• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelusuran Pengaruh Agama dan Kebudayaan lain (Pendatang)

IV.2. Penelusuran Diferensiasinya

IV.2.5. Penelusuran Pengaruh Agama dan Kebudayaan lain (Pendatang)

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa orang Ambon tidaklah berada di ruang hampa bebas pengaruh. Dari latar pengaruh keagamaan “modern” misalnya, telah diakui bahwa semenjak abad ke-2 sebelum Masehi, agama Budha dan Hindu telah ikut memengaruhi wilayah nusantara, melalui hadirnya orang-orang India. Selanjutnya, Budha dan Hindu ini berkembang pesat di abad ke-7 (pada masa kerajaan Sriwijaya) sampai pada akhir abad ke-15 (masa kejayaan kerajaan Majapahit).136 Lebih

135 Chr. G.F. de Jong, Sumber-Sumber...., 10.

136 M.D.Poesponegoro,cs., Sejarah Nasional Indonesia I (Jakarta: Balai Pustaka,1990),8,22 dalam M.Tapilatu, Sejarah Gereja Protestan Maluku...,10. Menurut penuturan bapa Ateng Huwa’a, salah satu indikasi pengaruh kekuasaan Majapahit adalah melalui tanaman majan, nama latinnya Aegle marmelos, atau di Ambon, Maluku dikenal dengan sebutan pohon Kalabasa. Sebab dari legenda tentang buah Majanyang pahit, muncullah nama Majapahit. Kini, legenda asal-muasal nama Majapahit dari buah Maja yang Pahit, dapat dijumpai cukup banyak dari sumber internet. Dalam pengamatan penulis, memang jenis pohon ini cukup banyak terdapat di Soya. Lihat Lampiran 7, Foto 7c.

jauh pula, Bartels sendiri secara khusus mengkonstatir tentang fenomena sinkretisme religius, yang menurutnya terbagi dalam dua periode, yaitu: (1) periode ketika agama-agama dunia dipribumisasikan (yakni melalui kehadiran dari Hindu, Islam dan Kristen di Maluku), dan (2) periode ketika sistem kepercayaan tradisional mengalami proses Kristenisasi dan Islamisasi.137

Selain Budha dan Hindu, agama Islam pun turut berpengaruh, ketika pada bad ke-7, para saudagar muslim juga memasuki wilayah Nusantara. Terlebih lagi ketika kerajaan Sriwijaya (pada akhir abad ke-13) dan Majapahit (pada tahun 1500) mengalami fase kemunduran, maka dominasi Islam di aspek agama dan perdagangan menampakkan pengaruhnya. Bahkan, semenjak abad ke-14, agama Islam telah merambah wilayah Maluku Utara melalui jalur perdagangan dan perkawinan.138 Menurut Yamin, sampai dengan parohan pertama abad ke-16, Islam telah berkembang di wilayah Sumatera, sebagian besar Jawa, Sulawesi (khususnya bagian Selatan dan Gorontalo), Nusa Tenggara Barat (Lombok dan Sumbawa), dan Maluku (sebagian Maluku Utara dan sebagian Maluku Tengah).139

Realitas sejarah tak dapat memungkiri bahwa kota Ambon (termasuk negeri Soya sebagai bagian daripadanya), sejak dulu memang telah menjadi pusat kebudayaan masyarakat Ambon.

Namun dalam perkembangan sosial-politik-ekonomi di kemudian hari ~sebagaimana dengan merujuk pada penelusuran Knaap, Souisa dalam disertasinya mengkonstatir bahwa~, (Kota) Ambon

“...telah menjadi kota para migran oleh keperluan dagang dan kolonialisme, dan kota tempat pendidikan Barat diterapkan.”140

Beberapa pengaruh kedatangan “orang luar” terlihat pula pada beberapa istilah dan bahasa, yang antara lain dapat dikemukakan beberapa contoh sebagai berikut:Pertama,

137 Bartels, Di Bawah Naungan....,376.

138 Tapilatu, Ibid,11.

139 M.Yamin, Atlas Sejarah (Djakarta: Djambatan,1956),15, dalam Tapilatu,Ibid.

140 Nancy Novitra Souisa, Makan Patita – Nilai dan Maknanya..., 111, merujuk pada Gerit Knaap, “ A City pf Migrants: Kota Ambon at the End of Seventeenth Century, INDONESIA, No.51, April 1991: 105-128.

