129
RITUAL CUCI NEGERI SOYA DAN PENELUSURAN DIFERENSIASINYA
Pada bagian ini, penulis akan melakukan pemaparan khusus terhadap ritual Cuci Negeri Soya, khususnya yang berkaitan dengan asal-muasalnya, waktu dan tempat pelaksanaannya, petugas dan partisipannya, simbol-simbol yang dipergunakan, serta tahapan pelaksanaannya. Selanjutnya, diikuti dengan upaya penelusuran terhadap historis “manusia Soya”, sistim kepercayaan dan tatanan adatisnya, corak simbol dan performansinya, filosofi kultural dan perwatakannya, pengaruh agama dan kebudayaan lain (pendatang), serta pengaruh politik dan modernisasi.
IV.1. Ritual Cuci Negeri Soya
Adapun paparan tentang Ritual Cuci Negeri Soya ini akan diperikan dengan: (1) Ulasan sekilas mengenai asal-usul pelaksanaannya; (2) Waktu dan tempat pelaksanaannya; (3) Para petugas dan partisipan, atau siapa-siapa saja yang terlibat dalam ritual tersebut; (4) Perlengkapan dan simbol apa saja yang digunakan; serta (5) Alur tahapan ritual Cuci Negeri dengan ketentuan adatinya.
IV.1.1. Sekilas Awal-Mulanya
Ritual Cuci Negeri yang telah memiliki formasi acara dalam bentuk kontemporer saat ini, sesungguhnya memiliki latar kisah asali yang memiliki keterkaitan dengan mitos Naga yang dikenal dan ceritanya diwariskan turun-temurun dari orangtatua Soya kepada keturunannya. Secara ringkas diceritakan1 antara lain,
“....Waktu dahulu itu, acara CN dibuat selama 5 (lima) hari, dan selalu berlangsung pada musim
1 Data tentang cerita mitos Naga ini kembali diceritakan dengan dialek Ambon oleh Kepala soa adat, opa Huwa’a kepada penulis pada tanggal 7 Desember 2017, dan telah penulis olah dalam bahasa baku Indonesia.
Barat, karena dipercaya bahwa para leluhur itu datang bersama dengan angin pada musim Barat.
Semuanya ini punya keterkaitan dengan kisah yang orangtatua selalu ceritakan. Yaitu, pada malam hari menjelang hari pertama pelaksanaan CN berkumpullah seorang pemimpin yang dikenal dengan sebutan Upu Nee bersama sejumlah anak- anak muda di Samarole. Semua personil menggunakan busana cawat (cidaku) dengan muka yang dilaburi arang hitam. Pada saat-saat seperti itu, para wanita di negeri tidak ada yang keluar.
Semuanya berdiam di dalam rumah. Selanjutnya, Upu Nee dengan para pemuda itu bergerak menuju ke gunung Sirimau, ke lokasi yang menjadi tempat bersemayam Upulatu Selemau dengan pendamping atau penjaganya seekor ular Naga.
Dalam perjalanan itu, Upu Nee lebih dulu berjalan di depan supaya dapat memberitahukan ~dan sekaligus memohon ijin~ kepada Upulatu, bahwarombongan anak negeri (para pemuda) yang berasal dari rumahtau-rumah tau keturunan Soya, sedang datang. Setelah “mendapat restu”,
Upu Nee dan rombongan masuk ke lokasi dan memberikan arahan kepada rombongan untuk mengambil posisi duduk sambil membelakangi satu daripada yang lainnya. Menjelang tengah malam, datanglah Naga yang akan menelan para pemuda tersebut dan menyimpan mereka selama 5 (lima) hari di dalam perutnya. Barulah pada hari yang kelima, si Naga memuntahkan para pemuda tersebut. Selanjutnya, kepada setiap pemuda tersebut diberikan tanda seperti tatoo yang berupa lukisan berbentuk segitiga pada dahi, dada, dan perut mereka. Sementara proses yang berlangsung di gunung Sirimau dengan rombongan itu, di negeri sendiri, khususnya di baileo Samasuru (baileonya negeri Soya), berlangsung akta pembersihan baileo, sekaligus persiapan untuk menyambut rombongan yang turun dari gunung Sirimau. Dan ketika rombongan dari gunung Sirimau tiba, lantunan nyanyian adat berupa kapata dan suhat dengan iringan tifa-gong ditampilkan sebagai ekspresi sukacita menyambut rombongan dari gunung Sirimau tersebut.
Kemudian Upulatu (raja) mengambil posisi di tempat duduknya (disebut Peterana) dari berbicara dari tempat itu (disebut Batustori Peterana) sambil mengangkat mukanya ke arah gunung Sirimau, ia pun menyampaikan pasawari adat yang intinya antara lain, menuturkan karya dan peranan para datuk dalam sejarah perjuangan dan kepahlawanan mereka bagi negeri Soya; permohonan kepada sang Ilahi dan para datuk untuk menjaga Soya dari bahaya, kesusahan, penyakit pada satu pihak dan pada lain pihak ia pun meminta berkat bagi negeri Soya dan seluruh warganya. Seusai Upulatu mengucapkan pasawari adat tersebut, berdirilah semua yang hadir di tempat itu, lalu dua orang wanita (mata ina) yang tertua dan berasal dari soa Pera, maju mengambil posisi di depan untuk dililitkan sebuah pita warna putih2 oleh Upulatu.”
Dalam perkembangan kemudian, ritual awal Cuci Negeri ini lalu mengalami penyesuaian dan sejumlah modifikasinya sesuai dengan situasi kontemporer3, sebagaimana yang akan diulas pada paparan tentang alur tahapan Cuci Negeri Soya secara lebih detail.
IV.1.2. Waktu (Tanoar) dan Tempat Pelaksanaannya
Adapun pemilihan waktu dan tempat pelaksanaan Cuci Negeri bukanlah tanpa alasan dan latar belakang kepercayaan adati dan pelbagai pertimbangan lainnya yang turut memengaruhi dan bahkan memberikan pemaknaan yang baru terhadap pilihan waktu dan tempat itu sendiri.
Sebagai suatu pertimbangan yang diwarisankan dari leluhur dalam pemilihan waktu yang tepat dan baik, yang disebut dengan istilah “tanoar” atau “kotika”4, maka penetapan waktu
2 Dalam perkembangan kemudian, pita berwarna putih ini digantikan dengan Kain gandong panjang berwarna putih pula. Kendati simbol yang digunakan telah berbeda, namun inti maknanya tetap sama, yakni simbol yang menandai sebuah persatuan dan kesatuan di antara sesama orang basudara di negeri Soya sebagai suatu persekutuan adat.
3 John L. Rehatta, Negeri ...,9-10.
4 Dimaknai pula sebagai hari bae, hari yang baik.
pelaksanaan Cuci Negeri akan berlangsung setahun sekali dan selalu jatuh pada minggu pertama dan kedua bulan Desember pada setiap tahun berjalan. Penentuan waktu ini dipengaruhi oleh pandangan kepercayaan adati bahwa momentum datangnya musim (angin) Barat ~yang berawal dari bulan Desember hingga bulan Maret~ merupakan momentum kehadiran dari para leluhur, yang menjadi prasyarat utama pelaksanaan Cuci Negeri. Sebab disadari bahwa Cuci Negeri tidak mungkin dapat dilakukan tanpa kehadiran dari para leluhur.
Berbeda dengan pelaksanaan waktu Cuci Negeri di negeri tetangga Soya, yakni Naku dan Hukurila yang telah menetapkan tanggal tertentu sebagai ketentuan baku pelaksanaan Cuci Negeri (Lihat Lampiran tentang Perbandingan CN Soya, Naku dan Hukurila), maka waktu Cuci Negeri Soya lebih merujuk pada penetapan “hari” pelaksanaan. Dan terkait dengan penentuan
“hari” tersebut, hari Jumat diyakini sebagai “kotika” atau hari bae (hari yang baik).5 Dengan kesadaran “waktu atau kotika” tersebut maka, Cuci Negeri akan diatur tahapan awalnya pada hari Rabu Minggu II bulan Desember (tahap Pica Negeri), berlanjut dengan hari Kamis besoknya sebagai hari ke gunung Sirimau (rombongan khusus yang “bermeditasi” atau matawana), dan memuncak pada hari Jumat dengan seluruh rangkaian tahapan yang bersifat serimonial adati. Untuk tahapan waktu selanjutnya dapat dilihat pada paparan khusus tentang alur tahapan pelaksanaan Cuci Negeri.
