No
Faktual Model Faktual Model Faktual Model Faktual Model
CO 69.72 66.23 246.08 228.85 417.49 409.14 509.49 478.92 0.0413 0.0299
NO2 29.44 27.97 31.99 29.75 63.75 62.48 91.87 86.36 0.0414 0.0282
SO2 25.72 24.43 34.11 31.72 43.17 42.31 50.82 47.77 0.0461 0.0409
PM10 17.2 16.34 43.65 40.59 51.45 50.42 61.67 57.97 0.0461 0.0418
Faktual Model Faktual Model Faktual Model Faktual Model
CO 87.04 85.3 169.25 154.02 175.62 166.84 298.77 271.88 0.0633 0.0721
NO2 22.49 22.04 42.5 38.68 45.99 43.69 48.73 44.34 0.0629 0.0708
SO2 29.45 28.86 39.64 36.07 40.56 38.53 117.87 107.26 0.0598 0.0647
PM10 50.33 49.32 53.49 52.68 58.33 55.41 60.21 58.79 0.0301 0.0298
Faktual Model Faktual Model Faktual Model Faktual Model
CO 1123.77 1045.11 1710.93 1625.38 2399.23 2351.25 2712.99 2631.6 0.0423 0.0321
NO2 71.23 66.24 82.77 78.63 91.27 89.44 99.52 96.53 0.0468 0.0444
SO2 190.12 176.81 210.66 200.13 243.12 238.26 270.12 262.02 0.0467 0.044
PM10 54.23 50.43 61.9 58.81 65.55 64.24 70.12 68.02 0.0473 0.0461
Faktual Model Faktual Model Faktual Model Faktual Model
CO 36.45 33.9 118.97 109.45 195.46 185.69 223.12 203.04 0.0664 0.0592
NO2 16.25 15.11 24.61 22.64 33.54 31.86 40.12 36.51 0.0688 0.0639
SO2 18.1 16.83 27.98 25.74 32.79 31.15 41.98 38.2 0.0699 0.0674
PM10 10.29 9.57 24.47 22.51 34.17 32.46 42.21 38.41 0.068 0.0625
Faktual Model Faktual Model Faktual Model Faktual Model
CO 87.23 78.51 121.3 120.09 152.61 144.98 201.33 185.22 0.0511 0.0436
NO2 23.12 20.81 24.5 24.26 30.12 28.61 31.07 28.58 0.0551 0.0532
SO2 21.33 19.2 31.51 31.19 40.44 38.42 46.11 42.42 0.0503 0.0424
PM10 20.35 18.32 24.93 24.68 32.02 30.42 41.92 38.57 0.0528 0.0476
5
Jl. A. Tonro (Kec. Tamalate) Parameter
2007 2008 2009 2010
AME AVE
4
Jl. Botolempangan (Kec. Mariso) Parameter
2007 2008 2009 2010
AME AVE
3
Jl. P. Kemerdekaan Km.10 (Kec. Tamalanrea) Parameter
2007 2008 2009 2010
AME AVE
2
Jl. Nusantara (Kec. Ujung Tanah) Parameter
2007 2008 2009 2010
AME AVE
Jl. Sudirman (Kec. Ujung Pandang)
1
Parameter
2007 2008 2009 2010
AME AVE
No
Faktual Model Faktual Model Faktual Model Faktual Model
CO 37.96 35.68 83.59 78.57 209.45 207.36 322.11 306 0.0292 0.0118
NO2 21.22 19.95 32.56 30.61 43.21 42.78 59.69 56.71 0.0391 0.0292
SO2 21.33 20.05 25.95 24.39 37.25 36.88 68.02 64.62 0.0395 0.0291
PM10 9.4 8.84 35.49 33.36 41.98 41.56 46.36 44.04 0.0387 0.03
Faktual Model Faktual Model Faktual Model Faktual Model
CO 50.23 45.71 104.05 98.85 267.84 254.45 287.99 264.95 0.0579 0.0515
NO2 21.5 20.67 25.63 24.35 26.86 25.52 31.5 28.98 0.0489 0.0494
SO2 27.11 24.67 28.41 26.99 38.58 36.65 61.77 56.83 0.0656 0.0626
PM10 25.47 23.18 26.36 25.04 28.9 27.46 30.12 27.71 0.0667 0.0666
Faktual Model Faktual Model Faktual Model Faktual Model
CO 734.9 661.41 1013.77 922.53 1423.98 1310.06 1725.88 1570.55 0.0963 0.0923
NO2 57.34 51.61 66.78 60.77 76.89 70.74 86.77 78.96 0.0977 0.0963
SO2 90.56 81.5 98.74 89.85 113.34 104.27 140.12 127.51 0.098 0.0972
PM10 15.22 13.7 20.23 18.41 23.11 21.26 30.12 27.41 0.097 0.0949
Faktual Model Faktual Model Faktual Model Faktual Model
