A. Identitas Responden
1. Penentuan Tujuan Usaha
Setiap usaha berjalan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Sebagai salah satu industri kecil yang masih menerapkan manajemen sederhana, industri anyaman tikar ini belum menentukan visi, misi, serta tujuan usaha secara jelas dan tertulis. Namun, pengrajin anyaman tikar di Kabupaten Wonogiri menjalankan usaha anyaman tikar bertujuan untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Oleh karena itu pengrajin anyaman tikar berusaha untuk meningkatkan laba usaha dengan menjaga kontinyuitas serta meningkatkan kualitas produk mereka. Dengan memanfaatkan waktu luang, para pengrajin menganyam mendong menjadi tikar mendong. Hal ini didukung oleh kemampuan dan ketrampilan dalam menganyam serta kemauan mereka memanfaatkan potensi mendong yang ada di daerah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi sehingga mendatangkan pendapatan yang lebih tinggi bagi pengusaha. 2. Analisis Faktor-Faktor Strategis
Strategi pemasaran anyaman tikar merupakan usaha untuk meningkatkan pemasaran anyaman tikar baik di wilayah pemasaran Kabupaten Wonogiri maupun wilayah pemasaran di luar Kabupaten Wonogiri. Dengan menerapkan strategi pemasaran yang efektif diharapkan mampu meningkatkan pendapatan pengrajin anyaman tikar. Perumusan strategi pemasaran anyaman tikar diawali dengan menganalisis faktor internal dan eksternal untuk mengidentifikasi faktor-faktor strategis yang
menjadi kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman dalam pemasaran anyaman tikar di Kabupaten Wonogiri.
a. Analisis Faktor Internal
Analisis faktor internal dilaksanakan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam pemasaran anyaman tikar selama ini sebagai bahan pertimbangan dalam perumusan alternatif strategi pemasaran. Adapun faktor internal dalam pemasaran anyaman tikar di Kabupaten Wonogiri yaitu:
1) Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia merupakan faktor yang penting dalam kegiatan pemasaran. Kualitas sumber daya manusia yang berkecimpung dalam usaha anyaman tikar akan berpengaruh pada keputusan maupun kebijakan-kebijakan yang diambil pengrajin dalam memasarkan produknya. Rata-rata sumber daya manusia yang berkecimpung dalam usaha anyaman tikar mempunyai tingkat pendidikan formal yang cukup rendah yaitu setingkat Sekolah Dasar (SD). Kondisi ini akan mempengaruhi kemampuan pengrajin dalam mengelola usaha anyaman tikar terutama pola pikir serta wawasan dan pengetahuan para pengrajin. Namun, dengan pengalaman usaha yang mereka miliki, para pengrajin mampu mengelola dan mempertahankan usaha mereka hingga sekarang. Selain itu, dengan ketlatenan serta semangat kerja yang kuat para pengrajin mampu menghasilkan karya kerajinan anyaman tikar dari bahan baku mendong yang dapat diterima pasar.
2) Pemasaran
Pemasaran merupakan kombinasi dari empat variabel atau inti dari sistem pemasaran. Empat variabel tersebut menunjukkan bagian yang berpengaruh pada pemasaran anyaman tikar di Kabupaten Wonogiri. Adapun empat variabel tersebut adalah:
Produk yang ditawarkan merupakan hasil anyaman dari bahan baku berupa tanaman mendong menjadi anyaman tikar. Kegunaan produk ini secara umum di masyarakat sebagai alas pada saat pertemuan maupun alas tidur. Kualitas produk anyaman sering dilihat berdasarkan kerapian dan kerapatan anyaman, kombinasi serta kecerahan warna tikar, dan kelenturan anyaman. Selain itu, dengan seleksi terhadap bahan baku yang digunakan dengan baik berpengaruh pada kualitas anyaman yang dihasilkan Ukuran anyaman tikar yang diproduksi adalah 2x3 m dan 1,5x2 m.
