BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
PERTANGGUNGJAWABAN KORPORASI (COPRPORATE LIABILITY) DALAM UU No 31 TAHUN 2004 TENTANG PERIKANAN
B. Bentuk-Bentuk Korporas
4. Perseroan Terbatas
a. Pengertian Perseroan Terbatas
58
M.Fuad, dkk, Pengantar Bisnis, Edisi ketiga, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama), 2005, hal. 21.
Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.
persero, melainkan menggunakan nama perusahaan berdasarkan tujuan dari usahanya.59
Sebenarnya, arti istilah Naamioze Vennootschap tidak sama dengan arti istilah perseroan terbatas. Naamioze Vennootschap, diartikan sebagai persekutuan tanpa nama dan tidak mempergunakan nama orang sebagai nama persekutuan, seperti firma, melainkan nama usaha yang menjadi tujuan dari perusahaan yang bersangkutan. Sedangkan perseroan terbatas adalah persekutuan yang modalnya terdiri atas saham-saham, dan tanggung jawab persero bersifat terbatas pada jumlah nominal daripada saham-saham yang dimilikinya. Jadi, istilah perseroan terbatas lebih tepat daripada istilah Naamioze Vennootschap, sebab arti “perseroan terbatas” lebih jelas dan tepat menggambarkan tentang keadaan senyatanya, sedangkan arti istilah Naamioze Vennootschap kurang dapat menggambarkan tentang isi dan sifat perseroan secara tepat. Ada istilah Inggris yang isinya hamper mendekati istilah perseroan terbatas, yaitu Company Limited by Shares”. Perseroan terbatas ini di Jerman, Austria dan Swiss disebut Aktiengensellschaft dan di Prancis disebut Societe Anonyme .60
a. Adanya kekayaan yang dipisahkan dari kekayaan pribadi masing-masing pendiri perseroan terbatas (pemegang saham) dengan tujuan untuk membentuk sejumlah modal sebagai jaminan bagi semua perikatan perseroan terbatas.
Dalam pasal-pasal Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) yang mengatur mengenai perseroan terbatas, tidak ditemukan pengertian perseroan terbatas. Akan tetapi, dari Pasal-Pasal 36, 40, 42 dan 45 KUHD dapat disimpulkan bahwa suatu perseroan terbatas mempunyai unsur-unsur, sebagai berikut :
b. Adanya pemegang saham (persero) yang tanggung jawabnya terbatas pada jumlah nilai nominal saham yang dimilikinya. Para pesero ini tergabung dalam Rapat
59
Purwosutjipto, HMN, Pengertian Pokok Hukum Dagang, (Jakarta : Djambatan, 1995), hal. 90.
60
Rachmadi Usman, Dimensi Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas,
Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.
Umum Pemegang Saham (RUPS) sebagai organ perseroan terbatas yang memegang kekuasaan tertinggi dalam perseroan terbatas, yang berwenang mengangkat, memberhentikan sementara atau memberhentikan Direksi atau Komisaris, menetapkan kebijakan umum perseroan terbatas yang akan dijalankan oleh Direksi, dan menetapkan kewenangan atau hal-hal lainnya yang tidak diserahkan kepada Direksi atau Komisaris.
c. Adanya pengurus, yang dinamakan dengan Direksi dan Pengawas, yang dinamakan Komisaris yang juga merupakan organ perseroan terbatas, yang tugas, kewenangan dan kewajbiannya diatur lebih lanjut dalam Anggaran Dasar Perseroan Terbatas atau Keputusan RUPS.61
Bila diperhatikan lebih lanjut unsur-unsur perseroan terbatas di atas, menurut KUHD Perseroan Terbatas juga badan hukum. Berbeda dengan UU No. 40 Tahun 2007, yang dalam Pasal 1 angka 1 memberikan pengertian perseroan terbatas sebagai berikut : “Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut perseroan adalah badan hokum yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya”.
