Gambar 4.15 Rahmat yang Depresi karena kemandulannya Sumber : Olahan Peneliti
4.3.5.1. Pasangan Informan 1 (P&R)
Seperti yang terjadi dengan Rahmat, dia juga mengalami depresi dimana dia belum bisa menerima keadaannya yang ternyata mandul. Hal ini nampak dari adegan dimana Rahmat menangis sendiri di sudut rumahnya seperti gambar pojok kanan. Dan dilihat dari adegan itu P melihat bahwa tidak memungkiri seseorang yang akan mengalami hal serupa dengan Rahmat akan mengalami keadaan stres apalagi kurangnya dukungan dari orang sekitar pasti akan membuat dia semakin terpukul “yaa wajar Rahmat seperti itu, menerima kenyataan itu aja sudah berat ditambah istrinya yang ngga mau ngertiin dia.. kalau jadi dia pasti juga stres berat”
Sedangkan dari sudut pandang suami R mengaku bahwa “yaa mana ada lelaki ngga stres kalau ternyata dia dibilang mandul, itu kan sama aja menyatakan dia gagal, tapi aku kurang suka dengan sikap Tata yang meninggalkan Rahmat kayak gitu”.
58
Universitas Kristen Petra 4.3.5.2. Pasangan Informan 2 (Y&A)
Masalah keturunan memang sangat sensitif bagi sebagian orang apalagi kita tahu bahwa di budaya kita yang sangat mementingkan perihal anak dan itu juga yang diterima dan dirasakan oleh Y
“kalau aku dari segi cewek, ngeliat itu tadi ya itu wajar sak cinta-cinta e pasangan kita ya pasti itu hal yang sangat shock apalagi ee.. perihal keturunan kayak gitu ya dan mungkin beda sama kultur luar kalau kultur disini kan istilah ne sek ada orang tua, keluarga atau orang-orang deket itu rasa e nek married nda punya anak akan menjadi suatu apa ya..ya kayak sing gunjingan lah atau maksud e ada muncul negative-negative thingking dari orang-orang kenapa kok belum punya anak atau belum segera punya anak”
Sedangkan dari A melihat diri Rahmat yang harus menerima kenyataan ini seperti dalam adegan tersebut sebagai berikut:
“kita lahir itu kan pengennya subur, ngga ada apa-apa, ngga ada sakit nda punya istilahnya anggota tubuh juga lengkap otomatis semua kan harus lengkap ya kan? Istilahnya ngga ada kesalahan sedikitpun lah. Minta nya kan seperti itu tetapi kalau sampai akhirnya seperti itu bukan kemauan kita, pasti kalau jadi Rahmat akan depresi juga karena memang ini bukan suatu hal yang mudah untuk kita terima apalagi kemudian ditinggal istrinya maka akan menjadi cobaan yang lebih besar”
Peneliti melihat bahwa seseorang yang mengalami hal sama yang dialami oleh Rahmat itu bukan berdasarkan kemauan mereka, karena seperti yang dikatakan oleh A bahwa manusia pengen lahir dengan keadaan yang baik dan sempurna namun tidak bisa memilih seperti itu. Sudah pasti itu menjadi cobaan yang besar bagi seseorang yang mengalaminya apalagi tidak ada dukungan yang diberikan oleh orang disekitarnya seperti yang dilakukan Tata. Ditambah dengan tekanan sosial yang membuat dirinya semakin depresi karena sebagai laki-laki dia sudah jatuh harga dirinya.
59
Universitas Kristen Petra 4.3.6. Penerimaan Pasangan Istri dan Suami terhadap Penyelesaian Konflik
Gambar 4.16 Akhirnya Tata dan Rahmat mengingat janji pernikahan mereka dan memutuskan untuk bersama
Sumber : Olahan Peneliti
4.3.6.1. Pasangan Informan 1 (P &R)
Konflik yang terjadi dalam rumah tangga Rahmat dan Tata yang dikarenakan mereka tidak bisa menghasilkan keturunan yang diakibatkan ketidaksuburan Rahmat, membuat mereka mengalami masa terberat dalam rumah tangganya. Kebanyakan dari pasangan suami istri yang serupa dialami oleh Rahmat dan Tata mereka akan memutuskan bercerai, namun Tata dan Rahmat justru memilih untuk menjalanin nya berdua dan menerima apa adanya.