b)Harga
Harga merupakan variabel pemasaran yang berpengaruh langsung terhadap laba yang diperoleh pengusaha. Pengrajin menentukan patokan harga anyaman tikar berdasarkan ukuran dengan pertimbangan biaya produksi serta laba yang diinginkan. Pengaruh persaingan yang menuntut harga produk harus dapat bersaing dengan produk yang lain menyebabkan pengrajin tidak sembarangan dalam menetapkan harga. Namun demikian, harga yang berlaku di pasar merupakan harga yang masih terjangkau oleh konsumen. Harga di tingkat pengrajin berkisar Rp 40.000,- untuk 1 anyaman tikar ukuran 1,5x2 m. Sedangkan harga untuk 1 anyaman tikar ukuran 2x3 m seharga Rp 60.000,-. Dengan harga tersebut pengrajin mendapatkan laba sebesar Rp 20.000,00
c) Distribusi
Distribusi atau penyaluran produk anyaman tikar dari pengrajin sebagai produsen kepada konsumen. Lancarnya arus pendistribusian barang akan memperlancar penyampaian barang tersebut ke tangan konsumen. Dalam pemasaran anyaman tikar ada 2 tipe saluran pemasaran yang digunakan yaitu :
Ø Saluran 1 ( Produsen Konsumen)
Dalam saluran pemasaran ini pengrajin tidak melakukan pemasaran dari rumah ke rumah dengan tenaga penjual,
melainkan para konsumen secara langsung datang ke pengrajin dengan sistem pesanan. Jika anyaman sudah jadi konsumen dapat mengambil ke tempat pengrajin atau pengrajin yang mengantarkan tikar ke tempat konsumen sesuai kesepakatan. Konsumen yang datang ke pengrajin ini berasal dari kalangan warga setempat ataupun relasi pengusaha.
Ø Saluran 2 (Produsen Pedagang Pengumpul Konsumen ) Pada saluran pemasaran kedua ini pengrajin anyaman tikar mendistribusikan tikar mereka ke pedagang tikar di pasar Puhpelem dan Pasar Bulukerto. Selanjutnya para pedagang menjualnya kepada konsumen baik di pasar tersebut maupun pasar di daerah lain yaitu Ponorogo dan Sampung Jawa Timur. Para pedagang memasarkan di stan-stan yang mereka miliki di berbagai pasar sesuai hari pasaran.
d)Promosi
Promosi yang digunakan dalam pemasaran anyaman tikar di kabupaten Wonogiri selama ini hanya mengandalkan media komunikasi dari mulut ke mulut. Oleh karena itu, dalam hal promosi pengrajin terbantu oleh pedagang serta konsumen. Selama ini belum ada inovasi sistem promosi yang dilakukan pengrajin dalam mengenalkan produk anyaman tikar ini ke masyarakat yang lebih luas dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang ada.
3) Kondisi Keuangan
Keuangan merupakan salah satu indikator kondisi dan keberjalanan suatu usaha. Sebagai bagian dari keuangan modal merupakan komponen yang cukup pokok dalam setiap usaha termasuk pada usaha anyaman tikar di Kabupaten Wonogiri. Keseluruhan pengrajin anyaman tikar menjalankan usaha ini dengan mengandalkan modal pribadi yang jumlahnya terbatas. Untuk mempersiapkan besarnya uang yang akan digunakan dalam usaha
anayaman tikar terkadang mereka mengalami kesulitan. Hal ini dikarenakan prosedur peminjaman yang terlalu rumit untuk mendapatkan pinjaman dana dari lembaga keuangan maupun instansi Pemerintah yang terkait menjadikan para pengrajin menggunakan modal sendiri dalam menjalankan usahanya.
Dalam hal manajemen keuangan pengrajin anyaman tikar juga masih menerapkan sistem manajemen yang sederhana. Pengrajin hanya memperhitungkan aliran keuangan usaha mereka tanpa mencatat atau membukukannya secara rapi dan terstruktur. Oleh karena itu, pengrajin tidak dapat mengkalkulasi secara tepat keuangan usaha anyaman tikarnya.
