• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gradasi agregat AC untuk lapis permukaan yang dipakai selama ini adalah dari spesifikasi No.l3/PT/B/1983, seperti tertera pada Tabel 6 (11 macam). Gradasi agregat spesifikasi No.Ol/ST/BM/1972 yaitu Tabel 2 (campuran A dan B) adalah sama dengan gradasi X dan XI dari Tabel 6. Selain itu ada juga gradasi hasil modifikasi, seperti tertera pada Tabel 23 ( 1 macam).

Seperti diuraikan sebelumnya, walaupun dari segi ketersediaan agregat di lapangan sangat menguntungkan, namun banyaknya gradasi (12 macam) membuka peluang melebamya variasi kadar aspal, misalnya mulai 4% untuk gradasi kasar (VFB rendah) sampai 8.5% untuk gradasi rapat (VFB tinggi). Dari 12 gradasi yang ada, akan dilakukan analisa atau pengujian agar dapat ditentukan gradasi agregat untuk lapis·

permukaan AC. Hal-hal yang menjadi dasar pemikiran dalam penentuan gradasi agregat ini antara lain sifat-sifat Marshall, serta kelemahan umum yang dijumpai konstruksi AC selama ini, seperti kerusakan stripping dan ravelling akibat kadar as pal yang kurang ( di bawah 5%).

Gradasi agregat AC untuk lapis antara/pondasi atas yang dipakai selama ini adalah dari spesifikasi No.03/ST/B/1983, sepe~i tertera pada Tabel 17. Gradasi agregat spesifikasi No.Ol/ST/BM/1972 yaitu Tabel14 adalah sama dengan gradasi type I Tabel 17. Gradasi Tabel 17 (3 macam) ini dianggap sudah cukup memadai untuk lapis antara/pondasi atas konstruksi AC.

Gradasi agregat (kasar dan halus) Hot Rolled yang dipakai selama ini adalah dari spesifikasi No.12/PT/B/1983, seperti tertera pada Tabel 9 dan 10, serta gradasi hasil modifikasi seperti tertera pada Tabel 19. Gradasi dari kedua spesifikasi ini dianggap sudah cukup memadai untuk konstruksi Hot Rolled.

Jenis aspal keras Pen 60 atau Pen 80, yang telah biasa dipakai selama ini untuk lapis permukaan, dianggap masih tetap dapat digunakan. Persyaratan aspal keras Pen 60 atau Pen 80 tertera pada Tabel 7. Untuk lapis antara/pondasi atas persyaratan aspal keras seperti tertera pada Tabel 15 masih dapat digunakan.

4. PENYUSUNAN SPESIFIKASI

4.1. Spesifikasi Lapis Permukaan AC 4.1.1. Stabilitas

Dari kajian Iiteratur terlihat besaran minimum nilai stabilitas yang digunakan selama ini, seperti tertera pada Tabel4, Tabel 8 (kepadatan LL: ringan, sedang, dan berat) serta Tabel 26 (kepadatan LL berat). Ketiga tabel tersebut pada dasarnya memakai nilai stabilitas yang praktis sama. Dengan asumsi bahwa spesifikasi lama tersebut dimaksudkan untuk kecepatan lalulintas sedang, maka besaran minimum nilai stabilitas (Tabel 32) adalah: a2 = 460 kg_, .b2 ,;, 650, kg, dan c2 = 750 kg.

Untuk kecepatan pelan (jalan dalam kota) dan kecepatan tinggi (jalan bebas hambatan), penambahan dan pengurangan sebesar 20 kg dari persyaratan nilai stabilitas kecepatan sedang dianggap cukup memadai. Maka besaran minimum nilai stabilitas lainnya (Tabel32) adalah: a1 = 480 kg, a3 = 440 kg, b1 = 670 kg, b3 = 630 kg, CJ = 770 kg, dan c3 = 730 kg.

4.1.2. Kelelehan

Nilai kelelehan yang selama ini digunakan tertera pada Tabel 4, Tabel 8, dan Tabel 26.

