• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengadilan Khusus Tindak Pidana Perikanan

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

TENTANG PERIKANAN

C. Pengadilan Khusus Tindak Pidana Perikanan

Berbicara mengenai sanksi di bidang perikanan, tidak terlepas dari pembahasan mengenai pengadilan khusus perikanan yang merupakan wadah atau lembaga untuk merealisasikan sanksi yang sudah diatur di dalam peraturan

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

perundang-undangan. Sebagaimana diketahui, penegakan hukum di bidang tindak pidana perikanan masih menemui banyak kendala, terutama untuk menangani kasus pencurian ikan atau "illegal fishing" oleh nelayan asing. Seandainya hasil operasi pemberantasan pencurian ikan tergolong Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), Peraturan Pemerintah No. 73 Tahun 1999 memperbolehkan bagi instansi tertentu untuk mempergunakan sebagian dana PNBP untuk kegiatan tertentu, antara lain untuk kegiatan penegakan hukum dan pelestarian sumber daya alam. Pada kenyataannya, PNBP DKP setiap tahun hanya Rp 200-300 miliar. Itu pun berdasarkan UU No. 33 Tahun 2004, dananya hanya 20 persen diterima oleh pemerintah pusat, sedangkan 80 persen dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota. Jika menggunakan aturan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tidak memungkinkan, UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan justru lebih memberikan peluang. UU ini memperkenalkan adanya Pengadilan perikanan yang merupakan peradilan khusus di lingkungan peradilan umum. Pengadilan perikanan seharusnya efektif mulai dua tahun sejak diundangkan, yaitu 6 Oktober 2006. Tetapi, berdasarkan PERPU No. 2 Tahun 2006 diberlakukan paling lambat tanggal 6 Oktober 2007. Dengan demikian, saat ini seharusnya pengadilan tersebut telah berjalan dan dapat memeriksa, mengadili, dan memutus tindak pidana di bidang perikanan. 32

Pengadilan khusus tindak pidana perikanan yang dibentuk di lima wilayah di Indonesia mulai beroperasi pada 7 Oktober 2006 di Jakarta Utara, Medan, Bitung, Tual dan Pontianak. Pengadilan perikanan berwenang untuk mengadili dan memutus tindak pidana di bidang perikanan. Pengadilan tersebut berada di lingkungan peradilan umum. Majelis hakim yang menangani perkara tindak pidana perikanan tersebut terdiri atas tiga orang, satu dari kalangan hakim karir dan dua hakim ad hoc perikanan. Selain hakim khusus, pengadilan perikanan juga membutuhkan jaksa

32

Peradilan Perikanan, diakses dari situs : tanggal 18 Oktober 2007.

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

khusus. Penanganan perkara tindak pidana perikanan maksimal satu bulan di setiap tingkat pengadilan, mulai dari pengadilan tingkat pertama, banding hingga kasasi. Wilayah hukum lima pengadilan khusus perikanan yang telah dibentuk mengikuti wilayah hukum pengadilan umum. Sedangkan untuk wilayah lain yang belum memiliki pengadilan khusus perikanan, maka tindak pidananya akan ditangani oleh pengadilan biasa. 33

Pertanyaan yang menarik untuk kita renungkan apakah pengadilan perikanan dapat melakukan pencegahan tindak pidana perikanan. Untuk menjawab hal tersebut dapat kita tinjau dari beberapa aspek, yaitu : 34

2. Lahirnya UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan yang di dalamnya mengamanatkan dibentuknya Peraturan Pemerintah saat ini sedang gencar- gencarnya mendapat sorotan publik. Tak kurang Ketua Mahkamah Agung sendiri telah dibuat kaget dengan ”lolosnya” ketentuan dalam UU tersebut, yang konon pembahasannya tidak melibatkan pihak Mahkamah Agung

.

1. Saat ini dunia peradilan kita sedang menjalani proses pembaruan, khususnya Berkenaan dengan perbaikan kinerja dan manajemen lembaga peradilan yang sudah ada. Menariknya, di tengah kuatnya arus pembaruan tersebut, rencana beberapa kalangan untuk membentuk pengadilan-pengadilan khusus juga terus berjalan, seperti rencana pembentukan Pengadilan Lingkungan, Pengadilan Korupsi, Pengadilan Pencuri Kayu, Pengadilan Industri, Pengadilan Profesi Kedokteran, Pengadilan Hubungan Industrial, dan Pengadilan Perikanan. Dua pengadilan terakhir ini bahkan telah mempunyai dasar hukum yaitu UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dan UU No. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesian Perselisihan Hubungan Industrial.

