• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Good Corporate Governance

Dalam dokumen Bank Tabungan Negara 2015 (Halaman 50-52)

Perseroan berupaya keras untuk menyempurnakan dan melaksanakan praktik GCG, tidak hanya selaras dengan tuntutan regulasi namun juga sesuai dengan best practices/standard internasional. Bagi Perseroan, penerapan GCG merupakan sebuah keharusan, investasi meniti tangga kesuksesan (the most critical secret of success side). Moving Beyond Corporate Governance to True Bussiness Value, merupakan tagline yang gencar dikampanyekan manajemen kepada segenap stakeholders.

Dapat kami sampaikan bahwa Perseroan senantiasa menerapkan standard praktik GCG yang tinggi yang mengacu pada ketentuan OJK dan standar internasional sesuai framework ASEAN CG Scorecard yang selaras dengan parameter yang telah ditetapkan oleh Organisation for Economic Cooperation and Development

(OECD). Berbagai upaya intensif telah dilakukan sebagaimana yang dapat dilihat pada bagian Good Corporate Governance pada Laporan Tahunan ini. Beberapa hal terkait dengan upaya intensif tersebut dapat kami sampaikan sebagai berikut.

Struktur dan Mekanisme GCG

Perseroan telah memiliki struktur GCG yang kuat dan efektif yang terdiri dari organ utama, yaitu Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan Komisaris dan Direksi. Ketiga organ Perseroan tersebut telah menjalankan perannya masing-masing dalam memenuhi kewajibannya kepada pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya.

RUPS adalah organ Perseroan yang memegang kekuasaan tertinggi dan memegang segala kewenangan yang tidak dapat didelegasikan atau diserahkan kepada Dewan Komisaris dan Direksi. RUPS sebagai organ Perseroan merupakan wadah para pemegang saham untuk mengambil keputusan penting berkaitan dengan modal yang ditanam dalam Perseroan, dengan memperhatikan ketentuan Anggaran Dasar dan Undang-undang Perseroan Terbatas. Selain itu RUPS juga berfungsi sebagai forum pertanggungjawaban kepengurusan Dewan Komisaris dan Direksi atas hasil kinerjanya dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Selama tahun 2015, Perseroan telah menyelenggarakan RUPS tahunan dalam waktu yang tidak melewati batas yang ditentukan yaitu pada tanggal 24 Maret 2015. Perseroan juga menyelenggarakan RUPS Luar Biasa pada tanggal 2 September 2015 dengan agenda Perubahan susunan Pengurus Perseroan. Dewan Komisaris dan Direksi, yang memiliki wewenang dan tanggung jawab yang jelas sesuai fungsinya masing-masing sebagaimana diamanahkan dalam Anggaran Dasar dan peraturan perundang-undangan. Secara lebih rinci, pedoman dan tata tertib kerja Direksi diatur dalam Board Manual yang mengatur tentang Panduan Tata Kerja Dewan Komisaris dan Direksi antara lain berisi tentang petunjuk tata laksana kerja Direksi secara terstruktur, sistematis, mudah dipahami dan dapat dijalankan dengan konsisten, dapat menjadi acuan bagi Direksi dalam melaksanakan tugas masing-masing untuk mencapai visi dan misi perusahaan. Dengan adanya Panduan Tata Kerja Dewan Komisaris dan Direksi diharapkan akan tercapai standar kerja yang tinggi, selaras dengan prinsip-prinsip GCG. Panduan Tata Kerja Dewan Komisaris dan Direksi telah disahkan melalui Keputusan Bersama Dewan Komisaris Perseroan Nomor 01/KOM-BTN/2015 dan Direksi Perseroan Nomor SKB-01/DIR-BTN/2015.

Pelaksanaan evaluasi kinerja dilakukan secara komprehensif, berjenjang, dan berkala. Hasil evaluasi Key Performance Indicators

(KPI) Direksi oleh Dewan Komisaris merupakan media penilaian pertanggungjawaban Direksi di RUPS. Adapun penilaian lainnya dilakukan berdasarkan parameter kriteria Penilaian Tugas dan Tanggung Jawab Direksi dalam self-assessment pelaksanaan GCG sebagaimana diatur pada Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/15/ DPNP/ tanggal 29 April 2013 perihal Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum. Berdasarkan hasil penilaian self assessment pelaksanaan Good Corporate Governance tahun 2015, Perseroan mendapat nilai komposit 2.

Dalam pelaksanaannya, organ Perseroan memiliki berbagai kebijakan/pedoman (GCG infrastruktur) dalam menjalankan fungsi dan tugasnya. Tujuannya antara lain:

• Melengkapi kebijakan pendukung dalam penerapan GCG.