Pengaruh Kolonial. Misalnya pengaruh Portugis dalam beberapa kata seperti: mancado (kapak), kadera (kursi), canela (sandal).

Sebutan untuk ayah = pai, ibu = mai;sebutan terhadap perilaku seseorang: laipose (penggoda), cakadidi (terlalu bergerak, tidak tinggal diam), galojo (rakus). Sebutan untuk peran tertentu:

kapitang(kapten, komandan), marinyo (kurir).141Kedua, Pengaruh bahasa Austronesia142.Misalnya terindikasi pada kata Telu untuk nama dari sub negeri Soya di waktu dulu yakni Amantelu, yang artinya Kampung Tiga (Aman = Kampung; Telu = Tiga). Istilah Siwalima, kata Siwa = Sembilan, dan Lima = Lima. Ungkapan atau kata somba (sembah) yang kerap digunakan dalam sapaan maupun kapata, seperti yang berlangsung pada rangkaian cuci negeri Soya, misalnya: Somba malam bae Upu Latu Selemau (Sembah malam baik, bapa raja Sirimau); Somba malam bae, bapa Pesi Mara Eli (Sembah malam baik, bapa Pesi Mara Eli), dan sebagainya, sesungguhnya memberikan makna pembahasaan yang memiliki kandungan makna yang khas dan mendalam, yang berbeda dengan pengertian denotatif maupun konotatif dalam bahasa Indonesia atau melayu. Karena makna dari kata somba tersebut bukanlah menunjuk pada penyembahan terhadap seorang raja sama seperti menyembah berhala. Melainkan justru menunjuk pada makna penghormatan yang tulus dan mendalam dari rakyat terhadap pemimpinnya.Demikian halnya dengan pengertian kata Malam Bae. Kata tersebut telah memiliki kandungan makna filosofi kultural orang Ambon tentang ketiadaan rasa takut atau kuatir terhadap kegelapan, karena sesungguhnya telah hadir kebaikan (bae). Oleh karena itu, pada hakikatnya di masyarakat asli Ambon tidak ada ucapan salam pagi bae atau siang bae. Selalu yang diucapkan adalah malam bae, kendatipun waktu pengucapan tersebut berlangsung bukan pada malam

141 Bartels, Di Bawah Naungan...,578.

142 Menurut Prof. T. Simanjuntak, banyak istilah di wilayah Timur Indonesia yang memiliki kemiripan dengan rumpun bahasa Austronesia, seperti yang terdapat pula di kawasan Filiphina.

hari.143Fenomena tersebut penulis jumpai dalam ucapan salam yang dipergunakan pada saat berlangsungnya CN Soya maupun di Hukurila, yakni: “Somba Malam Bae Upulatu...”. Ketiga, Pengaruh budaya nusantara. Contoh penggunaan “payung raja” yang ditampilkan di depan rumah raja pada saat berlangsungnya CN Soya, memperlihatkan pengaruh budaya raja-raja keraton Jawa yang turut merasuki budaya Soya.

Keterangan Foto:

Penulis berdiri dengan contoh Payung Keraton Jawa yang turut memengaruhi Soya. Payung tersebut dipajang di depan teras rumah raja Soya, setiap momentum pelaksanaan ritual Cuci Negeri Soya. Setelah itu akan disimpan di rumah raja.

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Selanjutnya, contoh Pengaruh Agama (Kekristenan) dan Politik dalam Tatanan Ritual CN Soya, terlihat sebagai berikut:

Pertama, Praktik dan mekanisme pelaksanaan Rapat Saniri Besar menyebutkan antara lain:144

“....Menurut raja, kepala soa adat dan para pemuka adat (tua-tua adat) bahwa pada zaman dahulu penyelenggaraan Rapat Saniri Besar, biasanya berlangsung di baileu Samurele dan dipimpin langsung oleh raja tanpa dibantu oleh sekretaris I dan II, sebab pada zaman itu terdapat ‘juru tulis’

yang bertugas mencatat semua pembicaraan yang

143 Herlina Tomasoa, Gayda Bachmid, Salea-Warouw, Ungkapan Bermakna Budaya pada Upacara Adat Cuci Negeri Soya di Kota Ambon (Menado: Universitas Sam Ratulangie), Tanpa tahun dan halaman.

