• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penetapan Hak Waris Terhadap Anak luar Kawin

BAB II KEDUDUKAN HUKUM ANAK LUAR KAWIN MENURUT HUKUM WARIS

3.2. Penetapan Hak Waris Terhadap Anak luar Kawin

Pasal 42 jo. Pasal 43 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan:

"Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya".

Waris merupakan bagian dari hubungan perdata antara ahli waris dengan pewaris yang diatur dalam hukum Perdata. Oleh karena anak yang terlahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya, tentu saja berdasarkan ketentuan Pasal 42 jo. Pasal 43 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 di atas, secara hukum si Anak luar kawin tersebut tidak memiliki hubungan perdata dengan si ayah dan tidak berhak menjadi ahli waris mendapat bagian waris dari ayahnya.

Jika anak luar kawin diakui keberadaanya oleh bapaknya, maka dibuktikan dengan Pasal 281 KUHPerdata menegaskan bahwa, "Pengakuan terhadap anak luar kawin dapat dilakukan dengan suatu akta

46

otentik, bila belum diadakan dalam akta kelahiran atau pada waktu pelaksanaan perkawinan. Pengakuan demikian dapat juga dilakukan dengan akta yang dibuat oleh Pegawai Catatan Sipil, dan didaftarkan dalam daftar kelahiran menurut hari penandatanganan. Pengakuan itu harus dicantumkan pada margin akta kelahirannya, bila akta itu ada. Bila pengakuan anak itu dilakukan dengan akta otentik lain, tiap-tiap orang yang berkepentingan berhak minta agar hal itu dicantumkan pada margin akta kelahirannya. Bagaimanapun kelalaian mencatatkan pengakuan pada margin akta kelahiran itu tidak boleh dipergunakan untuk membantah kedudukan yang telah diperoleh anak yang diakui itu".

Berdasarkan penetapan hak waris terhadap anak luar kawin yang ada di Desa Pakraman Karangasem, Banjar Pakandelan. Dalam pembagian warisnya pada umumnya sama dengan sistem pewarisan yang ada di bali pada umumnya.

Menurut hukum adat, dikenal adanya tiga macam sistem kewarisan yaitu:

a. Sistem kewarisan individual.

Dalam sistem ini harta peninggalan akan di bagi-bagi kepada para ahli warisnya.

b. Sistem kewarisan kolektif

Dalam sistem kewarisan ini, harta peninggalan akan diwarisi secara kolektif (bersama-sama) oleh sekumpulan ahli waris, dimana harta peninggalan tersebut tidak akan dibagi-bagi kepemilikanya seperti pada sistem kewarisan individual, akan tetapi akan dimiliki secara bersama-sama.

47

Pada sistem ini masing-masing ahli waris hanya berhak menikmati atau memakai saja, sedangkan hak milik ada pada semua ahli waris tersebut.

c. Sistem pewarisan mayorat

Pada sistem kewarisan ini, harta peninggalan secara keseluruhan atau sebagiyan besar akan diwarisi seorang ahli waris saja.

Sistem kewarisan yang dianut masyarakat Bali adalah sistem kewarisan individual. Tetapi dalam kenyataannya masyarakat bali jika ada membagi warisan tersebut maka, terlebih dahulu harus melihat wujud dari harta warisan tersebut, sebagai contoh dapat kita lihat kewarisan terhadap tanah ayahan desa, terhadap tanah ayahan desa ini harus diwariskan secara utuh oleh pewaris kepada seorang ahli waris saja dan tidak boleh dijual. Dengan demikian masyarakat bali juga menerapkan sistem kewarisan yang mayorat.

Demikan pula halnya dengan sistem kewarisan kolektif. Sistem kewarisan kolektif dapat kita jumpai pada warisan terhadap harta peninggalan yang mempunyai nilai magis relegius, seperti perkawinan terhadap tempat-tempat pemujaan dan alat-alat pemujaan dan alat-alat upacara lainya.

Harta warisan ini harus diwarisi secara bersama-sama oleh para ahli warisnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sistem kewarisan individual yang dianut oleh masyarakat bali adalah tidak secara mutlak dilakukan, melainkan ada sedikit variasi dari ketiga sistem kewarisan di atas.