P menerima adegan terhadap penyelesaian masalah dalam rumah tangga mereka sudah benar dan P setuju dengan kata-kata yang diucapkan Rahmat kepada Tata “yaa itu bagus banget dengan kata-kata saling melengkapi itu, bahwa sebenarnya yang bisa mengambil keputusan ya mereka berdua mau mempertahankan atau tidak”. Janji yang diucapkan semasa pernikahan mereka dirasa R sebagai kunci penyelamat rumah tangga mereka. “yaa itu yang paling bisa menyelematkan rumah tangga ya itu, ya Saling melengkapi menerima apa ada nya.”
60
Universitas Kristen Petra Gambar 4.17. Mertua Shinta yang meminta shinta dan suaminya bercerai
akibat shinta tidak bisa memberikan keturunan Sumber : Olahan Peneliti
Di atas adalah salah satu adegan dengan penyelesaian konflik yang berbeda, Shinta yang dulunya mantan pacar Rahmat yang juga memiliki permasalahan yang sama dengan Rahmat yaitu mandul. Membuat hubungan Shinta dan suaminya Heru harus di ambang perceraian. Dalam penyelesaian konflik pada kasus keluarga Shinta justru mertuanya yang ikut campur dalam menyelesaikan masalah tersebut dengan cara meminta anaknya Heru untuk menceraikan Shinta. Hal ini kemudian peneliti tanyakan kepada P dan R mengenai sikap yang ditunjukan oleh mertua Shinta dalam kondisi dimana anaknya dan menantunya tidak bisa menghasilkan keturunan, dan memaksa mereka untuk bercerai.
P yang menyadari bahwa itu berlawanan dengan yang digambarkan oleh pasangan Rahmat dan Tata “oh yaa.. itu yaa kayak berlawanan ya gimana yaa bang jelasinnya” kemudian sang suami menceletuk “kalau aku sih melihat kasihan anaknya, yang kedua anaknya ngga punya pendirian”. P yang kemudian setuju dengan perkataan suaminya mengatakan bahwa “ya anaknya ngga punya pendirian, soalnya kan ketika anaknya sudah membangun keluarga sendiri, punya permasalahan sendiri”. Peneliti, R dan P sambil hening sejenak, kemudian R tiba-tiba bilang bahwa “dan itu tergantung dari kepercayaan orang-orang dulu juga”. P yang kemudian menambahkan perkataan “suaminya “apalagi ibu nya Heru (suami Shinta) koyo masih rodo jawa gitu ya”. R yang kemudian membenarkan perkataan sang istri mulai menambahkan bahwa orang zaman dulu tidak mudah memahami kondisi yang terjadi “iya bener kaya orang masih megang suku adat
61
Universitas Kristen Petra apa.. iyo kayak zaman-zaman sekarang kalau lebih dengan pengertian gitu yang lebih apa ..orang – orang yang lebih sudah mengerti harus nya ngga akan kayak gitu, kalau aku sih sebenarnya tergantung pasangannya bukan orang tua” ujar R.
4.3.6.2. Pasangan Informan 2 (Y dan A)
Y menanggapi adegan ketika Rahmat dan Tata mengingat janji pernikahan mereka dari sudut pandang yang berbeda bahwa Y melihat tetap saja pasangan suami istri yang memutuskan segala sesuatu pasti ada baik dan buruknya dimana itu dipengaruhi oleh budaya ketimuran kita.
“ya..bener tapi setiap yang kita ambil keputusan mesti ada pro kontra dari orang-orang disekeliling tapi yang menjalani itu adalah suami istri itu kayak gitu.pasti ada pro kontra dari sekeliling dengan apa yang kita putuskan. Padahal kan harus e itu nek wes nikah ya wes suami dan istri itu bukan berarti kita tidak mau orang tua mencampuri, keluarga melok-melok ngga kayak gitu ya”.