Dari bunyi Pasal 1 angka 1 UU No. 40 Tahun 2007, dapat disimpulkan bahwa badan usaha yang berbentuk perseroan terbatas merupakan badan hukum. Namun, tidak berarti setiap badan hukum adalah perseroan terbatas. Di sini UU No. 40 Tahun 2007 secara tegas menyatakan bahwa perseroan terbatas merupakan suatu badan hkum, yaitu suatu badan hukum yang bertindak dalam lalu lintas hukum sebagai subjek hukum dan memiliki kekayaan yang dipisahkan dari kekayaan pribadi pengurusnya.
61
Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.
KUHD tidak secara tegas menyatakan perseroan terbatas sebagai badan hukum. Namun, bila kita perhatikan dalam Pasal 40 ayat (2) dan Pasal 45 ayat (1) KUHD, perseroan terbatas juga merupakan badan hukum. Pasal 40 ayat (2) KUHD menyatakan bahwa : ”para pemegang saham tidak bertanggung jawab untuk lebih daripada jumlah penuh saham-saham itu”. Kemudian Pasal 45 ayat (1) KUHD menyatakan bahwa : ”tanggung jawab para pengurus adalah tak lebih daripda untuk menunaikan tugas yang diberikan kepada mereka, dengan sebaik-baiknya, merekapun karena segala perikatan dari perseroan, dengan diri sendiri tidak terikat kepada pihak ketiga”.
Dengan demikian, baik menurut UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas maupun KUHD ciri utama sautu badan hukum yang berbentuk perseroan terbatas adalah adanya harta kekayaan yang dipisahkan antara harta kekayaan perseroan dan harta kekayaan pribadi para pemegang saham (persero). Persero tidak bertanggung jawab secara pribadi atas segala perikatan yang dibuat atas nama perseroan dan juga tidak bertanggung jawab atas kerugian perseroan melebihi nilai saham yang telah dimasukkannya. Prinsip ini dalam hukum perseroan dinamakan dengan the doctrine of separate legal personality of a company atau the principle of the company’s separate legal personality, yang disingkat dengan sebutan doctrine of separate corporate personality.62
Sebagai badan hukum atau artificial person, perseroan terbatas mampu bertindak melakukan perbuatan hukum melalui ”wakilnya”. Untuk itu ada yang disebut ”agent”, yaitu orang yang mewakili perseroan serta bertindak untuk dan atas nama perseroan. Karena itu, perseroan juga merupakan subjek hukum, yaitu subjek hukum mandiri atau personastandi in judicio. Dia bisa mempunyai hak dan kewajiban dalam hubungan hukum sama seperti manusia biasa atau natural person atau
62
Soedjono Dirdjosisworo, Hukum Perusahaan Mengenai Bentuk-Bentuk Perusahaan (Badan Usaha) di Indonesia, (Bandung : Mandar Maju, 1997), hal. 52.
Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.
natuurlijke persoon, dia bisa menggugat maupun digugat, bisa membuat keputusan dan bisa mempunyai hak dan kewajiban, utang-piutang, mempunyai kekayaan seperti layaknya manusia.63
Kendati kedudukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sangat penting dalam perseroan terbatas, KUHD tidak banyak mengaturnya. Bahkan, mengadakan RUPS saja tidak diharuskan.
b. Organ-Organ Perseroan
64
Padahal organ perseroan terbatas lainnya, yakni direksi dan komisaris diangkat dan diberhentikan oleh RUPS. Walaupun demikian, karena dirasa amat pentingnya keberadaan RUPS ini, keharuskan untuk melaksanakan RUPS tersebut dalam praktik biasanya diatur secara rinci dalam akta pendirian atau anggaran dasar perseroan terbatas yang bersangkutan. Karena itu, kekuasaan, kewenangan, kewajiban dan tugas RUPS serta hal lainnya yang berkaitan dengan RUPS dapat dijumpai pada akta pendirian atau anggaran dasar perseroan terbatas tersebut.65
63 Ibid. 64
PUrwosutjipto, Op.cit, hal. 129.
65
A. Chadary ADP, Beberapa Catatan Mengenai Pengaturan Perseroan Terbatas dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995, Majalah Orientasi Pembinaan dan Pengembangan Hukum dan Kemasyarakatan Nomor 4 Tahun XXII, (Banjarmasin : Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat).