Terkait dengan tempat pelaksanaannya, tentu bila disimak pelaksanaan mula-mula dari ritual Cuci Negeri yang dilakukan oleh para pendahulu atau leluhur Soya, sebagaimana telah
5 Selain hari Jumat, hari “keramat” lainnya dalam pandangan masyarakat adati (khususnya sebelum masuk kekristenan) di Soya maupun Ambon dan Seram pada umumnya adalah hari Selasa. Dan kedua waktu tersebut (Selasa dan Jumat) dianggap sebagai waktu kehadiran dari arwah para leluhur. Bandingkan, Cooley yang mengkonstatir fenomena “waktu” tersebut dengan kalimat, “....inilah fenomena agama suku (sebelum masuknya Kristen), yang meyakini bahwa para leluhur berkeliaran dan kembali ke tempat yang dihuninya dahulu, khususnya berlaku pada hari kelima dan kedua (Jumat dan Selasa) dalam sepekan. Dan biasanya berlangsung di tempat-tempat tertentu seperti di Baileo dan tempat keramat lainnya.” Cooley, Mimbar..., 219.
dikemukakan pada butir III.1., maka tentunya lokasi pelaksanaan Cuci Negeri telah mengalami perkembangan dan penyesuaian, yang antara lain dapat dibedakan sebagai lokasi yang dianggap keramat dan lokasi yang dianggap tidak terlalu keramat, yakni:
(1) Lokasi yang dianggap keramat:
(a) Baileo Samasuru.
(b) Batu Stori Peterana (batu bicara) di baileo Samasuru.
(c) Batu Pamali di gunung Sirimau.
(d) Situs Air Tempayan di gunung Sirimau.
(e) Batu Pasar (Hatukuil) di gunung Sirimau.
(f) Batu Teung dari masing-masing soa atau rumahtau, khususnya teung Tunisou (milik Soa Pera) dan teung Rulimena (milik Soa ).
(g) Sumur (parigi) raja atau Wai Pinang.
(h) Mata Air soa (Werhalouw milik soa Pera dan Unuwei milik soa ).
(i) Pekuburan.
(j) Rumah raja.
(k) Gedung gereja.
(2) Lokasi yang dianggap tidak terlalu keramat
(a) Pemukiman warga, baik yang asli maupun pendatang.
(b) Lokasi Kantor Negeri (balai pertemuan negeri) (c) Lokasi Sekolah.
(d) Fasilitas umum (jalan, selokan, jembatan, dll).
IV.1.3. Petugas dan Partisipannya
Berkaitan dengan petugas atau pelaksana dan partisipan yang turut mengikuti pelaksanaan Cuci Negeri dimaksud, dapat dikategorisasikan menjadi kelompok khusus dan kelompok umum, yang terinci sebagai berikut:6
6 Kategorisasi ini dibuat bukan berdasarkan urutan posisi struktural dari seseorang dengan jabatannya, melainkan lebih mengarah pada tingkat keterlibatan seseorang dalam tahapan-tahapan pelaksanaan CN, yang dipandang signifikan bagi kelancaran berlangsungnya CN tersebut.
(1) Kelompok Khusus (a) Raja (Upu Latu).
(b) Kepala soa Adat (Mauweng).
(c) Staf Saniri Negeri (sudah termasuk para Kepala Soa, Kapitang, Malesi (Wakil Kapitang), Kewang (“polisi”/penjaga hutan), Sekretaris Negeri.
(d) Pendeta (e) Marinyo
(f) Kelompok Mata Ina (lama dan Baru7).
(g) Pemusik (Peniup tahuri, Penabuh Tifa-Gong, Totobuang)
& Penari adat (Cakalele, Lenso) (h) Pembawa Kain Gandong
(i) Pelayan makanan (Makan Patita) (2) Kelompok Umum
(a) Undangan disesuaikan, misalnya pejabat pemerintahan seperti Walikota, dll.
(b) Unsur pihak Sekolah dan pimpinan organisasi agama maupun masyarakat yang ada di Soya (Misalnya pihak majelis jemaat, muhabet, dll).
(c) Marga dalam 2 kelompok Soa masing-masing (baik orang dalam maupun orang luar).
(d) Basudara gandong (dari negeri Muslim Morela) dan Basudara Pela (dari negeri Kristen Urimessing).
(e) Pihak kamtibmas (kepolisian).
(f) Masyarakat Umum (yang tidak tergolong dalam kelompok soa apapun, namun berkeinginan untuk menyaksikan ritual CN, termasuk para turis asing maupun domestik).
(g) Para pemusik band dan artis yang diundang untuk meramaikan Pesta Negeri.
7 Sekelompok wanita dari “luar” yang baru menikah dengan pria dari negeri setempat.
IV.1.4. Simbol dan Perlengkapannya
Pelaksanaan Cuci Negeri di Soya memiliki ciri khasnya tersendiri, kendati tentu memiliki beberapa kesamaan juga dengan yang berlaku di negeri Naku dan Hukurila, dapat dilihat melalui simbol dan perlengkapan yang dipakai atau diberlakukan selama kegiatan Cuci Negeri tersebut, yang antara lain sebagai berikut:
1) Seluruh petugas mengenakan busana dan lenso adat atau asesoris lainnya yang lazim dipakai untuk sebuah acara ritual adati.
2) Sirih-Pinang, Tembakau (tabaku) Jawa, Kapur makan sirih, Sebotol Air, Sebotol Sopi, dupa dan kemenyan, belanga.
3) Adanya 3 (tiga) bendera yang terlihat, yakni: (a) Bendera Merah-Putih, (b) Bendera Negeri Soya, dan (c) Bendera Tana (Kain Batik bermotif, simbol ular Patola).
4) Tanaman Gadihu(Lihat Lampiran 7, Foto 7d) 5) Sapulidi dan perlengkapan kerja yang disesuaikan.
6) Tombak, Parang & Kuning mai (Kunyit).
7) Tahuri (Kulit Siput/Kerangbesar).
8) Tifa, Gong, dan Totobuang.8 9) Kain Gandong.
10) Makan Patita.
11) Nyanyian Adat (Kapata dan Suhat).
IV.1.5. Alur Tahapan dan Aturannya9
Adapun alur tahapan dan aturan Cuci Negeri Soya dapat disimpulkan dalam 12 tahapan berikut ini.
Tahap-1 : Rapat Saniri Besar
Sebagai agenda pertama, Cuci Negeri (CN) Soya diawali dengan Rapat Saniri Besar yang dihadiri oleh seluruh unsur
8 Kalau peralatan musik Tifa-Gong itu telah baku dipakai. Sedangkan untuk Totobuang, disesuaikan dengan kebutuhan khusus acara.
9 Khusus untuk alur tahapan dan aturan CN ini, penulis susun berdasarkan rangkuman beberapa rujukan, antara lain: Buku yang ditulis oleh mantan raja Soya: John L.
Rehatta, Negeri...., Tesis Stephanus Petrus Likumahwa, Analisa...., dan hasil riset (keterlibatan langsung) dan wawancara yang penulis lakukan selama pelaksanaan CN tahun 2015 dan 2017.
elemen pimpinan yang ada di Soya, antara lain: elemen Tiga Batu Tungku (pemerintah negeri, gereja, sekolah), muhabet, organisasi masyarakat yang ada, serta seluruh warga masyarakat yang ingin hadir (tidak dibatasi). Rapat Saniri Besar tersebut dipimpin oleh bapa raja Soya dan staf saniri negeri dan dilaksanakan beberapa hari sebelum pelaksanaan CN. Adapun tanggal dan hari pelaksanaannya tidak dibakukan10 (dalam hal ini disesuaikan dengan keputusan raja bersama saniri negeri).
Penulis berkesempatan mengikuti Rapat Saniri Besar pada hari Jumat, tanggal 1 Desember 2017 mulai dari jam 11.00 hingga jam 12.30, bertempat di Ruang Pertemuan Kantor Negeri Soya.
Gambaran detail hasil Rapat tersebut dapat dilihat pada Lampiran 10 (Prosiding Rapat Saniri Besar). Namun bila dicermati secara umum, maka ada beberapa hal yang patut dikemukakan terkait dengan proses, suasana dan hasil Rapat tersebut.
Suasana Rapat Saniri Besar secara umum berlangsung dalam semangat keterbukaan, demokratis dan persaudaraan, sambil tetap menghormati posisi dan peranan masing-masing (sebagai pemimpin maupun warga masyarakat), sesuai dengan tradisi dan ketentuan adati yang berlaku. Pada sisi lainnya, kendati Rapat tersebut merupakan bagian dari tatanan adati ritual CN, namun format dan mekanisme jalannya rapat telah diwarnai dengan pola pengorganisasian rapat-rapat institusi modern.