CO 32.38 30.44 50.43 48.32 57.88 52.67 70.36 66.84 0.0705 0.0725
NO2 20.12 18.91 21.77 21.12 27.21 24.76 30.8 29.26 0.0665 0.0694
SO2 19.05 17.91 19.46 18.88 20.77 18.9 21.3 20.24 0.0645 0.0629
PM10 5.83 5.48 7.87 7.63 10.34 9.41 12.04 11.44 0.0675 0.0727
Faktual Model Faktual Model Faktual Model Faktual Model
CO 57.18 55.46 112.93 107.28 127.83 126.55 140.34 133.32 0.0299 0.0283
NO2 15.22 14.76 20.3 19.29 22.63 22.4 25.12 23.86 0.0301 0.0292
SO2 15.19 14.73 15.23 14.47 17.96 17.78 20.34 19.32 0.0298 0.0284
PM10 10.15 9.85 15.22 14.46 17.23 17.06 20.32 19.3 0.0297 0.0284
5
Jl. A. Tonro (Kec. Tamalate)
Parameter
2007 2008 2009 2010
AME AVE
4
Jl. Botolempangan (Kec. Mariso)
Parameter
2007 2008 2009 2010
AME AVE
3
Jl. P. Kemerdekaan Km.10 (Kec. Tamalanrea)
Parameter
2007 2008 2009 2010
AME AVE
2
Jl. Nusantara (Kec. Ujung Tanah)
Parameter
2007 2008 2009 2010
AME AVE
Jl. Sudirman (Kec. Ujung Pandang)
1
Parameter
2007 2008 2009 2010
AME AVE
Sebagai tindak lanjut hasil analisis kondisi eksisting dan pemodelan dinamik pengendalian pencemaran emisi kendaraan bermotor di Kota Makassar adalah penyusunan skenario atau intervensi model berupa alternatif rancangan kebijakan yang dapat dilaksanakan berdasarkan kondisi eksisting yang ada.
Melalui intervensi, perilaku sistem yang diinginkan dapat diperoleh sedangkan perilaku sistem yang tidak diinginkan dapat dihindari (Avianto, 2010).
Penerapan skenario model melalui simulasi model untuk melihat kecenderungan perilaku sistem yang dianalisis. Model simulasi yang diperlukan adalah suatu model yang dapat memberikan pemahaman tentang sebab terjadinya persoalan manajemen (perilaku yang tidak dikehendaki), dan melalui pemahaman ini dapat dirancang suatu kebijakan untuk memperbaiki persoalan tersebut (policy directions) (DSF, 2011).
Skenario pengendalian didasarkan pada hasil analisis prioritas strategi reduksi beban emisi berdasarkan hasil penilaian pakar menggunakan metode Analytical Hierarchy Process pada sub-bab sebelumnya. Simulasi model dilakukan dengan beberapa skenario dan dianalisis berdasarkan skenario dasar (kondisi eksisting) sebelumnya dengan asumsi tidak ada pengendalian yang dilakukan (perubahan teknologi) dan tidak ada perubahan kebijakan selama periode perencanaan. Skenario dasar merupakan skenario business as usual dimana tidak dilakukan intervensi terhadap model sehingga kondisi model merupakan kondisi saat ini tanpa adanya upaya atau strategi untuk perbaikan sistem.
Skenario yang akan diterapkan yaitu: 1) skenario pengurangan atau pembatasan jumlah kendaraan melalui penerapan transportasi massal (Busway) yang selanjutnya disebut skenario Busway, 2) skenario pengurangan konsentrasi emisi melalui penerapan bahan bakar ramah lingkungan yaitu penerapan Bahan Bakar Gas untuk kendaraan angkutan dengan kapasitas besar (bus dan truk) yang selanjutnya disebut skenario BBG, 3) skenario inspeksi dan perawatan (inspection and maintenance) kendaraan atau skenario IM, dan 4) skenario gabungan (SGAB), yaitu penerapan antara ketiga skenario (1), (2) dan (3) secara bersamaan.
