Permukiman secara fisik tidak sekedar sebagai tempat tinggal saja tetapi merupakan hubungan yang terbentuk dari kegiatan manusia melalui pola - pola yang mengatur dan menjaga keseimbangan alam. Kehidupan manusia yang berkembang akan senantiasa melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap lingkungan permukimannya. Pada proses penyesuaian itulah akan muncul permasalahan pemanfaatan ruang permukimannya berkaitan dengan perubahan pola perilaku masyarakat atau fisik sarana yang dibutuhkan, baik secara pribadi maupun bersama- sama. Pola pemanfaatan ruang sangat ditentukan oleh perilaku manusia yang memanfaatkan ruang tersebut dan merupakan bagian dari fungsi sistem yang lebih besar dari ruang yang melingkupi tersebut (Wahid dan Alamsyah, 2013:43)
Kawasan permukiman kumuh adalah lingkungan hunian yang kualitasnya sangat tidak layak huni, ciri-cirinya antara lain; berada pada lahan yang tidak sesuai dengan peruntukan tata ruang, kepadatan bangunan sangat tinggi dalam luas lahan yang terbatas, rawan penyakit sosial dan penyakit lingkungan serta adanya kualitas bangunan yang sangat rendah, prasarana lingkungan kurang memadai seperti saluran drainase, prasarana persampahan yang membahayakan penghuninya (Budiharjo;1997) dalam (Afif Bizrie Mardhanie: 2013:4).
Permukiman adalah tempat tinggal penduduk untuk melakukan semua kegiatan hidupnya baik yang bersifat materil maupun spirituil. Selain itu permukiman sebagai ekosistem masing-masing terdiri dari unsur-unsur yang saling mempengaruhi penduduk yang mengalami perubahan jumlahnya akan
mempengaruhi unsur-unsur lainnya seperti tanah, air, dan sebagainya. Soetomo W. (1992:5) Dalam Shintia Rahma Rani (2018:14).
Ciri-ciri Permukiman kumuh, seperti yang diungkapkan oleh Suparlan (dalam Jawas Dwijo Putro, 2011: 22) adalah:
a. Fasilitas umum yang kondisinya kurang atau tidak memadai.
b. Kondisi hunian rumah dan permukiman serta penggunaan ruang-ruangnya mencerminkan penghuninya yang kurang mampu atau miskin.
c. Adanya tingkat frekuensi dan kepadatan volume yang tinggi dalam penggunaan ruang-ruang yang ada di permukiman kumuh sehingga mencerminkan adanya kesemrawutan tata ruang dan ketidakberdayaan ekonomi penghuninya.
d. Permukiman kumuh merupakan suatu satuan-satuan komuniti yang hidup secara tersendiri dengan batas-batas kebudayaan dan sosial yang jelas, yaitu terwujud sebagai:
4. Sebuah komuniti tunggal, berada di tanah milik negara, dan karena itu dapat digolongkan sebagai hunian liar.
5. Satuan komuniti tunggal yang merupakan bagian dari sebuah.
6. RT atau sebuah RW.
7. Sebuah satuan komuniti tunggal yang terwujud sebagai sebuah RT atu RW atau bahkan terwujud sebagai sebuah Kelurahan, dan bukan hunian liar.
e. Penghuni permukiman kumuh secara sosial dan ekonomi tidak homogen, warganya mempunyai mata pencaharian dan tingkat kepadatan yang
beranekaragam, begitu juga asal muasalnya. Dalam masyarakat permukiman kumuh juga dikenal adanya pelapisan sosial berdasarkan atas kemampuan ekonomi mereka yang berbeda-beda tersebut.
f. Sebagian besar penghuni permukiman kumuh adalah mereka yang bekerja di sektor informal atau mempunyai mata pencaharian tambahan di sektor informil.
Menurut Sadana, S. Agus (2014:29) Berdasarkan sifatnya, permukiman dibagi menjadi beberapa jenis yaitu:
1. Pemukiman Perkampungan Tradisional
Perkampungan seperti ini biasanya penduduk atau masyarakatnya masih memegang teguh tradisi lama. Kepercayaan, kebudayaan dan kebiasaan nenek moyangnya secara turun temurun dianutnya secara kuat.
