• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanggapan masyarakat terhadap kawin lari

1. Penerimaan Masyarakat terhadap Perilaku Kawin Lari

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan dalam proses penerimaan masyarakat terhadap perilaku kawin lari di kelurahan malakaji kecamatan tompobulu kabupaten gowa dapat di simpulkan bahwa untuk menerima perilaku kawin lari di masyarakat kelurahan malakaji harus dikenakan sanksi adat yang berlaku di masyarakat dan tercapainya kesepakatan orang tua masing-masing, dan pada zaman dulu pebnerimaan perilaku kawin lari biasanya di lakukan deng kekerasan fisik tapi denga zaman sekarang di fikiran masyarakat adalah perbuatan yng berlebihan karena kedua orang yang melakukan kawin lari sudah menjalankan konsekuensinnya dengan baik.

Kawin lari merupakan perbuatan yang tercela, sehingga untuk menerima para pelaku kawin lari terlebih dahulu harus di kenakan sanksi adat menurut Bapak Baharuddin S.M sebagai lurah. Menurut saya kawin lari merupakan hal

yang sangat tidak benar untuk berada pada kasus masyarakat apalagi memalukan orangtua dengan cara kawin lari harusnya juga pelaku kawin lari harus dihukum secara berat karena merupakan hal yang meamlukan dalam lingkungan masyarakat dan sekitarnya dan mencoreng nama baik dan menurut saya harus mememnuhi semua peraturan yang ada dimasyarakat kelurahan malakji seperti dahulu yang di cambuk atau di pukul baru di terima di masyarakat supaya orang yang melihat hukuman sebelum diterima tersebut punya rasa agar anaknya tidak melakukan hal yang memalukan dan harus benar-benar meminta maaf kepada orang tua mereka.

Sebelum diterimanya pelaku kawin lari ini meminta izin kepada pihak keluarga menyediakan uang panai’ dan melalui aturan yang telah diterapkan dari kelurahan malakaji sehingga bisa diterima dari pihak keluarga dan masyarakat setempat. Menurut ibu yang bernama ibu Sohra 40 tahun. Manurut saya penerimaan perilaku kawin lari dengan adanya konsekuensi seperti yang di paparkan ibu sohra memang harus ada langkah-langkahnya supaya piahak kawin lari mendapatkan jera bahwa kawin lari tersebut tidak baik di mata masyarakat apalagi di kelurahan malakaji dan langkah-langkah ini harus di sepakati oleh pihak orang yang melakukan kawin lari.

Salah satu syarat untuk tercapainya penerimaan perilaku kawin lari ini adanya kesepakatan baik dari pihak prang tua masing-masing maupun masyarakat dan jika sebelumnya syarat untuk menrima pelaku kawin lari yaitu dengan melakukan kekerasan maka saat ini syarat tidak di berlakukan lari di

karenakan sudah berlebihan, menurut bapak Abd. Rajab selaku ketua RT di kelurahan malakaji. Menurut saya penerimaan ini harus ada hukuman yang jera untuk para pelaku kawin lari dan biarpun masyrakat mersa ini berlebihan tapi inilah jalan terbaik bagi perilaku kawin lari karena sudah melakukan perbuatan yang tercela dan harusnya masyrakat tidak boleh menrima dulu pelaku kawin lari sebelum selesai di hukum.

Dampak yang di timbulkan kawin lari dikelurahan malakaji yaitu kurangnya sosialisasi kemasyrakat terutama untuk anak-anak muda karena kalau kita selalu bersosialisasi kemasyarakat pasti banyak pengalaman dan pengetahuan dan memahami adanya pendidikan karena tidak adanya pendidikan pasti fikiran kita juga bakalan terarah kefikiran yang negatif dan faktor terjadinya kawin lari yaitu adanya pergaulan bebas yang tidak didasari oleh pendidikan dan tidak adanya pemahan yang mendalam dan juga adanya suka sama suka dan faktor yang terlalu jadi perhatian di masyarakat yaitu faktor ekonomi yang berlebihan dan kasta, ras juga yang bisa menyebabkan orang kwin lari.

Adapun peneliti melihat bahwa ada beberapa Faktor yang paling banyak menyebabkan dan mempengaruhi kawin lari pada kelurahan malakaji yaitu Faktor yang pertama:Menentang perjodohan (kawin paksa) kebiasaan sebagian orang tua, dalam mencarikan jodoh anknya selalu mencari dari luar keluarga dekat, baik itu sepupuh satu kali, dua kali dan tiga kali. Tujuanya agar harta warisan itu tidak jatuh keluar. Faktor yang kedua: faktor ekonomi yang

berlebihan faktor ketiga yaitu: lamaran ditolak, orang tua dari pihak perempuan menolak lamaran pihak laki-laki yang melamar anak gadisnya, hal yang menyebabkan ditolaknya pihak alki-laki yaitu perbedaan strata sosialnya dalam masyarakat. Apalagi jaman sekarang semua orang mengejar yang namnya dunia saja bukan akhirat. Faktor keempat:perilaku yang tak sesuai harapan orang tua salah satu pihak teatapi menurut saya setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anknya hidup bahagia kelak, untuk bahagia itu juga harus mencari calon suami dari yang baik-baik pula. Bilamana orang tua melihat kehidupan pemuda yang melamar anaknya tingkah lakunya buruk maka orang tua menolaknya.

