Sistem Pendukung dan
PELAJARAN 4: PERTIMBANGAN SOSIAL EKONOMI
Tujuan:
Membahas pentingnya mempertimbangkan dimensi sosial ekonomi dalam membangun SPBM, khususnya respon gender dan penggabungan pendekatan partisipatif dalam kegiatan-kegiatannya.
Gender dan sistem perbenihan masyarakat
Gender dalam pembangunan pertanian di wilayah tadah hujan/lahan kering adalah hubungan laki-laki dan perempuan (seperti dalam sistem perbenihan). Ini menjelaskan keunikan dalam hubungan sosial, orientasi dan pola pikir yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, dan melihat bagaimana perbedaan ini dapat meningkatkan hubungan daripada membatasinya sehingga interaksi menjadi produktif dan bermanfaat bagi semua.
Penjelasan gender dalam pembangunan lahan kering melalui sistem perbenihan masyarakat tidak hanya mengacu pada laki-laki atau perempuan, tetapi hubungan antara mereka. Gender adalah bagaimana masyarakat membangun atau menginterpretasikan apa yang diharapkan atau diizinkan dari seorang wanita atau pria. Ini bervariasi, bergantung pada situasi dan lokasi. Hal ini sangat dipengaruhi oleh budaya namun perubahan dari waktu ke waktu karena budaya tidak pernah statis, melainkan dinamis. Gender merupakan definisi terbaik dalam hal bagaimana pria dan wanita berhubungan satu sama lain yang dipengaruhi oleh budaya dan masyarakat.
Gender juga didefinisikan sebagai variabel sosial ekonomi yang berguna untuk menganalisis peran, akses dan kontrol sumber daya, tanggung jawab, kendala, peluang, manfaat, dan insentif dari orang yang terlibat dalam pertanian dan pengelolaan sumber daya alam.
Mengapa penting memasukkan isu-isu gender?
1. Kontribusi petani perempuan terhadap ekonomi rumah tangga dan perekonomian nasional tidak terdokumentasi, kurang dihargai, dan dianggap tidak relevan dalam pembangunan pertanian, kebijakan pembangunan pedesaan, dan program.
2. Hal ini menyebabkan kurangnya program alih teknologi yang efektif, pemiskinan lebih lanjut dari perempuan miskin di pedesaan. dan mengabaikan potensi perempuan sebagai agen utama produksi pangan. 3. Semakin banyak program pembangunan, termasuk IFAD, saat ini bertujuan untuk menyusun strategi gender dalam peningkatan konsistensi, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan mengenai dimensi gender.
Peran dalam aspek organisasi SPBM:
1. Pria dan wanita sama-sama penerima manfaat dan pemain kunci dalam pendirian organisasi SPBM.
2. Ada peningkatan minat di antara perempuan untuk mengambil peran kunci dalam pembentukan kelompok pedesaan.
3. Ada perbedaan dalam hal kondisi mereka dan posisi dalam rumah tangga, organisasi, dan masyarakat.
4. Pria dan wanita memiliki peran, pengetahuan, dan kebutuhan yang berbeda. Perempuan juga telah mengumpulkan pengetahuan dan keterampilan selama bertahun-tahun dalam pertanian.
5. Penelitian tentang status penerima manfaat program (sejauh mana dampak program kepada penerima manfaat)
6. Perlu mendokumentasikan kisah sukses berbasis gender yang bisa dibagi dan sumber pembelajaran bagi petani lainnya
Strategi untuk menarik partisipasi perempuan di pertanian lahan kering dan SPBM
1. Mendokumentasikan dan memberi pengakuan terhadap peran perempuan dalam pertanian padi di lahan sub-optimal yang bisa dibagi dengan seluruh masyarakat
2. Meningkatkan keterampilan dan pengetahuan petani laki-laki dan perempuan dalam semua aspek produksi benih, manajemen kesehatan benih dan teknologi lainnya yang diperkenalkan pada masyarakat. 3. Paling sedikit 30% perempuan dilibatkan dalam latihan visi masyarakat,
temu lapang, PVS, pelatihan dan penyuluhan.
4. Mendorong dan memperkuat peran wanita dalam pembentukan SPBM, seperti petugas asosiasi dan bahkan petugas dalam scaling-up dan scal-ing-out.
