C- org P Pasir Debu Liat
4.5 Vegetasi Lamun
Komunitas lamun biasanya terdapat dalam area yang luas dan rapat.Vegetasi lamun di Pulau Sapudi termasuk vegetasi campuran (mixed seagrass beds), hal ini terlihat adanya asosiasi antara dua atau tiga jenis lamun pada beberapa transek kuadrat pengambilan data. Padang lamun di perairan Indonesia umumnya termasuk padang lamun vegetasi campuran (Nienhuis et al. 1989).
Lamun yang ditemukan di Pulau Sapudi terdiri dari 5 jenis (Lampiran 7) yaitu Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis (Famili
Hydrocharitaceae), Syringodium isoetifolium dan Cymodocea rotundata (Famili Potamogetonaceae). Hingga kini, tercatat ada kurang lebih 12 jenis lamun di perairan Indonesia, yang termasuk dalam 7 genus dan 2 famili (Azkab, 2006). Jenis lamun Thalassia hemprichii paling mendominasi kerapatan lamun di stasiun 1 dan stasiun 3 (Gambar 12). Kerapatan rata-rata lamun tertinggi pada stasiun 1 ditemukan pada jenis Thalassia hemprichii sebesar 142,82 ± 96,95 ind/m2 dan terendah pada jenis Cymodocea rotundata sebesar 56,50 ± 0,71 ind/m2.
Gambar 12. Kerapatan (rata-rata dan simpangan baku) jenis lamun pada tiap stasiun pengamatan, Th=Thalassia hemprichii, Ea=Enhalus
acoroides, Si=Syringodium isoetifolium, Cr=Cymodocea rotundata, Ho=Halophila ovalis.
Kerapatan rata-rata lamun tertinggi pada stasiun 2 ditemukan pada jenis Enhalus acoroides sebesar 89,50 ± 60,10 ind/m2. Kerapatan rata-rata lamun tertinggi pada stasiun 3 ditemukan pada jenis Thalassia hemprichii sebesar 99,85 ± 50,84 ind/m2dan terendah pada jenis Enhalus acoroides sebesar 24,13 ± 11,98 ind/m2. Kerapatan rata-rata lamun tertinggi pada stasiun 4 ditemukan pada jenis Syringodium isoetifolium sebesar 132,67 ± 71,51 ind/m2 dan terendah pada jenis Enhalus acoroides sebesar 35,93 ± 22,49 ind/m2
Kerapatan rata-rata jenis lamun Thalassia hemprichii di Pulau Sapudi berkisar antara 87,14 ± 20,82 ind/m
.
2
sampai dengan 142,82 ± 96,95 ind/m2, kerapatan tertinggi berada pada stasiun 1 (Lampiran 8). Kerapatan rata-rata jenis lamun Enhalus acoroides di Pulau Sapudi berkisar antara 24,13 ± 11,98 ind/m2 sampai dengan 89,50 ± 60,10 ind/m2, kerapatan tertinggi berada pada stasiun 2. Kerapatan rata-rata jenis lamun Syringodium isoetifolium di Pulau Sapudi berkisar
0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 160,00 180,00 Th Ea Si Cr Ho K e r a pa ta n J e ni s L a m un (i nd/ m ²) Jenis Lamun Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4
antara 67,00 ± 1,41 ind/m2 sampai dengan 132,67 ± 71,51 ind/m2, kerapatan tertinggi berada pada stasiun 4. Kerapatan rata-rata jenis lamun Cymodocea rotundata di Pulau Sapudi berkisar antara 56,50 ± 0,71 ind/m2 sampai dengan 86,50 ± 14,85 ind/m2, kerapatan tertinggi berada pada stasiun 3. Kerapatan rata- rata jenis lamun Halophila ovalis di Pulau Sapudi berkisar antara 48,00 ± 16,97 ind/m2 sampai dengan 53,00 ± 8,49 ind/m2
Kerapatan rata-rata lamun terendah ditemukan di stasiun 2, hal ini diduga karena sedikitnya jenis lamun yang terukur pada plot pengambilan data di stasiun tersebut. Pada stasiun 2 ditemukan satu jenis lamun saja yaitu jenis lamun
Enhalus acoroides dengan kerapatan rata-rata sebesar 89,50 ± 60,10 ind/m , kerapatan tertinggi berada pada stasiun 3.