Penulis pun mencatat bahwa nuansa penyapaan salam, pengucapan doa buka dan tutup rapat, semuanya berlangsung dalam nuansa kristiani. Penempatan ketua majelis jemaat GPM Soya untuk melayani doa pembukaan rapat, telah memperlihatkan keterjalinan dan kebersamaan relasi kerjasama, sebagaimana yang lazim dikenal dengan sebutan “Tiga Batu Tungku”, antara pemerintah negeri, gereja, dan pendidikan (sekolah).
Pada bagian akhir rapat, pimpinan saniri negeri (bapa raja) mengingatkan agenda pelaksanaan CN secara detail, dalam rangka memantapkan seluruh persiapan dan pelaksanaan CN itu sendiri.
10 Berbeda seperti yang berlaku di Hukurila dan Naku.
Pada bagian agenda pembahasan masalah-masalah negeri, baik yang dikemukakan langsung oleh peserta maupun melalui surat tertulis yang disampaikan beberapa hari sebelumnya, terlihat bahwa seluruh tatanan pembahasan dan penyelesaian masalah ditempatkan sebagai bagian yang tak terpisahkan daripada upaya realisasi agenda rapat dalam bingkai pemaknaan CN, yakni pentingnya pembersihan atau penyelesaian masalah. Artinya, melalui dialog secara terbuka, jujur dan langsung, terungkap kuatnya kesan keinginan bersama antara pemimpin (raja) dengan warganya, dan di antara warga dengan warga senditi. Semua keterbukaan dan penyelesaian masalah apapun ditempatkan dalam semangat untuk membangun sikap saling percaya, menghargai, dan menumbuhkan rasa memiliki negeri dengan tatanan adatinya.
Tahap-2 : Pica Negeri
Setelah pelaksanaan Rapat Saniri Besar, tahapan selanjutnya adalah yang dikenal dengan sebutan Pica Negeri atau disebut juga Pica Baileo, yang waktunya jatuh pada setiap hari Rabu minggu kedua bulan Desember. Pada pagi hari Rabu itu, kepala soa dari rumah tau marga Rehatta dan kapitangatau malessi yang berasal dari rumah tau marga Pesulima berjalan menuju teung Rulimena dan teung Paisina (milik rumah tau Pesulima) untuk menyampaikan “tabaos titah” dari raja kepada seluruh masyarakat Soya, dengan isi titah sebagai berikut:11
Bahasa Tanah (Asli) Terjemahan
Oh...Upu Sapo Hiu
Ama Latu Yisayehu titah heri....
Upu Latu kom Upu Ama Ya Sai nanoka, oksiwa, utu kehurua Ingat oras nena, ai masikoa
Saudara-saudara,
Inilah perintah dari bapa raja Raja kita dan bapa kita
Bahwa pada minggu ini akan diadakan
11 Likumahwa, Analisa...,132. Untuk padanan terjemahannya, penulis melakukan adaptasi.
Bahasa Tanah (Asli) Terjemahan Ku sisi sidiku masing-masing that
kihar
Ingat kubete gereja seperti biasa
Adat yang menyatukan kita anak-anak negeri
Sebagaimana pesan para leluhur
Dan janji yang dibuat di gereja seperti biasa
Usai penyampaian tabaos tersebut, kepala soa adat menyampaikan pengumuman kepada para pemuda (mongare) dan pemudi (jojaro) untuk segera membantu mempersiapkan konsumsi untuk pelaksanaan acara CN, antara lain berupa kayu bakar dan air yang dikumpulkan di rumah raja. Selanjutnya pada siang harinya, sekitar jam 15.00, kepala soa adat (dengan membawa parang sebagai simbol untuk bekerja) beserta isterinya (yang membawa kuning mai atau kunyit kepala, sebagai simbol rempah untuk memasak) menuju ke baileo Samasuru (nama untuk baileo Soya). Selain itu juga dibawa dupa dan kemenyan.
Mengingat tahapan Pica Negeri merupakan tahapan awal yang penting bagi seluruh rangkaian agenda CN, maka kepala soa adat sebelum menuju baileo, diwajibkan untuk angka hati (berdoa dalam hatinya) di depan rumahnya untuk memohon berkat dan restu Yang Maha Kuasa dan para Leluhur terhadap tahapan Pica Negeri.
Setelah prosesi angka hati, kepala soa adat berjalan menuju ke tengah Baileo, lalu meletakkan dupa dan kemenyan. Kemudian kepala soa adat melakukan akta: membungkukkan badan lalu memotong rumput yang ada di areal tengah baileo tersebut secara simbolis sebagai pertanda “pica negeri atau pica baileo, yang bermakna dimulainya acara CN Soya.
Ketika melakukan konfirmasi terhadap data12
~sebagaimana yang dikemukakan oleh Likumahwa13~, diakui bahwa momentum tahapan Pica Negeri merupakan tahapan yang penting dalam mengawali secara resmi agenda CN tersebut. Sebab jika terjadi kekeliruan dalam tahapan ini (misalnya penetapan waktu atau tanoar atau kotika) tidak bersesuaian dengan ketentuan adati, maka diyakini bahwa rangkaian tahapan selanjutnya dari CN akan mengalami kendala. Hal itu karena para leluhur marah dan mendatangkan sanksi seperti: adanya bahaya/musibah, penyakit, gagal panen, hingga kematian.
Tahap-3 : Pembersihan Negeri
Tahapan ini berlangsung setelah Pica Negeri, yang ditandai dengan tabuhan tifa oleh kepala soa adat sebagai tanda bahwa semua warga masyarakat agar keluar dari rumah masing-masing dengan membawa perlengkapan bakti pembersihan negeri, antara lain seperti parang, sapulidi, dan lainnya, yang dapat digunakan untuk pameri atau pembersihan. Beberapa lokasi fasilitas umum yang dibersihkan, antara lain: halaman (kintal) depan gereja, rumah raja, pastori, batu stori, batu teung, daerah pekuburan, sekolah, dan fasilitas umum yang disesuaikan serta jalan umum maupun jalan khusus yang akan dilalui oleh para pelaku dan partisipan acara CN.
Dalam tahapan pembersihan negeri ini, sekiranya ada seorang wanita yang baru menikah dengan seorang pria negeri Soya, maka wanita tersebut diwajibkan untuk terlibat dalam kegiatan CN tersebut selaku mata-ina baru; demikianpun sebaliknya bagi seorang pria yang mengawini seorang wanita Soya dan berdiam di Soya. Adapun sanksi bagi setiap anggota masyarakat yang tidak aktif terlibat adalah berupa denda yang harus dibayarkan kepada pemerintah negeri dan nama-nama yang
12 Penulis melakukan konfirmasi melalui wawancara dengan bapa Thom Tamtelahitu (kepala Soa Pera) dan Opa Huwaa (kepala soa adat) dalam wawancara tanggal 7 Desember 2017 di Soya.
13 Likumahwa, Analisa...,131-135
bersangkutan akan dibacakan pada saat pelaksanaan acara CN, ketika berlangsungnya upacara adat CN di baileo.
Pelaksanaan CN inipun berkaitan dengan ketentuan yang telah diwariskan secara turun-temurun, antara lain yang berkaitan dengan: (1) Penentuan waktu atau tanoar atau kotika; dan (2) Pembagian tugas bagi kelompok marga atau rumah tau-rumah tau tertentu pada tempat-tempat keramat. Misalnya, kelompok soa Pera yang dianggap sebagai kelompok marga yang pertama kali mendiami Soya, maka hanya kelompok soa Pera yang diperkenankan melakukan pembersihan dan pemeliharaan di tempat-tempat keramat tertentu. Sedangkan untuk kelompok soa, memang mereka terlibat juga dalam pembersihan, namun tidak diperkenankan di lokasi-lokasi keramat.
Tahap-4 : Naik ke Gunung Sirimau
Tahapan ke-4 ini dimulai pada hari Kamis malam, sekitar jam 22.00, ketika sekelompok lelaki (pemuda)14 yang berasal dari soa Pera berkumpul di teung Tunisou. Setelah melakukan persiapan, antara lain menikmati snack (makan-minum ringan) yang disediakan,15 arahan dari pemimpin soa,16latihan menyanyikan suhat17dan kekompakkan menabuh tifa, dilanjutkan dengan doa oleh salah seorang yang ditunjuk.18 Selanjutnya,
14 Salah satu prasyarat menjadi peserta kelompok ini adalah yang telah diteguhkan menjadi anggota Sidi gereja.
15Snack atau hidangan ringan yang disediakan, sebagaimana yang penulis amati, terdiri dari minuman kopi, teh, susu, dan sopi dan kue yang terbuat dari sagu, beras atau tepung.
16 Inti arahan adalah mengingatkan rombongan untuk tidak membawa makanan dan minuman, dilarang bersanda-gurau dan membuat kegaduhan. Sebab bila aturan ini dilanggar, maka diyakini Tuhan dan para leluhur akan marah dan menghukum mereka serta berkat tidak akan diperoleh. Lihat Likumahwa, Analisa..., 138.
