• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : METODE PENELITIAN

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Analisis dan Pembahasan

1. Penerapan e-planning di BAPPEDA Kabupaten Blitar 1 Dasar Hukum

Setiap kegiatan yang dilakukan pemerintah baik pusat maupun daerah pasti memiliki dasar hukum. Dasar hukum digunakan sebagai landasan bagi setiap penyelenggaraan kegiatan. Dengan adanya dasar hukum yang sah dan legal maka setiap penyelenggaraan kegiatan akan memiliki aturan yang kuat.

Penyelenggaraan kegiatan yang dilakukan merupakan sebuah hasil dari kebijakan publik oleh pemerintah daerah dalam mengendalikan pemerintahannya. Pengendalian pemerintahan daerah akan berjalan lancar dan akurat apabila memiliki aturan yang kuat berupa dasar hukum yang sah dan legal.

Berangkat dari aturan yang kuat, dasar hukum yang sah dan ilegal maka dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, khususnya dalam hal perencanaan yang di naungi oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), Kabupaten Blitar membuat inovasi dengan memanfaatkan teknologi. Inovasi yang dimaksud tersebut adalah electronic Planning (e-planning) yang merupakan sebuah website perencanaan milik kabupaten Blitar. Dalam hal ini pemerintah Kabupaten Blitar bekerja sama dengan perusahaan swasta yaitu PT. Integra Indonesia. Inovasi dengan pemanfaatan teknologi yang dibuat merupakan sebuah usaha untuk mencapai salah satu tujuan dari reformasi pemerintahan yaitu terwujudnya good governance. Seperti yang dinyatakan oleh Effendi (dalam Akadun, 2009:130) bahwa untuk membangun pemerintah daerah yang lebih mampu menyelenggarakan good governance, perlu dibangun jaringan kerja sama didasarkan atas hubungan yang partisipatif, transparan, dan responsive antar pilar-pilar good governance.

Dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Blitar membuat sebuah inovasi

e-planning dengan mengacu pada dasar hukum perencanaan yaitu Undang-Undang

Nomor 23 Tahun 2014, Permendagri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD dan RPJMD, serta Tata

Cara Perubahan RPJPD, RPJMD, dan RKPD. Serta Surat Edaran dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor : 640/3761/SJ tanggal 10 Oktober 2016 tentang penerapan Aplikasi E-Planning dalam Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota. Melihat hal tersebut dapat dikatakan bahwasanya penerapan e-planning di Kabupaten Blitar yang mengacu pada tiga dasar hukum pusat sudah cukup kuat, meskipun dalam hal ini pemerintah Kabupaten Blitar tidak memiliki regulasi sendiri untuk penerapan sistem e-planning.

1.2 Tujuan dan Manfaat E-Planning

Berdasarkan KEPRES Nomor 20/2006 tentang Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam proses pemerintahan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan, peranan IT (Informasi Teknologi) dalam proses bisnis membuat organisasi berusaha untuk mengimplementasikan IT (Informasi Teknologi) agar proses dapat terintegrasi dengan baik. Begitu pula dengan BAPPEDA Kabupaten Blitar yang memanfaatkan teknologi untuk proses perencanaan daerah. Dalam proses perencanaan daerah tentunya BAPPEDA tidak bisa bekerja sendiri tanpa bantuan dari para SKPD-SKPD yang ada di Kabupaten Blitar, untuk itu sistem aplikasi

e-planning yang dibuat adalah untuk memudahkan proses dan tahapan perencanaan.

Memudahkan proses dan tahapan yang dimaksud disini adalah dengan menjaga konsistensi usulan program dan kegiatan agar tidak ada yang berubah-ubah sewaktu-waktu, karena apabila perubahan usulan sering terjadi dan itu tanpa ada alasan yang jelas dan tidak disertai dengan berita acara maka kemungkinan dapat

menyebabkan penyelewengan anggaran. Selain menjaga konsistensi juga untuk mensinkronkan antara prioritas pusat dengan prioritas provinsi atau daerah, dengan kata lain memberi batasan prioritas kepada daerah agar prioritas antar pusat dan daerah sejalan. Dan yang terakhir adalah untuk meningkatkan akuntabilitas dan transparansi kepada publik. BAPEEDA selaku pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab kepada publik, tanggung jawab kepada publik haruslah didasari dengan transparansi agar tidak timbul dugaan negatif dari publik. Apabila publik merasa puas dengan akuntabilitas pemangku kepentingan, makakepercayaan publik akan semakin meningkat. Meskipun dalam hal akuntabilitas dan transparansi, publik hanya bisa mendapatkan informasi berupa rekapan atau laporannya saja dengan alasan teknis pekerjaan, namun pihak BAPPEDA sudah membuktikan bahwasanya dengan penerapan sistem e-planning mampu untuk meningkatkan akuntabilitas dan transparansi kepada publik.

Dengan kata lain tujuan dan manfaat penerapan sistem e-planning di BAPPEDA Kabupaten Blitar ada tiga yaitu menjaga konsistensi usulan program dan kegiatan, mensinkronkan antara prioritas pusat dengan prioritas provinsi atau daerah, serta meningkatkan akuntabilitas dan transparansi. Tujuan dan manfaat tersebut sebagai bentuk upaya pemerintahan yang serba berbasis elektronik dengan memanfaatkan teknologi yang ada. hal tersebut sesuai dengan KEPGUB Jawa Timur Nomor. 36/2003 Tentang Penyelenggaraan Sistem Informasi dan Telematika propinsi Jawa Timur, bahwa planning merupakan bagian dari

e-government yang mana bertujuan sebagai suatu alat interaksi antara pemerintah

teknologi informasi yang ada guna memperbaiki mutu, kualitas dan kinerja pemerintahan agar transparan dan akuntabel.

1.3 Strategi implementasi e-planning

Sistem aplikasi e-planning merupakan inovasi perencanaan dengan memanfaatkan teknologi. Dalam pembuatan sistem aplikasi ini pihak BAPPEDA Kabupaten Blitar bekerja sama dengan perusahaan swasta yaitu PT.Integra Indonesia. E-planning yang dibuat ini merupakan inovasi yang berguna untuk membantu pekerjaan BAPPEDA dalam proses dan tahap perencanaan daerah agar berjalan dengan efektif dan efisien. Agar proses penerapan e-planning berjalan dengan lancar, update atau terbaru maka diperlukan suatu tindakan-tindakan atau strategi dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Edward lll, 1980:1). Untuk itu pemerintah Kabupaten Blitar khususnya BAPPEDA memiliki strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan mengenai penerapan sistem e-planning.

Strategi yang dilakukan BAPPEDA sebagai upaya pencapaian tujuan yang ditetapkan mengenai penerapan sistem e-planning ada tiga hal yang meliputi penganggaran rutin untuk pengembangn sistem, peningkatan SDM dengan melakukan bimtek serta pemberlakuan sistem perumpunan (kerja tim). Melihat dari strategi-strategi yang dicanangkan BAPPEDA Kabupaten Blitar, membuktikan bahwasanya BAPPEDA mengharapkan agar penerapan sistem aplikasi e-planning dapat terlaksana secara optimal. Sebab apabila penerapan sistem aplikasi e-planning dapat terlaksana secara optimal maka dalam proses perencanaan pembangunan daerah akan lebih mudah, efektif dan efisien. Para

pegawai BAPPEDA dan SKPD-SKPD yang terkait akan merasa sangat terbantu karena sudah tidak dilakukan penginputan secara manual. Selain itu pihak eksekutif dan yudikatif juga lebih mudah untuk melakukan pengawasan. Dengan kata lain bahwa dengan adanya strategi-strategi tersebut diharapkan untuk penerapan sistem aplikasi e-planning dapat terus mengalami kemajuan, dapat terus menjadi lebih baik sehingga Kabupaten Blitar suatu saat bisa mendapatkan penghargaan dengan kategori perencanaan pembangunan daerah terbaik, serta menjadi motivasi bagi daerah-daerah lain.

1.4 Sumber Daya Pihak yang Terkait 1.4.1 Sumber daya

Secara umum sumber daya diartikan sebagai sesuatu yang dipandang memiliki nilai ekonomis. Dapat dikatakan juga bahwasanya sumber daya merupakan komponen yang menyediakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dan dalam hal ini sumber daya yang dimaksud adalah segala suatu yang dbutuhkan untuk mendukung proses penerapan e-planning. Menurut Van Meter dan Horn dalam Budi Winarno, 2002, bahwa sumber-sumber yang dimaksud mencakup dana dan segala sesuatu lain yang mendorong dan memperlancar penerapan e-planning secara efektif dan efisien.

E-planning di Kabupaten Blitar memiliki beberapa sumber daya yang

meliputi man, money, methode , machine dan materials. Dalam hal ini sumber daya yang diperlukan tidak jauh berbeda dengan sumber daya manajemen hanya saja yang membedakan disini, sumber daya yang diperlukan dalam penerapan

sistem e-planning tidak memerlukan unsur market seperti yang ada pada manajemen. Alasan mengapa dalam penerapan sistem e-planning tidak memerlukan unsur market karena dalam hal ini sistem e-planning tidak untuk dijual namun merupakan sebagai alat untuk mempermudah pekerjaan sehingga tujuan dapat tercapai dengan efektif dan efisien. Tujuan dapat tercapai apabila sumber daya sumber daya yang diperlukan minimal sudah memenuhi batas dasar yang diperlukan. Apabila sumber daya yang diperlukan melebihi dari batas dasar maka hal tersebut menjadi nilai tambah bagi kelompok yang bersangkutan, sehingga untuk bisa berkembang dan mencapai tujuan secara cepat dapat segera terlaksana.

Di BAPPEDA Kabupaten Blitar sendiri beberapa sumber daya masih dinilai kurang. Contohnya adalah pada sumber daya manusianya, beberapa sumber daya manusia yang ada di BAPPEDA masih ada yang belum begitu mampu dalam penggunaan teknologi sehingga untuk mengoperasikan e-planning yang bersangkutan masih mengalami kesulitan. Secara otomatis apabila yang bersangkutan mengalami kesulitan maka akan bertanya kepada pegawai lain, padahal seperti yang kita tahu apabila pegawai yang dimintai tolong untuk mengajari yang bersangkutan tidak memiliki pekerjaan tidak ada masalah, akan ada masalah jika yang bersangkutan meminta tolong kepada pegawai lain yang sedang memiliki pekerjaan banyak, dan akhirnya pekerjaan menjadai terbengkalai. Melihat hal semcam itu maka pihak BAPPEDA merasa perlu mengadakan bimbingan secara teknis mengenai pengoperasian e-planning.

Dalam hal penerapan sistem e-planning pihak yang terkait merupakan aktor-aktor yang memiliki peran berbeda-beda. Aktor-aktor inilah yang selanjutnya dapat disebut sebagai pemangku kepentingan. Dalam Budi Winarno, 2002:110 juga disebutkan bahwasanya sikap para pemangku kepentingan ini akan mempengaruhi keberhasilan pencapaian tujuan kebijakan. Sikap pemangku kepentingan yang bekerja sesuai dengan peran mereka masing-masing diharapkan agar pemangku kepentingan dapat secara maksimal menyelesaikan dan menjalankan tugasnya masing-masing.

Begitu pula dengan e-planning yang dalam penerapannya memiliki pihak-pihak yang tekait atau terlibat. Pihak-pihak-pihak atau aktor-aktor tersebut adalah BAPPEDA sendiri, para SKPD-SKPD yang bersangkutan, DPR, dan BPKAD. Dalam hal perencanaan semua aktor tersebut terlibat dan memiliki perannya masing-masing sesuai dengan porsinya. Secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa dalam penggunaan e-planning untuk mempermudah proses perencanaan mereka para aktor atau pihak yang terkait memiliki batas dalam mengakses

e-planning. Contohnya para SKPD yang hanya bisa mengakses e-planning dengan

batasannya yang hanya mampu menginput usulan program dan kegiatan.

1.5 Cara Kerja e-planning

Tahapan poses kerja sistem e-planning yakni dilaksanakan oleh badan-badan administrasi atau pemangku kepentingan yang dalam hal ini dilakukan oleh BAPPEDA dan para SKPD yang terkait. Proses kerja yang dilaksanakan melibatkan aspek finansial dan manusia. Menurut Van Meter dan Horn dalam buku Budi Winarno, 2002:110 dalam proses pelaksanaan kebijakan tentunya akan

ada berbagai kepentingan yang saling bertentangan. Tidak semua kebijakan atau bebrapa kebijakan mendapat dukungan dari pelaksana namun ada juga beberapa kebijakan yang mungkin akan ditentang pelaksana.

Dalam hal ini proses kerja e-planning adalah secara online atau menggunakan internet untuk mengaksesnya. E-planning ini berbentuk website dan memerlukan username dan password untuk bisa masuk ke website tersebut. Untuk dapat masuk ke website tersebut setiap pihak yang terkait diberikan

username dan password yang aksesnya dibatasi sesuai dengan peran dan tugasnya

masing-masing. Dalam wesite e-planning BAPPEDA Kabupaten Blitar terdapat delapan menu yang terdiri dari Developer, Administrator, Konfigurasi, Master Data, Perencanaan, Eksekutif, Laporan dan utility. Untuk menu Developer yang bisa mengaksesnya hanya pihak pengembang yang telah bekerja sama dengan BAPPEDA Kabupaten Blitar, dalam hal ini pihak pengembang tersebut adalah PT. Integra Indonesia. Untuk menu Administrator, Konfigurasi, Master Data, Perencanaan (RPJMD secara umum terdiri dari visi misi, tujuan dan sasaran, strategi dan kebijakan, urusan dan program serta sasarn program pemerintah) itu diisi oleh Admin yang diberi akses untuk bisa membuka atau melakukan segala sesuatu termasuk pengeditan di dalam e-planning. Sedangkan untuk menu Perencanaan dengan sub menu Rancangan akhir renja dapat di akses oleh admin BAPPEDA dan SKPD yng bersangkutan. Di sini SKPD memiliki peran menginput daftar usulan kegiatan dan entry usulan kegiatan. Sedangkan menu Perencanaan dengan sub menu RKPD yang dapat mengakses adalah BAPPEDA dan SKPD yang bekerja sama dengan rumpunnya masing-masing. Dalam hal ini

SKPD memiliki peran menginput daftar usulan kegiatan dan entry usulan kegiatan yang kemudian perlu diverifikasi oleh ketua rumpunnya masing-masing. Untuk menu Eksekutif yang dapat mengakses adalah DPR, Inspektorat, BPKAD serta admin yang ada di BAPPEDA. Namun DPR, Inspektorat dan BPKAD ini aksesnya hanya melihat tidak untuk mengedit. Dan menu selanjutnya adalah Laporan, pada menu ini yang dapat mengakses adalah DPR, Inspektorat dan BPKAD. Dalam menu ini mereka dapat mencetak laporan rekapan yang sudah tersedia tanpa bisa mengeditnya. Yang terakhir adalah menu utility, yang mana untuk saat ini menu ini masih kosong, menu ini akan dipergunakan apabila ada suatu keperluan yang mengharuskan untuk dimasukkan dalam sistem e-planning.

Melihat tahap kerja sistem e-planning di Kabupaten Blitar, dapat dikatakan bahwasanya sistem perencanaan dengan menggunakan sebuah sistem lebih terarah dan membagi secara rata antara peran sesuai dengan tugasnya masing-masing. Seingga dapat tercipta suatu kondisi bekerja sama secara team bukan individu. Sebab apabila suatu organisasi tidak menciptakan suatu keadaan yang bekerja sama secara team maka akana ada kelebihan kekuasaan yang pada akhinrya akan menimbulkan keadaan yang tidak kondusif dalam bekerja.

1.6 Efektivitas E-planning

E-planning pada dasarnya merupakan sistem yang dibuat untuk

mempermudah dan mengefektifkan proses perencanaan pembangunan daerah. Merujuk kepda tulisan Setiyadi (2003) tentang manfaat e-government yang salah satunya adalah pelaksanaan pemerintah yang lebih efektif dan efisien. Dimana koordinasi lembaga pemerintahan dapat dilakukan tanpa harus bertemu secara

langsung. Di BAPPEDA Kabupaten Blitar sendiri dahulu sebelum adanya

e-planning mereka bekerja secara manual dalam proses perencanaan. Belum lagi

ketika pihak DPR selaku pengawas meminta rekapan RPJMD maka BAPPEDA harus mencetak ulang lagi, namun dengan sudah adanya e-planning maka pihak DPR dapat mengakses sendiri rekapan RPJMD yang dibutuhkan dengan membuka website e-planning. Mereka juga dapat mencetak sendiri apa yang dibutuhkan. Selain itu ketika diadakan rapat dan membutuhkan data yang berkatan dengan usulan program atau anggaran maka pegawai tidak perlu repot-repot membuka laptop atau komputer, namun hanya perlu membuka website

e-planning lewat hanhphone.