RUPS merupakan organ perseroan terbatas yang kedudukannya sebagai organ yang memegang kekuasaan tertinggi dalam perseroan terbatas, sehingga sangat penting kehadiran dan kedudukannya. Karena itu, penyelenggaraan RUPS merupakan suatu keharusan dan wajib dilakukan. Secara tegas kedudukan hukum RUPS dinyatakan dalam Pasal 1 angka (3) UU No. 40 Tahun 2007 yang menyatakan : “Rapat Umum Pemegang Saham yang selanjutnya disebut RUPS adalah organ perseroan yang memegang kekuasaan tertinggi dalam perseroan dan memegang segala wewenang yang tidak diserahkan kepada Direksi atau Komisaris”.
Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.
Dari bunyi Pasal 1 angka (3) UU No. 40 Tahun 2007 angka (3) UU No. 40 Tahun 2007 tersebut, dapat diketahui bahwa RUPS merupakan organ tertinggi perseroan terbatas yang mempunyai kekuasaan dan kewenangan yang tidak diserahkan kepada Direksi atau Komisaris. Dengan kata lain, RUPS adalah pemegang dan pelaksana kedaulatan tertinggi dalam perseroan terbatas. Putusan-putusan yang dibuat oleh RUPS wajib untuk ditaati dan dilaksanakan oleh Direksi atau Komisaris perseroan terbatas.
Dengan melihat bunyi kalimat “memegang segala wewenang yang tidak diserahkan kepada direksi dan komisaris” sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 1 angka 3 UU No. 40 Tahun 2007, sebenarnya kekuasaan RUPS tidak mutlak. Artinya, kekuasaan tertinggi yang diberikan oleh undang-undang perseroan terbatas kepada RUPS tidak berarti bahwa RUPS dapat melakukan lingkup tugas dan wewenang yang telah diberikan undang-undang dan anggaran dasar kepada direksi dan komisaris. Direksi atau komisaris mempunyai wewenang yang tidak dapat dipengaruhi oleh RUPS. Tugas, kewajiban, wewenang dan dari setiap organ termasuk RUPS sudah diatur secara mandiri (otonom) di dalam UU No. 40 Tahun 2007. Setiap organ diberi kebebasan bergerak asal semuanya dilakukan demi tujuan dan kepentingan perseroan terbatas. Instruksi dari organ lain, dapat saja tidak dipenuhi oleh direksi, meskipun diangkat oleh RUPS, sebab pengangkatan direksi oleh RUPS tidak berarti bahwa wewenang yang dimiliki direksi merupakan pemberian kuasa atau bersumber dari pemberian kuasa dari RUPS kepada direksi, melainkan wewenang yang ada pada direksi bersumber dari undang-undang dan anggaran dasar. Oleh karena itu, RUPS tidak dapat mencampuri tindakan pengurusan perseroan sehari-hari yang dilakukan direksi sebab tindakan direksi semata-mata untuk kepentingan perseroan, bukan untuk RUPS. Paham klasik yang berpendapat bahwa lembaga RUPS merupakan kekuasaan tertinggi perseroan terbatas dalam arti segala sumber kekuasaan yang ada dalam suatu
Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.
perseroan terbatas tidak lain bersumber dari RUPS kiranya sudah ditinggalkan oleh UU No. 40 Tahun 2007.66
Sebagaimana telah diungkapkan, bahwa perseroan terbatas merupakan kumpulan atau asosiasi modal, yang oleh UU No. 40 Tahun 2007 diberi status sebagai badan hukum. Dengan demikian, pada hakikatnya perseroan terbatas itu adalah wadah kerjasama dari para pemilik modal atau pemegang saham yang dijelmakan dalam RUPS. Karena itu, wajarlah jiak RUPS selaku organ perseroan terbatas memiliki kekuasaan dan kewenangan yang tertinggi yang tidak dimiliki atau diserahkan kepada organ perseroan lainnya dalam batas yang ditentukan dalam undang-undang perseroan terbatas maupun anggaran dasarnya. Inilah yang dinamakan dengan wewenang ekslusif (exlusive authorities) RUPS. RUPS juga berhak utnuk memperoleh segala keterangan yang berkaitan dengan kepentingan perseroan dari direksi dan atau komisaris.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa masing-masing organ perseroan terbatas bersifat mandiri, masing-masing mempunyai kekuasaan dan wewenang yang bersumber pada undang-undang perseroan maupun anggaran dasar. Karena itu, RUPS, direksi maupun komisaris tidak boleh melampaui kekuasaan dan kewenangan yang dipunyai, apalagi mencampuri kekuasaan dan kewenangan dari organ perseroan lainnya. Masing-masing organ perseroan terbatas harus berada dalam koridor kekuasaan dan kewenangannya sebagaimana sudah ditentukan oleh undang-undang perseroan terbatas maupun anggaran dasar. Kekuasaan dan kewenangan masing- masing organ perseroan terbatas itu tidak dapat dilakukan oleh organ perseroan terbatas lainnya.