5. Memantau, mengevaluasi, dan mendokumentasikan partisipasi perempuan di banyak kegiatan pertanian padi.
6. Mengikutsertakan perempuan sebagai pelatih untuk berbagi pengetahuan dengan seluruh masyarakat
7. Mempertimbangkan peran perempuan mengkomunikasikan perkembangan baru dalam transformasi pedesaan, penyebaran teknologi serta penilaian hasil dan dampak:
a) Memasukkan dampak peran wanita sebagai agen kunci dalam perubahan penyebaran teknologi (scaling-out) misalnya strategi penyuluhan yang dipimpin wanita.
b) Pengkajian dampak sosial dan ekonomi seperti perubahan dalam peran gender: perubahan beban kerja, pemberdayaan, kesejateraan keluarga yang membaik, kemampuan menyediakan makanan, anak-anak lelaki yang lebih berpendidikan, dan lain-lain.
Pendekatan partisipatif dalam SPBM
Model-model SPBM diperkenalkan dan dikembangkan melalui pendekatan partisipatif, mulai dari identifikasi lokasi, layanan sistem perbenihan, daerah target, hingga monitoring dan evaluasi. Horne dan Stur (2003) menjelaskan pendekatan pembangunan pedesaan harus dilakukan secara “partisipatif” dengan petani dan pekerja pembangunan lainnya untuk menyelesaikan masalah yang kompleks, dimana para petani merupakan pembuat keputusan utama. Pendekatan ini akan membantu mereka menggabungkan pengetahuan lokal dari para petani selama bertahun-tahun dengan informasi dan teknologi yang ditawarkan oleh agen pembangunan.
Ada tiga dimensi yang berkaitan dengan kualitas partisipatif yaitu tahap partisipatif, tingkat partisipatif, dan peran aktor/pelaku dalam partisipasi. Hal ini dapat dilihat dalam aspek berikut:
• Partisipasi petani dalam sistem perbenihan harus ada di semua tahap perancangan, implementasi, pemantauan dan evaluasi.
• Ketika partisipasi para petani diperkuat berada pada tahap awal, mereka akan semakin terlibat aktif dalam dalam sistem perbenihan.
• Tingkat partisipasi para petani atau para pengguna lain yang terlibat dalam sistem perbenihan mungkin akan terpengaruh atau mempengaruhi proses di tahap lainnya. Mereka dapat memutuskan layanan dan aktivitas yang berkaitan dengan produksi dan distribusi benih.
• Partisipasi juga dapat terjadi pada tahap diagnosis masalah. Hal ini dapat diketahui melalui pendekatan partisipatif dalam mendefinisikan karakteristik desa dimana jalur atau varietas padi yang baru akan diuji. Metode Participatory Rural Appraisal dapat digunakan untuk mengkarakterisasi dan mendeliniasi desa dan sistem pertanian yang ada. Aktivitas
1. Dalam komunitas target anda, bahas mitra dan stakeholder yang memungkinkan dapat mendukung kebutuhan input produksi dan kredit untuk para petani.
2. Kenali setiap dukungan yang tersedia dalam komunitas target anda untuk menentukan layanan yang baik dalam memproduksi benih berkualitas.
3. Kenali strategi upscaling dan strategi outscaling yang dapat anda perkenalkan dalam aktivitas kegiatan SPBM guna mendukung promosi teknologi, layanan informasi dan produk (benih).
Daftar Pustaka
Horne PM. Stur WW. 2003.Developing agricultural solutions with smallholder farmers – how to get started with participatory approaches. Australian Center for International Agricultural Research (ACIAR) dan Centro Internacional de Agricultura Development (CIAT). ACIAR Monograph No. 99. 119 halaman.
International Institute of Rural Reconstruction (IIRR).Scaling Up Sustainable Agriculture Initiatives. Highlights and Synthesis of Proceedings of the CGIAR NGO Committee Workshop. The NGO Committee Consultative Group on International Agricultural Research. World Bank Washington. D.C. USA. 22-23 Oktober. 1999.
Paris. T., Manzanilla. D., Tatlonghari. G., Labios. R., Cueno. A., Villanueva. D. 2011.Guide to participatory varietal selection for submergence-tolerant rice. Los Banos (Filipina): International Rice Research Institute (IRRI). 111 halaman.