BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
B. Penerapan Corporate Social Responsibility
Untuk menjawab rumusan masalah yang pertama yaitu “Bagaimana
penerapan Corporate Social Responsibility pada UMKM batik di Giriloyo Imogiri
Bantul Yogyakarta?” adalah sebagai berikut:
1. Perhitungan Corporate Social Responsibility index (CSRi)
Variabel CSR dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan
Corporate Social Responsibility index (CSRi). Sebelum hasil perhitungan CSRi
ini diperoleh, terlebih dahulu melakukan pemberian nilai 1 pada item pernyataan
yang dilakukan oleh UMKM kerajinan batik (untuk jawaban YA) dan
memberikan nilai 0 pada item yang tidak dilakukan oleh UMKM kerajinan batik
langkah selanjutnya adalah menjumlah item tersebut berdasarkan nilai yang
sudah diperoleh. Setelah mendapatkan angka jumlah nilai item CSR yang
dilakukan oleh UMKM kerajinan Batik, maka selanjutnya dapat menghitung
CSRi. Perhitungan CSRi didapatkan dengan pembagian antara jumlah item CSR
yang telah diterapkan dengan jumlah seluruh item pernyataan CSR. Contoh
perhitungan CSRi pada UMKM Sung-Sang Batik adalah sebagai berikut:
Tabel 5.4
Daftar Penerapan Program CSR pada Sung-sang Batik
No. ITEM Skor
Kategori Ekonomi
1. Pembayaran kewajiban/hutang tepat waktu dan ditulis
dalam pembukuan. 1
2.
Membuat pembukuan berkaitan dengan penerimaan bantuan keuangan/modal pinjaman dari pemerintah atau lembaga tertentu.
1
3. Memberi upah sesuai dengan standar dan ketentuan. 0 4. Memperkerjakan masyarakat sekitar UMKM. 1 5. Membantu dalam membangun sarana dan prasarana
lokasi sekitarnya. 1
6. Membeli bahan baku dari masyarakat sekitarnya. 1
Kategori Lingkungan
7. Melakukan pengukuran yang tepat dalam penggunaan
bahan baku. 1
8. Menggunakan bahan yang dapat didaur ulang. 1 9. Pemakaian energi(listrik, Bahan bakar minyak atau gas)
yang berasal dari sumber energi yang baik. 1 10. Pengurangan/penghematan penggunaan energi (listrik,
Bahan bakar minyak atau gas) pada produk. 1 11. Penggunaan air sesuai dengan kegunaannya. 1 12. Penggunaan air sesuai dengan ketersediaan air. 1 13. Mendaur ulang air yang telah digunakan. 1 14. Lokasi produksi tidak memberikan dampak pada
lingkungan. 1
15. Membantu perbaikan lingkungan yang rusak. 1 16. Membantu merawat dan melindungi lingkungan 1
No. ITEM Skor
18.
Mengetahui dampak tidak langsung penggunaan energi(listrik, Bahan bakar minyak atau gas) secara berlebihan.
1
19. Sadar bahwa penggunaan energi menghasilkan polusi. 1 20. Membantu mengurangi polusi yang ada. 1 21. Membatasi bahan-bahan yang membuat polusi. 1 22. Membatasi bahan-bahan yang menyebabkan polusi
udara. 1
23. Limbah air yang dibuang tidak membahayakan. 1 24. Mengetahui banyaknya limbah dan cara membuangnya. 1 25. Limbah zat kimia yang dibuang tidak mencemari
lingkungan. 1
26. Mengelola limbah yang dapat membahayakan. 1 27. Mengetahui limbah dapat merusak lingkungan. 1 28. Mencegah dampak akibat limbah yang berbahaya. 1 29. Berkomitmen untuk melindungi lingkungan 1 30. Produk yang dihasilkan tidak membahakan lingkungan. 1 31. Membayar denda apabila melanggar peraturan mengenai
lingkungan hidup. 1
32. Mengetahui dampak luas dari kerusakan lingkungan. 1 33. Membantu memberikan dana jika ada kerusakan
lingkungan akibat proses produksi. 1 34. Memilih bahan baku yang tidak memberikan dampak
buruk bagi lingkungan. 1 35. Ikut serta dalam mengambil tindakan pemulihan
lingkungan yang rusak. 0 36. Ikut serta dalam menyelesaikan tindakan pemulihan
lingkungan yang rusak. 0
Kategori Sosial: Praktik Ketenagakerjaan dan Kenyamanan Bekerja
37. Memberikan tambahan upah bagi karyawan yang bekerja
dengan baik. 0
38. Memperbolehkan karyawan untuk cuti kerja karena
sedang hamil. 1
39.
