masyarakat yang khusus, sedangkan lembaga atau institute adalah badan atau
organisasi yang melaksanakan aktivitas itu.
Menurut Koentjaraningrat (1990) ada delapan tipe tujuan dari pranata sosial,
1. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan manusia untuk mata pencaharian
hidupnya.
2. Pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan kehidupan kekerabatan,yang
sering disebut Domestic institution.
3. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan pendidikan.
4. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan ilmiah manusia atau sering disebut
scientific institution.
5. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan untuk menghayatkan rasa
keindahan.
6. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan fisik dan kenyamanan hidup
manusia.
7. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan manusia untuk berbakti kepada
Tuhan.
8. Pranata yang berfungsi untuk keperluan manusia untuk mengatur keseimbangan
kekuasaan dalam masyarakat.
2.2. Pengertian Program Pembangunan Gampong (PPG)
Gampong sebagai bagian unit terkecil dalam pemerintahan yang memiliki
potensi yang perlu dikembangkan dan diberdayakan melalui pembangunan, karena
pembangunan yang terjadi selama ini tidak menyentuh masyarakat, serta bersifat
top-down telah memperlebar kesenjangan sosial, ekonomi dan penguasaan informasi
suatu wacana yang muncul dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara yang akhirnya
menjadi suatu program yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di
Gampong-gampong yang ada di Kabupaten Aceh Utara, dan program ini tidak ada
di Kabupaten-kabupaten lainnya di Aceh. Dana Pembangunan Gampong mengikuti
mekanisme dana APBD Kabupaten Aceh Utara yang di salurkan langsung kepada
masyarakat melalui lembaga keuangan terdekat.
Adapun alokasi dana untuk setiap Gampong yang ditetapkan oleh Bupati
Aceh Utara berdasarkan Dokumen Anggaran Satuan Kerja (DASK) Gampong yang
telah mendapat pengesahan, jumlah dana di setiap Gampong harus diinformasikan
kepada masyarakat Gampong secara transparan, sehingga tidak menimbulkan saling
curiga antara satu sama lain. Program Pembangunan Gampong (PPG) yang dirancang
untuk menumbuhkan rasa memiliki dalam masyarakat terhadap hasil-hasil
pembangunan yang dilaksanakan di Gampong atau di Desa sendiri. PPG sebagai
program pembangunan yang serasi dan partisipatif memiliki tujuan untuk
memperkecil ketimpangan pembangunan antara masyarakat Gampong dan Kota,
serta adanya kontrol sosial dari masyarakat. Terwujudnya otonomi yang luas dan
nyata kepada Pemerintahan Gampong, lembaga adat dan agama dalam proses
penyelenggaraan pembangunan di Gampong, sehingga terciptanya partisipasi
masyarakat dalam pembangunan.
PPG berazaskan dari untuk dan bagi masyarakat yang memiliki ruang
khususnya dalam mewujudkan peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat
Gampong yang selama ini kebanyakan masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Program PPG ini dapat menunjang dengan tujuh permasalahan pembangunan,
antara lain:
1. Pembangunan Nasional dan daerah merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari kegiatan pembangunan Gampong. Mengingat konsentrasi jumlah
penduduk masih dominan berada di Gampong, sehingga Gampong merupakan
basis kekuatan ekonomi sosial dan politik yang perlu mendapat perhatian serius
dari Pemerintah
2. Partisipasi masyarakat selama ini terbatas dalam penerapan kebijakan/keputusan,
bukan dalam pembuatan keputusan, menikmati hasil dan evaluasi hasil, bahkan
rasa memiliki masyarakat (sense of bilonging) masyarakat terhadap hasil
pembangunan di Gampong hampir tidak ada.
3. Perencanaan pembangunan selama ini lebih bersifat “top down” dibanding
“botttom up”, sehingga telah menjadikan masyarakat Gampong sebagai objek
pembangunan semata, bukan menjadi subjek yang produktif.
