• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengadaan dan Penyaluran Benih Padi Secara Formal

Benih padi formal dan bersertifikat didistribusikan melalui tiga jalur distribusi. Pertama, benih bersubsidi didistribusikan berkoordinasi dengan program pemerintah, yaitu program bantuan subsidi benih unggul. Kedua, menyediakan benih bagi petani melalui program peningkatan produksi yang pendanaannya bersumber dari APBN dan APBN-P. Ketiga, menyediakan benih kualitas premium untuk petani kelas menengah ke atas.

Dalam mendukung program peningkatan produktivitas pertanian, Kementerian Pertanian melakukan dua langkah strategis, yakni pemberian bantuan benih gratis dan subsidi. Namun dalam perjalanannya, pemerintah menemukan beberapa kendala dalam program bantuan benih gratis, baik dari segi varietas maupun ketepatan waktu, sehingga pola bantuan benih dari Program Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) berubah menjadi pola subsidi. Oleh karena itu, pada tahun 2013 pemerintah lebih memfokuskan pada pemberian subsidi benih kepada petani (Tim Penulis Majalah Pangan Ditjen Tanaman Pangan, https://id-id.facebook.com/BalaiPenyuluhan KecamatanAmbal/posts/444864462266189).

Benih bersubsidi bertujuan menyediakan benih varietas unggul bersertifikat untuk padi, jagung, dan kedelai dengan mutu yang terjamin guna memenuhi kebutuhan benih dalam program peningkatan produksi tanaman pangan (SL-PTT dan diluar SL-(SL-PTT), serta membantu petani dalam hal permodalan usahatani, khususnya untuk pembelian benih. Pelaksanaan subsidi benih diimplementasikan dengan “Pola Tertutup”, dimana benih bersubsidi tidak dijual di pasar (kios), tetapi disalurkan langsung ke kelompok tani yang telah mengusulkan untuk membeli benih (Tim Penulis Majalah Pangan Ditjen Tanaman Pangan, https://id-id.facebook.com/BalaiPenyuluhanKecamatan Ambal/posts/444864462266189).

Pada Gambar 2.2 disajikan sistem pengadaan dan penyaluran benih secara formal. Varietas unggul baru yang dihasilkan oleh Puslitbang/Balai Komoditas diteruskan oleh Direktorat Benih untuk disebarkan ke Balai Benih Induk (BBI), yang selanjutnya diperbanyak untuk menghasilkan benih FS. Benih FS kemudian diperbanyak oleh BUMN (PT SHS dan PT Pertani), penangkar swasta, dan Balai Benih Utama (BBU) yang masing-masing memproduksi benih SS atau ES. Kecuali di BBU, benih kelas SS diperbanyak menjadi benih kelas ES. (Bambang Sayaka, I. Ketut Kariyasa, Waluyo, Tjetjep Nurasa, Yuni Marisa. 2006).

Dari penangkar swasta, benih jenis ES langsung disebarkan ke petani, sedangkan dari PT SHS dan PT Pertani disebarkan ke daerah melalui penyalur yang telah ditunjuk. Sementara dari BBU, benih SS diteruskan ke BPP yang sekarang di beberapa wilayah sudah satu atap dengan Dinas Pertanian Kabupaten. Di tingkat BPP, benih kelas SS diperbanyak menjadi benih kelas ES yang selanjutnya diteruskan kepada petani (Bambang Sayaka, I. Ketut Kariyasa, Waluyo, Tjetjep Nurasa, Yuni Marisa. 2006).

Sementara pada sistem pengadaan dan penyaluran benih yang riil yang di lapangan (Gambar 2.3.) menunjukkan bahwa varietas unggul baru yang dilepas oleh Puslitbang Komoditas disamping diteruskan oleh Direktorat Benih

Gambar 2.2. Pengadaan dan penyaluran benih sumber secara formal

BS BS BS SS ES BS BS/ FS ES FS SS DITJEN TPH DITBIN BENIH GUBERNUR DIPERTA BADAN LITBANG/BATAN/PT PUSLITBANGTAN BBI BS-FS BPSB BUMN/D BS-FS-SS BBU FS-SS BBP SS-ES PENANGKAR SS-ES ES ES ES ES

PETANI PETANI PETANI PEDAGANG - PENYALUR - PENGECER

BENIH  

- BS = Benih Penjenis, FS = Benih Dasar, SS = Benih Pokok, dan ES = Benih Sebar. - Badan Litbang Pertanian/Puslitbang sebagai institusi hulu penghasil varietas dan

produsen Benih Penjenis (BS).

- Direktorat Jenderal TPH/Dit. Bina Perbenihan sebagai institusi pengambil kebijakan dan pembinaan teknis agar benih tersedia secara 6 tepat.

