• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Lean Manufacturing Pada Proses Pembersihan Fluid Bed

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 110-120)

Perbandingan Rata-rata Unit/ManHour menggunakan Alur Lama dan Baru

4.2 Penerapan Lean Manufacturing Pada Proses Pembersihan Fluid Bed

Dryer (FBD)

Proses pembersihan FBD diawali dengan preparasi. Preparasi meliputi pengambilan perlatan, bahan pembersih (teepol 10%), dan pemisahan beberapa perangkat mesin. Waktu yang diperlukan dalam proses ini sekitar 60 menit. Proses pembersihan FBD memerlukan 2 orang, durasi sekitar 7 jam.

Selanjutnya, dilakukan pembersihan sisa bulk yang menempel di filter dengan cara menyapunya menggunakan tangan, kemudian dibersihkan menggunakan tap water. Setelah selesai membersihkan bagian luar filter, kemudian dilanjutkan dengan pembersihan bagian dalam filter menggunakan tap water.

Kemudian, dilakukan proses pembersihan mesin bagian dalam FBD yang dimulai dengan pembersihan sebelah atas mesin bagian dalam dengan tap water yang dilanjutkan dengan menggunakan teepol 10%. Selanjutnya, dilakukan pembersihan menyeluruh terhadap filter dengan cara membersihkannya menggunakan teepol 10%, tap water, dan hot purified water (HPW), yang kemudian ditiriskan dengan cara diangkat hingga mencapai bagian dalam mesin sebelah atas. Bagian dalam sebelah bawah mesin kemudian dibersihkan menggunakan teepol 10% dan tap water. Kemudian dilanjutkan dengan membersihkan container dengan tap water dan teepol 10%.

Proses pembersihan dilanjutkan dengan pembersihan dinding, kaca, pintu dengan tap water dan teepol 10%. Setelah itu, peralatan dan sarana penunjang juga ikut dibersihkan menggunakan tap water.

Setelah mesin, filter, dan container bersih, ketiganya dikeringkan dengan cara menjalankan mesin FBD. Proses ini dilakukan dua kali karena ada dua container, sehingga memakan waktu yang cukup lama yaitu sekitar dua jam. Ketika proses pengeringan tersebut berlangsung, dilakukan pula pengeringan dinding, kaca, dan pintu dengan menggunakan lap.

Setelah filter kering, filter dikeluarkan dan disimpan. Kemudian grinder mesin dibersihkan, lalu filter baru dipasang ke dalam mesin. Terakhir, lantai ruangan dibersihkan secara keseluruhan. Perbandingan tahapan pembersihan FBD

menurut Standard Operating Procedure (SOP) No: 50-239-A Pembersihan Mesin FBD Glatt WSG 120 dengan hasil pengamatan dapat dilihat di tabel 4.2.

Tabel 4.2. Perbandingan tahapan pembersihan FBD menurut Standard Operating

Procedure (SOP) dengan hasil pengamatan.

No. Tahapan SOP Waktu

(menit) Tahapan berdasarkan pengamatan

Waktu (menit) 1. Pembersihan product container

(disemprot alkohol 70%)

21 Penyiapan proses pembersihan mesin FBD 120 10 2. Pengeringan product container 60 Pembersihan sisa bulk yang menempel di filter 10 3. Pembersihan filter dengan tap water 20 Pembersihan filter dengan tap water 90 4. Pembersihan filter dengan teepol 10% - Pembersihan body mesin bagian dalam dengan

tap water

15 5. Pembersihan filter dengan tap water 5 Pembersihan body mesin bagian dalam dengan

teepol 10%

7 6. Pembersihan filter dengan hot purified water 5 Pembersihan filter dengan teepol 10% 60 7. Pengeringan filter 60 Pembersihan filter dengan tap water 10 8. Pembersihan sprayer nozzle dan tubing

(disemprot alkohol 70%)