4. Pembangunan sektor ekonomi masyarakat yang gagal menciptakan lapangan
kerja dan perluasan kesempatan kerja telah menjadikan Gampong sebagai
kantong pengangguran dan konflik sosial ekonomi.
5. Gampong bagaikan bayi cacat yang terus menerus perlu dipapah akibat rendahnya
pendidikan dan keterampilan, sehingga membuat mereka tidak berdaya dalam
6. Akibat campur tangan Pemerintah Pusat yang berlebihan, mengakibatkan matinya
inisiatif dan motivasi masyarakat Gampong dalam membangun dirinya.
7. Tanggung jawab pembangunan Gampong selama ini seolah-olah hanya menjadi
tanggung jawab badan pemberdayaan masyarakat desa masing-masing
Kabupaten.
Kegiatan pembangunan Gampong perlu di arahkan untuk merubahan
kehidupan masyarakat yang lebih baik. Perencanaan pembangunan diharapkan
berusaha untuk memberdayakan masyarakat, sehingga masyarakat Gampong lebih
terarah kepada sumber-sumber ekonomi dan mengarah kepada peningkatan kualitas
hidup masyarakat itu sendiri. Melandaskan arah pemikiran tersebut, Pemerintah
Kabupaten Aceh Utara tahun 2002 mewujudkan suatu sistem perencanaan daerah
yang sifatnya aspiratif dan partisipatif melalui Program Pembangunan Gampong
(PPG).
Sesuai dengan petunjuk teknis bappeda (2003:12) mengatakan bahwa PPG
yang serasi dan partisipasi (mengikut sertakan masyarakat) bertujuan untuk:
1. Memperkecil ketimpangan pembangunan di antara masyarakat Gampong dan
Kota, sehingga dapat mempercepat tercapainya tingkat kesejahteraan masyarakat
secara menyeluruh.
2. Mewujudkan otonomi yang luas dan nyata kepada Pemerintah Gampong,
lembaga adat dan agama dalam proses penyelenggaraan pembangunan
3. Berfungsinya pengawasan masyarakat di Gampong sebagai sosial kontrol yang
efektif dan objektif.
2.3. Program Pengembangan Wilayah
Program pembangunan wilayah bertujuan untuk mendorong dan memfasilitasi
pengembangan wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh agar memiliki
keunggulan daya saing secara nasional dan internasional. Sasaran program ini adalah:
(1) meningkatnya kemudahan bagi pelaku usaha dalam berinvestasi di
wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh; (2) terciptanya kerja sama antar seluruh pelaku
pembangunan secara vertikal dan horizontal untuk mendukung berkembangnya daya
saing wilayah; (3) terciptanya dukungan iklim usaha yang kondusif, melalui
kebijakan fiskal dan non fiskal yang memudahkan berkembangnya peluang usaha
di daerah. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi:
1. Penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang mendukung
peningkatan kualitas produk unggulan di wilayah-wilayah strategis dan cepat
tumbuh;
2. Fasilitasi dan bantuan kepada Pemerintah Daerah dan pelaku usaha untuk
memperoleh informasi pasar;
3. Fasilitasi pengembangan sumber daya manusia yang produktif dan berdaya saing,
melalui pendampingan dan pelatihan yang profesional dan berkeahlian secara
4. Pemberian dorongan terhadap peningkatan koordinasi, sinkronisasi, dan
kerja sama antar sektor, antar lembaga termasuk dunia usaha, dan antar daerah,
baik secara vertikal maupun horizontal;
5. Pemberian dorongan terhadap instansi dan lembaga terkait untuk memberikan
kemudahan bagi masyarakat dan pelaku usaha di daerah untuk mengakses modal,
bahan baku, serta infrastruktur pendukung;
6. Pemberian dorongan bagi penciptaan iklim usaha yang kondusif, antara lain
peningkatan daya tarik investasi, melalui berbagai insentif, seperti pemberian
kemudahan perpajakan, perizinan, serta kemudahan memperoleh hak guna lahan
yang kompetitif dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dari negara-negara
lain.
