• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

7. Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) merupakan sebuah kegiatan penelitian yang dilakukan di kelas. Menurut Suharsimi Arikunto (2008: 3) “penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama”. Hal ini sejalan dengan pendapat Mohammad Ali Salmani Nodoushan (2009: 220) di dalam papernya yang berjudul Improving Learning and Teaching Through Action Research . Beliau berpendapat:

commit to user

25

“….it was argued that action research, unlike traditional forms of qualitative and quantitative research, focuses only on classroom problems that require informed decisions and solutions.”.

Jadi, Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang dilakukan di dalam kelas yang bertujuan untuk memecahkan masalah yang ada di dalam kelas tersebut.

Kemmis dan Carr dalam Wijaya Kusumah dan Dedy Dwitagama (2010: 8) mengemukakan Penelitian Tindakan merupakan suatu bentuk penelitian refleksi diri (self reflective) yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi sosial untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran. dalam penjelasan lebih lanjut Kemmis dan Carr memasukkan bidang pendidikan didalamnya. Ini berarti bahwa guru ikut terlibat dalam penelitian tindakan kelas. Namun demikian guru peneliti akan belajar banyak hal tentang proses perubahan itu sendiri, yaitu bahwa mereka memerlukan orang lain dalam proses belajar mengajar.

Kurt Lewin dalam Wijaya Kusumah dan Dedy Dwitagama (2010: 28) PTK dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari empat tahap seperti pada gambar berikut ini:

Gambar 2.1. Prosedur pelaksanaan PTK

Mohammad Asrori (2008: 68) mengemukakan bahwa sebenarnya ada beberapa macam model penelitian tindakan kelas yang dapat digunakan. Namun, model yang tampaknya tidak terlalu sulit untuk dilakukan oleh guru dikelas adalah penelitian tindakan model siklus. Model ini dikembangkan oleh Kemmis dam Mc Taggart pada tahun 1988 dari deaklin University of Australia. Model penelitian tindakan kelas ini mengandung empat komponen, yaitu :

a. Rencana (Planning)

Pada komponen ini, guru sebagai peneliti merumuskan rencana tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran, perilaku, sikap, dan prestasi belajar siswa.

Tindakan Observasi Refleksi

commit to user

b. Tindakan (Action )

Pada komponen ini guru melakukan tindakan berdasarkan rencana tindakan yang telah direncanakan, sebagai upaya perbaikan dan peningkatan atau perubahan proses pembelajaran, perilaku, sikap, dan prestasi belajar siswa yang diinginkan. c. Pengamatan (Observation)

Pada komponen ini guru mengamati dampak atau hasil dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa. Apakah berdasarkan tindakan yang dilaksanakan tersebut memberikan pengaruh yang meyakinkan terhadap perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran dan hasil belajar siswa atau tidak.

d. Refleksi (Reflection )

Pada komponen ini, guru mengkaji dan mempertimbangkan secara mendalam tentang hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan itu dengan mendasakan pada berbagai kriteria yang telah dibuat. Berdasarkan hasil refleksi ini, guru dapat melakukan perbaikan terhadap rencana awal yang telah dibuatnya jika masih terdapat kekurangan sehingga belum memberikan dampak perbaikan dan peningkatan yang meyakinkan.

Komponen-komponen dalam suatu kelas yang dapat dikaji melalui penelitian tindakan kelas, menurut Suhardjono (2007: 58), meliputi :

1). Siswa, dapat dicermati objeknya ketika siswa yang bersangkutan sedang asyik mengikuti proses pemebelajaran di kelas/ lapangan/ laboratorium/ bengkel, ketika sedang asyik mengerjakan pekerjaan rumah di malam hari, atau ketika sedang mengikuti kerja bakti di luar sekolah.

2). Guru, dapat dicermati ketika guru yang bersangkutan sedang mengajar di kelas, sedang membimbing siswa-siswa yang sedang berdarmawisata, atau mengadakan kunjungan ke rumah siswa.

3). Materi pelajaran, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar atau sebagai bahan yang ditugaskan kepada siswa.

4). Peralatan atau sarana pendidikan, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar, dengan tujuan meningkatkan mutu hasil belajar, yang diamati adalah guru, siswa, atau keduanya.

5). Hasil pembelajaran, merupakan produk yang harus ditingkatkan, pasti terkait dengan tindakan unsur lain, yaitu proses pembelajaran, peralatan atau sarana pendidikan, guru, dan siswa itu sendiri.

commit to user

27 6). Lingkungan, baik lingkungan siswa di kelas, sekolah, maupun yang melingkungi siswa di rumahnya. Bentuk perlakuan atau tindakan yang dapat dilakukan adalah mengubah kondisi lingkungan menjadi lebih kondusif.

7). Pengelolaan, merupakan kegiatan yang sedang diterapkan dan dapat diatur/direkayasa dalam bentuk tindakan. Unsur pengelolaan, yang jelas-jelas merupakan gerak kegiatan sehingga mudah diatur dan direkayasa dalam bentuk tindakan. Dalam hal ini yang digolongkan sebagai kegiatan pengelolaan misalnya cara pengelompokan siswa ketika guru memberikan tugas, pengaturan jadwal, pengaturan tempat duduk siswa, penempatan papan tulis, penataan peralatan pemilik siswa, dan sebagainya.

Salah satu ciri penelitian tindakan kelas adalah adanya kolaborasi (kerjasama) antara praktisi (guru, kepala sekolah, dan siswa) dan peneliti (dosen, widyaswara) dalam pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tindakan (action). Suhardjono (2009: 63) menyatakan bahwa ”Kerjasama (kolaborasi) antara guru dengan peneliti sangat penting dalam bersama menggali dan mengkaji permasalahan nyata yang dihadapi. Terutama dalam kegiatan mendiagnosis masalah, menyusun usulan, melaksanakan tindakan, menganalisis data, menyeminarkan hasil dan menyusun laporan”.

Penelitian tindakan kelas berbeda dengan penelitian formal. Penelitian formal bertujuan menguji hipotesis dan membangun teori yang bersifat umum. Penelitian tindakan lebih bertujuan memperbaiki kinerja. Perbedaan antara penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) disajikan dalam tabel 2.2 :

commit to user

Tabel 2.2. Perbedaan Antara Penelitian Formal Dengan Classroom Action Research No. Ketentuan Penelitian Formal Penelitian CAR

1. Pelaku Dilakukan orang lain Dilakukan oleh guru yang bersangkutan

2. Sampel Harus representatif Tidak harus representatif 3. Instrumen Harus valid dan reliabel Tidak harus valid dan reliabel 4. Statistik Analisis statistik yang

baik

Tidak harus menggunakan statistik

5. Hipotesis Hipotesis harus jelas Tidak mensyaratkan Hipotesis 6. Teori Harus berlandaskan

teori yang telah ada

Teori tidak terlalu berpengaruh

7. Fungsi Menguji Teori Memperbaiki praktik

pembelajaran secara langsung (Wijaya Kusumah dan Dedi Dwitagama, 2010: 10). Dengan Penelitian tindakan kelas, guru dapat meneliti sendiri terhadap praktik pembelajaran di kelas. Guru juga dapat melakukan penelitian terhadap siswa dilihat dari aspek interaksinya dalam proses pembelajaran. Selain itu, dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas, guru juga dapat memperbaiki praktik pembelajaran yang dilakukan menjadi berkualitas dan lebih efektif.

Dokumen terkait