33

Pengadilan Perikanan Mulai Beroperasi Oktober 2006, diakses dari situs :

34

Peradilan Perikanan, diakses dari situs : tanggal 18 Oktober 2007.

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

Kritik tajam dilontarkan Indriyanto Seno Adji, yang menyatakan bahwa pembentukan peradilan khusus semacam ini hanya akan menimbulkan kesimpangsiuran dan inkonsistensi asas penyatuatapan, di samping melanggar sistematisasi lembaga peradilan yang mengakui MA sebagai top judicial.35

Pengesahan keempat UU di bidang peradilan tersebut terutama dimaksudkan untuk mempercepat proses pengalihan wewenang departemen untuk mengelola aspek administrasi, organisasi dan keuangan pengadilan kepada Mahkamah Agung, atau lebih dikenal dengan penyatuatapan pengelolaan pengadilan. Meski sebagian

Terlepas dari persoalan di atas, rencana pembentukan Peraturan Pemerintah itu sendiri ternyata masih menyisakan banyak persoalan mendasar seperti: kelamahan- kelamahan dalam hukum acara, tidak adanya mekanisme koordinasi (khususnya pada tingkat penyidikan), tidak adanya jaksa ad hoc, tidak jelasnya format pengadilan yang akan dibentuk, serta kendala-kendala non teknis lainnya. Berangkat dari hal di atas, bagaimanakah sebenarnya posisi serta relevansi keberadaan Peraturan Pemerintah ini dalam konteks pembaruan di bidang perdilan yang saat ini sedang berjalan, mampukah pengadilan perikanan menjadi sebuah terobosan, serta persoalan apa saja yang perlu mendapat perhatian.

Belum lama ini DPR dan Pemerintah telah mensahkan UU No. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (mengganti UU No. 14 tahun 1970), UU No. 5 tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, mengundangkan UU tentang Perubahan atas UU No. 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum, dan UU tentang Perubahan atas UU No. 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Sedangkan RUU tentang Komisi Yudisial sampai saat ini masih dibahas di DPR.

35

Prospek Peradilan Perikanan, Harian Kompas, edisi Kamis, 23 September 2007.

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

kalangan menaruh harapan terhadap proses pembaruan ini, faktanya hal ini juga tidak sedikit menuang kritik.

Rifqi Sjarief Assegaf menyatakan bahwa substansi dari keempat UU baru tersebut masih belum menyentuh kelemahan-kelemahan yang ada dalam UU lama. Di samping itu, ternyata banyak kejanggalan dan kekacauan berpikir dalam substansi yang diatur UU tersebut, misalnya ketidakjelasan konsep dan arah pembaruan peradilan yang ingin dituju, penempatan kembali hakim sebagai pegawai negeri sipil, pembengkakan organisasi MA, kemungkinan perpanjangan masa usia pensiun hakim agung tanpa pengaturan yang jelas, makin sulitnya persyaratan untuk menjadi hakim agung non karir dan sebagainya. 36

Semangat Pembentukan Pengadilan Khusus Perikanan Kembali pada pokok pebicaraan kita mengenai pembentukan Pengadilan Perikanan, ide pembentukan lembaga-lembaga peradilan khusus seperti halnya PP ini, pada dasarnya dialndasi oleh semangat untuk mengatasi krisis “ketidakberdayaan” lembaga-lembaga peradilan yang ada dalam menjawab berbagai persoalan hukum. Proses hukum yang ada dinilai Melihat fakta tersebut, tanpa harus mengomentari apa yang dikemukakan oleh Rifqi Sjarief Assegaf di atas, rasanya kita sudah cukup memperoleh gambaran, bahwa proses pembaruan dunia peradilan masih belum memenuhi harapan banyak kalangan, yaitu membangun pengadilan yang independen.

Kalau demikian adanya, lantas apa yang bisa kita harapkan? Di tengah kemandekan inilah tampaknya masih ada sedikit ”ruang” bagi peradilan-peradilan khusus seperti Peraturan Pemerintah untuk memberikan andilnya. Dengan kata lain, dalam konteks ini kita mencoba memahami kehadiran Peraturan Pemerintah sebagai sebuah ”jalan alternatif” menuju bangunan peradilan yang ideal seperti yang kita cita- citakan.