Memberitahukan kepada karyawan mengenai setiap perubahan kebijakan sebelum kebijakan tersebut ditetapkan.
1
40. Menerima saran dan masukan dari pekerja. 1 41. Memberikan informasi bahaya dampak produksi kepada
karyawan. 1
42. Memberikan jaminan kesehatan kepada karyawan. 0 43. Adanya pelatihan bagi setiap karyawan. 0 44. Memberikan perkembangan jenjang pekerjaan pada
karyawan. 0
No. ITEM Skor
46. Persamaan pemberian upah berdasarkan jenis kelamin. 1 47. Menerima pengaduan karyawan mengenai masalah
ketenagakerjaan. 1
Kategori Sosial: Hak Asasi Manusia
48. Memberikan pekerjaan yang tidak menimbulkan diskriminasi terhadap karyawan. 1 49. Tidak memperkerjakan Karyawan yang masih dibawah
umur. 1
50. Pekerjaan yang diberikan ke karyawan tidak melanggar
Hak Asasi Manusia. 1
51. Memberikan pengetahuan terkait Hak Asasi Manusia. 1 52. Mengetahui bahwa proses produksi tidak melanggar hak
masyarakat sekitar. 1 53. Sadar dan menghormati Hak Asasi Manusia. 1 54. Mengetahui adanya dampak negatif akibat pelanggaran
Hak Asasi Manusia. 1
55. Turut menyelesaikan apabila ada dampak negatif akibat
pelanggaran Hak Asasi Manusia. 1
Kategori Sosial: Masyarakat
56. Melibatkan masyarakat sekitar dalam setiap aktivitas
usaha. 1
57. Memberikan informasi kepada masyarakat sekitar jika menghasilkan dampak negatif akibat proses produksi. 0 58. Mengetahui adanya potensi praktik korupsi. 1 59. Memberikan pelatihan dan informasi mengenai
anti-korupsi. 0
60. Memberikan tindakan akibat adanya praktik korupsi. 0 61. Memberikan kontribusi berupa pembelajaran untuk
menekan praktik korupsi. 1 62. Memilih pemasok yang tidak memberikan dampak
negatif terhadap masyarakat. 1 63. Turut serta dalam menyelesaikan masalah pengaduan
masyarakat sekitarnya. 1
Kategori Sosial: Tanggung Jawab Produk
64. Produk yang dihasilkan tidak membahayakan kesehatan. 1
65. Memberikan informasi bahwa produk tidak membahayakan
kesehatan. 1
66. Memberikan label dan informasi pada produk. 1
67. Membuat survei atas kepuasan pelanggan. 0
68. Mengetahui penjualan produk yang dilarang dan
membahayakan. 1
69. Memiliki keamanan atas data-data pelanggan tetap. 1
70. Mengetahui aturan mengenai produksi dan penggunaan
CSRi = M
V =
5
0 = 0,8286
Indeks CSR yang diukur dengan menggunakan Corporate Social
Responsibility indekx (CSRi) pada UMKM Sung-sang Batik adalah sebesar
0,8286. Angka indeks tersebut menunjukkan bahwa Sung-sang Batik telah
melaksanakan program tanggung jawab sosialnya (Corporate Social
Responsibility) sebanyak 58 itemdari jumlah seluruh itempernyataan CSR yaitu
70 item yang mengacu pada tiga kategori dan empat sub kategori dalam standar
khusus GRI G4. Data dan hasil perhitungan indeks pengungkapan CSR pada
penelitian ini dapat dilihat pada lampiran G (halaman 143). Berikut ini adalah
tabel hasil perhitungan indeks CSR pada 24 UMKM batik di Giriloyo yang
menjadi populasi sasaran.
