• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Modal Sosial Masyarakat Pada Program Pembangunan Gampong (PPG) Kecamatan Baktiya Barat Kabupaten Aceh Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pemanfaatan Modal Sosial Masyarakat Pada Program Pembangunan Gampong (PPG) Kecamatan Baktiya Barat Kabupaten Aceh Utara"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN MODAL SOSIAL MASYARAKAT PADA

PROGRAM PEMBANGUNAN GAMPONG (PPG)

KECAMATAN BAKTIYA BARAT

KABUPATEN ACEH UTARA

T E S I S

Oleh

FATWA MAULANA

077003017/PWD

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2009

S

E K O L

A

H

P A

S C

A S A R JA N

(2)

PEMANFAATAN MODAL SOSIAL MASYARAKAT PADA

PROGRAM PEMBANGUNAN GAMPONG (PPG)

KECAMATAN BAKTIYA BARAT

KABUPATEN ACEH UTARA

T E S I S

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan

pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

FATWA MAULANA

077003017/PWD

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Tesis : PEMANFAATAN MODAL SOSIAL MASYARAKAT PADA PROGRAM PEMBANGUNAN GAMPONG

(PPG) KECAMATAN BAKTIYA BARAT

KABUPATEN ACEH UTARA Nama Mahasiswa : Fatwa Maulana

Nomor Pokok : 077003017

Program Studi : Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan

(PWD)

Menyetujui, Komisi Pembimbing

(Prof. H. Bachtiar Hassan Miraza, SE) Ketua

(Prof. Dr. Iic rer reg. Sirojuzilam, SE) Anggota

(Kasyful Mahalli, SE, M.Si) Anggota

Ketua Program Studi,

(Prof. H. Bachtiar Hassan Miraza, SE)

Direktur,

(Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B,M.Sc)

(4)

Telah diuji pada

Tanggal: 19 Agustus 2009

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. H. Bachtiar Hassan Miraza, SE

Anggota : 1. Prof. Dr. Iic. rer. reg. Sirojuzilam, SE

2. Kasyful Mahalli, SE, M.Si

3. Prof. Aldwin Surya, SE, M.Pd, Ph.D

4. Agus Suriadi, S.Sos, M.Si

(5)

ABSTRAK

(6)

cukup kuat untuk menciptakan suasana kondusif pada masyarakat Kecamatan Baktiya Barat.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis haturkan Kehadirat Allah SWT atas Berkah dan

HidayahNya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan TESIS dengan judul

Pemanfaatan Modal Sosial Masyarakat Pada Program Pembangunan Gampong

(PPG) Kecamatan Baktiya Barat, Kabupaten Aceh Utara. Tulisan ini membahas

tentang manfaat dari modal sosial yang diberikan oleh Kabupaten Aceh Utara kepada

Kecamatan Baktiya Barat dalam bentuk Program Pembangunan Gampong (PPG)

dengan mengupayakan adanya proses pemberdayaan masyarakat Gampong melalui

berbagai kegiatan (misalnya pembangunan balai pengajian, pembangunan saluran

irigasi/leaning, parit jalan, gorong-gorong, bantuan hewan ternak dan lain-lain).

Adapun partisipasi warga diikut sertakan dalam suatu wadah forum diskusi yang

dikenal dengan FGD (Focuss Group Disscussion) yang berkenaan dengan tanggapan

dari perwakilan tokoh masyarakat mengenai pelaksanaan Program Pembangunan

Gampong (PPG) terhadap Pengembangan Wilayah di Kecamatan Baktiya Barat

Kabupaten Aceh Utara. Dalam menyelesaikan Tesis ini, tentu saja penulis banyak

mendapat masukkan dan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga pada akhirnya

Penulis dapat menyelesaikannya. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, tulus dan

ikhlas, Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, DTM&H, Sp.A.(K), selaku Rektor Universitas

Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada Penulis

untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan di Sekolah Pascasarjana

Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa, B, M.Sc, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana

Universitas Sumatera Utara, yang senantiasa dengan sabar dan secara

berkesinambungan meningkatkan layanan pendidikan di Sekolah Pascasarjana

(8)

3. Prof. H. Bachtiar Hassan Miraza, SE, selaku Ketua Program Studi Perencanaan

Pembangunan Wilayah dan Pedesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera

Utara, serta sekaligus sebagai Ketua Komisi Pembimbing, yang telah menyetujui

judul dan meluangkan waktunya untuk membimbing Penulis selama mengikuti

pendidikan Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan

Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara dan bimbingan terhadap tesis

ini dimulai sejak awal hingga selesainya tesis ini.

4. Prof. Dr. Lic. rer. reg. Sirojuzilam, SE, selaku Komisi Pembimbing yang telah

dengan sabar meluangkan waktunya untuk membimbing Penulis selama

mengikuti pendidikan Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan

Pedesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, serta memberikan

saran yang konstruktif dalam membimbing Penulis dari sejak awal hingga

berakhirnya Tesis ini.

5. Bapak Kasyful Mahalli, SE.M.Si, selaku Komisi Pembimbing yang telah dengan

sabar meluangkan waktunya untuk membimbing Penulis selama mengikuti

pendidikan Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan

Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, serta memberikan saran yang

konstruktif dalam membimbing Penulis dari sejak awal hingga berakhirnya tesis

ini.

6. Prof. Aldwin Surya, SE. M.Pd. Ph.D, selaku Komisi Dosen Pembanding yang

memberikan saran untuk masukkan dan arahan yang bermanfaat bagi Penulis dari

sejak awal hingga berakhirnya tesis ini.

7. Agus Suriadi, S.Sos, M.Si, selaku Komisi Dosen Pembanding yang memberikan

saran untuk masukkan dan arahan yang bermanfaat bagi Penulis dari sejak awal

hingga berakhirnya tesis ini.

8. Drs. Rujiman, MA, selaku Komisi Dosen Pembanding yang memberikan saran

untuk masukkan dan arahan yang bermanfaat bagi Penulis dari sejak awal hingga

(9)

9. Bapak Camat/Staff Kecamatan Baktiya Barat yang telah memberikan izin kuliah,

serta pengertian dan kemudahan bagi Penulis dalam menyelesaikan pendidikan

di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

10. Kedua Orang Tua yang saya hormati dan saya sayangi, Mahyuddin Ibrahim

(Ayahanda) dan Nur Farida Hanum, S.Pd (Ibunda), yang senantiasa memberikan

dukungan, bantuan, nasihat, bimbingan dan motivasi yang diberikan kepada

Penulis.

11. Istriku Tercinta, Agustia, Am.Keb, yang senantiasa memberikan bantuan,

semangat dan dorongan yang diberikan kepada Penulis dalam menyelesaikan

pendidikan di Sekolah Pascasarjana Uinversitas Sumatera Utara.

12. Keluarga Tercinta, Farah Mayana (Kakak Penulis), Muliya Fika (Adik Penulis),

Royanna Sakura (Adik Penulis) dan Muhammad Muzammil (Adik Penulis), yang

senantiasa memberikan dukungan dan motivasi yang diberikan kepada Penulis.

13. Staff Biro Administrasi Program PWD Sekolah Pascasarjana USU, Bapak

M. Yusuf, SH, yang telah membantu dan memperlancar kegiatan selama

perkuliahan di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

14. Pegawai Biro Administrasi Program PWD Sekolah Pascasarjana USU, khususnya

Kak Leli, Putra, Maya dan Uci, yang telah memperlancar administrasi selama

Penulis menempuh pendidikan di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera

Utara.

15. Rekan-rekan Mahasiswa Program Perencanaan Pembangunan Wilayah dan

Pedesaan, khususnya Rekan Mahasiswa di Jurusan Perkotaan, Bapak Razi, Bapak

Mulatua Sinaga, Abang Mussawir, Abang Saifuddin, Musa, Razki, Erwin dan

rekan-rekan mahasiswa lainnya yang tidak mungkin Penulis sebutkan namanya

satu per satu, yang senantiasa memberikan saran untuk masukkan dan arahan

yang bermanfaat bagi Penulis dari sejak awal hingga berakhirnya Tesis ini

maupun dalam masa perkuliahan.

16. Para peserta undangan forum diskusi FGD (Focuss Group Disscussion) yang

(10)

partsipasi melalui tanggapan tentang pemanfaatan modal sosial yang diberikan

oleh Pemerintahan Kabupaten Aceh Utara kepada Kecamatan Baktiya Barat

dalam bentuk Program Pembangunan Gampong (PPG).

Akhir kata, Penulis mengucapkan Semoga Tesis ini bermanfaat bagi para

pembaca, khususnya untuk kalangan Mahasiswa.

