UNIVERSITAS INDONESIA
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI PT PRADJA PHARIN (PRAFA), DESA KARANG ASEM
BARAT, CITEUREUP, KABUPATEN BOGOR
PERIODE 1 APRIL - 30 MEI 2014
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
SHEILA NOOR AISYAH, S. Farm.
1306344223
ANGKATAN LXXVIII
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
UNIVERSITAS INDONESIA
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI PT PRADJA PHARIN (PRAFA), DESA KARANG ASEM
BARAT, CITEUREUP, KABUPATEN BOGOR
PERIODE 1 APRIL - 30 MEI 2014
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker
SHEILA NOOR AISYAH, S. Farm.
1306344223
ANGKATAN LXXVIII
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME
Saya yang bertanda tangan di bawah ini dengan sebenarnya menyatakan bahwa laporan ini saya susun tanpa tindakan plagiarisme sesuai dengan peraturan yang berlaku di Universitas Indonesia.
Jika di kemudian hari ternyata saya melakukan plagiarisme, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh Universitas Indonesia kepada saya.
Depok, 25 Juni 2014
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Laporan ini adalah karya saya sendiri,
dan semua sumber baik yang dikutip maupun yang dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.
Nama : Sheila Noor Aisyah
NPM : 1306344223
Tanda Tangan :
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker ini diajukan oleh:
Nama (NPM): Sheila Noor Aisyah, S. Farm (1306344223)
Program Studi : Profesi Apoteker Fakultas Farmasi
Judul Laporan : Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT Pradja Pharin (Prafa), Desa Karang Asem Barat, Citeureup, Kabupaten Bogor
Periode 1 April -30 Mei 2014
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Apoteker pada Program Studi Apoteker Fakultas Farmasi, Universitas Indonesia
DEWAN PENGUJI
Pembimbing : Thomas Aditya S.Farm., M.Farm., Apt. ( )
Pembimbing : Kurnia Sari Setio Putri, M.Farm., Apt. ( )
Ditetapkan : Depok, Fakultas Farmasi
Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di PT Pradja Pharin (Prafa), Desa Karang Asem Barat, Citeureup, Kabupaten Bogor pada periode 1 April -30 Mei 2014. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan guna menyelesaikan pendidikan Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. Pada penulisan laporan ini, penulis tidak terlepas dari bimbingan, arahan, bantuan, serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Dr. Mahdi Jufri, Msi., selaku Dekan Fakultas Farmasi UI;
2. Dr. Hayun, M.Si., Apt., selaku Ketua Program Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia yang telah memberikan arahan selama PKPA berlangsung.
3. Bapak Teguh Supriyanto, sebagai Manager Personal and General Affair dan koordinator pelaksanaan PKPA di PT Pradja Pharin (Prafa).
4. Kurnia Sari Setio Putri, M.Farm., Apt., selaku pembimbing PKPA dari Fakultas Farmasi ketua Program Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia yang telah membantu dan memberikan bimbingan, serta arahan selama PKPA berlangsung dan dalam penyusunan laporan ini.
5. Thomas Aditya S.Farm., M.Farm., Apt., selaku pembimbing PKPA dan Supervisor bagian Manufacturing Technical Unit (MTU) yang telah membimbing dan memberikan bantuan kepada penulis selama PKPA berlangsung.
6. Abdul Rachman Soleh dan Andri Nugraha Sutomo, selaku staf bagian Manufacturing Technical Unit (MTU) yang telah memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada penulis selama PKPA berlangsung, serta seluruh staf PT Pradja Pharin (Prafa) yang telah menerima dan membantu penulis selama melaksanakan kegiatan PKPA.
8. Orang tua dan keluarga penulis yang selalu memberikan doa, serta dukungan moral dan finansial kepada penulis.
9. Seluruh teman-teman mahasiswa Apoteker angkatan 78 yang telah berjuang bersama dalam menyelesaikan studi di Program Profesi Apoteker Universitas Indonesia.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pihak yang membaca. Penulis memohon maaf apabila ada kesalahan-kesalahan dalam laporan ini. Penulis berharap semoga pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama menjalani PKPA yang dituangkan dalam laporan ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang memerlukan.
Penulis
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Sheila Noor Aisyah
NPM : 1306344223
Program Studi : Apoteker Fakultas : Farmasi
Jenis Karya : Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalti Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT Pradja Pharin (Prafa), Desa Karang Asem Barat, Citeureup, Kabupaten Bogor
Periode 1 April - 30 Mei 2014
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan,
mengalihmedia/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di : Depok Pada tanggal 25 Juni 2014
Yang menyatakan
ABSTRAK
Nama : Sheila Noor Aisyah, S. Farm
NPM : 13064344223
Program Studi : Profesi Apoteker
Judul : Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT Pradja Pharin (Prafa), Desa Karang Asem Barat, Citeureup, Kabupaten Bogor Periode 1 April - 30 Mei 2014
Praktek Kerja Profesi Apoteker dilaksanakan di PT. Pradja Pharin Desa Karang Asem Barat, Citeureup, Bogor. Kegiatan PKPA ini bertujuan agar mahasiswa profesi apoteker dapat melihat langsung aktivitas yang berlangsung dalam suatu industri farmasi, memperoleh pengetahuan dan wawasan tentang segala aspek yang terkait di industri farmasi terutama dalam hal penerapan CPOB di PT. Pradja Pharin dan dapat memiliki pemahaman yang mendalam mengenai peran dan tugas apoteker di industri farmasi. Tugas khusus yang dilakukan bertujuan untuk menerapkan prinsip lean manufacturing pada proses pengemasan sekunder dan pembersihan mesin Fluid Bed Dryer.
Kata kunci : PT. Pradja Pharin, lean manufacturing
Tugas umum : xiv + 75 halaman; 16 gambar; 2 tabel; 2 lampiran Tugas khusus : v + 23 halaman; 5 gambar; 3 tabel
Daftar Acuan Tugas Umum : 39 (2010 - 2014) Daftar Acuan Tugas Khusus : 5 (2005 - 2014)
ABSTRACT
Name : Sheila Noor Aisyah, S. Farm
NPM : 13064344223
Program Study : Apothecary profession
Title : Report of Apothecary Profession Internship at PT. Pradja Pharin, Desa Karang Asem Barat, Citeureup, Kabupaten Bogor on April 1st - May 30th 2014
Pharmacists Professional Practice implemented in PT. Pradja Pharin, Desa Karang Asem Barat, Citeureup, Bogor. PKPA activity was intended that students can see the direct profession pharmacists activity that takes place in the pharmaceutical industry, gaining knowledge and insight into everything related aspects in the pharmaceutical industry, especially in terms of the implementation of GMP in PT. Pradja Pharin and would have a deep understanding of the role and duties of the pharmacist in the pharmaceutical industry. Special task had been given to apply lean manufacturing principal at secondary packaging process and the washing process of fluid bed dryer machine.