48

Hukum waris mengatur penerusan dan peralihan harta berwujud, dapat berlaku sejak pewaris masih hidup atau setelah meninggal Dunia. Menurut hukum adat waris Bali yang berhak mewaris hanyalah keturunan pria dan pihak keluarga pria dan anak angkat lelaki.35

Sistem pewarisan berdasarkan adat Bali menganut sistem kebapaan (patrilinial) yang merupakan kebalikan dari sistem waris (matrilinial). Dan jika sudah menyinggung kontak-kontak sistem hukum ini, maka masalah untuk masing-masing daerah sangat spesipik.

Harta warisan dalam hukum waris adat, harta warisan adalah merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dinilai kesatuan yang tidak dapat berbagai atau dapat dibagi menurut jenis macamnya. Harta warisan tidak boleh dijual sebaai suatu kesatuan dan uang penjualan dibagi-bagi kepada ahli waris.

Kedudukan anak astra dalam hal mewaris adalah bukan ahli waris dari bapaknya, tetapi melainkan ahliwaris dari ibunya, namun tidak menutup ia memperoleh pemberian dari harta warisan bapaknya tetapi bukan merupakan harta pusaka. Meskipun anak astra bukan sebagai ahli waris dari ayahnya tetapi pada kenyataanya anak astra tersebut dipelihara oleh ayahnya dan diperlakukan sama seperti anak kandung, hanya yang membedakan anak astra dengan anak kandung adalah anak astra tersebut tidak diperkenalkan untuk memakai title kasta yang sama dengan ayahnya namun dengan keluarga ayahnya dan hanya memakai title kasta yang sama dengan ibunya.

49

Kasta adalah stratifikasi masyarakat India membeda-bedakan harkat dan martabat manusia berdasarkan keturunan. Bergesernya istilah kasta tersebut dikarenakan adanya penjajah Portugis yang datang ke India untuk melakukan manipulasi terhadap kitab Weda di India dan mengenalkan istilah kasta yang akhirnya dijalankan oleh masyarakat India. Hal kasta ini berkaitan dengan pemisahan antara Bangsa Ariayangtidak suka akan perkawinan antar suku di India sehingga berkembang juga di Bali.36

Dari hasil perkawinan tersebut lahirlah anak-anak yang merupakan percampuran antara Bangsa Aria dan Bangsa Dravidia, sehingga menimbulkan penggolongan masyarakat berdasarkan perbedaan status sosial dan bersifat turun-temurun yang lebih dikenal orang-orang berkasta.

Di Bali pada umumnya kasta pada kenyataanya tidak setajam Kasta yang ada di India yang membeda-bedakan Masyarakat berdasarkan keturunannya, dimana dalam sistem kasta ada satu keturunan yang dipandang lebih tinggi dan ada yang dipandang lebih rendah dalam masyarakat adat Bali.

Menurut keterangan I Nyoman Sudarsana Astra selaku Kelian Adat Banjar Pekandelan, Karangasem yang juga sekaligus menjadi sebagai anak astramenuturkan: sebelum membicarakan kedudukan anak astra

beliau menjelaskan sistem masyarakat Hindu dan Bali berkenaan dengan kasta terlebih dahulu.

36 Wiana Ketut dan Raka Sentari, 2006, Kasta dalam Hindu Kesalahpahaman Berabad-abad, Denpasar Yayasan Darma Naradha, hal 19.

50

Istilah kasta dalam masyarakat Hindu Bali pada umumnya yaitu pembagian kelas masyarakat berdasarkan fungsi dan kedudukan dalam masyarakat yaitu terbagi menjadi empat bagian kelompok:

a. Brahmana: kelompok orang suci seperti pendeta atau Ida Pedanda

yang bertempat tinggal didalam grie.

b. Kesatria: adalah golongan atau keturunan Raja atau pegawai pemerintahan yang bertempat tinggal di Puri atau Jero.

c. Wasya: adalah golongan pedagang dan petani, golongan wasya sendiri menjadi masyarakat biasa.

d. Sudra adalah golongan terendah dalam kasta di Bali yaitu sebagai budak.

Kedudukan tersebut sebenarnya bukanlah didasarkan atas kelahiran, namun berdasarkan pekerjaan yang dilakoninya.

