• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE

E. Penerapan Prinsip Good Corporate Governance d

Penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance pada suatu perusahaan, selain bertujuan untuk meningkatkan nilai perusahaan (value of firm)

juga harus diterapkan dalam setiap kegiatan perusahaan itu, termasuk kegiatan di dalam pasar modal. Dalam hal Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu yang terjadi karena ada benturan kepentingan ekonomis antara perusahaan dengan kepentingan pihak pengelola perusahaan, yang dapat terjadi karena

penyalahgunaan wewenang dari pihak pengelola (ultra vires) karena tidak diterapkannya prinsip Good Corporate Governance dengan baik.

Dalam segala aktivitas pasar modal yang dilakukan oleh para pelaku usaha harus berdasarkan prinsip keterbukaan. Dan prinsip keterbukaan tersebut merupakan bentuk dari penerapan Good Corporate Governance. Dan sebaliknya penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance diperlukan untuk mendukung prinsip keterbukaan, karena prinsip keterbukaan di dalam pasar modal memiliki tiga fungsi, yaitu :36 pertama, untuk memelihara kepercayaan publik terhadap pasar; kedua, untuk menciptakan mekanisme pasar yang efisien; dan ketiga, untuk mencegah penipuan (fraud).

Perusahaan yang menerapkan Good Corporate Governance, akan memisahkan fungsi pengelolaan dari kepemilikan perusahaan. Dimana fungsi pengelolaan akan diserahkan kepada pihak di luar pemilik perusahaan yang independen yang akan bekerja secara independen dan profesional dalam memberi informasi yang diperlukan dalam kegiatan perusahaan dalam pasar modal dengan sebenarnya (transparansi). Karena bersifat independen dan profesional maka tidak akan ada maksud untuk melindungi perusahaan, atau demi kepentingan pribadi sebagai pengelola perusahaan. Sehingga dalam pengungkapan segala informasi yang diperlukan tidak ada informasi yang tidak benar tentang perusahaan tersebut

(omission), yang berguna demi memperlancar langkah perusahaan tersebut dan menjaga kredibilitasnya dalam kegiatan pasar modal. Namun bila pihak pengelola dari perusahaan tersebut berasal dari keluarga pemilik perusahaan tersebut, maka

36

bisa saja informasi yang diberikan adalah tidak benar karena maksud dari pemberian informasi tersebut adalah untuk melindungi perusahaan karena perusahaan tersebut adalah milik pribadi karena statusnya sebagai perusahaan keluarga, walaupun hal itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dan hal-hal yang berkaitan dengan penerapan Good Corporate Governance dalam pasar modal mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari pemerintah. Karena saat ini sedang dibahas tentang draft perubahan terhadap UU Pasar Modal dan dimasukannya pengaturan tentang pengelolaan perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) dalam draft perubahan UU Pasar Modal. Draft Pasal 84 B UU Pasar Modal tersebut menentukan bahwa pengurus emiten dan perusahaan publik wajib memenuhi prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan yang baik. Lebih lanjut, draft penjelasan Pasal 8 B ayat 1 UU Pasar Modal tersebut menyatakan, bahwa prinsip-prinsip pengelolaan pengelolaan perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) meliputi antara lain prinsip fairness, transparency, accountability, dan responsibility. Pengaturan ini dimaksud untuk memberikan perlindungan kepada pemegang saham terutama pemegang saham publik dan sebagai perwujudan tanggung jawab perusahaan kepada publik.37

Penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dalam pasar modal terlihat dengan keharusan perusahaan publik yang tercatat di bursa wajib memiliki beberapa anggota Dewan Komisaris yang memenuhi kualifikasi sebagai Komisaris Independen berdasarkan Surat Edaran Bapepam Nomor

37

Bismar Nasution, Pentingnya Keterbukaan untuk Pengelolaan Perusahaan yang Baik dalam UUPM, http://bismarnasty.files.wordpress.com/2007/06. Hal 4, diakses tanggal 17 Maret 2008.