Keywords : PT. Pradja Pharin, lean manufacturing
General Assignment : xiv + 75 pages; 16 pictures; 2 tables; 2 appendices Specific Assignment : v + 23 pages, 5 pictures; 3 tables
Bibliography of General Assignment: 39 (2010 - 2014) Bibliography of Specific Assignment: 5 (2005 - 2014)
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... iv
HALAMAN PENGESAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... viii
ABSTRAK ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR GAMBAR...xii
DAFTAR TABEL... xiii
DAFTAR LAMPIRAN...xiv
1. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan ... 2
2. TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI ... 3
2.1. Industri farmasi ... 3
2.2. Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) ... 5
3. TINJAUAN KHUSUS PT PRADJA PHARIN (PRAFA) ... 12
3.1. Sejarah PT Pradja Pharin (Prafa) ... 12
3.2. Plant Department ... 13
3.3. Personal and General Affairs Department ... 14
3.4. Research and Development Department ... 21
3.5. Quality Assurance Department ... 24
3.6. Quality Control Department ... 33
3.7. Production Department ... 38
3.8. Logistic Department ... 50
3.9. Technical Department ... 58
3.10. Manufacturing Technical Unit Department ... 65
4. PEMBAHASAN ... 67
5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 72
5.1. Kesimpulan ... 72
5.2. Saran ... 72
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
3.1 Struktur departemen personal and general affair. ... 14
3.2 Struktur organisasi departmen Research and Development. ... 21
3.3 Alur pengembangan produk baru. ... 22
3.4 Struktur organisasi departmen Quality Assurance ... 24
3.5 Struktur organisasi departemen Quality Control. ... 33
3.6 Struktur organisasi departemen produksi ... 39
3.7 Alur produksi sediaan solid dengan proses granulasi basah. ... 42
3.8 Alur produksi sediaan solid dengan proses spraying ... 43
3.9 Alur produksi sediaan solid dengan proses granulasi kering. ... 44
3.10 Alur produksi sediaan steril. ... 46
3.11 Alur pengemasan sekunder. ... 49
3.12 Alur penerimaan bahan baku dan kemas. ... 54
3.13 Struktur organisasi departemen teknik. ... 59
3.14 Air Handling Unit (AHU) di PT Prafa. ... 62
3.15 Pembuatan Hot Purified Water (HPW). ... 64
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
Tabel 3.1 Proses pengembangan produk baru ... 23 Tabel 3.2 Daftar contoh original product PT Prafa ... 40
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1 Struktur Organisasi PT Pradja Pharin (Prafa) ... 76 2 Struktur Organisasi Departemen Logistik ... 77
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Obat merupakan suatu komoditas yang memiliki efek signifikan terhadap kelangsungan hidup manusia, oleh karena itu harus dilakukan suatu pengendalian menyeluruh terhadap proses produksi dan distribusi obat tersebut. Pengendalian menyeluruh merupakan satu hal yang sangat esensial untuk menjamin bahwa konsumen menerima obat yang bermutu dan sesuai dengan tujuan pembuatannya. Pemastian mutu suatu obat tidak hanya mengandalkan pada pelaksanaan pengujian tertentu saja, tetapi obat harus dibuat dalam kondisi yang dikendalikan dan dipantau secara cermat. Usaha pengendalian dan pemantauan tersebut diatur dalam Pedoman dan Petunjuk Operasional Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).
Pemenuhan dan Penerapan CPOB dalam industri farmasi bertujuan untuk memastikan agar mutu obat yang dihasilkan sesuai persyaratan dan tujuan penggunaannya. Dalam rangka pemenuhan dan penerapan CPOB, keterlibatan apoteker sebagai orang yang memiliki kompetensi dan kualifikasi dalam industri farmasi sangat diperlukan. CPOB mengatur peran penting apoteker dalam industri farmasi sebagai kepala bagian produksi, pengawasan mutu dan pemastian mutu. Oleh karena itu, dalam masa pendidikannya mahasiswa apoteker harus mengimplementasikan ilmu yang dimilikinya dalam kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) pada industri farmasi dalam rangka pemenuhan dan penerapan CPOB.
PT. Pradja Pharin (Prafa) merupakan industri farmasi yang memproduksi jenis produk yang bervariasi seperti sediaan solid, semi solid, liquid, dry injection, sterile liquid injection, obat golongan cephalosporin dan betalaktam. Selain itu, PT. Pradja Pharin merupakan industri farmasi yang telah memenuhi dan menerapkan CPOB. Oleh karena itu, Prafa merupakan sarana pendidikan yang tepat bagi mahasiswa apoteker dalam rangka mengimplementasikan ilmu yang dimilikinya untuk pemenuhan dan penerapan CPOB.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui dan memahami peran/tanggung jawab seorang apoteker sebagai penanggung jawab produksi, pengawasan mutu dan penjaminan mutu.
2. Mengetahui proses pemenuhan dan pelaksanaan CPOB di PT. Pradja Pharin (Prafa).
BAB II
TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI 2.1 Industri farmasi
Menurut peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No HK.03.1.33.12.12.8195 tahun 2012, industri farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahan obat. Pembuatan obat adalah seluruh tahapan kegiatan dalam menghasilkan obat yang meliputi pengadaan bahan awal dan bahan pengemas, produksi, pengemasan, pengawasan mutu, dan pemastian mutu sampai diperoleh obat jadi untuk didistribusikan. Sedangkan, obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi, yang digunakan untuk memengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan, dan kontrasepsi untuk manusia. Bahan obat adalah bahan baik yang berkhasiat maupun tidak berkhasiat yang digunakan dalam pengolahan obat dengan standar dan mutu sebagai bahan baku farmasi. Obat dikatakan bermutu bila memenuhi persyaratan aman (Safety), berkhasiat (Efficacy), dan berkualitas (Quality).
2.1.1 Persyaratan usaha industri farmasi
Pendirian usaha industri farmasi wajib memperoleh izin industri farmasi dari Direktur Jendral Kesehatan. Izin usaha industri farmasi diberikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Izin ini berlaku seterusnya selama perusahaan industri farmasi tersebut masih berproduksi dengan perpanjangan izin setiap 5 tahun. Persyaratan industri farmasi tercantum dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 1799 / Menkes / XII / 2010 adalah sebagai berikut:
a. Berbadan usaha berupa Perseroan Terbatas (PT)
b. Memiliki rencana investasi dan kegiatan pembuatan obat c. Memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP)
d. Memiliki secara tetap, paling sedikit 3 (tiga) orang apoteker warga negara Indonesia (WNI), masing-masing sebagai penanggung jawab pemastian mutu, produksi, dan pengawasan mutu
tidak langsung, dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang kefarmasian
f. Memenuhi persyaratan CPOB dan melakukan farmakovigilans.
g. Pengecualian dari persyaratan pada poin 1 dan 2, bagi pemohon izin industri farmasi milik Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisisn Negara Republik Indonesia. Industri farmasi yang membuat obat dan / atau bahan obat yang termasuk dalam golongan narkotika wajib memperoleh izin khusus sesuai dengan ketentuan perundang-undangan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2010).
2.1.2 Pencabutan Izin Usaha Industri Farmasi
Izin Usaha Industri Farmasi dapat dicabut apabila industri yang bersangkutan terbukti melakukan pelanggaran:
a. Perusahaan industri farmasi yang telah mendapat Izin Usaha Industri Farmasi melakukan pemindahtanganan hak milik Izin Usaha Industri Farmasi; dan atau
b. Perluasan tanpa memiliki izin sesuai dengan ketentuan dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan; dan atau
c. Perusahaan industri farmasi yang telah mendapat Izin Usaha Industri Farmasi tidak menyampaikan informasi industri farmasi secara berturut-turut tiga kali atau dengan sengaja menyampaikan informasi yang tidak benar; dan atau
d. Perusahaan industri farmasi yang telah mendapat Izin Usaha Industri Farmasi melakukan pemindahan lokasi usaha industri tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Menteri Kesehatan; dan atau
e. Perusahaan industri farmasi yang telah mendapat Izin Usaha Industri Farmasi dengan sengaja memproduksi obat jadi atau bahan baku obat yang tidak memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku atau obat palsu; dan atau
f. Tidak dipenuhinya ketentuan dalam Izin Usaha Industri Farmasi yang ditetapkan dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan.
2.2 Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)
Cara pembuatan obat yang baik (CPOB), adalah cara pembuatan obat yang bertujuan untuk memastikan agar mutu obat yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan dan tujuan penggunaan. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu. Pada pembuatan obat, pengendalian menyeluruh sangat esensial untuk menjamin bahwa konsumen menerima obat yang bermutu tinggi. Pembuatan secara sembarangan tidak dibenarkan bagi produk yang digunakan untuk menyelamatkan jiwa, memulihkan, atau memelihara kesehatan.
CPOB bertujuan untuk menjamin obat dibuat secara konsisten, memenuhi persyaratan yang ditetapkan, dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu (Badan POM, 2012)
Pada CPOB dilaksanakan 12 pilar CPOB meliputi manajemen mutu, personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri dan audit mutu, penanganan keluhan terhadap produk-penarikan kembali produk-produk kembalian, dokumentasi, pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak serta kualifikasi dan validasi.
2.2.1 Manajemen Mutu
Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan pengunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam dokumen izin edar (registrasi) dan tidak menimbulkan resiko yang membahayakan penggunanya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif. Sehingga, pemenuhan dan penerapan CPOB di industri farmasi perlu diimplementasikan melalui pendekatan PDCA (Plan, Do, Check, Action).
