• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

NAMA ALAT UNIT/UKURAN/SATUAN KETERANGAN

3.4 Metode Kerja

3.4.1 Penentuan Stasiun Penelitian

Stasiun pengamatan akan diambil pada lokasi yang memiliki sebaran bulu babi yang dianggap berbeda. Pengambilan data pada masing-masing stasiun menggunakan transek kuadrat dengan bantuan transek garis (Gambar 7).

Gambar 7. Contoh skematik penempatan transek pada stasiun pengukuran struktur dan sebaran komunitas bulu babi pada stasiun 1

Pada setiap stasiun terdiri dari 3 transek garis sepanjang 50 meter yang dibentangkan tegak lurus kearah pantai. Pada setiap transek garis yang

dibentangkan terdapat 5 transek plot berukuran 1m x 1m. Jarak antara transek plot satu dengan yang lainnya, sekitar 10 meter (dimulai dari 10 meter pertama). Pada setiap stasiun jarak antara ketiga transek garis sejauh 20 meter.

3.4.2 Pengambilan Contoh Bulu babi

Pengambilan contoh bulu babi dilakukan pada sebuah transek plot berukuran 1m x 1m (Gambar 8). Transek plot tersebut diletakkan pada jarak 10 meter dari transek plot yang lain dalam sebuah transek garis.

Gambar 8. Transek plot pengambilan contoh bulu babi

Pengambilan contoh bulu babi dilakukan pada masing-masing transek plot pada tiap stasiun pengamatan, dengan mencatat keberadaan bulu babi dilihat dari jenis dan kepadatannya. Identifikasi bulu babi langsung dilakukan di lapang dengan berpedoman pada buku identifikasi Coral Reef Press (Colin dan Arneson, 1995).

3.4.3 Pengambilan Contoh Lamun

Pengambilan data lamun dilakukan pada masing-masing transek plot yang terdapat populasi atau komunitas bulu babi. Pengambilan data tersebut dilihat dalam transek plot yang berisi 25 bagian dengan mencatat jenis dan jumlah tegakan lamun (Gambar 9).

Identifikasi lamun langsung dilakukan di lapang dengan berpedoman pada buku identifikasi Seagrass-Watch (McKenzie et al., 2001).

Gambar 9. Transek plot pengambilan contoh lamun

3.4.4 Pengukuran Parameter Fisika – Kimiawi Perairan

Pengukuran dilakukan untuk mengetahui kondisi air yang bagus untuk habitat bulu babi. Pengukuran kualitas air dilakukan pada setiap stasiun

pengamatan yaitu sebanyak 60 kali pengambilan data. Disetiap stasiun diambil sebanyak 15 kali ulangan. Variabel kualitas air yang diukur serta alat yang digunakan untuk pengukuran dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Pengukuran parameter fisika – kimiawi perairan

Variabel Satuan Alat / Metode

Suhu oC Termometer

Salinitas ‰ Refraktometer

Kecerahan cm Secchi Disk

pH − pH Meter

3.4.5 Pengukuran Parameter Fisika – Kimiawi Substrat Dasar

Pengambilan contoh substrat bertujuan untuk mengetahui kandungan di dalam substrat tersebut. Pengambilan contoh substrat ini dilakukan pada masing- masing stasiun pengamatan. Analisis substrat dilakukan di Laboratorium

Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian IPB. Hasil substrat dari keempat stasiun pengamatan di analisis untuk melihat kandungannya. Kandungan yang dianalisis berupa fraksi substrat (pasir, debu, dan liat), pH substrat, kandungan C-organik dalam substrat, fosfat, dan Nitrat seperti terlihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Pengukuran parameter fisika – kimiawi substrat dasar

Variabel Satuan Alat / Metode

Fraksi Substrat % Labu ukur, Metode Pipet

C-organik % Buret, Titrasi

Fosfat ppm Spektrofotometer, Bray I dan Hcl 25 %

pH Substrat − pH Meter, Ekstrak H2

Nitrat

O dan KCl ppm Metode Kjeldahl

3.4.6 Pola Sebaran Bulu babi

Pola sebaran bulu babi dilihat dari setiap stasiun dimana transek garis dipasang. Dari transek garis berukuran 1m x 1m didata jumlah bulu babi dan jenis apa saja yang ada. Hal tersebut dibandingkan dengan hasil dari perolehan jumlah dan jenis bulu babi di transek plot berbeda pada keempat stasiun tersebut.