Faktor kelima: pergaulan bebabs, kalangan remaja jaman sekarang khususnya di kelurahan malakji selalu mencari hal-hal yang bersifat instan atau mereka hanya bertindak sesuai dengan naluri dalam dirinya tanp memikirkan dampak yang akan terjadi pada apa yang mereka lakukan. Pergaualan bebas yang dialakukan oleh remaja tdak terlepas dari pengaruh lingkungan, kurangnnya perhatian keluarga.

Perlu kita ketahui juga tentang kawin lari di kelurahan malakaji ini kebanyakan anak dibawah umur dan lebih sadisnya kawin lari di keluarahan malakaji tersebut hamil diluar nikah dan yang paling banyak yaitu anak remaja yang melakukan mereka sementara sekolah dan mereka tidak mementingkan lagi pendidikan mereka orangtua pelaku kawin lari melarang anaknya melakukan hubungan mereka karena persoalan kasta dan dan strata sosial yang bisa menyebabkan kedua pelaku kawin lari dan kebanyakan juga di kelurahan ini

tidak direstui karena keluarga pelakukawin lari biasanya tidak jelas, misalnya tidak adanya pekerjaan yang jelas dari laki-laki sehingga keluarga perempuan tidak merestui mereka dan pergaulan laki-laki bebas sehingga keluarga perempuan tidak rela anaknya menikah dengan laki-laki yang pergaulanya terlalu bebas yang bisa menjerumuskan anak mereka yang ke arah yang salah, akan tetapi pelaku kawin lari tidak memikirkan hal tersebut karena mereka berfikir mereka saling mencintai satu sama lain

Dalam suku bugis makassar kawin lari sudah ada pada zaman dulu tapi zaman dulu sanksi adat yang berlaku di masyarakat sangat keras, karna ini masalh siri’ yang sudah ada sejak dulu orang malakji sangat peka sekali sebab salah sedikit nyawa taruhanya, orang zaman dulu tidak mau harga dirinya di injak. Injak oleh orang lain, kapan ada anak gadisnya dilarikan maka bukan hanya bapaknya, juga keluarga perempuan mersa tersinggung karena siri’nya di injak-injak oleh pihak laki-laki yang mebawanya dan zaman dulu sanksi adat yang berlaku biasanya berakhir dengan maut. Tapi yang saya lihat zaman sekarang kurang peduli dengan kasus kawuin lari dan merasa bodoh kenapa karena yang saya lihat yang panting bisa mngurus semunya dan persyaratan hukum adat selesai maka semuanya bisa berjalan dengan lancar.itulah bedanya hukum adat jaman sekarang dan jaman dulu tentang hukuman kepada pelaku kawin lari seharusnya hukum adat yang ada dikelurahan malakaji ini harus lebih ketat karena kawin lari merupakan hal yang tidak dinginkan oleh pihak masyarakat apalagi pihak keluarga pelaku kawin lari.

Sesuai dengan teori yang yang dijadikan dasar mengenai proses penerimaan masyarakat terhadap perilaku kawin lari yaitu teori penyimpangan sosial teori ini berpandangan Dari uraian tersebut penulis menyimpulkan bahwa hubungan antara teori yang dikemukakan oleh Gillin yaitu teori penyimpangan sosial yang memberi pengertian bahwa perilaku menyimpang adalah perilaku yang menyimpang dari norma dan nilai sosial keluarga dan masyarakat yang menjadi penyebab atau memudarnya ikatan solidaritas kelompok.

Dengan kata lain penyimpangan sosial terciptanya nilai dan norma yang berlaku di keluarga dan masyarakat agar masyarakat selalu menjaga ikatan solidaritasnya, hal ini sejalan dengan perilaku kawin lari merupakan kehendak laki-laki dan perempuan, namun demikian persoalanya tetap menimbulkan siri’

bagi pihak yang senantiasa melakukan kewajiban prosedur adat. Proses penerimaan masyarakat terhadap perilaku kawin lari yaitu dikenakan sanksi yang sudah diterapakan oleh masyarakat atau tokoh agama yang ada di kelurahan malakaji sebelumnya syarat untuk di terimanya perilaku kawin lari dengan cara melakukan kekerasan tetapi cara tersebut tidak di berlakukan lagi di karenakan terlalu berlebihan dan yang penting semua permintaan maaf sudah dilakukan sehingga bisa diterima oleh pihak keluarga dan masyarakat. Di makassar hukum adat masih tetap berlaku pada pelaku kawin lari berbeda dengan suku-suku lain yang menerima secara terhormat perbuatan tersebut.