Seperti untuk stabilitas, ketiga tabel tersebut pada dasarnya memakai nilai kelelehan yang praktis sama. Dengan asumsi bahwa spesifikasi lama tersebut pada umumnya digunakan untuk jalan tanpa tahanan tepi (antar kota), maka besaran nilai kelelehan (Tabel 32) adalah: h1 = g1 = i 1 = 2 mm, g2 = 5 mm, h2 = 4.5 mm, dan i2 = 4 mm.

Untuk perkerasan dengan tahanan tepi (kerb), pengurangan nilai maksimum kelelehan sebesar 0.5 mm dianggap cukup memadai. Dengan demikian besaran nilai kelelehan lainnya (Tabel 32) adalah: d1 = e1 = f1 = 2 mm, d2 = 4.5 mm, e2 = 4 mm, dan f2 =3.5 mm.

4.1.3. Koeffisien Marshall

Spesifikasi yang lama tidak mencantumkan nilai koeffisien Marshall untuk lapis permukaan AC, melainkan hanya untuk lapis permukaan Hot Rolled, seperti tertera pada Tabel 11 dan Tabel 22. Selama ini persyaratan Koeffisien Marshall pada Tabel 11 dan Tabel22 digunakan untuk konstruksi HRS (< 5 em), dan kebanyakan lendutan pada jalan lama 2 mm. Dari Tabel 11 dan 22 terlihat bahwa persyaratan minimum koeffisien Marshall adalah 100 kg/mm (kepadatan LL ringan). Pada konstruksi AC diperkirakan persyaratan minimum tersebut bisa ditingkatkan menjadi 150 kg/mm untuk kepadatan LL ringan, 200 kg/mm untuk kepadatan LL sedang, dan 250 kg/mm untuk kepadatan LL berat.

Dari Tabel 11 dan 22 juga terlihat bahwa persyaratan maksimum koeffisien Marshall adalah 500 kg/mm. Persyaratan nilai maksimum ini adalah untuk membatasi kekakuan, dan dianggap berlaku juga untuk konstruksi AC. Dengan demikian besaran nilai koeffisien Marshall untuk overlay < 5 em dan lendutan 2 mm (Tabel 32) adalah: m 1 = 150 kg/mm, n1 = 200 kg/mm, 01 = 250 kg/mm, dan m2 = n2 = 02 = 500 kg/mm.

Untuk lendutan < 2 mrn maka batasan nilai kekakuan dapat diperlonggar melebihi 500 kg/mm, dalam hal ini batasan 550 kg/mm dianggap eukup memadai. Dengan demikian besaran nilai koeffisien Marshall untuk overlay < 5 em dan lendutan < 2 mm (Tabel 32) adalah: Pl = 150 kg/mm, ql = 200 kg/mm, q = 250 kg/mm, dan P2 = q2 = r2 = 550 kg/mm.

Untuk overlay 5 em, yang perlu di~atasi adalah nilai minimum, sehingga besaran nilai koeffisien Marshall (Tabel 32) adalah:

h

= 150 kg/mrn, kt = 200 kg/mm, dan It = 250 kg/mm.

4.1.4. Rongga Dalam Campuran

Nilai rongga dalam eampuran yang selama ini digunakan tertera pada Tabel 4, Tabel 8, dan Tabel 26. Pada tabel tersebut terlihat bahwa batas rongga dalam eampuran adalah 3%-6%. Nilai minimum 3% dibutuhkan agar bisa dihindari kerusakan perkerasan berupa "bleeding" atau deformasi plastis. Untuk kepadatan LL berat, khususnya pada keeepatan sedang/pelan, maka nilai minimum ini perlu diperbesar. Penelitian yang sudah dilakukan pada studi ini menunjukkan bahwa selisih antara pemadatan PRO dan Marshall 2x75 adalah sekitar 1.5%. Jika diasumsikan bahwa batas yang dianggap cukup aman agar tidak terjadi deformasi plastis adalah 2%, maka nilai rongga dalam eampuran untuk kepadatan LL berat pada kecepatr!l sedang adalah: 2% + 1.5% = 3.5%.

Pada kecepatan pelan, nilai minimum 4% untuk kepadatan LL berat, dan 3,5% untuk kepadatan LL sedang, dianggap cukup memadai.

