• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi entitas (daerah/masyarakat) dimasa mendatang. Isu strategis juga diartikan sebagai suatu kondisi/kejadian penting/keadaan yang apabila tidak diantisifasi, akan menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya akan menghilangkan peluang apabila tidak dimanfaatkan. Adapun isu-isu strategis pembangunan perikanan, kelautan dan pertanian adalah sebagai berikut

3.6.1. Bidang Perikanan dan Kelautan

a. Wilayah Kota Bontang dengan luas 49.757 ha terdiri dari wilayah perairan laut (70%) dan wilayah daratan (30%). Kondisi ini memberikan pertimbangan penting untuk melakukan upaya penggalian potensi dengan tetap memperhatikan kelestarian ekosistem yang ada. Luas wilayah perairan laut yang masih dapat dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan sebesar 9.384 ha (26,83%). Wilayah perairan laut sebagian besar dimanfaatkan untuk alur pelayaran swasta, rakyat maupun alur pelayaran nasional.

b. Pemanfaatan sumberdaya ikan dapat dilakukan melalui kegiatan penangkapan dan budidaya. Beberapa komoditi perikanan unggulan yang memiliki nilai ekonomis penting di pasar regional, nasional dan internasional meliputi kepiting, ikan kerapu, kakap, lobster, teripang, rumput laut dan jenis ikan air tawar. Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya ikan tersebut dapat memenuhi kebutuhan ikan yang tinggi khususnya bagi masyarakat Bontang. Komoditi rumput laut

merupakan komoditi dominan yang diusahakan oleh masyarakat pembudidaya ikan, dengan jumlah produksi pada tahun 2010 sebesar 2.945,9 ton berat kering c. Ikan-ikan hasil tangkapan hasil tangkapan nelayan hanya memenuhi kebutuhan lokal sedangkan kebutuhan pasar regional dan internasional hanya dapat dipenuhi dalam jumlah kecil. Tingginya daya serap produk perikanan di kota ini tidak terlepas dari tingginya konsumsi ikan per kapita yang terus meningkat sejak tahun 2006 (31,08 kg/kapita/tahun) hingga 2010 (58,03 kg/kapita/tahun). Angka ini melampaui target daerah (30 kg/kapita/tahun) dan nasional (26 kg/kapita/tahun). Dengan demikian pengembangan kegiatan perikanan mempunyai peluang yang sangat besar mengingat kebutuhan konsumsi ikan baik dalam negeri maupun luar negeri terus mengalami peningkatan

d. Pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan belum optimal dan masih tergantung pada alam. Dalam rangka peningkatan pendapatan nelayan tangkap di masa mendatang, maka metode penangkapan yang selama ini bersifat tradisional harus dirubah dengan mengembangkan teknologi modern sehingga wilayah penangkapannya bukan hanya di perairan Bontang. Selat Makassar dapat memberikan hasil perikanan yang lebih besar pada nelayan karena merupakan lalu lintas migrasi ikan sehingga potensi ikannya cukup besar.

e. Upaya peningkatan mutu dan diversifikasi hasil olahan perikanan melalui pendidikan dan pelatihan terhadap pelaku usaha (nelayan dan pembudidaya) harus dilaksanakan secara maksimal oleh Dinas Perikanan, Kelautan dan Pertanian. Hal ini penting untuk meningkatkan nilai tambah terhadap hasil olahan perikanan sehingga mampu mendorong kenaikan pendapatan pengolah hasil perikanan.

f. Target Indonesia sebagai penghasil produk perikanan dan kelautan terbesar 2010 -2015, dengan capaian peningkatan produksi budidaya dan tangkap 353%. Wilayah Kota Bontang memiliki peluang untuk memberikan kontribusi pencapaian target tersebut selama periode 2010 - 2015. Sebagai gambaran, sejak tahun 2006 – 2010, realisasi kuantitas produksi perikanan berada pada kecenderungan yang meningkat. Secara aggreggat, realisasi produksi perikanan tangkap dan budidaya pada periode tersebut mencapai 27.972,7 ton (104,49%

dari target produksi yang ditetapkan : 26.771 ton), sebagaimana ditampilkan pada Tabel 2.3di atas tentang Indikator Pencapaian Kinerja DPKP Kota Bontang. g. Peluang pasar internasonal produk perikanan dan kelautan mensyaratkan mutu,

keamanan pangan dan aspek lingkungan.

h. Usaha budidaya perikanan umumnya dilakukan pada skala kecil dengan tingkat pendidikan dan ketrampilan pengelolaan yang relatif masih berada pada skala subsisten dengan modal yang terbatas

i. Institusi permodalan umumnya kurang tertarik pada sector perikanan karena usaha perikanan memiliki risiko yang cukup besar. Hal ini masih ditambah dengan belum adanya skema permodalan dan pola kemitraan usaha yang tepat antara usaha perikanan rakyat dengan usaha besar/menengah di bidang perikanan

j. Lemahnya kelembagaan perikanan pendukung dalam hal penyediaan sarana produksi, permodalan, penerapan teknologi dan pemasaran

k. Lemahnya pelaksanaan sistem MSC (monitoring, control dan surveillance) terhadap pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan kelautan

