• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut (Moleong, 2014) pengabsahan data dan bentuk batasan berkaitan suatu kepastian, bahwa yang berukur benar-benar merupakan variabel yang diukur, keabsahan dari data ini juga harus dilakukan dengan proses yang cepat salah satu cara yaitu dengan proses tringulasi, yaitu teknik pengabsahan data dengan menggunakan perbandingan dengan data yang lain dan juga melakukan pengecekan diluar dari data tersebut.

1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber yaitu melakukan pengecekan ulang terhadap tingkat kepercayaan diri suatu informasi yang diperoleh dari berbagai sumber yang berbeda. Misalnya membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara, membandingkan apa yang dikatakan umum dengan yang dikatakan pribadi, membandingkan haslil wawancara dengan dokumen yang ada.

2. Triangulasi Teknik

Dalam teknik ini caranya yaitu membandingkan informasi atau data yang diperoleh dengan cara yang berbeda. Dalam penelitan yang dilakukan ini peneliti menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Untuk mendapatkan data yang valid maka diperoleh dari kebenaran informasi yang tepat dan gambaran yang jelas mengenai informasi tersebut.

3. Triangulasi Waktu

Juga sering dapat mempengaruhi kebenaran suatu data. Data yang diambil dari proses wawancara akan mempengsaruhi tingkat kredibilitas dari suatu data. Maka dalam menguji suatu kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara pengecekan ulang mengenai wawancara, observasi maupun teknik yang lain dalam waktu maupun situasi yang berbeda. Jika data yang diperoleh berbeda dengan data yang pertama maka dapat dilakukan secara berulang-ulang hingga ditemukan mengenai kepastian datanya.

1. Sejarah Kecamatan Banggae

Kerajaan Banggae pada jaman dahulu kala mulanya berpusat di Salabose atau perkampungan Salabose berada di dataran tinggi di Kota Majene ± 120 m dari permukaan laut. Kerajaan ini pada mulanya adalah sebuah kelompok masyarakat yang dipinpin oleh ketua suku yang digelar Tomakaka dan tinggal di Poralle nama sebuah tempat di Salabose. Yang kemudian disebut sebagai Tomakaka Poralle.

Selain itu masih ada Tomakaka yang memimpin kelompok masing masing yang berdiam disekitar Banggae seperti Tomakaka Pullajonga, Tomakaka Salongang, Tomakaka Totoli, Tomakaka Pepottoang. Pada masa kerajaan Tomakaka di Poralle datang seorang yang berasal dari kerajaan Majapahit yang namanya tidak diketahui, hanya digelar oleh masyarakat setempat Topole-pole yang mengawini Tomerropa-ropa Wulawang putri Tomakaka Poralle. Atas kecakapan Topole-pole ini istrinya Waris Tahta Kerajaan maka Topole-pole dapat membentuk suatu sistem pemerintahan baru yang belum dikenal pemerintahan Tomakaka Poralle. Dalam sistem pemerintahan inilah merupakan cikal bakal terbentuknya Kerajaan Banggae.

Yang mendapat tant angan dari Tomakaka yang terdapat disekitarnya.

Suku Mandar terdiri atas 17 kerajaan: 7 kerajaan hulu yang disebut “Pitu Ulunna Salu”, 7 kerajaan muara yang disebut “Pitu ba’bana binanga” dan 3 kerjaan yang bergelar “Kakarunna Tiparittiqna Uhai”.

Gambar 2: Peta Kecamatan Banggae

2. Kondisi Georgafis

Secara gografis, Kabupaten Majene terletak pada 2 Lintang Selatan dan antara 118

Majene terletak di pesisir barat Pulau Sulawesi, yang berhadapan

Selat Makassar dan Pulau Kalimantan. Sebesar 95% dari total wilayah perairan Kabupaten Majene masuk dalam alur pelayaran Selat Makassar, yang menghubungkan Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan masuk memanjang dari Selatan ke Utara. Jarak K

lebih 146 km. Letak geografis Kabupaten Majene berada dalam jalur lintas barat Pulau Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. Secara kondisi Geomorfologi Ka

Kecamatan Banggae

Kondisi Georgafis

Secara gografis, Kabupaten Majene terletak pada 20 38’ 45”

Lintang Selatan dan antara 1180 45’ 00” – 1190 4’ 45” Bujur Timur.