29 Pembersihan filter dengan hot purified water 5 9. Pembersihan body mesin bagian dalam, spray

housing, dan lower section dengan tap water

5 Penirisan filter, Pembersihan body mesin dan lower section bagian luar

25 10. Pembersihan body mesin bagian dalam, spray

housing, dan lower section dengan teepol 10%

- Pembersihan spray housing, dan lower section dengan teepol 10%

10 11. Pembersihan body mesin bagian dalam, spray

housing, dan lower section dengan tap water

5 Pembersihan body mesin bagian dalam spray housing, dan lower section dengan tap water

25 12. Pembersihan body mesin bagian dalam, spray

housing, dan lower section dengan alkohol 70%

10 Pembersihan product container (tanpa disemprot alkohol 70%)

20 13. Pembersihan body mesin dan lower section

bagian luar dengan tap water

52 Pengeringan filter dan product container 120 14. Pembersihan body mesin dan lower section

bagian luar dengan teepol 10%

- Pembersihan sprayer nozzle dan tubing (tanpa disemprot alkohol 70%); Pembersihan grinder

20

15. Pembersihan body mesin dan lower section bagian luar dengan tap water

5 Pemasangan filter baru dan penyimpanan filter lama;

Pembersihan control panel dan peristaltic pump; 20

16. Pembersihan control panel dan peristaltic pump -

17. Record pembersihan - Record pembersihan -

Adanya perbedaan alur pelaksanaan pengerjaan oleh operator dan yang tertulis pada SOP akan sangat mempengaruhi jalannya proses dan dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar, seperti volume tap water yang terpakai tidak diperhitungkan terlebih dahulu dan pengulangan proses pembersihan lantai.

Bila dilihat dari alur proses pengerjaan oleh operator, dapat diamati bahwa ada beberapa tahapan yang menjadi pemborosan waktu dan tenaga serta sumber daya, terutama pada penggunaan tap water. Pertama, pada tahapan pembersihan sisa bulk yang menempel di filter. Sisa bulk yang dibersihkan tersebut cukup banyak, hingga diduga bahwa, saat poses produksi, tidak dilakukan pengambilan bulk secara menyeluruh dengan cara menurunkan filter terlebih dahulu. Hal ini dapat menyebabkan kerugian karena bila sisa bulk tersebut dapat diambil saat proses produksi, maka jumlah bulk yang dapat dicetak maka akan semakin banyak, sehingga tablet yang dihasilkan juga bertambah.

Kemudian, saat pembersihan filter, proses pembersihan menggunakan tap water dilakukan berulang kali dalam waktu yang lama, dengan volume yang besar sehingga akan membuang banyak tap water, begitu pula pada pembersihan mesin bagian dalam. Pembersihan filter menggunakan tap water pada bagian bawah (dilakukan agar bagian dalamnya lebih bersih) dilakukan secara spesifik dan memakan waktu yang lama juga menambah pembuangan tap water. Semua perlakuan tersebut sangat merugikan, karena seharusnya tidak perlu berulang kali dengan waktu yang cukup lama, karena nantinya, filter tersebut akan dibersihkan secara manual (dengan tangan sambil disiram menggunakan tap water) dan disikat, begitu pula pada bagian dalam mesin. Penyiraman menggunakan tap water dengan cara yang tersebut juga akan menimbulkan genangan yang mengganggu proses pembersihan mesin, sehingga operator harus berulang kali menyerok sisa air yang menggenang, yang mana memakan waktu dan tenaga yang seharusnya bisa digunakan untuk membersihkan filter dan bagian dalam mesin.

Keterbatasan alat juga dapat menyebabkan proses pembersihan filter yang memakan waktu lama. Karena, dari dua operator yang bekerja, hanya satu operator yang dapat membersihkan filter, hal ini disebabkan sikat yang tersedia hanya ada satu, apabila jumlah sikat ditambah, operator lain yang tidak mengerjakan penyikatan filter dapat membantu menyikat filter tersebut.

Cara pembersihan filter yang dilakukan juga tidak higienis. Hal ini disebabkan, filter dibersihkan tanpa dikeluarkan terlebih dahulu dari mesin, sehingga operator akan

kesulitan menyikat filter hingga bagian tertentu yang mana akan sulit bila tidak dikeluarkan terlebih dahulu. Selain itu, pada saat operator akan membersihkan mesin bagian dalam sebelah atas, operator akan naik ke dalam mesin dan menginjak filter. Walaupun nantinya filter akan disikat dan dibesihkan dengan teepol 10% lalu disiram menggunakan HPW, tetap tidak ada jaminan bahwa filter akan bebas dari bakteri dan kontaminan yang menempel pada sepatu yang digunakan operator dikarenakan cara pembersihan filter yang masih manual, dan tidak adanya pemastian kembali bahawa filter sudah bersih, selain itu, penyikatan filter dilakukan pada saat filter masih berada di dalam mesin, sehingga pembersihan tidak optimal. Perlu diingat, filter adalah alat yang akan bersentuhan langsung dengan bulk yang nantinya menjadi produk yang akan dikonsumsi oleh konsumen. Apabila bulk yang dihasilkan mengandung kontaminan karena proses pembersihan filter yang belum optimal, maka dapat memberikan bagi perusahaan, maupun konsumen.