Medan, Agustus 2009

Penulis

(11)

RIWAYAT HIDUP

I. DATA PRIBADI

N ama : Fatwa Maulana

Tempat/Tgl. Lahir : Lhokseumawe/17 Oktober 1979

Jenis Kelamin : Laki-Laki

2009-2007 : S-2 Sekolah Pascasarjana, Magister Perencanaan

Pembangunan Wilayah dan Pedesaan Universitas Sumatera Utara, Medan.

2004-2006 : S-1 Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu

Sosial dan Politik, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe.

2. Staff pada Bagian Pemerintahan Setdakab, Kabupaten Aceh Utara Tahun 2003.

3. Kasi Pemerintahan Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara,

Tahun 2003.

4. Sekretaris Lurah Kota Lhokseumawe, Kecamatan Lhoksukun, Kabupaten Aceh Utara Tahun 2004.

(12)

DAFTAR ISI

2.2. Pengertian Program Pembangunan Gampong (PPG) ... 24

2.3. Program Pengembangan Wilayah ... 27

2.4. Konsep tentang Pemberdayaan Masyarakat ... 30

2.5. Konsep Pembangunan... 34

(13)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 53

4.1.4. Pembagian Wilayah Berdasarkan Administrasi Pemerintahan... 61

4.2. Program PPG yang Telah dilaksanakan... 67

(14)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1.1. Nama-nama Gampong dalam Kecamatan Baktiya Barat dan Jenis-jenis Kegiatan yang diusulkan dalam PPG

Tahun Anggaran 2005... 3

4.1. Batas Wilayah Kabupaten Aceh Utara... 53

4.2. Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kabupaten Aceh Utara

dalam Angka Tahun 2007 ... 54

4.3. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk

di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007... 55

4.4. Batas Wilayah Kecamatan Baktiya Barat ... 56

4.5. Luas Wilayah Menurut Gampong Kecamatan Baktiya Barat

di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2006... 57

4.6. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk

Menurut Kecamatan Baktiya Barat Tahun 2006... 58

4.7. Jumlah Kepala Keluarga dan Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007 ... 59

4.8. Jumlah Kepala Keluarga dan Jumlah Penduduk Kecamatan Baktiya Barat Tahun 2006... 60

4.9. Distribusi Persentase PDRB (dengan Migas) Kabupaten Aceh Utara Menurut Lapangan Usaha Tahun 2002 hingga 2007 Berdasarkan

Harga Berlaku Tahun 2000 ... 62

4.10. Distribusi Persentase PDRB (tanpa Migas) Kabupaten Aceh Utara Menurut Lapangan Usaha Tahun 2002 hingga 2007 berdasarkan

Harga Berlaku Tahun 2000 ... 64

4.11. Jumlah Pesantren dan Balai Pengajian Menurut Desa Kecamatan

(15)

4.12. Jenis dan Panjang Jalan Utama Menurut Desa Kecamatan Baktiya

Barat Tahun 2006 ... 66

4.13. Nama-nama Gampong dalam Kecamatan Baktiya Barat Dan Jenis-jenis Kegiatan yang dilaksanakan dalam PPG Tahun Anggaran 2005... 68

4.14. Nama-nama Gampong dalam Kecamatan Baktiya Barat Dan Jenis-jenis Hewan Ternak yang diberikan dalam PPG Tahun Anggaran 2005... 70

4.15. Manfaat dan Bentuk Wujud dari Program Pembangunan Gampong... 70

4.16. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Kejujuran ... 73

4.17. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Kewajaran... 74

4.18. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Egaliter... 75

4.19. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Toleransi... 76

4.20. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Kemurahan Hati ... 78

4.21. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Partisipasi ... 79

4.22. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Pertukaran Timbal Balik . 80 4.23. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Solidaritas ... 82

4.24. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Kerja Sama ... 83

4.25. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Keadilan ... 84

4.26. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Nilai yang Dimiliki Bersama... 86

4.27. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Norma dan Sanksi ... 87

4.28. Tanggapan Peserta FGD terhadap Hakikat Moralitas... 88

(16)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Undangan Forum Diskusi FGD ... 100

2. Pertanyaan dalam Forum Diskusi GFD ... 102

3. Denah Lokasi Penelitian ... 146

4. Program PPG yang Telah dilaksanakan... 147

5. Dokumentasi Penelitian ... 152

6 A. Peta Lokasi Penelitian Kabupaten Aceh Utara ... 155

6 B. Peta Lokasi Penelitian Kecamatan Baktiya Barat... 156

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pembangunan adalah sebagai sebuah proses multidimensional yang mencakup

berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan

institusi-institusi nasional, di samping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan

ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengentasan kemiskinan

(Todaro, 2000). Pembangunan juga diartikan sebagai suatu proses perubahan sosial

dengan partisipatori yang luas dalam suatu masyarakat yang dimaksudkan untuk

mencapai kemajuan sosial dan material (termasuk bertambah besarnya keadilan,

kebebasan dan kualitas lainnya yang dihargai) untuk mayoritas rakyat melalui kontrol

yang lebih besar yang mereka peroleh terhadap lingkungan mereka (Rogers, 1983).

Jadi, pada hakikatnya pembangunan harus mencerminkan perubahan total

suatu masyarakat atau penyesuaian sistem sosial secara keseluruhan, tanpa

mengabaikan keragaman kebutuhan dasar dan keinginan individual, maupun

kelompok-kelompok sosial yang ada di dalamnya untuk bergerak maju menuju suatu

kondisi kehidupan yang lebih baik, secara material maupun spritual. Pembangunan

Gampong sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dan mempunyai arti

yang sangat strategis, karena Gampong merupakan basis dari pembangunan nasional,

(19)

rakyat dan untuk rakyat dengan bantuan pemerintah, maka terdapat adanya kewajiban

yang harus dilaksanakan bersama oleh pemerintah dan masyarakat secara seimbang.

Berdasarkan pemikiran tersebut di atas Pemerintah Kabupaten Aceh Utara pada

tahun 2002 meluncurkan sistem perencanaan pembangunan daerah yang aspiratif dan

partisipatif melalui program pembangunan Gampong dengan tujuan umum untuk

perkembangan Aceh Utara ke arah yang lebih baik melalui upaya-upaya

pembangunan Gampong. Adapun sumber hukum pelaksanaan program ini adalah

Qanun Kabupaten Aceh Utara Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Rencana strategis

(RENSTRA) pembangunan daerah kabupaten Aceh Utara Tahun 2001-2005, Qanun

Kabupaten Aceh Utara Nomor 1 Tahun 2003 Tentang Anggaran pendapatan dan

Belanja daerah Kabupaten Aceh utara dan Surat Bupati Aceh Utara Nomor

648.2/2078/2002 Tanggal 5 Januari 2002, Tentang Pedoman Umum Program

Pembangunan Gampong Kabupaten Aceh Utara.

Program Pembangunan Gampong merupakan suatu bentuk pemberdayaan

terhadap masyarakat miskin Gampong. Gampong yang dimaksud dalam hal ini

adalah wilayah pedesaan atau biasa istilah umum juga dikenal dengan sebutan

perkampungan. Rumusan pengertian pembangunan desa menurut Chambers (1998)

adalah suatu strategi yang memungkinkan kelompok masyarakat tertentu, baik

laki-laki maupun wanita miskin di desa, memperoleh apa yang mereka inginkan dan

perlukan bagi dirinya maupun anak-anaknya. Hal ini dapat tercapai jika diikut

(20)

Pemberdayaan sesungguhnya adalah usaha-usaha mengembangkan potensi

yang ada dan dalam keadaan lemah menjadi kuat dan mampu untuk menghadapi

setiap tantangan dalam usaha mencapai tujuan yang diharapkan. Pemberdayaan

dalam pengertian ini jelas menunjukkan adanya suatu usaha yang di latar belakangi

oleh kemauan yang keras dalam merubah sesuatu yang lemah menjadi kuat dan dapat

digunakan untuk kemajuan sesuai dengan diharapkan. Sebagai salah satu program

pemberdayan, PPG mengupayakan adanya proses pemberdayaan masyarakat

Gampong melalui berbagai kegiatan, misalnya ekonomi produktif, rehabilitasi fisik,

perbaikan jalan, saluran air dan lain-lain.

Tabel 1.1. Nama-nama Gampong dalam Kecamatan Baktiya Barat Dan Jenis- jenis Kegiatan yang diusulkan dalam PPG Tahun Anggaran 2005

No. Nama Gampong Jenis Kegiatan

1. Cot Kupok Saluran Irigasi dan Jembatan Kayu

2. Mtg. Raya Blang Sialet Jembatan Plat Beton dan Leaning Irigasi

3. Pucok Aloe Buket Saluran Irigasi dan Jembatan Kayu

4. Cot Paya Penimbunan Jalan Desa dan Gorong-gorong

5. Matang Teungoh Pembangunan Balai Pengajian dan Pengerasan

Jalan.