Setiap stasiun terdapat 3 transek garis yang berisikan 5 transek plot. Hasil data bulu babi dilihat dan dibandingkan antar tiap transek plot dalam satu transek garis. Setelah itu dilihat juga pola sebarannya pada ketiga transek garis tersebut dengan jumlah total transek plot 15 buah dalam satu stasiun.

Pola sebaran bulu babi tersebut juga dilihat untuk semua stasiun

pengamatan, untuk mengetahui bagaimana bulu babi tersebut menyebar di lautan dan untuk melihat stasiun berapa yang sebaran bulu babinya banyak, sedang dan sedikit.

3.5 Analisis Data

3.5.1 Komunitas Bulu babi

Komunitas bulu babi yang diukur adalah kepadatan bulu babi untuk mengetahui jumlah bulu babi dalam tiap plot pengamatan. Indeks yang diukur adalah indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi.

3.5.1.1 Kepadatan Bulu babi

Kepadatan merupakan jumlah jenis individu yang dibagi dengan luas total pengambilan contoh (English et al., 1994) dengan persamaan berikut :

……….. (1)

Keterangan :

: Kepadatan individu jenis ke-i (individu / m2 : Jumlah individu jenis ke-i yang diperoleh

)

A : Luas total area pengambilan contoh

3.5.1.2 Indeks keanekaragaman

Perhitungan keanekaragaman jenis ini dilakukan dengan menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner yang didasarkan pada logaritma basis dua (Wilhm dan Doris, 1986; Insafitri, 2010) dengan formula :

……..…….…… (2)

Keterangan :

H’ : Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner Pi

: Jumlah individu jenis ke-i : /N

N : Jumlah total individu seluruh jenis S : Jumlah jenis

Dengan kriteria :

H’ < 1 = Keanekaragaman jenis rendah 1 < H’ < 3 = Keanekaragaman jenis sedang H’ > 3 = Keanekaragaman jenis tinggi

3.5.1.3 Indeks Keseragaman

Nilai indeks keseragaman digunakan untuk menggambarkan komposisi individu tiap spesies yang terdapat dalam suatu komunitas, yang dihitung dengan menggunakan petunjuk Krebs (1989), sebagai berikut :

……… (3)

Keterangan :

E : Indeks keseragaman

H’ : Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner Hmax : log

S : Jumlah jenis S

Dengan kriteria : 0,00 < E ≤ 0,50 = Komunitas tertekan 0,50 < E≤ 0,75 = Komunitas labil 0,75 < E ≤ 1,00 = Komunitas stabil 3.5.1.4 Indeks Dominansi

Nilai indeks dominansi digunakan untuk menggambarkan ada tidaknya dominasi suatu jenis dalam suatu komunitas, yang dihitung dengan menggunakan indeks dominansi Simpson (Magurran, 1988), sebagai berikut :

…………...………. (4)

Keterangan :

C : Indeks dominansi Simpson : /N

: Jumlah individu jenis ke-i

N : Jumlah total individu seluruh jenis s : Jumlah jenis

Dengan kriteria :

0,00 < C ≤ 0,50 = Dominansi rendah 0,50 < C≤ 0,75 = Dominansi sedang 0,75 < C ≤ 1,00 = Dominansi tinggi

3.5.2 Komunitas Lamun

Komunitas lamun yang diukur dalam penelitian ini adalah kerapatan jenis lamun untuk mengetahui seberapa banyak jumlah lamun yang terdapat di tiap plot pengamatan. Selain itu juga mengukur persen penutupan lamun di tiap plot

pengamatan.

3.5.2.1 Kerapatan Jenis Lamun

Kerapatan jenis lamun adalah jumlah total individu atau tegakan lamun dalam suatu unit area yang dihitung berdasarkan petunjuk English et al. (1994) sebagai berikut :

……… (5)

Keterangan :

: Kerapatan jenis ke-i (ind/m2

: Jumlah total individu jenis ke-i (ind) )

A : Luas area total pengambilan contoh (m2)

3.5.2.2 Persentase Penutupan Lamun

Persentase penutupan lamun menyatakan luasan area yang tertutupi oleh lamun. Persentase penutupan lamun dihitung dengan menggunakan rumus berikut English et al. (1994) :

Keterangan :

C : Penutupan jenis Mi

: Frekuensi penutupan lamun

: Nilai tengah kelas penutupan lamun

: Jumlah frekuensi penutupan lamun

Nilai tengah kelas untuk menghitung persen penutupan dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Kelas penutupan yang digunakan untuk mencatat kelimpahan lamun Kelas Nilai Penutupan Lamun % Penutupan Nilai Tengah (Mi)

5 1/2 sampai semua 50-100 75 4 1/4 sampai 1/2 25-50 37,5 3 1/8 sampai 1/4 12,5-25 18,75 2 1/16 sampai 1/8 6,25-12,5 9,38 1 < 1/16 6,25 3,13 0 Kosong 0 0

3.5.3 Pola Sebaran Jenis Bulu babi

Penentuan pola sebaran jenis dari suatu organisme pada habitatnya dapat ditentukan dengan menggunakan Indeks Sebaran Morisita (Khouw, 2009). Rumus untuk menghitung Indeks Sebaran Morisita sebagai berikut :

………..………. (7)

Keterangan : Id

n

: Indeks Sebaran Morisita

: Jumlah individu di setiap kuadran = x : Jumlah kuadran pengambilan contoh

1 + x2

: Jumlah individu di setiap kuadran di kuadratkan = x + ….

Hasil perhitungan Indeks Sebaran Morisita dibandingkan dengan kriteria sebagai berikut :

Id

I

< 1 : Pola sebaran individu jenis bersifat seragam

d

I

= 1 : Pola sebaran individu jenis bersifat acak

d> 1 : Pola sebaran individu jenis bersifat mengelompok

3.5.4 Hubungan Antara Bulu babi dengan Karakteristik Habitat

Adanya interaksi suatu organisme dengan karakteristik habitat tertentu dapat dipakai sebagai indikasi hadir tidaknya organisme tersebut pada suatu tempat dengan kepadatan yang tertentu pula. Evaluasi keterkaitan antara komunitas lamun dan bulu babi di lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan Analisis Faktorial Koresponden (Correspondence Analysis) (Bengen, 2000), yang didasarkan pada matriks data i baris (jenis bulu babi) dan j kolom (jenis lamun) dimana jenis ke-i bulu babi untuk lamun jenis ke-j terdapat pada baris ke-i dan kolom ke-j. Matriks datanya merupakan tabel kontigensi jenis bulu babi vs jenis lamun.

Analisis Faktorial Koresponden ini tidak menghasilkan dua grafik yang independen tapi hanya satu grafik unik dimana baris dan kolom dipresentasekan pada grafik yang sama. Pengerjaan analisis koresponden menggunakan software Statistica 8.

17 Gambar 6. Peta lokasi penelitian bulu babi di habitat lamun Pulau Sapudi

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Fisika – Kimiawi Perairan

Berdasarkan hasil pengamatan parameter fisik dan kimia di keempat lokasi pengambilan data (Lampiran 2), didapatkan hasil seperti tercantum pada Tabel 6.

Tabel 6. Karakteristik fisika – kimiawi perairan di lokasi pengamatan (rata-rata dan simpangan baku)

Parameter Fisik Kimia

Nama Stasiun

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Suhu (oC) 28,93 ± 0,80 30,67 ± 0,49 30,47 ± 0,52 30 ± 0,38 Salinitas (‰) 31,07 ± 1,62 29,27 ± 0,46 29 ± 0 30 ± 0

pH 8,73 ± 0,09 8,6 ± 0 8,6 ± 0 8,6 ± 0

Kecerahan (%) 100 ± 0 100 ± 0 100 ± 0 100 ± 0

Kedalaman (cm) 29,93 ± 16,97 31,53 ± 9,45 14 ± 5,07 20,27 ± 7,69

Suhu pada keempat stasiun pengamatan memperlihatkan nilai kisaran rata- rata sebesar 28,93 ± 0,80 oC sampai dengan 30,67 ± 0,49 oC (Tabel 6). Stasiun 1 memiliki nilai rata-rata suhu terendah sebesar 28,93 ± 0,80 oC. Stasiun 2 memiliki nilai rata-rata suhu tertinggi sebesar 30,67 ± 0,49 oC. Organisme perairan

memiliki kisaran suhu tertentu yang disukai bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya. Dari hasil suhu yang diperoleh di keempat stasiun tersebut masih berada pada kisaran normal yang mendukung kehidupan organisme perairan sebesar 30 – 35 o