Saat pembersihan mesin bagian dalam, operator juga membersihkan bagian luar mesin. Hal ini adalah sebuah pembuangan yang merugikan, karena, operator nantinya harus membersihkan lagi bagian luar mesin dikarenakan container dan grinder yang belum dibersihkan, sehingga akan mengotori bagian luar mesin kembali (pembersihan container yang menggunakan tap water dengan tingkat penyiraman yang cukup kencang dapat memberikan muncratan air yang telah bercampur dengan bulk pada bagian luar mesin, begitu pula grinder, karena sisa bulk yang menempel pada grinder akan berterbangan dan dapat mengotori mesin).

Pembersihan dinding, kaca, dan pintu menggunakan tap water dianggap tidak dibutuhkan, karena dapat digunakan lap basah untuk membersihkannya. Pada proses pembersihan tersebut, operator menyiram seluruh bagian dinding, kaca dan pintu, sehingga menimbulkan banyak genangan yang mana membuat operator harus menyerok genangan yang ada secara terus menerus. Selain itu, penggunaan teepol 10% untuk pembersihan dinding, pintu, dan kaca tidak perlu dilakukan secara terpisah, bisa digabung dengan proses mengelap bagian-bagian tersebut bila tidak dilakukan penyiraman menggunakan tap water, dan juga akan menghemat waktu karena akan lebih cepat kering sehingga tidak perlu proses mengelap dinding, dan pintu dengan lap kering (untuk kaca mungkin masih diperlukan karena air akan meninggalkan jejak pada kaca apabila tidak langsung dikeringkan). Pembersihan menggunakan lap basah juga dapat dilakukan dua

operator sekaligus, karena lap yang tersedia cukup banyak, sehingga proses pembersihan akan lebih cepat dan efisien.

Kemudian, selama pembersihan FBD, proses pengepelan lantai sebelum tahap pembersihan lantai akhir dilakukan beberapa kali sehingga dianggap kurang efisien. Hal ini disebabkan banyaknya genangan air dan belum adanya keterangan tentang pengepelan lantai pada SOP, sehingga operator belum memiliki panduan dalam melakukan hal tersebut. Pengepelan lantai yang berulang kali dilakukan bukan hanya sekedar penyerokan air saja, namun juga dipel menggunakan pel dorongan, sehingga waktu yang dibutuhkan semakin lama.

Bila dilihat dari urutan tahapan yang dilakukan, pembersihan container, yang dilakukan setelah membersihkan mesin dianggap kurang efektif, karena akan mengotori bagian luar mesin yang telah dibersihkan dan akan lebih baik bila dilakukan sebelum membersihkan mesin sehingga dapat mengurangi proses penyerokan genangan. Proses pembesihan container ini akan menimbulkan genangan, yang mana bila dilakukan sebelum mesin dibersihkan, maka genangan tersebut dapat diserok sekaligus dengan genangan yang timbul akibat proses pembersihan mesin.

Proses pengeringan filter, container, dan mesin bagian dalam dilakukan setelah proses pembersihan dinding, kaca, dan pintu. Padahal, proses pengeringan tersebut memakan waktu yang cukup lama, yang mana dalam selang waktu tersebut dapat dilakukan pembersihan dinding, kaca, dan pintu. Selain itu, proses pengeringan filter dilakukan dua kali dikarenakan, pergantian container yang akan dikeringkan, filter tidak dikeluarkan dari mesin terlebih dahulu, sehingga saat proses pengeringan container yang kedua, filter tetap berada di dalam mesin. Hal ini dapat mempengaruhi kondisi filter, sehingga akan lebih baik, setelah filter kering, sebelum memasang container yang kedua, filter disimpan terlebih dahulu oleh operator yang tidak menjalankan mesin untuk proses pengeringan.