36

Rifqi Sjarief Assegaf, Perubahan UU Bidang Peradilan: Lelucon Yang Tidak Lucu, diakses dari situs :

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

jauh dari asas sederhana, cepat dan biaya ringan Alasan yang tak kalah penting adalah dengan semakin pesatnya kemajuan teknologi, serta semakin kompleksnya persoalan-persoalan hukum, terutama di bidang-bidang yang sangat spesifik seperti korupsi, lingkungan hidup, tata niaga, pajak, profesi kedokteran, perikanan, dll, dibutuhkan suatu lembaga peradilan yang lebih profesional yang didukung oleh SDM yang benar-benar menguasi persoalan-persoalan khusus tersebut. 37

37

Harian Kompas, edisi 19 Februari 2003.

Sebagaimana diketahui, pengelolaan perikanan merupakan hal yang utama yang harus dilaksanakan secara terpadu dan terarah. Pengelolaan perikanan (fisheries management) merupakan upaya yang sangat penting dalam mengantisipasi terjadinya kompleksitas permasalahan, baik ekologi maupun sosial-ekonomi di wilayah pesisir dan laut. Upaya ini muncul sebagai akibat dari pemanfaatan kawasan pesisir dan laut yang open access. Praktek open access yang selama ini banyak menimbulkan masalah yaitu kerusakan sumberdaya hayati laut, pencemaran, over-exploitation, dan konflik- konflik antar nelayan. Permasalahan tersebut diperparah oleh Undang-undang No. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan yang bersifat sentralistis dan anti pluralisme hukum, sehingga undang-undang tersebut mengabaikan peran masyarakat lokal dalam pengelolaan sumberdaya ikan. Berkaitan dengan penerapan hukum yang ada, khususnya dengan dibentuknya Pengadilan Perikanan, kita hanya mempunyai sebuah pertanyaan saja, yaitu : Mampukan Pengadilan Perikanan menjadi terobosan? Inilah yang menjadi persoalan yang harus dipikirkan bersama.

Kalau kita cermati ketentuan-ketentuan dalam UU No. 31 Tahun 2004, khususnya Bab XIII tentang Pengadilan Perikanan, ternyata masih banyak hal yang harus dibenahi sebelum lembaga baru ini benar-benar dibentuk dua tahun ke depan. Jadi, paling tidak ada tiga persoalan pokok yang perlu mendapat perhatian serius. 1). Adanya kelamahan-kelamahan pada hukum acara.

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

Hukum acara pengadilan tingkat pertama mematok waktu cukup singkat, yaitu 160 hari untuk penyelesaikan suatu perkara mulai dari penyidikan sampai putusan MA. Waktu yang cukup singkat dibanding standar KUHAP yang untuk penyelesaian perkara tingkat pertama saja butuh waktu tiga kali lebih lama. Persoalannya, jangka waktu yang sedemikian singkat itu akan berbenturan dengan kondisi rill di lapangan, khususnya berkenan dengan jalur beracara yang harus dilalui.

Acara pemeriksaan di Pengadilan tingkat pertama mengenal tiga tahapan, yaitu pemeriksaan tingkat pertama, tingkat banding dan kasasi . Untuk tiap tahapan tersebut dialokasikan waktu masing-masing 30 hari. Di tingkat pertama dengan dukungan SDM yang memadai serta khusus hanya menangani perkara-perkara perikanan mungkin tenggang waktu 30 hari cukup memadai, tapi bagaimana halnya dengan PT dan MA? Cukupkah waktu 30 hari? Faktanya perkara yang ditangani kedua lembaga peradilan ini selalu overload. Kelemahan mekanisme ini sebenarnya terkait dengan tidak adanya mekanisme pembatasan terhadap perkara-perkara yang akan diajukan bading/kasasi. Disamping itu, tidak adanya hakim ad hoc di tingkat banding dan kasasi juga akan berpengaruh terhadap kemampuan dan kesigapan penanganan perkara di kedua tingkat peradilan ini. Selain tidak adanya hakim ad hoc di tingkat banding/kasasi, dalam pengadilan tingakt pertama juga tidak dikenal jaksa ad hoc. Padahal keberadaan jaksa ad hoc ini sebenarnya sangat penting, sebab bagaimanapun jaksalah yang akan membedah dan membuktikan suatu perkara di pengadilan. Kenyataannya, banyak kasus yang lolos di pengadilan bukan hanya disebabkan oleh hakim yang tidak begitu memahami perkara perikanan, tapi karena ketidakmampuan jaksa dalam membuktikan tindak pidana di bidang perikanan tersebut. Hal lain yang tak kalah penting adalah mengenai alat bukti yang masih mengacu pada KUHAP. Padahal dengan semakin pesatnya kemajuan teknologi, alat bukti yang diatur dalam KUHAP sudah tidak memadai lagi. Di bidang perikanan data

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

dan informasi hasil pengawasan melalui Vessel Monitoring System (VMS) yang saat ini sedang digalakan di Indonesia, sebenarnya sangat penting bagi proses pembuktian. Namun sayangnya hal itu justru tidak dimasukan sebagai salah satu alat bukti.