2. Tanggapan tentang Kawin Lari

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan mengenai Tanggapan Masyarakat Tentang Kawin Lari kelurahan malakaji kecamatan tompobulu kabupaten gowa dapat disimpulkan bahwa kawin lari merupakan tindakan yang menyimpang di kalangan masyarakat dan bisa membuat masa depan rusak bagi bangsa ini dan bertentangan agama dan hukum adat yang berlaku pada masyarakat.

Kawin lari adalah hal yang menyimpang karena orang tua stegah mati mencari nafkah untuk anak mereka akan tetapi anknya memperlakukan hal yang tercela dan kawin lari itu bisa meruksak masa depan dan perilaku kawin lari bukan hanya memalukan tetapi memalukan atau menghancurkan masa depan secara perlahan dan bertentangan dengan agama dan hukum adat .

Menurut peneliti kawin lari adalah perilaku yang sangat menyimpang karena memiliki sifat yang sangat di cela oleh oihak masyarakat dan keluarga apalagi sama maha pencipta yaitu Allah SWT harusnya kawin lari ini harus di cegah dikarenakan dapat merusak nilai moral yang berlaku dimasyarakat apalagi bertentangan dengan hukum adat yang sudah di tetapkan. Kaum wanita umumnya merasa takut, takut akan sanksi adat yang bakalan di hadapinya,namun karena rasa cinta yang merasuk dalam dirinya, sehingga rasa takut itu hilang ia nekat untuk melakukan yang namanya kawin lari apalagi kalau ia sudah tahu bila orang tuanya sudah tidak merestui dengan laki- laki yang dicintainya maka pelaku kawin lari memaksa pihak laki-laki menikahinya secara cepat.

Di kelurahan malakaji ini banyak anak-anak putus sekolah di karenakan mereka kawin lari dibawah umur ada yang kawin lari umur 14 dan ada yang kawin lari sejak umur 17 tahun, mereka melakukan ini semua dikarenakan tiadak adanya restu dari orang tua dan adanya perbedaan umur diantara pelaku kawin lari, dan sekarang mereka merasa menyesal karena melihat teman-temanya sudah menggapai cita-cinta mereka cuman bisa melihatnya adapun penyebab terjadinya kawin lari yang miris di kelurahan malakaji ini yaitu hamil diluar nikah padahal perempuan ini masih sekolah di SMA dan mereka terpaksa kawin lari karena pihak laki-laki juga tidak bisa melamar pacarnya faktornya adalah uang panai’ mahal dan faktor strata sosial dan pergaulan bebas maka mereka mengambil jalan pintas denagan melakukan kawin lari yang konsekuensinya sangat berat bagi mereka dan Harusnya orang tua sanagat berperan disini dikarenakan orang tua harus tegas dalam mendidik anak-anknya karena ini menyangkut masa depan si anak.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa dampak pada sistem perkawinan adat makssar baik kawin secara adat maupun kawin lari.kawin lari zaman dulu bertemu antara jejaka dan gadis sudah sangat sulit apalagi bergaul bebas seperti sekarang ini. Namun sekarang ini pergaulan muda mudi sangat jauh beda sekarang sudah banyak alat telekomunikasi yang super canggih yang bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan kekasihnya, kapan dan dimanapun, mulai dari telepon, internet, HP hingga alat telekomunikasi lainya.

Dalam kasus diatas dapat kita lihat bahwa banyak alasan ketidak setujuan orang tua misalnya beda umur, tidak layak untuk anaknya baik dilihat dari segi pendidikan maupun dari segi kasta maupun agama dari salah satu ketidak setujuan ini akibat salah satu dari calon tidak memilki pekerjaan yang tetap atau tinggi. Perempuan yang hamil diluar nikah di kelurahan malakji ini merupakan faktor yang tinggi terjadinya kawin lari dan wanita tersebut masih berpendidikan atau sekolah sehingga hamil di luar nikah.

Menurut peneliti selaku peneliti yang pernah melihat pasangan yang kawin lari terutama kawin lari pada saat usia remaja atau masih sekolah akan mengalami kesulitan dalam menacari pekerjaan atau kebutuhan ekonomi, karena pernikahan itu perlu adanya persiapan yang matang baik dari segi psikologis maupun dari segi ekonomi, dengan demikin pelaku kawin lari ini perlu adanya kesiapan dan kedewasaan bersama karena mengaatasi rumah tangga mungkin rumit apalagi pemikiran masih labil dan dapat menimbulkan maslah besar dalam rumah tangganya.