17 Walaupun setiap tahun dilakukan CN namun oleh pemimpin Suhat disadari bahwa ada keterlibatan anggota baru (generasi muda yang baru) yang perlu dilatih sehingga pada saat Suhat ditampilkan pada hari Jumat Siang (usai turun dari puncak Sirimau), maka Suhat akan dilantunkan secara baik.
18 Penulis berkesempatan mengikuti tahapan ini pada hari Kamis malam tanggal 7 Desember 2017 dan turut menyimak doa yang dibawakan oleh salah seorang yang dituakan di kelompok. Tercatat bahwa baik sapaan maupun isi doa tersebut sangat bernuansa kristiani. Artinya tidak ada sama sekali sapaan adati dalam narasi si pendoa (misalnya Tuhan dalam sebutan bahasa tana atau sapaan terhadap para leluhur). Doanya berisi
rombongan yang mengenakan busana dominan berwarna hitam- hitam (kaos dan celana) bergerak menuju ke puncak gunung Sirimau dengan tetabuhan tifa dan gong, sekaligus sebagai tanda bagi masyarakat bahwa aktifitas rombongan matawana ke gunung Sirimau sedang berlangsung.
Sekitar jam 02.00-03.00 Kamis dinihari, rombongan yang dipimpin oleh Ketua Soa adat berjalan menuju puncak Sirimau dengan membawa perlengkapan khusus, a.l.: sopi, anggur cap orangtua, sirih-pinang, tembakau jawa, belanga, bendera “tana”19 dan bendera merah-putih.Selanjutnya, ketika rombongan tiba di batu pesan atau hatukuil yang sering disebut juga batu pasar, rombongan berhenti sekitar 3 menit, kemudian kepala soa adat meletakkan beberapa lembar gulungan daun siri masa (daun sirih yang sudah tua) di atas batu tersebut lalu diikuti dengan tiupan tahuri dan pukulan tifa. Setelah itu, kepala soa adat memohon izin untuk dapat masuk ke tempat Upu Latu Selemau yang berjarak sekitar 300 meter dari puncak gunung Sirimau.
Setibanya rombongan di puncak gunung Sirimau, kepala soa adat memberikan tanda hormat dengan ucapan: “Somba Upu Latu Selemau” (Hormat Upu Latu Selemau), dilanjutkan dengan rombongan menempatkan barang-barang simbolik yang dibawa ke atas sebuah batu yang disebut sebagai batu pamali, dan mengikatkan bendera merah putih dan bendera tanah pada bambu yang ditancapkan di sisi kiri dan kanan dari batu tersebut. Adapun batu pamali yang diperkirakan berukuran lebar 2 meter dan berdiameter sekitar 3 meter itu diyakini sebagai takhtanya Upu Latu Selemau.20
Selanjutnya rombongan berkesempatan untuk beristirahat dengan khusuk sambil berjaga-jaga sebagai wujud dari aktifitas
syukur dan mohon pimpinan serta perlindungan Tuhan untuk rangkaian acara yang akan dijalani. Selanjutnya doa tersebut diakhiri dengan: “....Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa, Amin!”
19 Bendera tana merupakan bendera yang berbentuk panjang dan bermotif batik-lurik (sebagai simbol ular patola). Konon bendera tersebut dililitkan pada pinggang panglima perang Soya yang bernama Sander yang berasal dari rumah tau Huwa’a. Bandingkan Likumahwa, Analisa..., 138.
20 Ibid,139.
matawana. Mengingat kuatnya pembatasan terhadap peserta yang terlibat dalam kegiatan ke puncak Sirimau ini (penulis atau peneliti yang tidak memiliki hubungan khusus keturunan adati tidak diperkenankan terlibat), maka informasi kegiatan di puncak Sirimau merupakan informasi yang diperoleh selain dari dokumen yang telah ada juga dari hasil wawancara dengan ketua soa adat atau peserta yang terlibat. Sebagai contoh, dari dokumen yang telah ada21 diperoleh data bahwa pada saat rombongan tiba di tempat (di puncak Sirimau), kepala soa adat menginstruksikan mereka untuk duduk saling membelakangi di dalam kelompok- kelompok yang sudah ditetapkan sebelumnya. Kepada mereka dimintakan untuk melakukan meditasi sambil berpuasa sampai waktu yang ditentukan oleh kepala soa adat. Selanjutnya mereka ditugaskan untuk membersihkan lokasi tersebut, sebagai wujud terima kasih dan tanda hormat kepada para leluhur yang telah bersama dengan mereka. Sesudah itu mereka pun istirahat sejenak dan bersiap-siap untuk turun.
Tahap-5 : Turun dari Gunung Sirimau dan Penyambutan di Rulimena
Pada Jumat Sore, tepatnya sekitar pukul 15.00 rombongan dari gunung Sirimau membunyikan Tifa-Gong sebagai pertanda bahwa mereka akan turun dari puncak Sirimau. Sebagai respons balasan, dibunyikan pula tifa dari pusat negeri yang memberikan isyarat bahwa para mata ina yang berada di teung Rulimena telah siap untuk menyambut rombongan. Selanjutnya terdengar pula tiupan tahuri dan tabuhan tifa yang menandakan bahwa para anggota Saniri Negeri (pemerintah) bersiap untuk mengenakan busana adati22 untuk menyambut rombongan.
21 Ibid,143.
22 Busana adati, bagi kalangan Saniri Negeri mengenakan baju dan celana hitam panjang yang disebut “borci” dan saputangan adat (lenso badasi).
Di depan batu pamali, kembali kepala soa adat mengucapkan pasawari adat, yang antara lain sebagai berikut:23
Kapua Upu Ilah Kahuressi Lebeh Hanua Kedua Tuhan kami Isa Almaseh
Ketiga Rohul Kudus Upu Ama Upu Wisawosi
Upu Latu Selemau Agam Raden Mas Sultan Labu Inang Mojopahir...
Jangan tinggalkan kami turun sendiri, Saat ini kami akan menyaksikan upacara ini Karena setiap tahun kami akan melakukan ini juga Beta minta dari Upu Wisawosi Upu Latu Selemau Turun bersama-sama dengan kami ke tempat upacara...
Tahap-6 : Penyambutan di Rulimena
Usai mengucapkan pasawari adat, rombongan bergerak turun dari gunung Sirimau ditandai dengan tetabuhan tifa-gong.
Selanjutnya rombongan diterima di depan teung Rulimena yang merupakan teung milik rumah tau Soplanit, dan disambut oleh kepada soa . Acara penyambutan diwarnai dengan lantunan suhat (nyanyian adat) oleh seorang “soloist” yang berasal dari soa Pera (rumah tau Pesulima) dan pada bagian tertentu dibalas oleh rombongan.
Adapun suhat yang dilantunkan memiliki narasi yang kaya dengan mitos dan tuturan historis-budaya Soya itu sendiri yang dipelihara dan diwariskan turun-temurun.24 Salah satu contoh petikan syair dari suhat yang dapat disebutkan yaitu:25
23 Kutipan dengan penyesuaian, bandingkan Stephanus Petrus Likumahwa, Analisa...,141.
24 Untuk ulasan tentang Suhat tersebut, penulis cukup berhutang dengan riset dan data yang dikumpulkan oleh Jenne Pieter melalui Tesis Magisternya, Mitos Dalam Suhat Masyarakat Soya, Sebuah Pendekatan Metodologi Strukturalisme Levi-Strauss (Jogyakarta:
Pascasarjana Program Studi Agama dan Lintas Budaya UGM, 2013).
25 Pieter, Mitos...., 75.
Suhat dalam Bahasa Tanah Terjemahan Adaptasi E... leke kona
Maso la maso mele oo La Upu Latu ada maso mele Somba malam bae Upu Latu Selemau
Maru maru mena wasasale huwa amu
Amu latang e horomati Yupu Yama
Somba malam bae Bapa Koma Mara Nusa26
Sohi sala Hua sohi sala Mu tabaku.
Sio sayang e...
Mari masuk, mari masuk Upu Latu mari masuk Salam hormat, Upu Latu Selemau
Mari masuk ke tempat upacara Tempat yang dihormati oleh kita bersama
Salam hormat, Bapa Koma Mara Nusa
Mari sama-sama makan pinang dan tembakau,
Saat berakhirnya nyanyian adat suhat tersebut, kepala soa adat sebagai pemimpin rombongan mengatakan kepada kepala soa : “....Somba malam bae Bapa Koma Mara Nusa !” selanjutnya dibalas oleh kepala soa dengan kata-kata:
Balasan sapaan dari Kepala soa Terjemahan Tabea,
Upu wisawosi upu ama, upu Latu Yisayehu,
Upu Mara Eli27
Maru maru mena maru mena letengo mutabaku
Silakan masuk.28
Salam,
Upu wisawosi upu ama, upu Latu Yisayehu,
Upu Mara Eli
Mari masuk, mari masuk, Mari mencicipi minuman dan tembakau
Silakan masuk.