Tidak mau menerima perubahan perubahan dari luar walaupun dalam keadaan zaman telah berkembang dengan pesat.
2. Permukiman Darurat
Jenis perkampungan ini biasanya bersifat sementara (darurat) dan timbulnya perkampungan ini karena adanya bencana alam. Untuk menyelamatkan penduduk dari bahaya banjir maka dibuatkan perkampungan darurat pada daerah/lokasi yang bebas dari banjir.Mereka yang rumahnya terkena banjir untuk sementara ditempatkan di perkampungan ini untuk mendapatkan pertolongan bantuan makanan, pakaian dan obat-obatan
3. Permukiman Kumuh (Slum Area)
Jenis permukiman ini biasanya timbul akibat adanya urbanisasi yaitu perpindahan penduduk dari kampung (pedesaan) ke kota. Yang pada umumnya berniat ingin mencari kehidupan yang lebih baik, penghasilan lebih baik dan lain sebagainya. Sulitnya mencari kerja di kota akibat sangat banyak pencari kerja, sedang tempat bekerja terbatas.
Sehingga dikota yang pada umumnya sulit mendapatkan tempat tinggal yang layak dan pantas hal ini karena tidak terjangkau oleh penghasilan (upah kerja) yang mereka dapatkan setiap hari, akhirnya meraka membuat gubuk-gubuk sementara (gubuk liar), yang tidak sesuai dengan standar kesehatan yang ditentukan, biasanya permukiman ini terletak ditepian sungai atau pinggiran kota. Permukiman kumuh sangat mencolok karena tempatnya yang kotor, bangunan yang tidak teratur, serta masyarakatnya yang terlihat tidak perduli lingkungan.
4. Pemukiman Transmigrasi
Jenis pemukiman semacam ini di rencanakan oleh pemerintah yaitu suatu daerah pemukiman yang digunakan untuk tempat penampungan penduduk yang dipindahkan dari suatu daerah yang padat penduduknya ke daerah yang jarang atau kurang penduduknya tapi luas daerahnya, disamping itu jenis pemukiman ini merupakan tempat pemukiman bagi orang-orang yang ditransmigrasikan akibat ditempat aslinya sering dilanda banjir atau sering mendapat gangguan dari kegiatan gunung berapi. Meraka telah disediakan rumah, dan tanah garapan untuk bertani
oleh pemerintah dan diharapkan mereka nasibnya atau penghidupannya akan lebih baik jika dibandingkan dengan kehidupan di daerah aslinya.
5. Perkampungan Untuk Kelompok-Kelompok Khusus
Perkampungan seperti ini dibiasanya dibangun oleh pemerintah dan masyarakat diperuntukkan bagi orang-orang atau kelompok kelompok orang yang sedang menjalankan tugas tertentu yang telah direncanakan. Penghuninya atau orang orang yang menempatinya biasanya bertempat tinggal untuk sementara, selama yang bersangkutan masih bisa menjalankan tugas. Setelah cukup selesai maka mereka akan kembali ke tempat/daerah asal masing-masing. Contohnya adalah perkampungan atlit (peserta olahraga pekan olahraga nasional), Perkampungan orang-orang yang akan naik haji, perkampungan perkemahan pramuka dan lain-lain).
6. Permukiman Baru (real estate)
Permukiman semacam ini di rencanakan pemerintah dan bekerja sama dengan pihak swasta. Pembangunan tempat permukiman ini biasanya di lokasi yang sesuai untuk suatu permukiman (kawasan permukiman). Ditempat ini biasanya keadaan kesehatan lingkunan cukup baik, ada listrik, tersedianya sumber air bersih, baik berupa sumur pompa tangan (sumur bor) atau pun air PAM/PDAM, sistem pembuangan kotoran dan air kotornya direncanakan secara baik, begitu pula cara pembuangan sampahnya di koordinir dan diatur secara baik. Selain itu ditempat ini biasanya dilengakapi dengan gedung-gedung sekolah yang
dibangun dekat dengan tempat-tempat pelayanan masyarakat sepertiposkesdes/puskesmas, pos keamanan, Kantorpos, pasar dan lain lain. Jenis pemukiman seperti ini biasanya dibangun dan diperuntukkan bagi penduduk masyarakat yang berpenghasilan menengah ke atas.