3.6.2. Bidang Pertanian Tanaman Pangan

Potensi pertanian tanaman pangan Kota Bontang relatif kurang menonjol mengingat Bontang adalah daerah perkotaan. Selama ini Kota Bontang masih mengandalkan suplai bahan-bahan makanan dari daerah lain seperti Samarinda dan Kutai Kartanegara. Luas lahan pertanian Kota Bontang cenderung sulit untuk ditingkatkan karena luas daratan hanya 30% dari luas total wilayah. Luas lahan pertanian padi sawah mengalami penyusutan dari 228 ha menjadi 128 ha. Isu-isu strategis bidang pertanian dan tanaman pangan berdasarkan tugas dan fungsi pelayanan SKPD adalah sebagai berikut:

a. Peningkatan produksi dan produktivitas pertanian dan pangan untuk mendukung peningkatan ketersediaan pangan belum optimal dilakukan dikarenakan adanya keterbatasan lahan.

b. Efesiensi distribusi pangan untuk menjamin agar seluruh rumah tangga dapat memperoleh pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang waktu, dengan harga terjangkau.

c. Peningkatan pemenuhan konsumsi pangan menjadi kebijakan dan strategi pembangunan ketahanan pangan yang perlu memperoleh perhatian yang memadai agar pola pemanfaatan pangan memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, keamanan dan kehalalan.

d. Peningkatan nilai tambah, daya saing/kualitas dan pemasaran produk pertanian dan tanaman pangan dan hortikultura

e. Pelaku bidang pertanian tanaman pangan belum melakukan usahanya secara optimal

f. Pelaku bidang hasil pertanian tanaman pangan juga belum optimal dalam memanfaatan peluang yang tersedia

3.6.3. Bidang Kehutanan a. Rehabilitasi dan Konservasi

Wilayah Kota Bontang memiliki komponen – komponen penting dalam hal tutupan lahan atau jenis penggunaan tanah yang sangat berperan dalam sistem dan pola pemanfaatan ruang daratan dan laut oleh berbagai aktivitas perekonomian. Adapun Komposisi Wilayah Kota Bontang Berdasarkan Jenis Penggunaan Tanah sebagai berikut Tabel 3.9. Komposisi Wilayah Kota Bontang Berdasarkan Jenis Penggunaan Tanah

No Jenis Penggunaan Tanah Luas

Hektar % 1 Permukiman g. Rumah/Bangunan Gedung 1.355,56 9,17 h. Pekarangan 980,64 6,63 i. Fasilitas Sosial 29,76 0,20 j. Fasilitas Umum 462,43 3,13

k. Permukiman Atas Air 53,94 0,36

l. Jasa 69,52 0,47

2 Tambak 323,18 2,19

3 Kawasan Industri/Pabrik

No Jenis Penggunaan Tanah Luas Hektar % d. PT. Badak NGL 278,07 1,88 4 Rawa 53,54 0,36 5 Danau/Waduk/Situ 15,11 0,10 6 Hutan Kota 196,98 1,33 7 Hutan Sejenis 2.764,48 18,70 8 Bakau 1.115,51 7,55 9 Belukar 6.870,98 46,49 10 Tanah Terbuka 17,83 0,12 Jumlah 14.780,00 100,00

Sumber : Naskah Akademik RTRW Kota Bontang dan RPJMD Kota Bontang 2011 - 2016 Berdasarkan data komposisi wilayah di atas maka terdapat lahan belukar dan tanah terbuka yang akan dapat memberikan dampak berupa pengaruh pemanasan global jika tidak dapat dikelola dengan baik. Upaya rehabilitasi dan konservasi hutan sebagai isu strategis dibidang kehutanan perlu dilakukan pada wilayah dengan kualitas penutupan lahan yang kurang baik, terutama wilayah terbuka dan semak belukar. Isu strategis tentang rehabilitasi dan konservasi hutan bagi wilayah Kota Bontang menjadi penting dalam kaitannya dengan:

a. Pengembangan elemen pengendali banjir b. Pemanfaatan air untuk irigasi

c. Pemanfaatan air untuk RT dan Industri d. Perikanan darat

e. Pengendalian pencemaran f. Pengendalian kekeringan g. Pengembangan air tanah

Disisi lain, konservasi dan rehabilitasi hutan/ lahan sejalan dengan prinsip perbaikan ekologi global dalam hal:

1. Rehabilitasi hutan/ lahan untuk pengikatan karbon (Carbon sequestration) melalui pertumbuhan vegetasi berpohon,

2. Konservasi hutan/ lahan dalam rangka pengurangan suhu global (Global temperature),

3. Konservasi hutan/ lahan dalam rangka peningkatan produksi dan kualitas air tanah (groundwater/ freshwater).

Pola rehabilitasi hutan/lahan yang diusulkan menganut pola pemberdayaan masyarakat melalui Hutan Kemasyarakatan (HKm). Program ini merupakan pendekatan peningkatan partisipasi masyarakat dengan cara melaksanakan rehabilitasi hutan/ lahan terdegradasi dengan tanaman yang diharapkan dapat memberikan efek ganda, yaitu keuntungan ekonomi dan ekologis secara berimbang. Peluang pengembangan Hutan Kemasyarakatan (HKm) membuka peluang usaha masyarakat yang bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat dan menjaga kelestarian hutan. Peluang ini terbuka bagi di kota Bontang terutama ditujukan untuk pemanfaatan kawasan dan jasa lingkungan khususnya pada hutan lindung, semak belukar dan tanah terbuka.