Tujuan pengembangan wilayah menurut Zen dalam Tiga Pilar Pengembangan
Wilayah (2001: 20) antara lain:
1. Pengembangan Wilayah merupakan usaha memberdayakan suatu masyarakat
yang berada di suatu daerah itu untuk memanfaatkan sumber daya alam yang
terdapat di sekeliling mereka dengan menggunakan teknologi yang relevan
dengan kebutuhan, dan bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang
bersangkutan.
2 Membuat suatu komunitas dapat berdiri sendiri di atas usahanya sendiri, dan
benar-benar menyadarkan bahwa mereka dapat memperbaiki nasibnya atas usaha
3. Membuat suatu wilayah memiliki, dan sadar akan kekuatan politiknya.
Menurut Direktorat Pengembangan Kawasan Strategis, Ditjen Penataan
Ruang, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2002) prinsip-prinsip dasar
dalam pengembangan wilayah adalah:
1. Sebagai growth center. Pengembangan wilayah tidak hanya bersifat internal
wilayah, namun harus diperhatikan sebaran atau pengaruh (spred effect)
pertumbuhan yang dapat ditimbulkan bagi wilayah sekitarnya, bahkan secara
nasional.
2. Pengembangan wilayah memerlukan upaya kerja sama pengembangan antar
daerah dan menjadi persyaratan utama bagi keberhasilan pengembangan wilayah.
3. Pola pengembangan wilayah bersifat integral yang merupakan integrasi dari
daerah-daerah yang tercakup dalam wilayah melalui pendekatan kesetaraan.
4. Dalam pengembangan wilayah, mekanisme pasar harus juga menjadi prasyarat
bagi perencanaan pengembangan kawasan.
Pengembangan wilayah dalam pembangunan meliputi berbagai jenis kegiatan,
baik yang tercakup dalam sektor pemerintahan maupun dalam masyarakat,
dilaksanakan dan diatur dalam rangka usaha-usaha untuk memperbaiki tingkat
kesejahteraan hidup masyarakat. Usaha-usaha tersebut pada dasarnya adalah bersifat
untuk meningkatkan pemenuhan berbagai kebutuhan-kebutuhan, baik melalui
produk-produk maupun melalui berbagai jenis kegiatan yang membawa pengaruh
2.4. Konsep tentang Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan merupakan proses rekonstruksi hubungan antara subyek dan
obyek. Proses ini mensyaratkan adanya pengakuan subyek atas kemampuan atau
power yang dimiliki obyek. Secara garis besar, proses ini melihat pentingnya flow of
power (transfer kekuasaan) dari subyek ke obyek. Pemberian kekuasaan, kebebasan
dan pengakuan dari subyek ke obyek dengan memberinya kesempatan untuk
meningkatkan hidupnya dengan memakai sumber daya tersebut. Pada akhirnya,
kemampuan individu miskin untuk dapat mewujudkan harapannya dengan pemberian
pengakuan oleh subyek merupakan bukti bahwa individu tersebut memiliki
kekuasaan/daya. Dengan kata lain, mengalirnya daya ini dapat terwujud suatu upaya
aktualisasi diri dari obyek untuk meningkatkan hidupnya dengan memakai daya yang
ada padanya, serta dibantu juga dengan daya yang dimiliki subyek.
Dalam pengertian yang lebih luas, hasil akhir dari proses pemberdayaan
adalah beralihnya fungsi individu yang semula obyek menjadi subyek (yang baru),
sehingga relasi sosial yang ada nantinya hanya akan ditandai dengan relasi antar
subyek (lama) dengan subyek (baru) yang lain. Pemberdayaan adalah upaya
memberdayakan (mengembangkan klien dari keadaan tidak atau kurang berdaya
menjadi mempunyai daya) guna mencapai kehidupan yang lebih baik. Jadi
pemberdayaan masyarakat adalah upaya mengembangkan mayarakat dari keadaan
kurang atau tidak berdaya menjadi punya daya dengan tujuan agar masyarakat
tersebut dapat mencapai/memperoleh kehidupan yang lebih baik. Payne (1997: 266)
“to help clients gain power of decision and action over their own lives by reducing
the effect of social or personal blocks to exercising cacity and self-confidence to use
power and by transferring power from the environment to clients.”