Nilai maksimum 6% dibutuhkan agar bisa dihindari kerusakan perkerasan berupa oksidasilpenuaan aspal atau porous. Jika diasumsikan bahwa besaran 6% berlaku untuk kepadatan LL sedang dan kecepatan sedang, maka tambahan 0,5% untuk kepadatan LL berat dan pengurangan 0,5% untuk kepadatan LL ringan, dianggap cukup memadai.

Demikian juga tambahan 0,5% untuk kecepatan pelan, dan pengurangan 0,5% untuk kecepatan eepat dianggap cukup memadai.

Dengan memperhatikan pertimbangan di atas, maka besaran nilai rongga dalam campuran (Tabel32) adalah: s1 = s3 = s5 = t3 = t5 = v5 = 3%, t1 = v3 = 3.5%, v1 = 4%, s2 = t4 = v6 = 6%, s4 = ~ = 5.5%, s6 = 5%, t2 = v4 = 6.5%, dan v2 = 7%.

4. 1. 5. Rongga terisi as pal

Nilai rongga terisi aspal yang selama ini digunakan tertera pada Tabel 4, Tabel 8, dan Tabel 26. Dari ketiga tabel tersebut diperoleh nilai minimum batas atas adalah 85%

(rata-rata 80%). Batas bawah rongga terisi aspal diperlukan agar perkerasan cukup penneabel, sedangkan batas atas diperlukan agar tidak terjadi "bleeding".

Pemeriksaan dan pengamatan di lapangan pada jalan Kopo-Rancabali, yang diberi lapis tambahan 6 tahun lalu, dengan VFB rata-rata 65% dan hanya dilewatildibebani lalu lintas ringan tidak menunjukkan kerusakan retak.

Pada studi ini dianggap cukup beralasan jika besaran minimum 65% diberlakukan untuk kondisi pembebanan terbesar yaitu kepadatan LL berat dengan kecepatan pelan, sedangkan besaran maksimum 85% berlaku untuk kepadatan LL ringan dengan kecepatan cepat.

Selanjutnya dianggap cukup memadai jika dilakukan tambahan 1% dari besaran minimum secara kumulatif unt1,1k kepadatan LL sedang dan ringan, serta kecepatan sedang dan cepat. Demikian juga pengurangan 1% dari besaran maksimum secara kumulatif untuk kepadatan LL sedang dan be rat, serta kecepatan sedang dan pel an.

Dengan memperhatikan pertimbangan di atas maka besaran nilai rongga terisi aspal (Tabel 32) adalah: V] = w3 = x5 = 67%, v3 = w5 = 68%, v5 =69%, w1 = x3 = 66%, X]

= 65%, V2 = W4 = X6 = 83%, V4 = W6 = 84%, V6 =85%, W2 = X4 = 82%, X2 = 81%.

Dari uraian pada butir 4.1.1. sampai dengan 4.1.5. tersebut di atas, maka diperoleh spesifikasi campuran panas lapis pennukaan AC seperti tertera pada Tabel 33 berikut

Inl.

Tabel 33. Spesifikasi Lapis Pennukaan AC, enen uan a ar spa

P t Kd A 1

~L

Ringan Sedang Berat

J

Kecepatan Pelan Sedans Ct.'"J'III Pel an Sedans Cepat Pel an Sedang Cepat Stabilitas (kg) >480 >460 >440 >670 >650 >630 >170 >750 >730 Kelelehan (mm):

- Tahanan tepi (kerb) 2-4.5 2-4 2-3.5

- Tanpa tahanan tepi 2-5 2-4.5 2-4

Koef. Marshall

(kglmm): > 150 > 200 > 250

-Overlay 5 em

- Overlay < 5 em: I 50- 500 200- 500 250- 500

a. Lendutan 2mm !50- 550 200- 550 250- 550

b. Lendutan < 2 mm

Rongga dim camp (%) 3-6 3-5.5 3-5 3.5-6.5 3-6 3-5.5 4-7 3.5-6.5 3. 6 Rongga terisi aspal (%) 67-83 68-84 69-85 66-82 67-83 68-84 65-81 66-82 67-83

Jumlah tumbukan 2 X 35 2 X 50 2 X 75

Dokumen terkait