Di Desa Pakraman Karangasem, masalah kasta ini masih sangat kental. Dimana kasta di Desa tersebut juga dikenal dengan istilah Tri wangsa, yang terdiri dari Brahmana, Kesatria, dan Waisya, sedangkan golongan diluar kastabrahmana dan kesatria bisa juga disebutJaba.

Terjadinya astra atau kelahiran anak astra itu dikarenakan seorang golongan putraBrahmana atau Satria kawin dengan golongan wanita dari golonganWaisyayang dimana golongan Waisya ini derajat atau kastanya lebih rendah dari pada golongan Brahmana atau Satria. Tidak semua perkawinan seperti diatas tersebut bisa melahirkan anak

astra, melainkan ada perkawinan yang tidak sah menyebabkan terjadinya anak astra.

51

Jika golongan putra dariBrahmana atau Satria kawin dengan putri dari golongan Wesiayang melakukan prosesiperkawinan dengan sah menurut Agama dan Adat Bali maka kedudukan yang disandang putri dari golongan Wesia tidak lagi menyandang gelar Wesia atau disebut Jaba, melainkan gelar yang disandangnyamenjadi seorang Jero, itu artinya seorang Putri dari golongan Wesiajika kawin dengan golongan berkasta maka kedudukan Putri tersebut akan naik kedudukan kasta atau gelar menyandingi putra Brahmana atau Satria.

Terjadinya anak astra merupakan perkawinandari golongan

Brahmana dan Satria dengan golongan Wesia atau disebutJaba. Dimana dilakukannya upacara perkawinan tetapi anak dari perkawinan tersebut tidak diakui kastanya.

Terjadinya status anak astratersebut disebabkan oleh 2 hal , yaitu: 1. Adanya kehamilan diluar nikah.

2. Perkawinan yang sah tetapi pihak perempuan menolak untuk di upacarai sesuai dengan perkawinan yang ada di jeroan atau puri.

Jika anak yang dilahirkan melalui proses diatas, maka anak tersebut bisa disebut dengan anak astra. Sistem pembagian waris terhadap anak astra tidak jelas, dengan alasan perkawinannya tidak sah sehingga anak astra tidak berhak mewarisi peninggalan ayahnya melainkan anak tersebut berhak mewaris kepada peninggalan ibunya. Kedudukan anak astra di Desa Pakraman Karangasem, Banjar Pekandelan sudah jelas ada pengakuan dari adanya anak astra tersebut. Pihak desa pakraman atau masyarakat disana tidak pernah nyepekang atau

52

mengucilkan anak astra tersebut dikarenakan anak astra sudah ada pengakuan yang sah dari ayahnya. ( Wawancara langsung dengan Wayan Sudarsana Astra, Karangasem Pekandelan, Pada 13 Februari 2017).

53

BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan

Dari uraiyan yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan terhadap permasalahan yang dibahas sebagai berikut :

1. Kedudukan Hukum Anak Luar Kawin menurut Hukum Waris Adat Balipada intinya anak luar perkawinan yang sah hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya saja,

2. Perlindungan Hak Waris Anak Luar Kawin Menurut Hukum Adat Bali belum ada diatur, atau sebagian yang belum dianggap sebagai ahli waris dari garis keturunan purusa maupun predana.

4.2 Saran

1. Menyarankan kepada para tokoh pemuka adat atau klian desa untuk secara aktif membina generasi muda, terutama dalam bidang penyuluhan, pembinaandan mengawasi generasi muda agar nantinya dikemudian hari tidak lah terulang kembali kejadian-kejadian anak yang lahir di luar perkawinan atau lahirnya anak luar kawin tersebut. Sebaiknya para tokoh atau bendesa adat menanamkan atau membekali para generasi muda ini dengan ilmu ilmu yang positif seperti keyakinan berbudaya dan agama, menghindarkan generasi muda dari pergaulan yang bebas dan tidak mengikuti budaya asing.

