Metode Ilmiah
1. Penemuan Kebenaran Lewat Cara Berpikir Kritis dan Rasional
Dengan semakin berkembangnya kemampuan berpikir manusia, maka semakin banyak manusia yang mengupayakan kemampuan berpikirnya dalam memecahkan suatu permasalahan. Dengan kemampuannya ini telah banyak kebenaran yang dicapai oleh manusia.
Dalam menghadapi masalah, manusia berusaha menganalisisnya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki untuk sampai pada pemecahan yang tepat. Cara berpikir yang ditempuh untuk sampai pada tingkat permulaan dalam memecahkan masalah ialah dengan (a) cara berpikir analitik dan (b) cara berpikir sintetik (Berling, 1997).
(a) Cara Berpikir Analitik
Cara berpikir analitik ialah cara berpikir deduktif (dari hal-hal yang bersifat umum menuju kepada hal-hal yang bersifat khusus).
Untuk mencapai kebenaran atau pengetahuan yang benar, cara deduktif menggunakan silogisme sebagai alatnya. Silogisme ialah suatu argumentasi yang terdiri dari tiga buah proposisi atau pernyataan yang membenarkan atau menolak suatu perkara. Sebuah proposisi
awal merupakan premis mayor yang menjelaskan atau menyatakan sesuatu yang besifat umum, dan proposisi kedua merupakan premis minor yang menyatakan sesuatu yang lebih khusus dan terkait dengan proposisi pertama. Sedangkan proposisi yang ketiga disebut simpulan atau konklusi, yang pada dasarnya merupakan konsekuensi dari kedua premis yang terdahulu (Bakker, 1986).
Beberapa jenis silogisme beserta contohnya adalah sebagai berikut:
(1) Silogisme Kategorik
Semua binatang bakal mengalami mati (premis mayor) Gajah adalah binatang (premis minor)
Jadi gajah bakal mengalami mati (konklusi)
Dengan ringkas silogisme kategorik dapat dinyatakan sebagai berikut:
Semua P adalah Q P1 adalah P
Jadi: P1 adalah Q
(2) Silogisme Kondisional (bersyarat)
Jika rumah makan itu menyajikan menu bebek goreng, pelanggannya berlimpah.
Rumah makan itu menyajikan menu bebek goreng.
Jadi pelanggannya berlimpah.
Bila di kampung itu turun hujan sangat deras, kampung itu banjir Hujan turun sangat deras.
Jadi kampung itu banjir
Ringkasnya, silogisme Kondisional adalah sebagai berikut::
Jika P dalam keadaan Q, maka akan terjadi R.
P1 sekarang dalam keadaan Q.
Jadi: P1 akan mengalami R.
Asas Metodologi Penelitian
(3) Silogisme Pilihan (alternatif)
Ketika Hendra telah lulus kuliah, ia akan bekerja atau melanjutkan studi S2.
Setelah lulus kuliah Hendra bekerja.
Jadi Hendra tidak melanjutkan studi S2.
Setelah mendapatkan bonus tahunan, Yudi akan mengambil kredit mobil atau kredit rumah.
Setelah mendapatkan bonus tahunan Yudi mengambil kredit rumah.
Jadi Yudi tidak mengambil kredit mobil.
Ringkasnya, Silogisme Alternatif adalah sebagai berikut:
P harus memilih Q atau R.
(Q dan R tidak terjadi serempak) P1 memilih R
Jadi P1 tidak mungkin memilih Q.
(4) Silogisme Disjungtif (melerai)
Bagi seorang pengusaha, baik yang bekerja keras ataupun tidak, tidaklah mungkin mendapatkan sukses begitu saja.
Ada seorang pengusaha yang tidak pernah bekerja sama sekali.
Jadi tidak mungkin begitu saja ia memperoleh kesuksesan.
Silogisme Disjungtif, singkatnya ialah sebagai berikut:
Tidak mungkin P yang sedang dalam keadaan R bakal menjadi Q.
P dalam keadaan R.
Jadi tidak mungkin P bakal menjadi Q.
b) Cara Berpikir Sintetik
Cara berpikir sintetik adalah cara berpikir induktif (dari hal-hal yang bersifat khusus kepada hal-hal yang bersifat umum) yang simpulannya diharapkan berlaku umum untuk kelompok/jenis, dan peristiwa atau
yang diharapkan agar kasus yang bersifat khusus atau individual masuk ke dalam wilayah kelompok/jenis yang dikenai simpulan (Anonim (a), 2000). Di bawah ini dikemukakan cara berpikir jenis induksi.