67
66
Agus Budiarto, Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendiri Perseroan Terbatas, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 2002), hal. 58.
67
Rahmadi Usman, Op.cit, hal. 129.
Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.
(1) RUPS mempunyai segala wewenang yang tidak diberikan kepada direksi atau komisaris dalam batas yang ditentukan dalam undang-undang ini atau anggaran dasar.
(2) RUPS berhak memperoleh segala keterangan yang berkaitan dengan kepentingan perseroan atau direksi dan atau komisaris.
Wewenang ekslusif RUPS yang ditetapkan dalam UU No. 40 Tahun 2007 tidak dapat ditidakan selama tidak ada perubahan undang-undang perseroan terbatas. Sedangkan wewenang ekslusif RUPS dalam anggaran dasar semata-mata berdasarkan kehendak RUPS yang disahkan dan disetujui oleh Menteri Kehakiman yang dapat diubah melalui perubahan anggaran dasar sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan undang-undang perseroan terbatas.68
7. persetujuan atas penggabungan, peleburan dan pengambilalihan perseroan terbatas (Pasal 103).
Bila disimak pasal-pasal UU No. 40 Tahun 2007, dapat dijumpai sejumlah kewenangan RUPS yang diberikan oleh undang-undang, yaitu :
1. penetapan perubahan anggaran dasar (Pasal 14).
2. pembelian kembali saham yang telah dikeluarkan perseroan terbatas atau pengalihannya (Pasal 31).
3. penetapan penambahan dan pengurangan modal perseroan terbatas (Pasal 34 dan 37).
4. persetujuan laporan tahunan dan pengesahan perhitungan tahunan (Pasal 60). 5. penetapan penggunaan laba bersih termasuk penentuan jumlah penyisihan untuk
cadangan perseroan terbatas (Pasal 61 dan 62).
6. pengangkatan, pemberhentian dan pembagian tugas wewenang direksi dan komisaris perseroan terbatas (Pasal 80, 81, 91, 92, 95 dan 101).
68
Abdul Kadir Muhammad, Pengantar Hukum Perusahaan Indonesia,
Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009. 8. penetapan pembubaran perseroan terbatas (Pasal 114).
Wewenang RUPS tersebut terwujud dalam bentuk jumlah suara yang dikeluarkan dalam setiap rapat. Hak suara dalam RUPS dapat digunakan untuk berbagai maksud dan tujuan diantaranya ialah menyetujui atau menolak : 69
Direksi perseroan terdiri atas 1 (satu) orang anggota direksi atau lebih. Perseroan yang kegiatan usahanya berkaitan dengan menghimpuan dan/atau mengelola dana masyarakat, perseroan yang menerbitkan surat pengakuan utang a. rencana perubahan anggaran dasar.
b. rencana penjualan asset dan pemberian jaminan utang.
c. pengangkatan dan pemberhentian anggota direksi dan/atau komisaris. d. laporan keuangan yang disampaikan direksi.
e. pertanggungjawaban direksi.
f. rencana penggabungan, peleburan dan pengambilalihan. g. rencana pembubaran perseroan.