2. Menyarankan kepada orang tua anak astra atau anak luar kawin yang ada di desa Pakraman Karangasem, Banjar Pekandelan agar nantinya

54

anak astra mendapatkan perhatian seperti anak-anak sah lainya, tidak hanya mendapatkan kasih sayang dan berkewajiban membesarkan anak

astra melainkan ia diberikan sedikit warisan dari ayah si anak astra. Anak

astraia perlu warisan untuk menunjang kehidupan di saat ia tumbuh dewasa dan sudah memiliki keluarga. Walaupun awig-awig adat desa Pakraman karangasem, Banjar Pekandelan tidak memiliki awig-awig yang menetapkan bahwa anak astra atau anak luar kawin berhak mewaris, tetapi alangkah baiknya ayah dari anak astra sedikit mempunyai rasa kasihan, prihatin atau menyadari bahwa anak astra harus hidup dan berkembang kedepanya.

55

DAFTAR BACAAN

Buku-buku :

Artadi I Ketut, 2012, Hukum Adat Bali, Pustaka Bali Post Denpasar.

___________, 2007, Hukum Adat Bali Dengan Aneka Masalahnya, Bali Post Denpasar.

Abdurahman, 1985,Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Tentang Perkawinan, Pressindo.

Astiti Cokorda Istri Putra, 1984, Hukum Adat II Bagian I Biro Dokumentasi dan Publikasi Hukum. Fakultas Hukum Universitas Udayana.

Koren diterjemahkan oleh I Gede Wayan Pangkat, 1978, Hukum Adat Kekeluargaan di Bali, Biro Dokumentasi dan Publikasi Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, Univesitas Udayana, Denpasar,

Djaren Saragih, 1984, Hukum Adat Indonesia, Edisi II, Tasito Bandung.

Ketut Sutha Gusti, 1987, Bunga Rampai Beberapa Aspek Hukum, Liberty Jakarta. Pudja Gede, 1977, Hukum Kewarisan Hindu Yang Diresifir ke dalam Hukum Adat

di Bali, CV Janesco.

_________ , 2004, Aneka Catatan Tentang Hukum Adat Bali, CV. Kayumas Agung.

Satrio. j, 2000, Hukum Keluarga Tentang Kedudukan Anak dalam Undang-Undang, (Bandung: Citra Aditya Bakti).

Sueripto, 1973, Beberapa Bab Tentang Hukum Adat Waris Bali, UNEJ, Jember.

Muhamad Jawad Mughniyah Agus Untoro, 1988, Hukum Waris Burgerlijk Wetboek, Usaha Nasional-Surabaya-Indonesia.

Oemarslim, 1991, Dasar-Dasar Hukum Waris Di Indonesia, P.T Rineka Cipta Jakarta.

Surpha, I Wayan, 1993, Eksistensi Desa Adat di Bali, PT Upada Sastra, Denpasar. Sueripto, 1979,HukumWaris Adat Bali, Fakultas Negri Jember.

56

Hal___, 2004, Aneka Catatan Tentang Hukum Adat Bali, CV. Kayumas Agung.man Hadikusuma, 1983, Hukum Perkawinan Adat, Alumni Bandung.

Vincensia. Esti, Law Review, Vol XII, No 2 November 2012, “Dampak Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 46/PUU-viii/2010 Tentang Anak Luar Kawin Terhadap Perkembangan Hukum Perdata Indonesia”.

Wirjono Prodjodikoro, 1981, HukumAntar Golongan di Indonesia, Sumur Bandung.

Wiana Ketut dan Raka Sentari, 2006, Kasta dalam Hindu Kesalahpahaman Berabad-abad, Denpasar Yayasan Darma Naradha.

Undang-Undang:

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1970 Tentang Kesejahteraan Anak.

Putra Akbar, KUHPerdata, 2008 Hukum Perdata Wipres, 2008

Internet: https://wikisource.org/wiki/Perisytiharan_Hak_Asasi_Manusia_Sejagat https://andibooks.wordpress.com/definisi-anak/ http://contohaku1.blogspot.co.id/2014/07/skripsi-syariah-implikasi-hak-kewarisan.html https://www.google.co.id/search?q=awig+awig+menurut&oq=awig+awig https://joeniarianto.files.wordpress.com/2008/07/hukum-adat-waris1.pdf https://joeniarianto.files.wordpress.com/2008/07/hukum-adat-waris1.pdf

57

DAFTAR INFORMAN

Hasil Wawancara langsung dengan wayan Sudarsana Astra, Karangasem, Banjar Pekandelan, pada 13 feboari 2017.

Dokumen terkait