Tabel 5.5
Corporate Social Responsibility indeks UMKM Batik di Giriloyo
No. UMKM Item yang
dilakukan CSRi
1. Sung-sang Batik 58 0,8286 2. Batik Tulis Sido Mulyo 56 0,8000 3. Fajar Batik 43 0,6142 4. Batik Tulis Sekar Arum Giriloyo 59 0,8428 5. Batik Tulis Giri Indah 53 0,7571 6. Batik Tulis Sido Mukti 55 0,7857 7. Batik Tulis Suka Maju 54 0,7714 8. Batik Sekar Kedhaton 57 0,8142 9. Batik Sinar Mekar 45 0,6428 10. Balai Batik Tulis 55 0,7857 11. Batik Sukma Giriloyo 45 0,6428 12. Batik Tulis Karang Kulon 54 0,7714 13. Batik Tulis Manggaran 47 0,6714 14. Batik Bima Sakti Karang Kulon 55 0,7857 15. Batik Tulis Berkah Lestari 46 0,6571 16. Batik Giriloyo 54 0,7714 17. Batik Tulis Sri Kuncoro 55 0,7857
No. UMKM Item yang
dilakukan CSRi
18. Batik Tulis Sungging Tumpuk 55 0,7857 19. Batik Tulis Pinggir Gunung 51 0,7285 20. Batik Bima Sakti Cengkehan 53 0,7571 21. Batik Sari Sumekar 46 0,6571 22. Batik Tulis Kusumo 46 0,6571 23. Batik Tulis Wahyu Tumurun 45 0,6428 24. Batik Syifa Cahaya Mandiri 47 0,6714
2. Statistik Deskriptif
Hasil dari statistik deskriptif untuk variabel Penerapan Corporate Social
Responsibility (CSR) dalam penelitian ini disajikan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 5.6
Statistik Deskriptif Variabel Corporate Social Responsibility (CSR)
Variabel N Minimum Maximum Mean Standar
Deviasi
CSR 24 0,6142 0,8428 0,7345 0,0707
Tabel di atas menunjukkan jumlah data yang diolah (N) sebanyak 24 data.
Variabel Penerapan CSR memiliki nilai minimum sebesar 0,6142, nilai
maksimum sebesar 0,8428, rata-rata sebesar 0,7345 dan standar deviasi sebesar
0,0707. Rata-rata sebesar 0,7345 menunjukkan bahwa tingkat penerapan CSR
pada UMKM batik tulis di giriloyo sudah tinggi, dengan rata-rata yang
mendekati indeks sempurna atau 1.
3. Analisis Data
Variabel penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) diukur dengan
Corporate Social Responsibility indeks (CSRi). Semakin besar atau mendekati
angka 1 CSRi pada suatu UMKM batik yang menjadi populasi sasaran dalam
dilakukan oleh UMKM batik. Angka CSRi berkisar dari 0 sampai dengan 1.
Pengklasifikasian variabel penerapan CSR dapat dilakukan dengan melihat
distribusi frekuensi variabel penerapan CSR. Berikut ini adalah gambar deskripsi
variabel penerapan CSR:
Gambar 5.2
Deskripsi Variabel Corporate Social Responsibility (CSR)
Distribusi frekuensi variabel penerapan Corporate Social Responsibility
menunjukkan bahwa cukup banyak yang melakukan penerapan CSR dengan
CSRi mendekati 1. Masing-masing indeks yang mendekati 1 tersebut adalah
pada angka 0,7500-0,8000 sebanyak 11 UMKM batik dan pada angka
0,8000-0,8500 sebanyak 3 UMKM batik. Hal ini mengindikasikan bahwa 24 UMKM
batik sudah menerapkan program Corporate Social Responsibility secara luas
dengan indeks CSR diatas 0,5. Dari distribusi frekuensi variabel penerapan CSR
tersebut kita dapat juga mengklasifikasikan variabel tersebut menggunakan
cut-off rata-rata CSRi. Klasifikasi ini menghasilkan dua kategori yaitu CSRi yang
adalah gambar pengklasifikasian data variabel penerapan CSR menggunakan
cut-off rata-rata CSRi;
Gambar 5.3
Klasifikasi Penerapan CSR oleh UMKM Batik di Giriloyo
Pengklasifikasian data variabel penerapan CSR oleh UMKM batik yaitu
sebagai berikut:
1) CSRi UMKM batik < Rata-rata keseluruhan CSRi (0,7345)
Berdasarkan distribusi frekuensi variabel CSR, anggota populasi yang
memiliki tingkat penerapan CSR dengan CSRi sebesar < rata-rata
keseluruhan CSRi (0,7345) berjumlah 10 UMKM batik (41,67% dari
UMKM batik yang menjadi populasi sasaran).