2
Persentase penutupan lamun di Pulau Sapudi berkisar antara 26,19 % sampai dengan 32,17 %. Persentase penutupan lamun tertinggi di setiap stasiun pengamatan ditemukan pada stasiun 1, sedangkan persentase penutupan lamun terendah ditemukan pada stasiun 2 (Gambar 13).
. Sedikitnya jenis lamun yang ditemukan pada stasiun 2 juga disebabkan oleh jenis substratnya. Lokasi stasiun 2 didominasi oleh substrat hamparan karang mati, dan rubble yang memungkinkan lamun sulit tumbuh. Menurut Kiswara (1994) lamun dapat tumbuh pada dasar lumpur, pasir, dan kerikil karang diantara karang hidup, cekungan batu karang maupun pada dasar dan lumpur di bawah naungan bakau. Hal lain bisa juga disebabkan karena lamun tidak terlindung pada saat air surut (Dahuri et al, 1996).
Gambar 13. Persentase penutupan lamun di Pulau Sapudi, Th=Thalassia hemprichii, Ea=Enhalus acoroides, Si=Syringodium isoetifolium, Cr=Cymodocea rotundata, Ho=Halophila ovalis.
Persentase penutupan lamun pada stasiun 1 sebesar 32,17 % (Lampiran 9), dan jenis lamun yang mendominasi adalah jenis lamun Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata. Persentase penutupan lamun pada stasiun 2 sebesar 26,19 %, dan jenis lamun yang mendominasi adalah jenis lamun Enhalus acoroides. Persentase penutupan lamun pada stasiun 3 sebesar 29,29 %, dan jenis lamun yang mendominasi adalah jenis lamun Halophila ovalis dan Cymodocea
rotundata. Persentase penutupan lamun pada stasiun 4 sebesar 30,25 %, dan jenis lamun yang mendominasi adalah jenis lamun Cymodocea rotundata dan
Syringodium isoetifolium. Rata-rata kerapatan dan persentase penutupan lamun terendah ditemukan pada stasiun 2, hal ini dimungkinkan lamun kurang tumbuh subur pada lokasi tersebut.
0 5 10 15 20 25 30 35
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4
P e r se nt a se P e nut upa n L a m un (% ) Nama Stasiun
Kerapatan lamun di Pulau Sapudi umumnya didominasi oleh jenis lamun Thalassia hemprichii,Enhalus acoroides dan Cymodocea rotundata, sedangkan persentase penutupan lamun didominasi oleh jenis lamun Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata dan Syringodium isoetifolium (Gambar 12 & 13).
Kerapatan dan persentase penutupan Thalassia hemprichii, bernilai tinggi berkaitan dengan kemampuan adaptasinya terhadap tipe substrat yang ada di Pulau Sapudi. Menurut Hartog (1970) Thalassia hemprichii mampu hidup dalam semua jenis substrat, bervariasi dari pecahan karang hingga substrat lunak.
Enhalus acoroides juga merupakan jenis lamun yang mampu beradaptasi terhadap semua jenis substrat di Pulau Sapudi, namun lamun jenis ini memiliki kerapatan dan penutupan yang lebih rendah dari pada Thalassia hemprichii, hal tersebut dimungkinkan karena kondisi perairan Pulau Sapudi yang relatif dangkal pada saat surut, akibatnya jenis ini hanya tersebar pada padang lamun yang pada saat surut masih terendam air.
Secara umum jenis lamun Syringodium isoetifolium memiliki nilai kerapatan yang lebih rendah dibanding Thalassia hemprichii dan Enhalus
acoroides. Namun jenis lamun ini memiliki kerapatan dan persen penutupan yang cukup tinggi pada stasiun 4. Pada stasiun 1 hanya sedikit ditemukan jenis lamun ini. Jenis lamun Syringodium isoetifolium pada stasiun 2 dan stasiun 3 tidak ditemukan. Kondisi ini terjadi karena jenis lamun Syringodium isoetifolium hanya mampu mentoleransi kekeringan dalam waktu singkat (Phillips dan Menez, 1998) dan biasanya ditemukan di antara lamun lain yang dominan (Hartog, 1970), hal tersebut bisa terlihat pada stasiun 4 yaitu Syringodium isoetifolium dapat
ditemukan dengan persen penutupan yang tinggi bersama Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, dan Halophila ovalis.