13. Matang Sijeuk Teungoh Pengerasan Jalan Usaha Tani dan

Pembangunan Jembatan Plat Beton

14. Matang Sijeuk Timur Pembangunan Jalan dan Jembatan

15. Keude Sampoiniet Pengerasan Jalan dan Modal Usaha

(21)

Lanjutan Tabel 1.1.

17. Matang Paya Pembuatan Jalan Lingkungan dan Gorong-

Gorong

18. Lhok Iboh Jalan, Paret dan Leaning Irigasi

19. Cot Laba Pengerasan Jalan Usaha Tani dan Lumbung

Desa

20. Meunasah Pante Paret, Jalan Beton dan Gorong-gorong

21. Cot Murong Jalan Setapak dan Usaha Kerajinan

22. Meurandeh Paya Saluran Beton, Ternak Sapi dan Kambing

23. Meunasah Hagu Pembukaan Jalan Baru dan Ternak Sapi

24. Blang Rheue Saluran Pembuang, Ternak dan Kambing

25. Lhok Euncien Penimbunan Jalan Dan Balai Pengajian

26. Paya Bateung Pengerasan Jalan dan Ternak Sapi

Sumber: Dokumentasi Kabupaten Aceh Utara April 2005

Di dalam melakukan pemberdayaan keterlibatan masyarakat yang akan

diberdayakan sangatlah penting, sehingga tujuan dari pemberdayaan dapat tercapai

secara maksimal. Program yang mengikutsertakan masyarakat, memiliki beberapa

tujuan, yaitu agar bantuan tersebut efektif, karena sesuai dengan kehendak dan

mengenali kemampuan serta kebutuhan mereka, serta meningkatkan keberdayaan

(empowering) masyarakat dengan pengalaman merancang, melaksanakan dan

mempertanggung jawabkan upaya peningkatan diri dan ekonomi (Kartasasmita,

1996:249). Dalam perjalanan proses dan program-program pemberdayaan yang

pernah ada di Indonesia, secara umum masih sering ditemui berbagai

hambatan-hambatan dan kegagalan-kegagalan dalam hal implementasi.

Pengalaman masa lalu telah memberikan pelajaran berharga bagi bangsa

Indonesia, bahwa proses pemberdayaan dan pembangunan yang dilaksanakan dengan

(22)

maupun politik, meskipun di bidang ekonomi cukup menggembirakan. Implementasi

pendekatan dan sistem pembangunan tersebut mengakibatkan keikutsertaan

masyarakat dalam pembangunan, bukan dalam pengertian partisipasi, tetapi lebih

pada di mobilisasi. Karena itu, kegiatan pembangunan makin menjadikan masyarakat

bergantung terhadap input-input dari pemerintah. Masyarakat menjadi kurang

percaya diri, tidak kreatif dan tidak inovatif. Secara politik, dengan pendekatan

top-down dan sistem sentralistis tersebut hak-hak masyarakat terserap ke dalam

kepentingan pemerintah, sehingga tidak muncul pemikiran kritis dari masyarakat

sebagai kontrol terhadap kebijakan pemerintah.

Partisipasi masyarakat dalam pembangunan memudar diakibatkan oleh

memudarnya sejumlah lembaga tradisional yang dahulu hidup di pedesaan, sebagai

akibat intervensi pemerintah yang terlalu jauh terhadap berbagai aspek kehidupan

masyarakat. Faktor lainnya yang menjadi akar permasalahan dari kegagalan dalam

praktek pemberdayaan selama ini salah satunya adalah tidak adanya pemanfaatan

modal sosial dalam pelaksanaaan program-program pembangunan dan pemberdayaan

yang dilaksanakan. Modal sosial bisa dikatakan sebagai sumber daya sosial yang

dimiliki oleh masyarakat. Sebagai sumber daya tentunya modal sosial ini

memberikan kekuatan atau daya dalam beberapa kondisi-kondisi sosial dalam

masyarakat. Menurut Fukuyama (1995) justru semakin bertambah bobotnya apabila

semakin intensif di daya gunakan modal sosial itu. Putnam (dalam Badaruddin, 2003)

menyebutkan bahwa modal sosial tersebut mengacu pada aspek-aspek utama dari

(23)

jaringan-jaringan (networks) yang dapat meningkatkan efisiensi dalam suatu masyarakat

melalui fasilitas bagi tindakan-tindakan yang terkoordinasi.

Modal Sosial merupakan norma-norma dan hubungan-hubungan sosial yang

mengakar dalam struktur masyarakat, sehingga orang-orang dapat mengkoordinir

tindakan untuk mencapai tujuan. Secara sederhana Modal Sosial merupakan

kemampuan masyarakat untuk mengkoordinir diri sendiri dalam memperjuangkan

tujuan-tujuan mereka. Melihat hakikat dan pengertian dari modal sosial tersebut

di atas dapat dicermati apabila memberi ruang dan peluang yang cukup baik dalam

optimalisasi program pembangunan dan pemberdayaan yang akan dilakukan.

Dengan adanya upaya mensinergiskan suatu program dengan modal sosial yang ada

pada masyarakat penerima program tentunya akan memberi suatu pencapaian yang

lebih baik dan maksimal. Berdasarkan fenomena tersebut, Penulis tertarik untuk

melakukan penelitian mengenai “Pemanfaatan Modal Sosial Masyarakat Pada

Program Pembangunan Gampong (PPG) Kecamatan Baktiya Barat, Kabupaten

Aceh Utara”.

1.2. Perumusan Masalah

Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana pemanfaatan Modal Sosial dalam pelaksanaan Program Pembangunan

(24)

2. Bagaimana tanggapan masyarakat tentang pelaksanaan Program Pembangunan

Gampong (PPG) terhadap Pengembangan Wilayah di Kecamatan Baktiya Barat

Kabupaten Aceh Utara.

1.3. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui dan menganalisis manfaat dari Modal Sosial dalam

pelaksanaan Program Pembangunan Gampong (PPG) di Kecamatan Baktiya

Barat Kabupaten Aceh Utara.

2. Untuk mengetahui dan menjelaskan tanggapan masyarakat tentang pelaksanaan

Program Pembangunan Gampong (PPG) terhadap Pengembangan Wilayah

di Kecamatan Baktiya Barat Kabupaten Aceh Utara.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Bagi Pemerintah, sebagai bahan pertimbangan atau masukan dalam menentukan

kebijakan yang tepat untuk menentukan pengalokasian modal sosial dalam

pelaksanaan Program Pembangunan Gampong (PPG) di Kecamatan Baktiya

Barat Kabupaten Aceh Utara.

2. Bagi masyarakat Kecamatan Baktiya Barat, untuk mengetahui dan menambah

informasi tentang Program Pembangunan Gampong yang dilaksanakan terhadap

(25)

3. Bagi Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah Universitas Sumatera

Utara, akan melengkapi ragam penelitian yang telah dibuat oleh para mahasiswa

dan dapat menambah bahan bacaan dan referensi bahan bacaan dan referensi dari

satu karya ilmiah.

4. Bagi ilmu pengetahuan, sebagai bahan masukan bagi penelitian lain yang lebih

lanjut, terutama yang menyangkut Modal Sosial dan Program Pembangunan

Gampong, maupun program pembangunan lainnya.

1.5. Batasan Penelitian

Adapun yang menjadi batasan dalam penelitian ini adalah:

1. Penelitian ini hanya bersifat kualitatif, yaitu untuk mengetahui manfaat dari

Modal Sosial yang dialokasikan dalam pelaksanaan Program Pembangunan

Gampong (PPG) di Kecamatan Baktiya Barat Kabupaten Aceh Utara.

2. Hasil Penelitian ini diperoleh melalui Forum Diskusi, yaitu untuk mengetahui dan

menjelaskan persepsi masyarakat tentang pelaksanaan Program Pembangunan

Gampong (PPG) terhadap Pengembangan Wilayah di Kecamatan Baktiya Barat

(26)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Modal Sosial

Konsep modal sosial (sosial capital) diperkenalkan Putnam (1993) sewaktu

meneliti Italia pada 1985. Masyarakatnya, terutama di Italia Utara, memiliki

kesadaran politik yang sangat tinggi, karena tiap indvidu punya minat besar untuk

terlibat dalam masalah publik. Hubungan antar masyarakat lebih bersifat horizontal,

karena semua masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Sementara itu,

Putnam prihatin atas kecenderungan runtuhnya jalinan sosial masyarakat Amerika.

Adanya televisi memberikan kontribusi bagi terciptanya "couch potato syndrome"

atau disebut juga cerminan hidup yang individual. Jadi kebiasaan orang Amerika

"nongkrong" di depan layar televisi berjam-jam sebagai cerminan hidup yang sangat

individualistik.