- BS = Benih Penjenis, FS = Benih Dasar, SS = Benih Pokok, dan ES = Benih Sebar. - Badan Litbang Pertanian/Puslitbang sebagai institusi hulu penghasil varietas dan

produsen Benih Penjenis (BS).

- Direktorat Jenderal TPH/Dit. Bina Perbenihan sebagai institusi pengambil kebijakan dan pembinaan teknis agar benih tersedia secara 6 tepat.

- Propinsi/Dinas Pertanian Propinsi sebagai institusi pembinaan di tingkat propinsi untuk meningkatkan ketersediaan benih sesuai dengan konsep 6 tepat.

ke BBI seperti yang terjadi pada sistem pengadaan dan distribusi secara for-mal, Puslitbang Komoditas pun melalui Balai-Balai komoditasnya dapat memperbanyak benih BS ini di masing-masing kebun percobaannya. Pada sistem ini, BUMN dan penangkar swasta selain mendapatkan benih jenis FS dari BBI bisa juga memperolehnya langsung ke Puslibang/Balai Komoditas yang selanjutnya di perbanyak menjadi benih SS dan ES. Bahkan ada beberapa penangkar swasta/lokal mendapatkan benih BS langsung ke Puslitb/Balit Komoditas. Ada perilaku yang berbeda antara pasar benih khususnya padi di Jawa Timur dan di Sulawesi Selatan. Pada sistem riil jenis benih yang dijual ke petani terutama oleh penangkar swasta kebanyakan masih merupakan jenis benih SS, seperti yang terjadi di Propinsi Jawa Timur. Sedangkan di Propinsi Sulawesi Selatan jenis benih yang diproduksi penangkar swasta pada umumnya ES.

Perbedaan kelas benih yang diproduksi sangat terkait dengan respon pasar. Penanggkar lokal di Jawa Timur menghasilkan dua kelas benih yaitu benih SS yang bahan bakunya (benih FS) bersumber dari BBI dan benih kelas ES yang bahan bakunya (benih SS) bersumber dari BBU atau BPP (Dinas Pertanian kabupaten setempat). Pada beberapa wilayah, selain memberikan benih kepada penangkar lokal, BPP (Dinas Pertanian kabupaten) juga melakukan pembinaan dan bimbingan dalam menghasilkan benih bermutu tinggi. Di Sulawesi Selatan, penangkar lokal pada umumnya hanya memproduksi benih kelas ES. Benih yang ditanam petani di semua lokasi penelitian pada MH umumnya benih berlabel, dan pada MK I atau MK II relatif tidak banyak petani menggunakan benih tidak berlabel. Benih umumnya berasal dari hasil panen sebelummnya, pertukaran antarpetani, ataupun membeli dari pasar lokal.

Gambar 2.3. Sistem pengadaan dan distribusi benih padi dan kedelai di lapangan (Bastari, 1995 dalam Bambang Sayaka, I. Ketut Kariyasa, Waluyo, Tjetjep Nurasa, Yuni Marisa. 2006 ).

Puslitbang

Komoditas BS DitjenBenih BS

BS FS Kebun Percobaan Penangkar Swasta BUMN PT SHS PT Pertani BBI FS SS/ES ES Distributor SS/ES

- Petani menyimpan benih sendiri - Pertukaran benih antar petani - Petani membeli benih dari pasar lokal Penyalur Petani Penangkar SS/ES SS/ES Petani SS SS SS ES BBU BPP

Beberapa contoh pengadaan benih padi varietas unggul dan varietas lokal di Indonesia yang sudah mengikuti peraturan peredaran dan sertifikasi benih sesuai dengan undang-undang yang berlaku:

Di Maluku Utara, upaya petani dalam penyediaan benih padi gogo adalah melalui penangkaran varietas Situ Bagendit oleh Gapoktan Bhineka Prima. Dari penangkaran dihasilkan benih padi gogo yang lolos pengujian (label ungu) oleh BB2STP Maluku Utara Nomor Seri Label Pdn. P/28.01.01 s/d Pdn.P/28.01.22.