3.6.4. Bidang Peternakan

a. Meningkatnya Kebutuhan Terhadap Daging Ternak

Kota Bontang merupakan kota industri yang terus berkembang. Pertambahan penduduk setiap tahunnya meningkat. Pada tahun 2007 penduduk kota Bontang tercatat 129.700 jiwa dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 140.787 jiwa. Peningkatan penduduk yang pesat ini dipicu oleh adanya dua industri besar, yaitu PT Pupuk Kalimantan Timur dan PT Badak LNG, serta satu perusahaan pertambangan batubara, PT Indominco. Dengan meningkatnya jumlah penduduk di Kota Bontang, maka kebutuhan konsumsi akan daging juga meningkat. Kondisi aktual menunjukkan bahwa, terdapat waktu-waktu tertentu yang berdampak terhadap peningkatan konsumsi daging seperti pada saat akhir pekan (sabtu dan minggu). Peningkatan kebutuhan akan daging ternak terlihat dari peningkatan jumlah pemotongan jenis ternak sapi dan kambing yang terjadi pada tahun 2007 – 2010, sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya. Adapun keadaan penduduk pada tahun 2007 hingga tahun 2010 tertera pada Tabel berikut.

Tabel 3.10. Keadaan Penduduk Kota Bontang pada Tahun 2007 - 2010 No. Kecamatan Tahun 2007 2008 2009 2010 ………. jiwa ………. 1. Bontang Selatan 54.866 53.774 55.319 57.047 2. Bontang Utara 52.470 55.219 58.806 58.829 3. Bontang Barat 22.364 24.519 25.224 24.911 Kota Bontang 129.700 133.512 137.349 140.787 Sumber : Bontang Dalam Angka 2010

b. Terbatasnya Sumberdaya Lahan

Dengan meningkatnya permintaan akan ternak sapi potong, maka perlu dilakukan peningkatan populasi sapi potong. Hal ini diperlukan untuk mengurangi pengadaan ternak dari luar daerah kota Bontang sekaligus dapat mensejahterakan masyarakat melalui pemeliharaan sapi potong. Untuk meningkatkan populasi sapi potong diperlukan daya dukung lahan, daya dukung hijauan, dan daya dukung sumberdaya manusia yang memadai. Keterbatasan luas lahan ternak yang dimiliki oleh wilayah ini, menjadikan peluang pengembangan usaha peternakan menjadi kecil. Hal yang dapat dilakukan adalah melakukan kerjasama kemitraan dengan peternak luar derah dalam hal penanaman modal usaha peternakan, sehingga suplai dan stok untuk komoditi ternak dapat stabil dalam memenuhi permintaan pasar.

Kota Bontang pada Tahun 2010 tercatat memiliki lahan pertanian bukan sawah yang relatif sempit, yaitu hanya 4.397 ha. Lahan tersebut umumnya diusahakan untuk tanaman palawija dan hortikultura. Apabila dikelola dengan baik, maka sebagian dari lahan tersebut secara terintegrasi dapat dimanfaatkan sebagai penghasil hijauan untuk pakan ternak. Integrasi ternak di lahan pertanian tidak saja berasal dari jerami atau sisa hasil pertanian, namun juga dapat berasal hijauan yang tumbuh dipematang atau dipinggir jalan setapak. Apabila hijauan tersebut merupakan hijauan pakan yang memiliki kualitas tinggi, maka daya dukungnya menjadi tinggi. Berkaitan denga hal tersebut, diperlukan kebun bibit hijauan makanan ternak yang memadai sebagai sumber bibit hijauan bagi peternak.

c. Peningkatan Kapasitas Rumah Potong Hewan

Jumlah pemotongan sapi pada tahun 2010 tercatat 3.609 ekor atau setara dengan sekitar 10 ekor per hari. Untuk memotong hewan dengan jumlah tersebut memerlukan rumah pemotongan hewan yang memadai dengan kapasitas RPH yang mampu menghasilkan produk ternak yang ASUH (aman, sehat, utuh, dan halal) berdasarkan standar dari Direktorat Jenderal Peternakan. Agar diperoleh rumah potong hewan yang memadai, maka perlu dilakukan studi kelayakan mengenai rencana pembangunan rumah potong hewan tersebut. Selain itu, tenaga pemotong hewan diperlukan orang yang terlatih. Terlatih dalam hal ini tidak saja kepada tehnik pemotongan hewan saja, melainkan juga dalam hal penanganan ternak sebelum dan setelah pemotongan agar diperoleh daging dengan kualitas yang baik.

Dokumen terkait