144 Stephanus Petrus Likumahwa, Analisa....,Tesis,130.

berlangsung tersebut. Selain itu, tidak terdapat ....Doa Pembukaan ... dan ...Doa Penutup yang dipimpin oleh Pendeta dalam agenda tersebut.

Penambahan sekretaris I dan II untuk membantu raja memimpin Rapat....merupakan pengaruh dari kebudayaan barat, khususnya kebudayaan Belanda (tahun 1605-1945) dalam menerapkan struktur pemerintahan negeri berdasarkan sistem pemerintahan modern, sedangkan penambahan klosul Doa oleh Pendeta merupakan pengaruh agama Kristen yang dibawa oleh para misionaris Portugis (tahun 1534-1605) dan para pekabar Injil Belanda (tahun 1605-1935).”

Kedua, Pengucapan Salam Pembuka oleh bapa Raja saat membuka Rapat Saniri Besar dengan ucapan “Selamat Siang.... dan Syalom” menunjuk tentang penggunaan bahasa dan pengaruh kontemporer. Penggunaan “Selamat Siang” jelas menunjukkan pengaruh bahasa Indonesia. Sedangkan untuk penggunaan sapaan

“Syalom” mengindikasikan suatu penyesuaian kontemporer terhadap sapaan di kalangan masyarakat Kristen, sebagaimana yang kurang lebih dalam satu dasarwarsa terakhir (sekitar mulai tahun 90-an) sapaan tersebut mulai populer dipakai di kalangan Kristen.145

Terkait dengan pengaruh bahasa dari kebudayaan lainnya, Bartels merilis bahwa penggunaan bahasa versi Melayu-Ambon atau Maluku pertama-tama direkam oleh Antonio Pigafetta. Di Maluku Tengah sendiri, sejumlah bahasa asli yang disebut sebagai

“bahasa tana” masih dipergunakan secara dominan di wilayah perkampungan muslim. Sedangkan di wilayah Kristen, bahasa tanatersebut sudah punah akibat kebijakan pemerintah kolonial Belanda, yang melarang penggunaannya dan menuntut orang-orang untuk menggunakan bahasa Melayu-ambon.146

145 Seingat penulis, sapaan “syalom” tersebut awal-mulanya lebih khas digunakan dalam lingkup komunitas organisasi GMKI.

146 Bartels, Di Bawah Naungan....,16-17.

Pengaruh agama dan kebudayaan lainnya terlihat pula pada pengaruh kerajaan Malaka, sebagaimana disinyalir oleh Andaya, bahwa dampak dari besarnya pamor dari kekuasaan Malaka pada awal abad XV dan XVI, maka banyak kerajaan, termasuk di Maluku, yang turut mengadopsi beberapa adat istiadat, pakaian dan bahasa dari kerajaan Malaka, dalam hal ini bahasa Melayu.147

Dengan mengadopsi istilah yang digunakan oleh Hildred Geertz dalam tulisannya tentang “Indonesian Cultures and Communities”, Bartels menyimpulkan bahwa, “inti budaya Ambon berasal dari budaya Alifuru tapi kemudian bercampur-baur dengan konsep budaya dan kepercayaan orang Melanesia, Hindu-Jawa dan Bali, Ternate, Tionghoa, Arab, Portugis, Belanda, dan ~yang kini berlangsung~ Amerika, yang juga tercermin dalam dialek Melayu-ambon dari bahasa Indonesia. Percampuran ini telah menghasilkan budaya yang sangat majemuk, yang dapat diklasifikasi sebagai kreol Maluku.”148