26 Bapa Koma Mara Nusa merupakan gelar dari kepala soa dan isterinya. Bapa (upu) Koma adalah nama pemimpinnya sedangkan Mara Nusa adalah isterinya. Lihat, Likumahwa, Analisa...,147.
27 Gelar yang ditujukan bagi kepala soa Pera.
28 Penulis mendengarkan sendiri bahwa walaupun diawal sapaan digunakan “bahasa tana”, namun di bagian akhir, kepala soa menggunakan bahasa Indonesia “Silakan masuk!”
Usai penyambutan itu, kedua kelompok lalu saling berjabat tangan dan selanjutnya para mata ina dari soa menjamu kelompok Soa Pera dengan sopi, anggur, sirih-pinang dan rokok. Kemudian kedua kelompok beserta partisipan lainnya lalu berjalan menuju Baileu Samasuru (baileo Soya) diiringi tabuhan musik tifa-gong dan nyanyian Suhat. Syair dari Suhat tersebut memiliki keterkaitan dengan mitos sejarah negeri dan juga marga atau rumah tau yang ada di Soya dengan batu teung-nya masing-masing. Oleh karena itu, dalam perjalanan menuju Baileo, rombongan akan melewati sejumlah teung antara lain: Paisina milik rumah tau (kelompok marga) Tamtelahitu, Neurumanguang milik rumah tau Lapui, Saulana milik rumah tau de Wanna, dan seterusnya. Ketika rombongan melewati teung-teung tersebut, maka Suhat dengan syair yang berkenaan dengan suatu teung harus dinyanyikan.
Tahap-7 : Nae Baileo (Menuju Ke Baileo)
Setelah rombongan tiba di baileo, salah seorang mata ina tertua dari soa Pera yang telah berada di baileo akan menyambut rombongan dengan ucapan: “malam bae, Upu Ama-Upu Wisawosi, Upu Latu Selemau, silakan masuk” (Terjemahan: Salam, Upu Ama- Upu Wisawosi, Upu Latu Selemau, silakan masuk). Kemudian akan dijawab oleh kepala soa adat dengan mengucapkan: “Somba malam bae, Upu-Upu Mata Ina, Mata Ina tolulua” (Terjemahan: Salam hormat, kami ucapkan kepada para Upu Mata Ina). Usai berkata demikian, pada Mata Ina berteriak “Tifa !”, yang berarti, musik (tifa-gong) dibunyikan untuk wujudkan sambutan, syukur dan sukacita bersama karena kelompok yang ke gunung Sirimau telah berhasil turun dengan selamat29. Setelah itu rombongan memasuki baileo, lalu musik tifa-gong dihentikan guna memasuki tahapan istirahat sejenak (memberikan kesempatan kepada kelompok yang baru turun dari gunung Sirimau untuk makan dan berganti pakaian).
29 Suatu ekspresi penyambutan yang sangat mirip dengan para pemuda yang telah lulus dalam ritus inisiasi di ritual Kakehang di Seram. Bandingkan, Likumahwa, Analisa..., 150.
Setelah memasuki fase jeda (istirahat), para kepala soa dan rumah tau yang berasal dari soa Pera dan menjemput raja dan istrinya beserta pendeta, para guru dan undangan lainnya, untuk selanjutnya bersama menuju baileo. Setibanya rombongan di depan pintu baileo, rombongan disambut oleh para mata ina, yang berteriak meminta musik tifa-gong ditabuh. Kemudian dengan iringan musik tersebut para mata ina menari dengan menggenggam tangkai pohon gadihu (tanaman kroton), dalam nuansa musik cakalele. Selanjutnya raja dan rombongan dipersilakan mengambil tempat duduk di baileo.30
Pada saat raja dan rombongan menempati tempat duduk di sabuah, dengan iringan musik tifa-gong, para mata ina melakukan pembersihan di areal kosong baileo (hamparan tanah dan sedikit rerumputan) dengan menggunakan sapu lidi dan gadihu sebagai pertanda pembersihan negeri secara keseluruhan.
Rangkaian agenda selanjutnya di baileo, mengikuti alur agenda antara lain sebagai berikut:31
(a) Pembukaan oleh Sekretaris Negeri- 132 dan sekaligus membacakan urut-urutan acara;
(b) Laporan Pelaksanaan Kegiatan oleh Sekretaris Negeri-2;
(c) Pembacaan Sumbangan-Sumbangan dalam rangka acara CN oleh Sekretaris Negeri-1;
(d) Petuah oleh raja Soya;33
(e) Penyampaian sambutan oleh kepala Soa dan Pendeta
30 Mengingat model baileo Soya tidak berupa rumah tetapi sebidang tanah lapang, maka untuk kepentingan acara telah dibuat tempat khusus yang lazim disebut “sabuah”
dengan menggunakan plastik terpal dengan beberapa tiang bambu.
31 Penulis menyimak dan menangkap kesan bahwa rangkaian agenda ini telah bernuansa modifikasi antara tatanan adati dengan alur protokoler “modern”, atau agenda yang disesuaikan karena mengingat kehadiran dari para tamu khusus (misalnya Walikota atau unsur eksternal lainnya), sebagaimana yang penulis ikuti pada acara CN tahun 2015, pada saat berlangsungnya acara Pengakuan dan Penganugerahan Tradisi CN Soya sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Pemerintah Republik Indonesia.
32 Sekretaris Negeri-1 bertindak laksana seorang MC (pembawa acara)
33 Alur protokoler akan disesuaikan. Misalnya, bila turut hadir pejabat pemerintah seperti Walikota, maka usai petuah dari bapa raja Soya, maka dilanjutkan dengan Amanat dari Walikota Ambon.
(f) Penyampaian pasawari adat oleh kepala soa adat, yang mengambil tempat di depan batu stori, diawali dengan tiupan tahuri sebanyak tiga kali.34
(g) Nyanyian Suhat dilantunkan oleh seorang biduan dan dibalas oleh seluruh peserta, dengan syair yang sungguh bermakna, sebagai berikut:35
Suhat di Baileo Terjemahan Adaptasi Ole leke kona
Hai rang ee h ee Hai rang ee h ee
Hola nito warana latu selemau yana ee
Malona hiu hawa liu ee yupu sohi lawa liu
Nunu yela payo, umalete Selemau Selemau nipa pele, wayanea lahakela Yupu yama mata, bere janji
Yupu yama bere janji sou,
Merah rulang ee hala tupa mahu, Ula Wai Samasuru yunang pasale Samasuru,
Yupu yunang pasal ee lularang ee, Ole bangsi ura ralio, lao ralang ralang ee
Mata ina tolu, ula wai Werhalouw tita Samasuru
Ula wai Werhalouw wai Werhalouw neka kal,
Ada puti puti
Sio sayang e,
Heran e, sungguh heran e Heran e, sungguh heran e Upu latu Selemau
dalam pertemuan dengan seluruh rakyat ee
mereka berbicara seorang kepada yang lain
dalam suasana
kekeluargaan dan mereka berjanji, berjanji dengan sungguh, dalam kebersamaan di Samasuru,
untuk sehidup semati.
34 Adapun formula dari pasawari adat ini dan terjemahannya telah ditampilkan lengkap dalam bab 1.
35 Lihat Likumahwa, Analisa..., 153-154
Tahap-8 : Kunjungan ke Mata Air
Tahapan selanjutnya, usai nyanyian suhat tersebut di atas, maka peserta upacara adat CN dibagi dalam dua kelompok, yakni kelompok soa Pera dan soa Eraang. Dan dengan iringan musik tifa- gong,36 rombongan kelompok soa Pera menuju ke mata air Werhalouw (terletak di arah Timur pusat Negeri), sedangkan rombongan kelompok soa Eraang menuju ke mata air Unuwei (terletak di arah Barat pusat Negeri). Sementara raja, pendeta, guru dan para tamu lainnya bergerak menuju Rulimena untuk dijamu dengan minuman dan kue yang diolah dari bahan baku lokal. Selanjutnya mereka kembali ke rumah raja untuk menunggu prosesi selanjutnya.