Pada pendekatan ini, Plan meliputi tanggung jawab manajemen dalam manajemen mutu dan dokumentasi; manajemen sumber daya berupa personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan serta sanitasi dan higiene. Do meliputi realisasi produk berupa produksi, pengawasan mutu dan kualifikasi validasi. Check meliputi penilaian, analisis dan pengembangan berupa inspeksi diri dan audit mutu serta penanganan keluhan, penarikan produk dan produk kembalian. Act meliputi CAPA atau Corrective Action Preventive Action.
Pencapaian kriteria obat yang berkualitas, aman dan berkhasiat memerlukan kebijakan mutu yang melibatkan pemastian mutu, CPOB,
pengawasan mutu, kajian kualitas produk dan manajemen resiko. Pada pemastian mutu dilakukan totalitas semua pengaturan yang dibuat dengan tujuan untuk memastikan bahwa obat dihasilkan dengan mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya.
CPOB, merupakan bagian dari pemastian mutu yang memastikan bahwa obat dibuat dan dikendalikan secara konsisten untuk mencapai standar mutu yang sesuai dengan tujuan penggunaan. Pada CPOB dilaksanakan 12 pilar CPOB meliputi manajemen mutu, personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri dan audit mutu, penanganan keluhan terhadap produk-penarikan kembali produk-produk kembalian, dokumentasi, pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak serta kualifikasi dan validasi.
Pengawasan Mutu adalah bagian dari CPOB yang berhubungan dengan pengambilan sampel, spesifikasi dan pengujian, serta dengan organisasi, dokumentasi dan prosedur pelulusan yang memastikan bahwa pengujian yang diperlukan dan relevan telah dilakukan dan bahwa bahan yang belum diluluskan tidak digunakan serta produk yang belum diluluskan tidak dijual atau dipasok sebelum mutunya dinilai dan dinyatakan memenuhi syarat.
Pengkajian mutu produk bertujuan untuk membuktikan konsistensi proses, kesesuaian dari spesifikasi bahan awal, bahan pengemas dan produk jadi, untuk melihat tren dan mengidentifikasi perbaikan yang diperlukan untuk produk dan proses. Pengkajian mutu produk secara berkala biasanya dilakukan tiap tahun dan didokumentasikan, dengan mempertimbangkan hasil kajian ulang sebelumnya
Manajemen resiko mutu merupakan suatu proses sistematis untuk melakukan penilaian, pengendalian, dan pengkajian resiko terhadap mutu suatu produk. Manajemen resiko mutu berguna untuk memprediksi resiko yang mungkin muncul dan menentukan langkah solusi dan antisipasi agar kriteria obat berkualitas, aman dan berkhasiat dapat tercapai.
2.2.2 Personalia
Sumber daya manusia sangat penting dalam pemenuhan dan penerapan CPOB. Industri farmasi bertanggung jawab untuk menyediakan personil yang terkualifikasi dalam jumlah yang memadai. Tiap personil hendaklah memahami peran dan tanggungjawab masing-masing.
Personalia kunci dalam industri farmasi adalah apoteker-apoteker yang berperan dan bertanggung jawab di bagian produksi, pengawasan mutu dan penjaminan mutu. Untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan CPOB maka hendaknya selalu dilakukan pelatihan yang berkesinambungan bagi seluruh personil. Selain pelatihan juga dilakukan evaluasi dan penilaian terhadap peningkatan kinerja personil.
2.2.3 Bangunan dan Fasilitas
Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain, konstruksi dan letak yang memadai, serta disesuaikan kondisinya dan dirawat dengan baik untuk memudahkan pelaksanaan operasi yang benar. Tata letak dan desain ruangan harus dibuat sedemikian rupa untuk memperkecil resiko terjadinya kekeliruan, kontaminasi silang, dan kesalahan lain, selain itu juga untuk memudahkan pembersihan, sanitasi dan perawatan yang efektif untuk menghindari kontaminasi silang, penumpukan debu atau kotoran, dan dampak lain yang dapat menurunkan mutu obat.
2.2.4 Peralatan
Peralatan yang digunakan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan konstruksi yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dan dikualifikasi dengan tepat, agar mutu obat terjamin sesuai desain serta seragam dari bets ke bets dan untuk memudahkan pembersihan serta perawatan.
Permukaan peralatan yang bersentuhan langsung dengan bahan awal, produk antara atau produk jadi tidak boleh menimbulkan reaksi, adisi atau absorbsi yang dapat mempengaruhi identitas, mutu atau kemurnian di luar batas yang ditentukan. Peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, memeriksa, dan mencatat hendaklah diperiksa ketepatannya dan dikalibrasi sesuai program dan prosedur yang ditetapkan. Semua peralatan dibersihkan sesuai prosedur tertulis yang rinci serta disimpan dalam keadaan kering dan bersih.
2.2.5 Sanitasi dan Higiene
Sanitasi adalah segala upaya yang dilakukan untuk menjamin terwujudnya kondisi yang memenuhi persyaratan kesehatan. Sedangkan higiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu subjeknya. Dalam setiap aspek pembuatan obat haruslah diterapkan tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi. Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi personalia, bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya dan segala sesuatu yang dapat merupakan sumber pencemaran produk.
2.2.6 Produksi
Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan dan memenuhi ketentuan CPOB yang menjamin senantiasa menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu serta memenuhi ketentuan izin pembuatan dan izin edar (registrasi). Penanganan bahan dan produk jadi seperti penerimaan dan karantina, pengambilan sampel, penyimpanan, penandaan, penimbangan, pengolahan, pengemasan, dan distribusi hendaklah dilakukan sesuai dengan prosedur atau instruksi tertulis dan bila perlu dicatat. 2.2.7 Pengawasan Mutu
Pengawasan mutu adalah bagian yang terlibat dalam semua keputusan yang terkait dengan produk. Bagian ini penting dalam penerapan Cara Pembuatan Obat yang Baik untuk memberikan kepastian bahwa produk secara konsisten memiliki mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaian. Departemen pengawasan mutu harus independen dari bagian lain dan berada di bawah tanggung jawab dan wewenang personel terkualifikasi dan pengalaman yang sesuai. Keterlibatan dan komitmen semua pihak yang berkepentingan pada semua tahap merupakan keharusan untuk mencapai sasaran mutu mulai dari awal pembuatan sampai kepada distribusi produk jadi.
2.2.8 Inspeksi Diri dan Audit Mutu
Program inspeksi diri dirancang untuk mendeteksi kelemahan dalam pelaksanaan CPOB dan menetapkan tindakan perbaikan yang diperlukan. Inspeksi diri bertujuan untuk mengevaluasi apakah semua aspek produksi dan pengawasan mutu telah memenuhi ketentuan CPOB. Inspeksi diri dilakukan oleh pihak internal industri yang independen, sedangkan audit mutu oleh pihak eksternal.
Audit mutu adalah sarana penunjang inspeksi diri. Audit mutu lebih mengarah pada penilaian sistem manajemen mutu, serta topik yang dinilai lebih luas dan menyeluruh. Audit mutu dilakukan terhadap industry farmasi, pemasok bahan baku dan pengemas serta perusahaan terkait lainnya. Tim inspeksi diri terdiri paling sedikit tiga anggota independen yang berpengalaman dalam bidangnya masing-masing dan memahami CPOB. Anggota tim dapat dibentuk dari dalam atau dari luar perusahaan.
2.2.9 Penanganan Keluhan terhadap Produk, Penarikan Kembali Produk, dan Produk Kembalian
Semua keluhan terhadap produk yang dihasilkan harus dikaji dengan teliti. Penarikan kembali produk adalah suatu proses penarikan kembali dari satu atau beberapa bets atau seluruh bets produk tertentu di peredaran. Penarikan kembali dilakukan apabila ditemukan produk yang tidak layak dipasarkan karena tidak memenuhi persyaratan yang ada serta dapat menimbulkan efek samping yang berpengaruh signifikan pada kondisi kesehatan.
Produk kembalian adalah obat jadi yang telah beredar, yang kemudian dikembalikan ke pabrik karena keluhan mengenai kerusakan, kadaluarsa atau alasan lain seperti kondisi wadah dapat menimbulkan keraguan identitas. Laporan dan keluhan mengenai produk dapat menyangkut kualitas, adanya reaksi merugikan ataupun efek terapetiknya. Oleh karena itu harus segera dilakukan penyelidikan, evaluasi dan tindak lanjut terhadap laporan dan keluhan yang ada.