SE03/PM/2000 tentang Komisaris Independen dan Peraturan Pencatatan Efek Nomor 339/BEJ/07-2001 tanggal 21 Juli 2001. Keberadaan Komisaris Independen ini berhubungan dengan ketentuan penyelenggaraan pengelolaan perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Antara lain: 38

1. Jumlah Komisaris Independen adalah sekurang-kurangnya 30% dari seluruh jumlah anggota Komisaris.

2. Perlunya dibentuk Komite Audit.

3. Keharusan perusahaan memiliki Sekretaris Perusahaan (corporate secretary).

Fungsi dari seorang Komisaris adalah sebagai pengawas terhadap pengurus perseroan yang dilakukan oleh Direksi. Dan dalam fungsi pengawasan tersebut terkandung kewajiban Komisaris untuk memberi nasehat (advise) kepada Direksi dalam menjalankan pengelolaan perusahaan. Persyaratan seorang Komisaris Independen harus tetap mengacu pada UU Perseroan Terbatas tentang syarat utama untuk menjadi seorang Komisaris suatu Perseroan Terbatas.39 Namun bagi perusahaan tercatat40 tentang Komisaris Independen ini mengacu pada ketentuan peraturan Bursa Efek Jakarta No. Kep.BEJ.305/2004 (Peraturan No.1-A Tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang

38

http://Businessenvironment.wordpress.com. Loc cit. 39

UU Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU Perseroan Terbatas), Pasal 1 angka 6 dan Pasal 108.

40

Perusahaan tercatat adalah Emiten atau Perusahaan Publik yang efeknya tercatat di bursa. Kep.BEJ.305/2004 (Peraturan No.1-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat).

Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat) yang mensyaratkan bahwa Komisaris Independen dari perusahaan tercatat harus pula memiliki reputasi baik.41

Keberadaan Komite Audit berlaku bagi perusahaan tercatat di papan utama, tapi juga di papan pengembangan.42 Pentingnya keberadaan Komite Audit ini tidak terlepas dari tugas dan tanggung jawab serta kewenangan yang dimilikinya. Komite Audit bertugas menjalankan pendapat profesional yang independen kepada Dewan Komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang disampaikan oleh Direksi kepada Dewan Komisaris, serta mengidentifikasi hal- hal yang memerlukan perhatian Dewan Komisaris, yang mencakup;43

1. Melakukan penelaahan atas informasi keuangan.

2. Menelaah independensi dan obyektifitas akuntan publik.

3. Melakukan penelaahan atas kecukupan pemeriksaan yang dilakukan akuntan publik untuk memastikan semua risiko yang perlu dipertimbangkan.

4. Melakukan penelahaan atas efektifitas pengendalian internal perusahaan. 5. Menelaah tingkat kepatuhan perusahaan.

6. Melakukan pemeriksaan atas dugaan adanya kesalahan dalam keputusan Direksi atau penyimpangan dalam hasil keputusan rapat Direksi.

Komisaris Independen wajib juga menyampaikan peristiwa atau kejadian penting yang diketahuinya kepada Dewan Komisaris Perusahaan Tercatat.44

Keberadaan Sekretaris Perusahaan (corporate secretary) adalah indikasi penerapan Good Corporate Governance, seperti Komisaris Independen dan

41Ibid,

angka romawi III.1.10

42

Cornelius Simanjuntak dan Natalie Mulia, Merger Perusahaan Publik, Suatu Kajian Hukum Korporasi, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2006) Hal 89.

43

http://Businessenvironment.wordpress.com, Loc cit. 44Ibid.

Komite Audit. Sama seperti Komite Audit, maka Sekretaris Perusahaan berlaku di papan utama dan dan papan pengembangan.45 Berdasarkan Lampiran Keputusan Ketua Bapepam Nomor Kep-63/PM/1996, tanggal 17 Januari 1996 (Peraturan Nomor IX.I.4 tentang Pembentukan Sekretaris Perusahaan), maka pembentukan Sekretaris Perusahaan bertujuan untuk meningkatkan pelayanan Emiten atau Perusahaan Publik kepada masyarakat pemodal dalam rangka perkembangan pasar modal di Indonesia. Dan Sekretaris Perusahaan memiliki tugas :46

1. Mengikuti perkembangan pasar modal khususnya peraturan-peraturan yang berlaku di bidang pasar modal.

2. Memberikan pelayanan kepada masyarakat atas setiap informasi yang dibutuhkan pemodal yang berkaitan dengan kondisi Emiten atau Perusahaan Publik.

3. Fungsi Sekretaris Perusahaan dapat dirangkap oleh Direktur Emiten atau Perusahaan Publik.

4. Sebagai penghubung atau contact person antara Emiten atau Perusahaan Publik dengan Bapepam dan masyarakat.

5. Memberikan masukan kepada Direksi Emiten atau Perusahaan Publik untuk mematuhi ketentuan Undang-undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal dan peraturan pelaksananya.

45

Cornelius Simanjuntak dan Natalie Mulia. Op cit. Hal 94.

46 http://www.Bapepam.go.id/old/hukum/peraturan/emiten/IX.I.4.htm,

diakses tanggal 13 Februari 2008.

Dokumen terkait