Menurut Tomascik et al. ( 1997) jenis lamun Cymodocea rotundata mampu hidup pada daerah dangkal yang tertutup karang dan mempunyai toleransi yang tinggi pada daerah tidak terendam air (Tomascik et al., 1997). Oleh karena itu lamun jenis ini memiliki kerapatan dan penutupan yang cukup tinggi. Jenis lamun Halophila ovalis memiliki kerapatan yang rendah dan hanya ditemukan pada stasiun 3 dan 4, namun lamun jenis ini memiliki nilai persen penutupan yang cukup tinggi dibandingkan dengan jenis lamun Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides. Jenis lamun ini ditemukan secara bersama-sama dengan Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, dan Syringodium
isoetifolium. Menurut Nienhuis et al (1989) jenis lamun Halophila ovalis sering terlihat sebagai jenis pembuka yang mendiami substrat pasir.
4.6 Pola Sebaran Jenis Bulu babi
Kondisi lingkungan perairan pada saat pengamatan sangat mempengaruhi pola sebaran jenis di suatu perairan. Penentuan sebaran jenis dengan
menggunakan Indeks Morisita dimaksudkan untuk mengetahui sebaran jenis bulu babi yang ada di Pulau Sapudi membentuk pola seragam, mengelompok, atau acak. Jenis dengan pola sebaran seragam sangat jarang ditemukan di alam meskipun bukan tidak mungkin hal tersebut dapat terjadi. Berdasarkan hasil pengukuran Indeks Sebaran Morisita diketahui bahwa pola sebaran jenis bulu babi di Pulau Sapudi Madura memiliki pola sebaran jenis yang bersifat mengelompok dimana Id > 1 seperti tercantum pada Tabel 8 (Lampiran 10).
Tabel 8. Pola sebaran bulu babi di Pulau Sapudi Madura
Jenis Echinoidea N ∑x ∑x2 Id Pola Sebaran
Echinothrix diadema 60 20 76 8,84 Mengelompok Diadema setosum 60 249 5109 4,72 Mengelompok Diadema savignyi 60 50 218 4,11 Mengelompok Echinothrix calamaris 60 7 11 5,71 Mengelompok Echinometra mathaei 60 134 1362 4,13 Mengelompok Tripneustes gratilla 60 55 145 1,82 Mengelompok Mespilia globulus 60 67 215 2,01 Mengelompok Temnopleurus alexandri 60 8 18 10,71 Mengelompok
Pola sebaran jenis ini sama di semua stasiun pengamatan dengan nilai Id berkisar antara 1,82 – 10,71. Menurut Aziz (1994) bulu babi di padang lamun dapat hidup soliter atau hidup mengelompok tergantung pada jenis dan habitatnya.
Menurut Aziz (1987) bulu babi baik yang menyendiri ataupun mengelompok, hidup bebas mencari makan secara aktif, berpindah dari satu rumpun ke rumpun alga lainnya. Aktifitas makan ini terutama dilakukan pada malam hari. Kebiasaan bulu babi jenis tertentu untuk hidup mengelompok seperti pada marga Diadema dan Strongylocentrotus ternyata mempunyai pengaruh negatif terhadap komunitas algae dan lamun (Aziz, 1987).
Ketersedian makanan dan faktor habitat sangat mempengaruhi penyebaran lokal bulu babi (Beer, 1990). Pada umumnya setiap jenis bulu babi memiliki habitat yang spesifik, seperti Tripneustes gratilla sering ditemukan di daerah berpasir atau berlumpur yang banyak ditumbuhi lamun sebagai makanannya. Jenis ini merupakan grazer penting di padang lamun (Aziz, 1994). Pola sebaran jenis mengelompok ini berarti suatu individu jenis hanya dapat ditemukan di tempat tertentu sesuai dengan preferensi habitatnya (Aziz, 1994).