Dalam menangani keluahan terhadap produk, penarikan kembali, dan produk kembalian harus dengan sistem yang terintegrasi dan dapat dengan cepat menangani hal-hal tersebut, serta harus ada prosedur tersendiri dalam melakukan tiap tahapan dalam pelaksanaannya.
2.2.10 Dokumentasi
Dokumentasi adalah bagian dari sistem informasi manajemen dan dokumentasi yang baik merupakan bagian yang esensial dari pemastian mutu. Dokumentasi yang jelas adalah fundamental untuk memastikan bahwa tiap personil menerima uraian tugas yang relevan secara jelas dan rinci sehingga memperkecil risiko terjadi salah tafsir dan kekeliruan yang biasanya timbul karena hanya mengandalkan komunikasi lisan.
Dokumen harus dibuat dengan sebaik-baiknya, sehingga mudah dibaca dan dimengerti. Isi dokumen baiknya tidak bermakna ganda; judul, sifat dan tujuannya hendaklah dinyatakan dengan jelas sehingga mudah dipahami dan diterapkan maksudnya. Dokumen yang dibuat hendaklah disetujui, ditandatangani, dan diberi tanggal oleh personil yang sesuai dan diberi wewenang. Setiap dokumen harusnya dikaji ulang secara berkala dan dijaga agar selalu mutakhir. Dalam merivisi dokumen, sebaiknya digunakan suatu sistem yang dapat menjaga agar tidak terjadi kesalahan yang mana dapat mengakibatkan dokumen yang seharusnya tidak berlaku digunakan.
Dalam pendistribusiannya, dokumen harus dijaga secara hati-hati sehingga tidak tersebar ke pihak yang tidak seharusnya mendapatkannya. Dokumen juga harus memiliki sistem pemusnahan yang baik sehingga tidak menimbulkan kesalahan yang signifikan dalam penggunaannya.
2.2.11 Pembuatan dan Analisis berdasarkan Kontrak
Dalam pembuatannya, kontrak harus dibuat dengan benar dan disetujui, serta dikendalikan sehingga kesalahan yang dapat terjadi bisa dihindarkan. Kedua pihak pemberi dan penerima kontrak harus menerima kontrak tertulis yang dibuat dengan jelas untuk menentukan tanggung jawab dan kewajiban masing-masing pihak. Kontrak harus menyatakan secara jelas prosedur pelulusan tiap bets produk untuk diedarkan menjadi tanggung jawab penuh kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu).
Seluruh peraturan untuk pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak termasuk usul perubahan dalam pengaturan teknis atau pengaturan lain harus sesuai dengan izin edar untuk produk terkait.
2.2.12 Kualifikasi dan Validasi
CPOB mensyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang perlu dilakukan sebagai bukti pengendalian terhadap aspek kritis dari kegiatan yang dilakukan. Perubahan signifikan terhadap fasilitas, peralatan dan proses yang dapat memengaruhi mutu produk hendaklah divalidasi. penerapan manajemen risiko hendaklah digunakan untuk menentukan ruang lingkup dan cakupan validasi.
Validasi merupakan suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan, atau mekanisme yang digunakan dalam produksi dan pengawaswan akan senantiasa mencapai hasil yang diinginkan. Seluruh kegiatan validasi haruslah direncanakan. Unsur utama program validasi sebaiknya dirinci dengan jelas dan didokumentasikan di dalam Rencana Induk Validasi (RIV) atau dokumen setara, sehingga dapat dengan mudah dimengerti dan diterapkan.
Validasi terdiri dari:
a. Validasi proses yang terdiri dari validasi prospektif, konkuren dan retrospektif.
b. Validasi pembersihan c. Validasi metode analisis
d. Validasi ulang (Badan POM, 2012).
Kualifikasi adalah sutau tindakan yang didokumentasikan untuk memastikan peralatan yang digunakan memenuhi persyaratan yang ada.
Kualifikasi terdiri dari: a. Kualifikasi desain b. Kualifikasi instalasi c. Kualifikasi operasional d. Kualifikasi kinerja.
BAB III
TINJAUAN KHUSUS PT PRADJA PHARIN (PRAFA) 3.1 Sejarah PT Pradja Pharin (Prafa)
PT Prafa didirikan oleh Bapak Tjipto Pusposuharto pada tahun 1960. PT Prafa telah berkembang dari sebuah industri rumah tangga menjadi perusahaan farmasi besar yang memproduksi lebih dari 100 jenis sediaan obat dan terus mengalami perkembangan pesat.
PT Prafa mulai beroperasi sebagai perusahaan dagang berbagai obat industri rumah tangga dengan 20 karyawan di areal berukuran 325 m2. Pada tahun 1968, PT Prafa ditunjuk sebagai importir dan penyalur tunggal sah di Indonesia bagi Meiji Seika Jepang. Sejak saat itu dimulai pembangunan pabrik di areal seluas 2300 m2 di Jalan Bandengan Selatan 58 A Jakarta Utara dan PT Prafa mulai memproduksi berbagai jenis sediaan yang jumlahnya semakin besar.
Mulai tahun 1988, PT Prafa telah tumbuh menjadi suatu industri farmasi dengan ± 1000 karyawan, meliputi 200 jenis sediaan obat berkualitas dengan penanaman modal total mencapai lebih dari 10 miliar rupiah. Pada tahun tersebut dimulai pula pengembangan pabrik modern diatas areal seluas ± 12 hektar, dengan luas bangunan 32.208,52 m2 yang terletak di daerah Citeureup-Bogor. Pabrik dirancang dan dibangun sesuai dengan aspek CPOB serta efisien dalam sistem produksi.
Pada tahun 1995, PT Prafa bergabung dalam Darya Varia Group bersama tiga perusahaan lainnya yaitu PT Darya Varia Laboratoria, PT Kenrose Indonesia, dan PT Dupa dengan distributor PT Wigo Distributor Farmasi. Pada tahun 1998 PT Dupa dan PT Kenrose ditutup. Mulai tanggal 21 Desember 2001 hingga sekarang Darya Varia Group diambil alih oleh United Laboratories, Manila-Philippines. Selain Darya Varia Group, perusahaan yang tergabung dalam United Laboratories adalah PT Medifarma Laboratories.
Sejak tahun 2003, PT Prafa diaudit oleh P&G dan memperoleh QAC (Quality Assurance Capability) sebesar 44%. Kemudian dilakukan audit kembali oleh P&G tahun 2004, QAC yang diperoleh meningkat menjadi 72%. Dengan perjuangan dan komitmen yang tinggi, akhirnya dalam waktu satu tahun kemudian, PT Prafa yang diaudit kembali oleh P&G berhasil menaikkan QACnya
menjadi 92%. Sejak tahun 2004, PT Prafa telah dipercaya oleh perusahaan P&G untuk melakukan toll manufacturing hingga kini. Pada tahun 2008, PT Prafa memperoleh QAC 100% untuk audit yang dilakukan P&G. Pada tahun 2005, PT Prafa memperoleh Sertifikat Industri Farmasi Kelas A dari hasil mapping Badan POM dalam menilai kesiapan industri farmasi menghadapi harmonisasi pasar ASEAN. Berdasarkan hasil tersebut, PT Prafa dapat melakukan produksi di fasilitas sendiri dan menerima toll dari industri farmasi lain. Hingga kini, PT Prafa senantiasa berusaha untuk meningkatkan kualitas sarana dan SDMnya, terutama mengikuti standar PIC/s dan FDA Regulation. Pada tahun 2009, Darya Varia Group melakukan project specialization sehingga PT Prafa dikhususkan pada produksi low volume solid order, produk ethical (solid dan injeksi), antibiotik betalaktam dan sefalosporin (solid dan injeksi), serta produk toll manufacturing. PT Prafa dispesialisasikan sebagai Centre of Excellent Toll Manufacturing. Prinsipal lokal dan multinasional yang melakukan toll manufacturing diantaranya yaitu P&G, PT Actavis, PT Novartis, PT Novell, PT Pharos, PT Lapi, PT Pyridam, PT Mahakam Beta Farma, PT Guardian Pharmatama, PT Nufarindo, dan PT Kalbe Farma.
Sekarang, kantor pusat PT Prafa berlokasi di Talavera Office Park, Lantai 8-10, Jl. Letjen TB. Simatupang No. 22-26 Jakarta. Sedangkan lokasi pabrik berada di Desa Karang Asem Barat, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
3.2 Plant Department
PT Pradja Pharin (Prafa) merupakan salah satu industri farmasi berbentuk Pemilik Modal Dalam Negeri (PMDN) yang berubah menjadi Pemilik Modal Asing (PMA).