2). Tidak adanya mekanisme koordinasi, khususnya pada tingkat penyidikan.

Penyidik di bidang perikanan terdiri darai PPNS, TNI AL, dan Kepolisian. Institusi tersebut sama-sama mempunyai dasar hukum atas kewenangannya sebagai penyidik di laut. Persoalannya, dalam praktek di lapangan koordinasi diantara instansi tersebut sangat lemah. Seperti pada kasus-kasus yang telah dikemukakan di atas, akibat kuatnya ego dan kepentingan diantara mereka, proses penyidikan tindak- tindak pidana di bidang perikanan menjadi kurang optimal. Lalu bagaimana UU No. 31 Tahun 2004 mengatur hal itu? Ternyata dalam UU No. 31 Tahun 2004 nyaris tidak ada sesuatu yang baru yang diharapkan dapat mengatasi persoalan lemahnya koordinasi tersebut. Diposisikannya PPNS sejajar dengan TNI AL dan Kepolisian sebagai penyidik, serta diberikannya kewenangan kepada Menteri untuk membentuk forum koordinasi bagi kepentingan penyidikan di tingkat daerah, belum memberikan solusi nyata bagi persoalan tersebut. Apalagi forum koordinasi tersebut nota bene dibentuk pada tingkat menteri, sedangkan Bakorkamla yang sudah lama eksis dan dibentuk dengan Surat Keputusan Bersama (SKP) saja nyaris tidak bisa berbuat apa- apa.

3) Terjadinya konflik kewenangan dalam penegakan hukum perikanan.

Terdapat 3 (tiga) instansi yang berwenang dalam penegakan hukum perikanan berdasarkan ketentuan Pasal 73 UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, yaitu instansi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), Kepolisian Negara RI. UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan tersebut tidak mengatur pembagian kewenangan secara jelas dan tidak pula

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

mengatur mekanisme kerja yang pasti, sehingga ketiga instansi tersebut menyatakan instansinya sama-sama berwenang dalam penegakan hukum perikanan serta tanpa adanya keterpaduan sistem dalam pelaksanaannya. Hal inilah yang disebut sebagai konflik kewenangan dalam penegakan hukum perikanan.

Dikatakan konflik kewenangan karena ketiga instansi tersebut sama-sama berwenang dalam menangani perkara yang sama dan berjalan secara sendiri-sendiri tanpa adanya keterpaduan sistem dalam pelaksanaannya, artinya sama-sama berwenang melakukan penyidikan serta sama-sama berwenang mela-kukan pemberkasan BAP dan menyerahkannya kepada Jaksa Penuntut Umum tanpa adanya pembagian kewenangan secara jelas serta tanpa adanya mekanisme kerja yang pasti. Perlu diketahui bahwa konflik kewenangan ini tidak hanya bersifat negatif melainkan konflik kewenangan bersifat positif (sama-sama berwenang). Sebagai ilustrasi contoh konflik kewenangan secara negatif, berdasarkan informasi dari masyarakat pada titik koordinat tertentu telah terjadi penangkapan ikan secara illegal (tanpa izin). Informasi tersebut diinformasikan pada ketiga instansi penegak hukum perikanan, yaitu instansi DKP, TNI AL dan Kepolisian secara bersamaan, lalu ketiga instansi tersebut menurunkan armadanya masing-masing untuk melakukan penangkapan, dan bertemulah ketiga armada tersebut di tengah-tengah laut, walaupun tidak terjadi pertengkaran/perkelahian, dengan adanya tindakan sama-sama menurunkan armada berarti telah terjadi kerugian materi untuk melakukan tindakan yang sia-sia tidak menentu. Ilustrasi contoh konflik kewenang-an secara positif diantaranya ketiga instansi tersebut sama-sama berwenang membuat BAP dan menyerahkannya ke Jak- sa Penuntut Umum. Konflik kewenangan seperti ini tidaklah menguntungkan dan harus dicarikan solusi pemecahannya secara hukum.38