Konsep modal sosial juga muncul dari pemikiran bahwa anggota masyarakat

tidak mungkin dapat secara individu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.

Diperlukan adanya kebersamaan dan kerja sama yang baik dari segenap anggota

masyarakat yang berkepentingan untuk mengatasi masalah tersebut. Pemikiran

seperti inilah yang pada awal abad ke 20 mengilhami seorang pendidik di Amerika

Serikat bernama Lyda Judson Hanifan untuk memperkenalkan konsep modal sosial

(social capital) pertama kalinya. Dalam tulisannya berjudul The Rural School

(27)

biasa seperti harta kekayaan atau uang, tetapi lebih mengandung arti kiasan, namun

merupakan aset atau modal nyata yang penting dalam hidup bermasyarakat. Menurut

Hanifan, dalam modal sosial termasuk kemauan baik, rasa bersahabat, saling simpati,

serta hubungan sosial dan kerjasama yang erat antara individu dan keluarga yang

membentuk suatu kelompok sosial (Syabra, 2003). Sekalipun Hanifan telah

menggunakan istilah modal sosial hampir seabad yang lalu, istilah tersebut baru

mulai dikenal di dunia akademis sejak akhir tahun 1980-an. Pierre Bourdieu, seorang

sosiolog Perancis kenamaan, dalam sebuah tulisan yang berjudul "The Forms of

Capital" tahun 1986 (Syabra, 2003) mengemukakan bahwa untuk dapat memahami

struktur dan cara berfungsinya dunia sosial, perlu dibahas modal dalam segala

bentuknya, tidak cukup hanya membahas modal seperti yang dikenal dalam teori

ekonomi. Penting juga diketahui bentuk transaksi yang dalam teori ekonomi dianggap

sebagai non-ekonomi, karena tidak dapat secara langsung memaksimalkan

keuntungan material. Padahal sebenarnya dalam setiap transaksi modal ekonomi

selalu disertai oleh modal immaterial berbentuk modal budaya dan modal sosial .

Bourdieu dalam Syabra (2003) menjelaskan perbedaan antara modal

ekonomi, modal budaya dan modal sosial, dan menggambarkan bagaimana ketiganya

dapat dibedakan antara satu sama lain dilihat dari tingkat kemudahannya untuk

dikonversikan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa modal sosial (social capital)

merupakan fasilitator penting dalam pembangunan ekonomi. Modal sosial yang

dibentuk berdasarkan kegiatan ekonomi dan sosial di masa lalu dipandang sebagai

(28)

efektivitas pembangunan (Suharto dan Yuliani, 2005). Tjondronegoro (2005)

menjelaskan bahwa modal sosial dapat menjadi unsur pendukung keberhasilan

pembangunan, termasuk pula dinamika pembangunan pedesaan dan pertanian

di Indonesia. Sehingga dalam menjalankan program pembangunan, khususnya

pertanian dan pedesaan bentuk-bentuk modal sosial tersebut sebaiknya di perhatikan

dan dimanfaatkan.

Brehm dan Rahn (dalam Ibrahim, 1997) menjelaskan bahwa modal sosial

adalah jaringan kerjasama di antara warga masyarakat yang memfasilitasi pencarian

solusi dari permasalahan yang dihadapi. Definisi lain dikemukakan oleh Pennar

(dalam Prusak, 2001) menjelaskan bahwa modal sosial adalah kumpulan dari

hubungan yang aktif di antara manusia: rasa percaya, saling pengertian dan kesamaan

nilai dan perilaku yang mengikat anggota dalam sebuah jaringan kerja dan komunitas

yang memungkinkan adanya kerja sama. Di dalam masyarakat kita, modal sosial ini

menjadi suatu alternatif pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Mengingat

sebenarnya masyarakat kita sangatlah komunal dan mereka mempunyai banyak sekali

nilai-nilai yang sebenarnya sangat mendukung pengembangan dan penguatan modal

sosial itu sendiri. Pasalnya modal sosial memberikan pencerahan tentang makna

kepercayaan, kebersamaan, toleransi dan partisipasi sebagai pilar penting

pembangunan masyarakat sekaligus pilar bagi demokrasi dan good governance (tata

pemerintahan yang baik) yang sedang marak dipromosikan.

Fukuyama (1997) menjelaskan bahwa”Social capital can be defined simply as

(29)

group that permit cooperation among them”. (Modal sosial adalah serangkaian

nilai-nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama diantara para anggota suatu

kelompok masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerja sama di antara mereka).

Analisis modal sosial salah satunya dapat digunakan untuk mencermati:

1. Hubungan sosial, merupakan bentuk komunikasi bersama melalui hidup

berdampingan sebagai interaksi antar individu;

2. Adat dan nilai budaya lokal yang menjunjung tinggi kebersamaan, kerja sama,

dan hubungan sosial dalam masyarakat;

3. Toleransi merupakan salah satu kewajiban moral yang harus dilakukan setiap

orang ketika berada/hidup bersama orang lain;

4. Kesediaan untuk mendengar berupa sikap menghormati pendapat orang lain;

5. Kejujuran menjadi salah satu hal pokok dari keterbukaan/transparansi untuk

kehidupan lebih demokratis;

6. Kearifan lokal dan pengetahuan lokal sebagai pendukung nilai-nilai yang ada

dalam masyarakat;

7. Jaringan sosial dan kepemimpinan sosial yang terbentuk berdasar

kepentingan/ketertarikan individu secara prinsip/pemkiran di mana

kepemimpinan sosial terbentuk dari kesamaan visi, hubungan personal atau

keagamaan;

8. Kepercayaan merupakan hubungan sosial yang di bangun atas dasar rasa percaya

(30)

9. Kebersamaan dan kesetiaan berupa perasaan ikut memiliki dan perasaaan menjadi

bagian dari sebuah komunitas;

10. Tanggung jawab sosial merupakan rasa empati masyarakat terhadap upaya

perkembangan lingkungan masyarakat;

11. Partisipasi masyarakat berupa kesadaran diri seseorang untuk ikut terlibat dalam

berbagai hal berkaitan dengan diri dan lingkungan dan

12. Kemandirian berupa keikut sertaan masyarakat dalam pengambilan keputusan.

2.1.1. Hakikat Sikap Saling Percaya (Trust)

Menurut Shaw (1997), kata “trust” berasal dari bahasa German “trost” yang

berarti kenyamanan (comfort). Dalam sebagian besar kasus, seseorang percaya

kepada orang yang menunjukkan bahwa dia layak untuk mendapat kepercayaan.

Sekalipun begitu kepercayaan tidak selalu berasal dari pengalaman masa lalu dengan

orang lain. Dan kepercayaan berbeda dari percaya diri. Percaya diri berasal dari hasil

pengetahuan yang dibangun dari alasan dan fakta. Sebaliknya, kepercayaan

merupakan bagian dari keyakinan (faith). Kepercayaan lebih mudah retak atau rapuh

daripada keyakinan. Dalam suatu hubungan diperlukan adanya kepercayaan.

Kepercayaan menjadi dasar sebagai jaminan awal dari suatu hubungan dua orang atau

lebih dalam bekerjasama. Sikap saling percaya (trust) sebagai salah satu elemen dari

modal sosial adalah merupakan sikap salah satu dasar bagi lahirnya sikap saling

percaya yang terbangun antar beberapa golongan komunitas dan merupakan dasar

(31)

akhirnya di mapankan dalam wujud pranata (institution). Dari beberapa definisi

di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kepercayaan merupakan salah satu kunci

terpenting untuk menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat. Hubungan

tersebut dapat berlanjut, jika penyelenggara pemerintah yang dipercaya mampu

memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat. Karena itu sikap saling percaya

(trust) meliputi adanya unsur kejujuran (honesty), kewajaran (fainerss), sikap egaliter

(egali-tarianism), toleransi (tolerance) dan kemurahan hati (generosity)

(Badaruddin, 2005).

Salah satu elemen-elemen pokok modal sosial tersebut bukanlah sesuatu yang

tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, melainkan harus dikreasikan dan

di transmisikan melalui mekanisme-mekanisme sosial budaya di dalam sebuah unit

sosial seperti keluarga, komunitas, asosiasi sukarela, negara, dan sebagainya.

Menurut Robbins (2005), kejujuran (honesty) adalah sebuah unsur dari kepercayaan

yang berhubungan dengan ketulusan dan keadaan yang sebenarnya, unsur ini juga

merupakan unsur yang paling kritis ketika seseorang menilai kepercayaan orang lain.