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada intinya tujuan
pemberdayaan masyarakat adalah untuk membantu masyarakat memperoleh daya
untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan mereka lakukan
yang terkait dengan diri mereka sendiri, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi
dan sosial dalam melakukan tindakan. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan
kemampuan dan rasa percaya diri pada masyarakat untuk menggunakan daya yang
dimiliki, antara lain melalui transfer daya dari lingkungannya. Pemberdayaan juga
merupakan suatu proses yang melengkapi warga masyarakat dalam memutuskan
di mana mereka saat ini, kemana mereka hendak pergi dan mengembangkan
sekaligus mengimplementasikan rencana-rencana guna mencapai tujuan, berdasarkan
kepercayaan diri dan pembagian wewenang (Madhekan, 2006). Menurut
Kartasasmita (1996), menyatakan bahwa upaya pemberdayaan masyarakat harus
dilakukan melalui tiga cara. Pertama, menciptakan suasana atau iklim yang
memungkinkan potensi masyarakat untuk berkembang. Kedua, memperkuat potensi
atau daya yang dimiliki oleh masyarakat dengan menerapkan prasarana fisik maupun
sosial yang diakses masyarakat paling bawah. Ketiga, melindungi masyarakat dan
membela kepentingan masyarakat lemah, karena kurang berdaya dalam menghadapi
Menurut Rukmana (dalam Miraza, Mahalli dan Pratomo, 2007: 202),
alasan-alasan efektifitas dan efisiensi adanya peran serta dari masyarakat antara lain:
a. Peran serta masyarakat memberikan kontribusi pada upaya pemanfaatan sebaik-
baiknya sumber dana yang terbatas.
b. Peran serta masyarakat membuka kemungkinan keputusan yang diambil
di dasarkan kebutuhan, prioritas dan kemampuan masyarakat. Hal ini akan
menghasilkan rancangan rencana, program dan kebijakan yang lebih realitas.
Selain itu memperbesar kemungkinan masyarakat bersedia dan mampu
menyumbang sumber daya mereka seperti uang dan tenaga.
c. Peran serta masyarakat merupakan salah satu komponen yang harus diikut
sertakan dalam aktivitas pembangunan. Peran serta masyarakat menjamin
penerimaan dan aspirasi yang lebih besar terhadap segala sesuatu yang dibangun.
Hal ini akan merangsang pemeliharaan yang baik, bahkan menimbulkan
kebanggaan.
Pemberdayaan masyarakat mengacu kepada kata empowerment, yaitu sebagai
upaya untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki sendiri oleh masyarakat.
Jadi, pendekatan pemberdayaan masyarakat bertitik berat pada pentingnya
masyarakat lokal yang mandiri sebagai suatu sistem yang mengorganisir diri mereka
sendiri, sehingga diharapkan dapat memberi peranan kepada individu bukan sekedar
objek, tetapi justru sebagai subjek pelaku pembangunan yang ikut menentukan masa
depan dan kehidupan masyarakat secara umum, (Setiana, 2002). Dalam kaitannya
upaya memberikan motivasi/dorongan kepada masyarakat agar mereka memiliki
kesadaran dan kemampuan untuk menentukan sendiri apa yang harus mereka lakukan
untuk mengatasi permasalahan yang mereka hadapi. Sebagaimana diutarakan pada
uraian terdahulu, rakyat berada dalam posisi yang tidak berdaya (powerless). Posisi
yang demikian memberi ruang yang lebih besar terhadap penyalahgunaan kekuasaan
yang berimplikasi terhadap pelanggaran hak-hak rakyat. Dengan demikian, rakyat
harus diberdayakan, sehingga memiliki kekuatan posisi tawar (empowerment of the
powerless). Pemberdayaan (empowerment) dalam studi kepustakaan memiliki
kecenderungan dalam dua proses. Pertama, proses pemberdayaan yang menekankan
pada proses pemberian atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan atau
kemampuan kepada masyarakat agar individu menjadi lebih berdaya, dan kedua,
menekankan pada proses menstimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar
mempuyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi
pilihan hidupnya melalui proses dialog.