Pemasangan filter baru dilakukan setelah pembersihan grinder yang mana akan memberikan kontaminasi pada saat pemasangan filter. Karena, pembersihan grinder menyebabkan sisa bulk dapat mengontaminasi filter bersih yang akan dipasang. Kemudian, sebelum pembersihan grinder, dilakukan pembersihan lantai yang sudah menggunakan disinfektan. Hal tersebut tidak efektif karena saat pembersihan grinder, lantai akan kotor kembali oleh sisa bulk yang dihasilkan.

Urutan tahap pengerjaan yang tidak tepat dan kurangnya optimalisasi pengerjaan masing-masing tahapan, dapat menyebabkan kerugian yang bila terakumulasi akan sangat merugikan. Sehingga, apabila dilakukan sedikit perubahan dalam tahapan dan cara kerja membersihkan mesin FBD, maka proses pembersihan akan menjadi lebih optimal. Saran perbaikan urutan tahap dan cara kerja dapat dilihat pada tabel 4.3.

Untuk mencari solusi untuk masalah ini, dapat digunakan diagram fishbone untuk menganalisa masalah tersebut. Analisis permasalahan tersebut dapat dilihat pada gambar 4.4.

Tabel 4.3. Saran perubahan tahapan dan cara pembersihan mesin FBD.

No Operator 1 Waktu

(menit)

Operator 2 Waktu

(menit) 1. Pengeluaran filter dari mesin (filter

dibersihkan di luar mesin) dan diletakkan di product container

08.00- 08.05

Pengeluaran filter dari mesin (filter dibersihkan di luar mesin) dan diletakkan di product container

08.00- 08.05 2. Pembersihan filter (sekaligus membersihkan

product container) dengan tap water

08.05- 08.25

Pembersihan body mesin bagian dalam, spray housing, dan lower section dengan tap water

08.05- 08.25 3. Pembersihan filter (sekaligus membersihkan

product container) dengan teepol 10%

08.25- 09.55

Pembersihan filter (sekaligus membersihkan product container) dengan teepol 10%

08.25- 09.55 4. Pembersihan filter (sekaligus membersihkan

product container) dengan tap water (pembersihan dari sisa teepol 10%)

09.55- 10.25

Pembersihan body mesin bagian dalam, spray housing, dan lower section dengan teepol 10%

09.55- 10.25 5. Pembersihan filter (sekaligus membersihkan

product container) dengan hot purified water

10.25- 10.40

Pembersihan body mesin bagian dalam, spray housing, dan lower section dengan tap water

10.25- 10.40 6. Pembersihan product container dengan

disemprot alkohol 70%

10.40- 10.50

Pembersihan body mesin bagian dalam, spray housing, dan lower section dengan alkohol 70%

10.40- 10.50 7. Pengeringan filter sekaligus product container 10.50-

11.50

Pengeringan filter sekaligus product container

10.50- 11.50 8. Pembersihan sprayer nozzle dan tubing

(disemprot alkohol 70%), Pembersihan control panel dan peristaltic pump

- (dilaku- kan pada saat pengeri- ngan filter)

Pembersihan body mesin dan lower section bagian luar dengan tap water, teepol 10%, dan tap water

- (dilaku- Kan pada saat pengeri- ngan filter) 9. Pengeluaran filter dan product container serta

pemasangan filter baru

11.50- 12.00

Record pembersihan 11.50- 12.00

Gambar 4.5 Fishbone Diagram proses pembersihan fluid bed dryer (FBD)

Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan:

1. Pembuatan revisi untuk prosedur tetap pelaksanaan pembersihan mesin FBD. Prosedur tetap pelaksanaan pembersihan FBD tidak cukup terperinci pada bagian penyikatan filter yang menyita waktu cukup lama sehingga, penerapannya akan sulit dan dapat menimbulkan kesalahan yang mengakibatkan panjangnya durasi proses pembersihan. Hal tersebut dapat diatasi dengan merevisi kembali prosedur tetap proses pembersihan mesin FBD tersebut.

2. Perubahan cara kerja dalam pelaksanaan pembersihan mesin FBD.

Perubahan cara akan sangat mempengaruhi proses pembersihan, yang mana bila perubahan tersebut dilakukan ke arah yang lebih baik, akan mempersingkat durasi proses pembersihan mesin FBD.