38

Lufsiana, Konflik Kewenangan Penegakan Hukum Perikanan, diakses dari

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

Dikaitkan dengan tiga sumber kewenangan, yaitu Kewenangan Atribusi, Delegasi dan Mandat, maka kewenangan penegakan hukum perikanan oleh ketiga instansi penegakan hukum perikanan tersebut yang bersumberkan pada UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, maka kewenangan tersebut merupakan Kewenangan Atribusi. Secara hukum ketiga instansi penegak hukum perikanan tersebut sama-sama berwenang untuk membuat aturan hukum yang bersifat regulasi dalam menjalankan kewenangannya untuk menegakkan hukum perikanan. Sampai saat ini yang paling terdepan dan maju dalam membuat aturan hukum regulasi dalam rangka menjalankan kewenangan penegakan hukum perikanan adalah instansi DKP, kita dapat melihat perkembangan DKP yang jauh lebih maju dibandingkan dengan instansi TNI AL dan Kepolisian. Banyak aturan hukum regulasi yang dikeluarkan oleh DKP (Peraturan Lembaga maupun Peraturan Jabatan) untuk memayungi tindakan hukum dalam penegakan hukum perikanan oleh instansinya, sebagai contoh dibuatnya aturan hukum pembentukan Armada Kapal Patroli DKP yang dilengkapi persenjataan, aturan hukum ketentuan-ketentuan penangkapan kapal ikan illegal dan mekanisme penyelesaian pemberkasan BAP, dan lain-lain yang kesemuanya itu dipayungi oleh aturan hukum regulasi. Pembentukan aturan hukum regulasi tersebut berdasarkan UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, karena disadari bahwa seluruh tindak pemerintahan di bidang penegakkan hukum harus berdasarkan pada asas legalitas (berdasarkan pada aturan hukum yang jelas) dan disadari pula di instansi DKP banyak pemikir-pemikir hukum yang handal.

Apabila kita bandingkan dengan instansi TNI AL yang berwenang melakukan penegakan hukum perikanan jauh tertinggal. Pembentukan aturan hukum regulasi oleh TNI AL dalam menjalankan kewenangan penegakan hukum perikanan tersebut, sebagian besar produk pengaturannya diatur dalam aturan hukum Peraturan

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

Kebijaksanaan (beleidsregel, policy rule) bukan berbentuk aturan hukum regulasi (Peraturan Lembaga dan Peraturan Jabatan). Peraturan Kebijaksanaan tidak mempunyai kekuatan hukum berlakunya. Berikut diuraikan beberapa kelemahan Peraturan Kebijaksanaan, sebagai berikut : 39

d). Peraturan Kebijaksanaan tidak mempunyai daya ikat hukum secara langsung, namun masih mempunyai relevansi hukum, artinya Peraturan Kebijaksanaan ini a). Jenis Peraturan Kebijaksanaan tidak dikenal dalam hirarki peraturan perundang-

undangan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 7 UU No. 10 Tahun 2004. Bentuk Peraturan Kebijaksanaan seperti Protap, Telegram, Surat Telegram, Juknik, Juklak, Jukminu, Surat Edaran, Nota Dinas, dan lain-lain tidak termasuk Keputusan/Surat Keputusan, bukanlah bentuk aturan hukum regulasi.

b). Badan/lembaga yang mengeluarkan Peraturan Kebijaksanaan tidak memiliki kewenangan pembuatan peraturan perundang-undangan, pada hal TNI AL sebagai lembaga yang berwenangan dalam penegakan hukum perikanan mempunyai kewenangan yang sama untuk membentuk aturan hukum regulasi (pengaturan) dalam menjalankan kewenangan penegakan hukum, tidak dalam bentuk Peraturan Kebijaksanaan jadi harus dibentuk dalam aturan hukum regulasi berupa Peraturan Lembaga dan Peraturan Jabatan.

c). Paraturan Kebijaksaaan biasanya digunakan dalam rangka freies ermessen artinya Pejabat Pemerintah (lembaga publik) diberi kewenangan membuat aturan/mengeluarkan aturan yang sifatnya mendesak dibutuhkan dikarenakan belum ada aturan hukum yang mengaturnya, dalam arti Peraturan Kebijaksanaan dikeluarkan pada saat mendesak saja. Penegakan hukum perikanan tidak dapat dilakukan secara mendesak melainkan harus melalui perencanaan yang baik dan matang.