(1) Induksi Komplet/Lengkap
Induksi lengkap adalah penalaran induksi dimana suatu kesimpulan umum diambil berdasarkan SELURUH kasus partikular yang diteliti/diketahui (Suriasumantri, 1994). Sebagai contoh, misalnya seseorang meneliti bahwa rumah-rumah penduduk di kampung Jambangan Kebon Agung telah berlangganan air PDAM.
Dari pengamatan tersebut orang itu mengambil kesimpulan bahwa SEMUA penduduk di kampung Jambangan Kebon Agung telah mendapatkan aliran air dari PDAM. Cara generalisasi semacam ini tidak mungkin diperdebatkan lagi karena memang terlahir dari pengamatan yang benar adanya dari semua kasus. Namun demikian, jenis penalaran induksi seperti ini merupakan jenis penalaran yang lemah. Artinya seseorang tersebut tidak menambah pengetahuannya, karena apa yang disimpulkan adalah apa yang diamati, yaitu menyimpulkan apa yang sudah ada.
(2) Induksi Tidak Lengkap
Induksi tidak lengkap adalah penalaran dari beberapa kasus-kasus partikular menuju pada kesimpulan umum. Dimulai dengan mengambil beberapa kasus, banyak atau sedikit tetapi tidak semua, kemudian dibuat suatu pernyataan umum atau disesuaikan dengan suatu pernyataan umum dan dianggap bahwa pernyataan umum mengenai hal tersebut dianggap benar.
Induksi tidak lengkap dapat dilihat pada contoh sederhana dibawah ini :
- Jakarta mempunyai bandara internasional
- Kuala Lumpur mempunyai bandara internasional - London mempunyai bandara internasional
- Manila mempunyai bandara internasional
0 Asas Metodologi Penelitian
- Berlin mempunyai bandara internasional - Tokyo mempunyai bandara internasional Kota-kota tersebut di atas adalah ibu kota Negara.
Pernyataan Umum: Semua ibu kota Negara mempunyai bandara internasional.
Induksi tidak lengkap adalah penalaran yang sering dipakai dalam berbagai bidang. Para peneliti, pengamat, dan lain-lain mengambil suatu pernyataan umum dari beberapa kasus partikular dan menegaskannya sebagai suatu kebenaran.
(3) Induksi Sistem Bacon
Francis Bacon, ahli empirisme, dengan tegas menolak cara berpikir deduksi. Ia menganjurkan agar dalam usaha menarik kesimpulan yang berlaku umum, orang hendaknya bertolak dari hasil observasi untuk menentukan ciri-ciri gejala yang dihadapinya.
Bacon beranggapan bahwa untuk mendapatkan kebenaran maka akal budi bertitik pangkal pada pengamatan inderawi yang khusus lalu berkembang kepada kesimpulan umum. Pemikiran Bacon yang demikian ini, kemudian melahirkan metode berpikir induksi.
Inti dari induksi sistem Bacon adalah bahwa ilmu pengetahuan harus bermula dari dan dikendalikan oleh pengamatan yang tidak terpengaruh oleh pengandaian apapun juga (Brower dan Heryadi, 1986).
Ada 3 hal pokok yang menjadi kerangka sistem Bacon, yaitu:
- pertama, dalam melakukan penelitian ilmiah, peneliti harus bebas dari segala pengandaian atau spekulasi awal. Hal ini untuk menghindari adanya bias selama dilakukannya penelitian sehingga dapat menangkap obyek apa adanya.
Tidak hanya mengamati data yang relevan dengan dugaan awal saja.
- kedua, sedapat mungkin memperhatikan data dan fakta yang bertentangan satu dengan lainnya. Hal ini dilakukan agar
peneliti tidak hanya memandang fakta dan data yang cocok dan sesuai dengan dugaan awalnya.
- ketiga, setelah melakukan pengamatan data dan fakta dari obyek dengan apa adanya maka segera dievaluasi, diklasifikasi dan dirumuskan sesuai dengan kemampuan.