Sedangkan sikap egaliter merupakan salah satu ciri menyolok dari pemimpin massa

yang karismatik dan populer adalah sikapnya yang egaliter atau merakyat dan

accesible (mudah dihubungi) (Mario Gagho, 2004). Maksudnya merakyat di sini

adalah sikap yang sama, walaupun kadang-kadang bersifat emosional, bertujuan

untuk mencapai kesatuan atau paling sedikit untuk mencapai suatu integrasi dalam

organisasi, fikiran dan tindakan (Soekanto, 1982:74). “Toleransi berasal dari bahasa

(32)

kesabaran” (Halim, 2008). Secara umum, istilah ini mengacu pada sikap terbuka,

lapang dada, sukarela, dan kelembutan. United Nations Educational, Scientific and

Cultural Organization (UNESCO) mengartikan toleransi sebagai sikap “saling

menghormati, saling menerima, dan saling menghargai di tengah keragaman budaya,

kebebasan berekspresi, dan karakter manusia”. Untuk itu, toleransi harus didukung

oleh cakrawala pengetahuan yang luas, bersikap terbuka, dialog, kebebasan berfikir

dan beragama. Singkatnya toleransi setara dengan bersikap positif dan menghargai

orang lain dalam rangka menggunakan kebebasan azasi sebagai manusia. Untuk itu,

toleransi harus didukung oleh cakrawala pengetahuan yang luas, bersikap terbuka,

dialog, kebebasan berfikir dan beragama. Singkatnya toleransi setara dengan bersikap

positif dan menghargai orang lain dalam rangka menggunakan kebebasan azasi

sebagai manusia. Toleransi didefinisikan sebagai perwujudan dari sifat dan sikap

untuk menghargai dan membiarkan atau membolehkan (tenggang rasa) pendapat,

pandangan kepercayaan, kebiasaan, kelakuan (pendirian) yang menunjukkan adanya

pertentangan, atau berlawanan (Poerwadarminta, 1985).

2.1.2. Hakikat Jaringan Sosial (Networks)

Dalam sistem Jaringan sosial aspek vital dari modal sosial adalah keterkaitan

(connectedness), jaringan (networks) dan kelompok (groups). Keterkaitan terwujud

di dalam beragam tipe kelompok pada tingkat lokal, maupun di tingkat yang lebih

tinggi. Adanya jaringan hubungan antar individu, norma-norma dan kepercayaan,

(33)

kerja sama kolektif dalam menghadapi dan memecahkan persoalan bersama

komunitas masyarakat kecil secara kolektif yang akan memperkuat posisi tawar

mereka terhadap kekuatan-kekuatan struktural, seperti pasar dan nelayan pemilik

yang senantiasa berupaya mengeksploitasikan mereka melalui penentuan harga secara

sepihak dan system bagi hasil yang tidak setara dan adil. Menurut Badaruddin (2005),

jaringan (networks) meliputi adanya unsur partisipasi (participations), pertukaran

timbal balik (reciprocity), solidaritas (solidarity), kerja sama (cooperation), dan

keadilan (equity).

Faturrochman (2002) mengatakan Keadilan digambarkan sebagai situasi

sosial ketika norma-norma tentang hak dan kelayakan dipenuhi. Situasi sosial

berkeadilan ini bisa tercapai jika empat jenis keadilan yang ada berlaku, yaitu

keadilan distributif, keadilan prosedur, keadilan interaksional, dan keadilan sistem.

Keadilan digambarkan sebagai situasi sosial ketika norma-norma tentang hak dan

kelayakan dipenuhi. Keadilan adalah sesuatu yang sulit sekali untuk dijelaskan,

karena keadilan memiliki banyak definisi dan hampir setiap orang yang saya tanyai

memiliki pandangan yang berbeda tentang apa itu keadilan. Akibatnya, apa yang saya

anggap adil belum tentu dianggap orang lain sebagai sesuatu yang adil. Karena itu

saya bisa simpulkan bahwa keadilan adalah sesuatu yang subjektif, bukan objektif.

Namun satu hal yang pasti adalah agar suatu konsep bisa dianggap sebagai adil,

konsep itu harus disetujui oleh semua pihak yang berkepentingan.

Blanchard (2001:6) mendefinisikan pemberdayaan sebagai upaya untuk

(34)

pengetahuan, pengalaman, motivasinya. “The real essence of empowerment comes

from releasing the knowledge, experience, and motivarional power that is already in

people but is being severely underutilized”. Memberdayakan masyarakat adalah

upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat, di mana kondisi

sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan

keterbelakangan. Dengan kata lain, ”memberdayakan adalah meningkatkan

kemampuan dan meningkatkan kemandirian masyarakat”. Konsep partisipasi yang

aktif dan kreatif atau seperti yang dikemukakan oleh Paul dalam Cohen sebagai

berikut: “Participation refers to an active process whereby beneficiaries influence

the direction and excution of development projects rather than merely receive a share

of project benefits”. Definisi tersebut memandang keterlibatan masyarakat mulai dari

tahap pembuatan keputusan, penerapan keputusan, penikmatan hasil evaluasi (Cohen

& Uphoff, 1980: 215-223). Partisipasi mendukung masyarakat untuk mulai sadar

akan situasi dan masalah yang dihadapinya, serta berupaya untuk mencari jalan

keluar yang dapat dipakai demi mengatasi masalahnya. Partisipasi juga membantu

masyarakat miskin untuk melihat realitas sosial ekonomi dan proses desentralisasi

yang dilakukan dengan memperkuat “Delivery System” (sistem distribusi) di tingkat

bawah.

Soetrisno (1995: 74) menyatakan bahwa ada dua definisi partisipasi yang

beredar di masyarakat yaitu: Definisi Pertama, partisipasi rakyat dalam pembangunan

sebagai dukungan rakyat terhadap rencana proyek pembangunan yang dirancang dan

(35)

dalam definisi inipun disamakan dengan kemauan rakyat untuk ikut menanggung

biaya pembangunan, baik berupa uang maupun tenaga dalam melaksanakan proyek

pembangunan pemerintah. Dipandang dari sudut sosiologis, definisi ini tidak dapat

dikatakan sebagai partisipasi rakyat dalam pembangunan melainkan mobilisasi rakyat

dalam pembangunan. Definisi Kedua, partisipasi dalam pembangunan merupakan

kerja sama yang erat antara perencana dan rakyat dalam merencanakan,

melaksanakan, melestarikan dan mengembangkan hasil pembangunan yang telah

dicapai. Ukuran tinggi rendahnya partisipasi rakyat dalam pembangunan tidak hanya

diukur dengan kemauan rakyat untuk menanggung biaya pembangunan, tetapi juga

dengan ada tidaknya hak rakyat untuk ikut menentukan arah dan tujuan proyek yang

dibangun di wilayah mereka, serta ada tidaknya kemauan rakyat untuk secara mandiri

melestarikan hasil proyek itu. Dengan demikian, partisipasi merupakan aspek

terpenting dalam upaya memberdayakan masyarakat, baik secara individu maupun

kelompok. Kemampuan masyarakat untuk “mewujudkan” dan “mempengaruhi”

arah, serta pelaksanaan suatu program ditentukan dengan mengandalkan power yang

dimilikinya, sehingga pemberdayaan (empowerment) merupakan tema sentral atau

jiwa partisipasi yang sifatnya aktif dan kreatif. Pemberdayaan merupakan the missin

ingredient (unsur tersembunyi) dalam mewujudkan partisipasi masyarakat yang aktif

dan kreatif. Secara sederhana, pemberdayaan mengacu pada kemampuan masyarakat

untuk mendapatkan dan memanfaatkan akses ke dan kontrol atas sumber-sumber

(36)

Menurut Massofa (2008), Interaksi sosial dapat diartikan sebagai

hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa

hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang

satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu. Interaksi

sosial dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan

komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya hubungan sosial

Komunikasi merupakan penyampaian suatu informasi dan pemberian tafsiran dan

reaksi terhadap informasi yang disampaikan. Interaksi sosial adalah keadaan di mana

seseorang melakukan hubungan saling berbalas respon dengan orang lain, balas

respon antara minimal 2 (dua) orang di dalamnya.

Khairulmaddy (2008) mengatakan interaksi sosial adalah hubungan timbal

balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan antara

kelompok dengan kelompok. Interaksi sosial merupakan proses komunikasi di antara

orang-orang untuk saling mempengaruhi perasaan, pikiran dan tindakan. Interaksi

sosial akan berlangsung apabila seorang individu melakukan tindakan dan dari

tindakan tersebut menimbulkan reaksi individu yang lain. Interaksi sosial terjadi jika

dua orang atau lebih saling berhadapan, bekerja sama, berbicara, berjabat tangan atau

bahkan terjadi pertikaian dan perselisihan sebelumnya. Interaksi sosial merupakan

hubungan tersusun dalam bentuk tindakan berdasarkan norma dan nilai sosial yang

berlaku dalam masyarakat. Dan di sinilah dapat kita amati atau rasakan bahwa

apabila sesuai dengan norma dan nilai dalam masyarakat, interaksi tersebut akan

(37)

dilakukan tidak sesuai dengan norma dan nilai dalam masyarakat, interaksi yang

terjadi kurang berlangsung dengan baik. Konsep solidaritas sosial merupakan konsep

sentral Durkheim (1858-1917) dalam mengembangkan teori sosiologi.