2) CSRi UMKM batik > Rata-rata keseluruhan CSRi (0,7345)
Berdasarkan distribusi frekuensi variabel CSR, anggota populasi yang
memiliki tingkat penerapan CSR dengan CSRi sebesar > rata-rata
keseluruhan CSRi (0,7345) berjumlah 14 UMKM batik (58,33% dari
4. Pembahasan
Hasil analisis data yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa penerapan
Corporate Social Responsibility (CSR) pada UMKM batik di Giriloyo Imogiri
Bantul Yogyakarta, telah diterapkan oleh UMKM batik yang menjadi populasi
sasaran. Secara rinci penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) oleh
UMKM batik di Giriloyo Imogiri Batul Yogyakarta berdasarkan tiga kategori
dan empat sub-kategori yang berpedoman pada standar khusus GRI G4 adalah
sebagai berikut:
1) Kategori Ekonomi
Pada kategori ekonomi terdapat enam item yang menjadi poin pokok
dalam penerapan program Corporate Social Responsibility (CSR). Enam
poin tersebut berkaitan dengan ketepatan waktu dalam melakukan
pembayaran kewajiban/hutang, pembuatan pembukuan secara rutin,
pemberian upah, pemilihan tenaga kerja, kontribusi UMKM terhadap
sarana-prasarana di sekitar UMKM, dan pembelian bahan baku yang
dilakukan UMKM dalam proses produksi. Berikut ini adalah data mengenai
penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada kategori ekonomi:
Tabel 5.7
Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) Kategori Ekonomi
No.Item Jumlah UMKM yang
melaksanakan kegiatan CSR Persentase
1 12 50,00% 2 13 54,17% 3 0 0% 4 24 100% 5 12 50,00% 6 21 87,50%
Berdasarkan data yang diperoleh berkaitan dengan penerapan
Corporate Social Responsibility (CSR) pada kategori ekonomi,
masing-masing item yang terdiri dari enam item tersebut memiliki persentase yang
berbeda. Pada item nomor tiga, yaitu “memberi upah sesuai dengan standar dan ketentuan” ini menjadi angka yang terendah dengan persentase 0%.
Angka ini menunjukkan bahwa dari 24 UMKM batik yang menjadi populasi
sasaran dalam penelitian ini tidak ada satupun yang menerapkan item nomor
tiga. Hal ini tentu terjadi bukan tanpa sebab ataupun tanpa alasan. Pemberian
upah yang tidak sesuai dengan standar dan ketentuan ini dikarenakan
pemberiaan upah menggunakan sistem borongan. Pemberian upah dengan
sistem ini diberikan berdasarkan hasil pekerjaan yang telah diselesaikan
oleh pengrajin batik, sehingga besaran upah yang diterima oleh pengrajin
dalam suatu UMKM batik akan berbeda-beda satu sama lain. Tentunya
besaran upah yang diterima oleh pengrajin dapat dikatakan belum setara
dengan tingkat standar dan ketentuan upah yang berlaku. Penggunaan
sistem upah borongan/berdasarkan hasil pekerjaan yang telah selesai dinilai
fair dengan keadaan produksi UMKM batik. Hal ini dapat terjadi karena
dalam menyelesaikan suatu tahapan pekerjaan pada proses produksi batik
memiliki waktu yang berbeda-beda. Sebagai contoh, pada tahap
penggambaran pola motif yang dilakukan beberapa pengrajin tentu
memiliki tingkat waktu penyelesaian yang tidak sama. Tentu ada faktor
yang membuat tingkat waktu penyelesaian yang tidak sama. Kemahiran dan
dengan lainnya. Berdasarkan alasan tersebut, apabila pemberian upah
didasarkan pada jam kerja, maka UMKM batik akan merugi. Seperti hasil
wawancara dengan Ketua Paguyuban Batik Tulis Giriloyo, Bapak Nur
Ahmadi menyatakan sebagai berikut:
Di sini masih tradisional Mas, tidak ada pemberian hadiah-hadiahan atau semacamnya kepada karyawan yang bekerja dengan baik. Mereka semua diberi gaji atau upah ya sebesar pekerjaan yang diselesaikan Mas. jadi misalnya karyawan tersebut menyelesaikan 2 potong kain batik, ya gajinya atau upahnya sebesar itu dan biasanya memang masih di bawah UMR daerah Bantul Mas. Soalnya kan memang jenisnya borongan mas. Karena memang batik di sini juga tidak langsung laku Mas. terkadang kita buat selesai itu bulan ini, bulan 2, nanti laku terjualnya itu bisa bulan Mei atau Juni Mas. (hasil wawancara minggu 26 Februari 2017, pukul 10.40-12.00 WIB).