Selanjutnya perseroan memiliki organ lain, yaitu Direksi dan Dewan Komisaris. Direksi perseroan merupakan organ perseroan yang melaksanakan kegiatan dan kepengurusan perseroan. Ketentuan ini menugaskan direksi untuk mengurus perseroan yang antara lain meliputi pengurusan sehari-hari dari perseroan. Direksi menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan.
Direksi berwenang menjalankan pengurusan perseroan sesuai dengan kebijakan yang dipandang tepat dalam batas yang ditentukan dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas ini dan/atau anggaran dasar. Yang dimaksud dengan ”kebijakan yang tepat” adalah kebijakan yang antara lain, didasarkan pada keahlian, peluang yang tersedia, dan kelaziman dalam dunia usaha yang sejenis.
69
Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.
kepada masyarakat, atau perseroan terbuka wajib mempunyai paling sedikit 2 (dua) orang anggota direksi. Dalam hal direksi terdiri atas 2 (dua) anggota direksi atau lebih, pembagian tugas dan wewenang pengurusan di antara anggota direksi ditetapkan berdasarkan keputusan RUPS, jika tidak ditetapkan RUPS tersebut, pembagian tugas dan wewenang anggota direksi ditetapkan berdasarkan keputusan direksi. Direksi sebagai organ perseroan yang melakukan pengurusan perseroan memahami dengan jelas kebutuhan pengurusan perseroan. Oleh karena itu, jiak RUPS tidak menetapkan pembagian tugas dan wewenang anggota direksi, sudah sewajarnya penetapan tersebut dilakukan oleh direksi sendiri.70
Dewan komisaris terdiri atas satu orang anggota atau lebih. Dewan komisaris yang terdiri atas lebih dari satu orang anggota merupakan majelis dan setiap anggota dewan komisaris tidak dapat bertindak sendiri-sendiri tetapi berdasarkan keputusan dewan komisaris. Perseroan yang kegiatan usahana berkaitan dengan menghimpun dana/tau mengelola dana masyarakat, perseroan yang menerbitkan surat pengakutan utang kepada masyarakat atau perseroan terbuka wajib mempunyai paling sedikit dua Direksi diangkat dan diberhentikan berdasarkan syarat-syarat yang diatur di dalam UU No. 40 Tahun 2007. Secara umum, direksi bertanggung jawab atas pengurusan perseroan. Pengurusan perseroan sebagaimana dimaksud, wajib dilaksanakan setiap anggota direksi dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab, yaitu dengan memperhatikan perseroan dengan seksama dan tekun. Selanjutnya dewan komisaris sebagai salah satu organ perseroan lainnya, bertugas melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, baik mengenai perseroan maupun usaha perseroan, dan memberi nasihat kepada direksi. Pengawasan dan pemberian nasihat ini dilakukan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan.
70
Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.
orang anggota dewan komisaris.71 Yang dimaksud ”untuk kepentingan dan sesuai dengan maksud tujuan perseroan”, adalah bahwa pengawasan dan pemberian nasihat yang dilakukan oleh dewan komisaris tidak untuk kepentingan pihak atau golongan tertentu, tetapi untuk kepentingan perseroan secara menyeluruh dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan.72
71
Pasal 108 UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
72
Jamin Ginting, Hukum Perseroan Terbatas(UU No. 40 Tahun 2007),
(Bandang : Citra Aditya Bakti, 2007), hal. 130.
Berbeda dari direksi yang memungkinkan setiap anggota direksi bertindak sendiri-sendiri dalam menjalankan tugas direksi, setiap anggota dewan komisaris tidak dapat bertindak sendiri-sendiri dalam menjalankan tugas dewan komisaris, kecuali berdasarkan keputusan dewan komisaris. Perseroan yang kegiatan usahanya menghimpun dan/atau mengelola dana masyarakat, perseroan yang menerbitkan surat pengakuan utang kepada masyarakat, atau perseroan terbuka memerlukan pengawasan dengan jumlah anggota komisaris yang lebih besar karena menyangkut kepentingan masyarakat.
5. Koperasi
Menurut UU no. 25 tahun 1992, Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi yang melandaskan kegiatannya pada prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.Status badan hukum koperasi diperoleh setelah memperoleh pengesahan dari pemerintah (Menteri Koperasi).