• Menjadi pedoman bagi Perseroan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari sesuai dengan budaya (corporate culture) yang diharapkan.

• Merupakan bentuk komitmen tertulis bagi seluruh jajaran dan tingkatan organisasi Perseroan dalam rangka meningkatkan disiplin dan tanggung jawab organ Perseroan dalam rangka menjaga kepentingan stakeholders sesuai dengan tanggung jawab masing-masing.

Manajemen Risiko

Untuk mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis perbankan yang dinamis, maka Perseroan menerapkan manajemen risiko sebagai konsep strategis. Pendekatan yang dilakukan dalam mendukung penerapan manajemen risiko Perseroan secara efektif adalah dengan melakukan pendekatan komprehensif untuk mengelola risiko- risiko Perseroan secara menyeluruh, meningkatkan kinerja dalam mengelola ketidakpastian, meminimalisir ancaman dan memaksimalkan peluang tanpa mengabaikan prinsip-prinsip manajemen risiko paling kurang mencakup 4 (empat) pilar, yaitu: 1. Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi.

Dewan Komisaris dan Direksi bertanggung jawab atas efektivitas penerapan Manajemen Risiko diantaranya melalui menetapkan struktur organisasi yang mencerminkan secara jelas mengenai batas wewenang, tanggung jawab dan fungsi, serta independensi antar unit bisnis dengan unit kerja manajemen risiko, melakukan persetujuan dan peninjauan berkala mengenai strategi dan kebijakan risiko yang mencakup tingkat toleransi Perseroan terhadap risiko dan siklus perekonomian, bertanggung jawab untuk mengimplementasikan strategi dan kebijakan risiko dengan cara menjabarkan dan mengkomunikasikan kebijakan dan strategi risiko, memantau dan mengendalikan risiko dan mengevaluasi penerapan kebijakan dan strategi, dan membentuk komite-komite yang bertujuan untuk yang membantu pelaksanaan tugas Dewan Komisaris dan Direksi untuk mendukung penerapan Manajemen Risiko secara efektif.

2. Kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit. Penerapan Manajemen Risiko didukung dengan kerangka yang mencakup kebijakan dan prosedur Manajemen Risiko serta limit Risiko yang ditetapkan secara jelas sejalan dengan visi, misi, dan strategi bisnis Perseroan. Kebijakan Manajemen Risiko disusun sesuai dengan karakteristik, kegiatan dan kompleksitas kegiatan usaha Perseroan, strategi bisnis dan risk appetite Perseroan. Dalam rangka pengendalian

Risiko secara efektif, kebijakan dan prosedur yang dimiliki Perseroan harus didasarkan pada strategi Manajemen Risiko dan dilengkapi dengan toleransi Risiko dan limit Risiko. Penetapan toleransi Risiko dan limit Risiko dilakukan dengan memperhatikan tingkat Risiko yang akan diambil dan strategi Perseroan secara keseluruhan.

3. Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian Risiko serta sistem informasi Manajemen Risiko.

Bagian dari penerapan manajemen risiko adalah identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian Risiko. Identifikasi Risiko bersifat proaktif, mencakup seluruh aktivitas bisnis dan dilakukan dalam rangka menganalisa sumber dan kemungkinan timbulnya Risiko serta dampaknya. Selanjutnya, dilakukan pengukuran eksposur Risiko sesuai dengan karakteristik dan kompleksitas kegiatan usaha sebagai acuan untuk melakukan pengendalian, setelah dilakukan pemantauan. Dalam proses penerapan manajemen risiko diatas telah didukung oleh Sistem informasi Manajemen Risiko yang merupakan bagian dari sistem informasi manajemen sesuai dengan kebutuhan dalam rangka penerapan Manajemen Risiko yang efektif. 4. Sistem pengendalian intern yang menyeluruh

Pelaksanaan sistem pengendalian intern dalam penerapan Manajemen Risiko dengan mengacu pada kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan dengan batasan wewenang dan tanggung jawab pada setiap unit kerja, penetapan limit- limit yang memadai, kaji ulang yang efektif, independen, dan obyektif terhadap kebijakan, kerangka dan prosedur operasional Perseroan serta pelaksanaan audit berkala dengan cakupan yang memadai.

Terdapat 8 Risiko yang dikelola Perseroan yaitu risiko kredit, risiko likuiditas, risiko pasar, risiko operasional, risiko stratejik, risiko kepatuhan, risiko hukum dan risiko reputasi. Kedelapan risiko tersebut telah dikelola dengan baik. Hasil penilaian risiko posisi Desember 2015 menghasilkan nilai peringkat risiko komposit 2 (low to moderate).

Dalam dokumen Bank Tabungan Negara 2015 (Halaman 50-52)