Dalam penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada
kategori ekonomi, juga ditemukan satu item yang dilakukan oleh semua
UMKM batik yang menjadi populasi sasaran dalam penelitian ini. Pada item
nomor 4 yaitu “memperkerjakan masyarakat sekitar UMKM” memiliki
tingkat persentase 100%, yang artinya bahwa 24 UMKM batik yang
menjadi populasi sasaran dalam penelitian ini semuanya menjawab telah
menerapkannya. Semua UMKM batik telah membantu perekonomian
warga masyarakat yang berada di sekitar lokasi UMKM batik. Bentuk
bantuan tersebut yaitu dengan menerapkan penggunaan tenaga kerja dengan
memperkerjakan masyarakat yang tinggal di sekitar UMKM batik tersebut
berada. Hal ini dibenarkan oleh ketua paguyuban Batik Tulis Giriloyo,
Bapak Nur Ahmadi dalam kutipan wawancara yang dilakukan pada minggu
26 Februari 2017, pukul 10.40-12.00 WIB yang mengatakan bahwa “Semua karyawan dan tenaga kerja yang ada adalah masyarakat sekitar”.
Berkaitan dengan hasil empat item lainnya dalam penerapan
Corporate Social Responsibility (CSR) pada kategori ekonomi, item nomor
1, 2, 5, dan 6 masing-masing memiliki persentase sebagai berikut; item no.1
dengan presentase 50%, item no.2 dengan presentase 54,17%, persentase
item no. 5 dengan presentase 50%, dan item no. 6 dengan presentase
87,50%.
2) Kategori Lingkungan
Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada kategori
lingkungan secara keseluruhan telah dilakukan dengan baik oleh 24 UMKM
batik. Ada sebanyak 30 item yang tersedia untuk mengetahui bagaimana
penerapan CSR kategori lingkungan. Berikut ini adalah tabel yang
menunjukkan penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada
kategori lingkungan;
Tabel 5.8
Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) Kategori Lingkungan
Jawaban No.Item Frekuensi Persentase “Ya” oleh semua
UMKM batik
7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 20, 21,
25, 27, 28, 29, 30, 31, 33, 34 18 60%
“Ya” oleh beberapa UMKM batik
15, 16, 17, 18, 19, 22, 23, 24, 26,
32, 35, 36 12 40%
Total 30 100%
Melalui tabel Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada
kategori lingkungan di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan CSR yang
berkaitan dengan lingkungan telah dilakukan dengan baik oleh UMKM
batik. Hal ini dibuktikan dengan terdapatnya 18 item (60%) pada kategori
“Ya” atau telah menerapkan kegiatan CSR. Item yang tersisa berikutnya pada kategori ini berjumlah 12 item (40%). 12 item tersebut tidak
dilaksanakan oleh semua UMKM batik. Berikut ini rincian 12 item tersebut;
item nomor 18 dan 35 masing-masing dilaksanakan oleh 1 dan 4 UMKM
batik; item nomor 16 dan 22 masing-masing dilaksanakan oleh 9 dan 8
UMKM batik; item nomor 17, 24, 26, 32 dan 36 masing-masing
dilaksanakan oleh 11, 14, 14, 11 dan 13 UMKM batik; dan item nomor 15,
19 dan 23 masing-masing dilaksanakan oleh 15 UMKM batik. Jumlah
tersebut menyatakan tidak semua UMKM batik yang menjadi populasi
sasaran menjawab dengan telah diterapkannya kegiatan CSR.