Selain merujuk kepada tulisan Setiyadi, juga mrujuk pada tulisan Al Gore dan Tony Blair dalam Indrajit (2002:5) mengenai manfaat e-government yang salah satunya adalah meningkatkan transaparansi kontrol dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintah. Di BAPPEDA Kabupaten Blitar dengan adanya

e-planning maka transparansi kontrol akan semakin meningkat, hal tersebut

dibuktikan dengan DPR atau Inspektorat yang bisa mengontrol dan mengawasi proses perencanaan dengan melihat dan memantau rekapan yang ada di

e-planning. Selain itu juga akuntabilitas atau tanggung jawab BAPPEDA dalam hal

perencanaan dengan adanya e-planning dapat meningkat secara efektif.

2.Faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan E-Planning di Kabupaten Bitar

Sistem e-planning yang dibuat pasti memiliki alasan sebagai pendorong penerapan sistem apilkasi e-planning. Dalam hal penerapan sistem e-planning BAPPEDA kabupaten Blitar memiliki empat faktor pendorong, yaitu:

Sebagai faktor pendorong pertama adalah sistem e-planning sebagai tindak lanjut atas tuntutan pemerintah pusat. Sebelum adanya e-planning BAPPEDA Kabupaten Blitar sudah memiliki sistem perencanaan bernaman sirenda, namun sistem tersebut berbasis desktop. Kelemahannya jika berbasis desktop, apabila suatu saat data diperlukan harus membuka kembali laptop atau komputer dan secara otomatis hal tersebut menjadi tidak efisien. Didasari dengan adanya surat edaran yang dikeluarkan oleh Permendagri ayng mewajibkan seluruh daerah dalam hal perencanaan harus sudah beralih menggunakan e-planning, maka pemerintah Kabupaten Blitar juga menindak lanjuti surat edaran tersebut. Dalam proses pembuatan e-planning kabupaten Blitar menjadi salah satu daerah yang diawasi secara langsung oleh KPK. Sehingga mendorong semangat BAPPEDA dalam proses perencanaan menggunakan e-planning agar terus berkembang seiring berjalannya waktu, dan kalau bisa juga mendapat penghargaan dengan kategori perencanaan terbaik secara nasional.

Faktor Pendorong yang kedua adalah sistem e-planning sebagai alat mempermudah tuntutan kerja. Seiring dengan berkembangnya zaman, pengguanaan teknologi informasi digunakan dalam segala aspek kehidupan, baik dalam pemerintahan maupun masyarakat. Merujuk kepada pengertian

e-government menurut Bank Dunia dalam Setiyadi 2003, bahwasanya e-e-government

akan dapat mendukung transformasi hubungan dengan warga negara, pelaku bisnis, dan institusi pemerintah lainnya. Pemanfaatan teknologi informasi ini bertujuan untuk penyelenggaraan pelayanan publik yang lebih baik, meningkatkan hubungan antara pemerintah dengan bisnis dan industri, memberdayakan masyarakat melalui akses terhadap informasi, serta meningkatkan efisiensi manajemen pemerintahan. Dengan melihat pengertian e-government tersebut dapat dikatan bahwasanya untuk menjadi pemerintahan yang baik haruslah memanfaatkan teknologi yang ada secara maksimal, karen di zaman yang serba canggih ini akan memudahkan instansi pemerintah untuk melakukan pekerjaannya dengan teknologi. Seperti halnya dengan BAPPEDA Kabupaten Blitar, bahwasanya mereka juga memanfaatkan teknologi secara maksimal untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Faktor pendorong yang ketiga adalah sistem e-planning sebagai penyempurna sistem yang sudah ada. Seperti yang dijelaskan diatas bahwasanya sebelum adanya e-planning, Bppeda Kabupaten Blitar telah memiliki sistem perencanaan yang bernama sirenda. Karena sistem sirenda ini memiliki kelemahan yaitu berbasis dekstop, maka BAPPEDA Kabupaten Blitar membuat sebuah inovasi dengan membuat sistem perencanaan elektronik yang sudah berbasis website. Sehingga kapanpun ketika data dibutuhkan langsung dapat mengaksesnya melalui handphone. Bukan dengan sudah adanya e-planning BAPPEDA Kabupaten Blitar menjadi bersantai menggunakan e-planning dalam proses perencanaan, namun mereka terus menerus akan melakukan sebuah perbaikan dan perbaikan guna memaksimalkan fungsi dari e-planning. Hal

tersebut dilakukan sebab sebuah sistem e-planning merupakan sistem yang bertumbuh, serta fleksibel apabila ada perubahan ataupun penambahan fungsi sistem.