Menurut Nybakken (1988) suhu merupakan parameter fisik yang sangat mempengaruhi pola kehidupan organisme perairan, seperti distribusi, komposisi, kelimpahan dan mortalitas. Suhu juga akan menyebabkan kenaikan metabolisme organisme perairan, sehingga kebutuhan oksigen terlarut menjadi meningkat. Effendi (2003) menjelaskan bahwa peningkatan suhu perairan akan meningkatkan

kecepatan metabolisme tubuh organisme yang hidup didalamnya, sehingga konsumsi oksigen menjadi lebih tinggi. Peningkatan suhu perairan sebesar 10 o

Salinitas pada keempat stasiun pengamatan memperlihatkan kisaran nilai rata-rata sebesar 29 ± 0 ‰ sampai dengan 31,07 ± 1,62 ‰ (Tabel 6). Nilai rata- rata salinitas tertinggi terdapat pada stasiun 1 sebesar 31,07 ± 1,62 ‰. Stasiun 3 memiliki rata-rata salinitas terendah yang sama ditiap plot pengambilan data yaitu sebesar 29 ± 0 ‰. Stasiun 2 memiliki nilai rata-rata salinitas sebesar 29,27 ± 0,46 ‰. Stasiun 4 memiliki rata-rata nila salinitas sama ditiap plot pengambilan data sebesar 30 ± 0 ‰.

C, menyebabkan terjadinya peningkatan konsumsi oksigen oleh organisme akuatik sebanyak dua sampai tiga kali lipat (Effendi, 2003).

Salinitas dapat mempengaruhi penyebaran organisme benthos baik secara horizontal, maupun vertikal. Secara tidak langsung mengakibatkan adanya perubahan komposisi organisme dalam suatu ekosistem (Odum, 1993).

Gastropoda yang hidupnya berpindah-pindah seperti halnya bulu babi mempunyai kemampuan untuk bergerak guna menghindari salinitas yang terlalu rendah sehingga dapat bertahan dari kematian (Effendi, 2003). Menurut Hutabarat dan Evans (1985) kisaran salinitas yang masih mampu mendukung kehidupan

organisme perairan, khususnya fauna makrobenthos termasuk bulu babi adalah 15 ‰-35 ‰. Oleh karena itu kisaran salinitas yang terdapat pada ke empat stasiun pada penelitian ini masih tergolong normal.

Nilai pH pada lokasi pengamatan memiliki kisaran nilai rata-rata sebesar 8,6 ± 0 sampai dengan 8,73 ± 0,09 (Tabel 6). Nilai pH pada tiga stasiun

stasiun 3, dan stasiun 4. Stasiun 1 memiliki nilai kisaran pH tertinggi sebesar 8,73 ± 0,09. Kisaran nilai rata-rata pH pada ke empat stasiun tersebut memiliki nilai yang tinggi untuk biota perairan.

Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai kisaran pH sekitar 7 – 8,5 (Effendi, 2003). pH merupakan faktor pembatas bagi organisme yang hidup di suatu perairan, perairan dengan pH yang terlalu tinggi atau rendah akan mempengaruhi ketahanan hidup organisme yang hidup didalamnya (Odum, 1993).

Tingkat kecerahan perairan pada semua stasiun pengamatan adalah 100 % pada semua kedalaman (Tabel 6). Nilai rata-rata kedalaman pada semua stasiun pengamatan berkisar 14 ± 5,07 cm sampai dengan 31,53 ± 9,45 cm, hal ini berarti penetrasi cahaya dapat mencapai dasar perairan. Kondisi ini memungkinkan terjadinya fotosintesis yang baik untuk lamun sehingga akan mendukung kehidupan bulu babi sebagai salah satu avertebrata yang memakan daun lamun secara langsung (McRoy dan Helfferich, 1980).