3. Diberikannya pelatihan ulang pada operator terkait.

Pelatihan ulang pada operator terkait akan sangat diperlukan, terutama bila diadakannya perubahan cara dan tahapan kerja pelaksanaan pembersihan mesin FBD. Selain itu, pelatihan ulang akan membantu operator dalam optimalisasi pengerjaan setiap tahapan kerjanya sehingga durasi proses pembersihan mesin FBD akan menjadi lebih pendek.

4. Melengkapi alat pembersih yang dibutuhkan.

Pengerjaan prosedur pembersihan mesin FBD akan lebih optimal apabila ketersediaan alat pembersih yang dibutuhkan sebanding dengan jumalh operator pelaksana.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

1. Waste yang teridentifikasi dalam proses yang diamati adalah: A. Proses pengemasan sekunder produk Ceftriaxone dry injection

i. Jumlah packer yang terlalu banyak ii. Man hour yang terlalu tinggi

B. Proses pembersihan mesin Fluid Bed Dryer (FBD) pada area non betalaktam (NBL).

i. Penggunaan tap water yang berlebihan ii. Waktu pembersihan lantai yang tidak tepat

iii. Pembersihan dinding, kaca dan pintu yang tidak tepat

2. Proses pengemasan sekunder produk Ceftriaxone dry injection roses pengemasan sekunder produk Ceftriaxone dry injection untuk 1 bets (8290 unit) membutuhkan waktu 7 jam, jumlah packer 10-16 orang, dengan rata-rata man hour 70 belum efektif dan efisien, sehingga diperlukan evaluasi terhadap alur dan jumlah packer yang terlibat dalam pengemasan sekunder Ceftriaxone dry injection.

dan pembersihan mesin Fluid Bed Dryer pada area non betalaktam belum efektif dan efisien, sehingga diperlukan beberapa solusi perubahan pada kedua proses tersebut.

3. Solusi untuk mengeliminasi waste yang teridentifikasi adalah: A. Proses pengemasan sekunder produk injeksi Ceftriaxone

i. Mengurangi jumlah packer ii. Mengubah alur kemas

iii. Mengoptimalkan posisi packer

B. Proses pembersihan mesin Fluid Bed Dryer (FBD) pada area non betalaktam (NBL)

i. Pembuatan revisi untuk prosedur tetap pelaksanaan pembersihan mesin FBD.

Universitas Indonesia iii. Diberikannya pelatihan ulang pada operator terkait.

iv. Melengkapi alat pembersih yang dibutuhkan.

5.2 Saran

1. Perlu dilakukan standarisasi jumlah packer untuk pengemasan sekunder Ceftriaxone dry injection.

2. Perlu dilakukan perancangan ulang kemasan sekunder Ceftriaxone dry injection untuk mempermudah proses pengemasan, sehingga diharapkan lead time dapat lebih pendek.

3. Pembuatan revisi untuk prosedur tetap pelaksanaan pembersihan mesin FBD.

3. Dilakukannya re-validasi untuk proses pembersihan mesin fluid bed dryer (FBD). 4. Diberikannya pelatihan penyegaran yang terjadwal untuk operator pada

proses pengemasan Ceftriaxone dry injection dan pembersihan mesin fluid bed dryer (FBD).

DAFTAR ACUAN

Briens, L & Bojarra, M. (2010). Monitoring Fluidized Bed Drying of Pharmaceutical Granules. American Association of Pharmaceutical Scientists, 11(4): 1612-1618.

Liker J.K. (2005). The Toyota Way. Jakarta: Erlangga.

Melton, T. (2005). The Benefits Of Lean Manufacturing. Chemical Engineering Research And Design, 83(6): 662-673.

PT Pradja Pharin. (2014). Standard Operating Procedure No: 50-159-B Pengemasan Sekunder. Citeureup: PT Pradja Pharin.

PT Pradja Pharin. (2014). Standard Operating Procedure No: 50-239-A Pembersihan Mesin FBD Glatt WSG 120. Citeureup: PT Pradja Pharin. Scarvada, A.J., Tatiana B.C., Goldstein S.M., Hays M.J, dan Hill A.V. (2004). A

Review of the Causal Mapping Practice and Research Literature. Second World Conference on POM and 15th Annual POM Conference, Cancun, Mexico.

Syarif, R., Santausa, S., dan Ismayana, B. (1989). Teknologi Pengemasan Pangan. Bogor: IPB.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 110-120)

Dokumen terkait