39 Ibid.

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

dilaksanakan atau tidak dilaksanakan tidak mempunyai akibat hukum atau tidak melahirkan hak dan kewajiban hukum. Peraturan Kebijaksanaan pada instansi TNI AL tetap jalan karena dilindungi oleh UU Hukum Pidana Militer dan UU Hukum Disiplin Militer.

Sebagai ilustrasi contoh pengaturan masalah pelepasan kapal-kapal perikanan yang telah men-dapatkan Putusan Hukum Tetap (inkracht) berdasarkan putusan Pengadilan dan untuk eksekusi pelepasan oleh Kejaksaan harus menunggu persetujuan dari Kotama Atas dari setiap instansi TNI AL. Pengaturan masalah ini diatur dalam Peraturan kebijaksanaan berupa Surat Telegram. Disamping apa yang diatur tersebut melanggar hukum, yaitu melanggar asas legalitas (setiap tindak pemerintahan harus berdasarkan hukum) juga sarana hukum pengaturannya tidak tepat, seharusnya diatur dalam undang-undang karena menyangkut hak asasi manusia (lihat Pasal 8 UU No. 10 Tahun 2004).

Berdasarkan beberapa kelemahan dari Peraturan Kebijaksanaan tersebut sudah selayaknya instansi TNI AL merencanakan dengan baik proses penegakan hukum perikanan yang dimulai dari pembenahan produk aturan hukum, apabila instansi TNI AL tidak memulainya dari sekarang tidak tertutup kemungkinan di masa mendatang kewenangan penegakan hukum perikanan tersebut akan terlepas dan dialihkan kepada instansi yang lebih tepat dan mampu dalam penegakan hukum perikanan.

Apabila dilihat dari sejarah penegakan hukum perikanan memang instansi TNI AL sejak UU No. 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara RI, tugas penegakan hukum perikanan bukanlah tugas pokok TNI AL melainkan tugas membantu pemerintah dalam penegakan hukum. Tugas pokok TNI AL dalam UU No. 20 Tahun 1982 tersebut adalah terfokus pada penegakan keamanan negara dalam hal ini penegakan kedaulatan negara di laut, artinya tugas pokok TNI AL hanya menangkap musuh, mengusir musuh yang datang dari dan lewat

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

laut. Baru disadari bahwa perlunya penambahan tugas pokok TNI AL dalam penegakan hukum di laut dan baru dipositifkan melalui UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI. Nah kedepan apabila tugas penegakan hukum di laut ini tidak ditangani secara profesional tidak tertutup kemungkinan tugas penegakan hukum perikanan ini akan menjadi kenangan belaka, karena tuntutan perkembangan keadaan zaman dan tuntutan kemampuan penegakan hukum perikanan secara profesional.

4). Banyaknya hal-hal teknis yang belum diatur.

Hal-hal tehnis yang dimaksud di atas khususnya terkait dengan format pengadilan yang akan dibentuk, seperti: bagaimana susunan PP tersebut (pimpinan, hakim anggota, sekretaris, panitera, dan lain-lain), apa tugas dari masing-masing perangkat pengadilan tersebut, siapa yang menjadi hakim ketua, bagaimana mekanisme pengangkatan dan pemberhentian hakim (ad hoc), berapa lama masa jabatan hakim (ad hoc), apa saja persyaratan untuk diangkat menjadi hakim (ad hoc), apakah semua perkara harus diputus oleh Majelis (tiga orang hakim) atau dapat oleh hakim tunggal untuk perkara-perkara yang ringan, dan bagaimana mekanisme pembinaan dan pengawasan terhadap pengadilan ini. Hal-hal tersebut sama sekali tidak diatur dalam UU 31 Tahun 2004. Hal ini dikhawatirkan sedikit banyak akan menjadi hambatan bagi PP dalam menjalankan fungsinya nanti.

Tentang tidak adanya mekanisme pembinaan dan pengawasan, hal ini sebenarnya sangat fatal, sebab realisasi pembinaan dan pengawasan terhadap badan peradilan sangat diperlukan guna menjamin terwujudnya penegakan hukum yang benar-benar memberikan rasa keadilan bagi masyarakat.

Demikian pula tidak adanya pengaturan mengenai persyaratan untuk diangkat menjadi hakim Peraturan Pemerintah, menyebabkan tidak jelasnya standar kualifikasi bagi hakim-hakim yang akan diangkat. Kita semua menyadari, sebaik apapun aturan