Visinya adalah “Menjadi salah satu dari lima perusahaan farmasi terbesar di Indonesia”, dengan misi “Kami membangun Indonesia yang sehat secara bertahap setiap orang di setiap waktu, dengan menyediakan produk dan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau, serta mendorong promosi kesehatan, bekerja sama dalam sebuah keluarga BERSATU”.
PT Prafa dipimpin oleh seorang Plant Manager yang membawahi tujuh departemen. Masing-masing departemen dipimpin oleh seorang manager yang dibantu oleh beberapa supervisor.
3.3 Personal and General Affairs Department
Personal and General Affairs Departement di PT Prafa adalah bagian dari manajemen yang meliputi perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan tenaga kerja. PGA juga bertanggung jawab atas pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja serta mengatasi segala bentuk permasalahan yang berhubungan dengan karyawan serta pemerintah setempat.
Gambar 3.1 Struktur departemen personal and general affair
PGA Department dipimpin seorang manager membawahi dua bagian, yaitu bagian Personal Affair dan General Affair. Manajer PGA memberikan laporan langsung kepada Plant Manager. Manajer PGA bertugas untuk memimpin, mengarahkan, mengevaluasi dan mengembangkan suatu tim yang terdiri dari staf-staf untuk memastikan bahwa manajemen dokumentasi ketenagakerjaan, proses, dan kegiatan administrasi lainnya telah sesuai dengan perencanaan dan prosedur yang telah ditetapkan.
1. Menjaga hubungan yang kondusif antar karyawan dan hubungan dalam komunitas.
2. Menerapkan kebijakan SDM dan menyelenggarakan administratif dan kegiatan kesejahteraan di dalam pabrik.
3. Bertanggung jawab terhadap penilaian terhadap penampilan, pengembangan karier dan promosi, serta mengurus masalah kompensasi dan keuntungan administrasi.
4. Bertanggung jawab terhadap perencanaan tenaga kerja.
5. Memantau kegiatan sosial dan menangani keluhan dari karyawan. 6. Bekerjasama dengan manajer pabrik dalam menentukan penempatan
karyawan, manajemen kerja, dan pembangunan budaya.
Tugas yang berkaitan dengan segala hal yang berkaitan dengan sumber daya manusia yang ada di PT Prafa yang meliputi:
a. Membuat daftar gaji dan tunjangan jabatan serta menghitung pembayarannya setiap akhir bulan.
b. Membuat laporan jumlah karyawan dan mengecek absensi karyawan. c. Melakukan rekruitmen karyawan atas permintaan departemen lain yang
membutuhkan.
d. Membuat absensi karyawan dan memasukkan data absensi karyawan. e. Menangani masalah kebersihan dan keamanan.
f. Membuat laporan Jamsostek.
g. Administrasi kesekretariatan dan keuangan pabrik juga ditangani oleh bagian PGA yang meliputi surat masuk dan surat keluar, membuat laporan-laporan, dan mengurus hal-hal yang berkaitan dengan pengeluaran-pengeluaran pabrik.
h. Makan siang karyawan (catering), driver, dan laundry.
i. Menangani pemeliharaan gedung (Cleaning dan Housekeeping), security, serikat pekerja, serta kegiatan-kegiatan sosial.
Selain itu, departemen ini juga bertanggung jawab atas hubungan dengan pihak-pihak luar yaitu masyarakat, instansi pemerintah, ataupun instansi-instansi nonpemerintah lain, serta menagani keluhan-keluhan dari masyarakat sehubungan gangguan yang mungkin ditimbulkan dari pabrik ataupun limbahnya.
a. Cleaning, Housekeeping, dan Laundry
Bagian Cleaning dan Housekeeping bertanggung jawab atas kebersihan ruangan nonproduksi dan luar gedung serta pemeliharaan dan renovasi bangunan. PT Prafa memiliki ruang laundry untuk mencuci pakaian/seragam untuk staf produksi dan jas laboratorium. Untuk produksi sefalosporin dan betalaktam memiliki ruang laundry terpisah yang terletak di area produksi sefalosporin dan betalaktam.
b. Training
Training sangat dibutuhkan dalam rangka mengembangkan keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge) dan sikap (attitude) yang relevan dengan pekerjaan. Di PT Prafa beberapa pelatihan yang telah dilakukan, antara lain pelatihan CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan membuka wacana para karyawan akan pentingnya mematuhi prosedur yang telah ditetapkan dalam melaksanakan proses produksi sehingga mutu produk yang dihasilkan tetap terjaga (PT Pradja Pharin, 2013). Program training di PT Pradja Pharin terdiri dari tiga macam, yaitu: 1. Training Wajib
Pelatihan yang wajib diikuti oleh seluruh karyawan. Pelaksanaan training tersebut berdasarkan adanya program baik dari perusahaan (pusat) maupun program dari pabrik (PT Pradja Pharin, 2013). Berikut merupakan contoh Training wajib yaitu:
i. Pelatihan CPOB ii. Pelatihan ISO 9000
iii. Pelatihan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) iv. Pelatihan Sanitasi dan Higiene
v. Pelatihan 5R (Ringkas, Rajin, Rapi, Resik, Rawat) 2. Training Khusus
Pelatihan yang diberikan kepada karyawan dengan level/tingkat jabatan tertentu (Supervisor, Assistant Manager, Manager dan lain-lain). Materi training khusus yang diberikan meliputi pengetahuan tentang pekerjaan dan pengetahuan tambahan. Pengetahuan tentang
pekerjaan di antaranya pengetahuan dasar yang wajib diketahui oleh karyawan dengan tingkat jabatan tertentu dan juga pengetahuan penunjang yang sekiranya juga harus diketahui oleh karyawan tersebut. Sedangkan untuk pengetahuan tambahan, materi yang diberikan terkait hal-hal teknis dan hal umum (PT Pradja Pharin, 2013).
3. Training Penyegaran
Pelatihan penyegaran ini ditujukan untuk orientasi karyawan baru yang dilaksanakan pada saat karyawan baru masuk untuk pertama kalinya, bertujuan untuk memperkenalkan perusahaan kepada karyawan baru sehingga mereka tahu akan sistem dan kebijakan perusahaan sebelum mereka mulai bekerja (PT Pradja Pharin, 2013). Pemberi materi adalah :
i. Plant Manager
ii. PGA Manager / Assistant PGA Manager iii. Kepala departemen yang bersangkutan
Departemen PGA juga mengatur masalah Safety, Health, and Environment (SHE) Kebijakan Safety, Health, and Environment meliputi :
i. Memberikan perlindungan dan tempat pekerjaan yang layak untuk karyawan dan tamu serta mengurangi dampak lingkungan sampai pada pencegahan polusi yang dihasilkan dari limbah pabrik.
ii. Sasaran obyektif yang utama yaitu mengurangi sifat yang merugikan dan penyakit serta meminimalkan peristiwa lingkungan, berdasar pada filosofi bahwa semua peristiwa ini dapat dicegah.
Pengolahan limbah di PT Prafa berada dibawah tanggung jawab Departemen PGA dalam hal ini oleh bagian Safety, Health, and Environment (SHE) yang dibantu oleh Departemen QC dan Technical Service. Limbah PT Prafa terdiri dari limbah padat dan limbah cair. Cara penanganan limbah berbeda-beda tergantung jenis dan sifat bahannya.
Limbah padat berasal dari debu hasil proses produksi, sampah sisa kemasan, sampah dari lingkungan pabrik, produk reject dan obat yang telah kadaluarsa. Limbah padat yang masih dapat dimanfaatkan serta memiliki nilai jual
seperti sisa kemasan (kaleng, drum, alumunium foil, plastik, botol, kardus) dikumpulkan di gudang khusus, kemudian dijual agar barang-barang tersebut dapat dimanfaatkan atau digunakan kembali (reuse) dan didaur ulang (recycle) (PT Pradja Pharin, 2013).