Termasuk dalam fenomena kreol Maluku ini adalah suatu proses percampuran yang dipengaruhi pula melalui jalur amalgamasi budaya, yang lahir dari perkawinan campur.149 Dalam konteks Soya, bukti amalgamasi tersebut terlihat melalui fakta sejarah perkawinan salah satu raja Soya dengan putri keturunan majapahit, yang bernama Dewi Gusti Ayu Putu Sarini Nyi Sia, sehingga memungkinkan disandingnya gelar bagi raja Soya

147 Andaya, Dunia Maluku....,43.

148 Bartels, Di Bawah Naungan....,36.

149 Pengertian amalgamasi secara sosiologis adalah suatu proses sosial yang meleburkan berbagai kelompok budaya yang ada di suatu wilayah yang sama menjadi satu kesatuan, yang pada akhirnya akan memunculkan sesuatu yang baru namun tidak meninggalkan budaya dasarnya/budaya awal yang dianut oleh masing-masing kelompok yang berbeda tersebut. Amalgamasi juga merupakan salah satu solusi untuk menghilangkan berbagai pertentangan dan perselisihan yang terjadi dalam suatu kelompok masyarakat.

Secara umum, dalam konteks sosiologis, istilah amalgamasi ini menunjuk kepada perkawinan campuran antar etnik dan ras yang berbeda. Istilah amalgamasi digunakan di Inggris pada abad ke-20 dan di Amerika Serikat mulai berlaku digunakan pada tahun 1863 dengan sebutan lain, yaitu perkawinan campuran antar etnis kulit hitam dan kulit putih, terutama dari kaum Afrika dan Amerika. (Dwi Narwoko & Bagong Suyanto, 2006).

Sumber: https://pengertianmenurutparaahli.org/pengertian-amalgamasi-dalam-sosiologi/

Diunduh 1 Desember 2018.

pertama, Latu Selemau, dengan sebutan yang cukup panjang:

Agam Raden Mas Sultan Labu Inang Mojopahit, Raden Sultan Prabu Piring Mojopahit, Nusa Piring Pahlawan, Piring Pekanusa.

Terkait dengan pengaruh budaya luar terhadap ritual CN Soya tersebut, hal yang patut dikemukakan bahwa dari penelusuran yang dilakukan, ditemukan bahwa fenomena cuci negeri itu sendiri, sesungguhnya bukanlah suatu ritual yang berakar dari tradisi Soya, atau bahkan dari Ambon-Maluku pada umumnya. Tapilatu dalam riset disertasinya tentang sejarah GPM pun mengakui bahwa ternyata fenomena tersebut datang dari pengaruh Hindu-Buddha yang melalui kerajaan Sriwijaya dan Majapahit menancapkan pengaruh kulturalnya yang tak dapat diabaikan. Mengutip informasi dari Hadiwijono, Tapilatu merilis demikian:

Di beberapa tempat, kehadiran agama Buddha dan Hindu dalam kenyataan, tidak mendesak malahan sebaliknya memperkaya agama asli (di Tapanuli dan Maluku) atau bercampur dengannya (di Jawa).

Upacara “cuci negeri” kemungkinan sekali mempunyai kaitan dengan upacara “bersih desa”

yang dipraktekerangkan di Jawa, paling tidak dalam hal tujuannya, yakni untuk pemujaan bagi para dewa.150

Apa yang dikemukakan oleh Tapilatu ini, tampaknya sejalan dengan riset yang dilakukan oleh Geertz, ketika melihat fenomena ritual slametan Bersih Desa dalam rentetetan kegiatan sosial tahunan. 151 Geertz melihat bahwa Slametan Bersih Desa berhubungan dengan pengudusan perhubungan dalam ruang, dengan merayakan dan memberikan batas-batas kepada salah satu dasar kesatuan teritorial struktur sosial orang Jawa, desa. Apa yang ingin dibersihkan dari desa itu tentu saja adalah roh-roh yang berbahaya. Ini dilakukan dengan mengadakan slametan, di mana

150 Tapilatu, Sejarah Gereja...,10.

151 Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa (Jakarta: Pustaka Jaya, 1981),110-111.

hidangan dipersembahkan kepada danyang desa (roh penjaga desa) di tempat pemakamannya. Di desa yang kuat santrinya, slametan bersih desa itu bisa berlangsung di mesjid dan seluruhnya terdiri dari para pembaca doa Muslimin.