Di mata air soa masing-masing, setiap orang diperkenankan untuk mencuci muka, kaki dan lainnya. Bahkan di mata air khusus seperti mata air atau parigi raja yang terdapat di soa Pera, diperkenankan untuk dapat meminumnya.37 Kemudian, usai menuju ke sumber mata air dan sumur masing-masing, selanjutnya rombongan soa Eraang kembali ke Rulimena untuk menunggu datangnya rombongan soa Pera yang akan datang menyambut dengan kain gandong.
Rombongan soa Pera ~usai dari parigi raja dan wai Werhalouw~ selanjutnya akan bergerak dalam balutan kain gandong yang cukup panjang, menuju ke soa dengan lantunan suhat dan iringan musik tifa-gong.
36 Pemusik tifa-gong ini diambil dari para pemusik (pemuda) yang turut ke gunung Sirimau namun dibagi dalam dua kelompok yang seimbang (termasuk keseimbangan jumlah dan jenis alat musiknya).
37 Dalam pengamatan penulis, ketika mengikuti prosesi CN di tahun 2017, sumber mata air yang dimaksud, umumnya telah dibuat dalam bentuk sumur, baik dalam bentuk permanen (dengan konstruksi beton) maupun hanya sebatas sebuah kolam alami tanpa konstruksi semen-beton. Hal ini terlebih khusus dijumpai di mata air khusus yang disebut sumur raja (atau parigi raja, yang sering juga disebut wai Pinang), yang terdapat di soa Pera.
Penulis diperkenankan untuk meminum secara langsung dari sumber air tersebut atas seijin tetua adat soa Pera. Bahkan kepada penulis dituturkan bahwa air dari mata air raja tersebut berkhasiat untuk memberikan kesembuhan bagi yang sakit ataupun memberikan kehamilan bagi pasangan yang telah berkeluarga dan menginginkan anak. Parigi raja tersebut diyakini sebagai sumber air yang digunakan oleh raja Soya yang pertama untuk mengambil air minum atau kebutuhan khusus lainnya (Sebagaimana yang dituturkan oleh bapak B. Pesulima, mantan Sekretaris Negeri Soya, yang turut mendampingi penulis).
Tahap-9 : Upacara Persatuan Kain Gandong
Selanjutnya tahapan yang cukup bermakna bagi nilai persatuan dan persaudaraan antar soa di negeri Soya, yakni tahapan Kain Gandong, yang dipersiapkan di teung Tunisouw oleh para mata ina dari soa Pera. Kain gandong yang berwarna putih polos dan panjang tersebut dibuat formasi “U”, dimana kedua ujungnya dipegang oleh dua orang mata ina soa Pera, lalu diputar sebanyak tiga kali, mengelilingi rombongan soa Pera yang berada di dalam kain gandong. Kemudiaan, dengan iringan musik tifa- gong dan nyanyian suhat, rombongan bergerak, mampir sejenak di halaman rumah raja dan juga halaman rumah gereja, lalu melanjutkan perjalanan menuju soa Eraang yang telah berkumpul di teung Rulimena.
Sesampainya rombongan soa Pera di teung Rulimena, rombongan soa Eraang menyambut dengan penuh sukacita, dan ikut masuk dalam kain gandong lalu diikuti dengan akta balele kain gandong sebanyak tiga kali. Kemudian rombongan soa Pera dijamu oleh basudara soa Eraang dengan jamuan ala kadarnya (makan- minum) sebagai ungkapan penghormatan, persatuan dan sukacita.
Bagi para tamu yang (dihormati) tidak sempat mengunjungi wai Unuwei disediakan meja jamuan khusus.38
Tahap-10 : Kembali ke Rumah Upulatu (Raja)
Tahapan ini dilakukan setelah kedua kelompok soa telah menyatu dalam persatuan kain gandong selanjutnya bergerak bersama ke rumah raja dengan iringan musik tifa-gong dan nyanyian adat (suhat) yang syairnya menyebutkan nama-nama teung dan leluhur dari kedua soa, yang antara lain:39
38 Ketika berlangsungnya acara CN tahun 2015, penulis turut menikmati praktik ini, karena beberapa tamu VIP tidak sempat mengikuti tahapan ke mata air dan disediakan meja khusus dengan jamuan menu tradisional (penganan yang khas Soya atau Ambon, seperti kue ampas tarigu, waji, dan sagu gula. Sedangkan minuman yang disediakan adalah minuman susu putih kental manis, yang menurut tuturan bapa raja Rido Rehatta demikian:
“Sebetulnya bisa saja katong sediakan minuman modern yang lebih pas bagi bapa-ibu, Cuma katong sengaja menyajikan minuman ini karena ini salah satu contoh ungkapan penghormatan orangtatua dolo-dolo bila dong mau tarima tamu yang dorang hormati.”
39 Lihat Likumahwa, Analisa..., 160-161.
Suhat Bersama Menuju Rumah Raja
Terjemahan Adaptasi Ole leke kona ee
Somba malam bae, bapa Koma Mara Nusa
Bapa Koma suka, mata ina tolu lua
Rulimena teung ee, Paisina teung ee
Saupele teung ee, Souhitu juga teung ee
Samurele teung ee, Saulana teung ee
Soumulu teung ee, Pelatiti juga teung ee
Teung ee teung nelua lihut, lihut lahat jadi tepa tolu yunang lahat ee,
ole Tunisou yapa yunang lahat ee nena bure yupu yama, ada nena bure
yupu yama mata, bere janji yupu yama
bere janji sou, mera rulang ee Somba malam bae, bapa Latu Yisayehu
Bapa Latu suka, mata ina tolu lua
Sio sayang ee
Salam hormat, bapa Koma Mara Nusa
Rulimena adalah teung, Paisina adalah teung,
Soupele adalah teung, Souhitu juga teung
Samurele adalah teung, Saulana juga teung
Soumulu adalah teung, Pelatiti juga teung,
Beserta teung-teung yang lain juga...
Bahwa di Tunisou kami telah membuat janji
Janji yang dibuat dengan sungguh-sungguh
Untuk mengulanginya...
Salam hormat, bapa raja Latu Yisayehu.
Setelah kedua rombongan tiba di halaman depan rumah raja ~setelah sebelumnya melewati halaman gereja~40, kepala soa
40 Posisi rumah raja berdekatan dengan gedung gereja tua Soya. Adapun pemandangan yang menarik adalah setiap rombongan yang berjalan di halaman gedung gereja pada saat mengikuti tahap-tahapan ritual CN, maka dengan spontan rombongan itu akan berhenti sejenak, sebagai cerminan penghormatan yang wajib dilakukan terhadap gedung dan pemiliknya (Tuhan Sang Kepala Gereja, “Allah Trinitas” sebagaimana yang disapa dalam doa pasawari adat). Bandingkan Likumahwa , Analisa..., 162.
adat menjumpai raja, istri dan keluarganya yang telah berdiri menyambut rombongan di teras depan rumah. Usai kepala soa adat dan raja saling menyapa dengan penuh hormat dan kehangatan, tabuhan musik tifa-gong dibunyikan, diikuti dengan nyanyian suhat sambil pimpinan rombongan mempersilakan raja, istri dan keluarganya untuk menyatu dalam persekutuan kain gandong. Dalam tahapan yang penulis ikuti, pada momentum ini terasa kesukacitaan seluruh warga bersama raja dan keluarganya, sehingga sejumlah pemuda mengusung (menggendong) bapa raja diikuti dengan badendang dan bapantun secara berbalasan.
Tahapan ini diakhiri dengan menyimpan kain gandong tersebut di rumah raja.
Tahap-11 : Pesta Negeri
Sebagai ungkapan sukacita dan kebersamaan atas berlangsungnya upacara (ritual) CN maka semua warga akan terlibat dalam kegiatan “Pesta Negeri” yang berlangsung di balai Saniri Negeri. Lazimnya kegiatan ini berlangsung dari jam 20.00 hingga 01.00 yang dihadiri oleh para pemuda (mungare) dan pemudi (jujaro), melalui nuansa badonci-badendang diiringi dengan musik tifa-totobuang. Dalam perkembangannya, nuansa pesta negeri mengalami proses “modernisasi” dengan peralatan musik dan soundsystem yang kontemporer, seperti: Keyboard, Band, tarian budaya yang dipengaruhi atau percampuran dengan kebudayaan Barat-Kolonial, misalnya tarian Katreji, Dansa Ola-ola, Polonaize,41dan juga tarian Tujuh Lompat.42
Dalam perkembangan kontemporer, agenda Pesta Negeri ini sering disesuaikan waktu pelaksanaannya sesuai dengan kondisi yang ada (misalnya karena padatnya kesibukan menjelang
41 Dari sumber dokumen lainnya diperoleh data bahwa nuansa pesta negeri atau pesta jujaro-mongare ini sebetulnya tidak ada dalam rangkaian paket ritual CN. Sangat kuat diasumsikan bahwa agenda ini, sebagaimana terindikasi dari nama tari-tariannya, merupakan contoh dari pengaruh kolonial Barat (Portugis dan Belanda). Lihat, Likumahwa, Analisa..., 162..