Pembakaran produk reject dan obat yang telah kadaluarsa dilakukan dengan menggunakan incinerator pada suhu 550-1000oC selama 15–20 menit. Sisa bahan padat yang menempel pada wadah/peralatan dibersihkan dengan mesin penyedot debu/vacuum sebelum dicuci dengan air. Bila tidak tersedia vacuum, sisa-sisa serbuk yang menempel diambil dengan lap yang dibasahi alkohol 70% dan lap tersebut dicuci tersendiri. Sebagian limbah padat dibuang melalui PT Wastec Internasional (PT Pradja Pharin, 2013).
Limbah cair berasal dari proses produksi, pencucian peralatan produksi, limbah laboratorium dan buangan lainnya. Limbah cair dari proses produksi betalaktam dan sefalosporin ditampung dalam bak ekualisasi setelah mendapat pretreatment. Pretreatment yaitu proses pemecahan rantai betalaktam sebelum masuk ke bak ekualisasi dengan cara penambahan larutan NaOH hingga pH basa (pH 10-11) kemudian disirkulasi selama 120 menit. Selanjutnya pada bak ditambahkan larutan HCl sehingga larutan menjadi netral (pH 7) dan siap dialirkan ke bak ekualisasi. Tujuannya adalah untuk menginaktifkan kerja antibiotik untuk mencegah bakteri yang menguraikan limbah mati, resistensi bakteri, serta pencemaran lingkungan (PT Pradja Pharin, 2013).
Proses pengolahan limbah cair dilakukan menggunakan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL). Departemen QC bertugas membuat metode pengelolaan limbah, membuat metoda analisa air limbah, dan mengawasi pelaksanaan pengelolaan limbah cair. Departemen QC bekerjasama dengan Departemen Technical Service dalam mencari dan menentukan metoda IPAL, Departemen Technical Service bertugas mengawasi IPAL dan mengawasi alat-alat pengelolaan air limbah cair. Departemen PGA bertugas menjaga kebersihan lingkungan di sekitar IPAL, pelaksana regenerasi saringan, dan pencucian bak serta sebagai pelaksana pengelolaan limbah cair (PT Pradja Pharin, 2013).
Pemeriksaan air hasil limbah dilakukan untuk memastikan bahwa hasil pengolahan tersebut memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, yang meliputi pemeriksaan parameter :
- Fisika : suhu, warna, bau, kekeruhan
- Kimia : pH, kandungan fenol, Total Dissolved Solid (TDS), Biologycal Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), dan Dissolved Oxygen (DO).
Pemeriksaan COD dan TDS dilakukan pada bak penyaringan dan pengeluaran air. COD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan zat-zat organik dalam satu liter sampel air. TDS adalah zat total padat yang meliputi padatan terlarut dan tidak terlarut dalam air. Nilai COD dan TDS di bak pengeluaran air maksimal 100 ppm serta dibandingkan dengan nilai COD dan TDS di bak penyaringan sehingga dapat diketahui apakah pengolahan limbah berjalan dengan baik (PT Pradja Pharin, 2013).
Proses pengolahan limbah cair yaitu (PT Pradja Pharin, 2013) : 1. Bak Ekualisasi
Unit penampungan utama limbah cair dari beberapa titik sumber penghasil limbah yang dialirkan melalui pipa utama (main pipe), dengan kapasitas 20 m3.
2. Bak Reaksi/Penetralan
Di dalam bak ini terjadi proses netralisasi sehingga diperoleh pH ± 7 (dengan penambahan NaOH 40% atau HCl 32%) karena pertumbuhan dan kemampuan kerja bakteri aerobik harus pada pH netral dengan suhu 25- 350C.
3. Bak Separasi
Air limbah dari bak penetralan akan terpompa menuju bak separasi, melalui dua proses yaitu :
a. Pemisahan padatan halus, berat, dan materi-materi tidak larut b. Pengendapan suspensi padat dan memisahkan/menahan materi ringan dan berlemak. Air yang mengalir ini melintasi kanal berkisi-kisi (Fish bone weir), di kanal ini gas-gas yang terkandung dalam air sebagian akan mulai terurai.
4. Bak Aerasi 1
Pada bak ini ditambahkan PAC (Poly Alumunium Chloride) sebanyak tiga liter dosis 6% atau 12%. Kemudian, dilakukan pencampuran/pengadukan dengan menggunakan 8 buah diffuser selama satu jam. Selanjutnya air limbah didiamkan selama 1-2 jam dan gumpalan yang terbentuk akan turun karena gravitasi.
5. Bak Filtrasi 1
Bak ini berfungsi untuk proses penyaringan guna mendapatkan tingkat kejernihan air tertentu dengan menempatkan media berporositas yang tersusun dari karbon aktif (bagian atas) dan ijuk (bagian bawah).
6. Bak Aerasi 2
Pada bak ini ditambahkan bakteri SGB 104, yang berfungsi sebagai pengurai zat organik, mereduksi senyawa-senyawa fenol, dan beberapa senyawa kloro hidrokarbon. Proses pengadukan dilakukan dengan bantuan 10 buah diffuser. Pengadukan dilakukan selama lima menit kemudian didiamkan selama lima menit.
7. Bak Filtrasi 2
Berfungsi untuk penyaringan kedua dengan menggunakan karbon aktif. 8. Bak Settling
Bak ini merupakan sarana pengendapan partikel halus. Partikel-partikel yang masih lolos dari proses aerasi dan proses filtrasi akan terkoagulasi oleh koagulan membentuk flok (gumpalan halus) dan mengendap. 9. Bak Desinfektan
Berfungsi untuk mereduksi/menghilangkan bakteri patogen. Bak ini berisi ferrolite dilengkapi dengan tangki NaOCl 12%. Air dari bak settling dialirkan ke bak desinfektan dimana pada unit ini diinjekkan sejumlah NaOCl 12% menggunakan dosing pump.
10. Bak Stabilisasi
Bak berbentuk lingkaran yang berfungsi untuk menstabilkan akumulasi air yang telah diinjek NaOCl. Dalam bak ini, unsur chloride cenderung terurai menjadi Cl2 bebas, sedangkan unsur Na sebagai zat terlarut.
11. Kolam akhir (Effluent)
Sarana penampungan akhir dari semua proses. Dilengkapi unit sirkulasi air yang dipompakan ke udara untuk menguraikan Cl2 berlebih dan satu bak untuk pengontrolan akhir dari tempat pengambilan sampel air.
Pemeriksaan IPAL dilakukan oleh QC dengan mengambil sampel pada bak stabilisasi. Pemeriksaan limbah cair ini juga dilakukan dengan bekerja sama dengan pihak eksternal yang terstandarisasi seperti IPB (PT Pradja Pharin, 2013).
3.4 Research and Development Department
R&D Departement dipimpin oleh seorang Senior R&D Manager yang dibantu oleh Chemical Pharma Manager, Chemical Pharma Supervisor, Personal Care Product Development Supervisor, dan Natural Product Development Supervisor yang membawahi masing-masing bagian. R&D Departement bertanggung jawab langsung kepada Business Development & Corporate Product Planning Director Darya Varia Group.
Gambar 3.2 Struktur organisasi departmen Research and Development
R&D Department adalah suatu departemen yang berperan dalam pengembangan produk. Departemen ini menangani pengembangan produk untuk PT Prafa, PT Darya Varia Laboratories, dan PT Medifarma Laboratories. Tugas dan tanggung jawab R&D meliputi :
1. Pengembangan produk baru baik produk sendiri maupun produk lisensi (transfer teknologi).
2. Pengembangan produk yang telah ada (sudah diproduksi) baik pengembangan produk (formula) maupun pengembangan proses.
3. Evaluasi bahan baku alternatif.
Gambar 3.3 Alur pengembangan produk baru
Pengembangan formula yang dilakukan oleh R&D hanya sampai pada proses pengemasan primer. Aktivitas R&D dimulai dari dikeluarkannya BOS (Bussiness Opportunity Sheet) dari Business Development. BOS berisi permintaan produk baru dan spesifikasi produk yang akan dikembangkan seperti nama produk, komposisi, packing size, bentuk sediaan, dan launching date. Pihak Business Development membuat spesifikasi pada BOS berdasarkan survey perkembangan produk di pasaran. Setelah BOS diterima, R&D melakukan studi literatur dari berbagai sumber seperti buku dan internet, meliputi evaluasi sifat fisik dan kimia bahan/zat aktif, studi kompabilitas, evaluasi produk kompetitor, menentukan eksipien yang akan digunakan dan spesifikasi obat/produk jadi dan kompetitor. Selanjutnya R&D melakukan trial skala laboratorium untuk mencari beberapa formula yang sesuai dengan jumlah minimal dua formula. Besarnya jumlah produk pada trial skala laboratorium disesuaikan dengan kapasitas peralatan laboratorium R&D (biasanya 100-500 g).