Stasiun 2 memiliki nilai rata-rata kedalaman tertinggi sebesar 31,53 ± 9,45 cm. Stasiun 3 memiliki nilai rata-rata kedalaman terendah sebesar 14 ± 5,07 cm. Kedalaman suatu perairan akan membatasi kelarutan oksigen yang dibutuhkan untuk respirasi (Nybakken, 1988). Menurut Aziz (1993) bulu babi dapat ditemukan mulai dari daerah intertidal sampai ke kedalaman 10 m, bahkan ditemukan juga bulu babi hingga kedalaman 5000 m (Suwignyo et al. 2005).

4.2 Karakteristik Fisika – Kimiawi Substrat Dasar

Karakteristik fisika dan kimiawi substrat dasar di setiap stasiun pengamatan disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Karakteristik fisika – kimiawi substrat di lokasi pengamatan

Nama Stasiun pH Walkley & Black Bray I HCl 25 % Fraksi NO3 HR2RO KCl

C-org P Pasir Debu Liat

(ppm) (%) (ppm) (%) Stasiun 1 7,5 6,8 0,4 3,3 31,8 92,29 2,31 5,4 310 Stasiun 2 7,5 6,8 0,48 3,5 33,4 93,77 2,11 4,12 616,9 Stasiun 3 7,6 6,9 0,32 3,5 35,1 94,94 1,7 3,36 620 Stasiun 4 7,6 6,9 0,08 3 30,1 95,99 1,14 2,87 616,9

Fraksi substrat yang dihasilkan ada 3 yaitu pasir, debu, dan liat. Fraksi pasir mendominasi ke empat stasiun pengamatan, diikuti oleh fraksi liat dan yang terkecil adalah nilai dari fraksi debu (Tabel 7). Fraksi pasir stasiun 4 memiliki nilai fraksi tertinggi sebesar 95,99 %, dan fraksi pasir terkecil terdapat pada stasiun 1 sebesar 92,29 %. Untuk stasiun 2 fraksi pasir sebesar 93,77 % dan stasiun 3 sebesar 95,99 %. Fraksi liat memiliki nilai semakin kecil dari stasiun 1 ke stasiun 4. Stasiun 1 memiliki nilai sebesar 5,40 %, stasiun 2 sebesar 4,12 %, stasiun 3 sebesar 3,36 %, dan stasiun 4 sebesar 2,87. Sedangkan untuk fraksi debu stasiun 1 memiliki nilai sebesar 2,31 %, stasiun 2 sebesar 2,11 %, stasiun 3

sebesar 1,70 %, dan stasiun 4 sebesar 1,14 %.

Bulu babi merupakan biota yang menyukai substrat yang agak keras, dimana substrat padang lamun campuran terutama terdiri dari campuran pasir dan pecahan karang (Dobo, 2009). Pada umumnya masing-masing jenis dari bulu babi memiliki habitat yang spesifik, seperti Tripneustes gratilla sering ditemukan di daerah berpasir atau pasir berlumpur yang banyak ditumbuhi lamun dengan kedalaman antara 0,5 – 20 m (Radjab, 2001).

Hasil pengukuran nitrat pada setiap stasiun pengamatan (Tabel 7) nilai nitrat tertinggi terdapat pada stasiun 3 sebesar 620 ppm, dan terendah pada stasiun 1 sebesar 310 ppm. Untuk stasiun 2 dan stasiun 4 nilai kandungan nitratnya sama sebesar 616,9 ppm. Nilai fosfat tertinggi terdapat pada stasiun 3 sebesar 35,10 ppm, dan terendah pada stasiun 4 sebesar 30,10 ppm. Nilai nitrat pada substrat di lokasi penelitian tinggi, hal tersebut dikarenakan substratnya kaya akan bahan organik yang menstimulir pertumbuhan alga dan tumbuhan air secara pesat. Semakin tinggi kandungan bahan organik dalam substrat maka nilai nitratnya akan semakin tinggi. Sampai saat ini belum ada standar baku yang pasti mengenai nitrat di substrat.