Untuk faktor yang terakhir adalah sistem e-planning sebagai alat koordinasi dan pengawasan secara efektif. Merujuk pada manfaat e-government yang disampaikan oleh Setiyadi (2003) bahwa pelaksanaan pemerintahan yang lebih efektif dan efsien serta koordinasi antar lembaga pemerintahan dapat dilakukan tanpa harus bertemu secara langsung. Di BAPPEDA Kabupaten Blitar menerapkan e-planning dalam proses perencanaan adalah dengan tujuan agar koordinasi antar lembaga dapat berjalan dengan lancar. Contohnya ketika penginputan usulan kegiatan dan program kerja, SKPD yang berada di daerah yang jauh dengan kantor BAPPEDA tidak usah datang ke kantor hanya perlu menginput secara onine melalui website yang tersedia. Dan kemungkinan ada kesalahan ketua yang membawahi rumpun dapat menginformasdalam proses perencanaan adalah dengan tujuan agar koordinasi antar lembaga dapat berjalan dengan lancar. Contohnya ketika penginputan usulan kegiatan dan program kerja, SKPD yang berada di daerah yang jauh dengan kantor BAPPEDA tidak usah datang ke kantor hanya perlu menginput secara onine melalui website yang tersedia. Dan kemungkinan ada kesalahan ketua yang membawahi rumpun dapat menginformasikannya hanya dengan menelepon dan memberi tahu letak kesalahannya. Dalam hal ini ketua rumpun sudah bisa memantau apa yang di usulkan SKPD hanya dengan melihat website e-planning meskipun jaraknya sangat jauh tanpa harus SKPD datang ke kantor BAPPEDA memberikan rekapan

usulannya. Selain itu pihak pengawas yang dalam hal ini DPR dan Inspektorat, mereka dapat ikut memantau atau mengawasi usulan-usulan kegiatan dan program kerja apa saja yang telah diusulkan, anggarannya berapa dan sudah sesuai dengan prioritas atau belum hanya dengan melihat rekapan ususlan yang ada di

e-planning, merek juga dapat mencetak rekapan tersebut tanpa harus meminta

rekapan kepada BAPPEDA. Sehingga transparansi akuntabilitas antar lembagapun akan terkoordinir dengan baik, serta pekerjaanpun lebih efektif dan efisien.

1.3 Faktor Penghambat

Dalam penerapan e-government tidaklah tanpa adanya hambatan atau tantangan. Tantangan-tantangan yang dimaksud telah disampaikan oleh Sari dan Winarno (2012:11) serta Kumorotomo (2008), tantangan tersebut bisa berupa dari aspek kepemimpinan, infrastruktur dan kepemimpinan. Begitu juga halnya dengan penerapan sistem e-planning yang saat ini masih mengalami beberapa hambatan atau tantangan, diantaranya adalah:

Faktor penghambat yang pertama atau tantangan yang pertama adalah minimnya pemahaman dan kemampuan Sumber Daya Manusia. Seperti yang diketahui bahwasanya SDM merupakan unsur yang terpenting dalam penerapan

e-planning, karena apabila SDMnya tidak memadai maka akan sia-sia fasilitas dan

infrastruktur yang tersedia. Menurut Bapak Roni selaku kabid ekonomi III menyebutkan bahwasanya di BAPPEDA sendiri masih ada beberapa SDM yang masih kurang pemahamannya mengenai teknologi sehingga masih perlu diadakannya bimtek. Meskipun bukan bimtek dasar, namun tetap perlu diadakan

untuk mengingatkan kemabli penggunaan teknologi. Selain itu juga sebagai media sosialisasi apabila ada pembaruan sistem

Faktor penghambat yang kedua adalah Sistem Jaringan yang Tidak Stabil (lemot). Menurut salah satu pegawai SKPD dalam pengisian usulan kegiatan dan program kerja dibatasi oleh portal atau waktu yang lamanya hanya satu minggu. Dalam waktu satu minggu mereka merasa kurang karena dalam pengisian usulan kegiatan dan program kerja dibutuhkan ketelitian yang tinggi karena usulan yang sudah diinput tidak dapat di edit. Selain itu dalam waktu satu minggu seluruh