Terkait dengan ritual tersebut, maka simbol air yang digunakan memiliki relevansi, ketika dipandang sebagai sesuatu yang dapat memiliki kekuatan gaib (magi), dijadikan air suci (toya tirta), dapat berguna untuk menyembuhkan penyakit serta membebaskan orang dari maut. Dari latar ini pula dapat dimaklumi konstatasi dari Hadiwijono bahwa: “Kebudayaan campuran Hindu/Buddha dengan kepercayaan asli itu sudah menguasai pemikiran orang sedemikian mendalam, hingga sekalipun agama Hindu/Buddha sudah lama secara resmi meninggalkan bumi Indonesia, namun kebudayaan itu belum musnah. Bermacam-macam upacara serta adat kebiasaan (bersih desa, menanamkan kepala kerbau, dsb), masih terdapat di tengah-tengah masyarakat.” 152

Dalam komunikasi penulis dengan Bartels melalui email, terkait dengan upaya menelusuri asal-muasal dari ritual CN baik di Soya maupun di pulau Seram (Nunusaku), penulis mendapatkan jawaban dari Bartels, yang dapat diringkaskan sebagai berikut:153

Dear Ferry,

....At any rate, to be honest, I never spent any thoughts on the origin of cuci negeri since usually tracing such rituals are very difficult if not impossible.

I tend to agree that cuci negeri doesn't originate as part of Nunusaku religion in West Seram. If this would be the case, one would expect that it is still practiced in the interior of Seram (in which I never have done fieldwork and thus don't know if the custom exists there) and also in many more villages

152 Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1989), 134.

153Dieter Baetels dari [email protected]. Diunduh pada tanggal 10 Oct 2018, 8:18 AM

in coastal Seram and on Ambon-Lease would follow this tradition.

Cuci negeri seems to be concentrated only in a few villages on Leitimor. This area had indeed fallen under Hindu (Majapahit) influence. However, it is not performed in Nusaniwe, arguably the most powerful Hindu "kingdom" on Leitimor....

I suspect, if there is a plausible answer, it is hidden in the history of Soya itself. Perhaps it was brought by one of the clans that moved to Soya from somewhere where exorcism of evil spirits was practiced. Sorry, that I can't be of more help and hope that my thoughts at least stimulate you to search in other directions as well....Salam hangat,Om Prof.

Dari respons Bartels, menjadi jelas pula bahwa ritual CN Soya tidaklah luput dari pengaruh agama dan budaya luar.

Penelusuran lainnya yang dilakukan oleh Lopuhaa, pun memperlihatkan fenomena yang sama. Bahkan ketika menelusuri asal-muasal Cuci Negeri dengan melakukan perbandingan antara yang berlangsung di Hukurila dan beberapa desa lainnya di Jawa, Lopuhaa cenderung pada kesimpulan bahwa ritual Cuci Negeri yang berlangsung itu merupakan genus yang umum, yang bermuara pada sifat dan kepentingan pelestarian dan keseimbangan alam bagi kehidupan generasi selanjutnya.154

Dengan demikian, kesimpulan yang dapat dirumuskan tentang penelusuran diferensiasi dari ritual CN Soya dalam kaitannya dengan unsur-unsur agama dan budaya luar yang memengaruhinya adalah, bahwa ritual CN Soya pada hakikatnya memiliki kandungan lapisan religiositas yang mengakar pada agama asli, yakni “agama Nunusaku” pada satu pihak, namun pada pihak lainnya, ia mengalami pula proses sentuhan pengaruh dari luar, sebagai akibat dari perjumpaan Ambon-Maluku dengan

154 Agustinus O. Lopuhaa, Cuci Negeri, Interpretasi Agama Suku dan Agama Kristen dalam Upacara Cuci Negeri di Hukurila, Tesis (Ambon: Program Pascasarjana Teologi Agama dan Kebudayaan UKIM,2012),55-57.

agama dan peradaban pendatang dari luar, baik dari dalam wilayah Nusantara maupun dari luar Nusantara, antara lain seperti dari Hindu, Islam, Katolik dan Protestan.