Durkheim dalam Lawang (1994:181) menyatakan bahwa solidaritas sosial

merupakan suatu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang

di dasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama dan diperkuat

oleh pengalaman emosional bersama. Solidaritas menekankan pada keadaan

hubungan antar individu dan kelompok dan mendasari keterikatan bersama dalam

kehidupan dengan didukung nilai-nilai moral dan kepercayaan yang hidup dalam

masyarakat. Wujud nyata dari hubungan bersama akan melahirkan pengalaman

emosional, sehingga memperkuat hubungan antar mereka. Menurut Durkheim,

berdasarkan hasilnya, solidaritas dapat dibedakan antara solidaritas positif dan

solidaritas negatif. Solidaritas negatif tidak menghasilkan integrasi apapun, dan

dengan demikian tidak memiliki kekhususan, sedangkan solidaritas positif dapat

dibedakan berdasarkan ciri-ciri: (1) yang satu mengikat individu pada masyarakat

secara langsung, tanpa perantara, (2) solidaritas positif yang kedua adalah suatu

sistem fungsi-fungsi yang berbeda dan khusus, yang menyatukan

hubungan-hubungan yang tetap, walaupun sebenarnya kedua masyarakat tersebut hanyalah satu

saja, (3) memberi ciri dan nama kepada kedua solidaritas itu. Ciri-ciri tipe kolektif

tersebut adalah individu merupakan bagian dari masyarakat yang tidak terpisahkan,

tetapi berbeda peranan dan fungsinya dalam masyarakat, namun masih tetap dalam

(38)

2.1.3. Hakikat Pranata Sosial (Social Institution)

Beberapa istilah yang dipergunakan oleh para ahli untuk menyebut pranata

sosial dan di antaranya Selo Soemardjan, Soelaeman Soemardi menggunakan istilah

Lembaga Kemasyarakatan "social institution", sedangkan Koentjaraningrat,

menggunakan istilah "pranat” sebagai padanan kata “institution”, dan pranata sosial

untuk “social institution”. Pranata diartikannya sebagai kelakuan berpola dari

manusia dalam kebudayaannya, sedangkan pranata sosial diartikannya sebagai suatu

sistem tata kelakuan dan hubungan-hubungan yang berpusat kepada

aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan

masyarakat (Koentjaraningrat, 1991). Sementara itu, Broom dan Nimkoff memberi

istilah "lembaga sosial" (Soekanto, 1990). Sedangkan Johnson (dalam Soekanto

(1990) mengemukakan institusi atau lembaga/pranata sebagai seperangkat aturan

yang terinstitusionalisasi (instituteonalized), yakni: (1) telah diterima sejumlah besar

anggota sistem sosial; (2) ditanggapi secara sungguh-sungguh (internalized); dan (3)

diwajibkan dan terhadap pelanggarnya dikenakan sanksi tertentu. Secara ringkas,

pranata sosial adalah sistem norma khusus yang menjadi wahana atau menata suatu

rangkaian tindakan yang memungkinkan warga masyarakat untuk berinteraksi

menurut pola-pola resmi. Pranata sosial merupakan salah satu merupakan elemen

penting dari modal sosial selain dari kepercayaan dan jaringan sosial. Pranata

(institutions), yang meliputi nilai-nilai yang dimiliki bersama (shared value),

(39)

(Badaruddin, 2005). Pranata muncul disebabkan adanya keperluan dan kebutuhan

manusia yang tidak dapat dipenuhi sendiri, dan lembaga ini muncul dengan

norma-norma masing-masing. Di dalam pranata, masyarakat dapat berinteraksi satu sama

lain, tetapi sudah diikat oleh aturan-aturan yang telah disepakati bersama. Jika tidak

ada aturan-aturan dan pola-pola yang resmi, maka belum disebut sebagai pranata

sosial, karena hal itu masih merupakan interaksi sosial biasa.

Koentjaraningrat (1990) mengatakan bahwa pranata sosial adalah suatu sistem

tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk

memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat dipahami bahwa dalam sebuah pranata sosial

terdapat dua hal yang utama, yakni aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan norma

yang mengatur aktivitas tersebut. Di dalam pranata sosial terdapat seperangkat aturan

yang berpedoman pada kebudayaan. Oleh karena itu, pranata sosial bersifat abstrak,

karena merupakan seperangkat aturan. Adapun wujud dari pranata sosial adalah

berupa lembaga (institute). Pranata dan lembaga memiliki makna yang berbeda.

Pranata sosial merupakan sistem norma atau aturan-aturan mengenai suatu aktivitas

masyarakat yang khusus, sedangkan lembaga atau institute adalah badan atau

organisasi yang melaksanakan aktivitas itu.

Menurut Koentjaraningrat (1990) ada delapan tipe tujuan dari pranata sosial,

(40)

1. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan manusia untuk mata pencaharian

hidupnya.

2. Pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan kehidupan kekerabatan,yang

sering disebut Domestic institution.

3. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan pendidikan.

4. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan ilmiah manusia atau sering disebut

scientific institution.

5. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan untuk menghayatkan rasa

keindahan.

6. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan fisik dan kenyamanan hidup

manusia.

7. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan manusia untuk berbakti kepada

Tuhan.

8. Pranata yang berfungsi untuk keperluan manusia untuk mengatur keseimbangan

kekuasaan dalam masyarakat.

2.2. Pengertian Program Pembangunan Gampong (PPG)

Gampong sebagai bagian unit terkecil dalam pemerintahan yang memiliki

potensi yang perlu dikembangkan dan diberdayakan melalui pembangunan, karena

pembangunan yang terjadi selama ini tidak menyentuh masyarakat, serta bersifat

top-down telah memperlebar kesenjangan sosial, ekonomi dan penguasaan informasi

(41)

suatu wacana yang muncul dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara yang akhirnya

menjadi suatu program yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di

Gampong-gampong yang ada di Kabupaten Aceh Utara, dan program ini tidak ada

di Kabupaten-kabupaten lainnya di Aceh. Dana Pembangunan Gampong mengikuti

mekanisme dana APBD Kabupaten Aceh Utara yang di salurkan langsung kepada

masyarakat melalui lembaga keuangan terdekat.

Adapun alokasi dana untuk setiap Gampong yang ditetapkan oleh Bupati

Aceh Utara berdasarkan Dokumen Anggaran Satuan Kerja (DASK) Gampong yang

telah mendapat pengesahan, jumlah dana di setiap Gampong harus diinformasikan

kepada masyarakat Gampong secara transparan, sehingga tidak menimbulkan saling

curiga antara satu sama lain. Program Pembangunan Gampong (PPG) yang dirancang

untuk menumbuhkan rasa memiliki dalam masyarakat terhadap hasil-hasil

pembangunan yang dilaksanakan di Gampong atau di Desa sendiri. PPG sebagai

program pembangunan yang serasi dan partisipatif memiliki tujuan untuk

memperkecil ketimpangan pembangunan antara masyarakat Gampong dan Kota,

serta adanya kontrol sosial dari masyarakat. Terwujudnya otonomi yang luas dan

nyata kepada Pemerintahan Gampong, lembaga adat dan agama dalam proses

penyelenggaraan pembangunan di Gampong, sehingga terciptanya partisipasi

masyarakat dalam pembangunan.

PPG berazaskan dari untuk dan bagi masyarakat yang memiliki ruang

(42)

khususnya dalam mewujudkan peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat

Gampong yang selama ini kebanyakan masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Program PPG ini dapat menunjang dengan tujuh permasalahan pembangunan,

antara lain:

1. Pembangunan Nasional dan daerah merupakan bagian yang tidak dapat

dipisahkan dari kegiatan pembangunan Gampong. Mengingat konsentrasi jumlah

penduduk masih dominan berada di Gampong, sehingga Gampong merupakan

basis kekuatan ekonomi sosial dan politik yang perlu mendapat perhatian serius

dari Pemerintah

2. Partisipasi masyarakat selama ini terbatas dalam penerapan kebijakan/keputusan,

bukan dalam pembuatan keputusan, menikmati hasil dan evaluasi hasil, bahkan

rasa memiliki masyarakat (sense of bilonging) masyarakat terhadap hasil

pembangunan di Gampong hampir tidak ada.