Secara umum kategori ini membahas mengenai penggunaan energi,
limbah, dan perhatian UMKM batik terhadap lingkungan sekitar yang
berada di daerah di mana UMKM tersebut beroperasi. Ada beberapa poin
penting yang mendukung baiknya penerapan Corporate Social
Responsibility (CSR) pada kategori lingkungan oleh UMKM batik di
Giriloyo. Hal yang mendukung tersebut dibuktikan dengan
aktivitas-aktivitas yang sering dilakukan UMKM batik dalam menjaga lingkungan
seperti yang disampaikan oleh Ketua Paguyuban Batik Tulis Giriloyo,
Bapak Nur Ahmadi dalam wawancaranya yang menyatakan bahwa:
Dengan adanya paguyuban ini yang pasti membuat koordinasi semakin baik dan mudah Mas. untuk mengatasi ini beberapa tahun yang lalu, kita, paguyuban membuat semacam tempat pencelupan atau pewarnaan Mas. Ya fungsinya salah satunya untuk menghemat biaya dan juga meminimalisir dampak lingkungannya juga Mas.
Penggunaan bahan kimia atau pewarna sintetik beberapa di sini menggunakan. Ya kalau dibilang berbahaya, ya berbahaya Mas kalau tidak ditampung dan dinetralkan Mas. berbahayanya itu ketika
pengrajin membuang langsung kesaluran-saluran air Mas. Untuk penggunaan pewarna kimia tapi yang masih ditoleransi ya sejenis naptol Mas. Naptol itu kan pewarna pakaian yang bisa dibilang tidak mencemari lingkungan Mas. itu juga sering digunakan Mas di mana-mana.
Kalau limbah itu sendiri khususnya limbah pewarnaan sebenarnya kan sudah kita buat sumur-sumur resapan. Jadi penetralannya ya di sumur resapan itu Mas. sumur resapan ada sumur satu, dua dan tiga, di sumur itu diberi arang, pasir terus dibuang disumur keempat. Itu sudah netral. Itu limbah air, limbah pewarnaannya.
Kalau limbah malamnya itu nanti diolah lagi bisa untuk bahan baku lagi.
BLH (Badan Lingkungan Hidup) itu dulu diperintahkan oleh Dinas Perindustrian Kabupaten Bantul Mas. ya BLH kan bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan dinas-dinas terkait. kalau semua pengrajin mengikuti arahan dari BLH tersebut kan seharusnya sudah tidak ada masalah lagi mengenai dampak limbah yang merusak lingkungan. (hasil wawancara minggu 26 Februari 2017, pukul 10.40-12.00 WIB).
Aktivitas yang berkaitan dengan menjaga lingkungan dapat dijelaskan
sebagai berikut; adanya penghematan dalam penggunaan energi (listrik,
bahan bakar minyak, gas, dan air), adanya netralisasi limbah hasil produksi
sebelum dilakukannya pembuangan akhir limbah sehingga tidak mencemari
lingkungan, penggunaan bahan pewarna alami serta sintetik yang aman dan
tidak membahayakan lingkungan, dan peran aktif UMKM batik dalam
menjalin kerjasama dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kab. Bantul
dalam melestarikan dan menjaga lingkungan agar tetap sehat.
3) Kategori Sosial
Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada kategori
sosial ini terbagi menjadi empat sub kategori. Empat sub kategori tersebut
adalah praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan kerja, Hak Asasi Manusia
pernyataan yang digunakan untuk mengetahui bagaimana UMKM batik
menerapkan kegiatan CSR pada kategori sosial. Masing-masing jumlah
item berdasarkan empat sub kategori adalah praktik ketenagakerjaan dan
kenyamanan kerja 11 item, Hak Asasi Manusia (HAM) 8 item, masyarakat
8 item, dan tanggung jawab produk 7 item. Hasil penerapan Corporate
Social Responsibility (CSR) pada kategori sosial yang terbagi menjadi
empat sub kategori ditampilkan dalam bentuk tabel pada halaman
Tabel 5.9
Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) Kategori Sosial
Praktik Ketenagakerjaan dan
Kenyamanan Kerja Hak Asasi Manusia Masyarakat Tanggung Jawab Produk
No.
Item Jumlah penerapan Persentase
No.