Nitrat merupakan bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan alga (Effendi, 2003). Fosfat

merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan dan juga merupakan unsur yang esensial bagi tumbuhan tingkat tinggi dan alga, sehingga unsur ini menjadi faktor pembatas bagi tumbuhan dan alga akuatik serta sangat mempengaruhi tingkat produktivitas perairan (Effendi, 2003). Oleh karena itu nitrat dan fosfat dibutuhkan oleh organisme perairan termasuk lamun dan bulu babi untuk kelangsungan hidupnya.

Hasil dari analisis data substrat juga menghasilkan kandungan C organik dan pH substrat. Hasil C organik pada keempat lokasi penelitian (Tabel 7) memiliki nilai tertinggi pada stasiun 2 sebesar 0,48 % dan terkecil pada stasiun 4 sebesar 0,08 %. Nilai pH substrat yang menggunakan H2O tertinggi terdapat pada stasiun 3 dan stasiun 4 dengan nilai yang sama sebesar 7,60 dan terkecil terdapat pada stasiun 1 dan stasiun 2 dengan nilai yang sama juga sebesar 7,50. Nilai pH

yang menggunakan KCl tertinggi terdapat pada stasiun 3 dan stasiun 4 dengan nilai sama sebesar 6,90 dan terkecil terdapat pada stasiun 1 dan stasiun 2 dengan nilai yang sama juga sebesar 6,80.

C organik di perairan berasal dari tumbuhan atau biota akuatik, baik yang hidup atau mati dan menjadi detritus. Mikroba memanfaatkan bahan organik sebagai sumber makanan dari suatu rangkaian reaksi biokimia yang kompleks. Pada reaksi katabolisme, makrobenthos merombak bahan organik dan dipecah untuk menghasilkan energi berupa makanan yang digunakan untuk

mempertahankan kelangsungan hidup dan pertumbuhannya (Effendi, 2003). Nilai pH substrat yang semakin tinggi akan menaikkan nilai alkalinitas (basa) dan semakin rendah kadar karbondioksida bebas, sedangkan larutan yang bersifat asam (pH rendah) bersifat korosif (Effendi, 2003). Oleh karena itu C organik dan pH dalam substrat perairan diperlukan oleh organisme akuatik untuk

kelangsungan hidupnya.

4.3. Kepadatan Bulu babi

Bulu babi yang dijumpai di Pulau Sapudi terdiri dari 8 jenis, yaitu Echinothrix diadema, Diadema setosum, Diadema savignyi, dan Echinothrix calamaris dari famili Diadematidae, Mespilia globulus dan Temnopleurus alexandri dari famili Temnopleuridae, Tripneustes gratilla dari famili

Toxopneustidae, dan Echinometra mathaei dari famili Echinometridae. Nama lokal bulu babi di Pulau Sapudi adalah ka’sekka’ (Lampiran 3).Kepadatan bulu babi yang dijumpai pada tiap stasiun pengamatan didominasi oleh jenis bulu babi Diadema setosum dengan kepadatan rata-rata 14,51 ± 10,83 dan Echinometra mathaei dengan kepadatan rata-rata 7,56 ± 7,14 (Gambar 10).

Gambar 10. Kepadatan (rata-rata dan simpangan baku) bulu babi pada tiap stasiun pengamatan, Ed=Echinothrix diadema, Dse=Diadema setosum,

Dsa=Diadema savignyi, Ec=Echinothrix calamaris,

Em=Echinometra mathaei, Tg=Tripneustes gratilla, Mg=Mespilia globulus, dan Ta=Temnopleurus alexandri