42 Tarian Tujuh Lompat. Tarian ini terdiri dari 28 orang, terbagi atas 4 pria dan 14 wanita. Formasi tarian ini membentuk huruf W, yang menunjuk pada initial huruf depan raja Wihelmus dari Belanda. Lihat, Pattimahu dkk., “Strategi....”, dalam Menelusuri..., 505.
perayaan Natal dan Akhir Tahun). Sebab ada saatnya pula agenda Pesta Negeri ini disatukan momentum pelaksanaannya dengan Pesta Konci Taong, yang waktunya justru jatuh pada tanggal 30 Januari tahun yang baru, untuk mensyukuri berakhirnya tahun lama dan datangnya tahun yang baru.43
Tahap-12 : Cuci (Sumber) Air
Setelah berpesta semalam-suntuk, esok harinya (Sabtu) sekitar jam 11, ditandai dengan tabuhan tifa negeri, masyarakat berkumpul di depan rumah raja untuk mendengarkan arahan dari kepala soa adat terkait dengan agenda Cuci Air yang dilakukan secara bersama. Semua warga dari kedua soa diarahkan pertama untuk bergerak menuju sumber air Wai Werhalouw guna bakti bersama melakukan pembersihan. Selanjutnya semuanya diarahkan pula untuk menuju Wai Uruwei agar bersama-sama juga melakukan pembersihan di sumber air Wai Uruwei. Dan salah satu kebiasaan yang terjadi di saat kegiatan pembersihan sumber air adalah baku-siram. Dalam nuansa penuh kebersamaan dan sukacita warga saling menyiram dengan air yang berasal dari sumber air tanpa merasa tersinggung atau marah.
Seusai pembersihan di kedua sumber air tersebut maka tahapan ritual CN dianggap telah selesai. Mengingat keesokkan harinya bertepatan dengan ibadah Minggu di gereja, maka menurut kebiasaan orangtatua Soya, kehadiran di gereja seusai melaksanakan ritual CN, merupakan suatu keharusan untuk bersyukur dan sekaligus pengharapan untuk tetap diberkati oleh Tuhan dan Leluhur.44
43 Bandingkan Pieter, Mitos...,70.
44 Bandingkan Likumahwa, Analisa...,164. Sejauh ini momentum ibadah Minggu tersebut selalu bertepatan dengan momentum perayaan Minggu Adventus, sehingga lazimnya yang digunakan hanyalah Liturgi Minggu Adventus yang telah disediakan oleh gereja melalui Lembaga Pembinaan Jemaat GPM. Dan perayaan 4 (empat) Minggu Adventus sebelum Natal Kristus (25 Desember) secara baku, baru menjadi bentuk perayaan tahun gerejawi di GPM sekitar sejak 2 (dua) dekade lalu. Sementara ibadah Minggu dalam nuansa syukur pelaksanaan ritual CN hanya tampak melalui narasi Khotbah Pendeta dan Pokok Doa Syafaat yang disampaikan.
IV.2. Penelusuran Diferensiasinya
IV.2.1. Penelusuran Asal-muasal dan Migrasi Manusia Soya- Ambon
Sebagaimana disadari bahwa menelusuri asal-usul suatu sukubangsa atau komunitas, sangatlah tidak mudah, mengingat rentang waktu yang sangat jauh, alat bukti atau jejak sejarah yang terbatas.Hal tersebut kian dipersulit lagi bila konteks sejarah tersebut belum mendapatkan sentuhan riset ilmiah yang tertanggung jawab secara historis-arkeologis. Diakui sendiri oleh kalangan sejarahwan Ambon-Maluku, bahwa hingga kini belum ada eksplanasi yang pasti dan tuntas tentang asal-usul penduduk Maluku dan Ambon45 (yang sudah tentu implisit di dalamnya manusia Soya itu sendiri). Disadari juga bahwa salah satu kendalanya adalah karena warisan tradisi oral (oral tradition), yang jauh lebih dominan tersimpan subur dalam memori-memori kolektif historis masyarakat Ambon, Maluku, daripada tradisi tulisan.46Kendati demikian, sejumlah kendala tersebut tidaklah membuat upaya penelusuran ini terhenti tanpa secercah harapan.
Sebab selalu saja ada jalan dan kemungkinan untuk mengurai kekusutan problematika ini.
Sehubungan dengan itu pula, maka jalan dan kemungkinan penelusuran manusia Maluku, Ambon dan Soya secara khusus, dapat dilakukan dengan menelusuri konteks keberadaan manusia itu di rentang waktu dan sejarahnya baik pada lingkup lokal- regional maupun nasional hingga global. Dalam hal ini, dibutuhkan pula adanya kontribusi keilmuan lintas-disipliner dalam rangka membantu menyingkapkan tabir asal-muasal manusia Ambon dan Soya tersebut. Untuk itu, maka disiplin ilmu dengan data dan kajiannya yang cukup signifikan membantu adalah arkeologi dan antropologi.47
45 J.A.Pattikayhatu, et al., Sejarah Daerah Maluku (Ambon: DepDikBud.Prop.Maluku, 1993), 6.
46 Izak Y.M. Lattu, Dissertation...,1,7
47 Terkait hal ini, penulis sangat berhutang budi terhadap promotor penulis ~Prof.
Dr.Truman Simanjuntak~, yang melalui diskusi selama pembimbingan maupun tulisannya yang khusus tentang Manusia-Manusia dan Peradaban Indonesia, Yogyakarta: Gadjah Mada
Dari data arkeologis pada umumnya, diketahui bahwa terdapat dua arus migrasi besar yang masuk ke wilayah Nusantara.
Arus migrasi pertama adalah migrasi Manusia Modern Awal (MMA) atau Homo Sapiens awal yang terjadi di sekitar 70 ribu hingga 60 ribu tahun lampau. Sedangkan arus migrasi kedua berlangsung sekitar tahun 4000 BP (before present),yang terjadi melalui migrasi kaum Penutur Austronesia yang berasal dari Taiwan.
Adapun kelompok migrasi MMA ini memiliki pola hidup dengan budaya berburu dan meramu. Sesuai dengan bukti-bukti arkeologis, ditemukan bahwa kelompok MMA ini selanjutnya menyebar ke Timur, mencapai Indonesia bagian Timur dan kawasan Melanesia. Selain itu ada yang ke Tenggara hingga mencapai Australia.48 Selanjutnya, melalui proses evolusinya, maka manusia keturunan MMA ini membentuk kekhasan fisik, yang oleh para ahli digolongkan sebagai Ras Australomelanesid.
Ras ini sendiri, semenjak akhir Zaman Es, sekitar 12 ribu tahun lampau, terindikasi sudah mendiami kawasan Asia Tenggara, Melanesia, dan Australia, serta terus berlanjut pada masa sesudahnya.
Berkaitan dengan kelompok migrasi kedua, oleh para ahli mereka disebut sebagai kelompok Penutur Austronesia, yang hidup dengan budaya neolitiknya (hidup menetap dan mendomestikasikan hewan dan tanaman). Kelompok yang tergolong pada Ras Monggolid ini diyakini datang dari Taiwan
University Press, (dalam proses penerbitan), banyak memberikan referensi arkeologi- antropologi yang membantu penulis dalam melakukan penelusuran terhadap manusia Ambon dan Soya.
48 Adapun bukti persebaran dan perkiraan tahun kehadiran kelompok MMA ini antara lain terdapat di gua Golo, pulau Gebe yang menunjuk sekitar 33 ribu tahun lalu, liang Lemdubu di kepulauan Aru sekitar 28 ribu tahun lalu, gua Toé di Ayamaru Papua Barat sekitar 26 ribu tahun lalu, dan ada yang lebih menyebar ke arah Timur, dengan bukti temuan di semenanjung Huon di PNG (Papua New Guinea) sekitar 40 ribu tahun lampau.
Sementara penyebaran ke arah Tenggara, terindikasi melalui penemuan bukti di beberapa gua di wilayah Australia Utara, yang menunjuk sekitar 50 ribu hingga 60 ribu tahun lalu.
Lihat, Truman Simanjuntak, Ibid.
dan memasuki wilayah Nusantara sekitar 4000 tahun BP.49 Mereka ini dikenal sebagai kelompok pelaut ulung, yang relatif cepat berhasil menduduki kawasan-kawasan kepulauan yang cukup luas (diperkirakan menjangkau sepanjang lebih dari setengah bola dunia), yaitu dari wilayah Madagaskar di ujung Barat hingga Kepulauan Paskah di ujung Timur, serta dari Taiwan dan Mikronesia di Utara hingga kawasan Selandia Baru di Selatan.