Item Jumlah penerapan Persentase
No.
Item Jumlah penerapan Persentase
No.
Item Jumlah penerapan Persentase
37 0 63,64% 48 24 96,35% 56 24 68,75% 64 24 62,50% 38 24 49 17 57 7 65 7 39 24 50 24 58 24 66 19 40 24 51 24 59 0 67 6 41 24 52 24 60 24 68 24 42 0 53 24 61 5 69 24 43 0 54 24 62 24 70 1 44 0 55 24 63 24 45 24 46 24 47 24 70
Berikut ini adalah pembahasan penerapan Corporate Social
Responsibility (CSR) pada kategori sosial yang terbagi menjadi empat sub
kategori.
a) Sub-kategori Praktik Ketenagakerjaan dan Kenyamanan Kerja
Dalam penerapan CSR pada sub kategori ini, terdapat 11 item yang
berkaitan dengan ketenagakerjaan dan kenyamanan kerja. Besarnya
persentase tingkat penerapan pada sub kategori ini oleh UMKM batik
yang menjadi populasi sasaran adalah 63,64%. Angka tersebut memiliki
makna bahwa tidak semua UMKM batik yang menjadi populasi sasaran
dalam penelitian ini menerapkan kegiatan CSR pada sub-kategori ini.
Dari jumlah total skor penerapan kegiatan CSR pada sub-kategori ini
sebanyak 264 (11 item pernyataan x 24 UMKM batik dengan jawaban
“Ya”) ada sebanyak 168 (jumlah jawaban “Ya” pada sub-kategori praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan kerja) atau sebesar 63,64%
dan sisanya menandakan bahwa kegiatan CSR berkaitan dengan
sub-kategori ini belum dilaksanakan oleh UMKM batik. Berdasarkan
besaran persentase 63,64% tersebut terdapat tujuh item (item no. 38, 39,
40, 41, 45, 46, 47) yang dilakukan oleh semua UMKM batik, sedangkan
empat item (item no. 37, 42, 43, 44) tidak diterapkan oleh satupun
UMKM batik yang menjadi populasi sasaran dalam penelitian ini.
Item-tem yang diterapkan oleh UMKM batik berkaitan dengan sub
kategori praktik ketenagakerjaan dan kenyamanan kerja ada 7 item
melakukan komunikasi berkaitan dengan kebijakan UMKM, terbuka
terhadap saran ataupun masukan yang diberikan oleh pengrajin,
memberikan pengetahuan mengenai bahaya dampak akibat proses
produksi, memberikan diskripsi kerja sesuai dengan keahlian pengrajin,
melakukan persamaan tingkat upah minimum, serta menerima atau
terbuka atas segala bentuk pengaduan berkaitan dengan ketenagakerjaan
yang disampaikan oleh pengrajin didalam UMKM batik.
Berkaitan dengan item yang tidak diterapkan oleh UMKM batik
pada sub kategori ini, terdapat hal-hal menarik berkaitan dengan tidak
diterapkannya item tersebut. Berikut ini adalah hasil wawancara yang
dilakukan dengan Ketua Paguyuban Batik Tulis Giriloyo mengenai 4
item yang tidak diterapkan UMKM batik berkaitan dengan praktik
ketenagakerjaan dan kenyamanan kerja:
Tidak ada Mas. di sini masih tradisional Mas, tidak ada pemberian hadiah-hadiahan atau semacamnya kepada karyawan yang bekerja dengan baik. Mereka semua diberi gaji atau upah ya sebesar pekerjaan yang diselesaikan Mas. jadi misalnya karyawan tersebut menyelesaikan 2 potong kain batik, ya gajinya atau upahnya sebesar itu dan biasanya memang masih dibawah UMR daerah bantul Mas.
Tidak ada pelatihan Mas. di sini semua yang bekerja membatik, awalnya karena sudah terbiasa untuk membatik. Membatik di sini sudah turun temurun Mas. biasanya dari usia SD atau SMP sudah belajar sendiri Mas untuk membatiknya. Dirumah Ibu nya biasa membatik, awalnya anak bisa membatik ya dari itu.
Tidak ada. BPJS atau Jamkesda itu buat sendiri Mas. tidak ada jaminan kesehatan dari pemilik. Karna kalau biasanya itukan dari