Selanjutnya pada pilot scale trial dilakukan produksi sebanyak 3 bets terhadap satu formula yang dipilih dengan kapasitas 1/10 skala bets produksi atau
100.000 tablet/kapsul. Produk yang dihasilkan selanjutnya dilakukan pengujian termasuk pengujian stabilitas oleh departemen QC. Sampel pilot scale juga dikirim ke marketing/principle untuk persetujuan produk. Pengujian stabilitas dilakukan selama enam bulan dengan kondisi suhu 40oC±2oC dan RH 75%±5% (uji dipercepat) dan minimal 12 bulan dengan kondisi suhu 30oC±2oC dan RH 75%±5% untuk pengajuan dokumen registrasi.
Setelah itu, dilakukan pengajuan dokumen registrasi ke BPOM. Ketika menunggu hasil pengujian stabilitas dan nomor registrasi, R&D menyusun manufacturing procedure. Setelah nomorregistrasi keluar maka dilakukan scale up dimana obat diproduksi dalam skala besar sesuai dengan batch size yang direncanakan pada production commercialbatch.
Tabel 3.1 Proses pengembangan produk baru No. Departemen yang
Bertanggung Jawab
Proses Dokumen
1. Business Development Permintaan Produk Baru BOS (Business Opportunity Sheet)
2. R&D Praformulasi (studi literature) meliputi evaluasi sifat fisik dan kimia bahan/ zat aktif, studi kompabilitas, evaluasi produk competitor, menentukan eksipien yang akan digunakan dan spesifikasi obat/produk jadi
-
3. Pembelian Ketersediaan bahan baku -
4. R&D Trial skala laboratorium -
5. QC Pengembangan metode analisis -
6. R&D, QA, Registrasi Pengajuan dokumen pra-registrasi ke BPOM
Dokumen pra-registrasi dan protocol validasi proses 7. R&D, PAC, Pembelian Ketersediaan bahan baku untuk pilot batch
trial
- 8. R&D, QC (Packaging
Development), Pembelian
Ketersediaan bahan kemas untuk pilot batch trial
- 9. R&D, Produksi,
Accounting, Marketing, Business Development
Kalkulasi dan persetujuan COGS (Cost of Good Sale)
PCS (Product Commitment Sheet)
10. R&D, Produksi, QA, QC, Engineering (Tim Validasi)
Pilot batch trial: untuk oral solid, skala pilot minimal 1/10 skala produksi atau 100.000 tablet/kapsul
Protokol dan laporan validasi proses
11. QC Studi stabilitas Laporan stabilitas
12. R&D, QA, Registrasi Pengajuan dokumen registrasi ke BPOM Dokumen registrasi dan laporan validasi proses 13. QA, PAC, Pembelian Ketersediaan bahan baku dan kemas untuk
produksi
- 14. R&D, QA, QC,
Produksi
Initial Production Batch - laporan batch produksi - Catatan Batch produksi
untuk dispensing - Spesifikasi produk
3.5 Quality Assurance Department
Quality Assurance (QA) Department bertanggung jawab terhadap jaminan kualitas produk yang dihasilkan. Kualitas produk harus diciptakan sejak awal mulai dari bahan baku, proses pembuatan, peralatan, bangunan, dan personalia yang terlibat dalam pembuatan. QA Departement dipimpin oleh seorang QA manager yang dibantu oleh beberapa supervisor untuk System Compliance, Product Integrity, dan Validation and Calibration.
Gambar 3.4 Struktur organisasi departmen Quality Assurance
Tugas dari QA adalah membuat sistem panduan mutu, pengembangan manajemen kualitas, kontrol dokumen, training GMP, menangani program kalibrasi, mengkoordinasi program kualifikasi dan validasi, audit pemasok, audit internal dan eksternal, penanganan terhadap keluhan pelanggan, penanganan penyimpangan bets, pengendalian perubahan, penanganan penarikan kembali obat jadi, pelulusan obat jadi, dan mengkoordinasi peninjauan produk tahunan.
3.5.1 System Compliance
System Compliance dipimpin oleh seorang supervisor. Bagian ini bertanggung jawab terhadap :
1. DCC (Document Control Center)
memudahkan pencarian dokumen bila diperlukan. DCC bertanggung jawab untuk mengelola SOP, master batch record, master list, spesifikasi dan prosedur analisis, dokumen registrasi, QDR, dokumentasi change control, dan complaint. DCC juga bertanggung jawab membuat index SOP yang berlaku di PT Prafa agar dapat diinventaris dan di-update bila perlu dan menyimpan back-up dalam bentuk CDRW (PT Pradja Pharin, 2013).
Dokumen lain yang disimpan di DCC antara lain daftar approved supplier, laporan obat jadi, protokol, dan laporan validasi. Pengumpulan batch record ini berguna untuk melakukan validasi konkuren dan retrospektif. Dokumen asli lain yang disimpan oleh DCC adalah SOP. Penyebaran SOP dikontrol dengan memberikan stempel pada SOP. SOP asli diberi stempel “original” dan SOP copy diberi stempel “copy”. Pada stempel “copy” tertulis kode angka yang menginformasikan beberapa copy yang beredar, bagian dan personel yang memiliki copy tersebut. SOP dianggap berlaku jika operator/staf yang berkaitan telah di-training. SOP direvisi setiap dua tahun sekali (PT Pradja Pharin, 2013).
DCC juga menyimpan Master Batch Record (MBR) yang merupakan dokumentasi untuk pengusutan data jika terdapat komplain dari konsumen yang berkaitan dengan produk dan disimpan sesuai dengan waktu penyimpanan sampel pertinggal yaitu hingga tanggal kadarluarsa produk ditambah satu tahun (PT Pradja Pharin, 2013).
2. Audit
Audit bertujuan untuk mengevaluasi sistem operasi industri farmasi dalam semua aspek yang mempengaruhi mutu apakah memenuhi kriteria CPOB (GMP). Audit yang dilakukan oleh PT Prafa meliputi tiga jenis yaitu :
a. SIP (Self Inspection Program)
Audit ini dilakukan oleh masing-masing departemen/bagian setiap bulan dengan menunjuk satu koordinator pada setiap departemen(PT Pradja Pharin, 2012).
b. QA Audit
QA Audit dilakukan oleh QA Audit Officer dan tim auditor dari bagian lain yang memiliki kompetensi sebagai auditor. QA Audit dilakukan dua kali setahun (PT Pradja Pharin, 2012).
c. Plant Audit
Plant Audit merupakan audit tiap departemen yang dilakukan setahun sekali oleh Plant Manager dan manager departemen lain. PT Prafa juga melakukan vendor audit, yaitu QA melakukan penilaian (assesment) kepada vendor atau material supplier (bahan baku dan bahan kemas) dalam negeri 2 kali setahun. Untuk vendor luar negeri, pemasok awal, penilaian dilakukan dengan mengirimkan kuisioner yang akan diisi vendor tersebut atau didapat dari audit record mother company, yaitu Unilab Philippines, sedangkan pemasok lama dilakukan langsung di tempat pemasok (luar negeri) 3 kali setahun. Selain itu, terdapat juga audit yang dilakukan oleh pihak ketiga seperti P&G, perusahaan toll manufacturing, dan BPOM (PT Pradja Pharin, 2012).
3. BOS (Behavior Observation System)
BOS dilakukan untuk memperbaiki behavior personil berkaitan dengan GMP. BOS secara harian dilakukan oleh tiap personil untuk melakukan pemeriksaan dan checklist singkat, seperti pemeriksaan kebersihan ruang timbang. Jika suatu behavior sudah dapat terlaksana dengan baik dapat diganti dengan pemeriksaan behavior lain (PT Pradja Pharin, 2013).
4. Registrasi
Bagian registrasi bertugas untuk menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk proses praregistrasi, registrasi, dan registrasi ulang produk PT Prafa ke BPOM. Dokumen yang disiapkan meliputi dokumen administrasi dan dokumen mutu seperti dokumen Product Spesification and Analytical Procedure, Raw Material Spesification and Analytical Procedure, CoA obat jadi, CoA bahan awal, data stabilitas, Master File Processing and Packaging, formula, protokol dan laporan
validasi metode analisis dan proses, serta dokumen lainnya yang dibutuhkan untuk proses registrasi.