3. Perencanaan pembangunan selama ini lebih bersifat “top down” dibanding

“botttom up”, sehingga telah menjadikan masyarakat Gampong sebagai objek

pembangunan semata, bukan menjadi subjek yang produktif.

4. Pembangunan sektor ekonomi masyarakat yang gagal menciptakan lapangan

kerja dan perluasan kesempatan kerja telah menjadikan Gampong sebagai

kantong pengangguran dan konflik sosial ekonomi.

5. Gampong bagaikan bayi cacat yang terus menerus perlu dipapah akibat rendahnya

pendidikan dan keterampilan, sehingga membuat mereka tidak berdaya dalam

(43)

6. Akibat campur tangan Pemerintah Pusat yang berlebihan, mengakibatkan matinya

inisiatif dan motivasi masyarakat Gampong dalam membangun dirinya.

7. Tanggung jawab pembangunan Gampong selama ini seolah-olah hanya menjadi

tanggung jawab badan pemberdayaan masyarakat desa masing-masing

Kabupaten.

Kegiatan pembangunan Gampong perlu di arahkan untuk merubahan

kehidupan masyarakat yang lebih baik. Perencanaan pembangunan diharapkan

berusaha untuk memberdayakan masyarakat, sehingga masyarakat Gampong lebih

terarah kepada sumber-sumber ekonomi dan mengarah kepada peningkatan kualitas

hidup masyarakat itu sendiri. Melandaskan arah pemikiran tersebut, Pemerintah

Kabupaten Aceh Utara tahun 2002 mewujudkan suatu sistem perencanaan daerah

yang sifatnya aspiratif dan partisipatif melalui Program Pembangunan Gampong

(PPG).

Sesuai dengan petunjuk teknis bappeda (2003:12) mengatakan bahwa PPG

yang serasi dan partisipasi (mengikut sertakan masyarakat) bertujuan untuk:

1. Memperkecil ketimpangan pembangunan di antara masyarakat Gampong dan

Kota, sehingga dapat mempercepat tercapainya tingkat kesejahteraan masyarakat

secara menyeluruh.

2. Mewujudkan otonomi yang luas dan nyata kepada Pemerintah Gampong,

lembaga adat dan agama dalam proses penyelenggaraan pembangunan

(44)

3. Berfungsinya pengawasan masyarakat di Gampong sebagai sosial kontrol yang

efektif dan objektif.

2.3. Program Pengembangan Wilayah

Program pembangunan wilayah bertujuan untuk mendorong dan memfasilitasi

pengembangan wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh agar memiliki

keunggulan daya saing secara nasional dan internasional. Sasaran program ini adalah:

(1) meningkatnya kemudahan bagi pelaku usaha dalam berinvestasi di

wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh; (2) terciptanya kerja sama antar seluruh pelaku

pembangunan secara vertikal dan horizontal untuk mendukung berkembangnya daya

saing wilayah; (3) terciptanya dukungan iklim usaha yang kondusif, melalui

kebijakan fiskal dan non fiskal yang memudahkan berkembangnya peluang usaha

di daerah. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi:

1. Penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang mendukung

peningkatan kualitas produk unggulan di wilayah-wilayah strategis dan cepat

tumbuh;

2. Fasilitasi dan bantuan kepada Pemerintah Daerah dan pelaku usaha untuk

memperoleh informasi pasar;

3. Fasilitasi pengembangan sumber daya manusia yang produktif dan berdaya saing,

melalui pendampingan dan pelatihan yang profesional dan berkeahlian secara

(45)

4. Pemberian dorongan terhadap peningkatan koordinasi, sinkronisasi, dan

kerja sama antar sektor, antar lembaga termasuk dunia usaha, dan antar daerah,

baik secara vertikal maupun horizontal;

5. Pemberian dorongan terhadap instansi dan lembaga terkait untuk memberikan

kemudahan bagi masyarakat dan pelaku usaha di daerah untuk mengakses modal,

bahan baku, serta infrastruktur pendukung;

6. Pemberian dorongan bagi penciptaan iklim usaha yang kondusif, antara lain

peningkatan daya tarik investasi, melalui berbagai insentif, seperti pemberian

kemudahan perpajakan, perizinan, serta kemudahan memperoleh hak guna lahan

yang kompetitif dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dari negara-negara

lain.

Tujuan pengembangan wilayah menurut Zen dalam Tiga Pilar Pengembangan

Wilayah (2001: 20) antara lain:

1. Pengembangan Wilayah merupakan usaha memberdayakan suatu masyarakat

yang berada di suatu daerah itu untuk memanfaatkan sumber daya alam yang

terdapat di sekeliling mereka dengan menggunakan teknologi yang relevan

dengan kebutuhan, dan bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang

bersangkutan.

2 Membuat suatu komunitas dapat berdiri sendiri di atas usahanya sendiri, dan

benar-benar menyadarkan bahwa mereka dapat memperbaiki nasibnya atas usaha

(46)

3. Membuat suatu wilayah memiliki, dan sadar akan kekuatan politiknya.

Menurut Direktorat Pengembangan Kawasan Strategis, Ditjen Penataan

Ruang, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2002) prinsip-prinsip dasar

dalam pengembangan wilayah adalah:

1. Sebagai growth center. Pengembangan wilayah tidak hanya bersifat internal

wilayah, namun harus diperhatikan sebaran atau pengaruh (spred effect)

pertumbuhan yang dapat ditimbulkan bagi wilayah sekitarnya, bahkan secara

nasional.

2. Pengembangan wilayah memerlukan upaya kerja sama pengembangan antar

daerah dan menjadi persyaratan utama bagi keberhasilan pengembangan wilayah.

3. Pola pengembangan wilayah bersifat integral yang merupakan integrasi dari

daerah-daerah yang tercakup dalam wilayah melalui pendekatan kesetaraan.

4. Dalam pengembangan wilayah, mekanisme pasar harus juga menjadi prasyarat

bagi perencanaan pengembangan kawasan.

Pengembangan wilayah dalam pembangunan meliputi berbagai jenis kegiatan,

baik yang tercakup dalam sektor pemerintahan maupun dalam masyarakat,

dilaksanakan dan diatur dalam rangka usaha-usaha untuk memperbaiki tingkat

kesejahteraan hidup masyarakat. Usaha-usaha tersebut pada dasarnya adalah bersifat

untuk meningkatkan pemenuhan berbagai kebutuhan-kebutuhan, baik melalui

produk-produk maupun melalui berbagai jenis kegiatan yang membawa pengaruh

(47)

2.4. Konsep tentang Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan merupakan proses rekonstruksi hubungan antara subyek dan

obyek. Proses ini mensyaratkan adanya pengakuan subyek atas kemampuan atau

power yang dimiliki obyek. Secara garis besar, proses ini melihat pentingnya flow of

power (transfer kekuasaan) dari subyek ke obyek. Pemberian kekuasaan, kebebasan

dan pengakuan dari subyek ke obyek dengan memberinya kesempatan untuk

meningkatkan hidupnya dengan memakai sumber daya tersebut. Pada akhirnya,

kemampuan individu miskin untuk dapat mewujudkan harapannya dengan pemberian

pengakuan oleh subyek merupakan bukti bahwa individu tersebut memiliki

kekuasaan/daya. Dengan kata lain, mengalirnya daya ini dapat terwujud suatu upaya

aktualisasi diri dari obyek untuk meningkatkan hidupnya dengan memakai daya yang

ada padanya, serta dibantu juga dengan daya yang dimiliki subyek.

Dalam pengertian yang lebih luas, hasil akhir dari proses pemberdayaan

adalah beralihnya fungsi individu yang semula obyek menjadi subyek (yang baru),

sehingga relasi sosial yang ada nantinya hanya akan ditandai dengan relasi antar

subyek (lama) dengan subyek (baru) yang lain. Pemberdayaan adalah upaya

memberdayakan (mengembangkan klien dari keadaan tidak atau kurang berdaya

menjadi mempunyai daya) guna mencapai kehidupan yang lebih baik. Jadi

pemberdayaan masyarakat adalah upaya mengembangkan mayarakat dari keadaan

kurang atau tidak berdaya menjadi punya daya dengan tujuan agar masyarakat

tersebut dapat mencapai/memperoleh kehidupan yang lebih baik. Payne (1997: 266)

(48)

“to help clients gain power of decision and action over their own lives by reducing

the effect of social or personal blocks to exercising cacity and self-confidence to use

power and by transferring power from the environment to clients.”