Kepadatan rata-rata bulu babi tertinggi pada stasiun 1 ditemukan pada jenis Echinometra mathaei sebesar 5,08 ± 3,26 ind/m2 dan terendah pada jenis Tripneustes gratilla sebesar 2,25 ± 1,16 ind/m2. Kepadatan rata-rata bulu babi tertinggi pada stasiun 2 ditemukan pada jenis Diadema setosum sebesar 12,70 ± 12,48 ind/m2 dan terendah pada jenis Echinothrix calamaris sebesar 1,33 ± 0,58 ind/m2. Kepadatan rata-rata bulu babi tertinggi pada stasiun 3 ditemukan pada jenis Echinometra mathaei sebesar 7,56 ± 7,14 ind/m2 dan terendah pada jenis Echinothrix diadema sebesar 1,00 ± 0,00 ind/m2. Kepadatan rata-rata bulu babi tertinggi pada stasiun 4 ditemukan pada jenis Diadema setosum sebesar 14,51 ± 10,83 ind/m2 dan terendah pada jenis Echinothrix calamaris sebesar 1,50 ± 0,71 ind/m2 (Lampiran 4). 0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00 16,00 18,00 Ed Dse Dsa Ec Em Tg Mg Ta K e pa da ta n B ul u B a bi ( ind/ m ² )

Jenis Bulu Babi

Stasiun 1

Stasiun 2

Stasiun 3

Kepadatan rata-rata jenis bulu babi Echinothrix diadema di Pulau Sapudi berkisar antara 1,00 ± 0,00 ind/m2 sampai dengan 3,00 ± 2,00 ind/m2, kepadatan tertinggi berada pada stasiun 1 (Lampiran 5). Kepadatan jenis bulu babi Diadema setosum di Pulau Sapudi berkisar antara 2,67 ± 2,08 ind/m2 sampai dengan 14,51 ± 10,83 ind/m2, kepadatan tertinggi berada pada stasiun 4. Kepadatan jenis bulu babi Diadema savignyi di Pulau Sapudi berkisar antara 2,88 ± 1,13 ind/m2 sampai dengan 4,50 ± 2,07 ind/m2, kepadatan tertinggi berada pada stasiun 1. Kepadatan jenis bulu babi Echinothrix calamaris di Pulau Sapudi berkisar antara 1,50 ± 0,71 ind/m2 sampai dengan 1,33 ± 0,58 ind/m2, kepadatan tertinggi berada pada stasiun 2. Kepadatan jenis bulu babi Echinometra mathaei di Pulau Sapudi berkisar antara 2,50 ± 0,71 ind/m2 sampai dengan 7,56 ± 7,14 ind/m2, kepadatan tertinggi berada pada stasiun 3. Kepadatan jenis bulu babi Tripneustes gratilla di Pulau Sapudi berkisar antara 1,50 ± 0,58 ind/m2 sampai dengan 2,44 ± 1,24 ind/m2, kepadatan tertinggi berada pada stasiun 2. Kepadatan jenis bulu babi Mespilia globulus di Pulau Sapudi berkisar antara 1,80 ± 0,45 ind/m2 sampai dengan 3,14 ± 1,57 ind/m2, kepadatan tertinggi berada pada stasiun 1. Kepadatan jenis bulu babi Temnopleurus alexandri di Pulau Sapudi sebesar 2,00 ± 0,82 ind/m2

(Setiawan, 2010).

. Tingginya kepadatan Diadema setosum di Pulau Sapudi ini diduga berkaitan dengan habitatnya yang cocok yang didominasi oleh karang mati dan rubble dengan substratnya yang agak keras seperti pasir kasar. Begitupun makanan yang mendukung seperti alga bentik yang terdapat di karang mati dan rubble

4.4 Indeks Keanekaragaman, Keseragaman, dan Dominansi Bulu babi Dari hasil perhitungan, keanekaragaman bulu babi pada keempat lokasi penelitian umumnya memiliki nilai keanekaragaman rendah yaitu H’ < 1

(Lampiran 6), hal ini terjadi karena jumlah jenis dari bulu babi yang relatif sedikit dan proporsi jumlah kepadatan yang sedikit yang menyusun komunitas.

Keanekaragaman bulu babi pada lokasi pengamatan berkisar antara 0,42 – 0,73 (Gambar 11).

