Metode penelitian
2) Pengumpulan Data
Data sejarah adalah data yang berhasil dikumpulkan secara selektif dari peninggalan sejarah yang telah ada, baik tertulis maupun tidak tertulis. Jika data sejarah diolah sampai melahirkan interpretasi maka berubah kedudukannya menjadi fakta sejarah. Pada tahapan ini langkah yang diambil peneliti seringkali disebut sebagai heuristik.
Heuristik adalah kegiatan mencari dan menemukan sumber yang diperlukan. Berhasil-tidaknya pencarian sumber, pada dasarnya tergantung dari wawasan peneliti mengenai sumber yang diperlukan
dan keterampilan teknis penelusuran sumber. Menurut bahannya, data sejarah dibagi menjadi dua yaitu:
a. Tertulis (dokumen)
Data sejarah tertulis (dokumen) dapat berupa surat resmi, surat pribadi, memori, buku harian, catatan perjalanan, notulen rapat, kontrak kerja, surat keputusan, disposisi, bon-bon dan sebagainya.
Tingkat kemudahan dalam mencari sumber ini terkait sejauh mana masyarakat menyadari pentingnya sumber sejarah. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terbiasa mendokumentasi berbagai hal (sekalipun data yang dianggap penting). Berdasarkan sifatnya, sumber sejarah terdiri atas sumber primer dan sumber sekunder.
Sumber primer adalah sumber yang waktu pembuatannya tidak jauh dari waktu peristiwa terjadi. Sumber sekunder adalah sumber yang waktu pembuatannya jauh dari waktu terjadinya peristiwa.
Peneliti harus mengetahui benar, mana sumber primer dan mana sumber sekunder. Dalam pencarian sumber sejarah, sumber primer harus ditemukan, karena penulisan sejarah ilmiah tidak cukup hanya menggunakan sumber sekunder. Dalam penelitian sejarah data tertulis (dokumen) dapat dikategorikan sebagai data primer manakala dokumen itu dibuat oleh saksi pertama, atau dibuat sendiri oleh yang bersangkutan. Hasil wawancara langsung yang dilakukan oleh peneliti juga termasuk kategori data primer, sementara dokumentasi dikategorikan data sekunder.
b. Tidak tertulis (artefak)
Data sejarah yang tidak tertulis dapat berbentuk artefak (berupa foto-foto, bangunan, alat-alat seperti perabot rumah tangga, pakaian, kendaraan, senjata, alat tulis dan sebagainya) dan lisan. Dari sekian bentuk artefak ini, bangunan adalah yang mudah diteliti. Yang dilihat bukan bangunannya, akan tetapi fungsinya.
Sebab fungsi bangunan mengikuti profesi. Contoh, pemburu pasti memiliki berbagai macam alat pemburu. Sedangkan data sejarah yang berbentuk lisan bisa ditelusuri melalui wawancara,
Asas Metodologi Penelitian
atau mendokumentasikan cerita-cerita rakyat, lagu, tembang yang masih ada di kalangan rakyat.
3) Verifikasi
Dalam studi historiografi, setelah permasalahan dirumuskan dan data terkumpul, tahap berikutnya adalah verifikasi, yaitu melakukan kritik terhadap data sejarah guna memperoleh keabsahan data yang telah terkumpul. Ada dua macam kritik terhadap data sejarah yaitu:
a. Kritik ekstern (otentisitas)
Kritik ekstern, misalnya peneliti menemukan dokumen berupa surat, maka yang dilakukan oleh peneliti adalah mempelajari kertas, tinta, gaya tulisan, bahasa, dan semua penampilan surat seperti keaslian tanda tangan untuk mengetahui apakah data tersebut asli atau palsu.
b. Kritik intern
Setelah dapat dibuktikan bahwa dokumen yang ada asli (otentik), maka langkah selanjutnya adalah melakukan kritik intern, untuk mengetahui apakah isi dukumen itu bisa dipercaya atau tidak.
Sebagai contoh: bila dalam suatu catatan harian disebutkan bahwa sebagai hadiah perpisahan seorang kepala sekolah yang kebetulan pria, guru-guru sekolah tersebut memberikan dasi kepada sang kepala sekolah diikuti dengan acara berpelukan dengan semua guru termasuk guru wanita. Hal tersebut dapat dinyatakan kredibel bila memang pada waktu itu pakaian dinas sehari-hari sang kepala sekolah memerlukan dasi dan cara pengucapan selamat berpisah dengan berpelukan bahkan dengan guru wanita telah mentradisi di masyarakat atau di sekolah dimaksud. Bila belum mentradisi maka dokumen tersebut dapat diragukan kredibilitasnya.
4) Interpretasi
Setelah fakta untuk mengungkap dan membahas masalah yang diteliti cukup memadai, kemudian dilakukan interpretasi, yaitu
penafsiran makna fakta dan hubungan antara satu fakta dengan fakta lain. Penafsiran atas fakta harus dilandasi oleh sikap obyektif.
Interpretasi dilakukan supaya data sejarah yang telah terkumpul dapat dipahami oleh orang lain sehingga menjadi fakta sejarah. Dalam tahapan ini seringkali subyektifitas peneliti mulai muncul. Oleh karena itu agar hal tersebut tidak terjadi atau paling tidak diminimalkan, maka diperlukan analisis dan sintesis.
a. Analisis
Analisis berarti menguraikan kandungan fakta ke dalam beberapa kategori. Misalnya, mengkategorikan profesi masyarakat beberapa jenis pekerjaan, seperti: pedagang, nelayan, petani, pengusaha, karyawan dan sebagainya. Berdasarkan katagori itu akan muncul beberapa interpretasi, misalnya: rata-rata penghasilan karyawan di daerah tertentu (tempat yang diteliti) tidak cukup untuk menghidupi keluarga. Interpretasi lain menunjukkan bahwa masyarakat pedagang di daerah tertentu (tempat yang diteliti) memiliki semangat usaha dan keuletan yang sangat tinggi. Untuk merumuskan interpretasi yang lebih dekat dengan kebenaran, perlu dikonsultasikan dengan fakta-fakta lainnya, atau dengan teori yang mendukung fakta tersebut.
b. Sintesis
Hasil dari upaya konsultasi antara interpretasi dengan fakta sejarah lainnya (teori) disebut sintesis. Contoh: bila ada suatu negara A yang dominan terhadap negara-negara lain, lalu negara tersebut mengusung suatu tema atau nilai kebebasan dan pengakuan terhadap kedaulatan negara lain, kemudian ada suatu negara X dan Y yang sedang mengembangkan persenjataan nuklir, ternyata negara A menganggap bahwa negara Y adalah negara yang membangkang dan berbahaya, namun negara A diam saja terhadap negara X, maka dapat dibuat sintesis bahwa negara A mempunyai standar ganda dan tidak konsisten terhadap pendapatnya sendiri.
Asas Metodologi Penelitian
5) Penulisan
Bila semua tahapan studi historiografi diatas telah dijalankan, langkah selanjutnya adalah menuliskan hasil interpretasi dan sintesisnya ke dalam sebuah tulisan. Pada tahapan inilah potensi bakat menulis menjadi signifikan. Dengan kata lain, banyak peneliti bagus dalam melakukan pengumpulan dan analisis data, namun bila sampai pada tahapan penulisan mengalami hambatan. Pada penulisan sejarah lebih mengutamakan pada kronologis dan bersifat diakronis (memanjang).