BPTP Bengkulu bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan BPSB-TPH Provinsi Bengkulu mengembangkan dan melestarikan padi gogo lokal asli Bengkulu, yaitu varietas “Sirantau” yang banyak ditanam petani. Padi lokal ini memiliki prospek untuk dikembangkan karena disukai konsumen terkait dengan rasa nasinya yang enak dan aromatik (beraroma pandan), bentuk gabah relatif panjang dan ramping, warna beras relatif lebih cemerlang, dan harga jualnya lebih tinggi dari beras IR64. Namun hasilnya di tingkat petani hanya 1-2 t/ha GKP. Rendahnya hasil varietas lokal Sirantau disebabkan oleh rendahnya tingkat kemurnian benih dan rendahnya tingkat kesuburan tanah. Upaya yang sudah dilakukan BPTP dan Dinas Ketahanan Pangan dan BPSB-TPH Provinsi Bengkulu adalah memurnikan benih dan pada tahun 2002 telah menyebarluaskan 15 ton benih varietas Sirantau kepada petani atau penangkar benih untuk dikembangkan lebih lanjut. Kajian dan penelitian untuk meningkatkan produksi dan memperbaiki teknologi budi daya sesuai dengan kondisi setempat dilakukan pada tahun 2003. Dari hasil penelitian diketahui beras giling Sirantau masih memiliki banyak lapisan aleuron/bekatul yang tertinggal pada beras, sehingga warna beras kurang cemerlang dan butir patah lebih tinggi, dengan spesifikasi: beras kepala 60%, beras utuh 59,4%, butir patah 28,5%, butir menir 8,9%, butir kuning/rusak 0,3% dan butir kapur 2,2%. Parameter ini menunjukkan mutu beras padi gogo Sirantau relatif rendah dibandingkan dengan standar mutu beras giling berdasarkan SNI No. 01-6128-1999. Kelemahan beras Sirantau masih dapat diatasi melalui modifikasi alat penyosohan beras, perbaikan cara budi daya dan pascapanen.

Padi lokal “Uwey” yang berasal dari Desa Mendawai, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, cukup adaptif di daerah Mendawai, dengan potensi hasil 2,5 ton/hektar tanpa pemupukan. Tinggi tanaman padi lokal ini berkisar antara 125-130 cm dan toleran kemasaman tanah dan genangan air. Penangkaran benih padi Uwey antara lain dilakukan oleh Kelompok Penangkar ”Tani Mulya” di Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan. Selain benih padi, kelompok tani ini juga memproduksi benih padi varietas unggul sebanyak rata-rata 250 ton/tahun, antara lain varietas Inpara 2, 3, 4 dan 5, Inpari 1 s/d 12, Limboto, Towuti, Inpago 4, dan Inpago 5.

Gambar 2.4. Kegiatan penangkaran benih lokal “Uwey” oleh kelompok “Tani Mulya”:

Pengawas Benih Kabupaten Katingan bersama Koordinator Sertifikasi BPSB TPH Kalimantan Tengah mengidentifikasi padi lokal “Uwey” menjelang panen.

Pengawas Benih bersama PPL Desa Subur Indah dan Koordinator Laboratorium memeriksa pertanaman padi milik Kelompok Penangkar “Tani Mulya” di Desa Subur Indah.

Staf Dinas Pertanian Kabupaten Katingan (Rendy Septoadi) ikut serta dalam identifikasi padi lokal “Uwey” di Mendawai.

Pengawas Benih Kabupaten Katingan memberikan pengarahan kepada salah seorang anggota penangkar benih di Desa Subur Indah.

Panen padi di Desa Subur Indah oleh Ibu-ibu

Gambar 2.5. Gabah padi gogo beras merah varietas Mandel Gambar 2.4. Kegiatan penangkaran benih lokal “Uwey” oleh kelompok “Tani Mulya” (Lanjutan ...)

Pengawasan pemasangan label benih padi oleh pengawas benih Katingan kepada anggota Kelompok Penangkar padi Tani Mulya di Desa Jaya Makmur.

Ketua Kelompok Penangkar Benih Padi Tani Mulya, telah menikmati hasil kerja kerasnya.

Padi gogo lokal beras merah varietas Mandel dan Segreng Handayani dari Kabupaten Gunungkidul sudah dilepas sebagai varietas unggul masing-masing dengan nama Mandel Handayani (SK Mentan No. 2227/KPTS/ SR.120/5/2009) dan Segreng Handayani (SK Mentan No. 2226/KPTS/SR.120/5/2009). Selain berasnya berwarna merah sampai endosperma, varietas Mandel memiliki rasa nasi pulen, kadar protein tinggi 10,2% dan betakaroten

391,7 mg/100 g. Warna merah beras varietas Segreng Handayani hanya pada kulit arinya, kadar protein 9,2% dan betakaroten 488,7 mg/100 g. Dengan kadar gizi yang demikian, beras merah ini cocok dikonsumsi dan bahkan untuk makanan bayi.

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura bekerja sama dengan BPTP dan BPSBP DIY telah menghasilkan Benih Kelas BS dan FS untuk dikembangkan. Secara teknis, pengembangan benih selanjutnya ditangani oleh UPT Balai Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gunungkidul bekerja sama dengan kelompok tani penangkar benih, sehingga kontinuitas penyediaan benih terjamin dengan jumlah dan mutu yang dapat dipertanggungjawabkan.