Gambar 11. Indeks keanekaragaman (H’), keseragaman (E), dan dominansi bulu babi (C)

Nilai indeks keseragaman pada lokasi pengamatan berkisar antara 0,47 – 0,80. Stasiun 1 (0,80) memiliki komunitas stabil, stasiun 2 (0,54) dan stasiun 3 (0,56) memiliki komunitas labil, dan stasiun 4 (0,47) berada pada komunitas tertekan. Nilai indeks dominansi pada lokasi pengamatan berkisar antara 0,21 –

0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 0,80 0,90

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4

Inde ks H ' , E da n C H' E C

0,53. Stasiun 1 (0,21), stasiun 2 (0,44), dan stasiun 3 (0,46) memiliki dominansi rendah dengan kriteria 0,00 < C ≤ 0,50, sedangkan untuk stasiun 4 (0,53) memiliki dominansi sedang dengan kriteria 0,50 < C ≤ 0,75 (Magurran, 1988). Hal ini menandakan bahwa komunitas bulu babi di Pulau Sapudi berada dalam kondisi yang relatif stabil dengan dominansi yang rendah (Dobo, 2009).

4.5 Vegetasi Lamun

Komunitas lamun biasanya terdapat dalam area yang luas dan rapat.Vegetasi lamun di Pulau Sapudi termasuk vegetasi campuran (mixed seagrass beds), hal ini terlihat adanya asosiasi antara dua atau tiga jenis lamun pada beberapa transek kuadrat pengambilan data. Padang lamun di perairan Indonesia umumnya termasuk padang lamun vegetasi campuran (Nienhuis et al. 1989).

Lamun yang ditemukan di Pulau Sapudi terdiri dari 5 jenis (Lampiran 7) yaitu Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis (Famili

Hydrocharitaceae), Syringodium isoetifolium dan Cymodocea rotundata (Famili Potamogetonaceae). Hingga kini, tercatat ada kurang lebih 12 jenis lamun di perairan Indonesia, yang termasuk dalam 7 genus dan 2 famili (Azkab, 2006). Jenis lamun Thalassia hemprichii paling mendominasi kerapatan lamun di stasiun 1 dan stasiun 3 (Gambar 12). Kerapatan rata-rata lamun tertinggi pada stasiun 1 ditemukan pada jenis Thalassia hemprichii sebesar 142,82 ± 96,95 ind/m2 dan terendah pada jenis Cymodocea rotundata sebesar 56,50 ± 0,71 ind/m2.

Gambar 12. Kerapatan (rata-rata dan simpangan baku) jenis lamun pada tiap stasiun pengamatan, Th=Thalassia hemprichii, Ea=Enhalus

acoroides, Si=Syringodium isoetifolium, Cr=Cymodocea rotundata, Ho=Halophila ovalis.

Kerapatan rata-rata lamun tertinggi pada stasiun 2 ditemukan pada jenis Enhalus acoroides sebesar 89,50 ± 60,10 ind/m2. Kerapatan rata-rata lamun tertinggi pada stasiun 3 ditemukan pada jenis Thalassia hemprichii sebesar 99,85 ± 50,84 ind/m2dan terendah pada jenis Enhalus acoroides sebesar 24,13 ± 11,98 ind/m2. Kerapatan rata-rata lamun tertinggi pada stasiun 4 ditemukan pada jenis Syringodium isoetifolium sebesar 132,67 ± 71,51 ind/m2 dan terendah pada jenis Enhalus acoroides sebesar 35,93 ± 22,49 ind/m2

Kerapatan rata-rata jenis lamun Thalassia hemprichii di Pulau Sapudi berkisar antara 87,14 ± 20,82 ind/m

.

2

sampai dengan 142,82 ± 96,95 ind/m2, kerapatan tertinggi berada pada stasiun 1 (Lampiran 8). Kerapatan rata-rata jenis lamun Enhalus acoroides di Pulau Sapudi berkisar antara 24,13 ± 11,98 ind/m2 sampai dengan 89,50 ± 60,10 ind/m2, kerapatan tertinggi berada pada stasiun 2. Kerapatan rata-rata jenis lamun Syringodium isoetifolium di Pulau Sapudi berkisar

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 160,00 180,00 Th Ea Si Cr Ho K e r a pa ta n J e ni s L a m un (i nd/ m ²) Jenis Lamun Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4

antara 67,00 ± 1,41 ind/m2 sampai dengan 132,67 ± 71,51 ind/m2, kerapatan tertinggi berada pada stasiun 4. Kerapatan rata-rata jenis lamun Cymodocea

Dokumen terkait