4) Produksi/Operasional
Produksi merupakan suatu rangkaian kegiatan untuk merubah
input menjadi output. Dalam proses produksi pembuatan anyaman tikar membutuhkan waktu produksi yang cukup lama karena prosesnya yang lama dalam beberapa tahapan proses serta kegiatan menganyam merupakan pekerjaan yang cukup rumit dan butuh ketelatenan dalam kegiatannya. Sebelum melakukan penganyaman pengrajin terlebih dahulu melakukan seleksi bahan dengan memisahkan mendong yang utuh serta mempunyai panjang yang sama untuk mendapatkan kualitas bahan baku yang baik. kemudian melakukan pewarnaan selanjutnya mendong dikeringkan terlebih dahulu baru kemudian dilakukan penganyaman. Kurang fokusnya pengarajin dalam mengelola usaha anyaman tikar karena hanya menjadikannya sebagai usaha sampingan manyebabkan waktu yang dibutuhkan untuk menganyam 1 anyaman tikar dibutuhkan waktu 8- 10 hari. Adapun alur pembuatan anyaman tikar dapat dilihat pada gambar berikut:
Bahan Baku Tanaman Mendong
Pewarnaaan Mendong Seleksi Bahan Baku
Gambar 4. Pembuatan Anyaman Tikar b.Analisis Faktor Eksternal
Analisis faktor eksternal bertujuan untuk mengidentifikasi faktor- faktor kunci di luar pengrajin yang menjadi peluang dan ancaman dalam pemasaran anyaman tikar. Adapun hasil analisis faktor eksternal adalah sebagai berikut :
1) Pemerintah
Pemerintah merupakan salah satu elemen kelembagaan pendukung dalam kegiatan UMKM. Peran pemerintah cukup strategis dan berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan yang yang berkaitan dengan perkembangan UMKM. Pemerintah melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi diharapakan dapat berperan besar terhadap kemajuan UMKM di Kabupaten Wonogiri termasuk pada usaha anyaman tikar ini. Adapun usaha-usaha yang dilakukan pemerintah daerah untuk mendukung perkembangan UMKM di Kabupaten Wonogiri adalah dengan melakukan bimbingan-bimbingan terhadap proses produksi supaya produk terlihat lebih menarik, memberi bantuan sarana produksi, pembuatan brosur/leaflet profil tentang industri potensial, mengadakan pameran dan promosi ke daerah lain serta mengadakan showroom untuk memajang produk-produk dari UMKM binaan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Wonogiri.
2) Konsumen
Konsumen membeli suatu barang dan jasa bertujuan untuk memenuhi kebutuhannya. Demikian juga konsumen anyaman tikar
di Kabupaten Wonogiri membeli anyaman tikar dengan karena untuk memenuhi kebutuhan, yaitu menggunakan tikar sebagai alas tidur ataupun untuk bersantai bersama keluarga. Masyarakat Kabupaten Wonogiri yang masih sering mengadakan pertemuan baik pertemuan keluarga maupun pertemuan masyarakat yang dilakukan dengan membutuhkan tempat yang luas agar dapat menampung banyak orang maka masyarakat menggunakan tikar sebagai alas. Oleh karena itu, menjadikan tikar mendong masih diminati di Kabupaten Wonogiri.
3) Pemasok
Pemasok merupakan orang yang berperan sebagai penyedia bahan baku mendong untuk proses produksi anyaman tikar. Pasokan berasal dari daerah sekitar Kecamatan Puhpelem. Para pengrajin anyaman tikar mendapatkan bahan baku mendong dari petani yang membudidayakan mendong kemudian memasoknya ke Pasar Puhpelem. Harga mendong di pasar adalah Rp 7.000,-per ikat. Kebutuhan bahan baku untuk anyaman tikar berukuran 2x3 m sebanyak 4 ikat, sedangkan untuk anyaman tikar ukuran 1,5x2 m membutuhkan bahan baku sebanyak 2 ikat mendong.
4) Pesaing
Pesaing pengrajin anyaman tikar berasal dari pengrajin sejenis dari luar wilayah Kecamatan Puhpelem yaitu pengrajin dari Kecamatan Bulukerto dan Purwantoro. Selain itu, persaingan juga berasal dari adanya produk subtitusi berupa tikar berbahan plastik dan karpet yang semakin luas pemasarannya serta dengan promosi yang lebih intensif dan inovatif. Selain itu, produk subtitusi tersebut juga menawarkan keunggulan produk mereka. Adanya persaingan dalam pemasaran anyaman tikar menuntut pengrajin untuk dapat menghasilkan produk yang mampu bersaing di pasar sehingga usaha anyaman tikar mendong ini dapat terjaga kelangsungan hidupnya.
5) Lembaga Pemasaran
Lembaga pemasaran anyaman tikar di Kabupaten Wonogiri terdiri dari pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul berperan mengumpulkan atau membeli produk dari para pengrajin anyaman tikar kemudian menjualnya kepada konsumen. Para pengrajin anyaman tikar mendistribusikan anyaman tikar mereka ke Pasar Puhpelem pada hari wage atau ke Pasar Bulukerto pada hari pahing. Para pedagang pengumpul mempunyai stan-stan di beberapa pasar dan memasarkan anyaman tikar sesuai hari ramai di pasar yang bersangkutan. Dalam pemasaran anyaman tikar menggunakan saluran pemasaran yang cukup pendek sehingga harga di tingkat konsumen masih terjangkau oleh konsumen serta margin yang didapatkan juga lebih tinggi.
3. Identifikasi Faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman