• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sanksi Pidana terhadap Tindak Pidana Perikanan

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

TENTANG PERIKANAN

B. Sanksi Pidana terhadap Tindak Pidana Perikanan

Hukum pidana memiliki perbedaan “karakter hukum” dengan cabang hukum lain, yakni mengenai teknik perumusan hukum dan tujuan penyelesaian pelanggaran hukum pidana. Hukum pidana tidak memuat petunjuk hidup seperti halnya cabang hukum lain, maka teknik perumusan hukumnya bersifat negatif, yaitu memuat larangan atau perbuatan yang tidak boleh dilakukan. Sedangkan petunjuk atau pedoman hidup (rumusan hukum yang bersifat positif) dimuat dalam norma yang tertulis (cabang hukum lain) dan norma yang tidak tertulis. Ciri dari norma yang mengatur petunjuk atau pedoman hidup adalah norma tersebut memuat pedoman atau petunjuk bagaimana menjalani hidup yang baik dan benar. Orang yang menjalani hidup berdasarkan petunjuk atau pedoman hidup yang diatur dalam norma tersebut akan memperoleh jaminan perlindungan hukum. Tujuan penyelesaian pelanggaran hukum pidana adalah penjatuhan sanksi pidana. Penyelesaian perkara pelanggaran hukum pidana akan selalu berakhir dengan penjatuhan sanksi berupa pidana kepada

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

pelanggar hukum pidana. Penjatuhan sanksi terhadap pelanggar hukum pidana acap kali dianggap sebagai tujuan dari hukum pidana. Oleh sebab itu, apabila pelanggar hukum pidana telah diajukan ke pengadilan dan dijatuhi sanksi pidana, maka perkara pelanggaran hukum pidana dianggap telah selesai (berakhir).28

Karakteristik hukum pidana seperti disebutkan di atas acap kali hukum pidana disebut sebagai hukum sanksi. Jadi kalau sanksi sudah dijatuhkan kepada pelanggar hukum pidana perkara pelanggaran hukum pidana dinyatakan selesai (berakhir). Konsekuensinya, penjatuhan sanksi pidana menjadi parameter keadilan dalam mengadili (menyelesaikan) perkara pelanggaran hukum pidana. Jadi pelanggar hukum pidana yang belum dijatuhi pidana, maka penyelesaian perkara pelanggarannya belum dianggap selesai, meskipun kerugian yang diakibatkan oleh pelanggaran hukum pidana sudah diselesaikan (kerugian dan ganti kerugian telah dibayarkan). Ketika hukum pidana ditempatkan sebagai hukum sanksi dengan penjatuhan sanksi pidana sebagai parameter keadilan dihubungkan dengan persoalan kehidupan dan kebutuhan masyarakat yang nyata dan riil, model penyelesaian pelanggaran hukum pidana menjadi tidak realistis. Dampak dan problem yang muncul disebabkan oleh adanya pelanggaran hukum pidana adalah sangat kompleks dan nyata yang

Pemikiran yang demikian ini telah menempatkan instrumen keadilan dalam hukum pidana dan penegakan hukum pidana adalah pidana (sanksi) sebagaimana yang diancamkan dalam pasal-pasal yang dilanggar. Pidana (ancaman pidana) dalam hukum pidana berfungsi sebagai alat pemaksa agar larangan dalam hukum pidana ditaati (tidak dilanggar), tetapi juga sebagai alat pemaksa agar semua orang mentaati norma lain yang memuat petunjuk hidup baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.

28

Mudzakkir, Kajian terhadap Ketentuan Pemidanaan dalam Draft RUU

KUHP, diakses dari situs :

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

menjangkau kehidupan pada saat sekarang dan mempengaruhi masa depan kehidupan manusia, disederhanakan dalam bentuk penjatuhan sanksi pidana yang paling diandalkan adalah sanksi pidana penjara. Penderitaan phisik dan psikhis, kehilangan anggota keluarga, harta benda, dan kehormatan, tidak dapat bekerja (kehilangan pekerjaan) dan problem sosial dan kemanusiaan lainnya akibat kejahatan tidak menjadi perhatian dalam hukum pidana. Jika ingin menuntut agar memperoleh ganti kerugian terhadap kerugian akibat pelanggaran hukum pidana harus ditempuh melalui prosedur hukum perdata karena masalah ganti kerugian yang bersifat privat bukan urusan hukum pidana. 29

29 Ibid.

Menurut Pasal 10 KUHP, macam-macam sanksi adalah : A. Pidana Pokok, yang terdiri atas :

1. Pidana mati 2. Pidana penjara :

a). Seumur hidup

b). Sementara (setinggi-tingginya 20 tahun dan sekurang-kurangnya 1 tahun) atau pidana penjara selama waktu tertentu.

c). Pidana kurungan, sekurang-kurangnya satu hari dan setinggi-tingginya satu tahun

d). Pidana denda (pengganti hukuman kurungan) e). Pidana tutupan

B. Pidana yang terdiri atas :

a). Pencabutan hak-hak tertentu

b). Perampasan (penyitaan) barang-barang tertentu c). Pengumumaman keputusan hakim.

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

Dalam kaitannya dengan tindak pidana perikanan, hal lain yang mendapat sorotan yang sangat serius dari stakeholders perikanan, khususnya masyarakat nelayan adalah pasal-pasal yang terkait dengan kejahatan dan pelanggaran pada kegiatan perikanan. Hal ini dikarenakan, bahwa sanksi yang tertuang dalam Undang- undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dirasa memberatkan oleh kalangan masyarakat nelayan tertentu. Terlepas dari itu, yang harus dilakukan oleh Pemerintah yang dalam hal ini adalah Departemen Kelautan dan Perikanan diperlukannya sosialisasi secara gencar hingga ke lapisan bawah guna menghindari kesalahan penafsiran. 30

Sanksi pidana untuk jenis kejahatan dan pelanggaran pada sektor perikanan sesuai dengan UU No. 31 Tahun 2004 dapat digambarkan, sebagai berikut :31

30

Tekan Illegal Fishing, Dukung Produksi Ikan,Op.cit. 31

Sumber : UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan a). Kejahatan

1. Penangkapan ikan dan atau pembudidayaan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan atau cara, dan atau bangunan yang dapat merugikan dan atau membahayakan kelestarian sumberdaya ikan dan atau lingkungan (Pasal 84 dan Pasal 101)

Hukuman :

(1).Perseorangan atau korporasi: penjara 6 tahun dan denda paling banyak Rp 1.200.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

(2) Nakhoda atau pemimpin kapal peikanan, ahli perikanan dan ABK: penjara 10 tahun dan denda paling banyak Rp 1.200.000.000.

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

(3) Pemilik kapal perikanan, pemilik perusahaan perikanan, penanggungjawab perusahaan perikanan dan atau operator kapal perikanan: penjara 10 tahun dan denda paling banyak Rp 2.000.000.000.

(4) Pemilik perusahaan pembudidaya ikan, kuasa pemilik perusahaan pembudidayaan ikan dan atau penanggungjawab perusahaan pembudidayaa ikan: penjara 10 tahun dan denda paling banyak Rp 2.000.000.000.

2. Memiliki, menguasai, membawa dan atau menggunakan alat penangkapan ikan dan atau alat bantu penangkapan ikan yang berada di kapal penangkapan ikan yang tidak sesuai dengan ukuran yang ditetapkan, alat penangkapan yang tidak sesuai dengan persyaratan, atau standar yang ditetapkan untuk tipe alat tertentu dan atau alat penangkapan ikan yang dilarang (Pasal 85 dan Pasal 101)

Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara 5 tahun dan denda paling banyak Rp 2.000.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

3. Melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan atau kerusakan sumberdaya ikan dan atau lingkungan. (Pasal 86 ayat (1) dan Pasal 101).

Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 2.000.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

4. Membudidayakan ikan yang dapat membahayakan sumberdaya ikan dan atau lingkungan sumberdaya ikan dan atau kesehatan manusia (Pasal 86 ayat (2) dan Pasal 101).

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009. Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

5. Membudidayakan ikan hasil rekayasa genetik yang dapat membahayakan sumberdaya ikan dan atau lingkungan sumberdaya ikan dan atau kesehatan manusia (Pasal 86 ayat (3) dan Pasal 101).

Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan

6. Menggunakan obat-obatan dalam pembudidayaan ikan yang dapat membahayakan sumberdaya ikan dan atau lingkungan sumberdaya ikan dan atau kesehatan manusia (Pasal 86 ayat (4) dan Pasal 101).

Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

7. Memasukan, mengeluarkan, mengadakan, mengedarkan dan atau memelihara ikan yang merugikan masyarakat, pembudidaya ikan, sumberdaya ikan dan atau lingkungan sumberdaya ikan ke dalam dan atau ke luar wilayah pengelelolaan perikanan Republik Indonesia (Pasal 88 dan Pasal 101).

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

8. Menggunakan bahan baku, bahan tambahan makanan, bahan penolong, dan atau alat yang membahayakan kesehatan manusia dan atau lingkungan dalam melaksanakan penanganan dan pengolahan ikan (Pasal 91 dan Pasal 101).

Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

9. Melakukan usaha perikanan di bidang penangkapan, pembudidayaan, pengangkutan, pengolahan dan pemasaran ikan yang tidak memiliki SIUP (Pasal 92 dan Pasal 101).

Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 8 tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

10. Memiliki dan atau mengoperasikan kapal penangkapan ikan berbendera Indonesia melakukan penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan RI dan atau laut lepas, yang tidak memiliki SIPI (Pasal 93 ayat (1) dan Pasal 101).

Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp 2.000.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

11. Memiliki dan atau mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing melakukan penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan RI yang tidak memiliki SIPI (Pasal 93 ayat (2) dan Pasal 101).

Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp. 20.000.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

12. Memiliki dan atau mengoperasikan kapal pengangkut ikan di wilayah pengelolaan perikanan RI yang melakukan pengangkutan ikan atau kegiatan yang terkait yang tidak memiliki SIKPI (Pasal 94 dan Pasal 101).

Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

12. Memiliki dan atau mengoperasikan kapal pengangkut ikan di wilayah pengelolaan perikanan RI yang melakukan pengangkutan ikan atau kegiatan yang terkait yang tidak memiliki SIKPI (Pasal 94 dan Pasal 101).

Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009. b). Pelanggaran

1. Merusak plasma nutfah yang berkaitan dengan sumberdaya ikan (Pasal 87 ayat (1) dan Pasal 101).

Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

2. Kelalaian sehingga mengakibatkan rusaknya plasma nutfah yang berkaitan dengan sumberdaya ikan (Pasal 87 ayat (2) dan Pasal 101).

Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

3. Melakukan penanganan dan pengolahan ikan yang tidak memenuhi dan tidak menerapkan persyaratan kelayakan pengolahan ikan, system jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan (Pasal 89 dan Pasal 101).

Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 1 tahun dan denda paling banyak Rp 800.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.

4. Melakukan pemasukan atau pengeluaran ikan dan atau hasil perikanan dari dan atau ke wilayah RI yang tidak dilengkapi sertifikat kesehatan untuk konsumsi manusia (Pasal 90 dan Pasal 101).

Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 1 tahun dan denda paling banyak Rp 800.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

5. Membangun, mengimpor atau memodifikasi kapal perikanan yang tidak mendapat persetujuan menteri terlebih dahulu (Pasal 95 dan Pasal 101).

Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 1 tahun dan denda paling banyak Rp 800.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

6. Mengoperasikan kapal perikanan di wilayah pengelolaan perikanan RI yang tidak mendaftarkan kapal perikanannya sebagai kapal perikanan Indonesia (Pasal 96 dan Pasal 101).

Hukuman :

Perorangan atau korporasi: pidana penjara paling lama 1 tahun dan denda paling banyak Rp 800.000.000. Khusus koorporasi: tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 dari pidana yang dijatuhkan.

7. Mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing yang tidak memiliki izin penangkapan ikan, yang selama berada di wilayah pengelolaan perikanan RI tidak menyimpan alat penangkapan ikan di dalam palka (Pasal 97 ayat (1).

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009. Hukuman :

Nakhoda: denda paling banyak Rp 500.000.000.

8. Mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing yang telah memiliki izin penangkapan ikan dengan satu jenis alat penangkapan ikan tertentu pada bagian tertentu di ZEEI yang membawa alat penangkapan ikan lainnya (Pasal 97 ayat (2). Hukuman :

Nakhoda: denda paling banyak Rp 1.000.000.000.

9. Mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing yang telah memiliki izin penangkapan ikan, yang tidak menyimpan alat penangkapan ikan didalam palka selama berada di luar daerah penangkapan ikan yang diizinkan di wilayah pengelolaan perikanan RI (Pasal 97 ayat (3).

Hukuman :

Nakhoda: denda paling banyak Rp 500.000.000.

10. Berlayar tanpa memiliki surat izin berlayar kapal perikanan yang dikeluarkan oleh syahbandar (Pasal 98).

Hukuman :

Nakhoda: penjara paling lama 1 tahun dan denda paling banyak Rp 200.000.000. 11. Melakukan penelitian di wilayah pengelolaan perikanan RI yang tidak memiliki

izin dari pemerintah (untuk peneliti asing) (Pasal 99). Hukuman :

Perorangan atau korporasi: penjara paling lama 1 tahun dan denda paling banyak Rp 1.000.000.000.

12. Melanggar (Pasal 100).

a. Jenis, jumlah dan ukuran alat penangkapan ikan

b. Jenis, jumlah, ukuran dan penempatan alat Bantu penangkapan ikan c. Daerah, jalur dan waktu atau musim penangkapan ikan

Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009. d. Persyaratan atau standar prosedur operasional penangkapan ikan

e. System pemantauan kapal perikanan f. Jenis ikan baru yang akan dibudidayakan g. Jenis, jumlah dan ukuran alat penangkapan ikan

h. Jenis, jumlah, ukuran dan penempatan alat Bantu penangkapan ikan i. Daerah, jalur dan waktu atau musim penangkapan ikan

j. Persyaratan atau standar prosedur operasional penangkapan ikan k. System pemantauan kapal perikanan

l. Jenis ikan baru yang akan dibudidayakan

m. Jenis ikan dan wilayah penebaran kembali serta penangkapan ikan berbasis budidaya

n. Pembudidayaan ikan dan perlindungannya

o. Pencegahan pencemaran dan kerusakan sumberdaya ikan serta lingkungannya p. Ukuran atau berat minimum jenis ikan yang boleh ditangkap

q. Suaka perikanan

r. Wabah dan wilayah wabah penyakit ikan

s. Jenis ikan yang dilarang untuk diperdagangkan, dimasukkan dan dikeluarkan ke dan dari wilayah RI

t. Jenis ikan yang dilindungi Hukuman :

Perorangan atau korporasi: denda paling banyak Rp 250.000.000.