3.5.2 Product Integrity
Product Integrity bertanggung jawab terhadap : 1. Releasing
Bagian releasing bertanggung jawab untuk melakukan pelulusan untuk setiap bets dari produk. Pelulusan tersebut berdasarkan penilaian dan pemeriksaan terhadap dokumen yang berkaitan dengan produksi seperti PrO, Picking List, Production Issue, Line Clearence, BPR Dispensing dan Compounding, Lembar Pemeriksaan IPC, PDR Primary dan Secondary, Lembar Rekonsiliasi Bahan Kemas Primer, QDR, dan dokumen lainnya. bila dokumen tersebut telah lengkap dan benar maka produk dapat diluluskan dan diberi label “RELEASED” (PT Pradja Pharin, 2012).
2. APR (Annual Product Review)
Peninjauan produk tahunan merupakan rangkaian dari tiap produk yang diproduksi selama satu tahun, antara lain berisi jumlah bets yang diproduksi selama satu tahun dan status produk (reject dan release), status kalibrasi dan validasi, apakah ada QDR dalam satu tahun itu, apakah ada change control, CAPA yang dilakukan sudah close atau belum, apakah status produk pernah ada recall, returned product dari distributor, complain dari publik atau distributor, data supplier, serta bagaimana analisis sifat fisik dan kimia produk tersebut. Tujuan APR adalah untuk membuktikan konsistensi proses, kesesuaian dari spesifikasi bahan baku, bahan pengemas, obat jadi, untuk melihat tren dan mengidentifikasi perbaikan yang diperlukan untuk produk dan proses. Jika dalam satu tahun tersebut terdapat banyak perubahan maka dilakukan validasi ulang (PT Pradja Pharin, 2013).
3. Change Control Process
Setiap ada perubahan yang berdampak pada kualitas harus membuat laporan permohonan perubahan (change control process). Contoh perubahan yang diajukan adalah perubahan design ruangan, HVAC,
atau perubahan spesifikasi proses produksi. Laporan change control process berisi nama dan departemen prakarsa, alasan perubahan, data-data seperti kualifikasi alat, gambar, SOP perawatan, trainning SOP, tanggal selesai pelaksanaan perubahan. Laporan ini akan diajukan ke departemen QA dan departemen terkait untuk mendapatkan persetujuan. Setelah mendapatkan persetujuan, laporan change control di-copy ke departemen terkait dan pihak yang melaksanakan tindakan perubahan. Change control process dianggap selesai (closing) bila diverifikasi dan diperiksa kembali oleh pemohon (originator) apakah tindakan perubahan yang dilakukan sudah tepat, kapan pelaksanaannya, apa tindak lanjutan (Corrective and Preventive Action/ CAPA), dan kelengkapan dokumen. QA akan melakukan tracking change control, untuk menentukan jumlah laporan change control process yang disetujui, ditolak, dan closing. QA juga melakukan change control tracking monitoring terhadap judul, originator, tanggal selesai tindakan perubahan, dan CAPA (PT Pradja Pharin, 2012).
4. QDR (Quality Deviation Report)
Merupakan laporan penyimpangan mutu yang terjadi selama proses produksi atau yang berhubungan dengan produksi, dan akan mempengaruhi proses produksi nantinya, termasuk OOS (Out Of Specification), deviasi lingkungan produksi (contoh jumlah partikel di white area tidak sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan atau RH yang tidak memenuhi). QDR yang masuk selanjutnya dibuat persetujuan QA Manager untuk menentukan tindakan yang perlu dilakukan. QDR meliputi penyimpangan packaging material, raw material, dan finished product. Kemudian bagian ini melakukan tracking antara lain meliputi jumlah penyimpangan dan berapa yang sudah closing (PT Pradja Pharin, 2012).
5. Product Complain
Formulir complain meliputi product record (nama produk dan no. bets), consumer record (source of product, nama konsumen, umur, no.telepon, keadaan kesehatan), dan jenis complain (life threatening,
critical, general). Selanjutnya QA membuat investigation notification dan permintaan investigasi. Langkah-langkah investigasi yang dilakukan adalah meminta sampel produk yang di-complain kemudian dibandingkan dengan retained sample. Kemudian dilakukan evaluasi batch record untuk melihat apakah selama proses produksi pernah terjadi kegagalan/masalah. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap formula dan jika terjadi pada bets lain maka dilakukan pemeriksaan terhadap retained sample bets lain. Dokumen yang diperlukan dalam investigasi antara lain catatan complain sebelumnya apakah ada yang sama, QDR terkait bets tersebut, APR apakah terdapat trend, training record personil, dan mesin. Selanjutnya ditarik kesimpulan penyebab complain dan CAPA yang dilakukan. Laporan hasil investigasi dikirim kepada pihak yang complain (PT Pradja Pharin, 2013).
6. Product Recall
Recall dapat dilakukan atas inisiatif industri farmasi jika produk cacat mutu dan membahayakan konsumen. Recall juga dapat dilakukan oleh BPOM. Terdapat dua SOP yang berhubungan dengan product recall di PT Prafa yaitu SOP recall itu sendiri dan SOP simulasi jika terjadi recall (mock recall). SOP simulasi ini hanya bersifat administrasi, bukan recall produk sebenarnya. Mock recall dilakukan satu tahun sekali dan dikordinasi oleh QA manager dengan mengajukan permohonan recall kepada direktur Darya Varia Group. Setelah mendapatkan persetujuan, QA manager membuat protokol produk dan batch yang di-recall dari distributor utama (APL), subdistributor, retailer, dan konsumen. Setelah selesai proses recall maka dibuat laporannya. Mock recall ini dilakukan untuk mengetahui apakah sistem distribusi FIFO atau tidak, dan menelusuri catatan distribusi. Sistem distribusi dinilai baik jika 98% dari produk recall terlacak (PT Pradja Pharin, 2012).
6. Retained Sample (Finishing Good)
Sampel pertinggal adalah hasil produksi dalam suatu bets yang dikondisikan sesuai dengan kondisi yang dipersyaratkan dan disimpan
pada ruangan yang telah ditentukan di dalam pabrik. Sampel pertinggal ini akan berguna ketika terdapat keluhan terhadap suatu produk dan harus dilakukannya perbandingan antara kondisi produk yang dikeluhkan dengan sampel pertinggal yang ada (PT Pradja Pharin, 2014).
3.5.3 Validasi dan Kalibrasi
Pelaksanaan validasi dan kualifikasi merupakan aspek penting dari penerapan CPOB 2006. Validasi adalah tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau mekanisme yang digunakan dalam produksi maupun pengawasan mutu akan senantiasa mencapai hasil yang diinginkan. Sifat validasi adalah reproducible, reliable, dan predictable. Validation Supervisor bertanggung jawab atas validasi seluruh sistem yang digunakan. Jenis-jenis validasi yang dilaksanakan di PT Prafa:
1. Kualifikasi
Kualifikasi adalah tindakan pembuktian yang terdokumentasi, bertujuan untuk menjamin mesin/peralatan, sistem, sarana penunjang, bangunan yang digunakan dalam proses produksi sesuai dengan spesifikasi dan tujuan penggunaan yang telah ditentukan sebelumnya. Kualifikasi yang dilakukan meliputi kualifikasi rancangan (Design Qualification), kualifikasi instalasi (Installation Qualification), kualifikasi operasional (Operational Qualification), kualifikasi kinerja (Performance Qualification) dan kualifikasi bangunan (Building Qualification). Kualifikasi tidak hanya dilakukan pada alat / mesin baru saja, tetapi dapat juga dilakukan kualifikasi ulang terhadap alat / mesin lama yang telah mengalami modifikasi sehingga mempengaruhi output atau produk yang dihasilkan (PT Pradja Pharin, 2014).
2. Validasi Metode Analisis
Validasi metode analisis bertujuan untuk membuktikan bahwa semua metode analisa (cara/prosedur pengujian) yang digunakan senantiasa mencapai hasil yang diinginkan secara konsisten. Parameter validasi metode analisa yaitu selektifitas, linearitas, akurasi, presisi, LOD (Limit