Skenario Busway (SB) dilakukan dengan asumsi dapat mereduksi penggunaan kendaraan sepeda motor sebesar 25% dan mobil penumpang sebesar
15% dari kondisi eksisting. Asumsi ini dapat dicapai melalui kebijakan pengadaan 50 unit busway setiap tahun yang akan beroperasi setiap hari di Kota Makassar. Maksud dari skenario Busway adalah untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, sehingga 1 unit busway diasumsikan dapat menggantikan 15 unit mobil pribadi dan 20 unit sepeda motor. Karena adanya penambahan sarana transportasi umum (busway) sebagai alternatif alat transportasi, untuk itu pada skenario ini jumlah bis dinaikkan sebesar 1% dari tingkat pertumbuhan pada skenario dasar.
Skenario Bahan Bakar Gas (SBBG) merupakan skenario penerapan bahan bakar yang ramah lingkungan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa konsumsi bahan bakar minyak (BBM) mempunyai kontribusi yang dominan terhadap pencemaran udara yang terjadi, sehingga penggunaan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan seperti BBG sangat diperlukan dalam rangka penurunan tingkat emisi dari kendaraan bermotor. Salah satu upaya yang akan dilakukan pemerintah saat ini yaitu melakukan konversi BBM ke BBG secara bertahap untuk seluruh jenis kendaraan terutama untuk kendaraan dengan kapasitas angkut yang besar seperti bus dan truk. Pada skenario BBG diasumsikan dapat menurunkan tingkat emisi truk dan bus hingga 90% dibandingkan nilai beban emisi pada skenario dasar.
Skenario Inspection and Maintenance (SIM) merupakan skenario pengendalian pencemaran udara dengan sistem pemeriksaan emisi yang ketat dan dibarengi dengan perawatan kendaraan bermotor secara berkala. Hal ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi kendaraan-kendaraan yang beroperasi (in-use vehicles) yang tidak memenuhi ambang batas emisi pencemar. Kendaraan yang tidak memenuhi ambang batas emisi dipersyaratkan untuk dilakukan perbaikan hingga memenuhi ambang batas yang telah ditetapkan. Pada skenario ini diasumsikan dapat mereduksi 50% emisi kendaraan untuk jenis kendaraan sepeda motor dan mobil penumpang.
Saat ini di negara maju dan beberapa negara berkembang di dunia banyak yang telah menerapkan kebijakan sistem pemeriksaan emisi dan perawatan kendaraan bermotor bagi semua kendaraan yang beroperasi. Hal ini dilakukan untuk menjaga performa kerja mesin dan efisiensi bahan bakar, karena dengan
bertambahnya usia pakai kendaraan maka performa kerja mesin juga akan mengalami penurunan sehingga diperlukan adanya perawatan secara berkala untuk mengembalikan performa mesin pada kondisi standar (engine tune-up).
Sedangkan skenario gabungan (SGAB) merupakan penerapan skenario Busway, skenario BBG dan skenario Inspection and Maintenance secara bersamaan untuk mereduksi beban emisi kendaraan bermotor di Kota Makassar, dimana asumsi yang digunakan pada ke tiga skenario tersebut diterapkan secara bersamaan pada skenario ini. Asumsi penerapan skenario model ditunjukkan pada Tabel 28 berikut.
Tabel 28. Asumsi penerapan skenario model
No Skenario Asumsi
1. Busway Reduksi jumlah sepeda motor sebesar 25% terhadap skenario dasar.
2. BBG untuk kendaran truk dan bus
Reduksi beban emisi CO, NO2, SO2 dan PM10 kendaraan truk dan bus sebesar 90% terhadap skenario dasar.
3. Inspection & Maintenance Reduksi emisi CO, NO2, SO2 dan PM10 kendaraan sepeda motor dan mobil penumpang sebesar 50% terhadap skenario dasar.
4. Gabungan skenario 1, 2, dan 3
Asumsi skenario 1,2, dan 3 di atas diterapkan secara bersamaan
5.5.10 Perbandingan Penerapan antar Skenario