Modal Koperasi terdiri dari :
1). Modal sendiri dapat berasal dari simpanan pokok, simpanan wajib, sumbangan suka rela, hibah dan dana cadangan Sisa Hasil Usaha.
2). Modal Pinjaman dapat berasal dari anggota, koperasi lainnya dan atau anggotanya, bank, penerbitan obligasi atau surat utang lainnya, sumber lain yang sah.
Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.
Tujuan koperasi adalah meningkatkan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur dan berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
Prinsip Koperasi adalah sebagai berikut : a). Keanggotaan bersifat suka rela
b). Pengelolaan dilakukan secara demokratis
c). Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil, sebanding dengan besarnya jasa masing-masing anggota.
d). Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal e). Kemandirian
f). Keanggotaan koperasi bersifat murni, pribadi dan tidak dapat dialihkan. Koperasi mempunyai ciri tersendiri :
a). Lebih mementingkan keanggotaan dan sifat persamaan b). Anggota-anggotanya bebas keluar masuk
c). Koperasi merupakan badan hukum yang menjalankan usaha untuk kesejahteraan anggota.
d). Koperasi didirikan secara tertulis dengan akte pendirian dari notaries. e). Tanggung jawab kelancaran usaha koperasi berada di tangan pengurus.
f). Para anggota koperasi turut bertanggung jawab atas utang-utang koperasi terhadap pihak lain.
g). Kekuasaan tertinggi di dalam rapat anggota. 6. Yayasan
Berdasarkan peraturan yang diatur dalam UU No. 28 Tahun 2004 tentang Yayasan, Yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan
Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.
dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan yang tidak mempunyai anggota. 73
Yayasan diselengarakan oleh pengurus yayasan, yaitu organ yayasan yang melakukan kepengurusan yayasan yang bertanggung jawab penuh untuk kepentingan dan tujuan yayasan dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab. Pengurus dalam melakukan tugasnya harus berdasarkan fiduciary duty dan statutory duty bagi
Permohonan pengesahan badan hukum yayasan diajukan oleh notaris kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI (Menkumham RI) dengan melampirkan: 1). Salinan akta pendirian yayasan yang dibubuhi materai.
2). Fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atas nama yayasan yang telah dilegalisir notaries.
3). Fotokopi surat keterangan domisili yayasan yang dikeluarkan oleh lurah atau kepala desa setempat dan dilegalisir notaries.
4). Bukti pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (menunggu PP PNBP baru). 5). Bukti pembayaran pengumuman dalam TBN (menunggu diterbitkan PP).
Di dalam Pasal 21 ayat (1) No. 28 Tahun 2004 tentang Yayasan UU Permohonan persetujuan perubahan anggaran dasar yayasan diajukan oleh notaris kepada Menkumham RI dengan melampirkan :
1). Salinan akta notaris yang memuat perubahan anggaran dasar yayasan yang dibubuhi materai.
2). Fotokopi NPWP atas nama yayasan yang telah dilegalisir notaris.
3). Fotokopi surat keterangan domisili yayasan yang dikeluarkan oleh lurah atau Kepala Desa setempat dan dilegalisir notaris.
4). Bukti pembayaran PNBP (menunggu PP PNBP baru).
5). Bukti pembayaran pengumuman dalam TBN (menunggu diterbitkan PP).
73
Aulia Ariffandi : Pertanggungjawaban Korporasi (Corporate Liability) Dalam Tindak Pidana Perikanan, 2009.
kepentingan yayasan untuk mencapai maksud dan tujuan yayasan. Setiap tindakan anggota pengurus yayasan yang berada di luar batas kewenangan yang diberikan dalam Anggaran Dasar Yayasan (tindakan ultra vires) hanya akan mengikat anggota pengurus yang melakukanya. Dan pada tindakan tertentu, pengurus tersebut dapat dituntut pertanggungjawabannya secara pribadi kepada pihak ketiga apabila melanggar batas kewenangannya. Harta yayasan yang terpisah dari pemilik atau pendiri, memungkinkan dilakukan akuntabilitas yang lebih transparan.