Para ahli mengkonstatir bahwa kehadiran dari kelompok migrasi kedua ini, telah berpengaruh dalam proses pembauran budaya, bahkan pembauran biologis dengan Ras Australomelanesid, yang sudah terlebih dahulu menghuni wilayah- wilayah kepulauan. Proses pembauran yang terjadi tersebut, hingga kini turut menciptakan populasi bangsa Indonesia yang memiliki hibridisasi genetika utama dari kedua ras tersebut.
Dalam proses migrasi selanjutnya, maka kelompok penutur Austronesia ini mencapai Maluku, dan menyebar kemudian ke wilayah Pasifik sekitar tahun 3500-3300 BP, sebagaimana terlihat melalui beberapa bukti hunian yang ditemukan seperti di gua Uattamdi (pulau Kayoa) sekitar tahun 3300 BP, Pulau Ai (dekat pulau Banda) sekitar tahun 3150 BP, dan gunung Srobu (Papua) sekitar tahun 3000 BP.
Melalui pencermatan para ahli, dilihat bahwa ternyata pembauran kedua populasi ini (Australomelanesia yang datang terdahulu dan Penutur Austronesia yang datang kemudian), secara tidak langsung menciptakan percampuran (hibridisasi) budaya dan genetika antara keduanya dengan karakter fisik Australomelanesia yang justru lebih dominan.
Selanjutnya untuk menyelami asal-usul Ambon, maka tentunya tidak dapat dilepaspisahkan dari data regional tersebut di atas, yang mengisyaratkan bahwa manusia Ambon pun pada hakikatnya merupakan campuran dari ras Austromelanesia dan Monggolid Austronesia. Adapun bukti kehadiran kedua ras yang membaur tersebut, dapat dilihat pada beberapa temuan arkeologis
49 Peter Bellwood, et.al., 35.000 Years of Prehistory in the Northern Molluccas, 1997, dalam Truman Simanjuntak, Ibid.
yang terdapat pada gua-gua di Hatusua (berlokasi di dekat dermaga penyeban kapal Feri di Waipirit kabupaten Seram Bagian Barat), dan juga beberapa gua lainnya (seperti di liang Kilbidi, liang Watu Tea, liang Fanga-Fanga), yang diperkirakan telah dihuni sejak 5000 BP. Fakta temuan pada situs arkeologi tersebut, antara lain: pada lapisan hunian bawah ditemukan adanya jejak Australomelanesia, sementara pada lapisan atas terdapat pecahan-pecahan tembikar, yang menjadi penanda budaya khas Austronesia.
Perkembangan selanjutnya, populasi Nusantara menjelang abad Masehi menerima pengaruh budaya megalitik yang diperkirakan berasal dari Asia Tenggara Daratan. Budaya yang berlandaskan pemujaan arwah leluhur dalam rangka mendatangkan kesejahteraan dan kesuburan bagi yang hidup ini, bersesuaian dengan konsepsi kepercayaan budaya neolitik sebelumnya hingga menjadikannya berkembang luas di kepulauan, bahkan dalam hal tertentu berlangsung hingga sekarang. Hal yang sama berlangsung di Kepulauan Maluku, dalam hal mana populasi lanjut dari pembauran kedua ras tadi menerima pengaruh budaya megalitik, sebagaimana yang ditunjukkan oleh keberadaan pelbagai peninggalan yang terdapat di berbagai pulau di Maluku.
Hal yang sama terjadi juga dengan di Ambon; sebagaimana bukti serapan budaya megalitik seperti yang dijumpai di Soya dalam bentuk punden berundak dengan pelbagai perangkat fisik yang ada di dalamnya (arca, dolmen, dan lainnya), serta keletakannya yang berorientasi ke puncak Gunung Sirimau.
Keterangan Foto:
Contoh salah satu punden berundak yang terdapat di Baileo Soya, di salah satu batu keramatnya ditempatkan Dupa dan kemenyan yang dibakar, sebagai bagian dari Ritual Cuci Negeri. (Sumber:
http://soya.desa.id/2017/12/13/galeri-photos-adat-cuci-negeri- soya-08-desember-2017/Diunduh 2 Mei 2018.)
Keberadaan punden berundak tersebut turut membantu menyingkap asal-muasal leluhur manusia Soya. Sekalipun masih diperlukan adanya riset yang lebih khusus dan mendalam, namun bila melihat korelasinya dengan perkembangan budaya megalitik pada aras regional, maka dapat diasumsikan bahwa manusia Soya yang datang pertama adalah mereka yang berasal dari masa-masa awal masehi dan beberapa abad kemudian.
Bila ditelusuri kemudian berdasarkan data arkeologi maupun folklor, khususnya dengan merujuk pada budaya megalitik beserta peninggalannya, maka ada kemungkinan bahwa leluhur manusia Soya tersebut berasal dari Seram, Nunusaku.
Sebagaimana yang tersisa hingga kinidengan kuatnya pengaruh budaya megalitik yang dalam perkembangan kemudian masih tetap berpengaruh sampai saat ini, seperti terlihat dalam bentuk ritual Cuci Negeri. Konstatasi ini didasari atas fenomena akar budaya megalitik, antara lain yang termanifestasi melalui konsepsi kepercayaan akan adanya kehidupan baru sesudah kematian. Pada konsepsi tersebut, diyakini bahwa roh seseorang, teristimewa roh
dari mereka yang terpandang atau pemimpin yang dihormati dan dituakan selama hidupnya, dipercayai dapat memberikan kesuburan, kesejahteraan, perlindungan, kepada mereka yang hidup. Kepercayaan tersebut menyebabkan, warga yang masih hidup (masyarakat setempat) membentuk ritual dan sarana- sarana pemujaan yang bertujuan untuk memelihara hubungan baik dengan para leluhurnya. Fenomena sedemikian itulah yang sesungguhnya melatari pula praktik ritual Cuci Negeri di Soya.
Data informatif lainnya diperoleh melalui penyelidikan beberapa ahli geologi-arkeologi lainnya50yang bersesuaian dengan temuan Charles A. Fisher, yang menyebutkan bahwa ciri-ciri ras Melanesia tersebut berkulit hitam, tinggi kurang lebih 5 ft (sekitar 150 cm). Sedangkan ras Australoid berbentuk kepala agak panjang dan kecil, berambut tidak terlalu keriting dan tidak terlalu lurus, yang memiliki kesesuaian dengan Alfurs (atau dalam dialek lokal Maluku Tengah disebut Alifuru), yang oleh Fisher disebut sebagai “ a collective name for the interior peoples of the Moluccas”.51
Penelusuran etnogenik terhadap apa yang disebut sebagai komunitas Alifuru yang dianggap sebagai penduduk asli Seram atau Maluku Tengah52, sesungguhnya memperoleh pengayaan dengan temuan lainnya bahwa ternyata sebutan Alifuru itu pun bukan hanya khas Maluku Tengah, melainkan juga ada di Maluku Utara (Halmahera)53. Bartels sendiri mengindikasikan bahwa istilah Alifuru yang memiliki akar kata semitis (Arab: Alif, artinya yang pertama, yang awal; dan Uru,bahasa tanah, yang berarti
50 Pernah dilakukan oleh para ahli dari barat pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20, antara lain: Knuttel, Yunghun, Molengraaf, Verbeck, Brouwer, Rutten, van der Valk, van der Sluis dan van Bemmelen. Sedangkan dari Indonesia antara lain oleh S.Sigit, M.J.
Rachmad, Kusumadinata, Tim Ekspedisi Baruna 1964. Lihat. J.A. Pattikayhatu, et.al., Sejarah Daerah Maluku..., 108.
51 Charles A. Fisher, South-East Asia – A Social, Economic and Political Geography (London: Methuen and Co.Ltd; New York: E.P. Dutton & Co.Inc.1966), 66.
52Antara lain dalam tulisan J.Th.F.Pattiselanno, “Tradisi ULI, PELA dan GANDONG pada Masyarakat Seram, Ambon dan Uliase”. Artikel dalam Jurnal Antropologi Indonesia edisi Th.XXIII, No.58- Jan-Apr. 1999 (Jakarta: FISIP UI, Jurusan Antropologi & Yayasan Obor Indonesia, 1999) pada catatan kaki halaman 60 dikatakan bahwa: “ ...Pendudukasli Kepulauan Maluku, terutama di Seram, dijuluki halfoer (setengah purba) karena kebiasaan mengayaunya. Dalam ucapan penduduk setempat, halfoer menjadi alefuru....”
53 R.Z. Leirissa, Halmahera Timur dan Raja Jailolo (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), 57.