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada intinya tujuan

pemberdayaan masyarakat adalah untuk membantu masyarakat memperoleh daya

untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan mereka lakukan

yang terkait dengan diri mereka sendiri, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi

dan sosial dalam melakukan tindakan. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan

kemampuan dan rasa percaya diri pada masyarakat untuk menggunakan daya yang

dimiliki, antara lain melalui transfer daya dari lingkungannya. Pemberdayaan juga

merupakan suatu proses yang melengkapi warga masyarakat dalam memutuskan

di mana mereka saat ini, kemana mereka hendak pergi dan mengembangkan

sekaligus mengimplementasikan rencana-rencana guna mencapai tujuan, berdasarkan

kepercayaan diri dan pembagian wewenang (Madhekan, 2006). Menurut

Kartasasmita (1996), menyatakan bahwa upaya pemberdayaan masyarakat harus

dilakukan melalui tiga cara. Pertama, menciptakan suasana atau iklim yang

memungkinkan potensi masyarakat untuk berkembang. Kedua, memperkuat potensi

atau daya yang dimiliki oleh masyarakat dengan menerapkan prasarana fisik maupun

sosial yang diakses masyarakat paling bawah. Ketiga, melindungi masyarakat dan

membela kepentingan masyarakat lemah, karena kurang berdaya dalam menghadapi

(49)

Menurut Rukmana (dalam Miraza, Mahalli dan Pratomo, 2007: 202),

alasan-alasan efektifitas dan efisiensi adanya peran serta dari masyarakat antara lain:

a. Peran serta masyarakat memberikan kontribusi pada upaya pemanfaatan sebaik-

baiknya sumber dana yang terbatas.

b. Peran serta masyarakat membuka kemungkinan keputusan yang diambil

di dasarkan kebutuhan, prioritas dan kemampuan masyarakat. Hal ini akan

menghasilkan rancangan rencana, program dan kebijakan yang lebih realitas.

Selain itu memperbesar kemungkinan masyarakat bersedia dan mampu

menyumbang sumber daya mereka seperti uang dan tenaga.

c. Peran serta masyarakat merupakan salah satu komponen yang harus diikut

sertakan dalam aktivitas pembangunan. Peran serta masyarakat menjamin

penerimaan dan aspirasi yang lebih besar terhadap segala sesuatu yang dibangun.

Hal ini akan merangsang pemeliharaan yang baik, bahkan menimbulkan

kebanggaan.

Pemberdayaan masyarakat mengacu kepada kata empowerment, yaitu sebagai

upaya untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki sendiri oleh masyarakat.

Jadi, pendekatan pemberdayaan masyarakat bertitik berat pada pentingnya

masyarakat lokal yang mandiri sebagai suatu sistem yang mengorganisir diri mereka

sendiri, sehingga diharapkan dapat memberi peranan kepada individu bukan sekedar

objek, tetapi justru sebagai subjek pelaku pembangunan yang ikut menentukan masa

depan dan kehidupan masyarakat secara umum, (Setiana, 2002). Dalam kaitannya

(50)

upaya memberikan motivasi/dorongan kepada masyarakat agar mereka memiliki

kesadaran dan kemampuan untuk menentukan sendiri apa yang harus mereka lakukan

untuk mengatasi permasalahan yang mereka hadapi. Sebagaimana diutarakan pada

uraian terdahulu, rakyat berada dalam posisi yang tidak berdaya (powerless). Posisi

yang demikian memberi ruang yang lebih besar terhadap penyalahgunaan kekuasaan

yang berimplikasi terhadap pelanggaran hak-hak rakyat. Dengan demikian, rakyat

harus diberdayakan, sehingga memiliki kekuatan posisi tawar (empowerment of the

powerless). Pemberdayaan (empowerment) dalam studi kepustakaan memiliki

kecenderungan dalam dua proses. Pertama, proses pemberdayaan yang menekankan

pada proses pemberian atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan atau

kemampuan kepada masyarakat agar individu menjadi lebih berdaya, dan kedua,

menekankan pada proses menstimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar

mempuyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi

pilihan hidupnya melalui proses dialog.

2.5. Konsep Pembangunan

Todaro (2000) juga mendefinisikan pembangunan merupakan suatu proses

multidimensial yang meliputi perubahan-perubahan struktur sosial, sikap masyarakat,

lembaga-lembaga nasional, sekaligus peningkatan pertumbuhan ekonomi,

pengurangan kesenjangan dan pemberantasan kemiskinan absolut. Menurut Todaro

(51)

1. Pembangunan bukan hanya di arahkan untuk peningkatan income, tetapi juga

pemerataan.

2. Pembangunan juga harus memperhatikan aspek kemanusiaan seperti peningkatan:

a. Life Sustenance: Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

b. Self-Esteem: Kemampuan untuk menjadi orang yang utuh, yang memiliki

harga diri, bernilai dan tidak diisap orang lain.

c. Freedom From Servitude: Kemampuan untuk melakukan berbagai pilihan

dalam hidup, yang tentunya tidak merugikan orang lain.

Konsep dasar di atas telah melahirkan beberapa arti pembangunan yang

sekarang ini menjadi populer yaitu:

1. Capacity, hal ini menyangkut aspek kemampuan meningkatkan income atau

produktivitas.

2. Equity, hal ini menyangkut aspek pengurangan kesenjangan antara berbagai

lapisan masyarakat dan daerah.

3. Empowerment, hal ini menyangkut pemberdayaan masyarakat agar dapat menjadi

aktif dalam memperjuangkan nasibnya dan sesamanya.

4. Suistanable, hal ini menyangkut usaha untuk menjaga kelestarian pembangunan.

(52)

Menurut Jayadinata (1999), bahwa pembangunan ialah mengadakan atau

membuat atau mengatur sesuatu yang belum ada. Pengembangan ialah memajukan

atau memperbaiki atau meningkatkan sesuatu yang ada. Kedua istilah ini sering

digunakan untuk maksud yang sama. Pembangunan dan pengembangan

(development) dilakukan untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

Pembangunan dan pengembangan (development) dapat merupakan pembangunan

fisik atau pengembangan fisik, dan dapat merupakan pembangunan sosial ekonomi

dan pengembangan sosial ekonomi. Menurut Gant (1971) tujuan pembangunan ada

dua tahap. Tahap pertama, pada hakikatnya pembangunan bertujuan untuk

menghapuskan kemiskinan. Apabila tujuan ini sudah mulai dirasakan hasilnya maka

tahap kedua adalah menciptakan kesempatan-kesempatan bagi warganya untuk dapat

hidup bahagia dan terpenuhi segala kebutuhannya. Untuk mencapai keberhasilan

pembangunan tersebut, maka banyak aspek atau hal-hal yang harus diperhatikan,

yang diantaranya adalah keterlibatan masyarakat di dalam pembangunan.

Sanit (1987) menjelaskan bahwa pembangunan dimulai dari pelibatan

partisipasi masyarakat. Ada beberapa keuntungan ketika partisipasi masyarakat

dilibatkan dalam perencanaan pembangunan, yaitu: Pertama, pembangunan akan

berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Artinya bahwa jika masyarakat

dilibatkan dalam perencanaan pembangunan, maka akan tercipta kontrol terhadap

pembangunan tersebut. Kedua, pembangunan yang berorientasi pada masyarakat

Gambar

Tabel 1.1. Nama-nama Gampong dalam Kecamatan Baktiya Barat Dan Jenis- jenis Kegiatan yang diusulkan dalam PPG Tahun Anggaran 2005
Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran
Tabel 4.2.   Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kabupaten Aceh Utara dalam Angka Tahun 2007
Tabel 4.3.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dewi, Anggit Puspita. Peranan Pembangunan Owabong Dalam Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Bojongsari Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga. Jurusan Sosiologi

Di Desa Tompaso II Kecamatan Tompaso Barat, menurut pengamatan penulis, partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan melalui program PNPM-MP tahun 2012

Hasil penelitian menyimpulkan bahwasanya partisipasi masyarakat Kecamatan Medan Johor dalam konteks pembangunan dan pemeliharaan saluran drainase masih dalam tahapan non

Pembangunan Taman Udayana memang membawa suatu dampak yang sangat besar dalam kehidupan sosial masyarakat, dimana terjadi sebelum dan sesudah adanya Taman Udayana ada perubahan

peranan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) dalam pembangunan.. desa di Huta Sisundung Kecamatan Angkola Barat Kabupaten

“Bentuk Perubahan Sosial Masyarakat sebagai Dampak Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Desa Kuta, Lombok Tengah – Nusa Tenggara Barat” berjalan lancar dengan adanya

Salah satu kebijakan pembangunan sosial yang dilaksanakan oleh pemerintah Provinsi Kalimantan Barat yang bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sambas untuk memperbaiki dan

Dampak kehadiran Pabrik Industri Kereta Api terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat Memang harus diakui pabrik industry kereta api telah membawa pengaruh positif lewat