2.5. Konsep Pembangunan
Todaro (2000) juga mendefinisikan pembangunan merupakan suatu proses
multidimensial yang meliputi perubahan-perubahan struktur sosial, sikap masyarakat,
lembaga-lembaga nasional, sekaligus peningkatan pertumbuhan ekonomi,
pengurangan kesenjangan dan pemberantasan kemiskinan absolut. Menurut Todaro
1. Pembangunan bukan hanya di arahkan untuk peningkatan income, tetapi juga
pemerataan.
2. Pembangunan juga harus memperhatikan aspek kemanusiaan seperti peningkatan:
a. Life Sustenance: Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
b. Self-Esteem: Kemampuan untuk menjadi orang yang utuh, yang memiliki
harga diri, bernilai dan tidak diisap orang lain.
c. Freedom From Servitude: Kemampuan untuk melakukan berbagai pilihan
dalam hidup, yang tentunya tidak merugikan orang lain.
Konsep dasar di atas telah melahirkan beberapa arti pembangunan yang
sekarang ini menjadi populer yaitu:
1. Capacity, hal ini menyangkut aspek kemampuan meningkatkan income atau
produktivitas.
2. Equity, hal ini menyangkut aspek pengurangan kesenjangan antara berbagai
lapisan masyarakat dan daerah.
3. Empowerment, hal ini menyangkut pemberdayaan masyarakat agar dapat menjadi
aktif dalam memperjuangkan nasibnya dan sesamanya.
4. Suistanable, hal ini menyangkut usaha untuk menjaga kelestarian pembangunan.
Menurut Jayadinata (1999), bahwa pembangunan ialah mengadakan atau
membuat atau mengatur sesuatu yang belum ada. Pengembangan ialah memajukan
atau memperbaiki atau meningkatkan sesuatu yang ada. Kedua istilah ini sering
digunakan untuk maksud yang sama. Pembangunan dan pengembangan
(development) dilakukan untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan dan pengembangan (development) dapat merupakan pembangunan
fisik atau pengembangan fisik, dan dapat merupakan pembangunan sosial ekonomi
dan pengembangan sosial ekonomi. Menurut Gant (1971) tujuan pembangunan ada
dua tahap. Tahap pertama, pada hakikatnya pembangunan bertujuan untuk
menghapuskan kemiskinan. Apabila tujuan ini sudah mulai dirasakan hasilnya maka
tahap kedua adalah menciptakan kesempatan-kesempatan bagi warganya untuk dapat
hidup bahagia dan terpenuhi segala kebutuhannya. Untuk mencapai keberhasilan
pembangunan tersebut, maka banyak aspek atau hal-hal yang harus diperhatikan,
yang diantaranya adalah keterlibatan masyarakat di dalam pembangunan.
Sanit (1987) menjelaskan bahwa pembangunan dimulai dari pelibatan
partisipasi masyarakat. Ada beberapa keuntungan ketika partisipasi masyarakat
dilibatkan dalam perencanaan pembangunan, yaitu: Pertama, pembangunan akan
berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Artinya bahwa jika masyarakat
dilibatkan dalam perencanaan pembangunan, maka akan tercipta kontrol terhadap
pembangunan tersebut. Kedua, pembangunan yang berorientasi pada masyarakat