Majene terletak di pesisir barat Pulau Sulawesi, yang berhadapan langsung dengan Selat Makassar dan Pulau Kalimantan. Sebesar 95% dari total wilayah perairan Kabupaten Majene masuk dalam alur pelayaran Selat Makassar, yang menghubungkan Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan masuk memanjang dari Selatan ke Utara. Jarak Kabupaten Majene ke ibukota Propinsi Sulawesi Barat kurang lebih 146 km. Letak geografis Kabupaten Majene berada dalam jalur lintas barat Pulau Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. Secara kondisi Geomorfologi Kabupaten Majene berada pada 38’ 45” – 30 38’ 15”

4’ 45” Bujur Timur. Kabupaten langsung dengan Selat Makassar dan Pulau Kalimantan. Sebesar 95% dari total wilayah perairan Kabupaten Majene masuk dalam alur pelayaran Selat Makassar, yang menghubungkan Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan masuk memanjang dari abupaten Majene ke ibukota Propinsi Sulawesi Barat kurang lebih 146 km. Letak geografis Kabupaten Majene berada dalam jalur lintas barat Pulau Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan ene berada pada

ketinggian (5–1.327) meter dari permukaan laut. Berdasarkan keadaan bentang alamnya terdiri atas satuan 4 morfologi yaitu : Satuan Morfologi Pegunungan, satuan ini menempati Pegunungan Manatattuang; Satuan Morfologi Perbukitan terletak di Daerah Banggae dan Pamboang; Satuan Morfologi Karst menempati daerah pantai selatan dan utara (Daerah Tubo) dan Satuan Morfologi Pedataran menempati pesisir pantai barat.

Luas wilayah Kabupaten Majene adalah 947,84 km2 atau 5,6% dari luas Propinsi Sulawesi Barat 16.990,77 Km², terdiri atas 8 kecamatan dan 20 Kelurahan serta 62 desa. Adapun kecamatan di Kabupaten Majene adalah Kecamatan Banggae, Kecamatan Banggae Timur, Kecamatan Pamboang, Kecamatan Sendana, Kecamatan Tammerodo Sendana, Kecamatan Tubo Sendana, Kecamatan Malunda dan Kecamatan Ulumanda. Pada dasarnya wilayah Kabupaten Majene sangat berpengaruh terhadap daerah sekitarnya ini dapat dilihat dari letak Kabupaten Majene secara administrative.

Secara administratif Kabupaten Majene berbatasan dengan wilayah-wilayah berikut :

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Mamuju

b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Polewali Mandar dan Mamasa

c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Mandar

d. Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar

Kabupaten Majene dibangun oleh wilayah yang topografinya bervariasi dari datar sampai berbukit dan bergunung, dengan kemiringan lereng kurang dari 3%

sampai lebih dari 100%. Hamparan daerah dengan topografi datar ditemukan di sepanjang wilayah paralel dengan garis pantai kabupaten ini. Hamparan wilayah datar terutama ditemukan mulai dari pantai barat Kecamatan Sendana menuju ke selatan sampai ke Kecamatan Banggae dan Banggae Timur yang merupakan (Ibukota Kabupaten). Sebagian besar wilayah Kabupaten Majene dengan kondisi topografi berbukit dan bergunung hampir merata di semua kecamatan

Klasifikasi ketinggian wilayah Kabupaten Majene dari permukaan air laut mulai dari 0-25 m sampai diatas 1.000 meter. Berdasarkan kelas ketinggian muka laut yang tersebar pada umumnya tergolong kelas ketinggian 100-500 meter yakni 38,69% dan ketinggian 500-1000 meter yakni 35,98% dari total keseluruhan wilayah kabupaten.

3. Kondisi Iklim

Kondisi iklim wilayah Kabupaten Majene dan sekitarnya secara umum ditandai dengan hari hujan dan curah hujan yang relatif tinggi dan sangat dipengaruhi oleh angin musim, hal ini dikarenakan wilayahnya berbatasan dengan laut lepas (Selat Makassar dan Teluk Mandar). Berdasarkan catatan Stasiun Meteorologi, rata-rata temperatur di Kabupaten Majene dan sekitarnya sepanjang tahun 2010 berkisar

27,13 0C, dengan suhu minimum 22,53 0C dan suhu maksimum 30,83 0C. Curah hujan di Kabupaten Majene tertinggi pada Bulan September sebesar 303,1 mm3 dengan hari hujan 25. Sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Maret sebesar 84,9 mm3 dengan jumlah hari hujan 17.

4. Visi dan Misi Kabupaten Majene

a. Visi

Majene Profesional, Prodiktif Dan Proaktif b. Misi

1) Mewujudkan sumber daya manusia dan masyarakat kabupaten Majene yang berkualitas.

2) Mewujudkan kesejahteraan social masyarakat

3) Mewujudkan optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam bidang pertanian, perikanan kelautan dan pariwisata.

4) Memperkuat dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian kerakyatan dengan mengoptimalkan potensi daerah yang didukung oleh kemandirian masyarakat

5) Meningkatkan kemampuang infrastruktur bagi percepatan aspek-aspek pembangunan.

6) Supremasi hukum dalam menciptakan pemerintahan yang bersih dan professional dengan meningkatkan kapasitas aparatur didasarkan pada nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Dokumen terkait