Sedangkan A hanya menanggapi dengan santai “sangat setuju dengan kata-kata itu”. Berbeda dengan penyelesaian konflik yang ditunjukan oleh pasangan Rahmat dan Tata. Justru Pasangan Heru dan Shinta harus berpisah karena orang tua Heru yang memaksa mereka untuk bercerai karena Shinta tidak bisa memberikan keturunan bagi keluarganya. Y melihat itu sebagai hal yang tidak munafik bagi setiap orang tua yang menginginkan keturunan dari anaknya. Kemudian Y mengatakan bahwa :
“jujur.. itu juga wajar yaa maksudnya ngga munafik gitu lho.. yaa istilah e kita belum sampai kearah itu yaa. Kan pasti orang tua pengen yang terbaik buat anaknya tapi di satu sisi juga orang tua yang egois kalau menurut ku padahal itu kan masih banyak solusi salah satu nya seperti yang dilakukan Tata bisa mengadopsi anak kah. Tapi kan memang ada beberapa orang tua yang emm.. ya mau nya cucu kandung gitu, tapi aku ngga menyetujui sikap mertua nya itu”. Kemudian Y yang kembali mempertegaskan jawabannya “Cuma itu ya ngga munafik ya pastinya adalah orang tua yang bersikap seperti itu”
62
Universitas Kristen Petra Sedangkan A menilai hal tersebut sebagai pro kontra “Pro kontra lah kalau kayak gitu” A yang masih memiliki pertimbangan lain terhadap persoalan ini, ia mengatakan bahwa:
“kalau menurut ku gini..orang tua yang ditonjolkan disini selalu orang tua nya sih laki kan, orang tuanya Rahmat sama orang tuanya Dwi Sasono itu kan.. Nah inti ne kalau punya anak laki otomatis harus punya cucu kalau kamu punya anak perempuan nah kalau perempuan itu kan ikut suami nya seperti itu. Lek menurut ku gini yang shinta ini nek menurutku suami nya itu tahu kalau dia itu ngga bisa memberikan anak, karena apa karena di endingnya suami nya masih tetep nyari .. ehhmm nah kalau menurutku ibu nya juga tahu kalau menantu nya itu juga mungkin tidak bisa punya anak karena ya ngga mungkin toh anak sekarang minta restu nikah ngga menceritkan latar belakangnya pasangannya. Yah mungkin itu timbunan dari efek sejak awal sudah ngga disetujui mungkin kalau menurutku itu. Lagian ketambahan ngga bisa punya anak dan ini kan ngga dijelaskan ngga bisa punya anaknya ini karena apa, ya kalau menurutku wajar siih kalau orang tuanya yang laki seperti itu Cuma mungkin sifatnya terlalu berlebihan, sifatnya terlalu ekstrim menurutku. Yaa jujur kalau aku nanti aku jadi orang tua punya anak laki ya mungkin juga ada sikap seperti itu Cuma ya kayak kita ngomong aja gitu lho kita bersikap pasrah aja. Dan pastilah suatu saat yang namanya mujizat itu kan kita ngga tau”
A juga menambahkan bahwa dari pengalaman pribadinya sebagai anak tunggal satu-satunya dia mengatakan bahwa :
“dan yaa itu nomor satunya pengalaman pribadi, jadi aku kan sebagai anak laki ya ditanyain, kapan cucu nya...kapan? oh belom dan sebagainya.. nanti oh makan no ini supaya lebih subur lah tetapi ngga pernah sampai keluar kata-kata apa wes istri mu ngga subur apa. Kan belum tentu masalahnya di istri atau suami, mosok kita harus kawin cerai kawin cerai nyobain satu-satu kan ngga mungkin. “
Dari pernyataan yang disampaikan oleh A diatas peneliti menemukan bahwa faktor anak tunggal bisa juga mempengaruhi pasangan orang tuanya untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya, apalagi persoalan cucu pasti
63
Universitas Kristen Petra orang tua akan ikut ambil bagian untuk anak atau menantunya segera memberikan cucu bagi dirinya dan ini lah yang juga dialami oleh pasangan Y dan A.