Kasus seperti ini di kelurahan malakaji sudah banyak terjadi, apalagi pergaulan muda mudi sudah tidak dibatasi lagi cenderung bebas dlam bergaul, mereka sudah bisa saling berkunjung kerumah teman pria atau wanitanya atau bertemu di tempat yang sifatnya sangat rahasia, disanalah mereka kadang memadu cinta untuk merasakan apa arti nikmatnya cinta.

Upaya pencegahan kawin lari dikelurahan malakaji, upaya ini terbilang sangat sulit karena membutuhkan pihak ketiga atau jalur mediasi, misalnya

melibatkan imam untuk meminta persetujuan oarangtua atau keluarga salah satu pihak agar mau menjadi wali nikah. Untuk mencegah kawin lari di kelurahan ini salah satu dari pendidikan yang harus ada pendekatan budaya, budaya itu yang kita tahu mungkin kita menyarankan orang tuanya bahwa saya mencintai si A coba kita datang melamarnya, kalau memang pihak laki-laki tiadak ada restu nah itu mungkin bisa dilakukan oleh anka muda untuk kawin lari.

Dampak yang didapat bagi si pelaku kawin lari di kelurahan maklakaji khususnya yang masih berpendidikan yaitu: hilangnya cita-cita mereka, merasa malu di masyarakat dan pada teman-tamannya, dan kurangngnya sosialisasi bersama keluarga sang suami karena merasa tidak disukai dan tidak di anggap menantu, kawin lari merupakan hal yag memang bertentangan dengan agama dan hukum adat dan agama yang namanya kawin lari bukan perbuatan yang baik dimata masyarakat, dan setelah melakukan kawin lari juga dimata masyarakat itu adalah perbuatan orang yang tidak mempunyai moral ataupun pendidikan sehungga mereka berfikir pendek untuk melakukan hal tersebut sehingga kawin lari dianggap hal yang sangat memalukan oleh masyarakat sekitar.

Zaman sekarang mungkin susah untuk mendidik anak remaja secara tegas di karenakan teknologi yang semakin canggih, tapi apa salahnya kita bersosialisasi sama anak dan dekat dengan lingkungan sekitar mengenalkan anak hal-hal yang positif dan menjauhkan anak ke hal yang negatif. Dang menghilangkan hal-hal yang menjodohkan tidak mengikatkan atau memberatkan

pada uang panai’ yang mahal , dan tidak menolak lamaran yang datang dari pasangan anak gadisnya hanya karna alasan beda strata sosial dalam keluarganya.

Kawin lari juga di kelurahan malakaji mengakibatkan nama keluarga di rusak oleh anaknya sendiri . pada dasarnya kawin lari merupakan kehendak berdua laki-laki dan perempuan namun demikian persoalanya yaitu tetap menimbulkan siri’ dari pihak kawin lari yang senantiasa mempunyai kewajiban menurut prosedur adat membunuh orang yang salah perdamaian belum tercapai sebagaia akibat larinya gadis bersama orang yang yang dicintainya

Dari uaraian tersebut peneliti menyimpulkan bahwa hubungan antara teori yang dikemukakan oleh Max Weber yaitu tindakan sosial, menurut peneliti tindakan ini sangat relevan dengan topik penelitian. Teori tindakan termasuk di dalm salah satu paradigma sosiologi.teori tindakan dibagi menjadi 4 tipe yaitu rsionalisme, intrumental, rasionalitas yang beroriontasi nilai, tindkan rasional dan tindakan afektif. Di antara tipe tersebut, teori tindakan afektif lebih tepat dingunakan untuk membahas topik penelitian. Tipe tindakan ini ditandai oleh dominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan, yang sada, seseorang yang sedang mengalami perasaan meluap-luap seperti cinta, kemarahan, ketakutan atau kegembiraan, dan secara spontan mengungkapkan perasaan itu tanpa refleksi, berati sedang memperlihatkan tindakan afektif.

Tindakan itu benar-benar tidak rasional karena kurangnya pertimbangan logis, idiologi, akan kriteria rasinalitas lainya.

Seperti halnya pasangan yang mealakukan kawin lari dengan cara hanya karena perasaan emosi yang meluap luap dapat dikatakan sebagai keputusan yang hanya sanngat memalukan dari pasangan tersebut. Keputusan untuk melakukan kawin lari perlu di fikirkan secara logis supaya tidak berakibat fatal bagi diri kita sendiri. Pasangan yang kawin lari pada usia remaja rentan terhadap perceraian.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN